Puncak Sumbawa Heritage Walk 2025: Bupati dan Forkopimda Jalan Kaki Menapaki Jejak Leluhur Tana Samawa

amramr
Aug 26, 2025 - 09:51
 0  76
Puncak Sumbawa Heritage Walk 2025: Bupati dan Forkopimda Jalan Kaki Menapaki Jejak Leluhur Tana Samawa
Puncak Sumbawa Heritage Walk 2025: Bupati dan Forkopimda Jalan Kaki Menapaki Jejak Leluhur Tana Samawa
Puncak Sumbawa Heritage Walk 2025: Bupati dan Forkopimda Jalan Kaki Menapaki Jejak Leluhur Tana Samawa
Puncak Sumbawa Heritage Walk 2025: Bupati dan Forkopimda Jalan Kaki Menapaki Jejak Leluhur Tana Samawa
Puncak Sumbawa Heritage Walk 2025: Bupati dan Forkopimda Jalan Kaki Menapaki Jejak Leluhur Tana Samawa

Puncak Sumbawa Heritage Walk 2025: Bupati dan Forkopimda Jalan Kaki Menapaki Jejak Leluhur Tana Samawa

Sumbawa.Amarmedia.co.id - Sumbawa Heritage Walk (SHW) atau Jelajah Pusaka Kesultanan Sumbawa merupakan program publik yang diinisiasi oleh Museum Bala Datu Ranga, sebuah museum yang didirikan oleh Yayasan Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu yang berlokasi di Kelurahan Pekat, Kecamatan Sumbawa pada tahun 2022. Kegiatan jelajah kota Sumbawa Besar dengan lima simpul heritage atau warisan cagar budaya di era kejayaan Kesultanan Sumbawa ini dilakukan sambil berjalan kaki seakan menapaki jejak-jejak masa lalu leluhur Tana Samawa dengan menyelami sejarah bangsa Indonesia yang tidak bisa lepas dari masa kejayaan kerajaan dan kesultanan di Nusantara, termasuk Kesultanan Sumbawa.

Dilaksanakan selama Bulan Agustus tiap akhir pekan, Sumbawa Heritage Walk (SHW) 2025 ini memiliki tagline “Napaki Jejak Leluhurmu, Selami Sejarah Bangsamu”. Dimulai pada tanggal 3 Agustus, 10 Agustus, 16 Agustus, yang membuka partisipasi masyarakat untuk ikut terlibat, tur warisan sejarah budaya lokal ini diikuti oleh rata-rata 75 orang dalam tiap pelaksanaanya. Sedangkan acara puncak khusus untuk undangan yang ditujukan kepada Pimpinan Daerah, Forkopimda, Pimpinan DPRD Kabupaten Sumbawa dan para tokoh masyarakat agar selama berjalanan kaki menapaki jejak leluhur, ada refleksi maupun pemaknaan yang bisa dipetik dari sejarah masa lalu sebuah kota tempat kita tinggal.

“SHW 2025 ini sengaja dilaksanakan pada bulan Agustus karena ada momen kemerdekaan Indonesia. Momen ini kita pakai untuk berefleksi, menapaki kembali sejarah masa lalu leluhur kita di masa Kesultanan Sumbawa sambil menyelami sejarah bangsa Indonesia yang tidak lepas dari sejarah kesultanan-kesultanan di Indonesia pada masa lalu, termasuk kontribusi Kesultanan Sumbawa,” ungkap Yuli Andari Merdikaningtyas, M.A, Kepala Museum Bala Datu Ranga sekaligus Ketua Yayasan Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu.

SHW terakhir di Bulan Agustus ini terasa istimewa karena dihadiri oleh Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumbawa, Hj. Ida Fitria Syarafuddin Jarot. Turut hadir membersamai Bupati: Dr. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.AP., Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa beserta istri; Kadis Koperindag, Kabid Kebudayaan Dinas Dikbud Sumbawa, Camat Sumbawa, dan Lurah Pekat. Dari Forkopimda turut hadir pula Kapolres Sumbawa, AKBP Marieta Dwi Ardhini, S.H., S.I.K; serta Dandim 1607/Sumbawa, Letkol Kav Basofi Cahyowibowo S.T. Acara ini juga dihadiri oleh para tokoh budaya dan tokoh masyarakat antara lain Ir. H. Iskandar D, M.Ec.Dev., Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Sumbawa; Dr. Drs. Muhammad Ikhsan Safitri, M.Si., Ketua Pajatu Adat Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) dan beberapa tokoh sesepuh Kelurahan Pekat yaitu Daeng M. Natsir (salah satu anak Datu Ranga Abdul Madjid Daeng Matutu sekaligus Pembina Yayasan Datu Ranga, Drs. H. A. Karim, S.Pd, dan H. Makasau.

Titik kumpul kegiatan ini adalah Museum Bala Datu Ranga. Acara segera dimulai begitu Bupati Sumbawa sampai di lokasi. Dengan diiringi dengan penampilan para siswa yang sedang menjalani kelas latihan Gong Genang musik tradisional Sumbawa, Bupati dan Kepala Museum Bala Datu Ranga menyampaikan pidato berkaitan dengan pentingnya pelestarian bangunan cagar budaya karena dapat memberikan cerita kepada generasi penerus. “Beberapa waktu lalu saya menghadiri Rapat Kerja Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Yogyakarta. Saya banyak sekali mendapatkan inspirasi dari kegiatan tersebut, betapa Yogyakarta hidup dari geliat budaya dan cerita tentang sejarah masa lalu di era Kesultanan. Sama seperti di Sumbawa, kita juga memiliki potensi yang sama. Saya salut karena tur heritage ini ada pemandunya. Saya tidak sabar ingin ikut tur ini dengan panduan para pemandu SHW,” tutur Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP., Bupati Sumbawa.

Senada dengan Bupati Sumbawa, Dandim 1607/Sumbawa, Letkol Kav Basofi Cahyowibowo S.T., menyampaikan bahwa acara ini sangat postif bagi generasi muda. “Kegiatan ini sangat bagus karena berkaitan dengan warisan leluhur yang bisa menjadi inspirasi generasi muda Sumbawa. Saya menyarankan agar sistem turnya lebih tertata, tempat-tempat cagar budaya lebih diperhatikan dan ditambah fasilitasnya. Karena tidak menutup kemungkinan yang tertarik justru banyak orang dari luar Sumbawa,” sarannya saat mengamati Istana Dalam Loka, yang menjadi salah satu simpul dan rute tur SHW

Tiba di Istana Sultan Muhammad Kaharuddin III atau populer juga dengan sebutan Istana Bala Puti yang saat ini sedang direstorasi, rombongan berhenti sejenak di Balairung Istana yang menghadap ke utara. Dari sana dapat terlihat gerbang istana (Bale Jam) yang serasi dengan kemegahan Istana ini di masa lalu.

Pemandu menyampaikan cerita tentang istana ini dengan menunjukkan gambar termasuk informasi bahwa bangunan pertama yang merasakan kehadiran listrik adalah Istana ini. Saking antusiasnya, Bupati Sumbawa ketika sampai di Istana Sultan Muhammad Kaharuddin III, secara spontan H. Jarot, begitu Bupati Sumbawa biasa disapa, mengajak rombongan untuk melihat salah satu sumber air sakral (Ai Kadewa) yang berada di belakang istana yang dibangun pada tahun 1932 tersebut. “Sekarang saya jadi pemandunya,” canda Bupati energik ini.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow