Gempar! Emak-Emak Desa Baru Alas Kepung Kades dan Anggota Dewan, Gas Melon Langka Harga Selangit Jadi Biang Kerok!
Gempar! Emak-Emak Desa Baru Alas Kepung Kades dan Anggota Dewan, Gas Melon Langka Harga Selangit Jadi Biang Kerok!
Sumbawa. Amarmedia.co.id - Sumbawa Gempar! Puluhan ibu-ibu di Desa Baru, Kecamatan Alas, kemarin Sabtu 26 April 2025 melakukan aksi unjuk rasa yang tak biasa. Mereka "menyerbu" rumah Kades dan mencegat Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa, H. Andi Mappelapui, untuk menyampaikan keluh kesah yang sudah memuncak: gas elpiji 3 kg alias "gas melon" hilang dari peredaran dan harganya melonjak drastis bak roket!
Aksi yang berlangsung penuh semangat namun tetap tertib ini sontak menjadi perhatian warga sekitar. Bagaimana tidak, biasanya ibu-ibu dikenal dengan kelembutan dan kesabarannya, namun kali ini mereka turun ke jalan dengan satu tujuan: mempertahankan hak mereka atas gas bersubsidi yang terjangkau.
Dengan membawa anak anak, dan kompak para emak-emak ini menyuarakan kekecewaan mereka. Harga gas melon yang dulunya hanya berkisar Rp 18 ribu, kini meroket hingga mencapai Rp 35 ribu per tabung! Sebuah angka yang fantastis dan mencekik bagi perekonomian rumah tangga mereka, apalagi mereka semua adalah penerima subsidi pemerintah.
"Dulu masih Rp 18 ribu, naik jadi Rp 20 ribu, lalu Rp 23 ribu. Eh, sekarang sudah Rp 35 ribu di pangkalan! Mau tidak mau kami tetap beli karena tidak ada tempat lain, kami harus tetap bisa masak, jadi jangan sampai langka atau disembunyikan" ujar salah seorang ibu dengan nada geram. "Tolong ini diperhatikan, Pak! Ini sudah kedua kalinya terjadi, kasih sanksi pindahkan saja pangkalan nakal ini!" teriaknya lantang.
Tak hanya soal harga, para ibu ini juga menuding adanya praktik penimbunan dan diskriminasi oleh oknum pangkalan. Mereka mengatakan bahwa pangkalan lebih mengutamakan pembeli dari luar desa yang datang menggunakan mobil pick-up, menjual dengan harga lebih tinggi, bahkan berbohong mengatakan stok habis padahal truk pengangkut elpiji baru saja datang.
"Pangkalan itu sangat zalim! Masyarakat sudah lama memendam dendam. Mereka lebih prioritaskan orang luar yang bawa pick-up, jualnya Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu. Kadang gas masih ada, bilangnya sudah habis padahal truk LPG baru bongkar!" ungkap warga lain dengan nada emosi.
Kepala Desa Baru Syafruddin, S. Sos yang turut hadir dalam aksi tersebut tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. "Apa yang dikeluhkan ibu-ibu ini mohon dapat dicarikan solusinya. Mohon Pak Dewan menindaklanjuti dengan memanggil pemerintah daerah, dinas Koperindag, para agen, sehingga apa yang dikeluhkan masyarakat dapat dicarikan solusinya" pintanya.
Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa, H. Andi Mappelapui, yang langsung turun menemui para pengunjuk rasa, mengakui bahwa keluhan para ibu sangat wajar. "Ibu-ibu ini wajar komplain karena memang harganya mahal, Rp 35 ribu jauh dari harga HET, sementara semua yang ada di sini penerima subsidi pemerintah," tegasnya.
Lebih lanjut, H. Andi menjelaskan bahwa penyaluran elpiji 3 kg melibatkan tiga komponen: SPBE, agen, dan pangkalan. Ironisnya, dengan banyaknya agen (9 di Kabupaten Sumbawa) dan dua SPBE, praktik nakal justru terjadi di tingkat pangkalan yang memainkan harga dan diduga mendahulukan pembeli dari luar desa.
H. Andi berjanji akan segera menindaklanjuti masalah ini dengan memanggil pihak-pihak terkait melalui komisi II DPRD termasuk pemerintah daerah dan dinas Koperindag, untuk mencari solusi secepatnya. Kehadiran Babinsa dan Babinkantibmas setempat turut mengamankan jalannya aksi demo yang berlangsung damai ini.
Aksi heroik para emak-emak Desa Baru ini menjadi bukti bahwa urusan dapur bisa menjadi pemicu gerakan massa yang kuat. Mereka tidak hanya memperjuangkan hak mereka, tetapi juga menyuarakan ketidakadilan yang mereka rasakan. Akankah "serangan" para ibu ini membuahkan hasil dan membuat "gas melon" kembali ramah di kantong? Kita tunggu saja gebrakan selanjutnya! (AM)
What's Your Reaction?
