Tangani Stunting Secara Menyeluruh Sumbawa Terjun Bebas ke 10,58%, Lampaui Target Nasional Jauh Lebih Cepat
Tangani Stunting Secara Menyeluruh. Sumbawa Terjun Bebas ke 10,58%, Lampaui Target Nasional Jauh Lebih Cepat
Sumbawa Besar,Amarmedia.co.id — Upaya keras Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam memerangi stunting membuahkan hasil yang sangat positif dan patut diacungi jempol. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa, angka stunting di wilayah tersebut berhasil ditekan hingga mencapai 10,58 persen, jauh melampaui target nasional sebesar 14 persen pada tahun 2030.
Capaian ini berarti hanya ada 3.496 balita di Sumbawa yang terdata mengalami stunting, berdasarkan data dari aplikasi E-PPGBM.
Plh Kepala Dikes Sumbawa, Hj Nur Atika , saat ditemui pada Jumat (31/10), mengungkapkan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja keras dan sinergi lintas sektor dari hulu hingga hilir.
“Angka stunting kita saat ini 10,58 persen berdasarkan data aplikasi E-PPGBM. Artinya, kita sudah berada di bawah target nasional. Ini berkat kerja bersama lintas sektor, dari hulu sampai hilir,” ujar Hj Nur Atika dengan bangga.
Intervensi Menyeluruh: Bukan Sekadar Makanan
Nur Atika menegaskan bahwa upaya penurunan stunting di Sumbawa tidak dilakukan secara parsial, melainkan melalui pendekatan menyeluruh. Intervensi tidak hanya berfokus pada pemberian makanan bergizi, tetapi juga pada aspek kunci lainnya:
1. Kesehatan Lingkungan.Perbaikan sanitasi dan edukasi air bersih.
2. Pencegahan Penyakit.Pengendalian penyakit infeksi seperti diare, kecacingan, dan TBC, yang dapat memicu stunting.
3. Edukasi Pola Asuh: Sosialisasi pentingnya pola pengasuhan positif dan penuh kasih sayang.
“Stunting bukan hanya karena anak kurang makan bergizi, tetapi juga karena sering sakit, seperti diare, kecacingan, dan TBC. Jadi intervensi kita tidak bisa parsial,” jelasnya.
Fokus pada Posyandu dan Perilaku Sehat
Dikes Sumbawa secara berkelanjutan memperkuat peran posyandu. Dengan pemantauan rutin setiap bulan, kader dapat melakukan deteksi dini dan intervensi cepat bagi balita yang mengalami masalah pertumbuhan.
“Kalau anak tidak naik berat badan, kader posyandu langsung melaporkan agar bisa dilakukan intervensi. Karena semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak untuk tumbuh normal,” kata Nur Atika.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengubah perilaku, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengolah makanan. “Kita di Sumbawa tidak kekurangan protein hewani. Masalahnya lebih ke perilaku dan kebersihan. Kalau makanannya bergizi tapi air minumnya kotor, hasilnya tetap tidak maksimal,” tutupnya, sambil terus mengingatkan pentingnya memasak air sebelum diminum untuk menghindari bakteri E. coli.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara tenaga kesehatan, kader posyandu, pemerintah desa, dan kesadaran masyarakat adalah kunci utama dalam mewujudkan generasi Sumbawa yang sehat dan berkualitas. (AM)
What's Your Reaction?