Sumbawa Genjot PAD Melalui Tujuh Komoditas Unggulan, Udang Jadi Proyek Strategis Nasional
Sumbawa Genjot PAD Melalui Tujuh Komoditas Unggulan, Udang Jadi Proyek Strategis Nasional
Sumbawa Besar, Amarmedia.co.id– Pemerintah Kabupaten Sumbawa serius menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui optimalisasi tujuh komoditas unggulan yang menjadi prioritas pembangunan nasional. Upaya ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan telah mendapatkan dukungan penuh untuk percepatan pelaksanaannya. Tujuh komoditas tersebut meliputi udang, garam, rumput laut, kopi, perikanan tangkap, peternakan, serta pengembangan kampung nelayan berbasis perikanan tangkap.
Dari ketujuh prioritas tersebut, komoditas udang menjadi fokus utama yang akan didorong sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Hal ini terungkap dari koordinasi intensif yang telah dilakukan antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa, termasuk Bupati, dengan pihak Kementerian terkait di tingkat pusat dan provinsi.
"Kami sudah berkoordinasi internal Pemda untuk percepatan ini, bahkan dua malam lalu sudah berkomunikasi dengan tim koordinasi nasional dan rapat provinsi," jelas Kabid Perekonomian dan SDA Pemda Sumbawa Andi Kusmayadi S.Pi.M.Si dalam rapat bersama Pansus RPJMD DPRD Kabupaten Sumbawa Selasa 1 Juli 2025.
Prioritas Udang dan Industrialisasi Berbasis Ekspor
Kemudian lanjutnya, komoditas udang memiliki lintas sektor yang sangat luas, melibatkan kementerian seperti Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Pasalnya, target nasional untuk udang Sumbawa adalah ekspor dengan kualitas dan mutu tinggi, serta terjadi industrialisasi yang selaras dengan RPJMD daerah.
Untuk mewujudkan hal ini, Pemda Sumbawa telah mengagendakan dan menyusun desain untuk koordinasi lintas sektor di pusat, yang rencananya akan dilakukan paling cepat minggu depan. Koordinasi ini menjadi krusial mengingat telah terbitnya peraturan baru dari Bappenas Nomor 4 Tahun 2025 pada 23 Juni lalu, yang mengalihkan skema PSN dari Kemenko Perekonomian ke Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Meskipun sempat ada perdebatan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait skema PSN untuk tambak, Pemerintah Kabupaten Sumbawa tetap bergerak maju. Dua calon lokasi potensial telah diidentifikasi untuk pengembangan tambak udang berskala besar: satu di Moyo Utara (800 hektar) dan satu lagi di Gapit Kecamatan Empang. Provinsi NTB juga mengarahkan dukungan ke Moyo Utara dan mem-backup upaya koordinasi lintas sektor di pusat.
Master Plan, Pelatihan, dan Dampak Sosial Ekonomi
Pada tahun ini, lanjut Andi Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah menganggarkan penyusunan master plan untuk pengembangan udang ini. Master plan ini akan dimantapkan desainnya di lingkup Pemda, lintas sektor di pusat, dan bersama provinsi.
Selain itu, Pemda juga telah menyiapkan anggaran untuk pelatihan bagi para petambak tradisional. Ini sejalan dengan rekomendasi yang menekankan bahwa hasil pembangunan harus berdampak positif pada masyarakat, atau yang dikenal dengan istilah "social welfare fusion". Pelatihan ini juga akan mencakup implementasi IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sesuai rekomendasi KPK dan temuan-temuan KPK yang sempat diberitakan media nasional, untuk memastikan keberlanjutan dan standar kualitas.
Saat ini, Dinas Perikanan dan Kelautan sedang melakukan zonasi detail untuk menentukan lokasi tambak yang ideal antara Moyo Utara atau Gapit. "Progres prioritas nasional ini menjadi perhatian dan fokus utama kita," tegas Andi
Pusat Industrialisasi Udang dan Kontribusi PAD
Dalam RPJMD, telah ditetapkan kawasan sentra produksi spasial untuk udang, yang diharapkan dapat berelasi langsung dengan peningkatan PAD. Sebagai langkah strategis, lahan seluas 11 hektar di belakang Terminal Sumbawa diproyeksikan menjadi pusat industrialisasi udang dan sekaligus gerbang pertama ekspor udang Sumbawa. Lokasi ini sangat strategis, hanya 10 menit dari pelabuhan, memudahkan proses distribusi dan ekspor. Profiling lokasi ini sudah disusun dan dipresentasikan.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa berkomitmen untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang menghambat peningkatan PAD. Salah satu permasalahan nasional yang diangkat adalah potensi minimal 10 triliun rupiah yang keluar dari Sumbawa namun tidak berdampak pada PAD daerah. Dengan menjadikan industrialisasi udang ini sebagai prioritas, diharapkan permasalahan tersebut dapat teratasi.
Target yang ingin dicapai dari upaya ini mencakup:
1. Terpenuhinya target PAD.
2. Tercapainya standardisasi tambak udang.
3. Peningkatan produksi udang hingga berkontribusi signifikan pada target nasional.
4. Upgrade kemampuan petambak tradisional.
5. Peningkatan pendapatan masyarakat.
"Ini menjadi trigger utama. Jika ada tujuh komoditas, maka ini (udang) adalah yang utama, sementara yang lain bisa disebut penunjang," pungkasnya. Desain untuk komoditas unggulan lainnya juga sedang disusun, dan diharapkan dalam tempo cepat dapat dibahas lintas sektor di tingkat pusat untuk segera dialokasikan anggaran dari tahun 2025 hingga 2029. (AM)
What's Your Reaction?
