Euforia Kelulusan, Seragam Sekolah, dan Sebuah Pelajaran tentang Empati

amramr
May 17, 2026 - 15:01
May 17, 2026 - 15:05
 0  5
Euforia Kelulusan, Seragam Sekolah, dan Sebuah Pelajaran tentang Empati

Euforia Kelulusan, Seragam Sekolah, dan Sebuah Pelajaran tentang Empati

Oleh Asmediati 

MASA paling asyik itu SMP dan SMA. Banyak orang mengakui itu. Saya juga mengakui. Zaman sekolah itu asyik sekali. Banyak kenangan. 

Meski asyik, waktunya singkat. Masing-masing hanya tiga tahun. Setelah itu tamat.

Saya masih ingat, di saat menjelang EBTANAS—ujian berskala nasional yang menjadi penentu kelulusan siswa SD, SMP, dan SMA pada era 1990-an—sekolah mengumpulkan kami di lapangan upacara. Ada acara tausiah bersama, berdoa bersama, menyalami orang tua dan guru, sehabis itu bertangis-tangisan bersama.

Di kepala, yang terbayang hanya satu: apakah lulus EBTANAS atau tidak. Sebab pada masa itu, jika NEM (Nilai Ebtanas Murni) buruk, jangan harap bisa lulus, apalagi masuk ke kampus negeri favorit atau perguruan tinggi yang diimpikan. Namun, setelah pengumuman kelulusan tiba, sebuah fenomena kontras justru terjadi.

Sebagian siswa merayakannya dengan euforia berlebihan. Mereka mencoret-coret seragam sekolah dengan cat semprot warna-warni, berkonvoi di jalan raya, melanggar rambu lalu lintas, bahkan banyak yang tak berhelm. Seketika, lupalah pada tausiah dan masa bertangis-tangisan penuh haru sebelum lulus tadi.

Alasan mereka kebahagiaan perlu dirayakan karena hanya sekali seumur hidup. Namun, hal ini justru memicu kritik, kenapa harus dengan mencoret baju? Bukankah itu bentuk nir-empati dan sebuah kemubaziran? 

Syukurnya, di zaman itu saya tak ikut-ikutan. Seragam saya masih aman di lemari. 

Ada untungnya saya lahir dari orang tua yang hidup susah, sehingga saya tahu persis betapa sulitnya mereka memeras keringat hanya untuk membelikan sepasang seragam itu.

Seiring pergantian waktu dan kebijakan ujian nasional yang terus berubah, aksi hura-hura ini mulai ditertibkan dan dilarang. Perlahan, banyak sekolah dan siswa mulai meninggalkan tradisi buruk tersebut. Beberapa angkatan siswa memilih cara lain yang lebih kreatif dan berkesan, seperti menggunakan stiker tanda tangan yang tidak permanen, melakukan long march, bakti sosial, donasi seragam, hingga syukuran sederhana. 

Cara-cara ini tampak jauh lebih keren, elegan, dan bermanfaat.

Namun begitu, tahun ini bukan berarti aksi coret-coret benar-benar hilang. Di Instagram, ruang berkumpulnya remaja Gen Z, saya sempat mengintip story mereka. Ternyata masih ada pelajar yang bangga memamerkan seragam penuh warna cat semprot. Tradisi usang itu rupanya masih berumur panjang. 

Tentu, ini adalah tindakan personal yang terkadang di luar kendali sekolah maupun orang tua. Euforia masa remaja sering kali bergerak lebih cepat daripada nasihat guru dan petuah ayah-ibu.

Realitasnya, fenomena kelulusan hari ini seolah terbagi dalam dua wajah yang bertolak belakang. Di satu sisi, potret “euforia spontan” berupa coret-coret dan konvoi masih bermunculan di sejumlah daerah dan lini masa media sosial. Sebagian siswa tetap menganggapnya sebagai simbol kelucuan dan kenangan terakhir. 

Namun di sisi lain, kesadaran kolektif mulai tumbuh. 

Semakin banyak siswa yang justru mempertanyakan arti kebahagiaan tersebut dan memilih merayakannya dengan kegiatan yang lebih tertib, estetik, serta memiliki nilai sosial nyata.

Saya melihat perubahan ini sebagai pertanda baik. Setidaknya, generasi sekarang mulai diajak memahami bahwa kebahagiaan tidak harus diwujudkan dengan merusak sesuatu. 

Seragam sekolah bukan sekadar kain. Di dalamnya terajut perjuangan panjang orang tua. Ada uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dan ada keringat yang mungkin tak pernah benar-benar diketahui anak-anak mereka.

Siswa yang memilih tidak mencoret seragam agar bisa disumbangkan kepada adik kelas atau anak-anak kurang mampu, sungguh patut dipuji. Begitu pula mereka yang memilih merayakan kelulusan dengan makan sederhana bersama guru lalu pulang dengan tenang tanpa memacetkan jalan raya. 

Di sanalah sebenarnya letak kedewasaan itu tumbuh.

Pada 2015 silam, saya menulis sebuah sajak berjudul “Ode Kelulusan”. Sajak itu lahir dari kegelisahan melihat seragam sekolah dicoret-coret seolah tak punya arti. Dalam sajak itu saya menulis bahwa setiap semprotan cat warna-warni itu sesungguhnya adalah peluh dan darah ayah-ibu yang bekerja di sawah, di pasar, dan di sudut-sudut kota. Ketika seragam itu dicoret, terasa ada rasa syukur yang ikut luruh. 

Puisi memang tidak selalu mampu mengubah keadaan, tapi setidaknya ia dapat mengingatkan bahwa di balik benda yang sederhana, sering kali tersembunyi perjuangan yang tidak sederhana.

Saya percaya, setiap generasi punya cara sendiri untuk merayakan kegembiraan. Adalah wajar jika anak muda membutuhkan ruang untuk bersorak dan menandai akhir masa sekolah yang tak akan datang dua kali. Namun, ekspresi itu tetap perlu dijaga agar tidak melewati batas dan tetap menghormati lingkungan sekitar. Merayakan kelulusan tidak harus dengan merusak atau membahayakan diri di jalan raya.

Kita sadar, kelulusan bukanlah garis finis untuk berpesta pora, melainkan gerbang awal menuju realitas hidup yang sesungguhnya. Jika untuk menghargai selembar kain seragam saja kita gagal, lantas bagaimana kita akan menghargai tanggung jawab yang lebih besar di masa depan? 

Kegembiraan lulus sekolah tak semestinya dirayakan dengan membuang empati. Mari kita sudahi tradisi kemubaziran ini. Alih-alih mengotori seragam dengan cat semprot, alangkah lebih mulia jika pakaian itu menjadi penyambung mimpi bagi mereka yang kurang beruntung. 

Jadikan kelulusan ini sebagai pembuktian bahwa kalian bukan sekadar lulus dalam angka-angka di atas kertas, tapi juga lulus dalam ujian kedewasaan dan rasa kemanusiaan.

ODE KELULUSAN

/1/

baju yang kaucoret itu

dengan cat semprot warna-warni

adalah peluh dan darah ayah-ibumu;

peluh yang mereka pungut di sawah, di pasar, di jalan raya

di kantor-kantor sudut kota, dan di mana-mana

tapi peluh-peluh itu, kau balas kemubaziran

meski kau pulang menegakkan kepala

membawa angka-angka begitu bangga

/2/

mungkin saja ayah-ibumu tersenyum bahagia dan haru

tapi tahukah kau di balik itu air mata mereka menggenang, melaut

tersembunyi, dan dada mereka sesak menahan perih di bilik sepi

tapi tak mampu diucapkan kepadamu, si buah hati belahan jiwa

sebab mereka ingin kau bahagia

—hingga kelak ia menutup mata

/3/

tiga tahun kau sekolah menuntut ilmu membingkai mimpi

tiga tahun pula mereka berpayah-payah

menyulam-jahit baju agar kau terlihat indah

lalu setelah kau tamat, kau lumat-lumat itu pakaian

bagai mencekik leher ayah-ibu

setelah bertahun-tahun membesarkanmu

andai baju yang kau pakai itu bisa bicara

ia akan teriak sekeras-kerasnya, menghardik kelalaianmu dan kawan-kawanmu

—percuma sekolah jika pulang membawa kesia-siaan!

/4/

tahukah kau, di luar pagar sekolah

juga di sudut desa dan pinggiran kota

remaja-remaja seusiamu berdoa siang malam

meminta penuh harap kepada Tuhan

bercucuran air mata, seguk payah hilang dahaga

berharap berbaju baru seperti bajumu

bermimpi punya tas dan sepatu bagus, seperti sepatumu

ingin diantar-jemput orang tua dengan mobil baru seperti mobilmu

tapi semua itu hanya igau di malam-malam yang mencekam

—dan kau bernasib baik, tidak seperti nasib mereka!

/5/

andai baju yang kau coret-coret itu kau jadikan sagu hati

untuk teman-temanmu yang hidup tidak sebaik hidupmu

kau telah membangun sebuah rumah di surga

yang pintu dan jendelanya adalah permata

/6/

ayolah adik-adikku, buka mata buka hatimu

jangan lagi lakukan kesalahan masa lalu

biarkan zaman kakak-kakakmu memfosil di pohon-pohon riwayat

mari bingkai hikayat baru yang menumbuhkan ketulusan

cinta kasih, empati; kepedulian yang tinggi

tanpa pamrih, tanpa kata tak!

—tak ada yang tak bisa jika kau kuasa melakukannya

/7/

untukmu yang hari ini akan pergi meninggalkan sekolah

jemputlah masa depan tanpa tanda seru dan tanda tanya

kecuali tanda tangan di mimbar-mimbar semesta

selamat menjejakkan kaki di kehidupan baru, adik-adikku

pergi jauh, sejauh-sejauhnya ke puncak impianmu

biarlah jarak memisahkan raga, tapi kenangan padamu tetap lekat di dada.

2015—2026. []

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow