Di Balik Layar Megaproyek Integrated Poultry Industry: Perjuangan Prof. Syahrul Bosang Menjaga Marwah NTB
Di Balik Layar Megaproyek Integrated Poultry Industry: Perjuangan Prof. Syahrul Bosang Menjaga Marwah NTB
Oleh : Abdul Ma'ruf Rahmat SP
Sumbawa.Amarmedia.co.id – Penandatanganan MoU pembangunan industri unggas terintegrasi (Integrated Poultry Industry) di Kabupaten Sumbawa bukanlah perjalanan yang instan. Di balik seremoni tersebut, terdapat drama diplomasi tingkat tinggi dan perjuangan teknis yang dikomandoi oleh Prof. Syahrul Bosang (SB) untuk memastikan Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak terlempar dari peta investasi nasional.
Strategi 90 Hari dan Peran BCG
Prof. Bosang akrab disapa pada Selasa 10 Maret 2026 dalam diskusi intensif di grup Bruga Nijang mengungkapkan bahwa saat ini tim teknis tengah berada di Sumbawa untuk mematangkan ekosistem proyek. Setelah fase MoU selesai, langkah selanjutnya akan dipandu oleh Boston Consulting Group (BCG).
"Tugas saya mengantarkan sampai tahapan MoU sudah selesai. Kini, kita menunggu hasil kerja BCG dalam 90 hari ke depan sebelum ditindaklanjuti oleh mitra strategis," ujar Prof. Bosang. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan lokal dalam eksekusi proyek, meski instalasi peralatan tetap harus ditangani tenaga ahli demi menjamin produktivitas dan Harga Pokok Produksi (HPP) yang kompetitif.
Prof Bosang bersama Bupati Sumbawa Ir H Syarafuddin Jarot MP dan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan serta jajaran.
Diplomasi "Menit Terakhir": Menyelamatkan Posisi NTB
Salah satu fakta mengejutkan yang diungkap Prof. Bosang adalah posisi NTB yang sempat goyah dalam daftar prioritas nasional. Awalnya, NTB masuk dalam 5 klaster pertama, namun sempat "dihapus" karena penilaian kurang proaktifnya birokrasi daerah dibandingkan provinsi lain.
"Saya tidak sendirian. Ini bukan sekadar urusan bisnis, tapi perjuangan kolektif. Saya melibatkan tokoh-tokoh seperti Prof. Din Syamsuddin, Johan Rosihan (DPR-RI), Fahri Hamzah, hingga Prof. Ali Agus dan Kolonel Arif untuk meyakinkan Menteri Pertanian Amran Sulaiman," ungkapnya.
Perjuangan ini membuahkan hasil fantastis. Nilai investasi yang awalnya dialokasikan sebesar Rp8 Triliun untuk 5 klaster, membengkak menjadi Rp20 Triliun untuk 20 titik di seluruh Indonesia. NTB akhirnya kembali masuk dalam jajaran 6 titik prioritas utama yang melakukan groundbreaking pada awal Februari 2026, dengan lokasi spesifik di Serading, Moyo Hilir.
Proyek ini mengusung konsep Poultry Village (Perkampungan Unggas). Konsep ini bertujuan menggeser cara beternak tradisional di bawah kolong rumah menjadi sistem klaster per kecamatan guna menjaga bio-security dan mencegah penularan penyakit secara horizontal.
Untuk mendukung keberlanjutan ekonomi peternak rakyat, telah dibentuk Koperasi MARAS (Masyarakat Ayam Ras Amanah Sejahtera). Koperasi ini akan menjadi wadah bagi para peternak lokal agar tidak tergilas oleh pemain besar.
Keunggulan untuk Peternak Lokal:
Untuk kepastian serapan dirinya mengharapkan Pembangunan industri hilir seperti Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan Cold Storage (CS) akan diprioritaskan agar peternak bisa panen hingga 6 kali dalam setahun.
Terkait operasional, Prof. Bosang mendorong agar 100% tenaga kerja berasal dari putra daerah. Posisi strategis seperti Farm Unit Manager dan Hatchery Unit Manager nantinya dapat dilatih melalui fasilitas yang sudah ada, sementara untuk Flock Production Supervisor dapat direkrut dari lulusan universitas lokal seperti UNSA dan UTS dan kampus lainnya.
"Ini adalah upaya proteksi peternak rakyat dalam bentuk Affirmative Action. Kita bangun industri hulu dan hilir secara simultan untuk menciptakan kecerdasan generasi bangsa melalui pemenuhan protein unggas," urainya
Prof. Syahrul Bosang (SB), juga memberikan catatan strategis terkait pengembangan proyek Integrated Poultry Industry di Sumbawa. Ia menekankan pentingnya keterlibatan kontraktor lokal dalam pembangunan infrastruktur proyek agar dampak ekonominya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Saran saya agar proyek ini melibatkan kontraktor lokal karena SPPG berada di NTB, sehingga keberadaannya dirasakan oleh semua pihak," ujarnya.
Namun, untuk aspek manajemen teknis dan peralatan, Prof. Sb menyarankan kolaborasi erat dengan Dinas Peternakan (Disnak) sebagai otoritas pemegang kendali kesehatan dan produktivitas ternak. Mengingat industri unggas berskala besar merupakan hal baru di Sumbawa, pendampingan dari kalangan profesional dan akademisi seperti Universitas Samawa (UNSA) serta Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dinilai krusial.
"Saran saya agar proyek ini melibatkan kontraktor lokal karena SPPG berada di NTB, sehingga keberadaannya dirasakan oleh semua pihak," ujarnya.
Prof Bosang menjelaskan bahwa kolaborasi antara Disnak dan universitas lokal bertujuan untuk mengawal dua sisi produksi secara paralel. Fokus utamanya adalah mencetak persistensi produksi Hatching Eggs (HE), serta menjaga tingkat fertilitas, daya tetas (hatchability), hingga Saleable Chicks/Hen House (SC/HH) yang tinggi.
"Sebagai pakar genetika, kita harus mengeksploitasi maksimal potensi genetik breeding Broiler dan Layer. Kualitas pakan, manajemen SDM, hingga pengaturan mikro klimat kandang (comfort zone) adalah alat untuk mencapai Cost Leadership yang rendah," jelas Prof. Syahrul.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan konsistensi efisiensi Harga Pokok Penjualan (HPP). Dengan efisiensi ini, para peternak diharapkan mampu meraih keuntungan yang berkelanjutan, menuju kesejahteraan yang lebih baik di masa depan. (AM)
What's Your Reaction?
