Menafsir Ulang Semangat Kartini Hari Ini

amramr
Apr 21, 2026 - 06:42
Apr 21, 2026 - 06:52
 0  14
Menafsir Ulang Semangat Kartini Hari Ini

Menafsir Ulang Semangat Kartini Hari Ini

Oleh ; Asmediati 

SAYA selalu terpikir, apa yang terbaru dari sosok R.A. Kartini setiap kali tanggal 21 April tiba dan orang-orang mengenang hari kelahirannya?

Yang pasti, sudah banyak tulisan tentang Kartini. Dan lagi, apa yang baru untuk diketahui?

Semua orang mafhum Kartini pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Kartini harum namanya. Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional atas jasanya memperjuangkan kesetaraan gender dan hak pendidikan.

Sebagai pahlawan, ia tidak berjuang mengangkat senjata, tetapi berjuang melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Senjata yang digunakannya adalah pena.

Yang diperjuangkan Kartini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam pendidikan. Pendidikan di zaman kolonial Belanda, dalam benak Kartini, harus juga dinikmati perempuan.

Kartini tak ingin perempuan hanya berkutat di sumur, dapur, dan kasur. Perempuan harus berani lebih dari itu, tanpa menghilangkan kodratnya.

Itu sebabnya tokoh-tokoh emansipasi perempuan layaknya Kartini memperjuangkan tekad yang sama. Rahmah El Yunusiah di Padang Panjang, salah satunya. Ia pendiri Perguruan Diniyyah Puteri, madrasah khusus perempuan. Dalam pikiran Rahmah, perempuan harus pintar, punya jiwa kepemimpinan, setidaknya kelak menjadi pendamping hidup para pemimpin sehingga pemikiran-pemikirannya turut menjadi arah kebijakan.

Kartini memang keren dan populer. Tapi tokoh perempuan lain yang tak kalah hebat juga banyak. Sebut saja Dewi Sartika (pendiri Sakola Istri), Rohana Kudus (jurnalis perempuan pertama), Sariamin Ismail atau Selasih atau Selasih Selaguri (novelis perempuan pertama), dan Maria Walanda Maramis (pelopor pendidikan perempuan di Minahasa). 

Tokoh lainnya termasuk Rasuna Said, Nyai Ahmad Dahlan, serta pejuang fisik seperti Cut Nyak Dien. Indonesia tak kekurangan perempuan hebat.

Di era digital hari ini, di mana kita menempatkan sosok Kartini agar tetap menjadi teladan?

Tentu, jawabannya terus berubah mengikuti zaman. 

Kartini hidup di masa ketika akses pendidikan bagi perempuan nyaris tertutup. Hari ini, pintu itu telah terbuka lebar. Perempuan bisa sekolah setinggi-tingginya, bekerja di berbagai bidang, bahkan memimpin. 

Namun, apakah itu berarti perjuangan telah selesai?

Ternyata tidak.

Problem perempuan hari ini bukan lagi sekadar akses, tetapi juga kompleksitas. Perempuan modern menghadapi tekanan berlapis. Macam-macam tekanannya. 

Mulai dari tuntutan karier, tanggung jawab domestik, ekspektasi sosial, hingga standar kecantikan yang dibentuk media. 

Di satu sisi, mereka didorong untuk mandiri dan sukses. Di sisi lain, mereka tetap dibebani peran-peran tradisional yang tak sepenuhnya berubah.

Di sinilah semangat Kartini menemukan relevansinya kembali.

Kartini bukan sekadar nama, bukan sekadar peringatan tahunan, sebaliknya api yang seharusnya terus menyala. Api itu adalah keberanian berpikir, keberanian melawan ketidakadilan, keberanian menuangkan gagasan lewat tulisan, dan keberanian untuk bermimpi melampaui batas zamannya.

Semangat Kartini hari ini bisa dipungut dalam bentuk yang berbeda. Kartini hadir pada perempuan yang berani bersuara ketika dipinggirkan, hidup pada ibu yang memperjuangkan pendidikan anak-anaknya di tengah keterbatasan ekonomi, dan tampak pula pada perempuan pekerja yang tetap tenang dan tegak meski sering diremehkan. 

Bahkan, Kartini berdenyut pada gadis-gadis muda yang menolak dikurung oleh stigma dan berani menentukan jalan hidupnya sendiri.

Namun, kita juga tak boleh menutup mata. Masih banyak perempuan yang berada dalam posisi rentan. Kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi di tempat kerja, hingga ketimpangan akses di daerah terpencil masih menjadi persoalan nyata. 

Kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan oleh semua perempuan.

Di titik ini, kita seperti diingatkan kembali bahwa perjuangan belum selesai. Dan tidak akan pernah selesai.

Yang baru dari Kartini bukanlah sosoknya, karena Kartini telah lama kita kenal. Yang baru adalah bagaimana kita memaknai semangatnya dalam konteks kekinian. 

Kartini hari ini bukan hanya mereka yang berpendidikan tinggi atau berkarier cemerlang. Kartini hari ini juga mereka yang bertahan, dengan segala amuk-ombak yang bergemuruh di dadanya, yang berjuang dalam diam, yang tetap kuat meski keadaan tidak selalu berpihak.

Perempuan sering diibaratkan seperti lilin. Ia memberi cahaya, tetapi perlahan habis terbakar. Analogi itu terasa puitis, tetapi juga getir. Sebab, terlalu sering perempuan diminta berkorban tanpa henti. Untuk anak, keluarga, bahkan masyarakat, sementara dirinya sendiri kerap terabaikan.

Padahal, semangat Kartini bukan mengorbankan diri sampai habis, tetapi juga berani memerdekakan diri, berdiri tegak setara, dan memiliki hak untuk bahagia tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Jika semangat itu padam, habislah sudah.

Karena itu, merayakan Kartini seharusnya bukan sekadar mengenakan kebaya atau mengunggah kutipan di media sosial. Merayakannya harus menjadi refleksi dengan pertanyaan: sudahkah kita memberi ruang yang adil bagi perempuan? Sudahkah kita mendengar suara hati mereka? Sudahkah kita memastikan bahwa perempuan tidak lagi menjadi “lilin” yang diam-diam habis terbakar?

Kartini telah menyalakan api itu lebih dari seabad lampau. Tugas kita hari ini adalah menjaganya tetap hidup, di mana saja: rumah, sekolah, tempat kerja, dan dalam cara kita memandang perempuan.

Percayalah kita, bahwa selama api itu menyala, harapan tidak akan pernah padam.(AM)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow