Berita Terkini & Terpercaya & : Opini https://amarmedia.co.id/rss/category/opini Berita Terkini & Terpercaya & : Opini en Copyright 2024 PT Amar Media Inovasi & All Rights Reserved. Deforestasi Legal: Kita Sedang Memakan Masa Depan Mereka https://amarmedia.co.id/deforestasi-legal-kita-sedang-memakan-masa-depan-mereka https://amarmedia.co.id/deforestasi-legal-kita-sedang-memakan-masa-depan-mereka Deforestasi Legal: Kita Sedang Memakan Masa Depan Mereka

Oleh  : Asmediati 

Walhi baru saja memukul lonceng, mengingatkan tanda kematian masa depan sebelum masa itu tiba. Dengan merilis laporan tentang 26 juta hektar hutan yang akan hilang secara legal, kita tertunduk memikirkan nasib generasi mendatang. Lonceng itu tidak berdentang keras, tetapi gaungnya menembus ruang batin. Ia seolah berbisik: tragedi terbesar sering diumumkan dengan suara paling tenang.

Kita hidup di zaman ketika kehancuran tidak datang diam-diam. Ia justru dirancang, dihitung, lalu disahkan dengan prosedur yang rapi. Tidak ada kepanikan, hanya tabel proyeksi dan janji pertumbuhan. Barangkali inilah bentuk paling modern ini dari sebuah ironi.

Dulu manusia menebang hutan karena tidak memahami akibatnya. Kini kita memiliki data iklim, peta risiko, dan peringatan ilmiah yang nyaris tak terbantahkan. Namun pengetahuan ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Kadang ia hanya membuat cara merusak menjadi lebih sistematis.

Kata “legal” terdengar menenangkan, seolah segala yang diberi izin pasti aman. Padahal alam tidak pernah belajar membaca dokumen negara. Banjir tidak menunggu tanda tangan pejabat untuk turun ke kota. Longsor pun tidak pernah bertanya apakah lereng itu sudah sesuai tata ruang.

Ada kesedihan yang sulit dijelaskan ketika kehancuran disebut sebagai bagian dari pembangunan. Kita diyakinkan bahwa mengurangi hutan adalah harga wajar untuk masa depan yang lebih baik. Namun masa depan macam apa yang dibangun dengan menghapus penyangganya sendiri? Pertanyaan itu menggantung, sering kali tanpa ruang untuk dijawab.

Satirnya lirih: kita takut mewariskan utang finansial kepada anak cucu. Tetapi tampak jauh lebih tenang mewariskan udara panas dan air sulit dijangkau. Kita sibuk menghitung pertumbuhan, tetapi jarang menghitung kehilangan. Seolah yang tidak masuk neraca bukanlah kerugian.

Barangkali hutan memang tidak bisa memilih wakil untuk berbicara di parlemen. Pohon tidak memiliki hak suara dalam pemilu. Sungai tidak mampu mengajukan gugatan konstitusional. Maka alam hanya menjawab dengan caranya sendiri—melalui cuaca ekstrem yang semakin sering.

Kita sering berkata semua ini dilakukan demi generasi mendatang. Kalimat itu terdengar mulia, hampir seperti doa kebangsaan. Namun diam-diam kita mengurangi pilihan hidup mereka. Dunia yang diwariskan semakin sempit, tetapi kita tetap berharap mereka berterima kasih.

Peradaban jarang runtuh karena satu keputusan besar. Ia terkikis oleh banyak keputusan kecil yang dianggap rasional pada masanya. Setiap izin tampak biasa, setiap pembukaan lahan terasa perlu. Hingga suatu hari kita sadar yang hilang bukan hanya hutan, melainkan keseimbangan.

Mungkin kelak anak-cucu kita akan membaca tentang zaman kita sebagai era paling cerdas sekaligus paling ceroboh. Generasi yang mampu memprediksi bencana, tetapi tetap berjalan ke arahnya. Dan ketika mereka bertanya, “Mengapa kalian tahu tetapi tetap melakukannya?”, kita hanya terdiam. Sejarah akan mencatat: kita bukan sekadar menyaksikan masa depan menipis—kitalah yang memakannya perlahan.

Tidak ada kehidupan yang aman tanpa hutan, karena hutan adalah penyangga kehidupan. Jika kita sengaja menghancurkan penyangga itu, kita menandatangani kontrak maut dengan diri sendiri. Air mengering, tanah longsor, udara panas, iklim berantakan. Teknologi tidak bisa menumbuhkan hujan atau menahan banjir untuk kita.

Menghancurkan hutan sama dengan membakar rumah sendiri sambil berharap asapnya tidak sampai ke kamar anak-anak. Kita bermain-main dengan nasib generasi yang belum lahir, sambil tersenyum seolah semua aman. Ironi terbesar: takut miskin, takut krisis ekonomi, takut gagal membangun, tetapi santai saat menghancurkan fondasi kehidupan.

Hutan adalah polis asuransi paling mahal dan paling langka—dan kita menebangnya dengan legalitas di tangan. Legalitas tidak menahan badai, tidak menghentikan kekeringan, tidak menenangkan longsor. Kita sedang memakan masa depan, mengunyahnya perlahan sambil berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Jika generasi mendatang bertanya, “Mengapa kalian tahu tetapi tetap melakukannya?”, kita hanya bisa menjawab lirih penuh penyesalan yang sangat terlambat: karena kita terlalu sibuk menandatangani izin dan menghitung keuntungan. Tragedi ini berjalan dengan ritme tenang, tetapi hasilnya pasti. Kita tidak lagi melihat kehancuran sebagai sesuatu yang jauh—kita sudah berada di tengahnya, menatapnya, dan tetap membiarkannya.[AM]

]]>
Sun, 08 Feb 2026 22:12:31 +0800 amr
Yang Sering Tak Tertulis di Buku Pelajaran Kita https://amarmedia.co.id/yang-sering-tak-tertulis-di-buku-pelajaran-kita https://amarmedia.co.id/yang-sering-tak-tertulis-di-buku-pelajaran-kita Yang Sering Tak Tertulis di Buku Pelajaran Kita

                               Oleh Asmediati 

SEORANG murid kelas IV Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR, mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyayat hati. Ia bunuh diri dan meninggalkan secarik surat bertulis tangan. Dugaan pemicunya adalah sebuah permintaan yang tak mampu dipenuhi orang tuanya, yaitu uang untuk membeli buku tulis dan pulpen.

Permintaan itu bukan karena sang ibu tak sayang atau tak peduli, semata karena impitan ekonomi yang teramat mencekik. Kehidupan mereka jauh dari kata cukup.

Kematian tragis ini seolah menjadi noktah hitam di atas kertas putih dunia pendidikan kita, meski tragedi itu tak terjadi di sekolah. Di balik angka-angka statistik pencapaian dan gegap gempita kurikulum, terselip sebuah realitas yang sering kali luput dari pandangan bahwa bagi sebagian anak, alat tulis bukanlah sekadar kebutuhan teknis, melainkan tiket untuk merasa "ada" dan "setara". Ketika tiket itu tak terbeli, dunia mereka bagai luluh lantak dalam keterpurukan yang paling dalam.

Tulisan ini tidak hendak menyalahkan siapa pun. Tidak orang tua, tidak guru, tidak sekolah, tidak pula sistem. Sebab dalam peristiwa semacam ini, saling tuding justru sering kali menutup pintu pemahaman. Yang lebih mendesak untuk kita tanyakan adalah: apa yang sesungguhnya sedang kita ajarkan, dan apa yang gagal kita dengar, dalam semesta literasi anak-anak kita, baik oleh guru maupun orang tua?

Selama ini, literasi kerap kita sederhanakan sebagai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kita membanggakan kenaikan indeks literasi, maraknya lomba menulis, deretan rak buku, dan slogan “gemar membaca” serta “gemar menulis”. Namun, kasus YBR mengingatkan kita bahwa literasi bukan hanya soal teks, melainkan soal rasa, empati, dan keberpihakan. 

YBR tidak hanya kekurangan buku tulis, ia kekurangan ruang aman untuk menyampaikan kegundahannya.

Bagi seorang anak kelas IV SD, buku tulis dan pulpen bukan sekadar alat belajar. Mereka adalah simbol. Simbol keterlibatan di sekolah, simbol “aku sama dengan teman-temanku”, dan simbol harga diri. Ketika simbol itu tak dapat digenggam, yang tergerus bukan hanya semangat belajar, tetapi juga rasa keberhargaan diri.

Anak-anak belum memiliki kosakata emosi yang lengkap. Mereka belum pandai mengatakan, “Saya sedih,” “Saya malu,” atau “Saya merasa tertinggal.” Yang mereka pahami sering kali hanya satu: "Aku tidak mampu, dan itu salahku."

Di sinilah literasi emosi dan empati seharusnya hadir. Sekolah semestinya tidak hanya menjadi tempat mengisi lembar-lembar buku atau menuntut ini-itu, tetapi juga ruang di mana anak merasa aman untuk jujur tentang keadaannya. Guru bukan sekadar penyampai isi kurikulum, melainkan "pembaca" yang peka terhadap tanda-tanda yang selalu tak tersurat tetapi lebih banyak tersirat, seperti murid yang tiba-tiba diam, menunduk, enggan bertanya, atau terlalu patuh tanpa suara.

Literasi, dalam tafsir terdalamnya, adalah kemampuan membaca manusia dengan segala masalahnya, bukan hanya halaman buku atau keriuhan mengatasnamakan “literasi”.

Kita juga perlu jujur mengakui bahwa masih banyak anak Indonesia yang bersekolah sambil memikul beban orang dewasa: kemiskinan, rasa bersalah kepada orang tua, dan ketakutan menjadi beban keluarga. Dalam situasi segetir itu, kalimat “pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan” bisa terdengar kontras dan ironis, bahkan menyakitkan, jika jalan itu sendiri penuh lubang tanpa pegangan.

Esai ini tidak sedang menghakimi bahwa sekolah telah gagal atau orang tua telah lalai. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat betapa rapuhnya anak-anak kita ketika sistem terlalu yakin bahwa semua murid berdiri di “garis start” yang sama. Saat buku tulis dianggap hal sepele, kita lupa bahwa bagi sebagian keluarga, ia adalah kemewahan yang harus dipilih di antara kebutuhan perut yang juga mendesak.

Pertanyaannya, berapa banyak guru yang tidak hanya menunggu di gerbang sekolah atau di muka kelas, tetapi juga mau menyediakan waktu mendatangi rumah-rumah muridnya untuk melihat seperti apa kehidupan anak-anak yang mereka didik?

Namun, kondisi ini pun berdiri di atas kontradiksi yang getir; ketika kesejahteraan guru belum sepenuhnya dikatakan baik, sementara beban administrasi yang kian menumpuk menyebabkan mereka kehabisan waktu dan energi untuk sekadar menoleh pada sisi humanis pendidikan. Guru dipaksa menjadi teknokrat laporan, hingga sering kali kehilangan ruang gerak untuk menjadi pendamping jiwa bagi murid-muridnya.

Literasi yang berkeadilan seharusnya peka pada konteks. Ia tidak hanya mengajarkan anak mengeja kalimat, tetapi juga menuntut kita untuk mampu "membaca" kondisi anak dan keluarganya. Ia tidak hanya menuntut anak siap belajar, tetapi memastikan mereka memiliki sarana, dukungan, dan rasa aman untuk tumbuh.

Literasi yang manusiawi adalah literasi yang tidak mempermalukan kekurangan dan tidak mengukur nilai seorang anak dari kelengkapan alat sekolahnya.

Tragedi YBR seharusnya menjadi cermin, bukan palu. Sebuah cermin untuk merefleksikan apakah selama ini kita terlalu sibuk mengejar target, angka, dan capaian formalitas, hingga lupa mendengar suara paling hening di pojok kelas. Suara anak-anak yang tidak berteriak, namun memikul beban yang terlalu berat bagi pundak kecil mereka.

Kita memang tidak bisa mengubah peristiwa yang sudah berlalu. Namun, kita bisa mengubah cara kita memaknainya, dengan menghadirkan literasi yang lebih berempati dan lebih manusiawi. Literasi yang tidak hanya menyalakan pikiran untuk mengejar target prestasi dan prestise, tetapi juga menjaga fondasi paling krusial: empati.

Tujuan tertinggi pendidikan bukan hanya membuat anak pandai membaca dan menulis, melainkan memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa hidupnya terlalu tersisih hingga tak lagi punya alasan untuk bertahan.

Sudah saatnya kita berhenti sejenak dari perlombaan statistik dan mulai membasuh luka yang tak kasat mata. Pendidikan harus kembali pada fitrahnya sebagai pembebas, bukan pemberi beban yang justru mematikan harapan sebelum ia sempat mekar. Jangan biarkan ada lagi anak yang harus "pergi" hanya karena merasa tidak memiliki "tiket" untuk sekadar duduk di bangku kelas yang mereka impikan.

Ke depan, marilah kita tuliskan bab baru dalam dunia pendidikan kita; sebuah bab yang mengutamakan kemanusiaan di atas administrasi. Sebab, apalah artinya mencetak generasi yang mahir mengeja, jika kita sendiri gagal membaca jeritan di balik diamnya seorang murid. Bagaimanapun juga, buku tulis yang kosong bisa diisi dengan ilmu, namun nyawa yang hilang tidak akan pernah bisa digantikan oleh tumpukan piagam maupun angka-angka kelulusan yang sempurna, sehebat apa pun capaian itu.

]]>
Thu, 05 Feb 2026 18:15:25 +0800 amr
Menggali Masa Depan Sumbawa: Dari Eksploitasi ke Edukasi, Dari Donasi ke Mandiri https://amarmedia.co.id/menggali-masa-depan-sumbawa-dari-eksploitasi-ke-edukasi-dari-donasi-ke-mandiri https://amarmedia.co.id/menggali-masa-depan-sumbawa-dari-eksploitasi-ke-edukasi-dari-donasi-ke-mandiri Menggali Masa Depan Sumbawa: Dari Eksploitasi ke Edukasi, Dari Donasi ke Mandiri

Oleh Abdul Ma'ruf Rahmat 

Kabupaten Sumbawa berdiri di atas kekayaan mineral yang luar biasa. Kehadiran raksasa tambang seperti PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dengan proyek Elang-nya, PT Sumbawa Juta Raya (SJR), PT INTAM, PT Selatan Arc Mining PT SAM), PT Ngali Sumbawa Mining, PT Mitra Indomas Pertiwi hingga potensi besar di PT Sumbawa Timur Mining (STM) dengan wilayah Dompu hingga Sumbawa, menempatkan wilayah ini dalam sorotan ekonomi nasional. Namun, di balik gemerlap angka produksi tembaga dan emas, muncul pertanyaan mendasar: Apa yang tersisa bagi masyarakat Sumbawa ketika mesin-mesin tambang akhirnya berhenti menderu?

Di sinilah peran Corporate Social Responsibility (CSR) atau Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) diuji. CSR bukan lagi sekadar pelengkap administratif atau aksesori filantropi perusahaan. Ia adalah instrumen krusial untuk memastikan bahwa kekayaan alam yang dikeruk bertransformasi menjadi ketahanan sosial yang abadi.

Menggeser Paradigma: Mengganti "Ikan" dengan "Kail"

Sudah saatnya kita meninggalkan pola lama di mana CSR direduksi hanya menjadi pembagian sembako, donasi tunai sesaat, atau pembangunan gerbang desa yang megah secara fisik namun hampa secara fungsi. Pola filantropi seperti ini hanya akan melahirkan "mentalitas ketergantungan" yang berbahaya.

Masyarakat di lingkar tambang, mulai dari Ropang, Lantung, Lenagguar, hingga wilayah pesisir Sumbawa, membutuhkan pemberdayaan. Perusahaan harus berani beralih ke pola investasi sosial. Artinya, dana yang dikucurkan harus menjadi modal bagi masyarakat untuk bisa berdiri tegak di kaki sendiri.

Untuk mewujudkan kemandirian pascatambang, program PPM di Kabupaten Sumbawa perlu menyasar sektor-sektor strategis:

Pertama : Vokasi dan Local Content. Membangun pusat pelatihan keterampilan yang spesifik sehingga pemuda Sumbawa bukan hanya menjadi penonton atau tenaga kasar, tetapi terserap sebagai tenaga ahli di industri tersebut. Lebih jauh, UMKM lokal harus didorong untuk masuk ke dalam rantai pasok perusahaan, misalnya sebagai penyedia logistik atau jasa pendukung operasional.

Kedua : Kesehatan dan Pendidikan Dasar

Kesuksesan tambang harus tercermin pada menurunnya angka stunting di desa-desa sekitar dan meningkatnya literasi digital generasi muda setempat.

Ketiga : Diversifikasi Ekonomi Pascatambang.

Industri tambang memiliki batas waktu (age of mine). Sebelum masa itu tiba, CSR harus mampu menciptakan ekonomi alternatif—baik itu melalui pertanian berkelanjutan, peternakan modern, maupun pariwisata—sehingga ketika tambang tutup, denyut nadi ekonomi daerah tidak ikut terhenti.

Perusahaan perlu menyadari bahwa CSR yang matang bukan sekadar kewajiban Undang-Undang (seperti UU No. 3 Tahun 2020 tentang Minerba). Ini adalah upaya mendapatkan Social License to Operate atau izin sosial untuk beroperasi. Ketika masyarakat merasa memiliki (sense of belonging) karena mereka turut berdaya dan sejahtera, maka risiko konflik sosial dapat diminimalisir.

Penutup

Kesuksesan sebuah program CSR pertambangan tidak diukur dari seberapa besar dana yang dikucurkan, tetapi dari seberapa mampu masyarakat berdiri tegak tanpa bantuan perusahaan tersebut di masa depan.

Sumbawa tidak boleh hanya diingat sebagai daerah yang pernah punya lubang tambang yang dalam, tetapi harus dikenal sebagai daerah yang berhasil mengubah hasil bumi menjadi kualitas manusia yang mumpuni. CSR adalah kompas etisnya; ia harus membawa kita dari eksploitasi menuju kemandirian yang berkelanjutan. (AM)

]]>
Wed, 04 Feb 2026 17:25:57 +0800 amr
Jejak yang Kita Tinggalkan: Filosofi Investasi Masa Depan dari Tanah Sumbawa https://amarmedia.co.id/jejak-yang-kita-tinggalkan-filosofi-investasi-masa-depan-dari-tanah-sumbawa https://amarmedia.co.id/jejak-yang-kita-tinggalkan-filosofi-investasi-masa-depan-dari-tanah-sumbawa Jejak yang Kita Tinggalkan: Filosofi Investasi Masa Depan dari Tanah Sumbawa

Oleh : Abdul Ma'ruf Rahmat 

Banyak orang menghabiskan seumur hidupnya untuk terus berlari, namun jarang yang benar-benar berhenti sejenak untuk berpikir: "Apa yang sebenarnya ingin saya tinggalkan dalam hidup ini?"

Hidup bukan sekadar tentang seberapa banyak uang yang dihasilkan hari ini, atau tentang satu keberhasilan dan kegagalan sesaat. Hidup yang berbobot adalah tentang meninggalkan jejak milik sendiri di dunia ini. Jika hanya untuk bertahan hidup, kita tidak butuh banyak usaha. Namun, untuk hidup yang bermakna, kita harus menyadari bahwa hidup adalah sebuah kurva yang terus memanjang—selama kita masih dalam perjalanan, selamanya ada kemungkinan untuk terus naik.

Kita sering mendengar nama Warren Buffett. Di puncak kekayaannya, ia bisa saja berhenti. Namun, hingga hari ini ia tetap meriset peluang. Kenapa? Bukan karena ia kekurangan uang, melainkan karena menangkap peluang adalah caranya memahami dunia dan memberi pengaruh bagi sesama.

Sama halnya dengan keluarga Trump. Kakeknya adalah imigran yang melarikan diri dari kelaparan tanpa modal apapun kecuali keberanian untuk maju saat peluang muncul. Satu generasi menanggung risiko, generasi berikutnya menaikkan titik awal. Inilah yang kita sebut sebagai upaya lintas generasi.

Langkah Nyata di Sumbawa: Menanam untuk Masa Depan

Filosofi "menangkap peluang" dan "membangun masa depan" inilah yang kini tercermin dalam langkah nyata Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. Baru-baru ini, di Desa Mata, Kecamatan Tarano, sebuah wilayah perbatasan d timur Sumbawa yang menjadi benteng alam kita, Bupati memimpin Aksi Penanaman Pohon Tahap X. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial menaruh bibit di tanah, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi anak cucu kita.

Bupati H. Jarot sangat menyadari fakta pahit: hutan kita sedang tergerus, mata air menghilang, dan infrastruktur rusak akibat alam yang tidak lagi seimbang. Di sinilah letak kepemimpinan yang berorientasi pada "makna". Beliau tidak memilih jalan yang mudah dengan membiarkan kerusakan berlanjut, melainkan mengambil langkah tegas untuk rehabilitasi lahan kritis dengan menanam pohon bernilai ekonomi untuk mengembalikan fungsi hutan,dan membentuk Satgas Penyelamatan Hutan bersama TNI, Polri, dan Kejaksaan serta Pelibatan Masyarakat dengan mengajak warga menjadi "mata dan telinga" untuk melaporkan penebangan liar.

Titik Balik: Memilih untuk Tidak Mundur

Apa hubungan antara investasi saham, visi Buffett, dan penanaman pohon di Sumbawa? Semuanya bermuara pada satu hal: Sikap terhadap peluang yang pasti.

Peluang yang ramah bagi orang biasa tidak banyak. Dalam dunia finansial, mungkin itu adalah IPO Namun dalam kehidupan sosial, peluang terbesar kita adalah menyelamatkan ekologi tempat kita tinggal.

Apa yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumbawa hari ini mungkin terlihat biasa saja bagi sebagian orang. Namun, 30 tahun dari sekarang, saat anak cucu kita bertanya, "Sejak kapan keluarga dan daerah kita mulai berubah?", mereka akan mengingat titik ini. Mereka akan ingat bahwa pada tahun 2025 dan 2026, ada pemimpin dan masyarakat yang berani melangkah maju, mengambil risiko, dan bertindak tegas demi masa depan.

Pesan Untuk Kita Semua

Keberhasilan tidak terjadi di saat-saat puncak, melainkan pada titik-titik tenang di mana sebuah keputusan sulit harus diambil.

Apakah kita hanya akan menjadi penonton saat hutan kita dijarah?

Ataukah kita akan menjadi bagian dari generasi yang "menaikkan titik awal" bagi generasi mendatang?

Seperti kata Bupati H. Jarot, "Alam harus kita jaga bersama." Jangan biarkan keraguan menghentikan langkah kita. Saat jalurnya terang dan tujuannya mulia, bertindaklah tanpa ragu sedikit pun. Itulah investasi terbaik yang bisa kita berikan untuk dunia.

]]>
Sun, 01 Feb 2026 02:03:14 +0800 amr
Musim Hujan, Musim Bersin: Kisah Flu, Batuk, dan Pilek di Sekitar Kita https://amarmedia.co.id/musim-hujan-musim-bersin-kisah-flu-batuk-dan-pilek-di-sekitar-kita https://amarmedia.co.id/musim-hujan-musim-bersin-kisah-flu-batuk-dan-pilek-di-sekitar-kita

Musim hujan selalu datang membawa dua wajah, dan kita sering menyambutnya dengan payung di satu tangan dan tisu di tangan lainnya. Di satu sisi, ia adalah rahmat yang menyuburkan tanah, menghidupkan sungai-sungai, dan menguatkan harapan para petani akan panen yang baik. Namun di sisi lain, hujan kerap diiringi oleh gelombang penyakit musiman yang paling akrab di telinga kita: flu, batuk, dan pilek. Ketiganya seakan menjadi “tamu wajib” yang tak pernah absen dari rumah-rumah, sekolah, kantor, hingga ruang-ruang publik. Fenomena ini bukan sekadar soal perubahan cuaca, tetapi juga cermin dari bagaimana kita memandang kesehatan, kebersihan, dan tanggung jawab bersama.

Setiap tahun, ketika langit mulai mendung dan rintik hujan turun, angka kunjungan ke puskesmas dan klinik meningkat. Anak-anak datang dengan hidung tersumbat, orang dewasa mengeluh tenggorokan gatal, dan lansia terlihat lebih mudah lelah karena batuk berkepanjangan. Flu, batuk, dan pilek sering dianggap sepele karena jarang berujung pada komplikasi serius. Namun, anggapan remeh inilah yang justru berbahaya. Penyakit ringan yang dibiarkan dapat menjadi pintu masuk bagi infeksi lain, terutama pada mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah.

Secara ilmiah, musim hujan memang menciptakan kondisi yang ideal bagi virus dan bakteri untuk berkembang. Kelembapan tinggi dan suhu yang lebih rendah memungkinkan mikroorganisme bertahan lebih lama di udara dan permukaan benda. Di ruang tertutup, ventilasi yang kurang baik membuat partikel virus mudah berpindah dari satu orang ke orang lain. Selain itu, kebiasaan kita yang lebih sering berkumpul di dalam ruangan saat hujan turut mempercepat penularan. Tanpa disadari, kita sedang menciptakan “arena” yang ramah bagi penyakit.

Namun, faktor alam bukan satu-satunya penyebab. Kebiasaan manusia memainkan peran besar. Masih banyak di antara kita yang enggan mencuci tangan setelah beraktivitas di luar, menutup mulut saat batuk atau bersin, atau menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Sampah yang menumpuk dan genangan air yang dibiarkan menjadi sumber masalah baru, bukan hanya untuk penyakit pernapasan, tetapi juga bagi penyakit lain yang dibawa oleh nyamuk dan kuman. Di sinilah flu, batuk, dan pilek menjadi simbol dari persoalan yang lebih luas: rendahnya kesadaran kolektif tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.

Sekolah, sebagai ruang berkumpulnya anak-anak, sering menjadi titik awal penyebaran. Satu siswa yang datang dengan gejala flu dapat menularkan kepada teman sekelasnya dalam waktu singkat. Anak-anak, dengan sistem imun yang masih berkembang, lebih rentan terhadap infeksi. Namun ironisnya, banyak orang tua yang tetap mengizinkan anak berangkat ke sekolah meski sedang sakit, entah karena takut tertinggal pelajaran atau karena menganggap flu hanya masalah kecil. Padahal, langkah sederhana seperti istirahat di rumah dapat memutus rantai penularan.

Di dunia kerja, situasinya tak jauh berbeda. Budaya “tetap masuk meski sakit” sering dianggap sebagai bentuk tanggung jawab dan profesionalisme. Padahal, hadir di kantor dalam kondisi flu justru bisa merugikan banyak pihak. Produktivitas menurun, risiko penularan meningkat, dan suasana kerja menjadi tidak nyaman. Perusahaan dan instansi seharusnya mulai memandang kesehatan karyawan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar urusan pribadi. Kebijakan kerja fleksibel atau izin sakit yang manusiawi dapat menjadi solusi yang saling menguntungkan.

Di balik semua itu, ada pula persoalan akses terhadap layanan kesehatan dan informasi. Tidak semua masyarakat memiliki pemahaman yang memadai tentang cara mencegah dan menangani flu, batuk, dan pilek. Masih ada yang mengandalkan mitos atau informasi keliru, seperti anggapan bahwa kehujanan langsung menyebabkan flu, tanpa memahami peran virus sebagai penyebab utama. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan, baik melalui sekolah, media, maupun kegiatan masyarakat, menjadi kunci untuk membangun pemahaman yang lebih baik.

Pemerintah dan lembaga kesehatan memiliki peran strategis dalam hal ini. Kampanye tentang cuci tangan pakai sabun, etika batuk dan bersin, serta pentingnya menjaga daya tahan tubuh harus terus digencarkan, terutama menjelang dan selama musim hujan. Penyediaan fasilitas umum yang bersih, seperti toilet dan tempat cuci tangan di ruang publik, juga merupakan langkah konkret yang tidak boleh diabaikan. Upaya ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar dalam menekan angka penularan.

Di tingkat keluarga, peran orang tua dan anggota keluarga lainnya tak kalah penting. Rumah adalah benteng pertama dalam menjaga kesehatan. Menyediakan makanan bergizi, memastikan sirkulasi udara yang baik, dan membiasakan anggota keluarga untuk menjaga kebersihan diri adalah investasi kesehatan yang tak ternilai. Ketika salah satu anggota keluarga sakit, empati dan perhatian menjadi bagian dari proses penyembuhan. Isolasi ringan, seperti menggunakan peralatan makan terpisah atau menjaga jarak sementara, bisa membantu mencegah penularan ke anggota keluarga lain.

Musim hujan seharusnya tidak selalu identik dengan meningkatnya angka sakit. Dengan kesadaran dan tindakan yang tepat, kita bisa mengubah narasi tersebut. Flu, batuk, dan pilek memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa diminimalkan. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara individu, keluarga, sekolah, tempat kerja, dan pemerintah. Kesehatan bukan hanya urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama.

Lebih jauh, fenomena penyakit musiman ini juga mengajak kita untuk merenung tentang hubungan kita dengan lingkungan. Perubahan iklim, urbanisasi yang tidak terencana, dan polusi udara turut memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat. Udara yang tercemar dapat memperburuk gejala pernapasan, sementara ruang hijau yang semakin berkurang membuat kita kehilangan salah satu “paru-paru” alami kota. Musim hujan, dengan segala tantangannya, menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan berarti juga menjaga kesehatan diri.

Dalam konteks sosial, cara kita merespons orang yang sakit juga mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Apakah kita memberi ruang bagi mereka untuk beristirahat dan pulih, atau justru menekan mereka untuk tetap beraktivitas demi memenuhi tuntutan tertentu? Empati dan solidaritas sosial dapat menjadi “obat” yang tak kalah penting dibandingkan obat medis. Ketika masyarakat saling peduli, beban penyakit, sekecil apa pun, terasa lebih ringan.

Media, baik konvensional maupun digital, memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik. Pemberitaan yang informatif dan edukatif tentang kesehatan dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih baik. Namun, di era media sosial, informasi keliru juga mudah menyebar. Oleh karena itu, literasi digital menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi yang benar dan dapat dipercaya.

Akhirnya, flu, batuk, dan pilek saat musim hujan bukan hanya soal virus yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Ia adalah cermin dari bagaimana kita hidup, berinteraksi, dan merawat lingkungan serta sesama. Setiap tetes hujan yang jatuh bisa menjadi pengingat bahwa alam dan manusia saling terhubung dalam sebuah sistem yang rapuh. Ketika salah satu bagian diabaikan, dampaknya terasa di bagian lain.

Dengan meningkatkan kesadaran, memperbaiki kebiasaan, dan memperkuat solidaritas, kita bisa menghadapi musim hujan dengan lebih siap. Bukan hanya dengan payung dan jas hujan, tetapi juga dengan pengetahuan, empati, dan tanggung jawab bersama. Sebab, kesehatan adalah fondasi dari segala aktivitas manusia. Tanpa tubuh yang sehat, hujan yang seharusnya membawa berkah justru berubah menjadi awal dari serangkaian keluhan.

Musim hujan akan selalu datang, seperti halnya flu, batuk, dan pilek yang mengiringinya. Namun, pilihan ada di tangan kita: apakah kita akan terus menganggapnya sebagai takdir yang tak terelakkan, atau sebagai tantangan yang bisa dihadapi dengan kesadaran dan tindakan nyata. Dalam pilihan itulah, kualitas hidup masyarakat dipertaruhkan. Dan mungkin, di sanalah makna sejati dari hidup sehat sebagai sebuah jawab bersama menemukan tempatnya.[AM]

]]>
Sun, 01 Feb 2026 01:32:55 +0800 amr
Logika Absurd Negara : 1 Anak Kurang Gizi, 5 Anak Diberi Gizi https://amarmedia.co.id/logika-absurd-negara-1-anak-kurang-gizi-5-anak-diberi-gizi https://amarmedia.co.id/logika-absurd-negara-1-anak-kurang-gizi-5-anak-diberi-gizi

Dalam kehidupan sehari-hari, tak ada orang tua waras yang menghukum lima anak hanya karena satu anak berbuat salah. Akal sehat mengajarkan bahwa masalah individual diselesaikan secara individual, bukan secara kolektif. Namun logika sederhana ini justru runtuh ketika negara merumuskan kebijakan publik. Atas nama kepedulian, kesalahan berpikir disulap menjadi kebajikan politik. Negara lalu tampil seolah bijak, padahal sesungguhnya sedang mengabaikan rasionalitas. Dari titik inilah absurditas kebijakan mulai dinormalisasi.

Pernyataan Presiden Prabowo bahwa satu dari lima anak Indonesia mengalami kekurangan gizi dijadikan dasar pembentukan program makan bergizi gratis untuk semua anak. Secara komunikasi politik, kalimat ini terdengar empatik dan mudah diterima publik. Namun secara logika kebijakan, ia mengandung lompatan berpikir yang berbahaya. Masalah yang diakui bersifat parsial langsung diterjemahkan sebagai masalah total. Tidak ada jembatan argumentasi yang menjelaskan mengapa yang empat harus menanggung solusi untuk yang satu. Di sinilah komunikasi negara berubah dari penjelasan menjadi pembenaran.

Dalam logika berpikir yang sehat, kesalahan ini dikenal sebagai generalisasi ceroboh. Fakta bahwa sebagian anak kekurangan gizi tidak otomatis melegitimasi perlakuan yang sama kepada seluruh anak. Kebijakan yang rasional selalu bergerak dari data menuju ketepatan sasaran. Ketika data justru dipakai untuk memperluas sasaran tanpa batas, maka data kehilangan maknanya. Negara berhenti berpikir presisi dan mulai berpikir simbolik. Akibatnya, solusi tidak lagi mengikuti masalah, melainkan ambisi.

Lebih jauh, logika ini menyerupai konsep tanggung jawab kolektif yang telah lama ditinggalkan dalam hukum modern. Dalam prinsip keadilan, yang bersalah atau bermasalah tidak boleh digeneralisasi. Anak yang cukup gizi diperlakukan seolah kekurangan gizi. Anak dari keluarga mampu disubsidi seakan-akan tidak mampu. Negara menghapus batas antara kebutuhan dan keinginan. Keadilan dikorbankan demi keseragaman semu.

Jika logika ini dipelihara maka suatu saat nanti kita akan memberi obat antibiotik kepada semua anak kita karena satu diantaranya terluka. 

Dalam teori keadilan John Rawls, kebijakan publik hanya dapat dibenarkan jika memberikan manfaat terbesar bagi kelompok yang paling rentan. Prinsip difference principle menegaskan bahwa ketimpangan hanya sah secara moral apabila memperbaiki posisi mereka yang paling lemah. Artinya, negara tidak dituntut memperlakukan semua orang sama, melainkan memperlakukan secara adil sesuai kebutuhan. Kebijakan yang menyebar sumber daya ke semua kelompok justru berpotensi mengurangi manfaat bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Dalam kerangka Rawls, kebijakan seperti itu gagal memenuhi standar keadilan substantif. Negara tampak adil di permukaan, tetapi sesungguhnya abai pada inti keadilan itu sendiri.

Ketika kebijakan kehilangan presisi, politik masuk mengambil alih arah. Program yang tepat sasaran tidak menarik secara elektoral karena tak terlihat dan tak spektakuler. Sebaliknya, program massal mudah diklaim sebagai keberhasilan pemimpin. Makan gratis untuk semua anak lebih fotogenik daripada intervensi gizi yang terukur. Simbol lebih dijual daripada hasil. Di sinilah ambisi politik mulai menunggangi nalar kebijakan.

Program berskala raksasa selalu membutuhkan anggaran raksasa. Di tengah kondisi APBN yang tertekan, pilihan ini terasa semakin tidak masuk akal. Masalah yang hanya menyentuh sebagian anak justru dibebankan ke seluruh keuangan negara. Negara seolah lupa bahwa setiap rupiah memiliki biaya peluang. Ketika anggaran dihamburkan, sektor lain terpaksa dikorbankan. Akal sehat fiskal pun ikut dikalahkan.

Lebih problematis lagi, proyek besar selalu melahirkan rantai pengadaan yang panjang. Di sana ada dapur massal, logistik, distribusi, dan kontrak tanpa akhir. Semakin luas sasaran, semakin besar ruang inefisiensi. Ketepatan sasaran justru menjadi musuh utama proyek besar. Negara akhirnya lebih sibuk mengelola proyek daripada menyelesaikan masalah. Anak dijadikan alasan, sementara proyek menjadi tujuan.

Jika logika seperti ini diterima, negara sedang menciptakan preseden berpikir yang berbahaya. Setiap masalah parsial akan selalu dijawab dengan solusi massal. Rasionalitas digeser oleh emosi kolektif. Kritik akan dianggap sebagai penentangan terhadap kepedulian. Negara tidak lagi berpikir sebagai pemecah masalah, melainkan pengelola persepsi. Akal sehat publik perlahan dilatih untuk menyerah.

Kritik terhadap kebijakan ini bukanlah sikap anti-anak atau anti-gizi. Justru sebaliknya, ini adalah pembelaan terhadap anak yang benar-benar membutuhkan. Kepedulian sejati selalu menuntut ketepatan, bukan pemborosan. Negara yang waras menyasar masalah, bukan memperluasnya demi citra. Anak lapar memang tidak bisa menunggu. Tetapi akal sehat juga tidak boleh dikorbankan hanya agar proyek besar cepat disajikan.[AM)

]]>
Wed, 28 Jan 2026 16:44:09 +0800 amr
HUT Sumbawa: Merayakan Usia, Meneguhkan Arah https://amarmedia.co.id/hut-sumbawa-merayakan-usia-meneguhkan-arah https://amarmedia.co.id/hut-sumbawa-merayakan-usia-meneguhkan-arah HUT Sumbawa: Merayakan Usia, Meneguhkan Arah

 Oleh Sri Asmediati

(Guru Bahasa Indonesia SMPN I labuhan Badas)

Setiap peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Sumbawa bukan sekadar agenda seremonial yang dihiasi spanduk, lomba, dan panggung hiburan. Ia adalah ruang refleksi bersama—tentang dari mana kita berasal, ke mana kita melangkah, dan bagaimana kita memastikan bahwa perjalanan itu benar-benar membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Di usia yang terus bertambah, Sumbawa seharusnya tak hanya bertanya “sudah sejauh apa kita melaju?”, tetapi juga “siapa saja yang ikut menikmati hasilnya?”

Sumbawa dikenal sebagai tanah yang kaya: laut yang luas, padang savana yang membentang, hasil pertanian dan peternakan yang menjadi nadi ekonomi rakyat, serta budaya Samawa yang sarat nilai kebersamaan. Namun, kekayaan alam dan budaya tidak otomatis menjelma menjadi kesejahteraan. Ia memerlukan tata kelola yang adil, kebijakan yang berpihak, dan partisipasi warga yang aktif. HUT Sumbawa adalah momentum tepat untuk meneguhkan kembali komitmen itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat pembangunan terasa di berbagai sudut. Infrastruktur jalan semakin menghubungkan desa dan kota, layanan publik mulai beralih ke sistem digital, dan sektor pariwisata perlahan menemukan panggungnya. Festival budaya, promosi destinasi, hingga keterlibatan pelaku UMKM memberi harapan bahwa ekonomi lokal bisa tumbuh dari kekuatan sendiri. Namun, di balik capaian tersebut, masih ada cerita yang belum sepenuhnya terdengar: akses pendidikan di pelosok, keterbatasan layanan kesehatan, dan peluang kerja yang belum merata.

Opini ini bukan untuk menafikan prestasi, melainkan untuk menempatkannya dalam bingkai yang lebih jujur. Sebab, perayaan sejati bukanlah tentang memoles angka-angka keberhasilan, melainkan keberanian mengakui kekurangan dan tekad memperbaikinya. Sumbawa, seperti daerah lain di Indonesia, menghadapi tantangan zaman: perubahan iklim yang memengaruhi pola tanam dan hasil laut, arus digitalisasi yang menuntut keterampilan baru, serta dinamika sosial yang kian kompleks.

Di sektor pendidikan, misalnya, upaya meningkatkan kualitas guru dan fasilitas sekolah patut diapresiasi. Namun, kesenjangan antara sekolah di pusat kota dan di daerah terpencil masih terasa. Anak-anak di pelosok berhak atas akses yang sama terhadap buku, internet, dan lingkungan belajar yang aman. HUT Sumbawa seharusnya menjadi panggilan moral bagi seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, swasta, dan masyarakat—untuk memastikan bahwa tak ada satu pun generasi yang tertinggal.

Sementara itu, sektor kesehatan menghadapi tantangan serupa. Puskesmas dan rumah sakit telah berupaya meningkatkan layanan, tetapi distribusi tenaga medis dan fasilitas masih belum sepenuhnya merata. Bagi warga di wilayah yang jauh dari pusat layanan, kesehatan bukan hanya soal biaya, melainkan soal jarak dan waktu. Dalam konteks ini, inovasi seperti layanan kesehatan keliling atau pemanfaatan telemedisin bisa menjadi solusi yang perlu didorong lebih serius.

Ekonomi rakyat adalah jantung Sumbawa. Petani, nelayan, dan pelaku UMKM menjadi pilar yang menopang kehidupan sehari-hari. Kebijakan yang memudahkan akses permodalan, pelatihan keterampilan, dan pemasaran digital dapat menjadi pembeda antara usaha yang stagnan dan usaha yang tumbuh. HUT Sumbawa seharusnya menjadi panggung untuk merayakan para pekerja keras ini—bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek pembangunan.

Pariwisata, yang sering disebut sebagai “tambang emas tanpa menggali”, juga menyimpan potensi besar. Pantai, pulau-pulau kecil, dan tradisi lokal dapat menjadi daya tarik yang berkelanjutan jika dikelola dengan bijak. Namun, pengembangan pariwisata tidak boleh mengorbankan lingkungan dan kearifan lokal. Keseimbangan antara promosi dan pelestarian adalah kunci agar generasi mendatang masih bisa menikmati keindahan yang sama.

Budaya Samawa, dengan nilai gotong royong dan rasa hormat, adalah modal sosial yang tak ternilai. Di tengah arus globalisasi, mempertahankan identitas lokal bukan berarti menutup diri, melainkan meneguhkan jati diri saat berinteraksi dengan dunia luar. HUT Sumbawa dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda—bukan sekadar lewat pertunjukan, tetapi melalui pendidikan dan praktik sehari-hari.

Tak kalah penting adalah ruang partisipasi publik. Pembangunan yang baik lahir dari dialog yang terbuka. Media lokal, forum warga, dan platform digital dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Kritik yang membangun seharusnya dipandang sebagai bentuk kepedulian, bukan ancaman. Dalam semangat HUT, mari kita rawat tradisi berdiskusi dan bermusyawarah sebagai fondasi demokrasi lokal.

Di tengah tantangan dan peluang, Sumbawa berada di persimpangan: melanjutkan pola lama atau berani melangkah dengan pendekatan baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Keberanian ini menuntut kepemimpinan yang visioner dan masyarakat yang aktif. Setiap warga, sekecil apa pun perannya, memiliki kontribusi dalam membentuk wajah daerah ini.

Akhirnya, HUT Sumbawa adalah cermin—yang memantulkan keberhasilan dan kekurangan kita. Dari cermin itu, kita bisa memilih untuk berpuas diri atau berbenah. Semoga pilihan kita adalah yang kedua. Karena merayakan usia bukanlah tentang menghitung tahun yang telah berlalu, melainkan tentang menyiapkan tahun-tahun yang akan datang agar lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermakna bagi semua.

Selamat Hari Ulang Tahun, Sumbawa. Semoga langkah kita ke depan semakin mantap, dan setiap denyut pembangunan benar-benar berpihak pada rakyat.(AM)

]]>
Wed, 21 Jan 2026 22:21:07 +0800 amr
Bahagia di Atas Statistik, Derita di Bawah Realitas https://amarmedia.co.id/bahagia-di-atas-statistik-derita-di-bawah-realitas https://amarmedia.co.id/bahagia-di-atas-statistik-derita-di-bawah-realitas Bahagia di Atas Statistik, Derita di Bawah Statistik

Oleh : Sri Asmediati SPd 

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa terharunya ketika mendengar hasil survei internasional yang menyebut rakyat Indonesia sebagai salah satu yang paling bahagia di dunia. Survei persepsi semacam ini dirilis oleh lembaga global seperti Gallup dan jejaring akademik internasional. Dalam beberapa hasil survei tersebut, lebih dari 75 persen responden Indonesia menyatakan dirinya bahagia. Angka ini bahkan berada di atas rata-rata global. Pernyataan itu kemudian dikemas sebagai cermin keberhasilan bangsa dalam menjaga optimisme rakyat. Kebahagiaan pun diangkat menjadi simbol kemajuan nasional.

Respon yang jauh berbeda muncul ketika lembaga dunia lain, yakni World Bank, merilis data kemiskinan Indonesia menggunakan standar global. Dengan standar negara berpendapatan menengah atas, sekitar 60 persen penduduk Indonesia—lebih dari 170 juta jiwa—dikategorikan hidup di bawah garis kemiskinan global. Angka ini tentu mengejutkan jika dibandingkan dengan data nasional. Pemerintah menyatakan bahwa standar tersebut tidak relevan dengan konteks Indonesia. Data Badan Pusat Statistik kembali ditegaskan sebagai rujukan utama. Dunia dipercaya ketika memuji, tetapi diperdebatkan ketika mengkritik.

Menurut BPS, tingkat kemiskinan Indonesia per Maret 2025 berada di kisaran 8,4 persen atau sekitar 24 juta orang. Angka ini disebut sebagai yang terendah dalam dua dekade terakhir. Secara statistik, data tersebut terlihat menenangkan dan mudah dirayakan. Namun perbedaannya dengan data World Bank mencapai puluhan persen. Selisih ini bukan sekadar persoalan teknis penghitungan. Ia mencerminkan perbedaan cara pandang tentang apa yang disebut hidup layak.

Survei kebahagiaan sendiri sejatinya mengukur perasaan subjektif warga terhadap kehidupannya. Bahkan World Happiness Report menempatkan Indonesia di kisaran peringkat 80-an dunia, bukan di posisi puncak global. Artinya, klaim “paling bahagia” sangat bergantung pada survei mana yang dipilih. Indikator kebahagiaan tidak menyentuh langsung persoalan upah, harga pangan, atau biaya pendidikan. Kebahagiaan dijawab melalui persepsi, bukan kondisi material. Namun persepsi inilah yang paling mudah dirayakan.

Di sisi lain, Presiden Prabowo juga menyampaikan janji politik untuk menghapus kemiskinan ekstrem hingga tahun 2029. Berdasarkan data BPS, kemiskinan ekstrem Indonesia memang relatif kecil, sekitar 0,8 hingga 1 persen penduduk. Jumlah ini setara dengan sekitar dua hingga tiga juta orang. Secara statistik, target tersebut sangat mungkin dicapai. Namun pernyataan ini sekaligus mengakui bahwa kemiskinan non-ekstrem masih akan tetap besar. Kemiskinan tidak dihapus seluruhnya, melainkan dipilah.

Kemiskinan non-ekstrem justru merupakan wajah mayoritas masyarakat Indonesia. Mereka tidak kelaparan, tetapi hidup dalam keterbatasan yang kronis. World Bank mencatat kelompok ini sangat rentan terhadap guncangan ekonomi. Satu kenaikan harga pangan atau satu kejadian sakit serius dapat menjatuhkan mereka ke kondisi ekstrem. BPS sendiri mencatat jutaan penduduk berada sedikit di atas garis kemiskinan nasional. Mereka aman dalam statistik, tetapi rapuh dalam kehidupan nyata.

Janji penghapusan kemiskinan ekstrem terdengar heroik dan mudah dipasarkan secara politik. Targetnya sempit, indikatornya jelas, dan waktunya cukup panjang. Dengan bantuan sosial dan penyesuaian garis kemiskinan, angka dapat ditekan. Grafik menurun, pidato pun terdengar sukses. Namun perubahan tersebut lebih banyak terjadi di tabel, bukan di struktur ekonomi. Rakyat berpindah kategori, tetapi belum tentu berpindah kesejahteraan.

Survei kebahagiaan, sebaliknya, memberi panggung yang jauh lebih nyaman bagi kekuasaan. Ia tidak menuntut reformasi upah minimum, tidak menyentuh ketimpangan kepemilikan aset, dan tidak mempersoalkan mahalnya biaya hidup. Survei ini hanya menanyakan satu hal sederhana: apakah seseorang merasa bahagia. Jawaban positif menjadi legitimasi. Jawaban negatif tenggelam dalam rata-rata. Negara pun merasa telah berhasil menjaga rakyatnya.

Padahal kebahagiaan tanpa keamanan ekonomi adalah kebahagiaan yang rapuh. Data menunjukkan inflasi pangan dan biaya kesehatan terus meningkat dari tahun ke tahun. Banyak keluarga menghabiskan lebih dari separuh pendapatannya hanya untuk kebutuhan dasar. Dalam kondisi demikian, bahagia lebih menyerupai strategi bertahan hidup. Ia bukan tanda kesejahteraan, melainkan daya lenting psikologis. Senyum menjadi mekanisme adaptasi, bukan bukti kemakmuran.

Standar ganda kemudian menjadi pola yang nyaris dilembagakan. Standar global dirangkul ketika hasilnya menguntungkan citra pemerintah. Standar nasional diangkat ketika hasil global terasa terlalu pahit. Metodologi dijadikan tameng politik. Ilmu pengetahuan kehilangan sifat netralnya. Ia berubah menjadi alat legitimasi yang fleksibel.

Sikap kritis terhadap janji politik seharusnya tidak dianggap sebagai pesimisme. Justru itulah bentuk kewarasan warga negara. Janji tanpa peta jalan struktural hanya akan berujung pada pengelolaan angka. Menghapus kemiskinan ekstrem tidak sama dengan menghapus kemiskinan. Menaikkan skor kebahagiaan tidak identik dengan menaikkan kesejahteraan. Statistik bisa membaik tanpa kehidupan rakyat berubah.

Jika suatu hari kemiskinan ekstrem benar-benar berhasil dihapus, hal itu layak diapresiasi. Namun jangan berpura-pura bahwa kemiskinan lain tidak ada. Jangan merayakan kebahagiaan sambil menegosiasikan kenyataan hidup jutaan orang. Negara yang dewasa berani konsisten pada satu standar penilaian. Bukan memilih data sesuai kebutuhan politik. Karena rakyat tidak hidup di grafik, melainkan di dapur, pasar, dan dompet mereka.

Ada dimensi kultural yang kerap luput dibaca oleh survei global maupun dirayakan secara berlebihan oleh penguasa, yakni budaya sungkan dan etos kesantunan masyarakat Indonesia. Dalam banyak situasi, kebahagiaan bukanlah cerminan kesejahteraan, melainkan mekanisme bertahan hidup. Orang tetap tersenyum meski hari itu hanya makan seadanya, tetap ramah meski dompet kosong dan masa depan buram. Sikap itu bukan kepura-puraan murahan, melainkan cara praktis agar hidup tidak runtuh oleh tekanan. Dalam kondisi struktural yang keras, senyum menjadi benteng psikologis terakhir. Namun ketika ketabahan ini dibaca sebagai bukti kesejahteraan, di situlah ironi berubah menjadi legitimasi politik yang menyesatkan.[AM]

]]>
Tue, 20 Jan 2026 06:40:20 +0800 amr
Ironi Pembangunan dan Runtuhnya Ekologi: Analisis Sosiologi Lingkungan atas Deforestasi di Desa Batu Bangka https://amarmedia.co.id/ironi-pembangunan-dan-runtuhnya-ekologi-analisis-sosiologi-lingkungan-atas-deforestasi-di-desa-batu-bangka https://amarmedia.co.id/ironi-pembangunan-dan-runtuhnya-ekologi-analisis-sosiologi-lingkungan-atas-deforestasi-di-desa-batu-bangka Ironi Pembangunan dan Runtuhnya Ekologi: Analisis Sosiologi Lingkungan atas Deforestasi di Desa Batu Bangka

Oleh: Ayu Safitri, Suhery Cantika, Elda Novi Cahyanti, Dewi Kurnia Antari Putri, Fadilah Cahya Aulia

(Mahasiswi Program Studi Sosiologi, Universitas Teknologi Sumbawa)

Pendahuluan

Hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan fondasi stabilitas bagi kehidupan manusia di sekitarnya. Namun, di Desa Batu Bangka, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, hubungan harmonis ini mulai retak. Fenomena deforestasi atau penggundulan hutan telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Lahan yang dulunya hijau kini berubah menjadi hamparan jagung dan pemukiman.

Dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan, melainkan rusaknya infrastruktur vital seperti jalan desa yang menjadi urat nadi ekonomi. Esai ini akan membedah bagaimana pilihan-pilihan sosial dan ekonomi masyarakat, jika dilihat melalui kacamata sosiologi lingkungan, justru berujung pada kerugian kolektif yang menghambat kemajuan desa.

Deforestasi sebagai Tindakan Sosial yang Rasional

Jika kita meminjam perspektif Max Weber, deforestasi di Desa Batu Bangka bukanlah sekadar peristiwa alam, melainkan sebuah tindakan sosial. Masyarakat melakukan penebangan bukan tanpa alasan; ada makna subjektif yang diarahkan pada pencapaian ekonomi. Dalam hal ini, terjadi apa yang disebut Weber sebagai Rasionalitas Instrumental.

Masyarakat memandang hutan sebagai sumber daya yang harus dikonversi menjadi keuntungan cepat melalui perladangan jagung. Jagung dipilih karena memiliki pasar yang jelas dan hasil yang instan. Namun, rasionalitas ini sering kali bersifat picik. Demi mengejar efisiensi ekonomi jangka pendek, aspek ekologis diabaikan. Akibatnya, hutan kehilangan fungsinya sebagai penyerap air. Ketika vegetasi hilang, tanah kehilangan jangkar alaminya, menyebabkan erosi yang kemudian merusak struktur jalan saat banjir bandang melanda.

Krisis Otoritas dan Kegagalan Birokrasi

Selain faktor perilaku individu, Weber juga menekankan pentingnya otoritas legal-rasional melalui birokrasi. Di Desa Batu Bangka, terdapat indikasi melemahnya pengawasan otoritas terhadap kawasan hutan. Birokrasi yang seharusnya menjadi benteng perlindungan lingkungan sering kali terjebak dalam dilema antara mencapai target pembangunan ekonomi dan menjaga kelestarian alam.

Lemahnya penegakan hukum terhadap illegal logging skala kecil dan pembiaran pembukaan lahan liar menciptakan persepsi bahwa eksploitasi hutan adalah hal yang wajar. Ketimpangan antara kebijakan di atas kertas dengan praktik di lapangan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sistematis, yang pada akhirnya membebani negara dan desa dengan biaya perbaikan infrastruktur jalan yang terus-menerus rusak akibat bencana.

Dampak Sistemik: Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi

Dampak deforestasi di Desa Batu Bangka bersifat berantai. Secara ekologis, hilangnya tutupan hutan memicu banjir bandang dan krisis air bersih karena rusaknya siklus hidrologi.

Secara sosial, bencana yang timbul akibat kerusakan hutan memicu konflik lahan dan memperlemah hak-hak komunitas lokal atas sumber daya yang sehat. Namun, dampak yang paling dirasakan sehari-hari adalah kerusakan jalan. Jalan yang lumpuh akibat erosi dan banjir dari perbukitan gundul menyebabkan petani kesulitan membawa hasil panen ke kota. Ekonomi lokal pun terhenti. Ini adalah sebuah ironi: hutan digunduli untuk pertanian, namun hasil pertanian tidak bisa dijual karena jalan rusak akibat hutan yang digunduli.

Dampak Manifestasi di Desa Batu Bangka

secara Lingkungan adalah terjadinya Erosi tanah, hilangnya habitat fauna, dan risiko banjir bandang. Secara Sosial terjadi Konflik perebutan lahan dan penurunan kualitas hidup masyarakat dan secara ekonomi menimbulkan biaya tinggi untuk perbaikan jalan dan penurunan produktivitas lahan.

Menuju Etika Tanggung Jawab

Solusi atas krisis ini menuntut transisi dari "Etika Keyakinan" (yang hanya percaya pada pertumbuhan ekonomi) menuju "Etika Tanggung Jawab". Masyarakat dan pemerintah harus mulai memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dari setiap pohon yang ditebang. Pembangunan jalan dan pembukaan lahan harus dilakukan dengan perhitungan risiko ekologis yang matang.

Kesimpulan

Deforestasi di Desa Batu Bangka adalah bukti nyata bahwa ketika alam hanya dianggap sebagai komoditas, masyarakatlah yang akhirnya menanggung beban kerusakannya. Kerusakan jalan desa adalah simbol dari kegagalan kita dalam mengelola keseimbangan antara kebutuhan perut dan kelestarian bumi. Diperlukan sinergi antara kesadaran masyarakat dan ketegasan birokrasi untuk melakukan reboisasi dan pengawasan ketat. Tanpa perubahan cara pandang yang lebih bertanggung jawab terhadap alam, pembangunan ekonomi yang dikejar melalui deforestasi hanya akan menjadi jalan buntu bagi kesejahteraan masa depan. (AM)

]]>
Wed, 14 Jan 2026 06:46:10 +0800 amr
Dampak Banjir terhadap Masyarakat Brang Bara: Analisis Sosiologi Lingkungan https://amarmedia.co.id/dampak-banjir-terhadap-masyarakat-brang-bara-analisis-sosiologi-lingkungan https://amarmedia.co.id/dampak-banjir-terhadap-masyarakat-brang-bara-analisis-sosiologi-lingkungan Oleh: Vallensiana Ceria, Nengsih Purnama, Nurmeilani, Febi Pebriani, Fatimah Az Zahro (Mahasiswi Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Pendahuluan

Bencana alam sering kali dianggap sebagai peristiwa murni teknis atau meteorologis. Namun, jika ditelaah lebih dalam, bencana seperti banjir di Kelurahan Brang Bara, Kabupaten Sumbawa, merupakan cermin dari rapuhnya hubungan antara manusia dan alam. Secara geografis, Brang Bara yang terletak di dataran rendah memang rentan, tetapi krisis ini diperparah oleh dinamika sosial-ekologis yang terjadi jauh di wilayah hulu. Melalui perspektif sosiologi lingkungan, esai ini akan membedah bagaimana perilaku manusia di satu wilayah menciptakan penderitaan ekonomi di wilayah lain, sekaligus bagaimana masyarakat membangun benteng pertahanan sosial di tengah genangan air.

Akar Masalah: Ketimpangan Ekologis Manusia

Teori Ekologi Manusia yang dikembangkan oleh Robert E. Park menekankan adanya hubungan timbal balik yang konstan antara masyarakat dan lingkungannya. Dalam konteks Brang Bara, hubungan ini tampak sedang sakit. Banjir kiriman yang melanda pemukiman warga bukan sekadar "nasib" karena curah hujan tinggi, melainkan dampak dari aktivitas deforestasi masif di kawasan Semongkat (hulu sungai).

Pengalihan fungsi lahan hutan menjadi perkebunan jagung menyebabkan tanah kehilangan daya serapnya. Akibatnya, air hujan tidak lagi menjadi berkah yang terserap ke dalam tanah, melainkan berubah menjadi run-off atau air permukaan yang mengalir destruktif ke hilir. Fenomena ini menunjukkan bahwa permasalahan lingkungan di Brang Bara bersifat struktural; tindakan ekonomi segelintir orang di hulu berdampak pada stabilitas sosial masyarakat di hilir.

Realitas Ekonomi: Kehilangan dan Kerentanan

Ketika banjir melanda, dampak yang paling nyata terlihat adalah pada sektor ekonomi. Bagi warga Brang Bara, banjir bukan sekadar air yang masuk ke rumah, melainkan ancaman terhadap kelangsungan hidup. Kerusakan aset produktif seperti warung kelontong dan tempat usaha mikro menjadi pukulan telak. Banyak warga yang kehilangan modal usaha dalam semalam, memaksa mereka kembali ke titik nol tanpa adanya tabungan atau dana darurat yang memadai.

Ketidakmampuan ekonomi ini menciptakan siklus kerentanan. Meskipun pemerintah daerah hadir memberikan bantuan, intervensi yang dilakukan sejauh ini masih bersifat karitatif atau bantuan darurat jangka pendek seperti sembako. Belum ada skema pemulihan ekonomi jangka panjang atau asuransi kerugian bencana yang mampu melindungi warga dari kemiskinan pasca-banjir.

Resiliensi Sosial: Antara Gotong Royong dan Kekerabatan

Di balik dampak destruktifnya, banjir juga memicu munculnya "Solidaritas Organik" yang kuat. Menariknya, di tengah keterbatasan bantuan resmi, masyarakat Brang Bara mengaktifkan modal sosial mereka sendiri. Terjadi transformasi pola interaksi; warga saling membantu mengevakuasi barang, membersihkan lumpur, dan berbagi makanan.

Namun, Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara mendalam,ditemukan bahwa bencana banjir yang melanda Kelurahan Brang Bara tidak terlepas dari degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah hulu sungai, tepatnya di kawasan Semongkat. 

Secara sosiologi lingkungan, fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan ekosistem akibat aktivitas deforestasi dan penggundulan hutan secara masif. Hilangnya vegetasi di wilayah hulu menyebabkan perubahan struktur dan daya serap tanah; ketiadaan akar pohon mengakibatkan air hujan tidak lagi terinfiltrasi ke dalam tanah secara optimal,melainkan langsung menjadi air permukaan (run-off) yang mengalir deras kepemukiman. Kondisi ekologis yang rusak di hulu inilah yang menjadi pemicuutama terjadinya banjir kiriman yang secara periodik mengancam stabilitas kehidupan masyarakat di hilir, khususnya Kelurahan Brang Bara.

Dalam konteks sosiologis, dampak sosial dipahami sebagai perubahan signifikan dalam struktur dan pola kehidupan masyarakat akibat suatu fenomena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pascabanjir, terjadi transformasi dalam pola interaksi masyarakat Kelurahan Brang Bara. Meskipun aktivitas rutin seperti pekerjaan dan pendidikan mengalami kelumpuhan total akibat akses yang terputus, muncul fenomena penguatan modal sosial di tengah krisis. Solidaritas organik terlihat nyata melalui meningkatnya intensitas gotong royong warga dalam membersihkan lingkungan dan mendistribusikan bantuan. Menariknya, terdapat pola bantuan yang berbasis kekerabatan (kinship), di mana warga yang tidak terdampak secara langsung cenderung memprioritaskan bantuan tenaga dan materi kepada keluarga atau kerabat dekat mereka yang mengalami kerusakan tempat tinggal paling parah.

Hal inimerefleksikan bahwa di tengah bencana, ikatan primordial tetap menjadi fondasi utama dalam mekanisme pertahanan sosial masyarakat desa.

Secara ekonomi, banjir menimbulkan dampak destruktif terhadap stabilitas finansial warga. Kerusakan yang terjadi dikategorikan sebagai kerusakan struktural dan kehilangan aset produktif. Banyak warga kehilangan harta benda, sementara sektor usaha mikro seperti warung dan tempat usaha kecil milik penduduk hancur tersapu arus. Kehilangan modal usaha ini memaksa masyarakat untuk memulai kembali (rebuilding) aktivitas ekonomi mereka dari titik nol tanpa adanya cadangan dana darurat yang memadai.

Kelumpuhan ekonomi ini diperparah dengan terhentinya mata pencaharian harian selama masa pemulihan, yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan ekonomi masyarakat  Brang Bara dalam jangka panjang.

Terkait respon otoritas, hasil observasi menunjukkan bahwa peran pemerintah masih terfokus pada fase tanggap darurat (emergency response).Intervensi yang diberikan cenderung bersifat karitatif, yakni penyediaan kebutuhan logistik dasar seperti bantuan pangan (sembako) dan makanan siap saji bagi para pengungsi. Meskipun bantuan ini sangat krusial saat masyarakat berada di posko pengungsian atau sedang melakukan perbaikan mandiri, namun keterlibatan pemerintah dalam pemulihan ekonomi jangka panjang dan mitigasi banjir berbasis lingkungan di wilayah hulu (Semongkat) dirasa masih memerlukan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan melampaui sekadar pemberian bantuan sembako.

Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian menujukkan adanya dampak serius terhadap sosial dan ekonomi di brang bara,dampak sosial akibat banjir yaitu mengalami perubahan, di lihat dari interaksi masyarakat Kelurahan Brang bara. 

Dalam kondisi pascabanjir, interaksi masyarakat lebih banyak terpusat pada upaya saling membantu. Warga saling bekerja sama membersihkan lingkungan, menyalurkan bantuan, dan membantu korban yang terdampak lebih parah. Hal ini menunjukkan meningkatnya solidaritas dan gotong royong antarwarga. Namun di sisi lain sebagai masyarakat Brang bara yang tidak terkena dampak banjir lebih memprioritaskan membantu keluarga atau kerabat yang terkena dampak banjir parah dalam membantu membersihkan tempat tinggal mereka pasca banjir .

Dampak ekonomi akibat banjir di Kelurahan Brang bara mengalami kerusakan yang cukup parah. Mereka kehilangan harta benda, usaha atau warung warga hancur karena terendam banjir dan masyarakat memulai dari awal untuk membangun usaha yang telah hancur tersebut. 

Jadi respon pemerintah terhadap sosial dan ekonomi masyarakat Brang bara yaitu berdasarkan hasil observasi pemerintah lebih banyak berperan dalam memberikan bantuan darurat, terutama berupa sembako dan makan cepat saji kepada para korban banjir. bantuan tersebut di berikan pada saat masyarakat masih berada di pengungsian ata sedang melakukan perbaikan Mandiri terhadap rumah dan fasilitas mereka yang rusak.

Resolusi

Berdasarkan hasil penelitian, kami merekomendasikan beberapa solusi berkelanjutan untuk mengatasi banjir di Kelurahan Brang Bara. Pertama, perlu dilakukan pengerukan sungai agar kapasitas daya tampung air meningkat.

Kedua, kami mengusulkan kolaborasi antar-mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya reboisasi (penghijauan kembali) di wilayah hulu sungai yang saat ini telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak bergerak sendiri,melainkan bekerja sama dengan pemerintah untuk menciptakan penanganan banjir yang terpadu. Kolaborasi ini melibatkan berbagai program studi sesuai bidang keahliannya, seperti Program Studi Sosiologi untuk melakukan pendekatan dan edukasi sosial kepada masyarakat, program Studi KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) untuk merancang  strategi reboisasi yang tepat dan program Studi Teknik Lingkungan untuk memberikan solusi.

Penutup

Banjir di Kelurahan Brang Bara adalah pengingat keras bahwa lingkungan adalah bagian integral dari struktur sosial kita. Ketika hutan di hulu digunduli demi keuntungan ekonomi sesaat, masyarakat di hilir harus membayar harganya dengan kerusakan harta benda dan trauma sosial. Dibutuhkan kebijakan yang komprehensif—bukan hanya bantuan sembako saat bencana, tetapi juga ketegasan regulasi di wilayah hulu dan penguatan modal ekonomi warga di hilir—agar harmoni antara manusia dan alam di Sumbawa dapat dipulihkan kembali. (AM)

]]>
Wed, 14 Jan 2026 06:20:26 +0800 amr
Perundungan di Sekolah: Ketika Nilai Adat Samawa Tergerus di Ruang Kelas https://amarmedia.co.id/perundungan-di-sekolah-ketika-nilai-adat-samawa-tergerus-di-ruang-kelas https://amarmedia.co.id/perundungan-di-sekolah-ketika-nilai-adat-samawa-tergerus-di-ruang-kelas Perundungan di Sekolah: Ketika Nilai Adat Samawa Tergerus di Ruang Kelas

Oleh Sri Asmediati SPd 

Masyarakat Sumbawa sejak lama dikenal menjunjung tinggi nilai sabalong samalewa—sebuah falsafah hidup yang menekankan keseimbangan, kesantunan, dan penghormatan terhadap sesama. Dalam nilai itu terkandung ajaran tentang menjaga lisan, sikap, dan perilaku agar tidak melukai orang lain. Namun ironisnya, di ruang-ruang kelas hari ini, nilai luhur itu kerap kalah oleh praktik perundungan yang terus berulang dan sering kali dianggap sepele.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menanamkan karakter dan peradaban justru menjadi ruang di mana sebagian anak mengalami luka batin. Di balik seragam putih abu-abu, putih biru, atau seragam SD yang masih kebesaran, ada anak-anak yang datang ke sekolah dengan rasa takut. Takut diejek, takut dipermalukan, takut disisihkan. Inilah wajah perundungan di sekolah—masalah serius yang tidak boleh lagi kita abaikan di tanah Samawa.

Perundungan dalam Wajah Sehari-hari Anak Sumbawa

Di banyak sekolah, khususnya di wilayah kabupaten dan kecamatan, perundungan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ia justru sering menjelma sebagai ejekan verbal dan pengucilan sosial. Anak yang berbadan kecil dipanggil dengan julukan merendahkan. Siswa dari keluarga petani, nelayan, atau buruh diejek karena pakaian atau bekalnya. Bahkan, logat bicara dan kemampuan akademik kerap dijadikan bahan tertawaan.

Dalam konteks budaya Sumbawa yang menjunjung rasa malu, ejekan semacam ini bisa berdampak sangat dalam. Seorang siswa SMP di wilayah pinggiran, misalnya, memilih tidak lagi masuk sekolah karena terus diejek “kampungan” dan “tidak bisa apa-apa”. Ia diam, tidak melapor, karena takut mempermalukan orang tuanya. Kasus seperti ini jarang terdengar, bukan karena tidak ada, tetapi karena tertutup rapat oleh budaya diam.

Di tingkat SMA, perundungan mulai bergeser ke ruang digital. Grup WhatsApp kelas dan media sosial menjadi arena baru. Foto teman diambil diam-diam, lalu dijadikan bahan olok-olok. Komentar pedas dibungkus candaan. Bagi sebagian pelaku, itu hiburan. Bagi korban, itu penghancuran harga diri.

Ketika “Becanda” Menjadi Kekerasan

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani perundungan di sekolah-sekolah Sumbawa adalah budaya permisif terhadap ejekan. Kalimat seperti “namanya juga anak-anak, saling olok itu biasa” masih sering terdengar. Bahkan, dalam beberapa kasus, guru atau orang dewasa tanpa sadar ikut menormalisasi perilaku tersebut.

Padahal, dalam nilai adat Samawa, lisan adalah kehormatan. Pepatah tua mengajarkan bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari senjata. Ketika ejekan terus dibiarkan, sekolah bukan hanya gagal melindungi anak, tetapi juga gagal mewariskan nilai budaya yang selama ini menjadi jati diri masyarakat Sumbawa.

Lebih berbahaya lagi, perundungan yang dianggap “biasa” perlahan membentuk karakter anak. Pelaku belajar bahwa merendahkan orang lain adalah hal yang lumrah. Sementara korban belajar bahwa diam adalah satu-satunya cara bertahan. Inilah bibit ketidakadilan sosial yang tumbuh sejak bangku sekolah.

Dampak Nyata bagi Anak dan Masa Depan Daerah

Dampak perundungan tidak berhenti di sekolah. Anak-anak yang menjadi korban sering mengalami penurunan prestasi, kehilangan kepercayaan diri, bahkan menarik diri dari pergaulan. Dalam konteks daerah, ini berarti hilangnya potensi generasi muda Sumbawa yang seharusnya bisa berkembang dan berkontribusi bagi daerahnya.

Seorang guru BK di salah satu SMP di Sumbawa pernah mengungkapkan bahwa beberapa siswa yang sering absen ternyata bukan malas belajar, melainkan mengalami tekanan psikologis akibat perundungan. Mereka merasa sekolah bukan tempat yang aman. Jika kondisi ini dibiarkan, maka sekolah justru menjadi faktor pendorong putus sekolah—sebuah persoalan serius di daerah yang sedang berjuang meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Peran Guru dan Sekolah dalam Bingkai Budaya Lokal

Guru di Sumbawa sejatinya memiliki modal sosial yang kuat. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi figur yang dihormati di masyarakat. Karena itu, peran guru dalam mencegah perundungan sangat strategis. Kepekaan terhadap perubahan sikap siswa harus menjadi bagian dari profesionalisme pendidik.

Sekolah perlu berani menegakkan aturan anti-perundungan secara konsisten. Tidak cukup hanya dengan imbauan saat upacara atau spanduk di dinding sekolah. Nilai anti-kekerasan harus dihidupkan dalam praktik sehari-hari: cara guru menegur, cara sekolah menyelesaikan konflik, hingga cara memberi ruang dialog bagi siswa.

Pendekatan restoratif yang selaras dengan budaya musyawarah lokal dapat menjadi solusi. Pelaku dan korban dipertemukan dalam pendampingan yang bijak, melibatkan guru, orang tua, dan tokoh sekolah, untuk membangun kesadaran dan pemulihan, bukan sekadar hukuman.

Orang Tua dan Masyarakat: Jangan Lepas Tangan

Di Sumbawa, keluarga dan lingkungan sosial memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter anak. Orang tua tidak cukup hanya memastikan anak berangkat ke sekolah. Mereka perlu membangun komunikasi yang terbuka, mendengar keluh kesah anak, dan peka terhadap perubahan perilaku.

Tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat juga memiliki peran penting. Ceramah, pengajian, dan forum adat bisa menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa perundungan bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan adat Samawa. Ketika masyarakat bergerak bersama, sekolah tidak akan berjalan sendiri.

Mengembalikan Sekolah pada Ruh Pendidikan Samawa

Mengakhiri perundungan di sekolah-sekolah Sumbawa bukan sekadar soal disiplin, tetapi soal mengembalikan ruh pendidikan. Sekolah harus kembali menjadi tempat menumbuhkan adab sebelum ilmu, karakter sebelum angka, dan empati sebelum prestasi.

Anak-anak Sumbawa harus tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka bangga menjadi diri sendiri, bukan takut menjadi berbeda. Mereka perlu diajarkan bahwa keberanian sejati bukanlah menindas, melainkan melindungi. Bahwa kehormatan bukan diraih dengan merendahkan orang lain, tetapi dengan memuliakan sesama.

Perundungan adalah luka sunyi yang jika dibiarkan akan melemahkan masa depan daerah. Sudah saatnya kita bersikap tegas dan berpihak. Karena setiap anak di tanah Samawa berhak belajar dalam rasa aman, bermartabat, dan manusiawi—sebagaimana nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur kita.[AM]

]]>
Thu, 08 Jan 2026 14:44:38 +0800 amr
Januari 2026: Bulan Awal Penentu Arah Zaman https://amarmedia.co.id/januari-2026-bulan-awal-penentu-arah-zaman https://amarmedia.co.id/januari-2026-bulan-awal-penentu-arah-zaman Januari 2026: Bulan Awal Penentu Arah Zaman

                             Oleh Sri Asmediati

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

Januari selalu datang dengan wajah yang sama: kalender baru, harapan baru, dan janji-janji yang belum teruji. Namun Januari 2026 hadir dengan beban sejarah yang tidak ringan. Ia bukan sekadar penanda pergantian bulan, melainkan titik awal dari fase lanjutan perjalanan bangsa yang telah melewati tahun-tahun penuh turbulensi—krisis ekonomi global, ketidakpastian iklim, kegaduhan politik, dan ujian moral yang silih berganti.

Di bulan inilah arah tahun ditentukan. Apakah 2026 akan menjadi tahun pemulihan yang nyata, atau sekadar perpanjangan dari kebiasaan lama yang dibungkus retorika baru.

Januari dan Psikologi Awal Tahun

Secara sosial dan psikologis, Januari memiliki posisi istimewa. Ia memengaruhi cara berpikir masyarakat, pemerintah, dan lembaga-lembaga publik. Di bulan ini, target ditetapkan, program diumumkan, dan narasi dibangun. Sayangnya, Januari sering kali hanya menjadi panggung optimisme tanpa fondasi yang kuat.

Januari 2026 seharusnya berbeda. Setelah pengalaman panjang menghadapi krisis multidimensi, bangsa ini dituntut untuk tidak lagi memulai tahun dengan slogan kosong. Yang dibutuhkan adalah kejujuran membaca realitas dan keberanian mengubah arah.

Realitas Sosial: Harapan Rakyat di Awal Tahun

Bagi masyarakat kecil, Januari bukan soal resolusi, melainkan soal bertahan hidup. Harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, kesehatan, dan energi masih menjadi kegelisahan utama. Tahun berganti, tetapi beban hidup tidak otomatis menjadi ringan.

Di banyak daerah, termasuk wilayah timur Indonesia dan kawasan kepulauan, Januari 2026 tetap diawali dengan persoalan klasik: infrastruktur terbatas, akses layanan publik yang belum merata, dan lapangan kerja yang sempit. Harapan rakyat sederhana—pemerintah hadir secara nyata, bukan hanya lewat pidato awal tahun.

Pendidikan: Awal Semester, Awal Masalah Lama

Januari juga identik dengan dunia pendidikan. Awal semester genap sering kali membuka kembali persoalan yang belum selesai: ketimpangan kualitas sekolah, beban administrasi guru, hingga orientasi pendidikan yang semakin menjauh dari nilai kemanusiaan.

Januari 2026 semestinya menjadi momentum koreksi. Pendidikan tidak boleh hanya diukur dari capaian angka dan peringkat, tetapi dari kemampuan membentuk manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan berdaya saing. Jika awal tahun masih diwarnai kebijakan tambal sulam, maka masa depan bangsa kembali dipertaruhkan.

Ekonomi: Antara Optimisme dan Kewaspadaan

Di sektor ekonomi, Januari 2026 dibuka dengan optimisme hati-hati. Pertumbuhan mungkin menunjukkan angka positif, namun kesenjangan masih terasa. UMKM, petani, nelayan, dan pekerja informal masih berjuang menghadapi fluktuasi harga dan akses modal yang terbatas.

Januari seharusnya menjadi bulan konsolidasi ekonomi kerakyatan. Bukan sekadar mengejar investasi besar, tetapi memastikan ekonomi tumbuh dari bawah. Jika tidak, pertumbuhan hanya akan menjadi statistik yang indah di atas kertas, tetapi hampa makna di lapangan.

Politik: Tahun Baru, Etika Lama?

Secara politik, Januari 2026 berada di fase pasca-panas tahun-tahun sebelumnya. Namun, politik tanpa etika tetap berbahaya. Polarisasi, politik identitas, dan pragmatisme kekuasaan masih menjadi ancaman laten.

Awal tahun seharusnya menjadi ruang refleksi bagi para pemegang amanah. Kekuasaan bukan tujuan, melainkan alat untuk melayani. Jika Januari kembali diisi manuver politik dan pencitraan dini, maka publik akan semakin apatis terhadap demokrasi.

Lingkungan: Januari dan Alarm Alam

Bencana alam yang kerap terjadi di awal tahun adalah pengingat keras bahwa krisis lingkungan bukan wacana masa depan, melainkan realitas hari ini. Banjir, longsor, kekeringan ekstrem, dan perubahan cuaca tak menentu menjadi latar Januari 2026 di banyak wilayah.

Ini seharusnya menjadi alarm bagi pembuat kebijakan. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan memperpanjang siklus bencana. Januari bukan waktu yang tepat untuk seremonial hijau, melainkan untuk keputusan tegas menyelamatkan alam.

Budaya Kerja: Mengakhiri Mentalitas “Nanti”

Januari sering diwarnai semangat baru di tempat kerja, tetapi cepat memudar oleh budaya lama: menunda, birokratis, dan anti-kritik. Tahun 2026 menuntut perubahan budaya kerja yang nyata—efisien, transparan, dan berorientasi hasil.

Jika Januari sudah kembali terjebak dalam rutinitas tanpa inovasi, maka satu tahun penuh akan berjalan di tempat. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil di awal waktu.

Peran Media dan Intelektual

Media dan kaum intelektual memiliki tanggung jawab besar di bulan Januari. Mereka bukan sekadar penyampai optimisme, tetapi penjaga nalar publik. Januari 2026 harus diisi dengan diskursus yang jujur, kritis, dan solutif.

Masyarakat tidak membutuhkan hiburan politik atau sensasi murahan. Yang dibutuhkan adalah peta jalan yang jelas tentang ke mana bangsa ini melangkah.

Spirit Individu: Resolusi yang Membumi

Di tingkat individu, Januari 2026 seharusnya menjadi momentum resolusi yang membumi. Bukan sekadar janji abstrak, tetapi perubahan nyata dalam sikap, etos kerja, dan kepedulian sosial.

Perubahan bangsa selalu berakar dari perubahan individu. Disiplin kecil, kejujuran sehari-hari, dan kepedulian terhadap sesama adalah fondasi yang sering dilupakan.

Januari sebagai Cermin, Bukan Topeng

Januari 2026 seharusnya menjadi cermin, bukan topeng. Ia harus memantulkan kondisi sebenarnya—apa yang telah diperbaiki, apa yang masih rusak, dan apa yang harus segera diubah. Menyembunyikan masalah di awal tahun hanya akan memperbesar ledakan di akhir tahun.

Bangsa yang dewasa tidak takut memulai tahun dengan kejujuran, meski pahit. Justru dari kejujuran itulah harapan yang realistis bisa tumbuh.

Penutup: Menentukan Arah Sejak Langkah Pertama

Januari 2026 adalah langkah pertama dalam perjalanan panjang setahun ke depan. Langkah pertama ini akan menentukan irama, arah, dan tujuan. Jika dimulai dengan kesadaran, keberanian, dan komitmen nyata, maka 2026 berpeluang menjadi tahun pemulihan yang sesungguhnya.

Namun jika Januari kembali dipenuhi euforia kosong dan lupa pada akar persoalan, maka tahun ini hanya akan menjadi pengulangan dari kegagalan lama.

Januari tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara kita memaknainya.[AM]

]]>
Fri, 02 Jan 2026 14:40:33 +0800 amr
Selamat Datang, 2026: Langit Basah, Harap yang Menyala https://amarmedia.co.id/selamat-datang-2026-langit-basah-harap-yang-menyala https://amarmedia.co.id/selamat-datang-2026-langit-basah-harap-yang-menyala Selamat Datang, 2026: Langit Basah, Harap yang Menyala

Cerpen  Oleh : Sri Asmediati 

Malam itu hujan turun pelan, seolah langit ikut ragu apakah harus menumpahkan seluruh kesedihan atau menahannya sedikit lagi untuk esok hari. Di sudut kota kecil yang tak pernah benar-benar tidur, jam dinding di ruang tamu rumah tua berdetak lebih keras dari biasanya. Jarumnya perlahan mendekati angka dua belas.

Tahun 2025 sedang sekarat.

Di ruang tamu itu, empat orang duduk dengan jarak yang tidak jauh, tetapi terasa sangat berjauhan. Ada Raka, guru honorer yang gajinya tak pernah cukup hingga akhir bulan. Ada Maya, jurnalis lokal yang lelah menulis kebenaran namun kerap kalah oleh judul-judul pesanan. Ada Ibu Sari, pedagang kecil yang lapaknya berkali-kali digusur demi “penataan kota”. Dan ada Damar, mahasiswa tingkat akhir yang skripsinya tertunda bukan karena malas, tetapi karena harus bekerja serabutan demi membayar uang kuliah.

Mereka bukan keluarga sedarah, tetapi malam itu disatukan oleh alasan yang sama: tidak punya tempat lain untuk merayakan pergantian tahun.

“Sebentar lagi 2026,” ujar Maya pelan, menatap layar ponselnya yang memantulkan cahaya kembang api dari kota-kota besar. “Entah kenapa, aku tidak merasa excited.”

Raka tersenyum pahit. “Aku juga. Tahun baru sekarang rasanya seperti pergantian kalender, bukan harapan.”

Ibu Sari menghela napas panjang. Tangannya yang kasar memegang gelas teh hangat, seakan itu satu-satunya hal yang masih bisa memberinya rasa aman. “Dulu, setiap tahun baru, saya selalu berdoa supaya hidup lebih baik. Sekarang… saya cuma berharap bisa bertahan.”

Jam berdetak lagi. Detik-detik terakhir 2025 terasa berat, seolah membawa tumpukan cerita yang belum selesai: janji-janji pejabat yang menguap, bencana yang datang silih berganti, harga kebutuhan pokok yang naik tanpa permisi, dan mimpi-mimpi kecil yang terpaksa dikubur pelan-pelan.

Damar berdiri dan membuka jendela. Udara malam menerobos masuk bersama aroma tanah basah. Di kejauhan, suara terompet dan tawa anak-anak bersahut-sahutan. “Aneh ya,” katanya, “di luar orang-orang merayakan, di sini kita seperti sedang mengadili tahun yang baru saja mati.”

Maya tertawa kecil. “Mungkin memang begitu. Kita perlu mengadili masa lalu sebelum memaafkannya.”

Mereka terdiam. Jam menunjukkan pukul 23.59.

Satu menit terakhir.

Raka menutup mata. Dalam benaknya, wajah murid-muridnya bermunculan. Anak-anak desa yang datang ke sekolah dengan sepatu bolong, buku tipis, tetapi mata yang penuh cahaya. Ia ingat bagaimana ia hampir menyerah bulan lalu, ketika gajinya telat tiga bulan dan kontraknya belum jelas diperpanjang. Namun ia tetap masuk kelas, tetap mengajar, karena ia tahu, jika ia pergi, satu lagi cahaya kecil akan padam.

“Kalau boleh jujur,” kata Raka tiba-tiba, “aku takut sama 2026.”

Semua menoleh.

“Takut kenapa?” tanya Ibu Sari.

“Takut ternyata ia sama saja. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Datang membawa janji, pergi meninggalkan luka.”

Maya mengangguk. “Ketakutan itu wajar. Tapi mungkin bukan tahun yang harus kita takuti, melainkan cara kita menjalaninya.”

Detik terakhir berbunyi.

Di luar, kembang api meledak serentak, menerangi langit yang basah. Warna-warni cahaya menari di balik awan, memantul di jendela, menyusup ke ruang tamu yang sederhana itu.

“Selamat tinggal, 2025,” bisik Damar.

“Selamat datang, 2026,” ucap Ibu Sari lirih, hampir seperti doa.

Tahun baru lahir.

Namun tidak ada sorak-sorai di ruangan itu. Tidak ada pelukan penuh euforia. Yang ada hanyalah keheningan yang jujur—keheningan orang-orang yang terlalu lelah untuk berpura-pura bahagia, tetapi masih cukup kuat untuk berharap.

Maya berdiri dan mengambil buku catatannya. “Aku ingin menulis sesuatu malam ini.”

“Judulnya?” tanya Raka.

“‘Selamat Datang, 2026: Tolong Jangan Ingkar Janji.’”

Mereka tertawa kecil.

Di luar, hujan mulai reda. Kembang api perlahan menghilang, menyisakan asap tipis dan bau mesiu. Kota kembali ke ritmenya yang biasa, seolah pergantian tahun hanyalah jeda singkat sebelum rutinitas menelan semuanya lagi.

Namun di ruang tamu itu, sesuatu berubah—meski kecil, meski nyaris tak terlihat.

Ibu Sari mulai bercerita tentang rencananya membuka lapak kecil di depan rumah, meski tanpa izin resmi. “Kalau nunggu izin, saya bisa kelaparan,” katanya jujur.

Damar berbagi tekad untuk menyelesaikan skripsinya tahun ini, apa pun risikonya. “Aku capek tertunda terus,” ujarnya. “2026 harus jadi tahun terakhir aku menunda mimpi.”

Raka berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berhenti mengajar, meski sistem sering kali tak berpihak. “Kalau aku menyerah, siapa yang tersisa untuk anak-anak itu?”

Maya menutup bukunya dan menatap mereka satu per satu. “Mungkin 2026 tidak akan mengubah dunia secara tiba-tiba,” katanya. “Tapi kalau kita tetap berdiri, tetap jujur, tetap saling menguatkan, itu sudah bentuk perlawanan.”

Malam semakin larut. Satu per satu dari mereka pamit pulang, membawa sisa kembang api di mata dan secuil harapan di dada.

Raka berjalan menyusuri jalan basah menuju rumah kontrakannya. Di langit, bulan muncul malu-malu dari balik awan. Ia berhenti sejenak, menatap ke atas, lalu tersenyum tipis.

“Selamat datang, 2026,” gumamnya. “Aku belum sepenuhnya percaya padamu, tapi aku bersedia mencoba.”

Di sudut lain kota, Maya mengirimkan tulisannya ke redaksi, meski tahu kemungkinan besar akan disunting, dipotong, bahkan mungkin ditolak. Namun ia tetap mengirimkannya. Karena kebenaran, pikirnya, tidak boleh berhenti hanya karena takut kalah.

Ibu Sari menata lapaknya yang sederhana di teras rumah, lebih awal dari biasanya. Tahun baru, tekad baru. Ia tahu hidup tidak akan langsung mudah, tetapi ia juga tahu satu hal: menyerah bukan pilihan.

Damar membuka laptop tuanya dan mengetik satu kalimat di halaman skripsi yang lama kosong: Bab I: Pendahuluan. Ia tersenyum, seolah baru saja menyalakan lilin kecil di ruangan gelap.

Dan begitulah 2026 dimulai.

Bukan dengan janji-janji besar. Bukan dengan keajaiban instan. Tetapi dengan langkah-langkah kecil dari orang-orang biasa yang menolak kalah oleh keadaan.

Tahun baru itu tidak sempurna. Ia tetap membawa masalah, ketidakpastian, dan luka-luka lama yang belum sembuh. Namun ia juga membawa kesempatan—kesempatan untuk bertahan, memperbaiki, dan percaya sekali lagi.

Di negeri yang sering lelah oleh dirinya sendiri, harapan kadang bukan tentang menang besar, melainkan tentang tidak menyerah hari ini.

Dan di suatu malam yang basah oleh hujan dan cahaya kembang api, 2026 disambut bukan dengan teriakan, melainkan dengan tekad sunyi:

Apa pun yang terjadi, kami akan tetap berjalan.

Selamat datang, Tahun Baru 2026.

Jadilah saksi bahwa kami pernah jatuh,

namun memilih bangkit—sekali lagi.(AM)

]]>
Tue, 30 Dec 2025 19:55:19 +0800 amr
Refleksi Akhir Tahun 2025: Di Antara Bencana, Korupsi, dan Ikhtiar Menyelamatkan Masa Depan Bangsa https://amarmedia.co.id/refleksi-akhir-tahun-2025-di-antara-bencana-korupsi-dan-ikhtiar-menyelamatkan-masa-depan-bangsa https://amarmedia.co.id/refleksi-akhir-tahun-2025-di-antara-bencana-korupsi-dan-ikhtiar-menyelamatkan-masa-depan-bangsa Refleksi Akhir Tahun 2025: Di Antara Bencana, Korupsi, dan Ikhtiar Menyelamatkan Masa Depan Bangsa

Oleh : Sri Asmediati 

Akhir tahun 2025 kembali mengetuk kesadaran kita. Ia hadir bukan sekadar sebagai penanda pergantian kalender, melainkan sebagai ruang sunyi untuk merenung, mengevaluasi, dan bertanya pada diri sendiri: sejauh mana kita telah melangkah, dan ke arah mana bangsa ini hendak dituju. Tahun ini bukan tahun yang ringan. Ia sarat dengan peristiwa, penuh gejolak, sekaligus menyimpan banyak pelajaran yang menuntut kebijaksanaan.

Refleksi akhir tahun menjadi semakin penting ketika realitas yang kita hadapi tidak selalu sejalan dengan harapan. Di balik capaian pembangunan dan kemajuan teknologi, 2025 juga meninggalkan catatan tentang luka sosial, bencana alam yang berulang, korupsi yang belum sepenuhnya reda, serta carut-marut dunia pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi peradaban.

Bencana: Alarm Alam yang Kerap Diabaikan

Sepanjang 2025, bangsa ini kembali diuji oleh bencana alam. Banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem datang silih berganti. Banyak daerah terdampak, banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan orang-orang tercinta. Bencana seolah menjadi tamu tahunan yang datang tanpa pernah benar-benar kita persiapkan secara serius.

Refleksi dari bencana bukan hanya soal mitigasi teknis, tetapi juga tentang cara kita memperlakukan alam. Alih fungsi lahan, eksploitasi berlebihan, dan abainya tata ruang yang berkelanjutan menjadi faktor yang tak bisa dipisahkan. Tahun 2025 kembali mengingatkan bahwa alam tidak pernah ingkar janji. Ketika keseimbangan dirusak, maka akibatnya akan kembali kepada manusia sendiri.

Bencana juga menyingkap sisi kemanusiaan kita. Di tengah duka, solidaritas tumbuh. Relawan bergerak, donasi mengalir, dan kepedulian lintas batas muncul. Namun refleksi jujur perlu diajukan: apakah kepedulian itu hanya musiman? Ataukah akan menjadi kesadaran kolektif yang mendorong perubahan kebijakan dan perilaku jangka panjang?

Korupsi: Penyakit Lama yang Masih Menggerogoti

Tahun 2025 juga belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang korupsi. Kasus demi kasus terungkap, menyeret nama pejabat, aparat, hingga tokoh yang seharusnya menjadi teladan. Korupsi tidak hanya mencuri uang negara, tetapi juga mencuri harapan rakyat, merusak kepercayaan publik, dan menghambat pembangunan yang berkeadilan.

Refleksi akhir tahun mengajak kita jujur mengakui bahwa pemberantasan korupsi bukan sekadar urusan hukum, tetapi persoalan moral dan budaya. Ketika integritas kalah oleh kepentingan pribadi, maka kehancuran sistem tinggal menunggu waktu. Pendidikan antikorupsi, keteladanan pemimpin, serta penguatan lembaga pengawas harus terus diperjuangkan, bukan sekadar jargon.

Korupsi juga berdampak langsung pada sektor-sektor vital, termasuk pendidikan dan penanganan bencana. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat sering kali bocor di tengah jalan. Di sinilah refleksi menjadi penting: sejauh mana kita berani bersikap tegas, bukan hanya mengutuk, tetapi juga mencegah sejak dini.

Dunia Pendidikan yang Masih Carut-Marut

Pendidikan, yang seharusnya menjadi cahaya peradaban, pada 2025 masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Ketimpangan akses, kualitas guru yang belum merata, beban administrasi yang berlebihan, serta kebijakan yang kerap berubah-ubah membuat dunia pendidikan berjalan terseok-seok.

Di banyak daerah, guru masih berjuang dengan kesejahteraan yang terbatas. Mereka dituntut profesional, kreatif, dan adaptif, tetapi sering kali kurang didukung oleh sistem yang memadai. Sementara itu, siswa dihadapkan pada tantangan zaman yang kompleks: tekanan akademik, krisis karakter, serta pengaruh teknologi yang tidak selalu ramah nilai.

Carut-marut pendidikan bukan semata kesalahan satu pihak. Ia adalah akumulasi dari kebijakan yang kurang matang, koordinasi yang lemah, dan minimnya keberpihakan pada esensi pendidikan itu sendiri. Refleksi akhir tahun seharusnya mengembalikan pertanyaan mendasar: untuk apa pendidikan kita selenggarakan? Apakah sekadar mencetak angka dan ijazah, atau membentuk manusia yang berkarakter, kritis, dan berdaya?

Program BGN: Harapan di Tengah Tantangan

Di tengah berbagai persoalan tersebut, tahun 2025 juga menghadirkan sejumlah program strategis, salah satunya Program BGN (Badan Gizi Nasional) yang menjadi perhatian publik. Program ini lahir dari kesadaran bahwa kualitas sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari pemenuhan gizi yang baik, terutama bagi anak-anak dan generasi muda.

Program BGN membawa harapan besar, khususnya dalam upaya menekan stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan peserta didik. Namun, refleksi akhir tahun mengingatkan bahwa program sebaik apa pun akan sia-sia tanpa pengelolaan yang transparan, pengawasan yang ketat, serta pelibatan masyarakat secara aktif. Program ini tidak boleh menjadi ladang baru bagi penyimpangan, melainkan harus menjadi simbol keseriusan negara dalam menyiapkan masa depan bangsa.

BGN juga perlu disinergikan dengan dunia pendidikan. Gizi yang baik harus berjalan beriringan dengan pembelajaran yang bermutu. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang tumbuh yang sehat, aman, dan manusiawi.

Belajar dari Luka, Menyusun Harapan

Refleksi akhir tahun 2025 mengajarkan bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas masalah, melainkan bangsa yang mau belajar dari masalahnya. Bencana mengajarkan kerendahan hati, korupsi mengingatkan pentingnya integritas, carut-marut pendidikan menuntut keberanian berbenah, dan program-program strategis seperti BGN menguji kesungguhan kita dalam mewujudkan perubahan.

Di tingkat individu, refleksi juga penting dilakukan. Apakah kita sudah cukup peduli? Apakah kita sudah jujur dalam peran masing-masing? Apakah kita menjadi bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak nyaman, tetapi perlu diajukan agar tahun baru tidak sekadar menjadi pengulangan kesalahan lama.

Menyongsong 2026 dengan Kesadaran Baru

Menutup 2025 bukan berarti menutup buku, melainkan membuka lembaran baru dengan kesadaran yang lebih matang. Tahun 2026 menanti dengan tantangan yang mungkin tidak lebih ringan, tetapi juga dengan peluang untuk berbenah. Harapan selalu ada, selama kita mau belajar, berkolaborasi, dan menjaga nurani.

Refleksi akhir tahun seharusnya melahirkan komitmen bersama: untuk menjaga alam, melawan korupsi, membenahi pendidikan, dan mengawal program-program strategis agar benar-benar berpihak pada rakyat. Tidak cukup dengan wacana, tetapi dengan tindakan nyata, sekecil apa pun itu.

Akhirnya, 2025 telah menjadi guru yang tegas. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan. Dengan segala kekurangan dan pelajaran yang ditinggalkan, kita mengucapkan terima kasih pada 2025—bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia telah memberi kita kesempatan untuk menjadi lebih sadar, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab sebagai manusia dan sebagai bangsa.

Selamat tinggal 2025. Semoga refleksi ini tidak berhenti di akhir tahun, tetapi terus hidup dalam langkah-langkah kita di hari-hari yang akan datang.(AM)

]]>
Tue, 30 Dec 2025 09:59:07 +0800 Maruf
Selamat Hari Ibu — Keteguhan, Cinta, dan Perjalanan Tanpa Akhir https://amarmedia.co.id/selamat-hari-ibu-keteguhan-cinta-dan-perjalanan-tanpa-akhir https://amarmedia.co.id/selamat-hari-ibu-keteguhan-cinta-dan-perjalanan-tanpa-akhir Selamat Hari Ibu — Keteguhan, Cinta, dan Perjalanan Tanpa Akhir

Oleh Sri Asmediati, S. Pd

Hari Ibu bukan sekadar momen dalam kalender; ia adalah ruang refleksi bagi setiap anak, keluarga, dan bangsa untuk menundukkan kepala sejenak dan mengingat perempuan yang telah menjadi sumber kehidupan, pengorbanan, dan cinta yang tak pernah habis. Di Indonesia, Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember memiliki makna historis dan emosional yang sangat dalam. Peringatan ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada sosok ibu dalam keluarga, tetapi juga pengakuan terhadap peran perempuan Indonesia dalam perjuangan bangsa, dalam pendidikan generasi, dan dalam membentuk fondasi karakter masyarakat.

Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Dari kelembutannya, tumbuh keberanian. Dari tutur katanya, tumbuh kebijaksanaan. Dari kesederhanaannya, lahir rasa syukur. Dan dari keteguhannya, terbentuk generasi yang mampu berdiri kuat menghadapi zaman. Di rumah sederhana maupun di tengah hiruk-pikuk kota besar, ibu tetap menjadi pelita yang menerangi arah hidup anak-anaknya.

Peran ibu terus berkembang seiring waktu. Dahulu, ibu mungkin lebih banyak dipahami sebagai pengasuh dan penjaga rumah. Kini, perempuan yang bergelar “ibu” sekaligus memainkan peran sebagai pekerja profesional, pendidik, pemimpin komunitas, penggerak ekonomi, bahkan pemegang peranan strategis dalam pemerintahan. Namun perubahan zaman tidak menghapus inti dari identitas keibuan: cinta yang tulus tanpa syarat. Ibu tetap menjadi tempat pulang yang paling hangat, meski dunia berubah sedemikian cepat.

Peringatan Hari Ibu juga menjadi kesempatan untuk melihat perjalanan panjang perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tahun 1928 adalah bukti nyata betapa kuatnya peran perempuan dalam memerdekakan bangsa. Semangat itu kini diteruskan oleh para ibu dalam kehidupan sehari-hari: menguatkan keluarga ketika kesulitan datang, mendidik anak-anak agar berani bermimpi, serta menjadi jembatan kasih yang mempertemukan nilai-nilai tradisi dan tuntutan modernitas.

Namun, di balik segala pujian yang pantas diberikan kepada ibu, ada pula realitas yang perlu kita sadari. Banyak ibu yang bekerja tanpa henti, tetapi sering kali tanpa penghargaan yang memadai. Ada yang harus memikul tanggung jawab seorang diri. Ada pula yang bergulat dengan tekanan ekonomi, sosial, dan mental. Menghargai ibu bukan hanya soal memberikan ucapan selamat pada tanggal 22 Desember, tetapi juga menciptakan ruang yang lebih ramah bagi perempuan untuk tumbuh, bekerja, beristirahat, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Pada Hari Ibu, kita diingatkan bahwa cinta ibu sering kali hadir dalam bentuk-bentuk yang sederhana, namun sangat dalam. Tatapan mata yang selalu memastikan anaknya baik-baik saja. Doa yang dipanjatkan diam-diam pada malam hari. Tangan yang tak pernah berhenti bekerja demi masa depan keluarganya. Kesabaran yang seakan tidak mengenal batas. Semua itu menjadikan ibu sebagai teladan ketangguhan yang tidak tergantikan.

Sebagai anak, kita mungkin tidak selalu dapat membalas semua pengorbanan ibu. Namun penghormatan tidak harus menunggu sosoknya menua atau rapuh. Menghargai ibu bisa dilakukan setiap hari melalui hal-hal kecil: menyapa, mendengarkan, membantu pekerjaan rumah, memberi waktu istirahat, dan menghadirkan kebahagiaan sederhana yang menunjukkan bahwa perjuangannya tidak sia-sia. Satu kalimat, satu tindakan kecil, bisa menjadi sumber kekuatan bagi seorang ibu yang tengah kelelahan.

Selain itu, Hari Ibu adalah momentum untuk mengingat bahwa setiap perempuan yang memilih atau diberikan peran sebagai ibu memiliki perjalanan hidup yang tidak sama. Ada ibu kandung, ibu tiri yang penuh ketulusan, ibu angkat yang penuh kasih, ibu guru yang mendidik dengan sepenuh hati, hingga ibu-ibu yang menjadi pilar di balik keberlangsungan suatu komunitas. Semua layak dihormati atas dedikasi mereka dalam memelihara kehidupan dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Sebagai bangsa, kita perlu terus menumbuhkan budaya menghormati dan mendukung perempuan, khususnya ibu. Pendidikan kesetaraan, dukungan kesehatan, kesempatan ekonomi, dan lingkungan yang bebas dari kekerasan adalah bentuk nyata penghormatan yang jauh lebih berarti dibanding sekadar seremonial. Ibu yang sehat, bahagia, dan dihargai akan melahirkan generasi yang kuat dan penuh cinta—dan itulah pondasi Indonesia yang maju.

Akhirnya, Hari Ibu adalah panggilan bagi kita semua untuk berhenti sejenak, menyadari langkah-langkah kecil yang pernah ibu lakukan untuk kita, dan mengucapkan terima kasih dari hati yang paling dalam. Karena pada hakikatnya, ibu bukan hanya sosok yang membesarkan kita, tetapi juga cahaya kehidupan yang membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik.

Selamat Hari Ibu. Semoga cinta dan keteguhan ibu menjadi inspirasi untuk membangun keluarga yang harmonis dan bangsa yang kuat. (AM)

]]>
Mon, 22 Dec 2025 16:34:56 +0800 amr
Menjauh dari Circle Toxic https://amarmedia.co.id/menjauh-dari-circle-toxic https://amarmedia.co.id/menjauh-dari-circle-toxic Ada kenyataan keras yang jarang dibicarakan: kadang orang yang ingin menjatuhkanmu bukan musuh, melainkan orang yang tersenyum paling dekat. Fakta menariknya, psikologi sosial menunjukkan bahwa perilaku menjatuhkan sering muncul bukan karena Anda buruk, tetapi karena Anda memicu rasa terancam pada mereka. Artinya, serangan itu lebih mencerminkan ketakutan mereka daripada kualitas Anda.

Dalam kehidupan sehari-hari, ini terlihat dari hal sederhana. Misalnya ketika Anda mulai berkembang, tiba-tiba muncul komentar sinis, candaan yang terasa menusuk, atau manuver halus untuk membuat Anda terlihat salah. Banyak orang panik dan merespons secara emosional. Padahal menghadapi mereka butuh strategi, bukan ledakan. Berikut tujuh trik yang membuat Anda tetap berdiri tegak tanpa harus balas menyerang.

1. Mengamati motif sebelum merespons

Tidak semua serangan memiliki motif yang sama. Ada yang iri, ada yang insecure, ada yang hanya ingin perhatian. Ketika Anda memahami motifnya, Anda tahu bagaimana harus bersikap. Orang yang menjatuhkan biasanya menguji reaksi Anda. Jika Anda tersulut, permainan mereka berhasil.

Dalam situasi nyata, misalnya seseorang sengaja meremehkan hasil kerja Anda di depan orang lain. Alih-alih terpancing, Anda cukup mengamati dan mencatat pola tersebut. Sikap tenang membuat Anda terlihat kuat, dan secara tidak langsung membuat mereka kehilangan kepuasan atas provokasinya. Dengan memahami motif, Anda tidak masuk ke dalam perangkap yang mereka buat sendiri.

2. Menanggapi dengan kontrol, bukan emosi

Orang yang berniat menjatuhkan mengandalkan satu hal: reaksi impulsif. Semakin emosional Anda, semakin mereka tampak benar. Menjaga respons tetap terukur adalah cara paling elegan untuk menghentikan mereka. Kontrol diri bukan tanda kelemahan, melainkan kecerdasan emosional yang melindungi reputasi Anda.

Contohnya ketika ada komentar menyakitkan yang dilontarkan secara halus. Anda bisa menjawab dengan kalimat pendek yang netral, seperti “itu sudut pandangmu, tapi datanya menunjukkan hal lain.” Dengan cara ini, Anda tidak membuka ruang drama. Nada bicara yang stabil membuat Anda tampak lebih dewasa, sementara mereka terlihat kecil karena gagal memancing Anda.

3. Menggunakan fakta untuk meredam manipulasi

Orang yang mencoba menjatuhkan sering memelintir informasi. Di sinilah pentingnya berdiri pada data, bukan opini. Fakta membuat manuver mereka runtuh tanpa harus berdebat panjang. Ketika Anda membiasakan diri berbicara berdasarkan bukti, ucapan Anda terlihat objektif dan tidak mudah diserang.

Misalnya dalam kerja tim, ada orang yang berusaha menjatuhkan Anda dengan menuduh Anda tidak berkontribusi. Anda bisa merespons tenang: “kontribusi saya ada di laporan minggu pertama dan kedua, bisa dicek kembali.” Pendekatan ini mematikan serangan tanpa harus meninggikan suara. Jika Anda ingin belajar lebih dalam tentang teknik melawan manipulasi dengan logika, Anda bisa mengikuti konten eksklusif Logika Filsuf untuk strategi yang lebih terstruktur.

4. Mengambil jarak dari percakapan yang toxic

Beberapa orang menjatuhkan bukan karena ingin menang, tetapi karena menikmati drama. Trik paling efektif justru sering kali adalah menarik diri dari permainan. Menolak terlibat dalam percakapan toxic membuat mereka kehilangan panggung. Anda tetap terlihat elegan, sementara racun mereka berhenti menyebar.

Dalam praktik sehari-hari, itu bisa dilakukan dengan berhenti memberi energi. Misalnya ketika seseorang mencoba membuka topik penuh gosip atau sindiran, Anda cukup mengalihkan pembicaraan ke hal yang konstruktif. Lama-kelamaan mereka sadar Anda bukan target yang mudah. Energi Anda kembali terjaga, dan aura kedewasaan Anda meningkat di mata orang lain.

5. Menata batasan agar tidak dijadikan sasaran

Batasan adalah senjata halus yang sering diremehkan. Orang yang menjatuhkan biasanya memilih target yang dianggap tidak punya benteng. Ketika Anda menunjukkan batasan melalui cara bicara, cara berdiri, dan cara menolak, mereka berhenti melihat Anda sebagai sasaran empuk.

Misalnya ketika seseorang mencoba meremehkan Anda secara pasif-agresif. Anda bisa menyatakan secara tenang, “saya menghargai pendapatmu, tetapi saya tidak menerima cara penyampaiannya.” Kalimat seperti ini tegas tanpa emosional. Batasan Anda terasa jelas, dan itu membuat mereka berpikir ulang sebelum mencoba menyerang lagi.

6. Menguatkan reputasi dengan tindakan konsisten

Serangan orang akan mudah memengaruhi Anda jika reputasi Anda rapuh. Tetapi jika tindakan Anda konsisten, integritas Anda menjadi tameng yang sulit ditembus. Orang boleh menuduh, tetapi bukti kerja Anda akan berbicara lebih keras. Reputasi adalah kekuatan yang dibangun pelan, namun sangat sulit dihancurkan.

Dalam keseharian, fokus saja pada pekerjaan Anda, hasil Anda, dan kematangan Anda. Ketika Anda tampil stabil, ucapan orang yang mencoba menjatuhkan kehilangan daya. Lingkungan akan melihat perbedaan antara ucapan mereka dan kualitas nyata Anda. Pada akhirnya, yang jatuh justru bukan Anda, tetapi mereka yang mencoba menjatuhkan.

7. Mengarahkan diri pada pertumbuhan, bukan balasan

Menghadapi orang yang mencoba menjatuhkan bisa membuat Anda kelelahan jika fokus Anda hanya pada pembalasan. Cara terbaik adalah mengalihkan energi ke pertumbuhan pribadi. Ketika Anda berkembang, serangan mereka tidak lagi terasa relevan. Mereka menutup pintu sementara Anda membuka ruangan yang lebih luas.

Dalam kehidupan nyata, Anda bisa meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan, dan memperbaiki hubungan dengan orang yang mendukung Anda. Perlahan, Anda bergerak ke lingkaran yang lebih dewasa, dan mereka tertinggal dengan intrik kecilnya. Orang kuat tidak sibuk mematahkan musuh; mereka sibuk membangun dirinya sendiri.[AM]

]]>
Mon, 15 Dec 2025 07:16:56 +0800 amr
Alam Tidak Membutuhkan Kita untuk Lestari https://amarmedia.co.id/alam-tidak-membutuhkan-kita-untuk-lestari https://amarmedia.co.id/alam-tidak-membutuhkan-kita-untuk-lestari Alam Tidak Membutuhkan Kita untuk Lestari

Oleh Sri Asmediati, S. Pd

Alam hadir jauh sebelum manusia datang, dan ia akan tetap ada jauh setelah manusia hilang. Kita datang dan menumpang hidup padanya, namun bersikap seolah-olah pemiliknya. Ia memberi kita udara, air, tanah, dan makanan tanpa pernah meminta imbalan sepeser pun. Namun manusia membalas kemurahan itu dengan gergaji, alat berat, dan mesin tambang. Ironisnya kita menyebut tindakan merusak itu sebagai “pembangunan”. Dan lebih ironis lagi, kita dengan bangga menyebut diri “makhluk paling beradab”.

Keserakahan adalah dosa ekologis pertama manusia, lahir dari ketamakan yang kita pelihara sendiri. Alam bisa memenuhi kebutuhan, tapi tidak bisa memenuhi ambisi tak terbatas. Kebutuhan cukup, tetapi nafsu selalu berkata kurang. Maka hutan ditebang untuk keuntungan, laut disedot untuk produksi, gunung dicincang untuk ekspor. Semua dilakukan seakan bumi adalah kartu ATM tanpa batas. Dan ketika alam mulai kehabisan saldo, manusia marah seperti pelanggan yang tidak terlayani.

Antroposentrisme membuat manusia memosisikan diri sebagai penguasa semesta. Kita menaruh diri di pusat kehidupan, lalu menurunkan status semua makhluk lain menjadi alat. Pohon dianggap kayu, sungai dianggap saluran limbah, laut dianggap lokasi industri, dan udara dianggap tempat penampungan asap. Kita lupa bahwa semua itu adalah rumah bersama, bukan properti pribadi. Kita begitu percaya diri menulis istilah “menyelamatkan bumi”, seolah bumilah yang membutuhkan intervensi kita. Padahal, yang sekarat itu bukan bumi, tapi cara kita hidup di bumi.

Alam sebenarnya tidak pernah menghukum kita, karena ia tidak punya kapasitas benci. Banjir, longsor, kekeringan, dan perubahan iklim bukan balasan, tapi refleksi dari perbuatan kita sendiri. Kita menebang pohon lalu terkejut ketika tanah longsor. Kita mengurung sungai dalam beton lalu tidak mengerti mengapa kota tenggelam. Kita membakar hutan lalu menyalahkan angin karena asap. Dan yang paling konyol, kita menyebut itu “musibah”, padahal itu “konsekuensi”.

Yang kita sebut bencana hari ini adalah akumulasi pilihan buruk yang diambil puluhan tahun lalu. Tanah tidak tiba-tiba kehilangan daya serap air; kita yang menghilangkan akarnya. Sungai tidak tiba-tiba kotor; kita yang mengisinya dengan racun. Udara tidak mendadak beracun; kita yang memompanya dengan emisi. Iklim tidak tiba-tiba berubah; kita yang merusak keseimbangannya. Kalau sebabnya buatan manusia, mengapa akibatnya disebut hukuman alam?

Ada satu fakta yang paling menyakitkan: kita hanya peduli pada lingkungan ketika kita menjadi korbannya. Kita meratap ketika rumah hancur oleh banjir, tetapi bungkam ketika hutan dihancurkan investor. Kita marah ketika sawah gagal panen, tetapi diam ketika sumber air dikapling perusahaan. Kita berteriak menuntut bantuan, tetapi bertepuk tangan saat investasi perusak alam masuk daerah. Kita memuja uang saat normal, lalu memanggil Tuhan saat bencana. Kita ingin keselamatan tanpa ketaatan pada hukum alam.

Kita mengambil banyak dari alam tanpa pernah membayar, tetapi tagihan akhirnya datang dalam bentuk bencana. Tidak ada kuitansi, tidak ada nominal, hanya pengingat bahwa keseimbangan biologis tidak bisa dinegosiasi. Hukum alam tidak tunduk pada politik atau lobi korporasi. Tidak peduli siapa presidennya, siapa pengusaha tambangnya, atau siapa pemilik modalnya, sebab-akibat berjalan tanpa preferensi. Alam tidak perlu marah untuk membuat kita menyesal; ia hanya perlu diam. Dan diamnya alam adalah bumerang paling mematikan.

Realitas yang pahit adalah: manusia terlalu cerdas untuk berhenti dan terlalu bodoh untuk selamat. Kita mengukur kedalaman laut, tetapi tidak mengukur kedalaman syukur. Kita memetakan planet lain, tetapi tidak bisa menjaga satu planet yang kita tinggali. Kita memproduksi teknologi penyelamat, tetapi tidak berhenti memproduksi alasan pembenaran. Kita membanggakan kemajuan, tetapi menolak mengakui kerusakan. Kita menjadi spesies paling pintar menghancurkan rumahnya sendiri.

Pada akhirnya, bumi tidak menunggu kita berubah, karena ia tidak membutuhkan kita untuk tetap ada. Jika ekosistem runtuh dan manusia punah, bumi akan pulih dalam ribuan tahun, seperti ia pernah sembuh dari zaman es dan era vulkanik. Alam tidak mempertaruhkan apa pun pada keberadaan manusia, justru manusia mempertaruhkan segalanya pada keberadaan alam. Kita bukan penyelamat bumi; kita hanya penyewa kamar yang sering lupa bayar. Dan seluruh drama ekologis ini hanya memiliki satu kesimpulan: jika manusia terus merusak alam, yang pergi nanti bukan alam, tapi kita.

Maka pertanyaan sebenarnya bukan “bagaimana kita menyelamatkan bumi”, tetapi “bagaimana kita menyelamatkan diri dari kesalahan kita pada bumi”. Kampanye, kebijakan, dan kritik tidak ada artinya tanpa kesadaran moral bahwa manusia hanyalah bagian, bukan penguasa. Belajar cukup jauh lebih penting daripada berjanji banyak. Menghormati alam bukan romantisme, tapi strategi bertahan hidup. Bumi tidak sedang menunggu diselamatkan, bumi sedang menunggu kita berhenti merusak. Dan ketika hari itu tiba, mungkin untuk pertama kalinya, manusia akhirnya benar-benar beradab.[AM]

]]>
Mon, 15 Dec 2025 07:15:38 +0800 amr
Zaman Viral: Ketika Medsos Menggodok Manusia https://amarmedia.co.id/zaman-viral-ketika-medsos-menggodok-manusia https://amarmedia.co.id/zaman-viral-ketika-medsos-menggodok-manusia Zaman Viral: Ketika Medsos Menggodok Manusia

                  Oleh Sri Asmediati, S. Pd

Di era digital ini, kita hidup seperti sedang duduk di dapur raksasa bernama media sosial. Ada panci besar di tengah meja, apinya menyala tanpa pernah padam, dan setiap orang merasa perlu memasukkan sesuatu ke dalamnya—entah kata, foto, opini, atau sekadar keluhan tentang cuaca. Yang aneh, panci ini tidak pernah penuh. Ia hanya mendidih, menggelembung, dan sesekali meledakkan satu nama menjadi viral.

Lucunya, tidak semua orang siap menjadi “hidangan utama.” Ada yang senang ketika namanya mengapung ke permukaan, dianggap aromanya sedap, lalu segera disajikan ke khalayak. Ada juga yang kaget ketika menyadari dirinya ikut masuk ke dalam panci hanya karena satu komentar spontan yang dilontarkan saat ngopi. Mereka tak sadar bahwa di dapur medsos, suara pelan pun bisa berubah menjadi gong besar, kalau algoritma bosan.

Di sini, viral bukan lagi soal kualitas bahan, tapi seberapa ramai tangan yang ikut mengaduk. Kadang seseorang masuk panci hanya membawa bumbu secuil, tapi oleh netizen diolah jadi kari skandal yang mengenyangkan satu negeri. Kadang pula, fakta yang ringan diracik jadi bencana. Itulah seninya: di dapur ini, kejujuran bisa hambar, sementara drama selalu terasa gurih.

Ada orang-orang yang nasibnya mujur karena masuk ke panci medsos pada saat yang tepat. Mereka hanya menjatuhkan sejumput bumbu—senyum spontan, komentar ringan, atau aksi sederhana—tapi kompor algoritma sedang panas-panasnya. Seketika aroma mereka naik, disajikan ke seluruh negeri, dan jadilah mereka hidangan favorit minggu ini. Mendadak terkenal, mendadak banjir tawaran, mendadak dipuji seperti chef andalan dunia maya. Kadang mereka sendiri bingung, “Ini karena kualitas saya atau karena panci medsos sedang kekurangan bahan hari itu?”

Di sisi lain, ada mereka yang apes—yang masuk ke panci bukan karena ingin, tapi karena tersandung sendok komentar atau terpeleset opini sepersekian detik. Mereka baru mau lewat dapur, tahu-tahu sudah mendidih di tengah kuali, dibolak-balik netizen yang lapar drama. Bumbunya ditambah-tambah, rasanya dipelintir, dan tiba-tiba nama mereka jadi menu kontroversial satu negara. Dari jauh kita tertawa melihat keanehannya, tapi dari dekat kita sadar: di zaman viral ini, nasib seseorang bisa berubah hanya karena kompor medsos menyala terlalu panas. Dan panci itu, sayangnya, tidak pernah punya tombol “low heat.”

Namun ada juga sisi reflektifnya. Fenomena viral mengingatkan kita bahwa manusia modern memilih diadili bukan di pengadilan, tapi di kolom komentar. Validation menjadi mata uang baru, dan kedewasaan sering kalah oleh notifikasi. Kita terseret dalam ilusi bahwa kehadiran digital lebih penting dari kehadiran diri sendiri.

Meski begitu, kita tetap tertawa. Humor menjadi pelarian agar hidup tidak terasa terlalu asin. Kita sadar bahwa panci medsos tidak akan berhenti mendidih. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga diri agar tidak tergelincir masuk tanpa sengaja—atau kalaupun masuk, semoga aromanya enak dan tidak membuat satu kota pusing.

Pada akhirnya, zaman viral adalah cermin: ia memantulkan sisi paling rapuh dari kita—keinginan untuk dilihat, didengar, dan dianggap ada. Bedanya, kini semuanya terjadi dalam tempo yang cepat, dengan risiko yang tidak selalu lucu. Maka, bijaklah memasukkan bumbu: cukup rasa, jangan kebanyakan. Karena di panci medsos, sedikit saja terlalu pedas, bisa membuat seluruh timeline batuk bersama.[AM]

]]>
Mon, 15 Dec 2025 07:14:13 +0800 amr
SMPN 1 Labuhan Badas Mantap Menuju Adiwiyata Nasional: Bukti Sinergi Guru dan Siswa dalam Gerakan Sekolah Berwawasan Lingkungan https://amarmedia.co.id/smpn-1-labuhan-badas-mantap-menuju-adiwiyata-nasional-bukti-sinergi-guru-dan-siswa-dalam-gerakan-sekolah-berwawasan-lingkungan https://amarmedia.co.id/smpn-1-labuhan-badas-mantap-menuju-adiwiyata-nasional-bukti-sinergi-guru-dan-siswa-dalam-gerakan-sekolah-berwawasan-lingkungan

Ditulis Oleh :  Tim Adiwiyata SMPN 1 Labuhan Badas

SMPN 1 Labuhan Badas menunjukkan perkembangan signifikan dalam upaya mewujudkan sekolah yang berkarakter lingkungan. Setelah meraih penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi, sekolah ini kini bersiap melangkah lebih jauh menuju Adiwiyata Tingkat Nasional, sebuah level prestasi yang hanya dapat dicapai oleh sekolah-sekolah dengan komitmen tinggi terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Kesuksesan tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan efektif Ketua Tim Adiwiyata, Ahmad Yadi, S.Pd., serta sinergi kuat antara guru dan siswa yang bersama-sama membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.

Secara konseptual, program Adiwiyata menuntut sekolah untuk tidak hanya memahami aspek lingkungan secara teori, tetapi juga menerapkannya secara nyata dan berkelanjutan. SMPN 1 Labuhan Badas telah membuktikan bahwa seluruh elemen sekolah mampu bergerak searah dalam mewujudkan prinsip tersebut. Penghargaan yang diraih di tingkat provinsi merupakan hasil nyata dari kerja sistematis yang dilaksanakan melalui empat pilar utama Adiwiyata: kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta pengelolaan sarana dan prasarana yang ramah lingkungan.

Ahmad Yadi, S.Pd., sebagai Ketua Tim Adiwiyata, memiliki peran sentral dalam memastikan seluruh indikator yang dibutuhkan dapat terpenuhi secara optimal. Dengan pendekatan kepemimpinan yang komunikatif dan solutif, beliau mendorong setiap guru untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan program. Koordinasi terukur, perencanaan berbasis kebutuhan sekolah, serta evaluasi berkala menjadi kunci keberhasilan tim dalam menjaga keberlanjutan program. Di tangan beliau, Adiwiyata bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi telah menjadi identitas dan budaya SMPN 1 Labuhan Badas.

Keberhasilan ini tentu tidak dapat berdiri sendiri. Sinergi guru dan siswa menjadi kekuatan terbesar dalam menggerakkan perubahan lingkungan sekolah. Para guru memberikan teladan melalui kebiasaan sederhana namun berdampak besar, seperti pengelolaan sampah mandiri, penggunaan energi secara efisien, serta pemilihan bahan ajar yang memasukkan aspek kepedulian lingkungan. Di ruang kelas maupun di area sekolah, guru tampil sebagai role model yang mengajak, bukan menginstruksikan semata.

Sementara itu, para siswa berperan aktif sebagai pelaksana sekaligus penggerak kegiatan lingkungan. Mereka terlibat dalam pemilahan sampah, pemanfaatan bank sampah, pengelolaan taman sekolah, hingga kampanye hemat energi dan air. Partisipasi tersebut bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi telah menjadi bagian dari karakter mereka sebagai peserta didik yang sadar lingkungan. Keterlibatan ini membuktikan bahwa program Adiwiyata di SMPN 1 Labuhan Badas mampu menanamkan nilai tanggung jawab ekologis sejak usia dini.

Lingkungan sekolah yang hijau, bersih, dan tertata rapi menjadi bukti nyata keberhasilan berbagai program yang berjalan. Setiap sudut sekolah menunjukkan hasil kerja kolektif yang tertata dengan baik, mulai dari area hijau yang terawat, kebun kecil yang produktif, hingga sarana pengelolaan sampah yang terorganisir. Lingkungan akademik yang sehat memberi dampak langsung terhadap kenyamanan belajar siswa, sekaligus mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang lebih kondusif.

Menjelang penilaian tingkat nasional, SMPN 1 Labuhan Badas terus memantapkan proses administrasi, penguatan dokumentasi, dan inovasi program. Sekolah memastikan seluruh kegiatan yang telah dirintis dapat menunjukkan keberlanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar. Dukungan masyarakat, komite sekolah, serta stakeholder pendidikan juga menjadi faktor penting yang memperkuat kesiapan sekolah menghadapi penilaian nasional.

Keberhasilan menuju Adiwiyata Nasional bukan hanya menjadi kebanggaan sekolah, tetapi juga menjadi kebanggaan Kabupaten Sumbawa. SMPN 1 Labuhan Badas dapat menjadi model inspiratif bagi sekolah lain dalam melaksanakan program lingkungan berbasis pendidikan. Jika prestasi ini diraih, maka sekolah ini akan tercatat sebagai lembaga pendidikan yang konsisten menempatkan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari karakter utama peserta didiknya.

Pada akhirnya, perjalanan SMPN 1 Labuhan Badas menuju Adiwiyata Nasional merupakan wujud nyata bahwa pendidikan lingkungan hidup dapat dijalankan secara sistematis dan melibatkan seluruh unsur sekolah. Melalui kepemimpinan strategis Ahmad Yadi, S.Pd., serta sinergi kuat guru dan siswa, sekolah ini tidak hanya bersaing dalam tingkat penghargaan, tetapi juga membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat dan komitmen yang terus dijaga, SMPN 1 Labuhan Badas sangat layak melaju menuju predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. (AM)

]]>
Mon, 15 Dec 2025 07:12:06 +0800 amr
Buku: Suara yang Menembus Waktu dan Melintas Batas https://amarmedia.co.id/buku-suara-yang-menembus-waktu-dan-melintas-batas https://amarmedia.co.id/buku-suara-yang-menembus-waktu-dan-melintas-batas Buku: Suara yang Menembus Waktu dan Melintas Batas

Oleh Sri Asmediati, S. Pd

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

Buku bukan sekadar tumpukan kertas atau tinta yang tertempel. Ia adalah suara yang berbicara tanpa henti, mengguncang pikiran, dan menembus ruang serta waktu. Di setiap halaman, tersimpan gagasan yang mampu mengubah cara kita melihat dunia, menantang keyakinan, bahkan memicu perubahan yang lebih besar daripada yang bisa dilakukan oleh seribu pidato atau kebijakan pemerintah.

Kekuatan buku terletak pada ide dan pemikiran yang abadi. Plato menulis tentang keadilan dan tatanan masyarakat ideal di The Republic, dan ratusan generasi kemudian masih merenungkan maknanya. Marcus Aurelius, dalam Meditations, berbicara tentang ketenangan batin dan tanggung jawab diri, mengajarkan kita menghadapi kerasnya hidup dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Buku-buku itu menembus batas zaman, membuktikan bahwa gagasan yang murni tidak pernah mati.

Buku juga memiliki kemampuan untuk menyimpan kata-kata selamanya. Ia menjadi saksi bisu sejarah dan budaya, dari manuskrip kuno hingga e-book modern. Ide-ide yang lahir di satu tempat bisa menembus wilayah lain, dari Yunani kuno ke kampus modern di Tokyo, dari teater London ke panggung di New York. Kata-kata dalam buku membentuk jembatan antara manusia dan waktu, antara masa lalu dan masa depan.

Selain itu, buku memiliki kekuatan untuk menggugah emosi dan kesadaran. To Kill a Mockingbird mengajarkan keberanian moral dan empati; 1984 memperingatkan tentang totalitarianisme dan pengawasan; The Communist Manifesto mengguncang dunia politik dengan isu ketidakadilan sosial. Satu halaman bisa menyalakan kesadaran kolektif, memicu perbincangan, dan bahkan membangkitkan revolusi pemikiran.

Buku menjadi saksi dan penggerak sejarah. Ia merekam pengalaman, ide, dan peristiwa zaman tertentu, memberi kita kemampuan untuk belajar dari masa lalu dan mengantisipasi masa depan. Dari dokumen revolusi hingga literatur klasik, buku membentuk budaya dan moral manusia, menyalakan api kesadaran yang tidak bisa dipadamkan.

Dengan terjemahan, distribusi digital, dan perpustakaan global, buku menjadi suara yang melintasi dunia. Ide yang lahir di satu negara bisa menginspirasi pembaca di negara lain, menciptakan dialog intelektual lintas budaya. Ia berbicara pada siapa saja yang mau mendengar, tanpa memandang batas politik atau geografis.

Lebih dari itu, buku memiliki kekuatan introspektif. Ia berbicara langsung ke hati pembaca, menantang asumsi, membuka wawasan baru, dan mengasah logika. Satu kalimat bisa membuat pembaca merenung, menilai ulang hidupnya, dan memutuskan arah baru. Buku menjadi guru yang tak pernah tidur, teman yang selalu hadir, dan cermin yang tidak pernah berbohong.

Buku juga mengubah individu menjadi kesadaran kolektif. Ketika banyak orang membaca dan memahami gagasan yang sama, mereka membentuk opini publik, mempengaruhi gerakan sosial, dan membangkitkan perubahan nyata. Ia adalah suara yang lebih kuat daripada propaganda atau perintah, mampu menembus ideologi dan kepentingan sesaat.

Kitab suci seperti The Bible, Al-Qur’an, dan Bhagavad Gita menunjukkan bagaimana buku bisa melintasi generasi dan wilayah, membentuk moral, hukum, dan budaya manusia selama ribuan tahun. Pesan tentang etika, spiritualitas, dan makna hidup terus mempengaruhi jutaan orang, menembus batas negara dan waktu.

Akhirnya, buku adalah suara yang abadi. Ia bisa diam di rak, tersimpan di perpustakaan, atau berada di tangan pembaca, tetapi pesannya terus bergema. Ia mengguncang, menginspirasi, dan mengajarkan bahwa kata-kata yang tepat bisa lebih kuat dari apapun, lebih panjang umur daripada politik, dan lebih hidup daripada siapa pun yang menulisnya.

Buku berbicara tanpa suara. Ia mengguncang tanpa tangan. Ia menembus waktu dan melintas wilayah. Dan bagi mereka yang mau mendengar, buku adalah dunia, guru, revolusi, dan cermin sekaligus.[AM]

]]>
Mon, 17 Nov 2025 21:14:11 +0800 amr
Guru Sejati Bukan Hanya Mengajar Tetapi Menyalakan Rasa Ingin Tahu https://amarmedia.co.id/guru-sejati-bukan-hanya-mengajar-tetapi-menyalakan-rasa-ingin-tahu https://amarmedia.co.id/guru-sejati-bukan-hanya-mengajar-tetapi-menyalakan-rasa-ingin-tahu Guru Sejati Bukan Hanya Mengajar Tetapi Menyalakan Rasa Ingin Tahu

Oleh Sri Asmediati, S. Pd

Sekolah bisa mengajarkan rumus, teori, dan hafalan. Tapi hanya guru sejati yang mampu menyalakan api keingintahuan dalam diri murid. Karena pendidikan sejati bukan tentang seberapa banyak yang kamu hafal, tapi seberapa dalam kamu ingin tahu. Guru sejati bukan hanya sumber pengetahuan, tapi penggerak kesadaran. Ia tidak memaksa murid untuk belajar, melainkan membuat murid tidak tahan untuk tidak belajar.

Kita hidup di zaman di mana informasi melimpah, tapi rasa ingin tahu semakin langka. Banyak anak bisa mencari jawaban lewat internet, tapi sedikit yang punya semangat bertanya “mengapa” dan “bagaimana.” Di sinilah peran guru sejati diuji—bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan menumbuhkan daya pikir, kepekaan, dan semangat eksplorasi yang akan membuat muridnya terus belajar bahkan setelah kelas usai.

1. Mengajar bukan tentang mengisi kepala, tapi menyalakan pikiran

Guru biasa ingin muridnya tahu, tapi guru sejati ingin muridnya berpikir. Ia tidak puas hanya dengan jawaban benar, tapi mendorong murid untuk memahami maknanya. Karena pengetahuan tanpa pemahaman hanyalah hafalan yang cepat hilang. Guru sejati tahu bahwa setiap pikiran yang menyala akan menjadi sumber cahaya bagi banyak hal di masa depan.

Mereka tidak sekadar berkata, “Begini caranya,” tapi menantang murid dengan pertanyaan, “Kenapa kamu memilih cara itu?” Dari situ, murid belajar melihat dunia bukan dari satu sudut, tapi dari banyak perspektif. Itulah pendidikan yang sebenarnya—menyiapkan manusia untuk berpikir, bukan hanya mengulang.

2. Rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama belajar sepanjang hayat

Anak yang punya rasa ingin tahu tidak akan pernah berhenti belajar, bahkan tanpa disuruh. Ia akan mencari tahu, mencoba, gagal, dan belajar lagi. Guru sejati memahami hal ini. Ia tidak membuat murid bergantung padanya, melainkan membekali murid dengan rasa penasaran yang akan menuntun mereka menemukan kebenaran sendiri.

Ketika rasa ingin tahu tumbuh, belajar menjadi kebutuhan, bukan kewajiban. Murid tidak lagi belajar demi nilai, tapi demi kepuasan batin saat menemukan sesuatu yang baru. Dan dari sinilah lahir para inovator, pemikir, dan pemimpin yang tidak hanya meniru, tapi mencipta.

3. Guru sejati tidak takut muridnya lebih hebat

Guru yang hebat tidak merasa terancam ketika muridnya tumbuh lebih cepat. Justru ia merasa berhasil. Karena keberhasilan sejati seorang guru bukan diukur dari seberapa besar ia dikenal, tapi seberapa jauh muridnya melampaui dirinya. Guru sejati ingin muridnya punya sayap sendiri untuk terbang lebih tinggi.

Ia tidak mendikte, tapi menuntun. Ia tidak memenjarakan pikiran murid dengan dogma, tapi membukanya dengan wawasan dan tantangan. Ia tahu bahwa tugasnya bukan membuat murid mengaguminya, tapi membuat murid mampu berpikir mandiri. Itulah kenapa kehadiran guru sejati selalu meninggalkan jejak yang lama hidup dalam diri murid—bukan karena ilmunya, tapi karena semangat yang ditanamkannya.

4. Mengajar dengan hati, bukan hanya dengan metode

Guru sejati tidak hanya menguasai materi, tapi memahami manusia. Ia tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut, kapan harus membiarkan murid belajar dari kesalahan. Ia melihat potensi di balik kebingungan, dan percaya bahwa setiap anak punya cara unik untuk berkembang. Mengajar dengan hati membuat ilmu terasa hidup, bukan sekadar informasi yang mati.

Banyak guru pandai bicara, tapi sedikit yang benar-benar didengar. Guru sejati didengar bukan karena suaranya keras, tapi karena kata-katanya menyentuh. Ia tidak hanya menjelaskan pelajaran, tapi juga menanamkan nilai, menumbuhkan empati, dan membentuk karakter. Karena pada akhirnya, pendidikan tanpa hati hanyalah pelatihan kognitif yang kering tanpa makna.

5. Menyalakan rasa ingin tahu berarti menyalakan masa depan

Rasa ingin tahu adalah akar dari semua kemajuan. Setiap penemuan besar di dunia dimulai dari pertanyaan sederhana: “Kenapa?” Guru sejati tahu hal ini, dan ia terus menyalakan api itu dalam diri murid-muridnya. Ia tidak ingin mencetak robot penghafal, tapi manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan berani mencari kebenaran.

Ketika rasa ingin tahu tumbuh, dunia menjadi ruang belajar tanpa batas. Murid akan belajar dari alam, dari pengalaman, dari kegagalan, bahkan dari diamnya hidup. Guru sejati tahu bahwa ketika ia berhasil menyalakan rasa ingin tahu, tugasnya sudah selesai—karena muridnya akan terus belajar, bahkan tanpa dirinya.

Guru sejati tidak hanya mengajar mata pelajaran, tapi membangkitkan kesadaran bahwa belajar adalah proses seumur hidup. Ia tidak hanya menyiapkan murid untuk ujian sekolah, tapi untuk ujian kehidupan. Dan di dunia yang terus berubah cepat, peran seperti ini jauh lebih berharga daripada sekadar pemberi nilai.

Jika kamu seorang guru, jadilah sosok yang menyalakan, bukan hanya mengajar. Jika kamu seorang murid, carilah guru yang membangunkan semangat belajarmu, bukan sekadar memberi jawaban cepat. Karena dunia tidak butuh lebih banyak penghafal teori—dunia butuh lebih banyak manusia yang berpikir, bertanya, dan berani menemukan kebenaran dengan rasa ingin tahu yang menyala.[AM]

]]>
Sun, 16 Nov 2025 08:40:46 +0800 amr
Scroll Teruss... Awas Otakmu Terkena Brain Rot! https://amarmedia.co.id/scroll-teruss-awas-otakmu-terkena-brain-rot https://amarmedia.co.id/scroll-teruss-awas-otakmu-terkena-brain-rot Scroll Teruss... Awas Otakmu Terkena Brain Rot!

                 Oleh Sri Asmediati, S. Pd

Di era digital ini, otak manusia sedang menghadapi wabah baru yang diam-diam lebih berbahaya dari penyakit fisik — brain rot. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika otak kehilangan kemampuan fokus, berpikir mendalam, dan menikmati proses belajar karena terlalu sering menerima stimulasi instan dari konten singkat dan tidak bermakna. Kamu mungkin tidak sadar, tapi setiap kali jempolmu terus menggulir layar tanpa arah, kamu sedang melatih otak untuk tidak sabar, untuk terus mencari hiburan cepat, dan untuk tidak tahan pada hal-hal yang menantang intelektual.

Yang lebih menakutkan, efeknya tidak muncul langsung. Brain rot bekerja perlahan. Hari demi hari, otakmu menjadi malas berpikir, cepat bosan, sulit membaca buku, dan kehilangan ketertarikan pada hal yang butuh konsentrasi. Kamu mungkin masih merasa “sibuk” di dunia digital, tapi di dunia nyata, kamu kehilangan ketajaman berpikir. Inilah alasan kenapa banyak orang sekarang produktif secara visual, tapi kosong secara intelektual. Jika kamu ingin otakmu tetap tajam dan sehat, kamu harus mulai sadar bahwa scroll tanpa arah adalah bentuk pembusukan pikiran modern.

1. Brain rot membuat otak kehilangan kemampuan fokus.

Setiap kali kamu menonton konten singkat yang berpindah cepat, otakmu dilatih untuk terus mencari hal baru. Akibatnya, saat menghadapi pekerjaan yang butuh fokus, otakmu menolak. Ia sudah terbiasa dengan sensasi cepat, bukan proses panjang. Itulah sebabnya banyak orang sekarang sulit duduk tenang selama 15 menit tanpa mengecek ponsel.

Jika kamu terus membiarkan hal ini, otakmu akan kehilangan daya tahan mentalnya. Seperti otot yang jarang dipakai, kemampuan fokus bisa menurun drastis. Latih lagi fokusmu dengan membaca satu artikel penuh tanpa gangguan, atau menyelesaikan satu tugas tanpa buka media sosial. Kuncinya sederhana: disiplinlah untuk tidak selalu menuruti rasa ingin tahu instanmu sendiri.

2. Konten cepat membuatmu terbiasa berpikir dangkal.

Konten singkat sering kali memberi kesan “tahu banyak,” padahal sebenarnya hanya menumbuhkan ilusi pengetahuan. Kamu merasa paham, padahal baru melihat permukaannya saja. Ini yang disebut shallow learning — otakmu tahu banyak hal, tapi tidak memahami satu pun secara mendalam.

Orang yang otaknya terpapar brain rot jadi cepat puas dengan pengetahuan setengah matang. Mereka tidak lagi penasaran, tidak tertarik membaca lebih dalam, dan sulit berpikir kritis. Padahal, kemajuan hidup datang dari kemampuan menggali, bukan sekadar mengetahui. Maka, mulai hari ini, tantang dirimu: setiap kali menemukan topik menarik di media sosial, jangan berhenti di sana. Cari bukunya, baca artikelnya, dan pahami konteksnya.

3. Brain rot mengikis kreativitas.

Otak butuh ruang hening untuk berimajinasi. Tapi kalau setiap detik diisi dengan video, suara, dan notifikasi, ruang itu hilang. Otak tidak sempat mencipta, karena terus dipaksa mengonsumsi. Hasilnya? Kamu jadi sulit punya ide orisinal, cepat kehilangan inspirasi, dan gampang meniru tanpa sadar.

Kreativitas lahir dari kebosanan yang produktif. Justru saat otakmu tidak distimulasi berlebihan, ia mulai bermain, merangkai ide, dan menemukan solusi baru. Jadi, jika kamu ingin otakmu kreatif lagi, berhentilah scrolling tanpa arah. Beri waktu untuk diam, berjalan tanpa earphone, atau menulis tanpa distraksi. Di sanalah ide-ide besar biasanya muncul.

4. Brain rot membuatmu kehilangan kontrol atas waktu.

Lihat seberapa sering kamu berkata, “Cuma lima menit,” lalu tiba-tiba satu jam berlalu. Itulah cara brain rot mencuri hidupmu: tidak dengan kekerasan, tapi dengan kebiasaan. Ia mengubah waktu berhargamu menjadi serpihan tak berarti yang hilang di antara ribuan video lucu dan potongan drama.

Waktu yang kamu buang di layar adalah waktu yang tidak akan kembali. Bukan berarti kamu harus berhenti total dari dunia digital, tapi kamu harus bijak. Jadwalkan kapan kamu boleh scrolling dan kapan tidak. Gunakan teknologi sebagai alat, bukan tuan. Ingat, orang sukses menguasai waktunya, sementara orang yang gagal dikuasai distraksinya.

5. Brain rot menurunkan motivasi belajar dan daya tahan mental.

Semakin sering otakmu dimanjakan oleh hiburan cepat, semakin berat rasanya untuk kembali belajar hal yang serius. Buku terasa membosankan, video edukasi terasa lambat, dan proses belajar terasa menyiksa. Otakmu terbiasa dengan dopamin instan, bukan dengan kepuasan jangka panjang dari pencapaian nyata.

Padahal, kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification) adalah kunci kesuksesan. Orang besar tidak mengandalkan motivasi sesaat, mereka berjuang melawan rasa bosan dan tetap berdisiplin meski tidak ada hasil cepat. Kalau kamu ingin menang dari brain rot, latih kembali ketahanan mentalmu. Belajar tanpa notifikasi, kerjakan hal sulit setiap hari, dan biasakan otakmu menghadapi ketidaknyamanan.

Brain rot bukan sekadar istilah lucu di internet — ini adalah fenomena nyata yang sedang menggerogoti generasi modern. Otak yang dulunya tajam kini tumpul karena terlalu sering mencari hiburan tanpa tujuan. Dan yang paling menakutkan, banyak orang bahkan tidak sadar sedang mengalaminya.

Tapi kamu masih bisa berubah. Matikan notifikasi, pilih konten yang bernilai, dan atur waktumu dengan disiplin. Beri ruang untuk berpikir, membaca, dan diam. Karena di dunia yang penuh distraksi, kemampuan untuk fokus dan berpikir dalam adalah superpower yang membedakan antara orang biasa dan orang luar biasa. Jadi, sebelum otakmu membusuk karena scroll tanpa arah, berhentilah sejenak — dan mulai hidup dengan kesadaran penuh.[AM]

]]>
Thu, 13 Nov 2025 06:42:36 +0800 amr
Wajah Baru Dunia Pendidikan: Guru Tidak Lagi Sebagai Sumber Kebenaran Tunggal https://amarmedia.co.id/wajah-baru-dunia-pendidikan-guru-tidak-lagi-sebagai-sumber-kebenaran-tunggal https://amarmedia.co.id/wajah-baru-dunia-pendidikan-guru-tidak-lagi-sebagai-sumber-kebenaran-tunggal Wajah Baru Dunia Pendidikan: Guru Tidak Lagi Sebagai Sumber Kebenaran Tunggal

Oleh; Edy Kurniawansyah

(Mahasiswa S3 Universitas Pendidikan Ganesha(

Selama bertahun-tahun, pola sistem pendidikan kita di Indonesia dibangun diatas paradigma tradisional yang dimana guru diposisikan sebagai sumber kebenaran tunggal. Dalam model tersebut, sering sekali guru menjadi pusat pembelajaran (teacher centered learning), sedangkan siswa lebih banyak berperan pasif karena hanya sebagai penerima informasi. 

Model ini erat kaitannya dengan filosofi guru digugu lan ditiru yang menempatkan guru sebagai sosok otoritatif baik dalam ranah akademik maupun moral. Perubahan paradigma pendidikan mengalami pergeseran signifikan dalam dua dekade terakhir. Jika pada masa lalu guru dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan kebenaran di ruang kelas. 

Maka, memasuki era globalisasi dan revolusi industri 4.0 bahkan 5.0, paradigma ini tidak lagi relevan. Akses informasi yang semakin terbuka, kemajuan teknologi digital, serta tuntutan kompetensi abad ke-21 (critical thinking, collaboration, creativity, dan communication) menuntut perubahan mendasar dalam dunia pendidikan. Kini, pendidikan tidak lagi menekankan transfer pengetahuan semata, melainkan pembentukan kemampuan berpikir kritis dan karakter peserta didik. Guru lebih sebagai fasilitator, kolaborator, dan pembimbing dalam proses belajar yang lebih aktif dan partisipatif. 

Perkembangan teknologi informasi, perubahan sosial, serta kebijakan pendidikan seperti Kurikulum Merdeka ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong transformasi di dunia Pendidikan. 

Transformasi ini, tentunya menandai munculnya “wajah baru dunia pendidikan Indonesia”, di mana guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kebenaran, melainkan mitra belajar yang membimbing siswa untuk menemukan, mengolah, dan menginterpretasikan pengetahuan secara aktif, mandiri dan bermakna. Perubahan ini tentu tidak terjadi secara bim-silabim, melainkan adanya proses panjang yang dipengaruhi oleh perkembangan global, kebijakan pemerintah, serta perubahan sosial budaya yang cepat. 

Jika kita tengok kebelakang terutama diawal abad ke-21, pola pembelajaran di sekolah sungguh masih sangat terpusat pada guru. Dimana guru menjadi pengendali penuh terhadap jalannya pembelajaran, sedangkan siswa diharapkan menghafal materi untuk keperluan ujian baik ujian harian Tengah semester dan ujian semester. Sistem ini menghasilkan lulusan yang cenderung pasif dan kurang kreatif serta kurang berkompetisi di dunia global.

Untuk menjawab prablematika tersebut, kehadiran Kurikulum 2013 (K-13) menjadi langkah awal untuk mengubah pola ini. Dimana K-13 menekankan pada pendekatan scientific learning dan penguatan karakter. Namun, perubahan yang paling nyata dan signifikan terjadi dapat dilihat pada implementasi Kurikulum Merdeka (KM) yang mulai diimplementasikan secara nasional sejak tahun 2022. Kurikulum ini menekankan betapa urgensinya student centered learning, otonomi guru dalam merancang pembelajaran, serta fleksibilitas peserta didik dalam mengeksplorasi minat dan bakat sendiri secara mandiri. 

Melihat paradigma pendidikan modern, dimana guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan mitra strategis belajar siswa. Hal ini menandakan bahwa peran guru bukan lagi sebagai transfer informasi, melainkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif serta mendorong partisipasi aktif siswa dalam berpikir kritis dan kreatif. Dalam menjalan perannya sebagai fasilitator, maka guru harus menyediakan sarana sumber belajar yang beragam, termasuk buku dan media digital serta pengalaman lapangan. 

Kemudian guru mendorong siswa untuk aktif bertanya, meneliti, dan bereksperimen, memberikan bimbingan dalam proses berpikir dan mecahkan masalah. Guru juga harus bisa membangun suasana belajar yang kolaboratif, dimana siswa dapat saling berbagi pikiran dan pandangan antar sesama, hasil dari itu dapat di eksplorasi secara langsung dalam kehidupan yang nyata. Dengan pola yang seperti ini, maka guru tidak lagi berperan sebagai penceramah tunggal di depan kelas semata sebagaiman yang sela ini dilakoni, melainkan guru harus berperan lebih sebagai pemimpin diskusi aktif yang membantu siswa mengembangkan self directed learning. 

Peran ini menuntut guru memiliki kemampuan pedagogik yang adaptif, melek teknologi, serta memiliki keterampilan komunikasi yang baik. Dengan demikian, guru kini tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam mengonstruksikan pemahaman berdasarkan pengalaman empiris dan eksplorasi sendiri.

Dalam mengimplementasikan peran penting guru diatas, tentu terdapat sejumlah tantangan yang luar biasa baik dari sisi profesionalisme guru maupun sistem Pendidikan itu sendiri. Adapun tantangan-tangan tersebut misalnya: Pertama, Kesiapan Kompetensi Guru. kita ketahui bersama bahwa tidak semua guru akan siap menghadapi perubahan paradigma ini. Banyak guru yang masih terbiasa dengan metode ceramah konvensional. Maka diperlukan pelatihan berkelanjutan agar guru mampu beradaptasi dengan teknologi dan metode pembelajaran baru yang memajukan. 

Kedua, Keterbatasan Infrastruktur Digital. Di negara kita, masih banyak terdapat daerah-daerah terpencil yang dimana akses internet dan perangkat digital masih terbatas dan jauh dari yang diharapkan. Maka ini akan menjadi factor penghambat penerapan pembelajaran berbasis teknologi yang sejatinya mendukung peran baru guru sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.

Ketiga, Kendala Evaluasi Pembelajaran. Perubahan paradigma sudah barang tentu menuntut sistem evaluasi intens yang menilai proses dan kompetensi, tidak lagi hanya sekedar soal hasil akhir. Namun faktanya, sampai saat ini bahwa masih banyak sekolah yang bergantung pada hasil ujian tertulis sebagai tolok ukur utama keberhasilan belajar siswa. 

Keempat. Resistensi Budaya dan Persepsi Masyarakat. Dalam tradisi budaya yang masih menempatkan guru menadi figur otoritatif, maka perubahan peran ini kadang kala bisa menimbulkan resistensi baik dari guru sendiri maupun orang tua siswa yang sering mengasumsikan bahwa guru kehilangan wibawa.

Tidak adil rasanya jika kita menyoroti pada aspek tantangannya saja, akan tetapi dibalik tantangan pasti terdapat faktor pendorong perubahan peran guru, misalnya; adanya perkembangan teknologi informasi. Dimana akses internet dan berbagai media digital memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber sesuai dengan kebutuhannya. 

Situs ilmiah, video pembelajaran, aplikasi edukatif, hingga kecerdasan buatan seperti ChatGPT membuat pengetahuan menjadi lebih open dan mudah diakses. Guru tidak lagi menjadi satu satunya penyedia informasi, melainkan menjadi pengarah dalam memilah dan memvalidasi kebenaran informasi yang diperoleh siswa itu sendiri.

 Kemudian Kebijakan Kurikulum Merdeka dan Tuntutan Kompetensi Abad ke-21. Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) dan diferensiasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Ini menuntut guru untuk lebih fleksibel dan berorientasi pada pengembangan kompetensi, bukan sekadar penyelesaian materi ajar belaka. 

Sementara abad ke-21 menuntut individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif. Untuk menumbuhkan kompetensi tersebut, maka guru sangat perlu menempatkan siswa sebagai subjek aktif yang berperan dalam menemukan pengetahuan yang bermakna. Dan adanya Perubahan Sosial dan Pola Belajar Generasi Z. Dimana generasi Z dan Alpha ini tumbuh dalam lingkungan digital dengan karakteristik cepat belajar, menyukai visual, dan cenderung kritis terhadap otoritas. Guru harus mampu beradaptasi dengan gaya belajar mereka agar tetap relevan dan sejalan. 

Wajah baru dunia pendidikan ini menunjukkan adanya pergeseran mendasar dari model pembelajaran teacher centered menuju pembelajaran berpusat kepada siswa (student centered learning). Guru tidak lagi menjadi sumber kebenaran tunggal, melainkan fasilitator yang membimbing dan membina siswa dalam menemukan makna dan kebenaran melalui eksplorasi dan refleksi diri. Transformasi ini tidak hanya menuntut perubahan dalam metode mengajar guru semata, melainkan juga perubahan paradigma berpikir seluruh ekosistem pendidikan baik itu guru, siswa, orang tua, dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan. 

Orang tua tidak boleh apatis terhadap perkembangan anaknya, harus lebih aktif dan kreatif dalam memantau setiap perkembangan anak. Apakah anaknya mengalami kendala atau justru mengalami peningkatan yang signifikan. Bilamana anak dilihat mengalami ada kendala, maka kewajiban orang tua untuk mencari tahu dan terus membangun komunikasi baik dengan guru agar guru dapat mengatasi dan terus memantau perubahan anak. 

Kolaborasi yang seperti ini, sangatlah diperlukan dan menjadi kunci utama yang tidak boleh diabaikan. Kemudian pemerintah harus menjadikan Pendidikan sebagai prioritas pertama dan utama dalam kemajuan bangsa sebab Pendidikan adalah investasi masa depan. Pemerintah harus hadir melihat secara langsung dan mendalam apa yang menjadi kebutuhan dunia pendidikan saat ini, kesejahteraan guru, fasilitas penunjang, sarana dan prasana sekolah harus dipenuhi secara bertahap terutama di daerah yang masih tertinggal agar perubahan ini bisa diwujudkan. 

Tantangan yang dihadapi, seperti kesiapan guru, keterbatasan infrastruktur, dan resistensi budaya, harus dihadapi dengan kebijakan yang adaptif dan pelatihan intens yang berkelanjutan sehingga pada akhirnya, perubahan ini sejalan dengan nawacita dan tujuan pendidikan nasional kita yaitu untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa, kreatif, kritis, mandiri, bertanggungjawab dan berdaya saing global. Pada konteks inilah, guru tetap menjadi sosok sentral utama sebagai penuntun kebijaksanaan dan pembuka jalan baru demi lahirnya generasi terpelajar sepanjang masa.(Gam)

]]>
Mon, 03 Nov 2025 10:57:34 +0800 amr
Pelajar dan Judi Online: Tantangan Generasi Digital dan Upaya Pencegahannya https://amarmedia.co.id/pelajar-dan-judi-online-tantangan-generasi-digital-dan-upaya-pencegahannya https://amarmedia.co.id/pelajar-dan-judi-online-tantangan-generasi-digital-dan-upaya-pencegahannya Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menciptakan ruang baru bagi manusia dalam beraktivitas, ruang itu disebut ruang digital. Bagi pelajar, ruang digital bukan lagi sesuatu yang asing, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, sejalan dengan kemajuan tersebut, muncul pula berbagai ancaman baru, salah satunya adalah maraknya praktik judi online yang kini mulai menyasar kalangan pelajar.

Judi online yang dulunya hanya identik dengan orang dewasa kini menjelma menjadi fenomena yang mengkhawatirkan di kalangan pelajar. Dengan akses internet yang mudah, promosi di media sosial, dan sistem pembayaran digital yang praktis, pelajar dapat dengan mudah memiliki akses ke dalam aktivitas perjudian. Kondisi ini akan semakin masif karena kurangnya pengawasan dari orang tua dan sekolah.

Pelajar sangat mudah terjermus ke dalam judi online karena berada pada usia yang penuh keingintahuan, memiliki emosi yang labil, rendahnya literasi digital, dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar.

Hal ini menjadi momok yang akan membuat mereka tergoda untuk untuk mencoba bermain. Banyak dari mereka awalnya hanya iseng, tetapi seiring waktu menjadi ketagihan karena dorongan untuk menang dan mendapatkan keuntungan yang sebenarnya semu. Selain itu, tekanan sosial untuk dianggap keren atau tidak ketinggalan tren juga menggugah mereka untuk mulai mencoba.

Judi online akan menimbulkan dampak yang kompleks dan serius. Dari segi akademik, pelajar yang kecanduan judi cenderung mengalami penurunan prestasi karena konsentrasi belajar terganggu dan waktu belajar berkurang.

Dari segi psikologis, mereka dapat dengan mudah mengalami stres, kecemasan berlebih, bahkan depresi akibat kerugian finansial atau tekanan emosional dari kekalahan. Dalam jangka panjang, perilaku ini dapat menumbuhkan sifat konsumtif, manipulatif, dan antisosial. Tak jarang, pelajar yang sudah terjebak dalam lingkaran judi berani melakukan tindakan-tindakan seperti meminjam uang, menjual barang pribadi, hingga mencuri demi melanjutkan permainan.

Langkah preventif atau pencegahan menjadi kunci utama untuk mengatasi penyebaran judi online di kalangan pelajar. Edukasi dan sosialisasi perlu dilakukan sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Sekolah dapat memasukkan materi tentang literasi digital, bahaya judi online, hingga dampak hukum dan sosialnya. Guru di sekolah perlu aktif memberikan pemahaman kepada pelajar tentang bagaimana menggunakan internet secara sehat dan bertanggung jawab. Selain itu, pemerintah dan lembaga terkait harus memperketat regulasi serta melakukan pengawasan terhadap situs dan aplikasi yang berpotensi digunakan sebagai sarana perjudian.

Selain edukasi dan pengawasan, pencegahan juga dapat dilakukan melalui kegiatan positif di sekolah. Sekolah dapat menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang menarik seperti olahraga, seni, kewirausahaan, hingga literasi digital sehingga pelajar memiliki wadah untuk menyalurkan energi dan kreativitasnya.

Dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan yang positif, pelajar akan lebih terarah dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Guru dan pembina ekstrakurikuler dapat berperan sebagai mentor yang membantu pelajar membangun kepercayaan diri dan semangat untuk berprestasi di bidang-bidang yang bermanfaat.

Sealin itu, peran orang tua sangat penting dalam upaya pencegahan. Orang tua juga harus terlibat secara aktif untuk mengawasi ruang digital anak-anak mereka. Pengawasan terhadap penggunaan handphone perlu dilakukan secara bijak, bukan dengan larangan keras melainkan melalui pendekatan komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan.

Orang tua juga perlu menanamkan nilai moral, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini agar anak memiliki pondasi kuat dalam mengambil keputusan. Pemberian perhatian, kasih sayang, dan contoh perilaku yang baik, anak akan merasa diperhatikan dan mereka tidak akan mencari pelarian ke hal-hal negatif.

Langkah penanggulangan harus dilakukan secara komprehensif terhadap pelajar yang sudah terpapar judi online. Sekolah perlu melakukan pendekatan yang tidak menghakimi, melainkan bersifat pembinaan dan pemulihan. Guru bisa bekerjasama dengan psikolog untuk melakukan asesmen dan pendampingan psikologis guna mengidentifikasi tingkat kecanduan serta dampak emosional yang dialami pelajar.

Pendekatan personal sangat diperlukan agar pelajar merasa diterima dan mau terbuka terhadap proses rehabilitasi. Selain itu, komunikasi dengan orang tua harus terjalin baik agar proses pemulihan dapat berjalan selaras antara rumah dan sekolah.

Sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari pengaruh judi online. Upaya konkret yang dapat dilakukan antara lain membentuk Satgas Anti Judi Online Sekolah yang bertugas melakukan sosialisasi, deteksi dini, serta melaporkan potensi kasus ke pihak terkait.

Sekolah juga dapat menjalin kerja sama dengan kepolisian, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta lembaga sosial untuk mengadakan kampanye dan pelatihan literasi digital. 

Pada akhirnya, judi online di kalangan pelajar bukan hanya permasalahan individu melainkan persoalan sosial yang memerlukan kerja sama lintas sektor. Pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bersinergi dalam menciptakan sistem perlindungan anak di era digital.

Upaya preventif, penanggulangan, dan rehabilitasi harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan penguatan moral generasi muda. Pelajar perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, pengendalian diri, serta nilai-nilai integritas agar mampu menghadapi tantangan dunia digital secara bijak.

]]>
Thu, 30 Oct 2025 21:56:37 +0800 amr
Gak Perlu Diet, Makan Saja” — Tafsir atas Kesederhanaan dan Makna Hidup https://amarmedia.co.id/gak-perlu-diet-makan-saja-tafsir-atas-kesederhanaan-dan-makna-hidup https://amarmedia.co.id/gak-perlu-diet-makan-saja-tafsir-atas-kesederhanaan-dan-makna-hidup “Gak Perlu Diet, Makan Saja” — Tafsir atas Kesederhanaan dan Makna Hidup

Catatan  : Agus K Saputra

Ada momen ketika keheningan berbicara lebih nyaring daripada kata-kata. Itulah yang saya rasakan ketika seorang kawan lama, Didu—aktivis semasa kuliah—menulis sebuah catatan sederhana di selembar kertas:

“Gak perlu diet, makan saja.”

Kalimat itu disertai sebait puisi pendek, yang sekilas tampak jenaka, ringan, bahkan absurd. Tapi semakin saya renungkan, semakin dalam maknanya menggali. Ada semacam ironi lembut di dalamnya, sekaligus kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup yang panjang. 

Didu bukan sekadar bercanda. Ia sedang mengingatkan sesuatu tentang kehidupan, tentang keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, tentang menerima diri sendiri di tengah dunia yang penuh tekanan dan pencitraan.

Kita hidup di zaman yang penuh tuntutan. Dunia hari ini terlalu sering menyuruh orang untuk “diet”—bukan hanya diet makanan, tapi juga diet dari banyak hal: diet emosi, diet ekspresi, diet kebebasan berpikir. 

Kita diminta menyesuaikan diri dengan standar sosial yang sempit: harus kurus, harus produktif, harus tampak bahagia, harus tampak sukses.

Di tengah situasi itulah pesan Didu terasa seperti angin segar: “Gak perlu diet, makan saja.” Kalimat ini seolah menolak segala bentuk tekanan yang datang dari luar diri. 

             

Ia mengajak kita untuk hidup dengan apa adanya, tanpa takut dianggap berlebihan. Seperti dalam puisi yang ia tulis:

dengan senyum simpul

kau menghadap angin

memberi makna tentang hidup

Ada gestur sederhana namun kuat di sana: menghadapi angin. Angin bisa diartikan sebagai kehidupan itu sendiri, dengan segala arah dan tekanannya. Tapi “kau” di dalam puisi itu tidak melawan, tidak juga menyerah. Ia hanya menghadap—sebuah sikap pasrah yang aktif, menerima sekaligus sadar. Dan dalam senyum simpul itu, hidup menemukan maknanya yang paling tenang.

Kesederhanaan Lahir Kedalaman

Puisi Didu mungkin tampak seperti permainan kata sederhana. Tapi jika kita perhatikan bait berikut:

tak perlu diet

makan saja

seolah jadi patron

Di sini terselip paradoks yang menohok. Dalam dunia yang gemar membatasi, ajakan untuk “makan saja” bisa terbaca sebagai perlawanan terhadap sistem yang menekan spontanitas manusia. Didu mengubah tindakan sehari-hari—makan—menjadi simbol kebebasan eksistensial.

“Makan saja” bukan berarti serakah atau abai pada kesehatan. Ia lebih menyerupai seruan untuk menyerap kehidupan tanpa rasa takut. Dalam konteks aktivisme yang pernah kami jalani bersama, kalimat itu bahkan bisa dibaca sebagai metafora politik: jangan terlalu banyak “diet” idealisme, jangan membatasi keberanian, jangan menahan empati. Hidup bukan tentang menolak, tapi tentang menerima dan menyalurkan energi kehidupan ke arah yang lebih manusiawi.

Menarik pula bahwa Didu menulis:

dari konspirasi pelik

bertabur tanda tanya

di tengah kesederhanaan

Ada pengakuan bahwa dunia memang rumit—penuh konspirasi, penuh tanda tanya. Namun, di tengah semua itu, Didu memilih kesederhanaan sebagai jalan. Mungkin inilah bentuk kedewasaan sejati: memahami bahwa hidup tak perlu selalu dijelaskan, tak perlu selalu benar, cukup dijalani dengan jujur dan sederhana.

Saya masih ingat, dulu Didu adalah orang yang paling keras kepala di antara kami. Dalam setiap diskusi di kampus, suaranya lantang, ide-idenya tajam, dan semangatnya seperti tak pernah padam. Tapi kini, lewat catatan pendek itu, saya melihat Didu yang lain: lebih tenang, lebih dalam, lebih memahami diam.

Ketika saya membaca pesannya, saya justru terdiam. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Mungkin karena saya sadar bahwa dalam perjalanan hidup, banyak dari kita telah “berdiet” terlalu lama—menahan rasa, membatasi impian, menekan keinginan untuk sekadar menikmati hidup apa adanya. Kita terlalu sibuk mempercantik diri di luar, sampai lupa memberi makan batin sendiri.

Pesan Didu seperti menampar dengan lembut: berhentilah menahan diri berlebihan. Nikmatilah kehidupan, sebagaimana adanya. “Makan saja”—bukan sekadar untuk tubuh, tapi juga untuk jiwa.

Dalam konteks spiritualitas yang lebih luas, kalimat itu bahkan bisa dibaca sebagai ajakan untuk merasakan sepenuhnya keberadaan. Bahwa setiap detik kehidupan—dengan rasa pahit, manis, getir, asin—adalah santapan yang membentuk manusia seutuhnya. Menolak rasa adalah menolak hidup itu sendiri.

Menemukan Makna dalam Keluguan

Kini, setiap kali saya ingat Didu dan catatan kecilnya, saya belajar untuk tidak terlalu rumit memahami dunia. Kadang, kebijaksanaan tidak datang dari buku tebal atau pidato panjang, melainkan dari selembar tulisan sederhana yang keluar dari hati yang tulus.

“Gak perlu diet, makan saja,” adalah seruan untuk kembali menjadi manusia yang utuh. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus sempurna, tidak harus ramping, tidak harus terkendali sepenuhnya. Hidup adalah tentang rasa—dan rasa itu hanya bisa hadir jika kita berani mencicipinya tanpa takut.

Didu, dengan senyum simpulnya, telah memberi pelajaran mendalam tentang makna hidup. Ia mengajarkan bahwa kesederhanaan bukanlah kebodohan, melainkan bentuk paling jernih dari kebijaksanaan.

Dan mungkin, dalam keheningan saya yang panjang setelah membaca puisinya, saya mulai benar-benar mengerti:

kadang yang paling manusiawi yang bisa kita lakukan hanyalah makan saja—

menelan hidup bulat-bulat, tanpa perlu “diet” dari rasa, dari luka, dari cinta, dari dunia.

*Penulis adalah Pemerhati Sosial, Ekonomi dan Budaya

#Akuair-Ampenan, 28-10-2025

]]>
Wed, 29 Oct 2025 06:18:52 +0800 amr
Sumpah Pemuda, Hari Menguatkan Literasi Bangsa https://amarmedia.co.id/sumpah-pemuda-hari-menguatkan-literasi-bangsa-4686 https://amarmedia.co.id/sumpah-pemuda-hari-menguatkan-literasi-bangsa-4686 Sumpah Pemuda, Hari Menguatkan Literasi Bangsa

Oleh Sri Asmediati, S. Pd.

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

SEMBILAN puluh tujuh tahun silam, pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul di sebuah gedung sederhana di Jalan Kramat Raya 106, Batavia. Dari Ambon hingga Minangkabau, dari Batak hingga Jawa, dari pesisir hingga pedalaman; mereka membawa harapan yang sama: mengakhiri ketercerai-beraian dan menjalin persatuan. 

Mereka menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak akan pernah berhasil jika dipikul sendiri-sendiri, jika terbelah oleh sekat-sekat kedaerahan, oleh ego kesukuan, atau oleh bahasa yang tidak saling dipahami.

Dari pertemuan penting itulah lahir sebuah tonggak sejarah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. 

Para pemuda saat itu dengan berani mengaku satu tanah air: Indonesia, satu bangsa: bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi satu bahasa pemersatu: Bahasa Indonesia. 

Ketiganya bukan sekadar frasa yang dihapalkan generasi demi generasi, tetapi manifestasi dari tekad yang membara. Mereka sedang menulis masa depan bangsa dengan tinta persatuan. 

Bung Karno pernah mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan semangat untuk bermimpi.” Mimpi itulah yang sedang diperjuangkan para pemuda 1928.

Pilihan terhadap Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah keputusan yang cemerlang dan berani. Dalam situasi ketika bahasa Belanda mendominasi pendidikan dan administrasi pemerintah, serta ratusan bahasa daerah hidup secara alami di tengah masyarakat, para pemuda memilih bahasa yang lahir dari bumi Nusantara sendiri. 

Bahasa Melayu yang kemudian disebut sebagai akar Bahasa Indonesia dipandang sebagai bahasa yang bersifat merangkul. Ia mudah dipahami, tidak memihak salah satu etnis dominan, dan mampu berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Keputusan itu menjadi fondasi penting bagi gerakan literasi bangsa. Dengan satu bahasa bersama, sekolah-sekolah mampu mengajar dengan kurikulum yang seragam, buku pelajaran dapat disebarkan ke seluruh penjuru, dan komunikasi antarsuku berlangsung tanpa hambatan. 

Chairil Anwar kemudian menegaskan nilai bahasa ini melalui syair-syairnya yang menggugah, seraya berucap lantang dalam sajaknya, “Aku ini binatang jalang… aku mau hidup seribu tahun lagi!” Itulah semangat literasi: hidup, bertahan, dan terus menggerakkan pemikiran.

Momentum historis penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan inilah yang menjadikan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa. Setiap tanggal 28 Oktober, kita tidak hanya memperingati kongres pemuda dan sumpah yang mereka lantunkan, tetapi juga merayakan dan merawat bahasa serta sastra Indonesia. 

Ini bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi penegasan bahwa literasi adalah nadi kemajuan bangsa.

Bahasa menjadi alat perjuangan yang membebaskan. Melalui bahasa, para tokoh menulis petisi, melahirkan laporan jurnalistik, mendokumentasikan penderitaan rakyat, dan memantik kesadaran nasional. 

Di tangan wartawan, penulis, dan pemikir, bahasa Indonesia berubah menjadi senjata yang lebih tajam dari peluru. 

Pramoedya Ananta Toer pernah menuliskan, “Selama kata-kata masih terangkai, selama itu pula kita bisa berharap.”

Kita pun patut bertanya kepada diri sendiri: bagaimana mungkin bangsa yang memiliki sejarah hebat dalam literasi kini mulai jarang membaca dan kurang menulis? Bagaimana generasi digital yang begitu fasih berselancar di media sosial, tetapi gagap ketika diminta menuliskan pemikiran yang mendalam dan berstruktur? 

Di sinilah tantangan Sumpah Pemuda untuk abad ke-21: menjaga agar bahasa dan literasi tidak sekadar hidup secara teknis, tetapi bermartabat dan memerdekakan.

Literasi hari ini bukan hanya kemampuan mengeja dan membaca buku pelajaran. Literasi adalah kemampuan menafsirkan zaman, memilah informasi, menyuarakan kebenaran, membangun gagasan, dan melahirkan inovasi.

]]>
Tue, 28 Oct 2025 10:24:43 +0800 amr
Sastra bagi Kecerdasan Anak : Fondasi Empati, Kreativitas dan Inovasi https://amarmedia.co.id/sastra-bagi-kecerdasan-anak-fondasi-empati-kreativitas-dan-inovasi https://amarmedia.co.id/sastra-bagi-kecerdasan-anak-fondasi-empati-kreativitas-dan-inovasi Sastra bagi Kecerdasan Anak : Fondasi Empati, Kreativitas dan Inovasi

Oleh Sri Asmediati, S. Pd

Memahami dan menikmati karya sastra bukan hanya soal membaca kata, tetapi membuka cakrawala baru bagi pikiran dan jiwa. Sastra mengajak kita merasakan hidup orang lain, menyelami konflik, dan menghadapi dilema moral yang kompleks. Pengalaman ini membentuk empati, salah satu fondasi kecerdasan dasar hidup. Dengan empati, manusia mampu menilai tindakan, memahami konsekuensi, dan mengambil keputusan yang lebih bijak. Anak-anak yang diperkenalkan pada sastra sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk memahami diri dan lingkungan. Maka, sastra bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pembelajaran hidup yang mendalam.

Selain empati, sastra mendorong refleksi eksistensial. Ia menantang pembaca bertanya siapa mereka, apa yang penting, dan bagaimana mereka ingin hidup. Proses ini menumbuhkan kesadaran diri dan kemampuan menilai nilai-nilai moral. Bahkan ada kejahatan atau situasi kompleks yang sama sekali tanpa saksi, namun pembaca belajar memahami motif dan akibatnya melalui cerita. Dengan begitu, sastra mengajarkan kita memaknai pengalaman tanpa harus mengalaminya secara langsung. Pembelajaran semacam ini adalah latihan hidup yang sangat berharga.

Pendidikan anak menjadi lebih kaya ketika sastra diperkenalkan sejak dini. Anak belajar mengenali emosi, konflik, dan solusi melalui cerita, tanpa merasa terpaksa. Mereka berlatih memahami orang lain, mengasah kecerdasan sosial dan emosional. Kemampuan ini adalah fondasi penting untuk interaksi manusia yang sehat. Sastra juga membangun keterampilan berpikir kritis, karena anak diajak menafsirkan peristiwa dan merenungkan implikasinya. Dengan cara ini, pendidikan sastra menjadi investasi jangka panjang bagi kecerdasan hidup anak.

Imajinasi adalah inti dari pengalaman sastra. Membaca karya fiksi atau puisi membiasakan anak melihat kemungkinan di luar batas realitas. Imajinasi yang terlatih kemudian menjadi sumber kreativitas. Dengan imajinasi, seseorang mampu memvisualisasikan solusi baru atau alternatif dalam berbagai situasi. Ini adalah dasar inovasi, yang tidak mungkin lahir tanpa kemampuan berpikir kreatif. Maka, sastra bukan hanya seni, tetapi juga laboratorium imajinasi.

Banyak teknologi modern terinspirasi dari karya sastra. Jules Verne, misalnya, membayangkan perjalanan ke bulan dan kapal selam, yang kemudian menjadi kenyataan melalui inovasi ilmiah. Konsep robotika, kendaraan terbang, atau komunikasi jauh juga sering muncul dari dunia fiksi sebelum diwujudkan. Hal ini membuktikan bahwa imajinasi literer dapat menjadi bahan bakar penemuan nyata. Pembaca yang terbiasa menembus batas cerita belajar berpikir “apa yang mungkin” dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Sastra, dengan demikian, menjadi jembatan antara ide dan inovasi.

Kecerdasan dasar hidup yang diasah melalui sastra meliputi empati, refleksi diri, kreativitas, dan kemampuan sosial. Anak-anak dan orang dewasa yang terbiasa membaca karya sastra cenderung lebih adaptif menghadapi kompleksitas hidup. Mereka lebih mampu memahami perubahan, menilai risiko, dan berinovasi. Sastra juga melatih ketahanan mental melalui pengalaman emosional tokoh yang dibaca. Pembelajaran semacam ini sulit diperoleh dari buku pelajaran biasa. Oleh karena itu, sastra adalah fondasi penting untuk kecerdasan yang utuh.

Menyelami karya sastra juga melatih kesabaran dan konsentrasi. Membaca cerita panjang atau puisi yang kompleks membutuhkan fokus, ketekunan, dan kemampuan menganalisis. Keterampilan ini sangat relevan dalam dunia modern yang penuh distraksi. Kemampuan fokus dan menganalisis meningkatkan produktivitas dan efektivitas belajar atau bekerja. Sastra menjadi sarana tak langsung untuk melatih otak menghadapi tantangan nyata. Proses ini mengajarkan bahwa berpikir mendalam dan reflektif adalah bagian dari kecerdasan hidup.

Selain itu, sastra membiasakan kita menerima ambiguitas dan ketidakpastian. Tidak semua cerita memiliki akhir jelas atau jawaban tunggal. Menghadapi ketidakpastian ini melatih fleksibilitas berpikir dan toleransi terhadap perbedaan. Kualitas ini penting dalam kehidupan nyata, di mana situasi kompleks dan perubahan cepat adalah hal biasa. Pembaca sastra belajar bahwa pemahaman dan solusi tidak selalu sederhana, tetapi selalu mungkin ditemukan melalui refleksi dan kreativitas. Hal ini menyiapkan mereka menghadapi kehidupan dengan kesiapan mental dan inovatif.

Dengan kata lain, sastra bukan hanya seni atau hiburan, tetapi fondasi bagi kecerdasan hidup, kreativitas, dan inovasi. Empati, refleksi, imajinasi, dan fleksibilitas berpikir semuanya diasah melalui pengalaman membaca. Pendidikan yang menempatkan sastra di posisi strategis mempersiapkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi bijak, kreatif, dan inovatif. Teknologi dan penemuan besar pun sering berakar dari inspirasi literer. Oleh karena itu, membaca dan memahami karya sastra adalah investasi untuk kehidupan nyata. Sastra, pada akhirnya, mengajarkan kita hidup dengan penuh makna dan kemampuan berinovasi.(AM)

]]>
Tue, 28 Oct 2025 09:44:51 +0800 amr
Santri Menulis, Santri Berdaya https://amarmedia.co.id/santri-menulis-santri-berdaya https://amarmedia.co.id/santri-menulis-santri-berdaya MENULIS adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi keilmuan. Dalam sejarah Islam, para ulama terdahulu tidak hanya mengajar dan berdakwah di mimbar, tetapi juga menulis kitab, risalah, hikayat, dan puisi atau syair. 

Mereka memahami bahwa pena bisa menjadi senjata yang lebih tajam daripada pedang. Tulisan mereka melintasi ruang dan waktu, menjadi sumber ilmu dan inspirasi lintas generasi.

Di Nusantara, tradisi ini diteruskan oleh banyak ulama besar, salah satunya Buya Hamka, seorang ulama, pemikir, dan sastrawan asal Ranah Minang. Hamka tidak hanya dikenal karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena karya-karyanya yang mendalam secara spiritual dan estetis, seperti “Di Bawah Lindungan Ka'bah”, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, “Tafsir Al-Azhar”, “Tasauf Modern”, dan lainnya. 

Melalui tulisan, Hamka membumikan nilai-nilai Islam dengan bahasa yang indah dan humanis. 

Fisiknya memang telah tiada, tetapi kata-katanya tetap hidup. Ia membuktikan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, seperti kata Pramoedya Ananta Toer. Dengan menulis, seorang ulama atau santri meninggalkan jejak pemikiran yang tak lekang oleh waktu.

Namun, masih sering ditemukan ada pesantren atau madrasah yang melarang para santrinya membaca karya fiksi dengan alasan bahwa bacaan semacam itu bisa melalaikan dari pelajaran agama atau menanamkan nilai yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Akibatnya, sebagian santri tumbuh tanpa pengalaman menikmati keindahan bahasa dan keluasan imajinasi yang ditawarkan oleh dunia sastra. 

Padahal, dari kebiasaan membaca fiksi yang baik, bisa tumbuh kecintaan pada menulis, sebuah keterampilan penting yang semestinya menjadi bagian dari tradisi intelektual Islam. 

Pelarangan semacam itu, disadari atau tidak, justru menumpulkan daya pikir kritis dan mengekang semangat literasi di kalangan santri.

Setiap tanggal 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, momentum untuk mengenang peran besar para santri dalam perjuangan bangsa. Penetapan hari itu merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi tersebut menyerukan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan. 

Semangat jihad kala itu bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga semangat spiritual, moral, dan intelektual. 

Maka, refleksi Hari Santri hari ini seharusnya tidak hanya memuliakan sejarah masa lalu, tetapi juga menegaskan peran santri di medan perjuangan baru: medan ilmu, literasi, dan penulisan.

Dengan menulis, santri meneruskan jejak para ulama yang menempatkan ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk umat. Tulisan menjadi wadah berbagi hikmah dan dakwah yang mendalam.

Menulis juga membantu santri menjadi intelektual organik, yaitu mereka yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Santri yang menulis dapat menafsirkan ajaran agama sesuai konteks zaman, menulis dengan rasional tanpa kehilangan spiritualitas, serta menyampaikan gagasan dengan artikulatif dan bertanggung jawab.

Selain itu, bagi santri menulis memperkuat dakwah di era digital. Di tengah derasnya arus informasi dan konten yang dangkal, santri harus hadir sebagai penulis yang menyebarkan narasi Islam yang damai, toleran, dan berpikiran maju. 

Tulisan yang baik dapat menandingi disinformasi dan ekstremisme yang kerap menjamur di media sosial.

Melalui tulisan, santri berlatih berpikir jernih, mengelola emosi, dan mengenali dirinya sendiri. 

Proses menulis adalah proses “tazkiyatun nafs”, penyucian jiwa. Ia menjadi bentuk zikir panjang, mengingat Tuhan melalui refleksi kata dan makna. Jika dilakukan secara sungguh-sungguh, menulis bisa menjadi bekal masa depan. 

Dunia modern membutuhkan kemampuan menulis di banyak bidang: akademik, jurnalistik, komunikasi, dan industri kreatif. Santri yang menulis dengan terampil akan lebih siap menghadapi tantangan dunia profesional maupun dunia dakwah.

Agar mahir, kebiasaan menulis selalu berakar pada kebiasaan membaca. Ketika santri dilarang membaca karya fiksi, mereka kehilangan salah satu sumber terpenting dalam mengasah imajinasi dan kepekaan rasa. Padahal, karya fiksi yang baik bukanlah ancaman bagi moral, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih luas tentang kemanusiaan dan nilai-nilai Islam.

Yang diperlukan bukan pelarangan, melainkan pendampingan. Guru atau ustaz perlu membaca terlebih dahulu karya fiksi yang akan direkomendasikan kepada santri. Banyak buku-buku fiksi yang bagus ditulis oleh berbagai pengarang. Buku-buku itu bacaan yang sarat nilai moral dan religius. Dari kebiasaan membaca yang sehat, akan tumbuh kecintaan menulis yang mendalam. 

Santri yang membaca dengan hati, akan menulis dengan jiwa. Kalaupun ia akan berbicara (berpidato, berceramah, mengajar di depan kelas, atau bentuk dakwah lainnya), bahasa yang ia gunakan akan indah, membawa kedamaian, karena dari lisannya tumbuh diksi-diksi sastra yang menyejukkan.

Menulis bukan hanya kegiatan personal, tetapi juga fondasi peradaban. Semua bangsa besar menulis sejarahnya sendiri. Tulisan adalah cara manusia melawan lupa. Tanpa tulisan, pengetahuan akan lenyap bersama usia manusia.

Bangsa Indonesia pun lahir dari kata dan teks, dari Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan. Karena itu, santri sebagai penjaga moral bangsa, harus turut menjadi penulis sejarah baru bagi negeri ini. 

Pesantren atau madrasah perlu menumbuhkan budaya literasi dengan menyediakan ruang kreatif seperti sanggar menulis, klub sastra, atau penerbitan media pesantren. Ruang semacam itu menjadi laboratorium tempat santri belajar berpikir kritis dan mengolah gagasan.

Menulis juga membawa manfaat psikologis. Ia menenangkan jiwa, mengurai kegelisahan, dan menyalurkan aspirasi batin. Dalam prosesnya, santri belajar disiplin, ketekunan, dan kejujuran yang merupakan tiga kualitas utama seorang pencari ilmu sejati.

Santri yang menulis sebenarnya sedang membangun peradaban. Mereka menanam nilai-nilai Islam dalam tanah kebudayaan modern, menumbuhkan pengetahuan yang berakar pada moralitas dan kemanusiaan.

Hari ini, kita hidup di era di mana setiap orang bisa menulis, tetapi tidak semua mau menulis. Teknologi mempermudah, namun hanya mereka yang konsistenlah yang akan dikenang. Karena itu, santri harus terus menulis, bukan demi eksistensi, tetapi demi kontribusinya bagi bangsa dan agama.

Tulislah apa saja: esai, puisi, cerpen, novel, kisah perjalanan, atau catatan renungan yang reflektif. Kata-kata yang ditulis dengan niat baik akan menjadi amal jariyah yang mengalirkan pahala. 

Barangkali tulisan sederhana hari ini akan menginspirasi seseorang di masa depan.

Menulis adalah menanam. Hari ini santri menanam huruf demi huruf, kelak tumbuh pohon-pohon ilmu dan hikmah.

Jika ingin dikenang, menulislah. Jika ingin berdakwah tanpa batas, menulislah. Jika ingin menolong jiwa sendiri dan jiwa orang lain, menulislah. 

Tulisan yang lahir dari hati akan sampai ke hati dan tidak akan pernah mati. (AM)

]]>
Wed, 22 Oct 2025 20:00:12 +0800 amr
Pembangunan Kebudayaan Berbasis Data IPK Ikhtiar Untuk Meningkatkan Kinerja Pembangunan Kebudayaan di Kabupaten Sumbawa https://amarmedia.co.id/pembangunan-kebudayaan-berbasis-data-ipk-ikhtiar-untuk-meningkatkan-kinerja-pembangunan-kebudayaan-di-kabupaten-sumbawa https://amarmedia.co.id/pembangunan-kebudayaan-berbasis-data-ipk-ikhtiar-untuk-meningkatkan-kinerja-pembangunan-kebudayaan-di-kabupaten-sumbawa Koentjaraningrat, seorang ahli antropologi terkemuka dari Indonesia, memiliki pandangan tentang kebudayaan yang cukup komprehensif. Menurutnya, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, seperti tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Pemajuan kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia ditengah peradaban dunia melalui perlindungan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan. Pemajuan kebudayaan bertujuan untuk mengembangkan nili nilai luhur bangsa, memperkaya keragaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, dan meningkatkan citra bangsa.

Kebudayaaan pada esensinya memiliki peran yang sangat penting untuk pembangunan bangsa, dan berkaitan erat dengan peletakan pondasi pembangunan yang berkelanjutan. Sejumlah negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan Taiwan mampu melakukan akselerasi pembangunan sosial-ekonomi berbasis kebudayaan, dengan melakukan kapitalisasi atas nilai-nilai dan kekayaan budaya melalui proses modernisasi.

Alat untuk mengukur kinerja pembangunan kebudayaan baik skala nasional maupun daerah adalah dengan menganalisis hasil survey Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) yang dilaksanakan oleh Bappenas dan Badan Pusat Statistik bersama Kemendikbud. Indeks Pembangunan Kebudayaan disusun dengan mengacu pada konsep Culture Development Indicators (CDIs) UNESCO. CDIs UNESCO memiliki serangkaian dimensi dan indikator yang menyoroti tentang kontribusi kebudayaan terhadap pembangunan, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta membantu individu dan masyarakat untuk memperluas pilihan hidup, dan beradaptasi pada perubahan.

Indeks Pembangunan Kebudayaan diharapkan dapat memberikan gambaran pembangunan kebudayaan secara lebih holistik dengan memuat 7 (tujuh) dimensi, yakni: (1) dimensi ekonomi budaya; (2) dimensi pendidikan; (3) dimensi ketahanan sosial budaya; (4) dimensi warisan budaya; (5) dimensi ekspresi budaya; (6) dimensi budaya literasi; dan (7) dimensi kesetaraan gender. Ketujuh dimensi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kebudayaan memiliki ruang lingkup yang cukup luas dan bersifat lintas sektor. Berdasarkan dimensi CDIs tersebut, dan merujuk pada Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dilakukan indikator kandidat pemetaan penyusun IPK, sehingga diperoleh 40 indikator penyusun IPK.

Sayangnya pemetaan hasil survey hanya sampai pada tingkatan provinsi sedangkan kabupaten/kota tidak tersedia di web kementerian Kebudayaan. Diperlukan penelusuran lebih lanjut untuk mendapatkan data hasil survey khususnya untuk mengetahui hasil survey IPK Kabupaten Sumbawa. Hal ini diperlukan agar menjadi data awal dalam rangka menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah, sekaligus penyusunan program berbasis data riset.

Yang dapat dijadikan rujukan sementara adalah menggunakan hasil survey IPK Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hasil survey tahun 2023 menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Kebudayaan provinsi Nusa Tenggara Barat dari ketujuh dimensi yang diukur mencapai 57,37 sedangkan rata rata nasional 57,13.,dengan demikian IPK NTB berada diatas rata rata nasional. Kendati demikian bukan berarti semua indikator menunjukkan hasil positif, ada beberapa dimensi yang berada di bawah rata rata nasional. Dimensi ekonomi budaya; rata rata nasional nasional 29,50 sedangkan NTB 41, 94 diatas rata rata nasional, dimensi pendidikan rata rata nasional 73,35 sedangkan NTB rata rata 71,91 dibawah rata rata nasional,dimensi ketahanan sosial budaya rata rata nasional 70,73 sedangkan NTB 66,97 dibawah rata rata nasional, dimensi warisan budaya rata rata nasional 51,54 sedangkan NTB 48,37 dibawah rata rata nasional. Dimensi ekspresi budaya rata rata nasional 34,91 sedangkan NTB 39,74 diatas rata rata nasional, dimensi literasi budaya rata rata nasional 60,49 sedangkan NTB 61,20 diatas rata rata nasional, dimensi gender rata rata nasional 58,71 sedangkan NTB 66,12 diatas rata rata nasional

Capaian pada dimensi tertentu menunjukkan rendahnya capaian pada beberapa indikator. Pada dimensi warisan budaya, yang selama ini menjadi concern untuk mendapatkan porsi intervensi menunjukkan kelemahan pada indikator persentase benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan cagar budaya jika dibandingkan dengan total yang sudah didaftarkan, capaian NTB hanya 1,76 berada dibawah rata rata nasional yang mencapai 8, 08.

Masih banyak indikator yang memerlukan atensi serius jika kita mengacu pada pendekatan pembangunan yang berbasis data riset untuk pengambilan keputusan yang lebih akurat, peningkatan efektifitas program, evaluasi, dan pengalokasian sumber daya yang lebih efisian. Analisis hasil survei dapat digunakan untuk penentuan program prioritas daerah agar adanya peningkatan capaian IPK setiap tahun, penyusunan regulasi dalam upaya memperkuat peran kebudayaan sebagai bagian dari landasan pembangunan daerah, sehingga arah pembangunan kebudayaan sesuai dengan visi misi Kabupaten Sumbawa menuju Sumbawa unggul, maju dan sejahtera. (AM)

]]>
Mon, 20 Oct 2025 19:34:56 +0800 amr
Ketika Guru Hilang Wibawa dan Murid Hilang Sopan Santun https://amarmedia.co.id/ketika-guru-hilang-wibawa-dan-murid-hilang-sopan-santun https://amarmedia.co.id/ketika-guru-hilang-wibawa-dan-murid-hilang-sopan-santun Ketika Guru Hilang Wibawa dan Murid Hilang Sopan Santun

Oleh Sri Asmediati, S. Pd

Generasi X yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980 dan Generasi Y yang lahir antara 1981 hingga 1996 tumbuh dalam suasana pendidikan yang keras tetapi “menjadi.” Menjadi di sini berarti mereka berkarakter, tahu sopan santun, dan tahu bagaimana menghargai guru serta orang tua.

Satu teguran dari guru atau orang tua sudah cukup membuat anak mengingatnya seumur hidup.

Tak jarang, di masa itu, guru atau orang tua menegur dengan suara keras, mencubit, bahkan mengancam dengan rotan atau penggaris. Meski sekilas tampak keras, pada hakikatnya itu adalah ekspresi cinta dan kepedulian. Di balik amarah seorang guru tersimpan niat luhur untuk menjadikan muridnya manusia yang beradab.

Kini, zaman berubah. Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam dunia digital yang serba instan. Gawai, internet, dan media sosial menjadi guru baru yang diam-diam mengambil alih peran orang tua dan guru di rumah maupun di sekolah. Tak jarang tontonan menjadi tuntunan, sebaliknya tuntunan menjadi tontonan.

Perubahan ini membuat pola asuh dan pola didik juga berubah. Kekerasan fisik tidak lagi dibenarkan, tetapi anehnya, sopan santun justru semakin menipis. Banyak anak berani membantah orang tua, murid melawan guru, bahkan tak jarang memviralkan gurunya sendiri di media sosial ketika tidak puas dengan perlakuan di sekolah, termasuk melaporkannya ke aparat kepolisian.

Kita hidup di zaman yang serba “meledak”: ledakan informasi, ledakan opini, dan ledakan ekspresi yang tak lagi mengenal batas etika. Dalam situasi seperti ini, literasi seharusnya menjadi tameng yang menyejukkan.

Sayangnya, banyak yang memaknai literasi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi sejati adalah kemampuan memahami nilai, menimbang etika, dan meneladani kebijaksanaan. 

Literasi bukan hanya membaca teks, melainkan membaca diri, membaca orang lain, membaca lingkungan. Literasi bukan sekadar menulis huruf, melainkan juga menulis akhlak dan bagaimana mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Andai literasi benar-benar berjalan di sekolah—bukan sekadar acara seremonial—kita tak akan mendengar berita guru menampar murid atau murid merokok di sekolah, atau kasus-kasus serupa itu. Sebab literasi, pada hakikatnya, menajamkan rasa dan menumbuhkan empati.

Anak yang terbiasa membaca cerita perjuangan, mendengarkan kisah moral, dan berdiskusi tentang nilai-nilai kehidupan akan lebih mudah mengukur perbuatan. Ia akan berpikir sebelum bertindak, merasa sebelum menyakiti, dan menimbang sebelum melawan.

Menampar siswa karena merokok tentu tidak dapat dibenarkan, sebab kekerasan bukanlah solusi pendidikan. Namun di sisi lain, guru yang berjuang menjaga wibawa dan kedisiplinan sekolah pun tidak boleh disudutkan. Ia berada di tengah pusaran dilema: ingin menegakkan aturan tetapi dibatasi oleh ketakutan dianggap melanggar hak asasi manusia. Padahal, membiarkan siswa merokok sama saja dengan mengabaikan kesehatan dan karakter mereka.

Di sinilah literasi berperan: sebagai jalan tengah yang menuntun guru bertindak bijak dan murid memahami batas kebebasan.

Literasi yang hidup di sekolah seharusnya melibatkan seluruh ekosistem pendidikan. Ia bukan hanya program membaca buku setiap pagi, melainkan kultur yang menjiwai keseharian: cara guru berbicara, cara siswa bersikap, cara orang tua berkomunikasi dengan anak. Ketika literasi dipahami sebagai kebiasaan berpikir, beretika, dan berempati, maka sekolah akan menjadi ruang yang manusiawi.

Tidak ada lagi guru yang marah karena kehabisan cara menegur, tidak ada lagi siswa yang melawan karena merasa tak dihargai.

Selain itu, keteladanan adalah ‘koentji’ dari kerja-kerja literasi di sekolah. Bagaimana bisa murid berhenti merokok jika masih ada oknum guru yang merokok meski di luar jam pelajaran? Bagaimana murid belajar menghargai waktu jika guru datang terlambat ke kelas? Bagaimana murid belajar sopan santun jika di rumah ia mendengar orang tuanya memaki atau sering bertengkar?

Literasi akan lumpuh jika tidak disertai keteladanan.

Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, melainkan dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Mereka meniru lebih cepat daripada mereka memahami.

Karena itu, literasi sejatinya dimulai dari keteladanan. Guru yang membaca akan melahirkan murid yang mencintai buku. Orang tua yang sabar dan santun akan menumbuhkan anak yang menghormati orang lain.

Sekolah dan rumah ibarat dua sisi mata uang: saling melengkapi, saling mencerminkan. Jika keduanya sama-sama menanamkan nilai, maka karakter anak akan tumbuh utuh.

Zaman boleh berubah, tetapi inti pendidikan tetap sama: membentuk manusia yang beradab.

Literasi, dengan segala bentuknya, adalah jalan menuju keadaban itu.

Ia tidak hanya mempersenjatai otak, tapi juga menuntun hati. Sekolah boleh melatih keterampilan abad ke-21, tetapi tanpa literasi nilai, semua kecakapan itu bisa kehilangan arah.

Kini, saat kita menyaksikan makin banyak anak yang kehilangan sopan santun dan guru yang kehilangan wibawa, barangkali bukan disiplin yang hilang, melainkan literasi yang lemah. Kita terlalu sibuk menghitung nilai ujian, tapi lupa menumbuhkan nilai-nilai kehidupan.

Pendidikan sejati tidak diukur dari banyaknya prestasi, tetapi dari sedikitnya amarah dan banyaknya kebijaksanaan. Di ruang-ruang kelas, literasi seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan; menghidupkan empati, bukan emosi.

Jika literasi berjalan dengan baik, tak akan ada lagi tangan yang menampar, tak akan ada lagi murid yang melawan, sebab di antara keduanya telah tumbuh saling pengertian yang berakar dari cinta dan keteladanan. (AM)

]]>
Mon, 20 Oct 2025 05:49:08 +0800 amr
Didikan Terbaik Bukan yang Selalu Dibalut Kapas https://amarmedia.co.id/didikan-terbaik-bukan-yang-selalu-dibalut-kapas https://amarmedia.co.id/didikan-terbaik-bukan-yang-selalu-dibalut-kapas Sekarang ini, banyak orang tua ingin anaknya mendapat pendidikan terbaik tapi yang dimaksud “terbaik” sering kali artinya tidak boleh ditegur, tidak boleh dihukum, apalagi dimarahi.

Pokoknya, sekolah harus seperti hotel bintang lima: anak datang disambut senyum, pulang dilepas dengan pujian. 

Kalau anaknya salah, yang salah ya... gurunya. Kalau anaknya nakal, yang kurang sabar... gurunya. 

Kalau anaknya merokok di sekolah? Wah, itu pasti karena “lingkungan sekolah yang tidak mendidik.”

Lucunya, ketika guru menegur dengan nada sedikit tinggi, atau memberi hukuman berdiri karena melanggar aturan, langsung heboh:

“Halo Pak Polisi, anak saya dizalimi guru!”

Padahal, di rumah pun si anak kadang masih teriak ke orang tuanya, “Mah, duitku mana?! Aku udah bilang dari kemarin!” tapi begitu ditegur guru, langsung orang tua tampil bak pahlawan super membela sang “korban pendidikan.”

Pertanyaannya sederhana:

Apakah guru itu sedang menyakiti, atau sedang menyelamatkan masa depan anak kita?

Sebab, dunia nanti tidak akan menegur anak kita dengan kata lembut. 

Atasan di kantor tidak akan bilang, “Kamu telat, tapi nggak apa-apa ya, yang penting kamu bahagia.”

Masyarakat tidak akan berkata, “Kamu salah, tapi kami tetap bangga karena kamu nyaman.”

Kalau sejak sekolah anak tidak pernah belajar tanggung jawab dan konsekuensi, maka jangan kaget kalau nanti dia tumbuh jadi orang dewasa yang alergi kritik, tidak tahan teguran, dan hobi menyalahkan keadaan.

Jadi, sebelum buru-buru melapor ke polisi karena guru menegur anak kita, coba cermin sebentar.

Barangkali yang perlu dididik ulang bukan cuma anaknya tapi juga ego orang tuanya.

Karena sejatinya, guru bukan lawan anak kita, tapi perpanjangan tangan kita dalam mendidiknya.

Kalau guru sudah takut mendidik, dan orang tua sibuk membela, jangan heran kalau nanti yang mendidik anak kita bukan guru… tapi kehidupan yang keras tanpa belas kasihan.

"Ketika Guru Tak Lagi Dihormati, tapi Disalahkan...!"

Ah, zaman memang sudah maju. 

Sekarang, kalau anak dimarahi guru karena malas, yang dipanggil bukan anaknya tapi gurunya. 

Kalau anak melanggar aturan, yang disalahkan bukan pelakunya tapi sistemnya. 

Dan kalau anak ditegur karena kurang sopan, orang tuanya yang justru naik pitam sambil berkata:

 “Anak saya kan masih kecil, Bu Guru!”

Lucunya, anak “kecil” itu sudah bisa bawa ponsel harga sebulan gaji guru.

Begitulah wajah pendidikan kita hari ini. Sekolah bukan lagi tempat belajar, tapi panggung drama: guru jadi tokoh antagonis, murid jadi korban, dan orang tua jadi sutradara yang paling vokal di grup WhatsApp kelas. Semua orang ingin menang, tapi lupa siapa yang seharusnya belajar.

Padahal, dulu... kalau guru menegur, kita menunduk. Sekarang, guru menegur direkam. Lalu videonya viral, lengkap dengan narasi “oknum guru berlaku kasar pada anak tak berdosa.” 

Dunia pun bertepuk tangan, tanpa tahu apa yang terjadi sebelum kamera menyala.

Ironinya, makin banyak yang bicara soal “pendidikan karakter,” tapi karakter yang muncul justru karakter sinetron: banyak drama, sedikit tanggung jawab.

Anak-anak belajar bahwa kesalahan bisa dihapus, bukan dengan penyesalan, tapi dengan pembelaan orang tua.

Dan para orang tua pun bangga, merasa berhasil “melindungi” anaknya padahal mereka sedang menyiapkan generasi yang alergi terhadap disiplin.

Kita lupa, guru bukan musuh, tapi cermin. Kalau guru tak lagi dihormati, yang retak bukan hanya wibawa sekolah, tapi moral rumah tangga. 

Karena dari sana lah anak belajar siapa yang pantas didengar, dan siapa yang boleh dibantah.

Dan ketika guru kehilangan hormat, murid kehilangan arah, orang tua kehilangan nalar maka jangan salahkan kurikulum, teknologi, atau zaman.

Yang perlu dibenahi bukan sistemnya… tapi ego kita sendiri.

Guru Dihujat Karena Menegakkan Aturan, Padahal Hanya Ingin Mengajarkan Tanggung Jawab

Menjadi guru di masa kini tak hanya tentang menyampaikan ilmu, tapi juga bertahan dari salah paham.  

Saat guru menegur murid yang melanggar aturan, niatnya bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk mengajarkan batas dan tanggung jawab. Namun di mata sebagian orang tua, teguran itu dianggap penghinaan, dan hukuman dianggap kekerasan.  

Padahal, aturan diciptakan bukan untuk menekan, tetapi untuk membentuk karakter. Jika anak dibiarkan melanggar tanpa konsekuensi, bagaimana ia belajar menghargai disiplin dan kejujuran? Guru yang menegur bukan karena benci, melainkan karena peduli — karena tahu bahwa dunia luar tak selalu memberi kesempatan kedua.  

Ironisnya, di zaman yang katanya modern ini, guru sering menjadi kambing hitam dari setiap masalah. Saat anak gagal, guru disalahkan. Saat anak dihukum, guru dilaporkan. Padahal di balik setiap keputusan, ada hati yang ingin melihat anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab.  

Menegakkan aturan bukan berarti kejam. Justru di situlah cinta seorang guru diuji — cinta yang berani tegas demi kebaikan masa depan anak didiknya.

Anak yang mudah tersinggung bukan tanda ia sensitif secara emosional, melainkan belum memiliki ketahanan psikologis yang matang. Ironisnya, banyak orang tua justru memperkuat sifat ini dengan berusaha “melindungi” anak dari semua bentuk kritik, rasa kecewa, atau ejekan kecil. Padahal, dalam dunia nyata, manusia yang terlalu mudah tersinggung cenderung kesulitan bekerja sama, sulit berpikir jernih, dan mudah melihat perbedaan pendapat sebagai serangan pribadi.

Fakta menariknya, menurut penelitian dari University of Michigan, anak yang dibesarkan di lingkungan terlalu protektif memiliki tingkat toleransi frustasi yang lebih rendah saat dewasa. Mereka tidak terbiasa menghadapi konflik emosi ringan, sehingga interpretasi terhadap situasi sosial jadi berlebihan. Maka, mengajarkan anak agar tidak mudah tersinggung bukan berarti mengajarkan mereka untuk “keras hati”, melainkan melatih kemampuan mengelola emosi dan memahami konteks sosial secara rasional.

1. Ajarkan perbedaan antara kritik dan serangan pribadi

Banyak anak menganggap kritik sebagai bentuk penolakan diri. Ketika guru mengatakan “tulisanmu belum rapi”, mereka mendengar “aku tidak pintar”. Untuk mengubah persepsi ini, orang tua perlu membedakan antara kritik terhadap perilaku dan penilaian terhadap identitas. Katakan, “Yang kurang itu hasilnya, bukan kamu.” Kalimat sederhana ini membangun jarak antara ego dan perbuatan.

Jika anak terbiasa mendengar kritik yang bersifat konstruktif, ia belajar menilai pesan, bukan nada. Ia akan terbiasa menganalisis konteks sebelum bereaksi emosional. Di sini, peran keluarga sangat penting sebagai ruang latihan rasionalitas emosional. Di logikafilsuf, hal-hal seperti ini sering dibahas lebih dalam: bagaimana anak bisa berpikir logis tanpa kehilangan empatinya.

2. Latih anak mengenali sumber emosinya sendiri

Anak mudah tersinggung karena tidak tahu dari mana rasa sakit hatinya muncul. Ia belum mampu memisahkan antara fakta dan tafsir. Saat teman bercanda, ia langsung menganggap itu hinaan. Orang tua bisa membantu dengan bertanya, “Kamu marah karena kata-katanya, atau karena kamu merasa diremehkan?” Pertanyaan reflektif ini mengarahkan anak ke kesadaran diri, bukan reaksi spontan.

Semakin sering anak mengurai emosi dengan bahasa, semakin kuat pula kemampuan metakognitifnya. Ia belajar memproses pengalaman emosional sebagai informasi, bukan ancaman. Inilah dasar dari kecerdasan emosional: mengenali, menamai, lalu menata.

3. Tanamkan pemahaman bahwa tidak semua orang harus setuju

Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang selalu menuruti keinginannya akan sulit menerima perbedaan. Ia menganggap ketidaksepakatan sebagai bentuk penolakan. Orang tua bisa memulai dari hal kecil, misalnya saat memilih film keluarga. Biarkan pendapatnya kalah sesekali, lalu diskusikan bagaimana rasanya ketika keinginannya tidak diikuti.

Pelajaran ini sederhana tapi berharga. Anak belajar bahwa dunia tidak berputar di sekeliling dirinya, dan perbedaan pendapat bukan ancaman terhadap harga diri. Ia tumbuh dengan kemampuan menerima kritik sosial tanpa merasa kehilangan identitas.

4. Biasakan anak mendengar pendapat yang menantang pikirannya

Anak yang terbiasa mendengar pandangan berbeda sejak dini cenderung lebih tahan terhadap komentar tajam. Ajak anak berdiskusi tentang isu ringan seperti “apakah main game bisa membuat pintar?” Biarkan ia berargumen, lalu ajukan pertanyaan penantang seperti “kalau begitu kenapa banyak gamer nilainya turun?” Dengan cara ini, anak belajar bahwa argumen bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengasah logika.

Diskusi kritis yang terarah membangun kebiasaan berpikir jernih sebelum bereaksi. Anak yang kuat dalam berpikir logis akan lebih sulit tersinggung karena ia tahu kapan sesuatu pantas direspons secara emosional, dan kapan cukup ditertawakan saja.

5. Hindari kebiasaan memvalidasi setiap emosi secara berlebihan

Tidak semua bentuk ketersinggungan perlu dihibur. Jika setiap kali anak merasa tersinggung lalu langsung dipeluk dan dibenarkan, ia akan belajar bahwa perasaannya selalu benar, meskipun tidak proporsional. Orang tua perlu menunjukkan empati tanpa memperkuat rasa tersinggung itu, misalnya dengan berkata, “Aku tahu kamu tidak suka dikritik, tapi itu tidak berarti orang lain jahat.”

Pendekatan ini mengajarkan keseimbangan antara empati dan rasionalitas. Anak belajar bahwa perasaan valid, tapi tidak selalu benar. Ia mulai menilai realitas dengan kepala dingin, bukan dengan ego yang terluka.

6. Tunjukkan bahwa humor adalah cara cerdas menghadapi kritik

Humor adalah senjata paling elegan untuk menetralkan rasa tersinggung. Ketika anak belajar menertawakan dirinya sendiri, ia menjadi lebih fleksibel secara psikologis. Misalnya, ketika teman mengejek tulisannya jelek, Anda bisa berkata, “Mungkin dia iri karena tulisannya terlalu bagus sampai dia bingung.” Humor seperti ini mengubah arah emosi dari defensif menjadi adaptif.

Anak yang bisa tertawa dalam situasi sosial sulit cenderung memiliki kepercayaan diri tinggi dan rasa aman terhadap dirinya sendiri. Ia tahu bahwa kritik tidak mengancam harga diri, melainkan bagian alami dari interaksi manusia.

7. Jadilah contoh dalam menanggapi kritik dan konflik

Anak meniru bagaimana Anda bereaksi terhadap kritik. Jika ia melihat Anda marah setiap kali dikritik, ia belajar bahwa tersinggung adalah respons yang wajar. Sebaliknya, jika ia melihat Anda mendengar dengan tenang lalu menjawab dengan kepala dingin, ia akan meniru kebijaksanaan itu tanpa sadar.

Ketenangan orang tua adalah cermin paling efektif untuk melatih regulasi emosi anak. Ia belajar bahwa ketegasan tidak selalu harus disertai amarah, dan harga diri tidak perlu dijaga dengan kepekaan berlebih.

Anak yang tidak mudah tersinggung bukan anak yang kebal perasaan, melainkan anak yang bijak dalam membaca makna. Ia tahu kapan harus merasa, kapan harus berpikir, dan kapan harus tertawa.[AM]

]]>
Thu, 16 Oct 2025 17:53:49 +0800 amr
Manusia : Makhluk Cerdas yang Pelupa https://amarmedia.co.id/manusia-makhluk-cerdas-yang-pelupa https://amarmedia.co.id/manusia-makhluk-cerdas-yang-pelupa Manusia  : Makhluk Cerdas yang Pelupa

Oleh Sri Asmediati 

(Guru Bahasa Indonesia SMPN I Labuhan Badas)

Kecerdasan manusia sering dirayakan sebagai mahkota evolusi, tanda bahwa kesadaran telah mencapai puncaknya. Kita mampu memahami bintang, menulis puisi, dan membangun peradaban dari debu yang tak berarti. Namun di balik keagungan itu, ada kelemahan yang halus: lupa. Lupa menjadi bayang samar yang selalu mengikuti setiap langkah kesadaran. Ia bukan sekadar hilangnya memori, tapi bagian dari sistem kehidupan yang paradoksal. Karena justru di dalam kelupaan, manusia belajar untuk mengingat kembali siapa dirinya.

René Descartes, sang filsuf rasionalis, melihat manusia sebagai makhluk berpikir—cogito ergo sum. Ia menempatkan kesadaran sebagai pusat eksistensi, bahwa dengan berpikir manusia menemukan bukti keberadaannya. Namun Descartes lupa menyinggung satu hal: kesadaran tak selalu stabil. Di antara detik-detik kesadaran itu, manusia bisa kehilangan arah, melupakan apa yang telah ia yakini benar. Maka berpikir bukan hanya tentang mengingat, tapi juga perjuangan melawan kelupaan agar eksistensi tetap utuh.

Friedrich Nietzsche menambahkan sisi yang lebih getir. Baginya, manusia sering terjebak dalam sejarah dan ingatan yang berlebihan, sehingga tak mampu hidup untuk masa kini. Dalam karya On the Use and Abuse of History for Life, ia mengatakan bahwa untuk benar-benar hidup, manusia justru harus belajar melupakan. Kelupaan di sini bukan kelemahan, tapi kekuatan vital yang membebaskan dari beban masa lalu. Maka paradoksnya: hanya dengan melupakan, manusia bisa menjadi diri yang baru.

Sedangkan Martin Heidegger menafsirkan kelupaan secara eksistensial. Menurutnya, manusia telah “melupakan keberadaan” — Vergessen des Seins. Kita sibuk dengan benda-benda, pekerjaan, dan rutinitas, hingga lupa pada makna keberadaan itu sendiri. Dalam lupa yang eksistensial ini, manusia terasing dari dirinya sendiri. Maka tugas filsafat, kata Heidegger, bukan sekadar mencari pengetahuan, melainkan mengingat kembali makna “ada” yang telah terlupakan.

Dari Descartes, Nietzsche, dan Heidegger, kita melihat satu benang merah: bahwa lupa adalah sisi gelap dari kesadaran. Ia hadir bukan untuk meniadakan kebenaran, tapi untuk menegaskan batas kemampuan manusia. Seberapa pun cerdasnya, manusia tidak bisa mengingat segalanya. Justru dalam keterbatasan itulah kecerdasan menemukan bentuknya yang paling manusiawi. Karena kesempurnaan tanpa lupa hanya milik Tuhan.

Kelupaan juga mengajarkan kelembutan. Tanpa lupa, dendam akan abadi, kesedihan takkan pernah reda. Ingatan memberi arah, tapi lupa memberi keseimbangan. Ia adalah ruang hening di antara dua napas waktu: yang telah berlalu dan yang akan datang. Dalam kelupaan, manusia belajar berdamai dengan luka dan belajar menatap masa depan tanpa beban. Maka melupakan kadang adalah bentuk kebijaksanaan terdalam.

Namun ada bahaya ketika kelupaan menjadi sistemik. Ketika manusia lupa akan sejarah penderitaan, lupa akan nilai, lupa akan batas moral — di situlah peradaban tergelincir. Kecerdasan tanpa ingatan adalah kehancuran yang berkilau. Kita menciptakan teknologi untuk mengingat segalanya, namun kehilangan kemampuan untuk mengingat hal yang penting. Dunia modern penuh data, tapi miskin makna.

Manusia cerdas karena mampu menghubungkan masa lalu dengan masa depan melalui refleksi. Tapi manusia juga pelupa karena hidupnya selalu bergerak, dan tak ada ruang cukup bagi semua ingatan. Mungkin itulah harga dari kebebasan berpikir: kita harus melupakan sebagian agar bisa memaknai sisanya. Kecerdasan sejati bukan hanya mengingat fakta, tapi memilih mana yang pantas diingat. Selebihnya biarlah larut dalam arus waktu.

Pada akhirnya, manusia hidup di antara dua tepi: ingatan dan kelupaan. Kita membangun dunia dari apa yang masih kita ingat, dan kita tenang karena apa yang telah kita lupakan. Di situlah letak keindahan kemanusiaan — tidak sempurna, tapi terus berjuang mengingat arti hidup. Maka benar, manusia memang makhluk cerdas yang pelupa. Namun mungkin justru karena lupa, kita tetap mampu belajar menjadi bijak. Sebab tanpa lupa, kehidupan tak akan pernah terasa baru.(AM)

]]>
Mon, 13 Oct 2025 17:12:07 +0800 amr
Ketika Kebenaran Dibungkam, Api dan Batu pun Bisa "Bersuara" https://amarmedia.co.id/ketika-kebenaran-dibungkam-api-dan-batu-pun-bisa-bersuara https://amarmedia.co.id/ketika-kebenaran-dibungkam-api-dan-batu-pun-bisa-bersuara Ketika Kebenaran Dibungkam, Api dan Batu pun Bisa Bersuara

Oleh :  Sri Asmediati 

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

Kebenaran adalah nyala yang tak bisa dipadamkan, meski dibungkam oleh suara-suara yang ingin menutupi dunia. Ia seperti air yang menahan diri, tapi semakin ditekan, ia menumpuk dalam tekanan yang mematikan. Dunia mencoba menutup mulutnya dengan kekuasaan, hukum yang membisu, dan janji-janji palsu. Namun batu yang melayang dan api yang membakar selalu menjadi saksi, menjadi lidah yang menjerit ketika manusia dipaksa diam. Di setiap jalan, di setiap lorong gelap, kebenaran mencari celah untuk bersuara. Ia menembus tembok kebohongan, menembus ketakutan, menembus rasa takut yang mengekang.

Batu yang dilempar adalah jeritan hati yang tak tertahankan. Ia bukan sekadar benda mati, tapi simbol perlawanan yang lahir dari ketidakadilan. Setiap benturan di jalan adalah bahasa, setiap dentuman adalah puisi rakyat yang tak bisa dibungkam. Sejarah mencatatnya dari revolusi ke revolusi, dari protes ke protes. Batu yang melayang menandai bahwa kebenaran menolak untuk diam. Dalam tiap serpihan, ada keberanian yang mengalir, ada perlawanan yang tak pernah padam.

Api adalah lidah amarah yang membara. Ia menari di atas ketidakadilan, memuntahkan energi yang tak bisa dijinakkan. Kobaran api bukan hanya panas, tapi simbol perlawanan yang meluap dari ketidakadilan yang dipendam. Ia memperingatkan bahwa kebenaran, ketika ditekan, bisa muncul dalam bentuk yang tak terduga. Di setiap asap yang mengepul, ada pesan bahwa penindasan selalu berbalik. Di setiap bara yang membakar, tersirat keberanian yang tak bisa ditundukkan.

Air yang disumbat menjadi pelajaran tersendiri. Ia memberi kehidupan jika mengalir, tapi menghancurkan jika dipaksa diam. Kebenaran yang diberi ruang menyejukkan, menumbuhkan harapan, dan memberi arah. Namun jika dibendung, ia menjadi kekuatan dahsyat yang merobek batas-batas ketakutan. Seperti air yang menembus bendungan, kebenaran menembus kebohongan. Ia mencari jalannya sendiri, tanpa meminta izin dari manusia yang ingin mengendalikannya.

Batu, api, dan air adalah bahasa yang tak pernah mati. Mereka muncul ketika kata-kata tak lagi terdengar, ketika hukum diam, ketika ketakutan menutupi jalan. Batu melayang sebagai simbol keberanian, api membara sebagai simbol kemarahan, air mengalir sebagai simbol kebenaran yang menenangkan. Bersama, mereka bercerita tentang manusia yang menolak dibungkam. Bersama, mereka menuntut keadilan yang tak bisa dihindari. Bersama, mereka menunjukkan bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya.

Kebenaran, ketika ditekan, menjadi energi yang tak bisa ditahan. Ia menunggu celah sekecil apa pun, dan ketika saatnya tiba, ia meledak. Batu melayang, api membakar, air menembus—semua menjadi suara yang tak bisa diabaikan. Sejarah dipenuhi oleh letusan-letusan ini, dari jalanan hingga hati manusia. Kebenaran tidak hanya hidup dalam buku atau pidato, tapi dalam aksi, dalam keberanian, dalam nyala yang menantang ketakutan. Ia adalah kekuatan yang tak tergoyahkan, meski dunia mencoba membungkamnya.

Manusia yang mencoba menutup kebenaran sering menjadi saksi kehancuran mereka sendiri. Batu yang dilempar menandai keberanian, api yang membara menandai amarah, dan air yang meluap menandai keteguhan hati. Ketiganya adalah bahasa universal yang menembus batas, melampaui waktu dan ruang. Mereka mengingatkan manusia bahwa penindasan tidak pernah abadi. Bahwa setiap upaya menutup mulut kebenaran hanyalah sementara. Kebenaran, pada akhirnya, selalu menemukan jalannya untuk bersuara.

Di setiap kota, di setiap desa, di setiap hati manusia yang masih sadar, kebenaran menunggu. Batu dan api hanyalah sarana ketika kata-kata gagal, ketika suara-suara dibungkam. Mereka adalah simbol dari kekuatan yang lahir dari ketidakadilan. Mereka mengajarkan bahwa perlawanan, sekecil apa pun, selalu bermakna. Mereka adalah saksi bahwa kebenaran tak bisa dimusnahkan. Dan ketika waktunya tiba, dunia akan mendengar jeritan itu, tak tertahankan dan penuh kekuatan.

Akhirnya, kebenaran bukan sekadar kata. Ia adalah air yang memberi kehidupan, batu yang menuntut keadilan, dan api yang membakar kebohongan. Ia menuntut ruang untuk mengalir, menolak dibungkam, dan menolak padam. Dunia yang mencoba menutupinya harus siap menghadapi ledakan energi yang tak bisa dibendung. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya, dalam bentuk apa pun yang diperlukan. Batu dan api hanyalah bahasa dramatisnya. Dan bagi mereka yang mendengarkan, suara kebenaran itu abadi.

]]>
Thu, 02 Oct 2025 18:57:21 +0800 amr
Proses Anak Dalam Belajar Membaca: Perspektif Kognitif dan Metode Stimulasi https://amarmedia.co.id/proses-anak-dalam-belajar-membaca-perspektif-kognitif-dan-metode-stimulasi https://amarmedia.co.id/proses-anak-dalam-belajar-membaca-perspektif-kognitif-dan-metode-stimulasi Proses Anak Dalam Belajar Membaca: Perspektif Kognitif dan Metode Stimulasi

Oleh Sri Asmediati

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

Membaca merupakan keterampilan dasar yang menjadi fondasi bagi seluruh proses belajar anak. Kemampuan ini tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan melalui tahapan perkembangan kognitif yang kompleks. Anak pertama-tama belajar mengenali pola, bentuk, dan nama benda sebelum diperkenalkan huruf. Proses ini menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar melafalkan huruf, melainkan keterampilan simbolik yang berakar pada perkembangan persepsi visual dan memori. Dengan demikian, membaca dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.

Teori perkembangan kognitif Piaget memberikan gambaran jelas mengenai kesiapan anak untuk membaca. Menurut Piaget, pada tahap praoperasional (2–7 tahun), anak mulai mampu menggunakan simbol, meskipun masih bersifat egosentris. Inilah dasar kemampuan untuk mengenali huruf sebagai lambang bunyi. Pada tahap operasional konkret (7–11 tahun), anak semakin mampu memahami hubungan logis antar simbol, termasuk rangkaian huruf yang membentuk kata. Pemahaman teori ini penting agar orang tua tidak memaksakan anak membaca sebelum kesiapan kognitifnya terbentuk. Tekanan terlalu dini justru bisa menimbulkan frustrasi pada anak.

Dari segi kognitif, kemampuan membaca berkembang melalui tiga aspek penting: atensi, memori, dan persepsi. Atensi memungkinkan anak fokus pada simbol tertentu, memori menyimpan asosiasi bunyi dengan huruf, sementara persepsi visual membantu membedakan bentuk huruf. Proses integrasi ketiganya menghasilkan kemampuan fonologis, yakni menghubungkan huruf dengan bunyinya. Oleh sebab itu, kegiatan pra-membaca seperti bermain dengan pola, menyusun balok huruf, atau membedakan gambar memiliki peran penting. Semua stimulasi awal itu membantu memperkuat jaringan kognitif anak sebelum benar-benar membaca.

Metode stimulasi membaca pada anak harus disesuaikan dengan usia perkembangan. Pada usia 3–4 tahun, anak cukup dikenalkan pada bentuk huruf dan bunyinya melalui permainan sederhana. Pada usia 5–6 tahun, latihan fonik dapat diperkenalkan, misalnya menyebutkan kata yang dimulai dengan huruf tertentu. Saat memasuki usia sekolah dasar, anak mulai mampu membaca kata dan kalimat sederhana. Metode yang digunakan sebaiknya bervariasi, dari membaca buku bergambar, bernyanyi, hingga menggunakan kartu huruf. Variasi ini membantu menjaga minat dan konsentrasi anak.

Lingkungan keluarga menjadi faktor utama dalam membentuk kemampuan membaca. Orang tua berperan besar sebagai model dalam memperlihatkan bahwa membaca itu penting dan menyenangkan. Membacakan cerita sebelum tidur, misalnya, dapat menumbuhkan kebiasaan positif sejak dini. Anak yang sering mendengar kata-kata baru dari bacaan akan memiliki perbendaharaan kosa kata yang lebih luas. Hal ini mempercepat transisi dari pengenalan bunyi ke penguasaan kata. Selain itu, kehangatan emosional dalam aktivitas membaca bersama memperkuat motivasi anak.

Dari perspektif metode, ada dua pendekatan besar dalam mengajarkan membaca: metode fonik dan metode global. Metode fonik menekankan hubungan antara huruf dan bunyi, sehingga anak mampu mengeja kata baru. Sementara metode global menekankan pada pengenalan kata secara utuh dalam konteks kalimat. Kedua metode ini dapat saling melengkapi bila diterapkan secara fleksibel. Anak bisa diawali dengan fonik untuk memahami struktur bunyi, lalu diperluas dengan global untuk membangun makna. Penerapan kombinasi metode membuat pembelajaran lebih efektif.

Selain aspek metode, faktor motivasi intrinsik juga tidak kalah penting. Anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi cenderung lebih cepat belajar membaca. Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus bersifat menyenangkan, bukan paksaan. Bermain peran dengan menggunakan huruf atau membuat cerita bergambar bisa menumbuhkan ketertarikan alami. Penggunaan teknologi seperti aplikasi edukasi juga bisa menjadi sarana tambahan. Namun, keterlibatan orang tua tetap harus menjadi kunci utama.

Tingkatan usia juga mempengaruhi capaian keterampilan membaca. Pada usia 4 tahun, anak biasanya mampu mengenal beberapa huruf. Pada usia 5–6 tahun, anak mulai bisa membaca kata-kata sederhana. Saat berusia 7 tahun, sebagian besar anak sudah mampu membaca kalimat utuh dan memahami maknanya. Proses ini tentu berbeda antara satu anak dengan yang lain karena faktor bawaan dan lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa membaca adalah perjalanan, bukan perlombaan.

Dari perspektif pendidikan formal, sekolah memiliki tanggung jawab melanjutkan stimulasi yang sudah dilakukan di rumah. Guru harus mampu mengidentifikasi kemampuan awal anak dan memberikan intervensi sesuai kebutuhan. Anak yang sudah terbiasa dengan huruf dapat diberikan tantangan lebih, sementara yang masih kesulitan memerlukan pendekatan remedial. Pembelajaran diferensiasi ini penting untuk memastikan setiap anak berkembang optimal. Selain itu, kerjasama antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan agar stimulasi berlangsung konsisten.

Kesimpulannya, kemampuan membaca anak lahir dari kombinasi faktor kognitif, stimulasi lingkungan, serta metode pengajaran yang tepat. Prosesnya dimulai dari pengenalan pola dan bentuk, berlanjut ke simbol huruf, hingga akhirnya menyusun kata dan kalimat. Usia perkembangan harus selalu diperhatikan agar anak tidak terbebani secara psikologis. Peran orang tua dan guru sangat menentukan keberhasilan proses membaca ini. Dengan pendekatan yang tepat, anak bukan hanya mampu membaca, tetapi juga mencintai kegiatan membaca sepanjang hidupnya.(AM)

]]>
Mon, 29 Sep 2025 22:38:29 +0800 amr
Saling Rujak https://amarmedia.co.id/saling-rujak https://amarmedia.co.id/saling-rujak Saling Rujak

Oleh: Dahlan Iskan

Senin 15-09-2025

(Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat tampil di GREAT Institute)

Tepuk tangan dan tawa saling menggema di Bidakara. Padahal forum itu seharusnya amat serius: membahas transformasi ekonomi nasional. Pembicara utamanya pun pejabat yang seharusnya pendiam: menteri keuangan.

Tapi yang jadi menteri sekarang Purbaya Yudhi Sadewa –yang Anda sudah tahu, sulit diajak menyembunyikan pikiran.

Ia pun tetap bicara polos. Termasuk membuka peristiwa awal bagaimana ia dikenal oleh Presiden Prabowo Subianto.

Waktu itu Prabowo sudah menjadi presiden. Ekonomi sangat lesu. Purbaya menilai keadaan sudah gawat. Presiden Prabowo bisa jatuh. Tapi ia tidak kenal Prabowo. Ia ingat pernah memberi masukan cara mengatasi kelesuan ekonomi ke dua presiden sebelumnya: SBY dan Jokowi. Data-data yang ia lihat sama. Berulang: peredaran uang di masyarakat sangat turun. Ini bahaya.

Purbaya pun ke Solo. Ia menghadap Jokowi. Meski tidak lagi menjabat, Presiden Jokowi bisa diminta menyampaikan pikirannya ke Presiden Prabowo.

Rupanya Prabowo sudah berbulan-bulan mencari siapa yang bisa menjadi menteri keuangan. Yakni yang benar-benar ekonom-akademisi tapi bisa cocok dengan misinya untuk mengejar pertumbuhan tinggi yang inklusif.

Menurut Purbaya, kalau ekonomi tumbuh begini-begini saja, sekitar lima persen, Indonesia pasti tidak akan bisa maju dan makmur.

Sekarang ini Indonesia sudah berada di jebakan pendapatan kelas menengah. Untuk bisa keluar dari jebakan itu pertumbuhan ekonomi harus double digit.

Sebenarnya forum di Bidakara, Jakarta, itu sudah dirancang sebelum Purbaya jadi menkeu. Penyelenggaranya: GREAT Institute. Aktivis seperti Dr Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, Rocky Gerung, Ferry Juliantono ada di situ. Mereka para pendemo, tidak pernah takut penjara dan oposan yang tangguh.

Awalnya Purbaya dihadirkan di situ sebagai ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun keburu Purbaya dilantik sebagai menteri keuangan.

"Acara ini sebenarnya diadakan untuk mendukung saya agar terpilih lagi jadi ketua LPS," gurau Purbaya. "Ternyata jadi menkeu," guraunya. "GREAT Institute telah over deliver," tambahnya.

Purbaya ekonom akademisi?

Ia memang lulusan elektro ITB. Tapi setelah itu ia ke Amerika. Ia kuliah ekonomi di Purdue University.

Menurut Nainggolan, ketika di Purdue itulah Purbaya berinteraksi dengan ekonom kelas dunia. Pemenang hadiah Nobel. Namanya: Paul Michael Romer.

Romer ahli teori pertumbuhan. Romer juga terkenal sebagai ''pencipta'' istilah baru dalam ekonomi: mathiness. Yakni teori ekonomi yang kelihatannya mendasarkan perhitungan pada matematika, tapi sebenarnya hanya menjadikan matematika sebagai pembenar asumsi satu ideologi ekonomi.

Romer melihat ada ekonom seperti itu. Ia pun secara terbuka mengecam dua pemenang Nobel ekonomi. Mereka dinilai melakukan mathiness.

Paul Romer pernah dibawa Purbaya ke Indonesia. Tahun 2012. Kini umurnya 69 tahun, menjadi guru besar di Boston Collage. Ia pernah jadi guru besar di Berkeley, New York University dan Stamford University. Pernah juga sebagai direktur Bank Dunia sampai ia mundur karena perbedaan pendapat di dalamnya.

Dari tiga tulisan di Disway ini Anda pun harus siap-siap berada di jalur penerapan teori ekonomi yang baru, dengan Purbaya sebagai masinisnya.

"Sebenarnya kasihan Pak Jokowi itu," ujar Purbaya. "Pak Jokowi membangun begitu banyak infrastruktur tapi pengaruh ekonominya lebih kecil dari zaman Pak SBY."

Pak Jokowi itu, katanya, juga punya jasa. Termasuk saat Purbaya menyarankan penggelontoran uang ke sistem keuangan. Yakni setelah Covid. Agar ekonomi hidup lagi. "Presiden Jokowi dengan cepat melaksanakannya," katanya.

"Kalau Rocky Gerung kan melihat Pak Jokowi itu tidak melakukan apa-apa," gurau Purbaya. Tentu hadirin tepuk tangan. Tertawa. Bergemuruh. Termasuk Rocky Gerung sendiri.

Purbaya, yang sejak dilantik banyak dirujak medsos, kali itu ganti merujak Rocky Gerung. Melihat yang dirujak tertawa-tawa, Purbaya terus merujak. "Inilah saatnya ada orang yang berani mengkritik filsuf Rocky Gerung," lanjutnya.

Di zaman Jokowi, sektor swasta memang sangat lesu. BUMN yang mendominasi ekonomi. Padahal pertumbuhan ekonomi itu, katanya, tidak bisa digerakkan hanya oleh pemerintah. Peranan pemerintah hanya 10 persen. Swasta yang harus lebih banyak berperan.

Maka Purbaya harus bekerja keras untuk mewujudkan jalan baru ekonomi Indonesia.

Secara pribadi tentu Purbaya lebih senang di LPS. "Saya menikmatinya. Di LPS itu gaji saya besar," katanya. "Apalagi selama saya di LPS tidak ada bank besar yang bermasalah. Enak. Gaji besar pekerjaan tidak ada," katanya. "LPS itu baru sibuk kalau ada bank besar yang bangkrut," katanya.

Maka, begitu dilantik jadi menkeu, Purbaya mengaku langsung bertanya kepada sekjen kementerian itu: "berapa gaji saya di sini?''. Sekjen lantas menyebut satu angka. Sekian. "Wah, gaji saya turun banyak," katanya.

"Jadi menteri itu hanya gengsinya yang tinggi. Gajinya rendah," katanya.

Purbaya tidak takut pada faktor global. "Selama ini selalu saja yang disalahkan faktor global. Padahal 90 persen ditentukan di dalam negeri," katanya.

Ia juga tidak terpengaruh prediksi IMF soal angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. "IMF itu tidak pinter-pinter amat," katanya. "Kita saja yang suka silau pada asing," tambahnya.

Swasta harusnya menyambut hangat datangnya menkeu baru ini. "Sudah ada ekonom," kata Purbaya, "yang insyaf".

"Saya ini di ITB dibilang insinyur yang salah jalan. Tapi oleh ekonom saya dibilang sebagai ekonom yang Instagram," guraunya.

Yang pasti gembira adalah para kepala daerah. Daerah akan dipakai sebagai salah satu mesin pertumbuhan. Berarti dana daerah akan kembali digelontorkan.

Dalam istilah Syahganda Nainggolan, kepala daerah itu berlaku seperti di zaman penjajahan Belanda. Kalau ditekan dari atas ganti menekan ke bawah. Dana dari pusat dikurangi, mereka menaikkan pajak daerah.

Kini para aktivis ''jalan ekonomi baru'' mulai berada di sekitar presiden. Anda pun ingat: itu pernah terjadi di zaman Presiden B.J. Habibie.

Waktu itu rupiah bisa dibuat menguat luar biasa: sampai di bawah Rp 10.000/dolar. Dengan waktu yang amat singkat. Tapi Habibie hanya bisa bertahan satu tahun. Politik begitu tidak stabil.

Kini Anda tahu: politik amat stabil –sampai ada yang membuatnya tidak stabil.(Dahlan Iskan)

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/898060/saling-rujak

]]>
Thu, 18 Sep 2025 17:43:35 +0800 amr
Selamat Hari Literasi Internasional Mempromosikan Literasi di Era Digital https://amarmedia.co.id/selamat-hari-literasi-internasional-mempromosikan-literasi-di-era-digital https://amarmedia.co.id/selamat-hari-literasi-internasional-mempromosikan-literasi-di-era-digital Selamat Hari Literasi Internasional, Mempromosikan Literasi di Era Digital

Oleh Sri Asmediati 

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

UNESCO memperingati Hari Literasi Internasional pada 8 September 2025 dengan tema ‘Mempromosikan Literasi di Era Digital’, seraya mengingatkan dunia akan pentingnya literasi.”

Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan cerminan zaman yang bergerak begitu cepat. 

Dunia digital telah mengubah cara manusia membaca, menulis, berkomunikasi, bahkan mencari nafkah. Karena itu, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebatas bisa membaca aksara atau menuliskan kata, melainkan juga kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dalam bentuk apa pun, termasuk yang bertebaran di ruang digital.

Sejak pertama kali dideklarasikan UNESCO pada 1965 dan mulai diperingati pada 1967, Hari Literasi Internasional selalu mengingatkan umat manusia akan fondasi peradaban: membaca dan menulis. Tanpa literasi, pengetahuan tidak akan berkembang, peradaban akan terhambat, dan manusia kehilangan arah. 

Jika dulu buta huruf dianggap momok besar, kini kita menghadapi tantangan baru: “buta informasi”. 

Banyak orang bisa membaca teks, tetapi tidak mampu memahami pesan, apalagi memilah mana informasi yang benar, mana yang salah, dan mana pula yang menyesatkan.

Literasi hadir sebagai jembatan. Ia membuka jalan bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Orang yang literat bisa membaca petunjuk kesehatan, memahami informasi keuangan, mengikuti perkembangan teknologi, bahkan menimbang pilihan politik dengan lebih rasional. 

Lebih dari itu, literasi membentuk daya kritis agar manusia tidak mudah diperdaya oleh hoaks, propaganda, atau jebakan iklan yang menyesatkan. 

Literasi menumbuhkan kebiasaan baik: anak-anak yang dibiasakan membaca cerita sebelum tidur akan tumbuh dengan imajinasi dan rasa ingin tahu yang besar. Di masyarakat, literasi menciptakan kohesi sosial karena percakapan publik tidak berhenti pada gosip dangkal, melainkan bergerak pada diskusi yang lebih bermakna.

Tujuan literasi, pada hakikatnya, adalah pemberdayaan. Dengan literasi, manusia memiliki daya untuk mengubah hidupnya sendiri. Literasi membekali keterampilan dasar agar seseorang dapat beradaptasi dengan perubahan zaman, sekaligus mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi. 

Literasi membuat orang tidak hanya pintar mencari nafkah, tetapi juga cerdas memahami jati dirinya, budaya, dan warisan pengetahuan bangsanya. Maka, literasi bukan sekadar keahlian teknis, melainkan fondasi identitas sekaligus daya saing suatu bangsa.

Mengembangkan literasi tentu tidak bisa dilakukan sekali waktu. Ia adalah kerja panjang yang menuntut kolaborasi. 

Era digital memang menawarkan peluang besar untuk mempromosikan literasi. Pengetahuan dapat tersebar dengan cepat dan melampaui batas ruang. Namun, promosi literasi di era ini tidak cukup sekadar mengunggah teks atau menyebar tautan bacaan. Yang lebih penting adalah menumbuhkan keterampilan kritis agar orang mampu menyaring informasi, memilih yang bermanfaat, dan menggunakannya untuk kehidupan nyata. 

Literasi digital bukan hanya kemampuan membuka laman internet, melainkan juga memahami etika berkomunikasi, menjaga privasi, menghargai hak cipta, serta menghindari perilaku destruktif di ruang maya.

Akan tetapi, peluang besar itu diiringi tantangan yang tak kecil. Informasi di dunia digital datang seperti banjir bandang: deras, melimpah, dan sering kali bercampur antara fakta dan kebohongan. 

Budaya instan yang digemari generasi gawai membuat banyak orang lebih suka menonton video singkat ketimbang membaca teks panjang. 

Di sisi lain, kesenjangan teknologi masih terjadi: ada daerah yang warganya belum punya akses internet memadai, padahal dunia luar sudah bergerak dengan cepat. Bahkan, mereka yang terhubung pun belum tentu memiliki kesadaran kritis. Banyak yang dengan mudah menyebarkan kabar palsu atau ujaran kebencian tanpa sempat menimbang dampaknya. 

Tantangan-tantangan ini menegaskan bahwa literasi digital tidak bisa ditunda, karena tanpa kecakapan itu, masyarakat mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.

Meski begitu, era digital juga membuka pintu baru menuju kesejahteraan. Literasi, bila dipadukan dengan keterampilan digital, dapat menjadi modal ekonomi yang nyata. Penulis, desainer, musisi, atau pembuat konten bisa memasarkan karyanya ke seluruh dunia lewat platform digital. Wirausaha lokal bisa memperluas jangkauan dagangannya dengan membuka toko online. Seorang guru atau ahli dapat membagikan pengetahuan melalui kursus daring dan memperoleh penghasilan tambahan. Bahkan, literasi finansial yang dipadukan dengan literasi digital membantu orang memahami seluk-beluk investasi modern, dari saham online hingga teknologi finansial. 

Di titik ini, literasi benar-benar menjadi jembatan menuju kesejahteraan: bukan hanya dalam arti pengetahuan, tetapi juga kehidupan yang lebih layak secara ekonomi.

Karena itu, merayakan Hari Literasi Internasional bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat untuk bekerja lebih keras. Literasi harus hidup dalam keseharian: ketika orang tua mendongengkan cerita rakyat kepada anaknya, ketika seorang siswa menuliskan refleksi di blog pribadinya, ketika seorang petani mencari informasi tentang pupuk organik lewat internet, hingga ketika seorang wirausaha kecil memasarkan produknya melalui media sosial. Semua itu adalah bentuk literasi.

Tema “Mempromosikan Literasi di Era Digital” memberi kita arah. Literasi adalah fondasi, dan digital adalah medium baru. Bila keduanya berpadu, masyarakat tidak hanya cerdas dan kritis, tetapi juga produktif dan sejahtera. 

Tantangan memang besar, tetapi peluang jauh lebih luas. 

Masa depan bangsa akan ditentukan oleh sejauh mana kita mampu menumbuhkan literasi di tengah derasnya arus teknologi. Dan literasi, sebagaimana yang terus diingatkan UNESCO sejak puluhan tahun lampau tetap menjadi kunci bagi dunia yang lebih adil, lebih berpengetahuan, dan lebih manusiawi. (AM)

]]>
Wed, 10 Sep 2025 09:12:22 +0800 amr
Bijak Bermedia Sosial https://amarmedia.co.id/bijak-bermedia-sosial https://amarmedia.co.id/bijak-bermedia-sosial Bijak Bermedia Sosial

Oleh : Edy Kurniawansyah

(Dosen FKIP Unram, Sekretaris Umum KNPI NTB 

, Wakil Ketua PWPM NTB)

Peristiwa yang terjadi di negara kita beberapa hari yang lalu, menyita perhatian banyak kalangan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran media sebagai salah satu cara komunikasi yang cepat dan jangkauannya yang sangat luas . 

Kehadiran media sosial tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, perubahan teknologi membuat semuanya berubah begitu cepat. Perubahan ini sangat tergantung pada diri kita bagaimana menggunakan media social sebagai sarana komunikasi dan interaksi dalam kehidupan. 

Saat ini kita berada di era digital yang sangat cepat, media sosial bukan lagi sekadar alat hiburan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, bahkan membentuk opini publik. Namun, di balik kemudahan ini, ada tanggung jawab besar yang sering kali diabaikan. Karena itulah, bersikap bijak saat bermedia sosial bukan hanya penting melainkan sangat dibutuhkan.

Menurut Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia menjelaskan bahwa Bijak bermedia sosial berarti mampu mengendalikan diri, menyaring informasi, dan tidak mudah terprovokasi oleh konten negatif yang tersebar di media digital. Sedangkan menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam modul literasi digital kominfo menjelaskan bahwa Bijak bermedia sosial adalah sikap hati-hati, kritis, dan bertanggung jawab dalam menerima, mengolah, serta menyebarluaskan informasi melalui media sosial.

Dengan demkian kita dapat simpulkan bahwa bijak bermedia sosial itu Adalah bagaimana kita menggunakan media sosial secara sadar, bertanggung jawab, dan etis untuk menyampaikan informasi, berinteraksi, dan mengekspresikan diri tanpa merugikan diri sendiri maupun merugiakan orang lain.

Mengapa Harus Bijak di Media Sosial…?

Kalau kita cermati bersama, di era sekarang ini hampir tidak ada satupun anak bangsa yang tidak menggunakan android dan dipastikan hampir semua orang memiliki akun media sosial, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Namun, meskipun media sosial menawarkan banyak manfaat seperti kemudahan berkomunikasi dan akses informasi seperti yang disampaikan diatas, penggunaannya juga membawa risiko. Oleh karena itu setiap orang harus bijak dalam bermedia sosial. Ada beberapa alasan mengapa kita dituntut untuk harus bijak bermedia sosial, diantaranya adalah sebagai berikut: 

Pertama, : Mencegah penyebaran hoaks dan informasi yang menyesatkan.

Media sosial membuat informasi menyebar sangat cepat, baik benar maupun salah. Jika tidak bijak, kita bisa ikut menyebarkan berita bohong (hoaks) yang menyesatkan dan merugikan banyak pihak. Tidak sedikit orang yang langsung membagikan berita tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Akibatnya, informasi palsu yang cepat menyebar dan bisa menimbulkan keresahan, bahkan perpecahan di Tengah masyarakat.

Kedua, ; Menghindari Cyberbullying dan Konflik Sosia.

media sosial sering menjadi tempat munculnya perundungan (cyberbullying), ujaran kebencian, dan komentar negatif. Banyak kasus cyberbullying terjadi karena pengguna media sosial tidak berpikir panjang sebelum mengomentari atau menyindir orang lain. Dengan bersikap bijak, kita belajar untuk menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak menyakiti orang lain. Etika dalam berkomunikasi sangat penting, meskipun dilakukan secara daring.

Ketiga, ; mencerminkan kepribadian, tanggung jawab dan kecerdasan digital seseorang.

Apa yang kita unggah, komentari, dan bagikan di media sosial bisa menjadi cerminan siapa diri kita dan bagaimana kita. Bahkan, tidak jarang jejak digital seseorang memengaruhi masa depannya, baik dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan. Selain itu, pengguna yang bijak tahu kapan harus menggunakan media sosial dan kapan harus berhenti. Artinya, mereka bisa mengatur waktu dengan seimbang dan tidak sampai kecanduan. Ini penting agar media sosial tidak mengganggu aktivitas utama seperti belajar, bekerja, atau berinteraksi langsung dengan orang lain.

Keempat, Menjaga Etika dan Norma Sosial.

Komunikasi di media sosial tidak lepas dari norma dan etika. Kata-kata yang kasar, menyinggung SARA, atau menghina orang lain bisa menimbulkan konflik dan perpecahan. Maka menghargai perbedaan dan berkomentar dengan sopan lewat media sosial adalah yang harus dilestarikan.

Kelima, Melindungi Privasi dan Keamanan Diri.

Tanpa disadari dalam berinterkasi dan komunikasi di media sosial, kita sering membagikan informasi pribadi seperti Alamat rumah, kantor, nomor telepon dan lain-lain yang bisa disalahgunakan orang tidak bertanggung jawab sehingga dengan ini banyak terjadi kejahatan digital, maka penting dan perlu berhati-hati dalam membagikan data pribadi terutama yang dapat merugikan diri sendiri.

Berangkat dari pandangan diatas, maka dalam bermedia sosial kita harus memperhatikan Etika Bermedia Sosial dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak Provokatif, menghormati privasi orang lain, menghargai perbedaan pendapat, Jangan menyebarkan Hoaks atau ujaran kebencian, dan hindari memposting sesuatu dalam keadaan emosi dan tidak stabil serta jangan menyebarkan konten sensitif, vulgar, atau kekerasan yang bisa membuat orang lain sangat terganggu. 

Maka prinsip Bijak Bermedia Sosial dengan Gerakan STOP. S, adalah (Saring). Sebelum melakukan sesuatu dimedia sosial, sebaiknya dipikirkan apakah informasi yang akan dibagikan benar dan bermanfaat. T, adalah (Tanggung Jawab) sebagai manusia yang diberikan akal dan pikiran, maka kita harus bertanggung jawab atas setiap kata, gambar, atau video yang diunggah di media sosial sehingga sangat penting apakah semua itu berdampak positif atau negatif. O adalah (Objektif) Tidak mudah terprovokasi atau ikut menyebarkan berita tanpa fakta yang belum diketahui asas kebenarannya. Dan yang terakhir P, adalah (Pahami Aturan) dalam bermedia sosial sangat penting dipahami etika bermedia sosial dan hukum yang berlaku, seperti UU ITE agar tidak menyesal dikemudian hari. 

Sebagai penutup, dalam kesempatan ini saya menyampaikan bahwa Bijak Bermedia Sosial adalah hal penting yang harus kita lestarikan dalam kehidupan. Saya meyakini bahwa bijak dalam bermedia sosial bukan hanya pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Dunia digital akan menjadi lebih sehat, aman, dan bermanfaat jika semua kita sebagai penggunanya sadar akan tanggung jawabnya masing-masing. Maka dari itu, mari kita gunakan media sosial secara cerdas, santun, dan bertanggung jawab sehingga bijak bermedia sosial bukan hanya soal menjaga diri, tapi juga menjaga ruang digital agar tetap sehat, tepat dan bermanfaat.(AM)

]]>
Sun, 07 Sep 2025 20:14:35 +0800 amr
Sumbawa Masyarakat dan Budaya https://amarmedia.co.id/sumbawa-masyarakat-dan-budaya https://amarmedia.co.id/sumbawa-masyarakat-dan-budaya SUMBAWA; MASYAKAT DAN BUDAYA

Penulis: Abdul Aziz SR, Syukri Rahmat, Aries Zulkarnain, Julmansyah, Burhanuddin, Sudrajat Martadinata, Rusdianto AR

Tebal buku: xvi + 408 halaman

Ukuran: 14,4 x 21 cm

- Sebuah realitas menonjol dalam praktik sosial dan budaya masyarakat Sumbawa di mana agama (Islam) menjadi prinsip dasar dan titik berangkat terhadap segala sesuatu dalam kehidupan mereka. 

Agama berpadu harmoni dengan adat-tradisi sebagai acuan utama dalam mendefinisikan, memahami, dan memperlakukan sesuatu.

Itulah wujud dari yang terekspresikan dari pesan “konstitusi” tau Samawa yakni “Adat Barenti lako Syara’ – Syara’ Barenti lako Kitabullah”. Itu konstitusi dasar yang dirumuskan dan diberlakukan sejak masa awal Kesultanan. Ketika Islam menjadi agama resmi Kesultanan Sumbawa.

Tuntutan kehidupun untuk Kerik-Selamat serta harus menjadi manusia to’ (berpengetahuan) dan memiliki ila’ (rasa malu jika melakukan perbuatan buruk dan kurang terpuji) merupakan ekspresi dari pesan konstitusi tau Samawa.

Begitu pula dengan pandangan dunia: bowat-iwet bale para, bowatiwet desa darat, dan bowat-aji ko Nene’ adalah pula kelanjutan logis dari konstitusi tau Samawa pada tingkatan yang lebih praksis.

Buku ini membahas secara cukup detail masyarakat dan budaya Samawa dalam beragam perspektif. Dikemas dalam gaya bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh setiap pembaca. 

Bismillah.

]]>
Thu, 28 Aug 2025 11:02:36 +0800 amr
Mengapa Pegiat Literasi Harus Menulis? https://amarmedia.co.id/mengapa-pegiat-literasi-harus-menulis https://amarmedia.co.id/mengapa-pegiat-literasi-harus-menulis Mengapa Pegiat Literasi Harus Menulis?

Oleh: Sri Asmediati, S. Pd

Pegiat literasi adalah agen perubahan yang berusaha menumbuhkan ekosistem literasi di masyarakat. Di dalam peran itu, menulis menjadi bagian yang tak kalah penting dari membaca. Seorang pegiat literasi sebaiknya tidak hanya mendorong orang lain membaca, tetapi juga menjadi teladan dalam menulis.

Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, getol mengkampanyekan “Membaca itu sehat, menulis itu hebat.” Tagline ini mengandung pesan yang dalam. Membaca memang membuat pikiran segar, terbuka, dan kaya informasi. Namun, menulislah yang menjadikan seseorang mampu mengolah, meramu, serta membagikan kembali pengetahuan serta pengalaman dari kerja-kerja literasi yang dilakukannya kepada orang lain. 

Maka, pegiat literasi yang berhenti pada aktivitas membaca atau mendorong orang membaca, sejatinya belum menuntaskan tanggung jawab literasinya. Ia juga harus menulis.

Siapa itu pegiat literasi?

Pegiat literasi adalah individu atau kelompok yang mendedikasikan dirinya dalam upaya meningkatkan kemampuan dan kesadaran literasi masyarakat. Mereka bisa berupa guru, pustakawan, relawan, penulis, mahasiswa, atau siapa saja yang aktif memajukan kegiatan literasi. Ada pegiat literasi yang membangun rumah baca di kampung, ada yang mengelola pojok baca di sekolah, ada pula yang menggerakkan gerakan donasi buku—termasuk para pengambil kebijakan di instansi pemerintah yang peduli literasi. Mereka memiliki satu tujuan mendekatkan masyarakat dengan bacaan dan membangun budaya literasi.

Namun, kiprah mereka tidak boleh berhenti pada pengelolaan buku atau program baca. Pegiat literasi sejatinya adalah teladan dalam gerakan yang dilakukannya. Jika mereka mengajak anak-anak membaca, maka sejatinya mereka sendiri harus juga membaca. Jika mereka mendorong masyarakat menulis, maka mereka sendiri harus juga menulis. Sebab, keteladanan adalah bahasa paling meyakinkan dalam gerakan literasi.

Dalam kajian bahasa, terdapat empat keterampilan dasar yang saling terkait: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat kemampuan ini membentuk pondasi utama dalam proses literasi. Menyimak dan berbicara berhubungan dengan komunikasi lisan, sementara membaca dan menulis menjadi inti komunikasi tulis.

Seorang pegiat literasi tentu sering mengajak orang lain untuk membaca. Membaca adalah jendela untuk mengenal dunia, memperluas wawasan, dan menumbuhkan empati. Tetapi, literasi tidak berhenti pada membaca. Menulis adalah bentuk pengolahan sekaligus ekspresi dari apa yang dibaca. Dengan menulis, seseorang menguji kembali pemahamannya, menyusun gagasannya, dan melahirkan karya yang bisa diwariskan.

Oleh karena itu, pegiat literasi tidak cukup hanya menekankan satu pondasi, yakni membaca. Mereka juga harus membangun pondasi menulis. Ketika dua pondasi ini kokoh, barulah literasi dapat dikembangkan ke tingkatan yang lebih tinggi: literasi digital, literasi finansial, literasi sains, hingga literasi budaya. Menulis menjadi pintu gerbang untuk masuk ke ranah literasi yang lebih luas.

Mengapa menulis penting bagi seorang pegiat literasi?

Menulis adalah bentuk keteladanan. Anak-anak, remaja, atau masyarakat yang didampingi akan lebih termotivasi jika melihat pegiat literasi yang mereka hormati aktif menulis di media massa atau menerbitkan buku. Mereka akan memahami bahwa menulis bukan sekadar teori, tetapi praktik nyata yang bisa dilakukan.

Menulis adalah dokumentasi perjuangan. Setiap program literasi yang dilakukan akan hilang ditelan waktu jika tidak dituliskan. Dengan menulis, pegiat literasi mengabadikan pengalaman, strategi, dan cerita inspiratif yang kelak bisa menjadi panduan bagi orang lain.

Selain itu, menulis juga bentuk distribusi pengetahuan. Tidak semua orang bisa hadir di perpustakaan komunitas atau mengikuti program literasi secara langsung. Tetapi, ketika pegiat literasi menuliskan gagasannya dalam bentuk artikel atau buku, maka gagasan itu dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.

Menulis adalah ruang refleksi. Pegiat literasi yang menulis akan terbiasa merenungkan kembali apa yang sudah dilakukan. Dari tulisan, ia bisa melihat kekuatan, kelemahan, dan peluang perbaikan dalam gerakan literasi yang ia jalankan.

Dalam pemahaman yang lebih luas, literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga kesadaran kritis untuk memperbaiki kualitas hidup. Pegiat literasi, dengan segala kiprahnya, memikul tanggung jawab moral untuk menyebarkan pengetahuan dan inspirasi. Menulis adalah cara paling kuat untuk memenuhi tanggung jawab itu.

Melalui tulisan, pegiat literasi bisa membangun opini publik, menyuarakan kebutuhan masyarakat terhadap akses bacaan, atau memperjuangkan hak-hak pendidikan. Tulisan mereka bisa menggugah pembuat kebijakan, bisa menggerakkan donatur, bisa menginspirasi masyarakat, bahkan bisa membangkitkan semangat anak-anak yang sedang berjuang menempuh pendidikan.

Bayangkan, betapa dahsyatnya jika setiap pegiat literasi di seluruh pelosok negeri tidak hanya mengelola buku, tetapi juga menulis. Indonesia akan dipenuhi dengan kisah-kisah inspiratif, catatan perjuangan, dan gagasan-gagasan segar yang bisa menjadi energi bersama dalam gerakan literasi nasional.

Seorang pegiat literasi adalah teladan, bukan sekadar penyelenggara kegiatan. Ia tidak cukup hanya menyerukan membaca, tetapi juga harus menulis. Karena benar, membaca itu sehat, menulis itu hebat. Dengan membaca, kita memperkaya diri; dengan menulis, kita memperkaya orang lain.

Jika pondasi membaca dan menulis sudah kokoh, barulah kuatkan langkah lebih jauh ke tingkatan literasi lain. Maka, mari dorong para pegiat literasi di manapun berada untuk berani menulis: menulis artikel, menulis esai, menulis fiksi, menulis buku, menulis apa saja yang bisa menjadi warisan intelektual bagi masyarakat.

Pegiat literasi yang menulis sejatinya menjelma cahaya ganda. Ia ibarat menjadi lilin yang menuntun masyarakat dalam keseharian melalui bacaan, sekaligus menjadi bola lampu dengan ribuan megawatt yang menyalakan ingatan kolektif bangsa lewat tulisan. Lilin memberi terang bagi yang dekat, tetapi bola lampu menembus jauh, meninggalkan jejak yang tak mudah padam oleh waktu. Dari tulisan-tulisan itulah, gerakan literasi tidak hanya hadir sesaat, melainkan terus berdenyut, diwariskan, dan menginspirasi lintas generasi. (AM)

]]>
Wed, 27 Aug 2025 21:32:25 +0800 amr
"Hoax Video Sri Mulyani: Mengungkap Bahaya Deepfake dan Cara Menghindarinya" https://amarmedia.co.id/hoax-video-sri-mulyani-mengungkap-bahaya-deepfake-dan-cara-menghindarinya https://amarmedia.co.id/hoax-video-sri-mulyani-mengungkap-bahaya-deepfake-dan-cara-menghindarinya "Hoax Video Sri Mulyani: Mengungkap Bahaya Deepfake dan Cara Menghindarinya"

Oleh: I Made Widiarta, S.Komp, M.M.Inov

Saat ini, teknologi deepfake sedang menjadi topik hangat seiring dengan munculnya berbagai berita palsu yang tersebar melalui media sosial. Salah satunya adalah video yang mengklaim Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa guru dan dosen adalah beban negara. Ternyata, video tersebut adalah hoax yang dibuat menggunakan teknologi deepfake. Video asli bisa dilihat pada link berikut, https://youtu.be/Zh02Lzk6px8?si=Hiu1PRVuJdPRkCUu, pada cuplikan video tersebut, terlihat bahwa yang disampaikan oleh Sri Mulyani adalah:

“Klaster kedua adalah untuk guru dan dosen. Itu belanjanya dari mulai gaji sampai dengan tunjangan kinerja tadi. Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, ‘Oh, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar.’ Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat.”

Namun, setelah melaui tahapan editing, narasi yang disampaikan oleh Sri Mulyani berubah menjadi statemen bahwa guru Adalah beban negara. Pada tulisan ini, saya akan membahas apa itu deepfake, bagaimana cara kerja teknologi ini, serta langkah-langkah untuk mengantisipasinya.

Apa Itu Deepfake?

Deepfake adalah teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan atau memanipulasi gambar, video, dan suara sehingga tampak sangat realistis. Teknologi ini biasanya memanfaatkan Generative Adversarial Networks (GANs), yang melibatkan dua jaringan syaraf tiruan untuk bersaing—satu membuat media palsu, sementara yang lainnya mencoba mendeteksi keaslian media tersebut. Deepfake dapat digunakan untuk mengubah ekspresi wajah, mengganti suara, atau bahkan membuat seseorang seolah-olah berkata atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi (Goodfellow et al., 2014) .

Deepfake menggunakan algoritma pembelajaran mesin yang memungkinkan komputer untuk mempelajari pola dalam data yang ada, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, atau suara seseorang, dan kemudian menciptakan salinan palsu yang tampak sangat nyata. Teknologi ini tidak hanya berdampak pada hiburan, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk tujuan yang merugikan, seperti penyebaran disinformasi, penipuan, atau pemerasan (Korshunov & Marcel, 2018) . Seiring dengan perkembangan teknologi, semakin sulit untuk membedakan antara konten asli dan konten yang telah dimanipulasi, sehingga menimbulkan tantangan besar dalam menjaga integritas informasi di dunia digital (Zhou & Li, 2020) .

Mengapa Deepfake Berbahaya?

Deepfake dapat menjadi ancaman besar bagi masyarakat karena kemampuannya untuk menyebarkan informasi palsu dengan cara yang sangat meyakinkan. Dengan deepfake, seseorang bisa membuat video yang tampak seperti orang terkenal atau pejabat publik, seperti dalam kasus Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang mengatakan hal-hal kontroversial yang sebenarnya tidak pernah diucapkannya. Berita seperti ini dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi opini publik.

Selain itu, deepfake juga bisa digunakan untuk tujuan negatif seperti pemerasan, penyebaran kebencian, atau merusak reputasi seseorang. Karena sifatnya yang sangat realistis, masyarakat sering kali sulit membedakan antara fakta dan rekayasa digital.

Cara Mengantisipasi Deepfake

Verifikasi Sumber Video dan Audio

Langkah pertama yang penting adalah memverifikasi sumber video atau audio yang kita terima. Jika sumbernya tidak jelas atau tidak resmi, kita perlu lebih berhati-hati. Pastikan untuk memeriksa apakah video atau rekaman tersebut berasal dari media yang kredibel atau langsung dari sumber resmi seperti akun media sosial yang terverifikasi. (Sumber: Kurniawan & Wibowo, 2021).

Perhatikan Tanda-Tanda Pemalsuan

Beberapa ciri-ciri deepfake dapat ditemukan pada perubahan ekspresi wajah yang tidak alami, gerakan bibir yang tidak sinkron dengan suara, atau perubahan pencahayaan yang tidak realistis. Meskipun teknologi deepfake semakin canggih, tanda-tanda ini tetap bisa ditemukan dengan memperhatikan detailnya secara seksama. (Sumber: Pratama & Santosa, 2020).

Gunakan Teknologi Deteksi Deepfake

Ada berbagai alat yang dikembangkan untuk mendeteksi deepfake, seperti software berbasis AI yang menganalisis pola wajah dan suara. Beberapa perusahaan dan universitas, seperti Microsoft dan Deepware, telah mengembangkan sistem untuk mendeteksi deepfake secara otomatis. Ini sangat membantu dalam mengidentifikasi apakah sebuah media benar-benar asli atau hasil manipulasi. (Sumber: Fadilah & Rahman, 2020).

Edukasi Masyarakat

Salah satu cara terbaik untuk mengurangi dampak deepfake adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat. Edukasi tentang apa itu deepfake dan bagaimana mengenalinya sangat penting agar orang tidak mudah terjebak dalam penyebaran disinformasi. Kampanye edukasi yang menyasar berbagai kalangan dapat membantu masyarakat lebih kritis dalam menyaring informasi yang mereka terima.

Laporkan Deepfake

Jika kita menemukan video atau media yang mencurigakan, penting untuk segera melaporkannya ke platform media sosial atau pihak berwenang. Banyak platform seperti Facebook dan Twitter telah menambahkan fitur pelaporan untuk menangani konten yang terindikasi sebagai deepfake.

Kesimpulan

Teknologi deepfake memang memiliki potensi yang sangat besar, baik untuk kepentingan positif maupun negatif. Namun, penyalahgunaannya untuk menyebarkan informasi palsu dapat menimbulkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui apa itu deepfake, bagaimana cara mengenalinya, dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengantisipasinya.

Tentang Penulis:

I Made Widiarta, S.Komp., M.M.Inov. adalah seorang Dosen, Penggiat IT, serta Asesor BNSP yang memiliki kompetensi di bidang teknologi informasi dan inovasi digital. Dengan latar belakang pendidikan di Ilmu Komputer IPB dan Magister Manajemen Inovasi, beliau juga tersertifikasi sebagai Mikrotik MTCNA, MTCRE, dan Mikrotik Trainer, yang membuktikan keahlian beliau dalam jaringan dan teknologi Mikrotik. Sebagai asesor BNSP, beliau berperan dalam menilai dan mengembangkan standar kompetensi di bidang teknologi informasi. Selain itu, I Made Widiarta juga tersertifikasi sebagai Digital Marketer dan Trainer yang tersertifikasi BNSP, menunjukkan keahlian beliau dalam bidang pemasaran digital dan pelatihan. Beliau juga aktif di berbagai organisasi kepemudaan berbasis teknologi dan digitalisasi, seperti Esports, Relawan TIK, Forum Sistem Informasi Desa, dan berbagai organisasi lainnya. Komitmennya dalam dunia pendidikan, teknologi, dan pemasaran menjadikannya sebagai figur yang mendorong penerapan solusi inovatif untuk kemajuan masyarakat.

Sumber Referensi:

Fadilah, N., & Rahman, A. (2020). Sistem Deteksi Deepfake Menggunakan Metode Convolutional Neural Network (CNN) pada Gambar Wajah. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK), 7(4), 220-227.

Goodfellow, I. J., Pouget-Abadie, J., Mirza, M., Xu, B., Warde-Farley, D., Ozair, S., ... & Bengio, Y. (2014). Generative Adversarial Nets. Advances in Neural Information Processing Systems (NeurIPS), 27.

Korshunov, P., & Marcel, S. (2018). Deepfakes: A New Threat to Face Recognition? IEEE International Conference on Image Processing (ICIP), 2018. DOI: 10.1109/ICIP.2018.8451529.

Kurniawan, A. S., & Wibowo, M. D. (2021). Teknologi dan Tantangan Dalam Menghadapi Deepfake: Pendekatan Penggunaan Alat Deteksi. Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi dan Komunikasi (JITIK), 10(2), 150-159.

Pratama, A., & Santosa, B. (2020). Solusi Deteksi Deepfake pada Video Menggunakan Teknik Pembelajaran Mesin. Jurnal Sistem Komputer dan Teknologi Informasi (JSTI), 4(1), 45-52.

Rahayu, M., & Setiawan, A. (2020). Pencegahan Penyebaran Deepfake di Media Sosial: Solusi Teknologi dan Regulasi. Jurnal Ilmu Komputer dan Informasi (JIKI), 12(2), 99-107.

Zhou, X., & Li, Y. (2020). Deepfake Detection: A Survey. IEEE Access, 8, 125591-12560

6. DOI: 10.1109/ACCESS.2020.3001025

]]>
Wed, 20 Aug 2025 13:30:53 +0800 amr
Literasi sebagai Napas Kemerdekaan: Membangun Budaya Kritis di Era Digital https://amarmedia.co.id/literasi-sebagai-napas-kemerdekaan-membangun-budaya-kritis-di-era-digital https://amarmedia.co.id/literasi-sebagai-napas-kemerdekaan-membangun-budaya-kritis-di-era-digital Literasi sebagai Napas Kemerdekaan: Membangun Budaya Kritis di Era Digital

Oleh: Sri Asmediati, S. Pd

(Guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Labuhan Badas)

MENANDAI 80 tahun Indonesia merdeka adalah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan mengintrospeksi perjalanan literasi bangsa selama dua dekade terakhir.  

Sejak awal 2000-an, kecenderungan berkembang dari sekadar akses pendidikan menuju upaya konkret membangun budaya membaca dan menulis, melalui gerakan seperti “Indonesia Membaca” dan “Indonesia Menulis.” 

Kini, saat kemodernan digital menjadikan informasi begitu mudah digapai, tugas kita justru semakin kompleks dan mendesak: tak cukup membebaskan literasi, kita harus menciptakannya secara mendalam, kritis, dan berkelanjutan.

Gerakan Indonesia Membaca dan Indonesia Menulis lahir dari kesadaran bahwa kemampuan dasar literasi—membaca dan menulis—saja tidak cukup. Keduanya memadukan upaya memperluas akses, di antaranya melalui perpustakaan, penyediaan buku, pelatihan guru, hingga komunitas menulis dengan tujuan membentuk kebiasaan kritis dan kreatif. 

Banyak gerakan-gerakan literasi yang dilakukan tokoh pegiat maupun tokoh-tokoh yang berada di jantung sistem birokrasi dalam menggerakkan program, menyalakan api literasi di akar pendidikan lokal, baik di kota maupun pelosok. Mereka mendirikan puluhan perpustakaan dan taman bacaan di pelosok, membuka jendela dunia bagi masyarakat, terutama di bagian timur Indonesia.

Gerakan-gerakan itu menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan, melainkan tindakan sosial yang dirancang dengan hati, taktis, dan berkelanjutan.

Secara kuantitatif, capaian kita menunjukkan kemajuan: Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) secara nasional mencapai sekitar 73,52 pada 2024. Ini menandakan bahwa pembangunan literasi telah meningkat. Demikian pula, Indeks Minat Membaca naik dari 66,77 di 2023 menjadi 72,44 pada 2024. Namun, angka-angka positif itu tetap “sedang,” belum tinggi, dan menyisakan ketimpangan antar wilayah.

Di sisi lain, data global menunjukkan tingkat literasi orang tua atau dewasa di Indonesia mencapai sekitar 96 persen pada 2020, bahkan versi Asia Tenggara menyebut sekitar 96,5 persen pada 2023–2024. Namun angka ini menyembunyikan realitas: tingkat minat baca yang rendah, yang UNESCO bahkan menempatkan pada 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang, hanya satu yang benar-benar rajin membaca. Lebih lanjut, survei BPS menyebut hanya sekitar 10 persen penduduk yang rajin membaca buku.

Angka-angka ini mempertegas bahwa “literasi” dalam arti teknis mungkin cukup bagus, tetapi budaya literasi terutama minat membaca untuk memperkaya wawasan masih lemah.

Era digital membawa tantangan baru: daya konsentrasi manusia sekarang hanya sekitar 40 detik, turun drastis dibandingkan sekitar 3,5 menit satu dekade lalu. Teknologi memudahkan pencarian informasi instan, namun menjadikan pembaca malas menggali lebih dalam dan mempertanyakan keabsahan. Banyak konten yang dibaca sekadar di layar cepat, tanpa refleksi kritis, mengikis esensi literasi sejati.

Gerakan menulis dan membaca ini pun kerap melawan arus “klik”, “viral”, dan konten dangkal. Ketika minat baca meningkat, kita harus bertanya: apakah yang dibaca mengasah pikiran kritis atau hanya memberi hiburan sesaat?

Namun, seburuk-buruk keadaan, tentu selalu ada harapan. Kemodernan juga membuka peluang. Generasi muda, yang akrab dengan gawai, dapat dihadirkan sebagai agen literasi digital, terutama melalui media sosial yang bermutu, blog, platform menulis, podcast literasi, atau kanal YouTube reflektif. Penggunaan teknologi juga bisa mengangkat bahasa lokal dan multitextual literacy: bukan hanya bahasa Indonesia atau Inggris, tetapi juga ragam bahasa daerah. Upaya pengembangan teknologi bahasa untuk ratusan bahasa lokal Indonesia adalah peluang besar untuk literasi inklusif dan interkultural.

Ke depan, literasi Indonesia tidak boleh berhenti pada peningkatan angka statistik, melainkan harus diarahkan pada kualitas dan dampak yang lebih nyata. Minat baca mesti ditumbuhkan bukan hanya lewat penyediaan buku, melainkan melalui diskusi yang mengajak refleksi, komunitas-komunitas baca yang mendorong interaksi, serta pelatihan menulis yang membentuk tradisi berpikir kritis. Guru dan komunitas lokal harus didorong untuk menjadi pusat penggerak, sebagaimana yang dilakukan sejumlah tokoh literasi di berbagai daerah, agar gerakan ini terdesentralisasi dan merata.

Teknologi pun perlu dimanfaatkan dengan cerdas, bukan sekadar sebagai wahana distribusi konten cepat, melainkan sarana menghadirkan literasi yang memperkaya. Aplikasi bacaan interaktif, platform digital berbahasa lokal, hingga kanal literasi berbasis budaya bisa menjadi jalan memperluas keterlibatan generasi muda. 

Di saat yang sama, penting pula menjadikan literasi sebagai bagian dari kewargaan: kemampuan membaca dan menulis harus bertransformasi menjadi kapasitas demokrasi, daya analisis terhadap hoaks, serta keberanian menyuarakan gagasan secara kritis dan konstruktif.

Dengan cara ini, literasi bukan lagi semata-mata urusan sekolah atau perpustakaan, melainkan napas kehidupan sosial, politik, dan budaya yang membentuk warga negara yang matang.

Tahun ke-80 ini, kita merayakan kemerdekaan yang kini berwajah berbeda: merdeka dari keterbatasan—dalam hal akses, kemampuan, dan keterbukaan berpikir. Gerakan literasi selama dua dekade terakhir, dengan segala pencapaian dan keterbatasannya, menunjukkan bahwa merdeka sesungguhnya tidak cukup dicapai hanya dengan “bisa baca dan tulis”. Ia harus diwujudkan melalui semangat membaca yang kritis, menulis yang reflektif, dan teknologi yang memberdayakan, bukan menumpulkan.

Merdeka dalam arti sejati bagi generasi muda adalah ketika mereka tak sekadar terhubung ke dunia maya, tetapi mampu mencerna, mempertanyakan, dan menyuarakan, dengan kata, ide, dan hati. Maka, merdeka literasi hari ini adalah menyiapkan generasi merdeka masa depan: merdeka berpikir, merdeka berkarya, merdeka mengubah.

Inilah tantangan dan harapan kita di era global yang modern. Dan, semoga hari ini, semangat literasi jadi nyala yang tak padam oleh gemerlap layar gawai di genggaman, tapi melingkupi pemikiran, kreativitas, dan kemanusiaan yang sejati. Selamat merayakan Hari Kemerdekaan ke-80, Indonesia merdeka dan literasi merdeka. (AM)

]]>
Sun, 17 Aug 2025 16:06:37 +0800 amr
Melampaui Pesta Rakyat, Puisi Sri Asmediati Menyelami Arti Kemerdekaan Sesungguhnya https://amarmedia.co.id/melampaui-pesta-rakyat-puisi-sri-asmediati-menyelami-arti-kemerdekaan-sesungguhnya https://amarmedia.co.id/melampaui-pesta-rakyat-puisi-sri-asmediati-menyelami-arti-kemerdekaan-sesungguhnya Melampaui Pesta Rakyat, Puisi Sri Asmediati Menyelami Arti Kemerdekaan Sesungguhnya

Karya: Sri Asmediati, S. Pd

(Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Labuhan Badas)

Puisi karya Sri Asmediati yang bertajuk "Melampaui Pesta Rakyat" mengajak pembaca untuk menyelami makna kemerdekaan yang lebih mendalam daripada sekadar perayaan tahunan. Melalui bait-baitnya, Asmediati menyoroti bahawa kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi lebih kepada pembebasan dari belenggu mentaliti penjajahan yang masih menghantui. Puisi ini mengajak kita merenung tentang kebebasan berfikir, hak bersuara, dan keadilan sosial yang sejati sebagai elemen penting dalam mencapai kemerdekaan yang sebenar. Dengan gaya bahasa yang puitis dan mendalam, Asmediati memprovokasi pembaca untuk melihat kemerdekaan sebagai sebuah perjalanan berterusan menuju kesejahteraan dan kemajuan seluruh rakyat, menekankan bahawa perjuangan belum selesai selagi masih ada ketidakadilan dan penindasan.

Yuk disimak karya tulis puisi Sri Asmediati bertemakan 17 Agustus.

Puisi Pertama: Merah Putih di Ladang Hati

Agustus kembali datang dengan segala riuhnya, menggiring bocah-bocah berlarian di jalanan sempit, menebar tawa yang pecah. Sementara langit hanya diam, menatap dari jauh dengan warna kelabu yang tak mau pergi.

Di setiap sudut gang, bendera berkibar—menyimpan luka lama yang disulam benang merah dan putih, dipaksa tersenyum di antara debu dan angin, seakan semua janji kemerdekaan masih hidup di ujung kainnya.

Aku berdiri di tengah keramaian itu, merasakan tanah bergetar oleh gemuruh lomba: peluit panjang yang memecah udara, tali yang menegang, tubuh-tubuh kecil yang berjuang untuk kemenangan yang tak lebih dari hadiah plastik. Namun, mata mereka berkilau, menyala seperti pelita yang tak takut padam.

Ada sorakan, ada tawa yang saling bersahutan, tapi jauh di kedalaman dada, ada sesuatu yang tak ikut merdeka.

Tiang-tiang bendera berdiri kaku, seperti prajurit tua yang menyimpan tegang peperangan.

Terdengar lantang lagu perjuangan. Namun, di sela nadanya ada getir yang tak sanggup disembunyikan sepenuhnya.

Di balik merah-putih itu, ada tanah yang dulu disirami darah, ada ibu-ibu yang dulu menangis sampai suara hilang, ada jiwa-jiwa yang menukar napas terakhirnya dengan mimpi tentang negeri yang bebas, dan kini, mimpi itu berkibar di angin, tapi tak selalu sampai pada setiap hati yang haus arti merdeka.

Aku ingin ikut bersorak, ikut melompat dalam euforia yang membakar udara, tapi langkahku seperti diikat rantai yang tak kasatmata. Terasa ada duka yang tertinggal di antara riuh tepuk tangan, duka tentang janji yang terlalu sering diucapkan. Namun, jarang benar-benar menjadi rumah bagi semua anak negeri.

Kemerdekaan terasa seperti pintu yang tak pernah terbuka penuh, hanya celah sempit yang cukup untuk memandang, tapi tak pernah cukup untuk benar-benar masuk.

Malam pun tiba, lampion-lampion bergelantungan di tali, seperti bintang palsu yang diciptakan demi pesta satu malam.

Orang-orang pulang dengan wajah sumringah, membawa hadiah, membawa cerita untuk esok hari. Sementara jalan kembali sepi, tiang bendera berdiri sendirian dalam gelap, dan bulan menyaksikan semua dalam diam.

Aku menatap langit, membiarkan angin menampar wajahku pelan, membawa aroma tanah, keringat, dan sejarah yang tak pernah selesai.

Ada doa yang menyala di dadaku, doa yang berapi-api: "Semoga suatu hari kemerdekaan tak hanya jadi pesta setahun sekali, tak hanya bendera yang dikibarkan lalu dilupakan, tapi jadi cahaya yang benar-benar hidup di dada setiap anak negeri ini. Cahaya yang tak padam meski Agustus pergi, meski lampion diturunkan, meski dunia kembali sibuk dengan lukanya sendiri."

Agustus 2025

Puisi kedua : Api Semangat Rakyat

Kami bukan siapa-siapa.

Kami hanya rakyat biasa yang tak punya banyak suara,yang setiap harinya berkeringat di bawah matahari,berjalan menembus waktu demi dapur yang tetap mengepul.

Tapi setiap Agustus datang, dada kami ikut bergetar.

Ada sesuatu dalam langit biru dan bendera yang berkibar…

yang mengingatkan kami, bahwa kami pernah dijajah, dan kini bisa memilih jalan kami sendiri meski terkadang jalan itu berlumpur dan penuh lubang.

Kami mengikat kain merah putih di tiang bambu,

Kami mengecat gapura dengan warna cerah,

anak-anak kami ikut lomba makan kerupuk dan balap karung. dengan tawa yang lepas,walau kami tahu, hidup ini belum sepenuhnya merdeka.

Namun kami tak mengeluh.

Karena kami tahu, kemerdekaan adalah proses,

bukan hadiah yang tinggal dipakai.

Ia adalah warisan yang harus terus dijaga

seperti petani menjaga ladangnya

atau nelayan menjaga arah angin.

Kami tak punya gelar,

tak pernah duduk di kursi tinggi

tapi darah para pejuang juga mengalir dalam tubuh kami,yang setiap hari bekerja jujur,

yang setiap malam mendoakan negeri ini agar tetap utuh.

Kami mungkin tak memanggul senjata,

tapi kami melawan dengan cara kami

melawan putus asa, melawan rasa tidak adil,

melawan godaan untuk menyerah pada nasib.

Dan di setiap tanggal 17,

kami berdiri tegak di halaman rumah

meski hanya beralas tanah,

menyanyikan Indonesia Raya dengan suara serak

dan mata yang berkaca-kaca.

Karena bagi kami,

kemerdekaan bukan hanya cerita masa lalu.

Ia adalah janji yang harus terus diperjuangkan,

agar anak-anak kami bisa hidup lebih baik,

agar negeri ini benar-benar menjadi rumah

bagi siapa saja yang mencintainya.

Kami adalah rakyat.

Kami yang dulu diperjuangkan,

dan kini ikut berjuang…

agar api kemerdekaan tak padam oleh waktu.

-Agustus 2025-

Puisi Ketiga : Perjalanan Menuju Merdeka 

Di sebuah pagi yang lengang,

Langit belum sepenuhnya biru,

Aku melangkah, membawa luka dan rindu,

Dalam sepi yang tak memilih siapa tuannya.

Langkah pertama bukan kemenangan,

Hanya pertemuan dengan kerikil dan bayang,

Namun di dada, denyut tak pernah padam:

Ada nyala kecil bernama harapan.

Aku pernah terjerat waktu,

Terperangkap dalam takdir yang bisu,

Di mana suara hati terkubur,

Dan cahaya tertelan kabut ragu.

Tapi hidup bukan rantai yang mengikat

Ia adalah jalan panjang yang menanti dipijak.

Luka bukan alasan berhenti,

Melainkan bukti bahwa aku pernah melawan.

Kebebasan bukan sekadar lepas dari belenggu,

Tapi keberanian memilih jalan sendiri,

Meski sunyi, meski tertatih,

Meski tak satu pun mata memahami.

Aku belajar bahwa kemerdekaan

Adalah ketika tangis tak lagi malu,

Ketika tawa tak butuh izin,

Dan mimpi tak perlu permisi pada dunia.

Merdeka adalah saat aku berdiri,

Di tengah badai dan berkata:

“Aku, yang rapuh ini, tetap berjalan.”

Perjalanan hidup tak pernah lurus,

Tapi setiap belokan mengajari arti juang.

Di setiap jatuh, kutemukan diriku kembali,

Lebih utuh, lebih berani, lebih bebas.

Hari ini, aku tak lagi bersembunyi

Di balik definisi orang lain.

Aku adalah aku:

Yang memilih sendiri arah angin.

Dan di ujung senja nanti,

Jika langit bertanya padaku,

“Apa arti hidup?”

Aku akan menjawab:

“Perjalanan menuju merdeka.”

Agustus 2025

Puisi ke Empat: LANGIT AGUSTUS 

Langit Agustus selalu berbeda.

Ia menyala lebih terang dari biasanya, seolah mengulang kilatan semangat yang dulu meletup di dada para pejuang.

Angin yang bertiup pun seperti membawa kabar dari masa lalu—tentang darah, tentang harap, tentang tanah yang dicintai setulus nyawa.

Di kampung-kampung, di gang sempit dan jalanan kota, bendera merah putih berkibar dengan angkuh.

Bukan kesombongan yang sombong, tapi harga diri sebuah bangsa yang pernah diremehkan dan kini berdiri tegak, meski tak selalu sempurna.

Anak-anak berlari dengan tawa di wajahnya, memegang balon, lomba, dan hadiah-hadiah kecil.

Mereka belum tahu betapa mahal harga kebebasan yang mereka rayakan. Tapi tak apa. Cukuplah mereka tahu bahwa mereka bebas untuk tertawa, untuk belajar, untuk bermimpi lebih tinggi dari langit.

Para ibu menghias gapura dengan senyum, para ayah ikut menyusun panjat pinang meski peluh bercucuran. Tak ada bayaran untuk kerja ini, selain rasa syukur telah terlahir di bumi yang tak lagi dijajah, tak lagi dibelenggu rantai dan laras senjata.

Dan di setiap detik Agustus yang bergulir, kita seperti diajak mengenang… bahwa kemerdekaan ini bukan sekadar tanggal merah di kalender, bukan hanya pesta rakyat dan upacara bendera. Ini adalah warisan luka yang dibayar lunas oleh generasi sebelum kita dengan darah dan doa yang tak pernah dicatat buku sejarah.

Agustusan bukan hanya seremonial. Ia adalah pengingat: bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa kita harus melanjutkan apa yang telah dimulai dengan cara kita, dengan zaman kita. Dengan menolak lupa, dengan bekerja lebih jujur, dengan mencintai negeri ini walau kadang kecewa.

Maka, mari kita terus kibarkan merah putih, bukan hanya di tiang bendera… tapi juga di dada dan di perbuatan.

Karena selama kita masih berani bermimpi dan berbuat…

Kemerdekaan akan selalu hidup.

Dan Agustus akan terus bermakna.

Agustus 2025

Puisi ke lima : AGUSTUS CERIA 

Sontak tunas-tunas Negeri berlarian gembira

Menyambut bulan Agustus di perbatasan senja

Berkejaran wajah mereka penuh ceria

Terselip haru dalam hati mengingat jasa Negara

Awan putih masih berarak memenuhi cakrawala

Sorak-sorai mereka membahana

Menyambut kemerdekaan Republik Indonesia

Di belahan bumi tercinta

Anak-anak pelangi kembali di bawah panji-panji dwiwarna

Mempersembahkan jiwa mengabdikan cinta

Seiring hati bahagia merah putih berkibar indah

Kidung kebangsaan mengiringi meriah

Kibar merah putih melambai

Semilir sang bayu embuskan damai

Rayakan hari bersejarah di atas bumi

Di ujung lembayung senja Agustus ini

Mereka adalah anak-anak Negeri

Bersatu berjuang menjaga kelestarian Pertiwi

Cinta putih terpatri seharum melati

Jiwanya setegar karang kaki berdiri

-Agustus 2025-

]]>
Sun, 17 Aug 2025 00:35:44 +0800 amr
Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa: Solusi Meningkatkan Kesejahteraan dan Pemerataan Pembangunan https://amarmedia.co.id/pembentukan-provinsi-pulau-sumbawa-solusi-meningkatkan-kesejahteraan-dan-pemerataan-pembangunan https://amarmedia.co.id/pembentukan-provinsi-pulau-sumbawa-solusi-meningkatkan-kesejahteraan-dan-pemerataan-pembangunan Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa: Solusi Meningkatkan Kesejahteraan dan Pemerataan Pembangunan

Oleh : Fadhilah Cahya Aulia, mahasiswi Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa

Di era globalisasi yang menyebabkan meningkatnya kemajuan peradaban dan juga teknologi ini ternyata masih banyak wilayah di Indonesia yang menghadapi tantangan dalam hal pemerataan pembangunan dan juga kesejahteraan.Salah satunya adalah pulau Sumbawa yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat. 

Meskipun daerah ini memiliki potensi besar di dalam hal pariwisata, ekonomi maupun budaya, nyatanya pemerintah masih kurang dalam hal pengelolaan dan juga pemeliharaan daerahtersebutdikarenakan pulauSumbawa cenderung dikesampingkan. Dimana pemerintah lebih fokus mengelola pulauseberangyangmerupakanpusatdanjugawajahdariprovinsiNusaTenggaraBarat. 

Oleh karena itu masyarakat mulai mendesak terbentuknya Provinsi Pulau Sumbawa yang di harapkan mampu menjadi solusi dalam mensejahterakan dan mempercepat pembangunan daerah tersebut.

Beberapa tahun terakhir ini Sumbawa mulai menunjukan potensi besar dalam bidang ekonomi seperti contohnya pada bidang pariwisata, pertambangan dan juga pertanian. Seharusnya pemerintah mulai lebih peka dan memperhatikan potensi yang ditunjukkan dan mulai di lirik oleh wisatawan luar maupun lokal terutama pada sektor pariwisata, akan tetapi pemerintah seakan acuh tak acuh dan menutup mata seolah potensi yang dimiliki daerah Sumbawa tidak semenjanjikan daerah lainnya di Nusa Tenggara Barat. 

Oleh karena itu masyarakat yang sudah lelah selalu berada di bawah naungan pulau seberang dan seakan tak di hiraukan menuntut pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa yang dimana pulau Sumbawa akan menjadi provins li sendiri yang bisa mengatur dan juga menata daerah sendiri karena aspirasi masyarakat dapat langsung di suarakan.

Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa juga dapat menjadi batu acuan yang mendorong meningkatnyainvestasidanjugapembangunanekonomididaerahtersebutdikarenakan adanya pemerintahan yang stabil dan efektif sehingga menciptakan rasa kepercayaan dari para investor asing dan kemudian terbentuknya banyak lapangan kerja bagi masyarakat Sumbawa.

Selain itu pembentukan provinsi ini juga dapat menjadi panggung bagi masyarakat Sumbawa agar lebih dikenal masyarakat luar maupun dalam negeri melalui pengenalan budaya dan tradisi yang menjadi salah satu potensi pariwisata. Sehingga selain terbentuknya kesejahteraan dan juga pemerataanpembangunan pembentukan provinsi

ini juga dapat menjadi salah satu hal yang dapat meningkatkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap adat dan tradisi yang dimiliki masyarakat.

Akan tetapi pembentukan provinsi ini juga tidak semudah membalikkan telapak tangan karena pada dasarnya untuk menjad idaerah otonom yang mengatur dan menata daerah sendiri melalui pembentukan provinsi baru, tentunya ada beberapa kendala yang di hadapi salah satunya adalah biaya pembentukan provinsi baru yang sangatlah tinggi sehingga menjadi salah satu kendala pemerintah maupun masyarakat dalam merealisasikannya.Selain itu tidak menutup kemungkinan akan terjadinya konflik antar masyarakat yang pro maupun kontra dan juga konflik kepentingan yanga menjadi tantangan yang tak dapat di hindari.

Oleh karena itu masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menyikapi pemerintah yang terkesan lambat dalam menerima aspirasi masyarakat, karena perlu dilakukan analisis kelayakan,kekurangan dan juga tantangan serta solusi dalam membentuk provinsi baru.

Kesimpulannya adalah pembentukan provinsi pulau Sumbawa pada dasarnya merupakan salah satu solusi bagi masyarakat maupun pemerintah yang ingin mensejahterakan dan juga melakukan program pemerataan pembangunan akan tetapi pemerintah dan masyarakat tetap harus lah bijak dalam pengambilan keputusan karena perlu di lakukan analisis yang lebih mendalam agar mengurangi resiko atau tantangan yang tidak diharapkan dikemudian hari.

]]>
Thu, 07 Aug 2025 00:53:09 +0800 amr
Mahasiswa dan Akses Pendidikan Tinggi: Apakah Kartu KSB Maju Jawabannya? https://amarmedia.co.id/mahasiswa-dan-akses-pendidikan-tinggi-apakah-kartu-ksb-maju-jawabannya https://amarmedia.co.id/mahasiswa-dan-akses-pendidikan-tinggi-apakah-kartu-ksb-maju-jawabannya Mahasiswa dan Akses Pendidikan Tinggi: Apakah Kartu KSB Maju Jawabannya?

Oleh : Ridho Ashar 

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Teknologi Sumbawa)

Pendidikan tinggi sering kali digadang sebagai jalan keluar dari kemiskinan dan ketimpangan sosial. Namun, di daerah seperti Sumbawa Barat, akses terhadap jenjang ini masih menghadapi hambatan ekonomi serius. Dalam konteks ini, munculnya program Kartu KSB Maju sebuah kebijakan afirmatif dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang diluncurkan pada 20 Mei 2025 menjadi solusi strategis. 

Program ini merupakan bagian dari integrasi layanan publik melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan konsep Smart City, serta bersandar pada sistem “KSB Satu Data” sebagai basis verifikasi administrasi. Dengan penekanan pada transparansi, efisiensi, dan kontrol berbasis data, kartu ini dirancang untuk menjawab tantangan ketimpangan akses layanan di berbagai sektor, terutama pendidikan tinggi.

Kartu KSB Maju adalah kartu digital multifungsi yang berfungsi sebagai alat eksekusi dan kontrol program-program strategis pemerintah daerah. Secara teknis, kartu ini terintegrasi dengan sistem web dan mobile, serta terkoneksi langsung dengan database Disdukcapil untuk validasi identitas dan Bank NTB Syariah untuk proses pencairan dana. Fisik kartu ini menyerupai kartu ATM, dilengkapi dengan chip data, kode QR, dan nomor identitas, memungkinkan pemanfaatan tidak hanya untuk pendidikan, tetapi juga bantuan kesehatan, sosial, dan subsidi lainnya. 

Mekanisme distribusi bantuan dilakukan melalui input data oleh OPD terkait, pencetakan kartu bagi keluarga yang memenuhi kriteria, dan pencairan dana ke rekening penerima. Pemantauan program dilakukan melalui aplikasi digital yang terintegrasi.

Dari sisi teknis dan kecepatan distribusi, program ini menunjukkan efektivitas nyata. Setelah calon mahasiswa diterima di perguruan tinggi, ia cukup melapor ke Dinas Pendidikan, dan dana awal sebesar Rp2 juta langsung dicairkan ke rekening kepala keluarga melalui Bank NTB Syariah. Puluhan ribu rekening telah aktif, dan sebagian besar dana pendidikan telah dicairkan, meskipun distribusi fisik kartu masih berjalan. Namun demikian, efektivitas program ini belum menjangkau tantangan yang lebih dalam dan bersifat struktural. 

Sebagian besar bantuan hanya menutupi biaya awal kuliah, seperti pendaftaran dan registrasi. Biaya semester berikutnya, kebutuhan tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan harian mahasiswa belum tercakup dalam skema bantuan ini. Bagi keluarga kurang mampu, hambatan utama bukan hanya soal masuk ke perguruan tinggi, tetapi bertahan dan menyelesaikan studi dengan baik.

Jika ditinjau melalui lensa sosiologi pendidikan, seperti yang dikemukakan Pierre Bourdieu (1986), pendidikan tinggi bukan sekadar proses akademik, tetapi proses sosial yang sarat akan reproduksi kelas dan ketimpangan simbolik. Mahasiswa dari keluarga ekonomi lemah tidak hanya menghadapi keterbatasan dana, tetapi juga minimnya kapital budaya dan sosial misalnya, tidak adanya role model akademik, rendahnya ekspektasi keluarga terhadap pendidikan, dan lingkungan sosial yang kurang mendukung. 

Dalam kerangka ini, Kartu KSB Maju memang telah menanggulangi hambatan administratif dan finansial awal, tetapi belum menyentuh akar persoalan berupa kesenjangan kultural dan struktural. Jika tidak dibarengi dengan intervensi yang lebih menyeluruh, kartu ini berisiko menjadi solusi simbolik semata.

Agar kartu ini menjadi instrumen transformasional, bukan sekadar administratif, maka perlu pergeseran orientasi. Program afirmatif ini dapat diperluas melalui integrasi pendampingan akademik, seperti bimbingan belajar dan konseling karier; pemberian beasiswa berkelanjutan berbasis prestasi dan kondisi sosial; pelatihan vokasi atau kewirausahaan bagi mahasiswa penerima manfaat; dan kampanye literasi pendidikan ke desa-desa yang menjadi kantong keluarga miskin. 

Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil sangat dibutuhkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Jadi, apakah Kartu KSB Maju adalah jawabannya? Jawabannya: sebagian, tapi belum sepenuhnya. Ia membuka pintu, tapi belum menjamin siapa yang bisa melewati dan bertahan sampai akhir perjalanan pendidikan tinggi. Tanpa keberlanjutan, program ini hanya akan menjadi jembatan pendek, bukan jalan panjang menuju transformasi sosial. Akses bukan akhir dari perjuangan, melainkan titik mula dari sistem yang harus lebih adil dan suportif bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.

Kartu KSB Maju merupakan program inovatif yang menggabungkan digitalisasi layanan publik dengan kebijakan afirmatif berbasis data. Ia menjanjikan efisiensi, transparansi, dan kecepatan dalam penyaluran bantuan pendidikan. Namun, efektivitas jangka panjangnya sebagai jawaban atas kesenjangan akses pendidikan tinggi masih memerlukan penguatan dalam bentuk strategi keberlanjutan yang bersifat sosial-struktural. 

Jika dikembangkan secara holistik dengan integrasi pendampingan akademik, beasiswa berjenjang, dan pemberdayaan vokasional maka Kartu KSB Maju tidak hanya akan menjadi kartu bantuan, tetapi simbol transformasi sosial digital yang mampu mengubah wajah pendidikan tinggi di Sumbawa Barat. Inilah momentum emas untuk membuktikan bahwa afirmasi berbasis data dapat menjadi fondasi keadilan sosial dalam pendidikan.

]]>
Thu, 07 Aug 2025 00:36:22 +0800 amr
Analisis dan Evaluasi Penonaktifan 14.075 Keanggotaan BPJS PBI di Kabupaten Sumbawa https://amarmedia.co.id/analisis-dan-evaluasi-penonaktifan-14075-keanggotaan-bpjs-pbi-di-kabupaten-sumbawa https://amarmedia.co.id/analisis-dan-evaluasi-penonaktifan-14075-keanggotaan-bpjs-pbi-di-kabupaten-sumbawa Analisis dan Evaluasi Penonaktifan 14.075 Keanggotaan BPJS PBI di Kabupaten Sumbawa

Oleh :  Feboan Riman Andara

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

I. Pendahuluan

Layanan jaminan kesehatan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara. Di Indonesia, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan melalui program Penerima Bantuan Iuran (PBI) menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang kurang mampu. Namun, kebijakan penonaktifan secara massal terhadap 14.075 peserta BPJS PBI di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, telah menimbulkan polemik. 

Penonaktifan ini merupakan imbas dari penerapan basis data baru, yaitu Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang merupakan bagian dari Sistem Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) oleh pemerintah pusat. Meskipun bertujuan untuk menertibkan data penerima bantuan, implementasinya di lapangan memicu masalah serius, di mana masyarakat miskin justru kehilangan haknya, sementara sebagian yang dinilai mampu masih terdaftar. Esai ini akan menganalisis dampak dari kebijakan tersebut, menyoroti permasalahan dalam pendataan, serta menawarkan solusi agar program jaminan kesehatan dapat kembali tepat sasaran.

II. Permasalahan Data dan Kesalahan Sasaran

Penonaktifan keanggotaan BPJS PBI di Sumbawa menunjukkan adanya ketidakakuratan data di lapangan. Kebijakan ini seharusnya menyasar masyarakat yang secara ekonomi sudah mampu, namun realitanya justru sebaliknya. 

Banyak pengaduan yang diterima oleh Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa dari warga yang benar-benar membutuhkan, namun haknya dicabut. Di sisi lain, fenomena "salah sasaran" penerima bantuan PBI juga masih terjadi, di mana program ini malah dinikmati oleh individu atau keluarga yang memiliki kondisi ekonomi mapan atau memiliki "orang dalam". 

Hal ini membuktikan bahwa proses validasi dan verifikasi data yang digunakan sebagai dasar penonaktifan belum berjalan optimal dan tidak mencerminkan kondisi riil di masyarakat.

III. Dampak yang Ditimbulkan

Penonaktifan BPJS PBI secara masal ini menciptakan dampak yang signifikan, terutama bagi masyarakat yang benar-benar bergantung pada layanan kesehatan gratis:

1. Hambatan Akses Layanan Kesehatan. Banyak masyarakat miskin yang sebelumnya bisa mengakses fasilitas kesehatan secara gratis melalui BPJS PBI, kini harus menanggung biaya pengobatan sendiri. Hal ini menjadi beban berat yang dapat menunda atau bahkan menggagalkan proses pengobatan, berisiko memperburuk kondisi kesehatan mereka.

2. Keresahan Sosial.

Kesalahan sasaran dalam penonaktifan memicu keresahan dan ketidakpercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah. Masyarakat merasa tidak adil, di mana hak mereka sebagai warga miskin dicabut, sementara pihak-pihak yang dinilai mampu justru tetap menikmati fasilitas tersebut.

3. Beban Administrasi Baru.

Masyarakat yang dinonaktifkan terpaksa harus mengurus kembali data mereka ke Dinas Sosial. Proses ini seringkali memakan waktu, tenaga, dan biaya, yang semakin menyulitkan mereka dalam mendapatkan kembali haknya.

IV. Rekomendasi Solusi dan Perbaikan

Meskipun niat untuk menertibkan data dan memastikan subsidi tepat sasaran adalah langkah yang baik, pelaksanaannya harus dilakukan dengan hati-hati dan akurat. Beberapa rekomendasi solusi yang dapat dipertimbangkan adalah:

1. Pemerintah daerah, melalui Dinas Sosial, perlu melakukan verifikasi ulang secara menyeluruh terhadap data masyarakat yang dinonaktifkan. Proses ini harus melibatkan pemerintah desa/kelurahan untuk memastikan data yang digunakan benar-benar valid dan sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan.

2. Pemerintah harus membangun sistem yang lebih transparan dan partisipatif dalam penetapan data penerima bantuan. Mekanisme pengaduan yang mudah diakses dan responsif harus disediakan, sehingga masyarakat yang merasa dirugikan dapat segera melaporkan dan memproses perbaikan datanya.

3. Perlu adanya integrasi data yang lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga setiap perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat dapat diperbarui secara _real-time_ dan tidak menimbulkan kesalahan fatal seperti penonaktifan massal yang salah sasaran.

V. Kesimpulan

Penonaktifan 14.075 peserta BPJS PBI di Kabupaten Sumbawa merupakan cerminan dari kompleksitas pendataan kesejahteraan sosial di Indonesia. Niat baik untuk menertibkan data harus dibarengi dengan implementasi yang akurat, teliti, dan berbasis kondisi riil di lapangan. Tanpa perbaikan sistem yang signifikan, kebijakan semacam ini akan terus merugikan masyarakat miskin yang seharusnya menjadi target utama program jaminan kesehatan sosial. Verifikasi data ulang, transparansi, dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah adalah kunci untuk memastikan setiap warga negara, tanpa terkecuali, mendapatkan haknya atas pelayanan kesehatan yang layak.

]]>
Wed, 06 Aug 2025 13:26:02 +0800 amr
Fenomena Kekeringan Melanda Sejumlah Kecamatan di Sumbawa, Warga Kekurangan Air Bersih https://amarmedia.co.id/fenomena-kekeringan-melanda-sejumlah-kecamatan-di-sumbawa-warga-kekurangan-air-bersih https://amarmedia.co.id/fenomena-kekeringan-melanda-sejumlah-kecamatan-di-sumbawa-warga-kekurangan-air-bersih Fenomena Kekeringan Melanda Sejumlah Kecamatan di Sumbawa, Warga Kekurangan Air Bersih

Disusun Oleh : Wiwin

(Mahasiswa  Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Fenomena kekeringan di Kabupaten Sumbawa menjadi permasalahan yang terus berulang dari tahun ke tahun, terutama saat musim kemarau panjang melanda. Daerah-daerah yang sebagian besar mengandalkan sumber mata air alami dan tadah hujan kini menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim global yang memengaruhi pola hujan.

Beberapa desa di Kecamatan Lantung, Orong Telu, dan Moyo Hulu merupakan contoh wilayah yang hampir setiap tahun masuk dalam daftar daerah rawan kekeringan. Kondisi geografis yang berbukit-bukit serta infrastruktur air bersih yang masih terbatas semakin memperburuk situasi warga.

Dampak dari kekeringan tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan air minum, mandi, dan mencuci, tetapi juga menghantam sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Sumbawa. 

Sawah-sawah yang mengering menyebabkan petani gagal panen, harga hasil pertanian merosot, dan pendapatan mereka menurun drastis. Sementara itu, para peternak juga harus memutar otak karena padang rumput yang biasanya menjadi sumber pakan ternak berubah menjadi tanah tandus yang retak-retak. Banyak peternak terpaksa membeli pakan tambahan, yang tentu menambah beban biaya di tengah penghasilan yang menurun.

Ironisnya, distribusi air bersih yang diupayakan pemerintah daerah dengan mobil tangki seringkali belum merata dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua warga terdampak. Mobil tangki kesulitan menjangkau desa-desa terpencil dengan jalan yang rusak atau berbatu. Di sisi lain, masyarakat yang mampu membeli air bersih dengan jeriken pun tidak sedikit yang harus berutang demi kebutuhan dasar ini. 

Bantuan dari relawan dan lembaga sosial memang datang, tetapi sifatnya hanya sementara dan belum menjawab akar persoalan kekeringan.

Salah satu penyebab utama kekeringan di Sumbawa adalah belum optimalnya pengelolaan sumber daya air. Banyak sumber mata air belum dilestarikan dengan baik, hutan-hutan di kawasan hulu semakin berkurang akibat penebangan liar, dan waduk atau embung desa belum dibangun secara merata. 

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk menabung air hujan atau menggunakan air secara hemat juga masih rendah. Padahal, beberapa wilayah di Sumbawa memiliki potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan jika dikelola dengan teknologi tepat guna seperti sumur bor dalam.

Penanganan kekeringan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Pemerintah perlu menyediakan kebijakan yang mendorong pembangunan infrastruktur air bersih secara merata, seperti pembangunan embung desa, bendungan kecil, atau sumur bor di wilayah rawan kekeringan. Masyarakat juga harus dilibatkan aktif dalam menjaga sumber air, melakukan konservasi lahan, serta menanam pohon di kawasan resapan air. 

Perguruan tinggi, lembaga riset, maupun perusahaan swasta juga dapat memberikan kontribusi melalui inovasi teknologi tepat guna yang dapat membantu pengelolaan air secara efisien. Jika semua pihak mau bekerja sama, persoalan kekeringan di Sumbawa bukanlah masalah yang mustahil untuk diatasi. Dengan perencanaan yang matang, pendanaan yang memadai, dan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, ketersediaan air bersih dapat terjaga sepanjang tahun. 

Hal ini tidak hanya akan menjamin kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, tetapi juga menjaga stabilitas sektor pertanian, peternakan, dan perekonomian desa secara berkelanjutan.

Fenomena kekeringan di Sumbawa seharusnya menjadi bahan renungan bagi semua pihak bahwa alam tidak akan pernah kompromi jika manusia terus mengabaikan kelestariannya. Harapannya, masyarakat Sumbawa tidak lagi harus menunggu bantuan air bersih setiap kemarau datang, melainkan mampu mandiri dengan sistem pengelolaan air yang berkelanjutan. Dengan demikian, mimpi Sumbawa menjadi daerah yang tangguh menghadapi musim kemarau bukanlah sekadar angan-angan, melainkan sebuah kenyataan yang dapat dicapai melalui kerja sama dan kesadaran kolektif. (AM)

]]>
Wed, 06 Aug 2025 13:06:18 +0800 amr
Penjualan Pulau Panjang di Sumbawa; Mengancam Kedaulatan Negara dan Lingkungan https://amarmedia.co.id/penjualan-pulau-panjang-di-sumbawa-mengancam-kedaulatan-negara-dan-lingkungan https://amarmedia.co.id/penjualan-pulau-panjang-di-sumbawa-mengancam-kedaulatan-negara-dan-lingkungan Penjualan Pulau Panjang di Sumbawa; Mengancam Kedaulatan Negara dan Lingkungan 

Oleh : Kasdiyanto

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Teknologi Sumbawa)

Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan berita penjualan Pulau Panjang yang terletak di Desa Labuhan Mapin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, melalui salah satu situs daring bernama PrivatIslanOnline.com. Kasus ini bukan sekadar persoalan jual beli biasa, tetapi menyangkut kedaulatan negara serta pelanggaran terhadap hukum agraria dan kelautan Indonesia.

Kementerian kelautan dan perikanan telah menegaskan bahwa tidak ada satu pun regulasi yang memperbolehkan jual beli pulau di Indonesia. Menurut saya, penjualan pulau secara daring ini merupakan ancaman serius terhadap wilayah, kedaulatan, dan lingkungan hidup yang harus segera ditindak.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah pulau yang sangat banyak. Berdasarkan data terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG), Indonesia memiliki 17.380 pulau. Setiap pulau, sekecil apa pun, memiliki peran strategis sebagai bagian dari batas teritorial negara. Menjual pulau sama saja dengan membuka pintu bagi penguasaan wilayah oleh pihak asing, yang dapat berdampak pada klaim teritorial dan eksploitasi sumber daya secara tidak terkendali.

Menurut keterangan resmi pemerintah, Pulau Panjang memiliki luas 1.641,25 hektare. Pulau ini termasuk ke dalam kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 418/KPTS-II/1999 15 Juni 1999. Pernyataan resmi dari BKSDA NTB dan pejabat pemerintah daerah juga menegaskan statusnya sebagai kawasan konservasi milik negara.

Artinya, pulau tersebut dilindungi secara hukum dan tidak bisa dimiliki atau dikelola secara sembarangan. Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 17 Tahun 2016, luas pulau yang dapat dimiliki pihak tertentu maksimal 70% dari total luas pulau, sementara 30% sisanya harus diperuntukkan bagi kepentingan umum, untuk fungsi lindung, akses publik, dan kepentingan umum lainnya. Oleh karena itu, tindakan menjual pulau melalui situs daring merupakan pelanggaran nyata terhadap perlindungan fungsi ekologis dan kedaulatan negara.

Di sisi lain, fenomena kepemilikan tanah oleh orang asing juga memperumit persoalan. Banyak ditemukan kasus di mana warga negara asing menggunakan modus nominee atau “pinjam nama”, yaitu perjanjian antara dua pihak dalam bentuk akta otentik. Dalam perjanjian nominee, salah satu pihak (nominee) bertindak atas nama pihak lain (beneficial owner) dalam hal kepemilikan atau pengelolaan suatu aset.

Praktik ini pernah marak di Bali. Walaupun secara hukum sebagian besar pengadilan memihak warga negara Indonesia, Praktik tersebut tetap membuka celah hukum yang dapat merugikan negara. Jika praktik ini terus dibiarkan, pulau-pulau kecil berpotensi jatuh ke tangan asing tanpa pengawasan, yang dapat menyebabkan negara kehilangan kendali atas wilayah strategisnya.

Pemerintah telah menyatakan dengan tegas bahwa Pulau Panjang tidak dapat diperjualbelikan karena merupakan bagian dari kekayaan negara. Oleh karena itu, pengawasan terhadap platform digital yang memperdagangkan aset-aset seperti pulau harus diperketat.

Penegakan hukum perlu dilaksanakan secara konsisten tanpa toleransi. Selain itu, edukasi kepada masyarakat perlu ditingkatkan agar tumbuh kesadaran bahwa pulau bukanlah barang dagangan, melainkan warisan bangsa yang wajib dijaga bersama demi kepentingan generasi mendatang.

Dengan demikian, sudah saatnya kita semua menyadari bahwa penjualan pulau bukan hanya sekadar persoalan hukum, melainkan juga menyangkut rasa nasionalisme, tanggung jawab terhadap lingkungan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan, apalagi kepada pihak asing. Pulau adalah bagian dari jati diri bangsa yang harus dijaga, bukan diperdagangkan.

]]>
Wed, 06 Aug 2025 07:24:02 +0800 amr
Kesenjangan Pembangunan di Sumbawa: Mengurai Akar Masalah dan Mencari Solusi Pemerataan" https://amarmedia.co.id/kesenjangan-pembangunan-di-sumbawa-mengurai-akar-masalah-dan-mencari-solusi-pemerataan https://amarmedia.co.id/kesenjangan-pembangunan-di-sumbawa-mengurai-akar-masalah-dan-mencari-solusi-pemerataan Kesenjangan Pembangunan di Sumbawa: Mengurai Akar Masalah dan Mencari Solusi Pemerataan"

Oleh : Elda Novi Cahyanti

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Kesenjangan pembangunan masih menjadi isu penting di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Pulau Sumbawa. Meskipun era globalisasi dan modernisasi telah mendorong kemajuan teknologi dan pembangunan di sejumlah daerah, masih banyak wilayah yang masih tertinggal dan belum merasakan pemerataan hasil pembangunan. Kesenjangan ini berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat, memperlambat pertumbuhan ekonomi, serta menciptakan kesenjangan dalam akses terhadap kebutuhan dasar seperti pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan pendapatan. Contohnya, masih banyak daerah terpencil yang belum memiliki infrastruktur jalan yang memadai, fasilitas kesehatan yang terbatas, serta kualitas pendidikan yang belum merata. Hal ini juga berkontribusi terhadap tingginya angka kemiskinan di wilayah-wilayah tersebut.

Kesenjangan pembangunan juga disebabkan oleh distribusi sumber daya yang tidak merata serta investasi yang lebih terfokus pada daerah perkotaan atau pusat-pusat ekonomi. Sementara itu, di daerah pedesaan atau wilayah tertinggal, akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur masih sangat terbatas. Salah satu contoh nyata adalah beberapa dusun di Desa Batu Rotok, Kecamatan Batu Lanteh, Sumbawa. Akses jalan menuju desa tersebut sangat sulit untuk dilalui, selain medannya yang curam, kondisi jalan menjadi semakin parah saat musim hujan karena jalan menjadi licin dan rawan longsor. Hal ini turut menyulitkan masyarakat dalam memperoleh layanan pendidikan dan kesehatan. Banyak warga berharap agar pemerintah lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan demi memudahkan aktivitas sehari-hari masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut.

Dampak kesenjangan pembangunan dapat berimbas pada ketidakpuasannya masyarakat terhadap kinerja pemerintah, untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah perlu menerapkan kebijakan perencanaan pembangunan yang inklusif, mendorong pemerataan pembangunan di daerah tertinggal, serta memberdayakan masyarakat melalui pendidikan, pelatihan, dan penyediaan kesempatan kerja yang adil dan merata. Selain itu juga pemerintah perlu lebih terbuka terdapat terhadap kebijakan dan realisasi anggaran, agar masyarakat tau bagaimana dana publik digunakan untuk menghindari kecurigaan dan kekecewaan masyarakat.

Selain itu juga adanya ke tidak puasan masyarakat terhadap janji-janji yang di berikan seperti janji politik yang tidak ditepati. Saat kampanye politisi banyak menjanjikan bantuan, pembangunan, lapangan kerja, dan lain-lain. Tetapi setelah menjabat, janji itu tidak di tepati, sehingga masyarakat merasa di bohongi. Masyarakat ingin melihat hasil nyata dari pemerintah bukan hanya janji-janji yang bahkan masih belum terwujudkan. 

Dari pemaparan di atas dapat kita lihat bahwa pembangunan di pulau sumbawa belum benar-benar merata terkhususnya di daerah-daerah yang masih tertinggal. Pembangunan yang belum merata merupakan masalah yang sangat komplek, yang memerlukan penanganan yang serius serta pentingnya kerjasama dari semua pihak terkhususnya pemerintah.

Kesimpulannya pembangunan yang tidak merata selain tidak hanya berdampak pada kualitas hidup masyarakat tetapi juga memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, distribusi sumber daya yang tidak merata juga dapat menyebabkan lambatnya akses pendidikan, pelayanan kesehatan dan ekonomi. Serta Pentingnya pemerintah untuk melakukan pembangunan yang merata agar tidak ada daerah-daerah yang masih kesulitan untuk akses mendapatkan akses yang nyaman. pembangunan yang merata juga dapat meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan, agar masyarakat Sumbawa dapat merasakan kenyamanan.

]]>
Tue, 05 Aug 2025 17:10:37 +0800 amr
Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Sumbawa: Analisis Penyebab, Dampak, dan Solusi https://amarmedia.co.id/kelangkaan-gas-lpg-3-kg-di-sumbawa-analisis-penyebab-dampak-dan-solusi https://amarmedia.co.id/kelangkaan-gas-lpg-3-kg-di-sumbawa-analisis-penyebab-dampak-dan-solusi Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Sumbawa: Analisis Penyebab, Dampak, dan Solusi

Nama :Dewi Kurnia Antari Putri 

Nim :241027009

Prodi : Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa 

I. Pendahuluan

Gas LPG 3 kg, atau yang sering disebut "gas melon," telah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat Sumbawa. Fungsinya sebagai sumber energi utama untuk memasak menjadikannya penopang aktivitas sehari-hari di setiap rumah tangga. Namun, kelangkaan yang sering terjadi pada komoditas ini telah menjadi masalah serius, memicu kesulitan dan keresahan di tengah masyarakat. Esai ini akan mengupas tuntas akar permasalahan, menganalisis dampak yang ditimbulkan, dan menawarkan solusi strategis untuk mengatasi kelangkaan gas LPG 3 kg di Sumbawa.

II. Akar Masalah Kelangkaan

Kelangkaan gas LPG 3 kg di Sumbawa bukanlah masalah tunggal, melainkan gabungan dari beberapa faktor yang saling berkaitan:

1. Kurangnya Pasokan dan Infrastruktur: Meskipun produksi gas LPG di Indonesia cukup besar, ketersediaannya di daerah terpencil seperti Sumbawa sering kali terbatas. Keterlambatan pengiriman dari pusat ke daerah, ditambah dengan minimnya fasilitas penyimpanan yang memadai di Sumbawa, membuat pasokan menjadi tidak stabil dan mudah habis.

2. Distribusi yang Tidak Merata: Sistem distribusi yang ada masih belum optimal. Jumlah agen dan pangkalan resmi tidak tersebar secara merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Hal ini memunculkan celah bagi para pengecer yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penimbunan. Mereka memanfaatkan situasi kelangkaan untuk menjual gas dengan harga jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), menciptakan distorsi pasar yang merugikan masyarakat.

3. Lemahnya Pengawasan Pemerintah: Peran pemerintah daerah dalam mengawasi distribusi gas LPG 3 kg masih perlu ditingkatkan. Pengawasan yang tidak ketat terhadap pangkalan dan pengecer memungkinkan praktik curang seperti penimbunan dan penjualan di luar harga resmi, sehingga masyarakat yang paling membutuhkan menjadi korban.

III. Dampak Kelangkaan yang Menyeluruh

Kelangkaan gas LPG 3 kg membawa dampak yang luas, menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat Sumbawa:

Dampak Ekonomi: Kelangkaan menyebabkan harga gas melon melonjak, jauh melampaui kemampuan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah. Kenaikan harga ini secara langsung meningkatkan biaya hidup dan memangkas alokasi dana untuk kebutuhan pokok lainnya. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada gas juga menjadi lumpuh, mengancam kelangsungan bisnis mereka.

Dampak Sosial: Keresahan akibat sulitnya mendapatkan gas memicu stres dan kecemasan di tengah masyarakat. Seperti yang dialami oleh Ibu Sri (62) di Dusun Ai Puntuk, yang berjuang menghidupi dua anak dan satu cucu. Kenaikan harga gas membuatnya harus mengalihkan uang belanja yang seharusnya digunakan untuk beras. Keluhannya, "Harga satu gas ini saja saya bisa membeli banyak kebutuhan lainnya," mencerminkan beban berat yang ditanggung masyarakat.

Dampak Lingkungan: Dalam kondisi terdesak, masyarakat sering beralih ke bahan bakar alternatif yang tidak ramah lingkungan, seperti kayu bakar atau arang. Peningkatan penggunaan bahan bakar tradisional ini tidak hanya merusak hutan dan lingkungan, tetapi juga berdampak buruk pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

IV. Solusi Strategis untuk Mengatasi Kelangkaan

Untuk mengatasi masalah ini secara fundamental, diperlukan langkah-langkah konkret dan terpadu dari semua pihak:

1. Meningkatkan Pasokan dan Infrastruktur. Pemerintah harus bekerja sama dengan Pertamina untuk memastikan pasokan gas LPG 3 kg ke Sumbawa berjalan lancar dan teratur. Pembangunan atau peningkatan fasilitas penyimpanan gas di daerah juga harus menjadi prioritas.

2. Memperbaiki Sistem Distribusi.

Pemerintah perlu memperluas jumlah agen dan pangkalan resmi hingga ke daerah-daerah terpencil. Bersamaan dengan itu, pengawasan harus diperketat untuk mencegah praktik penimbunan. Sanksi tegas harus diberikan kepada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan kelangkaan untuk meraup keuntungan.

3. Meningkatkan Peran Aktif Pemerintah. Pemerintah daerah perlu lebih proaktif dalam memantau dan mengawasi distribusi. Pelayanan terpadu yang memudahkan masyarakat untuk mengakses gas, serta sosialisasi harga dan informasi pasokan secara transparan, akan meminimalisir praktik ilegal.

V. Kesimpulan

Kelangkaan gas LPG 3 kg di Sumbawa adalah persoalan kompleks yang berakar dari keterbatasan pasokan, distribusi yang tidak merata, dan pengawasan yang belum optimal. Dampaknya tidak hanya terasa secara ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan.

Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah tegas untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Dengan meningkatkan pasokan, memperbaiki sistem distribusi, dan memperkuat pengawasan, kelangkaan gas LPG 3 kg bisa diatasi. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat agar Sumbawa bisa menjadi daerah yang lebih sejahtera dan berdaya, di mana kebutuhan dasar bukan lagi kemewahan, melainkan hak yang terpenuhi. (AM)

]]>
Tue, 05 Aug 2025 16:54:49 +0800 amr
Layanan Kesehatan Sumbawa: Mengurai Upaya Pemerintah, Tantangan di Lapangan dan Harapan Menuju Kesejahteraan Masyarakat https://amarmedia.co.id/layanan-kesehatan-sumbawa-mengurai-upaya-pemerintah-tantangan-di-lapangan-dan-harapan-menuju-kesejahteraan-masyarakat https://amarmedia.co.id/layanan-kesehatan-sumbawa-mengurai-upaya-pemerintah-tantangan-di-lapangan-dan-harapan-menuju-kesejahteraan-masyarakat Layanan Kesehatan Sumbawa: Mengurai Upaya Pemerintah, Tantangan di Lapangan dan Harapan Menuju Kesejahteraan Masyarakat

Oleh : Suhery Cantika

NIM :241027003

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Kondisi pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa saat ini secara umum menunjukkan komitmen yang kuat untuk peningkatan kualitas, terutama dalam penanganan penyakit menular yang masih menjadi fokus utama program kesehatan masyarakat.

Pemerintah daerah telah menunjukkan upaya serius dalam meningkatkan standar pelayanan kesehatan melalui berbagai program dan inisiatif strategis. Namun, masih terdapat beberapa area yang memerlukan perhatian lebih intensif, seperti capaian layanan untuk anak dan ibu melahirkan yang belum optimal, serta kelengkapan laporan dan dokumentasi pelayanan yang masih perlu diperbaiki sistem administrasinya.

Dalam konteks pemenuhan kebutuhan tenaga medis, pemerintah daerah terus berupaya secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis spesialis dan fasilitas kesehatan yang memadai sesuai dengan standar pelayanan kesehatan nasional.

Permasalahan kekurangan jumlah tenaga medis, terutama dokter spesialis dan tenaga kesehatan terlatih di daerah terpencil, telah menjadi kendala sistemik yang signifikan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sumbawa.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada kualitas pelayanan yang dapat diberikan, tetapi juga menciptakan beban kerja yang berlebihan bagi tenaga medis yang ada. Ketimpangan distribusi tenaga kesehatan ini mengakibatkan masyarakat di wilayah terpencil seringkali harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan spesialistik, yang pada akhirnya dapat menunda penanganan medis yang seharusnya segera dilakukan. Kondisi ini juga mempengaruhi motivasi dan retensi tenaga kesehatan untuk bertugas di daerah terpencil karena berbagai keterbatasan fasilitas dan dukungan yang tersedia.

Di Kabupaten Sumbawa, masyarakat memiliki akses terhadap beragam pilihan layanan kesehatan yang mencakup rumah sakit umum dan swasta, jaringan puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan, serta berbagai klinik spesialistik dan umum. RSUD Sumbawa sebagai rumah sakit rujukan utama daerah menyediakan layanan komprehensif dengan berbagai spesialisasi medis, termasuk layanan poli ortopedi, poli jantung, dan berbagai layanan spesialistik lainnya yang menjadi rujukan utama bagi masyarakat Sumbawa dan daerah sekitarnya. Jaringan puskesmas yang ada juga terus dikembangkan kapasitasnya untuk memberikan pelayanan kesehatan primer yang berkualitas dan mudah diakses oleh masyarakat.

.

Upaya sistematis dan terencana untuk mengatasi keterbatasan fasilitas dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan yang ada menjadi prioritas pembangunan, termasuk pengembangan fasilitas kesehatan di Lapas dan fasilitas kesehatan khusus lainnya yang memerlukan penanganan spesifik.

Program pengembangan fasilitas ini didasarkan pada analisis kebutuhan masyarakat yang komprehensif, proyeksi pertumbuhan penduduk di masa depan, dan pola penyakit yang berkembang di masyarakat. Selain pembangunan fasilitas baru, program ini juga mencakup renovasi dan modernisasi fasilitas yang sudah ada, pengadaan peralatan medis canggih, serta peningkatan kapasitas laboratorium dan fasilitas penunjang diagnostik lainnya untuk mendukung akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan.

Layanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa telah menunjukkan perkembangan yang positif dan menggembirakan dengan berbagai upaya komprehensif yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait dalam meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pelayanan kesehatan.

Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan struktural dan operasional, komitmen yang kuat untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau terus dipertahankan dan diperkuat melalui berbagai inovasi program dan kerjasama strategis dengan berbagai pihak. Dengan dukungan yang berkelanjutan dari semua stakeholder dan investasi yang tepat sasaran dalam pengembangan sistem kesehatan, diharapkan layanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa dapat terus meningkat secara signifikan dan mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat secara optimal sesuai dengan standar pelayanan kesehatan nasional dan internasional.(AM)

]]>
Mon, 04 Aug 2025 08:51:01 +0800 amr
Menuju 'Sumbawa Unggul, Maju, dan Sejahtera': Mengupas Visi dan Misi Pembangunan 2025&2030" https://amarmedia.co.id/menuju-sumbawa-unggul-maju-dan-sejahtera-mengupas-visi-dan-misi-pembangunan-2025-2030 https://amarmedia.co.id/menuju-sumbawa-unggul-maju-dan-sejahtera-mengupas-visi-dan-misi-pembangunan-2025-2030 Menuju 'Sumbawa Unggul, Maju, dan Sejahtera': Mengupas Visi dan Misi Pembangunan 2025-2030"

Oleh : Ayu safitri, 

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Teknologi Sumbawa)

Pulau Sumbawa kaya akan sumber daya alam, baik hayati maupun non-hayati. Pulau ini dikenal dengan sebutan “Tana Intan Bulaeng” yang berarti “Tanah Intan yang Bersinar” karena kekayaan mineralnya seperti emas, perak, dan tembaga. Selain itu, Sumbawa juga memiliki potensi pertanian dan peternakan yang besar, dengan komoditas unggulan seperti sapi, jagung, dan hayati laut yang menakjubkan. 

Pemerintahan kabupaten Sumbawa telah menetapkan visi dan misi untuk periode 2025-2030 yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan daerah. Kabupaten Sumbawa, dengan kekayaan alam dan potensi sumber daya manusia yang dimilikinya, memiliki cita-cita besar untuk menjadi daerah yang unggul, maju, dan sejahtera. Visi ini menjadi landasan bagi arah pembangunan Kabupaten Sumbawa periode 2025-2030. Untuk mewujudkan visi tersebut, pemerintah daerah telah menetapkan serangkaian misi yang akan menjadi panduan dalam setiap langkah dan kebijakan. 

Visi ini mencakup tiga aspek penting yang saling terkait, yang pertama “Unggul” menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Yang kedua “Maju” berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dan yang ketiga “Sejahtera” menggaris bawahi upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. 

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan dengan meninjau beberapa aspek kunci.Visi ini seharusnya mencakup pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada manusia, dengan fokus pada peningkatan kualitas hidup, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan pemerataan pembangunan. Penting juga untuk memperhatikan dinamika kependudukan, termasuk bonus demografi, serta memastikan adanya keselarasan antara visi nasional dan agenda pembangunan berkelanjutan global. Dengan demikian, visi pemerintahan 2025-2030 yang komprehensif dan terencana, serta implementasi yang efektif, akan menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Guna mencapai visi tersebut, pemerintah daerah akan menjalankan enam misi strategis: 

Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

Melalui peningkatan kualitas pendidikan dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi, serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Ini akan menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan siap bersaing di era global.

Penyelenggaraan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik

Birokrasi yang bersih, transparan, dan akuntabel akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan. Pelayanan publik yang prima dan responsif akan terus diupayakan.

Pengembangan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan

Diversifikasi ekonomi, pengembangan sektor pertanian dan agribisnis, serta dukungan bagi UMKM akan menjadi fokus utama. Peningkatan nilai tambah produk lokal dan perluasan akses pasar juga akan menjadi perhatian.

Pembangunan Infrastruktur yang Merata dan Berkelanjutan:

Pembangunan jalan, jembatan, irigasi, dan infrastruktur dasar lainnya akan terus digenjot. Pembangunan infrastruktur ini harus terintegrasi dengan pengembangan wilayah dan potensi ekonomi lokal.

Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan

Pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana dan berkelanjutan akan menjadi prioritas. Pelestarian lingkungan hidup dan pencegahan kerusakan lingkungan akan menjadi bagian integral dari pembangunan.

Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat

Penurunan angka kemiskinan, peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat akan menjadi fokus utama. Pembangunan yang berpihak pada masyarakat akan menjadi landasan utama.

Dengan misi” di atas maka visi dari pemerintahan periode 2025-2030 dapat terlaksanakan. 

Adapun strategi dan program pemerintahan Kota Sumbawa 2025-2030 akan berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi lokal, dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Visi “Sumbawa Unggul, Maju, dan Sejahtera” akan dicapai melalui berbagai inisiatif, termasuk peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, serta peningkatan konektivitas wilayah. 

Visi tersebut akan dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait. Dengan strategi dan program yang terencana, Kabupaten Sumbawa diharapkan dapat mewujudkan potensi ekonominya, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan menjadi daerah yang maju dan sejahtera.

Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Sumbawa berupaya mencapai kesejahteraan dan kemajuan daerah melalui visi “Sumbawa Unggul, Maju, dan Sejahtera” yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM, ekonomi, dan infrastruktur, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Enam misi strategis yang dijalankan akan menjadi panduan dalam mewujudkan visi tersebut. 

Melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi lokal, dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, Kabupaten Sumbawa diharapkan dapat mewujudkan potensi ekonominya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait, visi ini dapat tercapai dan Kabupaten Sumbawa dapat menjadi daerah yang maju dan sejahtera.

“Saran Saya kepada pembaca Semoga dengan membaca esai tentang visi dan misi pemerintahan Kota Sumbawa, kita semua dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang arah dan tujuan pembangunan kota ini ke depan. Dengan mengetahui rencana dan strategi yang telah disusun, diharapkan kita dapat memberikan dukungan dan kontribusi yang positif bagi kesuksesan pembangunan Kota Sumbawa. Mari kita simak dengan seksama dan refleksikan bagaimana kita dapat berperan aktif dalam mewujudkan visi dan misi tersebut untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama”. (AM)

]]>
Sun, 03 Aug 2025 17:20:10 +0800 amr
Dampak Penanaman Jagung di Lahan Bukit Sumbawa: Menakar Peluang Ekonomi dan Tantangan Lingkungan https://amarmedia.co.id/dampak-penanaman-jagung-di-lahan-bukit-sumbawa-menakar-peluang-ekonomi-dan-tantangan-lingkungan-4163 https://amarmedia.co.id/dampak-penanaman-jagung-di-lahan-bukit-sumbawa-menakar-peluang-ekonomi-dan-tantangan-lingkungan-4163 Dampak Penanaman Jagung di Lahan Bukit Sumbawa: Menakar Peluang Ekonomi dan Tantangan Lingkungan

Oleh : Nengsih purnama (NIM : 241027001) 

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

1. Pendahuluan

Kabupaten Sumbawa, yang dikenal sebagai salah satu lumbung jagung nasional, memiliki peran krusial dalam ketahanan pangan dan ekonomi. Peningkatan permintaan jagung telah mendorong para petani untuk melirik kawasan perbukitan sebagai lahan tanam baru. Meskipun langkah ini menjanjikan peningkatan produksi dan kesejahteraan, alih fungsi lahan bukit memiliki dampak ganda yang harus dipertimbangkan secara matang. Esai ini akan mengupas dampak positif dan negatif dari penanaman jagung di lahan bukit, serta menawarkan solusi mitigasi yang berkelanjutan.

2. Dampak Positif: Peningkatan Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan

Pembukaan lahan jagung di perbukitan Sumbawa memberikan dampak ekonomi yang nyata. Peningkatan luas tanam secara langsung meningkatkan produksi jagung, yang pada gilirannya dapat memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional. Bagi masyarakat, aktivitas ini menciptakan lapangan kerja baru, baik sebagai petani maupun pekerja harian. Peningkatan hasil panen juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, yang selama ini sangat bergantung pada sektor pertanian. Dengan demikian, pemanfaatan lahan bukit menjadi strategi penting untuk menggerakkan perekonomian lokal dan membuka peluang bagi masyarakat untuk keluar dari jerat kemiskinan.

3. Dampak Negatif: Ancaman Lingkungan dan Konflik Sosial

Namun, di balik manfaat ekonomi, terdapat risiko besar yang mengintai. Alih fungsi lahan bukit sering kali diawali dengan deforestasi atau penebangan pohon, yang menghilangkan fungsi hutan sebagai penahan air dan penyangga tanah. Akibatnya, wilayah tersebut menjadi sangat rentan terhadap erosi dan tanah longsor, terutama saat musim hujan. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara masif dalam pertanian jagung juga dapat menyebabkan polusi air, mengancam sumber daya air bersih yang vital bagi masyarakat.

Dampak ekologis lain yang tak kalah serius adalah hilangnya habitat alami bagi flora dan fauna. Ketika habitat mereka terganggu, hewan-hewan seperti monyet terpaksa turun ke pemukiman warga atau berkeliaran di jalan raya, menciptakan ancaman keselamatan bagi pengendara dan gangguan bagi penduduk setempat.

Secara sosiologis, pembukaan lahan di bukit dapat memicu konflik sosial. Di beberapa wilayah, lahan bukit merupakan bagian dari wilayah adat yang dilindungi dan dimanfaatkan secara tradisional. Pembukaan lahan tanpa musyawarah yang memadai dapat menimbulkan ketegangan antara petani dan masyarakat adat, yang merasa hak-hak mereka atas tanah, identitas, dan budaya terancam. Contoh kasus di Desa Sepayung, di mana masyarakat adat tergusur, menunjukkan bahwa isu ini bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi juga keadilan sosial.

4. Solusi Berkelanjutan untuk Keseimbangan Manusia dan Alam

Untuk mengatasi dampak negatif, diperlukan pendekatan yang seimbang dan berkelanjutan. Berdasarkan studi dan rekomendasi, beberapa solusi yang dapat diterapkan meliputi:

Pertama : Observasi Lahan dan Regulasi Ketat.

Pemerintah daerah perlu melakukan observasi mendalam untuk mengidentifikasi kawasan bukit yang memiliki fungsi lindung. Regulasi yang jelas harus dibuat untuk membatasi atau melarang pembukaan lahan di area-area sensitif tersebut.

Kedua : Edukasi dan Pelatihan Pertanian. 

Petani perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Pelatihan tentang teknologi pertanian ramah lingkungan, seperti metode tanam kontur dan terasering, harus digalakkan. Metode ini efektif dalam mengurangi erosi tanah dan mengendalikan aliran air di lahan miring.

Ketiga : Pemanfaatan Pupuk Organik. Penggunaan pupuk organik harus didorong sebagai alternatif pupuk kimia. Langkah ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah secara alami, tetapi juga mencegah polusi air dan kerusakan ekosistem.

Keempat: Pemberdayaan Masyarakat Adat. Pemerintah harus melibatkan masyarakat adat dalam setiap proses perencanaan lahan. Pengakuan terhadap wilayah adat dan partisipasi mereka dalam pengelolaan sumber daya alam dapat mencegah konflik dan memastikan keberlanjutan.

5. Kesimpulan

Penanaman jagung di lahan bukit di Sumbawa adalah langkah strategis untuk menggenjot produksi pangan, namun harus diiringi dengan perencanaan yang matang dan bertanggung jawab. Meskipun menawarkan manfaat ekonomi, aktivitas ini juga membawa risiko serius terhadap lingkungan dan stabilitas sosial. Selama ini, minimnya edukasi dan pengelolaan yang terintegrasi seringkali membuat perlindungan lingkungan dan pertanian sulit berjalan beriringan. 

Oleh karena itu, penanaman jagung di lahan bukit tidak hanya harus menjadi peluang ekonomi, melainkan juga bagian dari pembangunan berkelanjutan yang menghormati keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Jika dilakukan dengan bijak, Sumbawa dapat terus menjadi lumbung jagung nasional tanpa harus mengorbankan masa depan lingkungan dan masyarakatnya.(AM)

]]>
Sat, 02 Aug 2025 08:31:10 +0800 amr
Dampak Penanaman Jagung di Lahan Bukit Sumbawa: Menakar Peluang Ekonomi dan Tantangan Lingkungan https://amarmedia.co.id/dampak-penanaman-jagung-di-lahan-bukit-sumbawa-menakar-peluang-ekonomi-dan-tantangan-lingkungan https://amarmedia.co.id/dampak-penanaman-jagung-di-lahan-bukit-sumbawa-menakar-peluang-ekonomi-dan-tantangan-lingkungan Dampak Penanaman Jagung di Lahan Bukit Sumbawa: Menakar Peluang Ekonomi dan Tantangan Lingkungan

Oleh Nengsih purnama

(NIM : 241027001) 

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

1. Pendahuluan

Kabupaten Sumbawa, yang dikenal sebagai salah satu lumbung jagung nasional, memiliki peran krusial dalam ketahanan pangan dan ekonomi. Peningkatan permintaan jagung telah mendorong para petani untuk melirik kawasan perbukitan sebagai lahan tanam baru. Meskipun langkah ini menjanjikan peningkatan produksi dan kesejahteraan, alih fungsi lahan bukit memiliki dampak ganda yang harus dipertimbangkan secara matang. Esai ini akan mengupas dampak positif dan negatif dari penanaman jagung di lahan bukit, serta menawarkan solusi mitigasi yang berkelanjutan.

2. Dampak Positif: Peningkatan Kesejahteraan dan Ketahanan Pangan

Pembukaan lahan jagung di perbukitan Sumbawa memberikan dampak ekonomi yang nyata. Peningkatan luas tanam secara langsung meningkatkan produksi jagung, yang pada gilirannya dapat memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional. Bagi masyarakat, aktivitas ini menciptakan lapangan kerja baru, baik sebagai petani maupun pekerja harian. Peningkatan hasil panen juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, yang selama ini sangat bergantung pada sektor pertanian. Dengan demikian, pemanfaatan lahan bukit menjadi strategi penting untuk menggerakkan perekonomian lokal dan membuka peluang bagi masyarakat untuk keluar dari jerat kemiskinan.

3. Dampak Negatif: Ancaman Lingkungan dan Konflik Sosial**

Namun, di balik manfaat ekonomi, terdapat risiko besar yang mengintai. Alih fungsi lahan bukit sering kali diawali dengan deforestasi atau penebangan pohon, yang menghilangkan fungsi hutan sebagai penahan air dan penyangga tanah. Akibatnya, wilayah tersebut menjadi sangat rentan terhadap erosi dan tanah longsor, terutama saat musim hujan. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara masif dalam pertanian jagung juga dapat menyebabkan polusi air, mengancam sumber daya air bersih yang vital bagi masyarakat.

Dampak ekologis lain yang tak kalah serius adalah hilangnya habitat alami bagi flora dan fauna. Ketika habitat mereka terganggu, hewan-hewan seperti monyet terpaksa turun ke pemukiman warga atau berkeliaran di jalan raya, menciptakan ancaman keselamatan bagi pengendara dan gangguan bagi penduduk setempat.

Secara sosiologis, pembukaan lahan di bukit dapat memicu konflik sosial. Di beberapa wilayah, lahan bukit merupakan bagian dari wilayah adat yang dilindungi dan dimanfaatkan secara tradisional. Pembukaan lahan tanpa musyawarah yang memadai dapat menimbulkan ketegangan antara petani dan masyarakat adat, yang merasa hak-hak mereka atas tanah, identitas, dan budaya terancam. Contoh kasus di Desa Sepayung, di mana masyarakat adat tergusur, menunjukkan bahwa isu ini bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi juga keadilan sosial.

4. Solusi Berkelanjutan untuk Keseimbangan Manusia dan Alam

Untuk mengatasi dampak negatif, diperlukan pendekatan yang seimbang dan berkelanjutan. Berdasarkan studi dan rekomendasi, beberapa solusi yang dapat diterapkan meliputi:

Pertama : Observasi Lahan dan Regulasi Ketat.

Pemerintah daerah perlu melakukan observasi mendalam untuk mengidentifikasi kawasan bukit yang memiliki fungsi lindung. Regulasi yang jelas harus dibuat untuk membatasi atau melarang pembukaan lahan di area-area sensitif tersebut.

Kedua : Edukasi dan Pelatihan Pertanian. 

Petani perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Pelatihan tentang teknologi pertanian ramah lingkungan, seperti metode tanam kontur dan terasering, harus digalakkan. Metode ini efektif dalam mengurangi erosi tanah dan mengendalikan aliran air di lahan miring.

Ketiga : Pemanfaatan Pupuk Organik. Penggunaan pupuk organik harus didorong sebagai alternatif pupuk kimia. Langkah ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah secara alami, tetapi juga mencegah polusi air dan kerusakan ekosistem.

Keempat: Pemberdayaan Masyarakat Adat. Pemerintah harus melibatkan masyarakat adat dalam setiap proses perencanaan lahan. Pengakuan terhadap wilayah adat dan partisipasi mereka dalam pengelolaan sumber daya alam dapat mencegah konflik dan memastikan keberlanjutan.

5. Kesimpulan

Penanaman jagung di lahan bukit di Sumbawa adalah langkah strategis untuk menggenjot produksi pangan, namun harus diiringi dengan perencanaan yang matang dan bertanggung jawab. Meskipun menawarkan manfaat ekonomi, aktivitas ini juga membawa risiko serius terhadap lingkungan dan stabilitas sosial. Selama ini, minimnya edukasi dan pengelolaan yang terintegrasi seringkali membuat perlindungan lingkungan dan pertanian sulit berjalan beriringan.

Oleh karena itu, penanaman jagung di lahan bukit tidak hanya harus menjadi peluang ekonomi, melainkan juga bagian dari pembangunan berkelanjutan yang menghormati keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Jika dilakukan dengan bijak, Sumbawa dapat terus menjadi lumbung jagung nasional tanpa harus mengorbankan masa depan lingkungan dan masyarakatnya.(AM)

]]>
Sat, 02 Aug 2025 08:13:18 +0800 amr
Dampak dan Solusi Cuaca Ekstrem di Sumbawa: Sebuah Analisis Sosiologis https://amarmedia.co.id/dampak-dan-solusi-cuaca-ekstrem-di-sumbawa-sebuah-analisis-sosiologis https://amarmedia.co.id/dampak-dan-solusi-cuaca-ekstrem-di-sumbawa-sebuah-analisis-sosiologis Dampak dan Solusi Cuaca Ekstrem di Sumbawa: Sebuah Analisis Sosiologis

Oleh Nurmeilani,

(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Universitas Teknologi Sumbawa)

I. Pendahuluan

Cuaca ekstrem di Kabupaten Sumbawa semakin sering terjadi dan membawa dampak signifikan yang meluas pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Fenomena ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi, sosial, dan kesehatan yang serius. Sebagai lumbung pangan Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sumbawa memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pertanian. Oleh karena itu, fluktuasi iklim yang ekstrem menjadi ancaman nyata terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Esai ini akan mengkaji dampak multidimensional dari cuaca ekstrem di Sumbawa, menganalisis penyebabnya, dan menawarkan solusi komprehensif yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

II. Dampak Multidimensional Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem memiliki dampak langsung pada tiga sektor utama di Sumbawa: pertanian, infrastruktur, dan kesehatan.

Sektor Pertanian dan Perkebunan:

Cuaca ekstrem, baik berupa kekeringan berkepanjangan maupun curah hujan tinggi yang tidak menentu, sering kali menyebabkan gagal panen. Berdasarkan data dari SUARANTB.com, 12,5 hektare lahan padi mengalami gagal panen, sementara RRI mengkonfirmasi angka yang lebih besar, yaitu 800 hektare. Penurunan produktivitas ini juga tercermin dalam data statistik pertanian tahun 2024, di mana luas panen padi menurun 1,64% dan produksi padi menurun 1,55% dibandingkan tahun 2023. Dampak berantai dari kondisi ini tidak hanya merugikan petani secara finansial, tetapi juga mempengaruhi stok pangan nasional, yang ditunjukkan dengan penurunan produksi beras dan impor hingga 4,52 juta ton. Konsekuensi jangka panjangnya adalah menurunnya minat masyarakat untuk bertani, dengan jumlah petani yang turun hingga 7,45%.

Infrastruktur dan Ekonomi:Bencana yang disebabkan oleh cuaca ekstrem, seperti angin puting beliung atau banjir, dapat merusak infrastruktur vital. Kerusakan pada bangunan perumahan, toko, dan fasilitas umum menimbulkan kerugian material yang besar bagi masyarakat dan menghambat roda perekonomian lokal. Biaya perbaikan dan pemulihan pasca bencana menjadi beban tambahan bagi pemerintah dan individu.

Kesehatan Masyarakat: Perubahan iklim ekstrem juga membawa dampak serius bagi kesehatan. Peningkatan curah hujan dan kelembaban menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangbiakan nyamuk *

Aedes aegypti, yang merupakan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Selain itu, kondisi sanitasi yang buruk akibat genangan air dan sampah yang berserakan memperburuk situasi dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular lainnya.

III Faktor Penyebab Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem yang dialami Sumbawa merupakan hasil dari kombinasi faktor global dan lokal.

Perubahan Iklim Global:Penyebab utama adalah perubahan iklim global, yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Fenomena ini menyebabkan anomali cuaca yang tidak menentu, dengan pola musim yang sulit diprediksi, intensitas kekeringan yang lebih parah, dan curah hujan ekstrem yang lebih sering.

Deforestasi dan Polusi Udara:Di tingkat lokal, deforestasi menjadi faktor pemicu. Penebangan pohon secara masif, terutama di lahan perbukitan untuk dijadikan area penanaman jagung, mengurangi kemampuan ekosistem dalam menahan air dan mencegah erosi. Selain itu, polusi udara yang dihasilkan dari aktivitas manusia juga berkontribusi pada perubahan iklim mikro di wilayah tersebut.

IV. Solusi Komprehensif dan Berkelanjutan

Menghadapi tantangan cuaca ekstrem, diperlukan solusi yang terintegrasi dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi Bencana:Pemerintah daerah perlu mengembangkan dan memperkuat sistem peringatan dini yang efektif. Informasi cuaca ekstrem harus disebarluaskan secara cepat dan mudah dipahami oleh masyarakat. Diperlukan juga pelatihan dan simulasi mitigasi bencana untuk melatih kesiapsiagaan warga dan aparat desa dalam merespons situasi darurat.

Pengembangan Infrastruktur Tangguh Iklim: Pembangunan infrastruktur, seperti bendungan, cekdam, dan jaringan irigasi, harus dirancang agar tahan terhadap cuaca ekstrem. Revitalisasi bendungan yang dangkal dan pembangunan infrastruktur air baru adalah langkah krusial untuk memastikan ketersediaan air yang stabil bagi pertanian.

Edukasi dan Kesadaran Masyarakat: Edukasi tentang dampak cuaca ekstrem, perubahan iklim, serta pentingnya menjaga lingkungan harus digencarkan. Melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, organisasi lingkungan, dan akademisi, program-program ini dapat membangun kesadaran kolektif untuk mengurangi deforestasi, mengelola sampah, dan menerapkan praktik pertanian yang berkelanjutan.

V. Kesimpulan

Dampak cuaca ekstrem di Sumbawa adalah ancaman nyata yang multidimensional, mulai dari sektor pertanian hingga kesehatan. Penyebabnya pun kompleks, melibatkan perubahan iklim global dan faktor lokal seperti deforestasi. Namun, tantangan ini dapat diatasi melalui serangkaian solusi komprehensif, mulai dari penguatan sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur yang tangguh, hingga peningkatan kesadaran masyarakat.

Sebagai masyarakat Sumbawa, kita memiliki tanggung jawab kolektif untuk berpartisipasi aktif dalam upaya mitigasi dan adaptasi. Melalui kesadaran dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, kita dapat mengurangi risiko dan dampak negatif cuaca ekstrem, demi terwujudnya Sumbawa yang tangguh, lestari, dan sejahtera. (AM)

]]>
Fri, 01 Aug 2025 20:55:42 +0800 amr
Amnesti Hasto: Koreksi Politik atas Proses Hukum yang Sarat Rekayasa https://amarmedia.co.id/amnesti-hasto-koreksi-politik-atas-proses-hukum-yang-sarat-rekayasa https://amarmedia.co.id/amnesti-hasto-koreksi-politik-atas-proses-hukum-yang-sarat-rekayasa Amnesti Hasto: Koreksi Politik atas Proses Hukum yang Sarat Rekayasa

Oleh: Febriyan Anindita

Pemberian amnesti kepada Hasto Kristiyanto oleh Presiden Prabowo Subianto, yang telah disetujui DPR RI, bukanlah skandal seperti yang didengungkan lawan-lawan politik. Ia adalah bentuk koreksi konstitusional atas proses hukum yang sarat rekayasa dan tekanan politik. Ini bukan tentang impunitas, tetapi soal keadilan prosedural dan penegakan hukum yang bebas dari kepentingan kekuasaan tersembunyi.

Sejak awal, kasus yang menimpa Hasto berbau politis. Ia ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang sejak 2020 menggantung tanpa kejelasan: dugaan keterlibatannya dalam manuver politik pergantian antar waktu (PAW) Harun Masiku. Namun hingga hari ini, aktor utama Harun tidak pernah ditangkap, tidak pernah dihadirkan di muka hukum, sementara Hasto justru dijadikan tumbal politik.

Proses penetapan tersangka oleh KPK sarat kejanggalan: penyitaan ponsel ajudan tanpa surat, pemeriksaan mendadak saat agenda politik partai sedang intensif, hingga narasi media yang berusaha membentuk opini bersalah sejak awal. Ini menegaskan bahwa hukum dalam konteks ini bukan lagi bersifat netral, tetapi telah berubah menjadi alat represi terhadap oposisi.

Presiden Prabowo, dalam memberikan amnesti, tentu bertindak dalam kerangka konstitusi dan kepentingan nasional yang lebih luas. PDI Perjuangan, sebagai partai yang menjunjung tinggi prinsip negara hukum, tidak menolak proses hukum, tetapi menolak ketika hukum digunakan sebagai alat politik untuk membungkam kader-kader kritis.

Amnesti terhadap Hasto bukanlah bentuk pengampunan terhadap korupsi. Tidak ada dana negara yang digelapkan, tidak ada kerugian keuangan negara yang terbukti. Tuduhan itu sebatas asumsi politik yang dibalut dalam dalil hukum. Bahkan pengadilan pun tidak membuktikan dakwaan perintangan penyidikan.

Dalam sejarah republik, amnesti telah berkali-kali digunakan untuk menyelesaikan ketegangan politik nasional—dari Soekarno kepada mantan pemberontak PRRI/Permesta, hingga Jokowi kepada Baiq Nuril. Kini, amnesti digunakan untuk menyembuhkan luka akibat kriminalisasi politik.

Tuduhan bahwa ini membuka ruang impunitas adalah paradoksal, karena yang selama ini justru kebal adalah para buronan besar seperti Harun Masiku sendiri. Bukankah aneh jika negara tidak bisa menemukan pelaku utama, tapi sigap menghukum orang yang berbicara soal kedaulatan partai?

Amnesti terhadap Hasto adalah pelajaran bahwa hukum harus adil secara substansi dan prosedur. Bukan sekadar menghukum demi pencitraan.

Di tengah polarisasi politik pasca-Pemilu 2024, keputusan ini juga menjadi jalan tengah untuk membuka ruang komunikasi antar kekuatan nasional. Hasto bukan hanya Sekjen partai, ia simbol dari gagasan partai sebagai alat perjuangan ideologi, bukan objek kriminalisasi.

Reformasi hukum tidak boleh mengarah pada formalisme buta yang melupakan konteks politik dan realitas kekuasaan. Dalam demokrasi, hukum harus menjadi instrumen keadilan yang berpihak pada kebenaran, bukan kekuasaan.

Sumbawa 1 Agustus 2025

Merdeka !!!

]]>
Fri, 01 Aug 2025 15:40:53 +0800 amr
Membesarkan Anak Berjiwa Luhur: Peran Kecerdasan Spiritual di Era yang Gaduh https://amarmedia.co.id/membesarkan-anak-berjiwa-luhur-peran-kecerdasan-spiritual-di-era-yang-gaduh https://amarmedia.co.id/membesarkan-anak-berjiwa-luhur-peran-kecerdasan-spiritual-di-era-yang-gaduh Membesarkan Anak Berjiwa Luhur: Peran Kecerdasan Spiritual di Era yang Gaduh

Oleh : Sri asmediati, S.Pd

(Guru SMPN 1 Labuhan Badas)

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang semakin gaduh, dengan tuntutan akademik, persaingan sosial, dan derasnya arus informasi, banyak orang tua hanya fokus pada kecerdasan intelektual dan keterampilan teknis anak. Anak diminta menguasai matematika, bahasa asing, coding, hingga menjadi juara lomba. Tapi, satu hal sering dilupakan: bagaimana dengan kecerdasan spiritual mereka?

Padahal, tanpa fondasi batin yang kuat, semua prestasi luar akan mudah runtuh. Kecerdasan spiritual bukan sekadar agama, tetapi kemampuan untuk memahami makna hidup, berpegang pada nilai, dan merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Apa Itu Kecerdasan Spiritual?

Istilah kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) mulai populer sejak awal tahun 2000-an melalui karya Danah Zohar dan Ian Marshall dalam buku mereka Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence. Mereka menyebut kecerdasan ini sebagai "kecerdasan tertinggi" karena menjadi fondasi bagi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Zohar menyatakan bahwa spiritual intelligence memungkinkan seseorang untuk:

Menemukan makna dan tujuan hidup,

Menjawab pertanyaan mendalam seperti "siapa aku?" dan "untuk apa aku hidup?",

Bertindak berdasarkan nilai-nilai luhur dan prinsip moral, bukan sekadar keuntungan.

Sementara itu, Robert Emmons, seorang psikolog dari Amerika Serikat, mengusulkan bahwa kecerdasan spiritual mencakup kapasitas untuk mengalami transendensi, memahami makna spiritual dari kehidupan, serta memiliki kepekaan terhadap dimensi ilahi.

Howard Gardner, pencetus teori Multiple Intelligences, memang tidak secara eksplisit memasukkan kecerdasan spiritual, namun ia mengakui adanya kecerdasan eksistensial, yakni kemampuan berpikir tentang hal-hal mendalam seperti makna hidup, kematian, dan keberadaan.

Dengan kata lain, kecerdasan spiritual bukan soal ritual keagamaan semata, melainkan soal kesadaran, makna, nilai, dan arah hidup.

Mengapa Anak Perlu Kecerdasan Spiritual?

Anak-anak bukan hanya makhluk yang butuh makan, tidur, dan belajar. Mereka juga pencari makna. Sejak kecil, mereka sudah mulai bertanya: “Kenapa kita hidup?” atau “Mengapa orang bisa sedih?” Pertanyaan-pertanyaan ini menandakan kebutuhan mereka akan sesuatu yang lebih dalam, dan di sinilah kecerdasan spiritual mengambil peran.

1. Menumbuhkan Kompas Moral

Kecerdasan spiritual membantu anak mengenali nilai yang benar. Bukan karena takut dihukum, tetapi karena tahu bahwa kejujuran, keadilan, dan kebaikan itu berharga. Anak tak hanya tahu aturan, tapi menghayatinya.

2. Meningkatkan Ketahanan Batin

Dalam menghadapi kegagalan, kehilangan, atau tekanan, anak yang spiritualnya terlatih tidak mudah tumbang. Ia punya keyakinan bahwa semua ada maknanya, dan selalu ada harapan di balik kesulitan.

3. Membangun Empati dan Kepedulian

Anak yang mengenal makna hidup cenderung lebih lembut hatinya, lebih peka terhadap penderitaan orang lain, dan tidak egois. Ia tumbuh menjadi manusia, bukan hanya "mesin penghafal".

4. Menghindari Kekosongan Batin

Banyak remaja hari ini tersesat bukan karena bodoh, tapi karena hampa. Nilai hidupnya kosong. Di sinilah kecerdasan spiritual mengisi ruang itu, dengan syukur, harapan, dan rasa cinta terhadap hidup.

Bagaimana Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual Anak?

Kita tak perlu menunggu anak tumbuh dewasa untuk mengenalkan nilai-nilai spiritual. Berikut beberapa cara sederhana tapi berdampak besar:

Jadilah Teladan

Anak belajar bukan dari ceramah, tapi dari perilaku. Saat mereka melihat orang tuanya jujur, sabar, penuh kasih, dan rutin berdoa atau merenung, mereka belajar tanpa kata.

Beri Ruang untuk Bertanya

Jangan anggap remeh pertanyaan anak soal kehidupan, Tuhan, atau kematian. Ajak mereka berdiskusi dengan terbuka, meskipun jawabannya belum pasti. Itu latihan spiritual yang luar biasa.

Bersentuhan dengan Alam

Alam adalah guru spiritual paling alami. Ajak anak menyaksikan matahari terbit, mendengar suara hujan, atau mengamati bintang. Dari situ tumbuh rasa kagum, dan rasa kecil yang sehat.

Libatkan Anak dalam Kegiatan Sosial

Ajak anak menyumbang, mengunjungi orang sakit, atau sekadar membantu tetangga. Itu membentuk kepekaan dan rasa terhubung dengan orang lain.

Tanamkan Nilai Bukan Sekadar Aturan

Anak tak cukup diberi tahu “jangan bohong” atau “jangan menyakiti teman.” Jelaskan mengapa itu penting. Bantu mereka merasakan nilai di balik perintah.

Menyiapkan Anak Menghadapi Dunia, Bukan Hanya Ujian

Anak tidak sedang dipersiapkan untuk ujian sekolah semata. Mereka sedang dipersiapkan untuk hidup. Dunia luar tidak selalu adil, tidak selalu baik. Maka, membesarkan anak dengan IQ tinggi tapi spiritual kosong adalah seperti membangun rumah mewah di atas pasir.

Justru di era kompetisi yang brutal ini, anak-anak yang memiliki kedalaman batin, kebijaksanaan, dan kasih sayang, akan jadi pribadi langka. Dan justru merekalah yang akan membawa terang dalam dunia yang makin gelap.

Penutup: Jiwa yang Luhur Lebih Penting dari Nilai Rapor

Jangan hanya bangga saat anak juara kelas atau fasih bicara bahasa asing. Banggalah juga jika anak tahu cara memaafkan, bisa menenangkan temannya yang sedih, atau berdoa dengan tulus sebelum tidur.

Karena di ujung hidup nanti, yang akan membuat manusia tetap kuat bukanlah gelar, bukan uang, bukan IQ tinggi, tapi jiwa yang kuat, hati yang bening, dan batin yang terarah.

Dan semuanya itu… tumbuh dari kecerdasan spiritual. (am)

]]>
Sun, 27 Jul 2025 20:25:44 +0800 amr
Nasionalisasi Tambang Batu Hijau: Sebuah Ironi dan Tanda Tanya Besar https://amarmedia.co.id/nasionalisasi-tambang-batu-hijau-sebuah-ironi-dan-tanda-tanya-besar https://amarmedia.co.id/nasionalisasi-tambang-batu-hijau-sebuah-ironi-dan-tanda-tanya-besar Nasionalisasi Tambang Batu Hijau: Sebuah Ironi dan Tanda Tanya Besar

Oleh: Salamuddin Maula

Pergantian kepemilikan tambang Batu Hijau, yang dahulu dikelola oleh PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) dan kini beralih ke PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), menyisakan sebuah ironi dan kebingungan di mata publik. Proses yang seharusnya menjadi tonggak nasionalisasi demi kemaslahatan bangsa, justru menyisakan tanda tanya besar, terutama terkait kepemilikan, perlakuan terhadap tenaga kerja lokal, dan kontribusi nyata bagi daerah.

Proses ini bermula dari amanat Undang-Undang Minerba Nomor 4 Tahun 2009 yang mewajibkan divestasi saham sebesar 24% kepada daerah. Jika daerah tak mampu membeli, maka negara, BUMN, atau swasta murni berhak mengambil alih. Namun, ketika saham tersebut dimenangkan oleh grup Bakrie, muncul kejanggalan yang mencolok.

Bagaimana bisa grup Bakrie mengakuisisi saham tersebut dengan pinjaman dari bank luar negeri, bahkan dengan jaminan saham NNT itu sendiri? Sementara daerah, yang seharusnya memiliki hak prioritas, tidak mendapatkan perlakuan serupa. Siapa yang mengarahkan pembelian tanpa modal sendiri ini, dan mengapa skema yang jauh lebih menguntungkan daerah—seperti pinjaman dari NNT yang dibayar dari pemotongan dividen—tidak dipilih? Skema tersebut jelas-jelas akan sangat menguntungkan daerah dalam jangka panjang. Pertanyaan besar yang muncul adalah: **Siapa yang berkhianat dalam proses ini?**

Kini, apa yang didapat daerah dari pergantian kepemilikan ini? Hasil penjualan sahamnya pun tidak jelas rimbanya. Muncul keraguan serius, benarkah ini nasionalisasi sejati? Indikasi yang terlihat di lapangan justru sebaliknya. Keberadaan tenaga kerja dan modal dari Tiongkok sangat dominan di PT AMNT.

Perbedaan gaji antara pekerja Tiongkok dan tenaga kerja lokal dengan pekerjaan yang sama juga sangat mencolok, konon hingga empat kali lipat lebih tinggi. Sementara pekerja lokal hanya mendapat upah setara Upah Minimum Regional (UMR), pekerja asing mendapatkan bayaran yang sangat tinggi. **Inikah yang disebut keadilan?** Perbedaan perlakuan ini tidak hanya menimbulkan kecemburuan, tetapi juga mempertanyakan semangat nasionalisme yang digaungkan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Nasionalisasi seharusnya berarti pengambilalihan aset demi kepentingan dan kesejahteraan bangsa, dengan prioritas kepada warga negara sendiri. Namun, melihat realitas di PT AMNT, di mana dominasi asing dan kesenjangan perlakuan terhadap tenaga kerja lokal begitu kentara, sulit untuk tidak merasa bingung. Proses ini meninggalkan pertanyaan besar: apakah ini benar-benar nasionalisasi, ataukah sekadar pergantian kepemilikan yang lebih membingungkan, tanpa dampak positif yang signifikan bagi daerah dan rakyat Sumbawa? (AM)

]]>
Fri, 25 Jul 2025 16:27:32 +0800 amr
Pendidikan Adalah Cahaya yang Membawa Keluar dari Kebodohan https://amarmedia.co.id/pendidikan-adalah-cahaya-yang-membawa-keluar-dari-kebodohan https://amarmedia.co.id/pendidikan-adalah-cahaya-yang-membawa-keluar-dari-kebodohan Pendidikan Adalah Cahaya yang Membawa Keluar dari Kebodohan

Penulis : Sri Asmediati, S.Pd

(Guru Bahasa Indonesia

SMPN 1 Labuhan Badas)

Tujuan pendidikan bukan agar kita jadi orang yang pintar, tapi agar kita tidak jadi orang yang bodoh.

— Refleksi pribadi

Pernyataan ini tampaknya sederhana, namun sarat makna filosofis. Ia menggugah sekaligus mengoreksi persepsi umum tentang makna pendidikan. Dalam dunia yang kerap mengagungkan gelar, angka-angka akademik, dan kemampuan teknis, kalimat ini mengajak kita meninjau ulang: apakah pendidikan hanya soal kepintaran? Atau justru soal kesadaran, kebijaksanaan, dan kemanusiaan?

Di balik kalimat ini terkandung kritik terhadap paradigma pendidikan modern yang lebih berorientasi pada hasil daripada proses, lebih mengejar kecerdasan kognitif daripada kedewasaan moral. Di banyak tempat, "pintar" telah direduksi menjadi kemampuan mengerjakan soal-soal ujian, memperoleh nilai tinggi, atau menghafal rumus tanpa makna. Padahal, kepintaran tanpa arah etis bisa menjadi bencana. 

Orang yang pintar bisa menciptakan sistem yang menindas, teknologi yang merusak, atau kebijakan yang manipulatif, jika tidak dibimbing oleh kebijaksanaan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan demikian, pertanyaan besar yang harus kita renungkan adalah: untuk apa seseorang menjadi pintar jika ia menjadi penindas orang lain? Untuk apa kecanggihan intelektual jika tidak membawa kebaikan bagi sesama? Pendidikan semestinya menjadi proses penyadaran, tempat di mana manusia tidak hanya dilatih untuk berpikir benar, tetapi juga untuk hidup benar.

Pernyataan ini juga memberi peringatan bahwa kebodohan bukan monopoli mereka yang tidak sekolah, melainkan juga bisa menjangkiti mereka yang berpendidikan tinggi namun tidak menggunakannya dengan bijak. Maka, inti pendidikan bukan sekadar pengumpulan informasi, tetapi penumbuhan kesadaran diri, kemampuan berpikir kritis, dan rasa tanggung jawab sosial. Pendidikan harus melampaui ruang kelas, menyentuh hati nurani, dan membangun keberanian moral.

Dengan refleksi ini, kita diajak untuk membayangkan ulang pendidikan sebagai gerakan pembebasan dari kebodohan struktural dan spiritual. Pendidikan bukan sekadar tangga sosial, tetapi jembatan menuju kemanusiaan yang utuh dan tercerahkan.

1. Kebodohan: Musuh Sejati Peradaban

Dalam pemikiran klasik, seperti diungkapkan Socrates, orang bodoh bukanlah mereka yang tidak tahu, melainkan mereka yang tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Kebodohan sejati adalah ketidaksadaran akan kebodohan itu sendiri. Dan di sinilah pendidikan memainkan peran krusial—bukan menjadikan kita merasa tahu segalanya, tetapi menyadarkan kita bahwa pengetahuan itu terbatas dan bahwa hidup adalah proses belajar yang tak pernah selesai.

Filsuf Prancis, Michel Foucault, menyatakan bahwa pengetahuan itu erat kaitannya dengan kekuasaan. Maka, kebodohan bisa menjadi alat dominasi jika dibiarkan tersebar dalam masyarakat. Dalam sistem yang tidak adil, kebodohan sering kali direproduksi secara struktural agar rakyat tetap tunduk. Karena itu, pendidikan bukan sekadar pencarian pengetahuan, tapi juga perjuangan untuk membebaskan diri dari sistem yang sengaja membiakkan kebodohan demi melanggengkan kekuasaan.

Kita mengenal banyak orang berpendidikan tinggi, lulusan luar negeri, profesor bahkan, tapi tetap memperlihatkan kebodohan dalam praktik hidup: korupsi, kesombongan intelektual, intoleransi, manipulasi kebenaran. Mereka menjadi contoh nyata bahwa pendidikan formal tidak menjamin pencerahan batin. Seperti dikatakan oleh Cornel West, seorang filsuf Amerika kontemporer, "You can have all the degrees in the world and still be an idiot."

Kebodohan bukan sekadar soal tidak tahu, tetapi soal kehilangan arah moral dan keengganan untuk mempertanyakan. Maka, menjadi pintar tidak menjamin seseorang terbebas dari kebodohan yang membahayakan orang lain. Bahkan, dalam banyak kasus, kebodohan berwujud dalam bentuk yang lebih halus: pembenaran akademis atas ketidakadilan, rasionalisasi atas penindasan, atau legalisasi atas keserakahan. Di titik inilah pendidikan sejati dibutuhkan untuk mengasah nurani, bukan sekadar melatih kecerdasan.

Dalam konteks ini, kita harus memahami bahwa kebodohan bukan hanya musuh pengetahuan, tetapi juga musuh keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan. Maka, memerangi kebodohan melalui pendidikan bukan sekadar proyek intelektual, melainkan juga perjuangan etis dan spiritual untuk memanusiakan manusia.

2. Melampaui Kepintaran, Menemukan Kebijaksanaan

Pintar seringkali diukur dari nilai akademik, IQ tinggi, kemampuan berlogika. Tapi sejarah memperlihatkan bahwa banyak kejahatan besar justru dilakukan oleh orang-orang yang sangat pintar—tapi kehilangan empati dan nurani. Dari arsitek genosida hingga perancang manipulasi ekonomi global, dunia menyimpan jejak orang-orang brilian yang gagal menjadi bijaksana.

Dalam perspektif filsafat Timur seperti dalam ajaran Konfusius, kebijaksanaan bukan sekadar tahu, tetapi mampu hidup selaras dengan kebaikan, keadilan, dan keharmonisan sosial. Sementara itu, dalam filsafat Yunani kuno, terutama dalam ajaran Aristoteles, kebijaksanaan (phronesis) adalah kebajikan praktis yang mengarahkan tindakan menuju kebaikan tertinggi. Maka, pendidikan sejati tidak berhenti pada logos (rasio), tetapi juga membentuk ethos (karakter).

Pendidikan harus menanamkan kebijaksanaan, bukan sekadar kepintaran. Kebijaksanaan mengasumsikan adanya pengendalian diri, perenungan batin, dan kemampuan menimbang kebaikan dalam setiap keputusan. Dalam pandangan Socrates, orang bijak adalah mereka yang tahu bahwa mereka tidak tahu. Dalam tradisi sufi, orang arif bukan yang paling banyak bicara, tapi yang paling mampu mengenali dirinya dan memahami orang lain.

Dalam konteks sosial hari ini, kebijaksanaan juga berarti kemampuan untuk mendengarkan suara yang lemah, memahami yang berbeda, dan menahan diri dari reaksi impulsif yang destruktif. Pendidikan yang hanya melatih kecerdasan tanpa menumbuhkan empati, akan melahirkan manusia-manusia cerdas yang kering batin, rapuh secara etis, dan berpotensi merusak secara sistemik.

Menjadi “tidak bodoh” adalah bentuk kerendahan hati yang menyadari bahwa pengetahuan kita terbatas dan bahwa kesalahan bisa muncul dari keangkuhan akal. Seperti dikatakan oleh Blaise Pascal, "Ada dua jenis pikiran: mereka yang melihat kelemahan mereka dan menjadi bijak, dan mereka yang buta oleh kesombongan dan menjadi bodoh."

Kita tidak sedang kekurangan orang pintar, tapi sedang mengalami defisit orang bijak. Maka, pendidikan hari ini harus berani melampaui parameter teknis dan akademik, serta kembali ke akar tujuannya: membentuk manusia yang utuh, yang berpikir dengan akal, merasa dengan hati, dan bertindak dengan nurani.

3. Kebodohan Bukan Sekadar Ketidaktahuan

Dalam pemikiran filsuf besar Yunani, Socrates, tersirat sebuah paradoks yang mendalam: “Orang bijak adalah mereka yang sadar bahwa mereka tidak tahu.” Artinya, kebodohan sejati bukan terletak pada ketiadaan informasi atau data, melainkan pada sikap batin yang tidak menyadari keterbatasan diri. Orang bodoh adalah mereka yang tidak tahu bahwa mereka tidak tahu, dan lebih buruk lagi, tidak ingin tahu bahwa mereka sedang berada dalam kebodohan.

 

Di sinilah kebodohan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar ketidaktahuan teknis.

Kebodohan yang disertai kesombongan akan melahirkan sikap anti-kritik, merasa benar sendiri, dan menolak masukan. Inilah bentuk kebodohan yang berlipat ganda: kebodohan yang dilindungi oleh arogansi. Orang seperti ini bisa saja memiliki ijazah tinggi, gelar akademik berderet, bahkan pengakuan sosial sebagai tokoh intelektual, tapi tetap hidup dalam “kegelapan epistemologis.” 

Mereka tidak menyadari bahwa ilmu yang mereka miliki bisa usang, bias, atau digunakan untuk menindas orang lain. Dalam masyarakat modern, kebodohan semacam ini tampak dalam berbagai bentuk: pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan, akademisi yang membenarkan ketidakadilan, tokoh publik yang menyebarkan kebencian dengan bahasa intelektual, atau influencer digital yang memanipulasi opini publik demi keuntungan pribadi.

Pendidikan sejati, karena itu, tidak boleh berhenti pada pencapaian kognitif semata. Ia harus menanamkan kerendahan hati intelektual—kesadaran bahwa pengetahuan manusia bersifat terbatas dan harus terus diuji, dikritik, dan diperbarui. Orang terdidik bukanlah mereka yang tahu banyak, tapi mereka yang tahu bahwa mereka belum tahu banyak, dan oleh karena itu, terus belajar.

4. Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Tokoh pendidikan kritis asal Brasil, Paulo Freire, memberikan sumbangan besar dalam memahami pendidikan sebagai praktik pembebasan. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak model pendidikan konvensional yang ia sebut sebagai “pendidikan gaya bank”—di mana guru diposisikan sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang ‘menabungkan’ pengetahuan ke dalam ‘rekening kosong’ para murid.

 

Model ini menciptakan relasi yang otoriter dan menjadikan murid sebagai objek pasif, bukan subjek aktif dalam proses belajar.

Menurut Freire, penindasan tidak hanya dilakukan secara fisik atau ekonomi, tetapi juga secara kultural dan intelektual. Ketika seseorang tidak diberikan ruang untuk berpikir kritis, maka mereka cenderung menerima status quo sebagai sesuatu yang ‘alamiah’, padahal mungkin status quo itu menindas mereka. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang memampukan manusia membaca realitas sosialnya secara kritis, mengenali struktur ketidakadilan, dan bertindak untuk mengubahnya.

Pendidikan yang membebaskan tidak bisa dipisahkan dari praktik dialog—proses saling mendengar, saling belajar, dan saling tumbuh. Guru dan murid harus dipandang sebagai sesama pembelajar yang saling menggugah kesadaran. Dalam konteks ini, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tapi transformasi cara berpikir dan cara hidup.

Kita melihat betapa pentingnya pendidikan kritis ini dalam menghadapi situasi dunia hari ini: informasi melimpah, tetapi kesadaran kritis menipis; gelar mudah diraih, tapi empati dan integritas langka; teknologi berkembang pesat, tetapi kepekaan sosial justru merosot. Maka pendidikan bukan sekadar alat mencapai mobilitas sosial, tapi medan perjuangan untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan sistemik—baik yang bersumber dari kemiskinan struktural, budaya anti-kritik, maupun pengetahuan palsu yang diproduksi demi kuasa.

Menjadi Merdeka dalam Pikiran dan Perbuatan

Kebodohan bukan sekadar kekurangan pengetahuan, tetapi hilangnya kesadaran akan tanggung jawab untuk terus belajar, berpikir, dan bertindak secara etis. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan sarat kepentingan, pendidikan harus kembali ke rohnya: membebaskan manusia dari ketidaksadaran, dari belenggu ketergantungan, dan dari ketakutan untuk berpikir merdeka.

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Pernyataan ini bukan sekadar retorika indah, tapi panggilan moral yang dalam: bahwa pendidikan harus menuntun, bukan menundukkan; membebaskan, bukan mencetak; menyadarkan, bukan sekadar mengajarkan.

Maka tugas kita bukan hanya mengejar pengetahuan, melainkan menumbuhkan kesadaran. Bukan hanya menjadi pintar, tapi menjadi manusia yang sadar, merdeka, dan bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, kebodohan yang paling menyakitkan adalah ketika kita tidak tahu bahwa kita sedang menjadi alat dari sistem yang menindas, atau lebih buruk lagi, menjadi bagian dari penindas itu sendiri. (AM)

]]>
Sun, 20 Jul 2025 20:00:11 +0800 amr
Strategi Dongkrak PAD Sumbawa: Tantangan dan Peluang Triliunan Rupiah dari Laut hingga Wisata https://amarmedia.co.id/strategi-dongkrak-pad-sumbawa-tantangan-dan-peluang-triliunan-rupiah-dari-laut-hingga-wisata https://amarmedia.co.id/strategi-dongkrak-pad-sumbawa-tantangan-dan-peluang-triliunan-rupiah-dari-laut-hingga-wisata Strategi Dongkrak PAD Sumbawa: Tantangan dan Peluang Triliunan Rupiah dari Laut hingga Wisata

Oleh : Rusdianto Samawa 

Kabupaten Sumbawa menghadapi tantangan serius dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah berbagai kendala administratif, regulasi, ekonomi, dan sosial. Namun, dengan strategi yang tepat dan berkelanjutan, potensi PAD, khususnya dari sektor kelautan dan perikanan, diperkirakan dapat melonjak drastis hingga triliunan rupiah. Sebuah riset diagnosa PAD Sumbawa menyoroti perlunya inovasi, harmonisasi regulasi, dan keberanian dalam mengoptimalkan seluruh potensi daerah.

Riset Diagnosa PAD Sumbawa

Kendala dan tantangan dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumbawa antara lain:

Pertama, Kendala Administratif dan Teknis:

1. Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan terlatih dalam pengelolaan PAD.

2. Kurangnya sistem informasi yang memadai dalam pengelolaan PAD, sehingga kurang transparan dan akuntabel.

Kedua, Kendala Regulasi dan Kebijakan:

1. Kebijakan pusat yang kurang mendukung pengembangan sumber-sumber pendapatan baru di daerah.

2. Regulasi yang rumit dan menghambat efektivitas dan efisiensi pengelolaan PAD.

Ketiga, Kendala Ekonomi dan Sosial:

1. Ketergantungan terhadap sektor tertentu membuat daerah rentan terhadap fluktuasi ekonomi.

2. Kesenjangan ekonomi dan sosial mempengaruhi daya beli masyarakat dan membatasi potensi penerimaan dari sektor-sektor non SDA.

Tantangan lain yang dihadapi Kabupaten Sumbawa paling berat adalah:

Pertama, Mayoritas Pengangguran: Peningkatan pengangguran pada tahun 2023: 7,79%, tahun 2024: 7,93% dan tahun 2025: 3,03 %. Hal ini perlu evaluasi kebijakan berbasis kebutuhan dan potensi wilayah.

Kedua, Kelemahan Pengelolaan Sumber Daya Alam: Perlu kajian matang untuk menentukan kebijakan terkait kegiatan pertambangan rakyat. Karena penyebab tertahannya kualitas laut. Hulu ekonomi biru ada di Hutan, hilirnya Laut. Kerusakan laut dari hutan yang tandus. Lalu kirim banjir yang menyebabkan laut rusak.

Ketiga, Kekurangan Ketersediaan Pupuk dan Harga Produksi Pertanian: Perlu pengawasan intensif untuk memastikan kestabilan harga hasil produksi.

Keempat, Kekurangan Ketersediaan Obat dan Nutrisi Perikanan Budidaya, Pusat budidaya, komoditas unggulan budidaya, dan pendidikan keterampilan (skill) pembudidaya.

Kelima, Kurangnya Mobilitas Perikanan Tangkap, seperti kapal perikanan, infrastruktur perikanan dan kehadiran ekonomi kreatif (UMKM) di Tempat Pelelangan Ikan (UPT) untuk meramaikan pelabuhan.

Keenam, Kurangnya Inovasi investasi dalam penangkapan ikan yang menyebabkan mandek, seperti pengusaha lebih suka investasi Cold Storage dan hal - hal yang mudah dalam keuntungan. Padahal, isi cold storagenya ikan. Kalau nelayan tidak di mobilisasi infrastrukturnya, maka isi cold storagenya juga tidak ada, yang beli ikan pun tidak mau datang. Karena hanya jualan kosongan.

Dalam mengatasi tantangan ini, pemerintah daerah perlu mengadopsi strategi yang tepat dan berkelanjutan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.

Optimalisasi Pajak Daerah:

Meningkatkan pendapatan pajak daerah melalui penyesuaian tarif dan perubahan perda Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Hal harus dikerjakan serius oleh tim khusus harmonisasi regulasi yang di bentuk bupati Sumbawa. Tujuannya, permudah regulasi penyesuaian sumber pendapatan Anggaran Daerah (PAD) melalui:

Pertama, Pengembangan Sektor Pariwisata Bahari yang terintegrasi dengan kembangkan destinasi wisata baru yang lebih prospektif, seperti MXGP, Kawasan Samota, Pulau Moyo, Pulau Rakit dan Hiu Paus. Hal - hal yang perlu dilakukan adalah:

1. Pusat Center Agro Maritim Terintegrasi di Pulau Rakit;

2. Kerjasama investasi pengembangan wisata Pulau Moyo. Hal ini, dapat dilakukan tim khusus pemerintah dalam peran mobilisasi pelaku industri pariwisata.

Kedua, Pengembangan Sektor Perikanan dan Peternakan: Meningkatkan pendapatan melalui sektor perikanan dan peternakan, seperti Perikanan tangkap Wilayah Barat dan Perikanan Budidaya Wilayah Timur serta mobilisasi kembali sektor hewan: unggas, kuda, Sapi, Kerbau, dan kambing, yang dapat menjadi sumber PAD yang cukup besar.

Hal - hal yang perlu dipertimbangkan adalah:

1. Harmonisasi regulasi antara pusat dan daerah, sesuai Undang - undang pemerintah daerah, yang bisa berpeluang kepala daerah mobilisasi investasi pada sistem sharing sumber ekonomi dan pendapatan;

2. Pembentukan BUMD sebagai skala prioritas untuk akselerasi investasi ekonomi pada potensi perikanan: tangkap dan Budidaya;

3. Khusus perikanan tangkap, harus hadirkan kebijakan terbuka mobilisasi investasi penangkapan ikan wilayah barat;

4. Energi terbarukan: Teknologi industri pengeringan ikan, penanaman rumput laut penghisap karbon, pengayaan garam jadi baterai.

Ketiga, Kerjasama dengan Pihak Ketiga: Melakukan kerjasama dengan perusahaan swasta untuk membangun infrastruktur daerah yang fokus pada sektor tertentu yang bersifat non SDA seperti perikanan, pariwisata dan peternakan sebagai sumber baru peningkatkan PAD.

Peningkatan Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Keuangan Daerah:

Pertama, Tingkatkan kemampuan keuangan daerah melalui analisis potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan strategi peningkatan kemampuan keuangan daerah. Hal itu dilakukan oleh tim khusus diatas tadi (point pertama) yang dibentuk Bupati.

Kedua, strategi diatas tersebut, Kabupaten Sumbawa, khusus Kelautan Perikanan bisa maksimal prediksi PAD-nya sebesar Rp 402.982.100 milyar dari penetapan APBD 2025 sebesar 2,114 triliun. Dengan kejar target 2030. Artinya, ini keinginan target yang berani, bisa di capai dengan empat hal: "Jujur, Kerja, Semangat, Maksimal."

Catatan penting sebelum menutup tulisan ini adalah 

1. Kabupaten Sumbawa perlu belajar ke daerah yang berhasil mobilisasi investasi kelautan - perikanan seperti Sulsel, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Utara (Bitung).

2. Target PAD Sumbawa naik 10%. Ini kecil. Supaya tetap pesimis dengan segala keadaan. Maka, semakin pesimis, mestinya semakin naik persentasenya ke angka minimal 30%.

3. Rubah pola leadership dan manajemen SDA maupun potensi sektor lain. (AM)

]]>
Wed, 16 Jul 2025 19:12:13 +0800 amr
Jelang Mutasi Pertama, ITK Sumbawa Soroti Kinerja SKPD Lingkup Pemda https://amarmedia.co.id/jelang-mutasi-pertama-itk-sumbawa-soroti-kinerja-skpd-lingkup-pemda https://amarmedia.co.id/jelang-mutasi-pertama-itk-sumbawa-soroti-kinerja-skpd-lingkup-pemda Jelang Mutasi Pertama, ITK Sumbawa Soroti Kinerja SKPD Lingkup Pemda 

Sumbawa- Amarmedia.co.id- Gerbong mutasi tahap pertama dilingkup Pemda Sumbawa dibawah pemerintahan Bupati Sumbawa Ir.H.Syarafuddin Jarot dan Wakil Bupati Sumbawa Drs H.Mohamad Ansori (Jarot-Ansori) dikabarkan akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini, karena itu Ketua Presedium Integritas Transparansi Kebijakan (ITK) Sumbawa Abdul Haji SAP dalam keterangan Persnya Senin (14/07/2025) menyoroti kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang dinilai belum menunjukkan kinerja yang signifikan dalam mendukung visi misi pemerintahan Jarot-Ansori menuju Sumbawa yang unggul, maju dan sejahtera.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan ITK Sumbawa terhadap kinerja yang dilaksanakan belasan SKPD terang Abdul Haji, memang sejauh ini hanya ada beberapa SKPD yang menunjukkan kinerja cukup baik dalam mendukung sejumlah program pemerintahan Jarot-Ansori, seperti Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), BPBD, Inspektorat, Disnakertrans, Bapenda dan Diskominfotik Sumbawa

"Terkait dengan rencana mutasi tahap pertama pemerintahan Jarot-Ansori tersebut, maka jelas sejumlah SKPD tersebut tentu akan menjadi atensi untuk tetap dipertahankan, namun terlepas dari like & dislike atau latar belakang, kami sangat yakin pemerintahan Jarot-Ansori akan memilih dan menempatkan pejabat yang benar-benar bekerja dalam mensukseskan apa yang menjadi visi misi dan program yang telah ditetapkan," tegas Abdul Haji.

Penempatan sejumlah pejabat yang tepat pada sejumlah SKPD itu penting dilakukan sambung Abdul Haji, karena kedepan berbagai program kerja dari Pemerintahan Jarot-Ansori itu beragam kegiatan, apalagi dengan telah diraihnya prestasi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK-RI tentu ini harus menjadi atensi bagi seluruh SKPD bagi pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik kedepan.

Bahkan, sejumlah program lainnya dari hasil komunikasi dan lobby yang dilakukan pemerintahan Jarot-Ansori dan Pimpinan DPRD Sumbawa ke Pusat, sejumlah program pembangunan seperti pembangunan sejumlah ruas jalan, Bendungan dan jaringan irigasi, kampung nelayan dan budidaya merah putih, Sekolah Rakyat (SR), Universitas Pertahanan (UNHAN) dan sejumlah program pembangunan dan pembenahan sarana prasarana dan fasilitas penunjang lainnya, dalam hal ini tentu memerlukan penanganannya yang serius dari pejabat terkait dalam mensukseskan program besar tersebut, ujarnya.(AM)

]]>
Mon, 14 Jul 2025 15:17:48 +0800 amr
Diskusi Publik Pojok NTB, Walhi NTB dan Mi6 dikemas Untuk Pencerahan dan Out of The Box https://amarmedia.co.id/diskusi-publik-pojok-ntb-walhi-ntb-dan-mi6-dikemas-untuk-pencerahan-dan-out-of-the-box https://amarmedia.co.id/diskusi-publik-pojok-ntb-walhi-ntb-dan-mi6-dikemas-untuk-pencerahan-dan-out-of-the-box Diskusi Publik Pojok NTB, Walhi NTB dan Mi6 dikemas Untuk Pencerahan dan Out of The Box 

Mataram.Amarmedia.co.id -  Ketua Panitia Diskusi Publik Pojok NTB, Walhi NTB dan Mi6, Hendra Kusumah mengatakan kegiatan yang akan dilangsungkan pada hari Kamis, 19 Juni 2025 , Jam 19.30 - 22.30 wita di Tuwa Kawa Kafe akan dikemas dengan mengedankan entertain/hiburan sekaligus memberikan pencerahan. 

"Hal ini agar jalannya diskusi publik tidak kaku, membosankan dan membuat bete audien," kata Hendra Kusumah kepada media, Selasa, 17 Juni 2025. 

Lebih jauh Hendra menuturkan konsep diskusi publik yang tema besarnya Quo Vadis Kebijakan dan Strategi Pemerintahan Iqbal-Dinda berbasis Pencitraan diarahkan agar forum diskusi tersebut sebagai ajang berbagi ilmu dan pengetahuan yang baru terkait dinamika sosial politik yang mengemuka dipermukaan agar benang merahnya terurai dengan benar. 

"Forum Diskusi Publik nanti akan info info terbaru dan up to date yang akan disampaikan oleh para Narasumber agar terjadi kesamaan persepsi ditengah hegemoni pencitraan komunikasi yang terkesan indah dan paling benar," lanjut Hendra Kusumah. 

Hendra Menambahkan pihak Panitia diskusi publik akan mensetting supaya panggung diskusi publik tidak terkesan berjarak dan seolah-olah peserta 'dipaksa' seolah-olah menonton 'sirkus' paparan para narasumber sebagaimana lazimnya terjadi. 

"Nanti suasana panggung diskusi publik akan ditata lebih interatif agar forum menjadi cair, akrab, egaliter dan out of the box ," imbuhnya. 

Terkait peserta diskusi publik , hendra kusumah mengatakan, panitia akan mengundang 75 orang dari berbagai kalangan tapi lebih diutamakan untuk mahasiswa dan aktivis pergerakan. 

"Diskusi Publik ini sebagai upaya pencerahan dan pendidikan politik untuk mengekspresikan kebebasan berpendapat secara berbeda dikalangan anak muda ditengah maraknya pragmatisme dan kurangnya budaya adu gagasan," lanjutnya. 

Terakhir Hendra Kusumah menambahkan untuk Narasumber , pihak panitia diskusi publik sudah mendapat konfirmasi kesiapan untuk menghadiri acara tersebut diantaranya Prof Dr Mansyur Afifi, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr Wira Pria Suhartana, Dekan Fakultas Hukum Universitas Mataram, kemudian Dr. Alvin Sahrin, akademisi dan Pengamat. Selanjutnya Anggota DPRD NTB, Suhaimi dari PDI Perjuangan menyatakan kesiapannya Hadir . TGH. Najamuddin Mustafa, tokoh masyarakat yang tinggal di lombok timur akan hadir on time sesuai jadwal. 

"Direktur Walhi NTB, Amri Nuryadin nanti akan memaparkan data data kerusakan lingkungan di NTB melalui power point yang telah disusun. Sementara itu Ahmad SH mengkonfirmasikan akan hadir jika kondisi kesehatannya membaik," tukas Hendra Kusumah sembari menambahkan bahwa siapapun yang hadir dalam diskusi publik adalah Narasumber juga untuk berbagi pengetahuan  (AM)

]]>
Tue, 17 Jun 2025 23:15:59 +0800 amr
Mimpi PPS dan Wajah Fiskal Kabupaten/Kota di NTB https://amarmedia.co.id/mimpi-pps-dan-wajah-fiskal-kabupatenkota-di-ntb https://amarmedia.co.id/mimpi-pps-dan-wajah-fiskal-kabupatenkota-di-ntb Mimpi PPS dan Wajah Fiskal Kabupaten/Kota di NTB

Bahwa pertimbangan utama keputusan Pembentukan DOB adalah kemampuan Fiskal termasuk daerah yang akan ditingalkan. Pertanyaan ini menjadi penting di tengah desakan Pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) lepas dari NTB.

Kabupaten dan kota di NTB rata2 80 s/d 90 % APBD-nya masih menadahkan tangan ke pemerintah Pusat. Seperti juga daerah lain di hampir seluruh Indonesia. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang kecil sementara gaji dan operasional pemda di atas 70%. Sisanya untuk bangun infrastruktur pada di wilayah yang luas.  

Perlu diingat UU No. 1 Tahun 2022 Tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat

Dan Pemerintahan Daerah, khususnya Pasal 146 bahwa biaya operasional pemda termasuk gaji tidak boleh melebihi 30% dari APBD (di luar tunjangan guru). Sehingga belanja modal termasuk infranstruktur dapat dialokasikan lebih besar. 

Penataan tenaga honorer saat ini dalam bentuk P3K di seluruh Indonesia adalah bagian mengontrol biaya dan operasional pegawai agar tidak melebih ketentuan dan kemampuan daerah. Maka sejak Januari 2025 Pemda tidak lagi boleh merekrut honorer baru.

Tito Karnavian Mendagri dalam sebuah kesempatan belum lama ini bilang, berat bagi pemerintah pusat untuk menambah beban baru. Pertimbangannya bagi pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) tetapi juga bagi daerah yang ditinggalkan. Inilah gambaran Fiskal beberapa kabupaten di kota di (NTB).

Terdiri dari 10 kabupaten dan Kota. Kedua Pulau (Pulau Lombok dan P. Sumbawa) sama2 punya 5 kabupaten dan kota. Tetapi kondisi Fiskal-nya sangat lemah. Rata2 APBD (2024) Rp 1 T s/d Rp 3,5 T. Terendah APBD kota Bima 1,01 T, menyusul kabupaten Dompu, Rp 1,2 T. Lombok Utara Rp 1.16 T, ada pun PAD rata-rata kurang dari 10%.    

Pulau Sumbawa bagian timur yakni kab. Dompu dari Rp 1,28 T APBD 2024, hampir 90 % bergantung pada pemerintah pusat, sementara pendapatan Asli Daerah (PAD) kurang dari 10 %. Dari anggaran tersebut sekitar 80% untuk belanja pegawai dan operasional pemda sisanya untuk belanja modal dan bangun infrastruktur. 

Kabupaten Bima dari Rp 1,9 triliun APBD (2024) 90 % tergantung transfer pusat, dan kurang dari 10 % PAD. Dari jumlah tersebut sekitar 70% untuk biaya gaji dan operasional pemda. 

 

Kota Bima, APBD Rp 1,01 T PAD untuk gaji dan belanja operasional di atas 80 %, PAD hanya 10%.   

Begitu pula Kabupaten Sumbawa, dan Sumbawa Barat tidak jauh berbeda. Sepanjang sejarah belum ada lonjakan significant peningkatan PAD padahal sumber daya alam demikian besar. Perikanan, pertanian, peternakan dan perkebunan, serta pertambangan. Merupakan tantangan bagi pemerintahan baru. 

Lebih ironis lagi penghasilan hasil laut tangkap dan budidaya, Kabupaten Sumbawa tercatat tahun lalu Rp 14 triliun dari Teluk Saleh, itu sama dengan berlipat2 kali besarnya dibandingkan APBD tetapi tidak menggerakkan PAD. Pertanian, jagung dan padi, menjadi andalan industri peternakan raksasa dan lumbung pangan Nasional tetapi tudak mampu mengangkat PAD. Mengapa ? 

Sumbawa Barat, jika tidak ada bagi hasil dari sektor tambang sebagai daerah penghasil, maka kondisinya pun memprihatinkan. Perlu diingat tahun 2030 tambang di KSB akan berpindah ke kab. Sumbawa. 

Di Pulau Lombok, tercatat Lombok Timur dengan sebaran penduduk tertinggi, APBD 2024 sebesar Rp 3,3 triliun dan PAD sebesar Rp 547 milyar. Sebagian besar untuk gaji dan operasional pemda.  

Beberapa daerah kabupaten dan kota di Lombok juga sama. Ketergantungan pada pemerintah pusat masih tinggi sementara PAD kurang dari 10 s/d 25 %. Belanja operasional serta gaji pegawai sebagian besar atau Rp 2,5 Triliun. Masih Panjang dan berliku jalan untuk membalikkan keadaan. 

Lombok Barat dari Rp 1,9 triliun APBD 2024, PAD tercatat Rp 380 miliar. Namun dari situ digunakan untuk belanja operasional dan gaji mencapai Rp 1,5 triliun, baru sisanya untuk bangun/belanja infrastruktur.  

Di tengah semangat, pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa yang ingin memisahkan diri dari NTB, harus berhadapan dengan kenyataan tersebut. Pertimbangan pemerintah pusat tentu saja bukan cuma bagaimana nasib daerah yang ditinggalkan tetapi juga prospek ekonomi dan fiscal daerah baru. 

Para kepala daerah yang baru dipilih gubernur dan bupati/walikota ini adalah tantangan baru untuk membuktikan sumber daya alam yang demikian berlimpah memberikan efek pada PAD dan kesejahteraan masyarakat. (M. Mada Gandhi)

]]>
Sun, 08 Jun 2025 16:43:26 +0800 amr
Aneh, Mendagri Minta Longgarkan Izin Ekspor, NTB Masih Terjebak Ilusi Tambang https://amarmedia.co.id/aneh-mendagri-minta-longgarkan-izin-ekspor-ntb-masih-terjebak-ilusi-tambang https://amarmedia.co.id/aneh-mendagri-minta-longgarkan-izin-ekspor-ntb-masih-terjebak-ilusi-tambang

Aneh, Mendagri Minta Longgarkan Izin Ekspor, NTB Masih Terjebak Ilusi Tambang

Oleh  : Mada Gandhi 

Mendagri Tito Karnavian berjanji bantu NTB melobi Kementerian ESDM untuk melonggarkan izin ekspor konsentrat PT Amman Mineral (AMNT), sehubungan anjloknya pertumbuhan ekonomi quartal 1 2025 hingga minus 1,47% disebabkan belum dikeluarkan izin ekspor.

Pernyataan mendagri itu justru bertentangan dengan upaya pemerintah menggalakkan hilirisasi dalam negeri yang telah melarang ekspor konsentrat untuk diolah di luar negeri sejak 1 Januari 2025 di seluruh Indonesia. Sekaligus menunjukkan bahwa NTB belum bisa lepas dari ilusi angka2 tambang. Pengolahan konsentrat sendiri agar memiliki nilai tambah terhadap ekonomi dan menyerap tenaga kerja.

Mustinya Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Munrenbang) yang berlangsung 2 s/d 4 Juni 2025 di Mataram menjadi titik balik transformasi serius mengembangkan pengolahan/hilirisasi SDA terbarukan; pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan. Sektor inilah yang riel penopang ekonomi daerah, tempat bergantung hidup sebagian besar masyarakat secara turun temurun dan sektor yang menjadi tulang punggung utama PDRB NTB. Namun ternyata masih terjebak pada ilusi anga-angka tambang.

Tarik ulurnya janji bangun smelter sudah ada sejak PT Newont Nusa Tenggara sebelum menjadi PT AMNT pada 2016 Perusahaan selalu berkelit dengan berbagai alasan. Begitu ijin ekspor konsentrat disetop mereka menunjukkan keseriusan bebaskan lahan lokasi smelter atau menunjukkan modal bangun pabrik pengolahan. Ijin pun dikeluarkan. Atau mengancam PHK ribuan karyawan, ijin pun diberikan. Pemerintah selalu mengalah. Baru 3 tahun belakangan smelter terbangun. Perhitungan pemerintah harusnya sudah bisa beroperasi penuh, tetapi pihak AMNT minta waktu.   

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Produk Domestik Regional (PDRB) NTB nomor dua ditopang industri pertambangan PT AMNT di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Naik turunnya denyut bisnis perusahaan raksasa itu langsung mempengaruhi angka pertumbuhan. Itulah yang terjadi saat ini ijin tidak keluar pertumbuhan langsung minus.

Padahal, faktanya angka2 kontribusi PDRB tambang hanyalah ilusi, belanja modal perusahaan mencapai Rp 22 triliun tahun lalu, dan belanja operasional yang tidak kecil, uangnya tidak beredar di Sumbawa Barat. Karyawannya 37 ribu orang eksisting PT AMNT sekitar 9700 termasuk sub kontraktor dilokalisir dan kebutuhannya disuplai entah dari mana. 

Pajak-pajak dan pendapatan negara non pajak, dipungut pemerintah pusat untuk kemudian diturunkan dalam bentuk bagi hasil ke semua kabupaten dan kota di seluruh lingkup NTB. Itulah dana riel yang secara otomatis masuk ke kas daerah karena sudah diatur oleh UU. Petani dan nelayan tidak tersentuh oleh kebutuhan perusahaan raksasa tersebut. Sehingga keberadaannya tidak ngefek kepada ekonomi setempat. Pengusaha dan UKM tidak berkembang.

BPS memasukkan dalam PDRB tentu karena asal barang dan lokasi proyek berada di KSB, tetapi uang besar belanja perusahaan terjadi di luar daerah. Hal ini sudah berlangsung sejak perusahaan berproduski tahun 2000. Maka jangan heran di Sumbawa Barat yang penduduknya hanya 150 ribu jiwa masih ada kemiskinan di atas 20 ribu jiwa dan stunting di atas 7 % serta pengangguran di atas 3,5 % (BPS 2024) (AM).

]]>
Thu, 05 Jun 2025 08:41:15 +0800 amr
Bank NTB Syariah Diyakini Bakal Lebih Maju dan Berkembang Jika Dirut Diisi Putra Daerah https://amarmedia.co.id/bank-ntb-syariah-diyakini-bakal-lebih-maju-dan-berkembang-jika-dirut-diisi-putra-daerah https://amarmedia.co.id/bank-ntb-syariah-diyakini-bakal-lebih-maju-dan-berkembang-jika-dirut-diisi-putra-daerah Bank NTB Syariah Diyakini Bakal Lebih Maju dan Berkembang Jika Dirut Diisi Putra Daerah

Mataram.Amarmedia.co.id  - Penjaringan calon Direksi Bank NTB Syariah oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sedang berproses. 

Tim panitia seleksi sedang melakukan interview mendalam terhadap 25 orang yang lolos seleksi tahap sebelumnya. 

Terkait itu, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mataram Assoc. Prof.Dr.H.Iwan Harsono, S.E., M.Ec berharap agar posisi Direktur Utama (Dirut) PT. Bank NTB Syariah diisi oleh putra daerah yang profesional dan kapabel. 

Dia mendukung penuh visi Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal yang menginginkan NTB makmur dan mendunia. Salah satunya melalui penyehatan perbankan di daerah. 

"Untuk menunjang visi NTB mendunia itulah maka perlu ada figur putra daerah yang profesional dan kapabel di bidangnya duduk di jajaran direksi Bank NTB Syariah, " Ujar Iwan Harsono Selasa (27/5/2025). 

Mantan Plt. Dirut Bank Perkreditan Rakyat (BPR) itu mengatakan, keinginan pemerintah NTB menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dapat ditopang dengan keberadaan Perbankan yang sehat. Dengan begitu, dibutuhkan figur putra daerah yang profesional dalam menjalankan perbankan berbasis syariah di NTB. 

Dia berharap Gubernur NTB mengutamakan putra daerah duduk di jajaran Direksi dan Komisaris terutama sebagai Direktur Utama. Berkaca seperti Provinsi Bali, di mana jajaran direksinya diisi oleh putra daerah. 

"Ini membuktikan bahwa kualitas dan loyalitas orang-orang NTB sangat mampu dan terpercaya untuk memanaj perbankan berbasis Syariah di NTB. Jangan apa-apa impor itu kurang bagus," paparnya. 

Dengan adanya putra daerah diyakini dapat meminimalisasi praktik Capital Flaight (pelarian modal) ke luar daerah. Terlebih NTB di bawah kepemimpinan Iqbal - Dinda berkomitmen untuk menarik sebanyak-banyaknya investor dengan membentuk NTB Capital. 

"Kita harus sadar bahwa IPM kita ini bagus. Intinya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada putra daerah untuk duduk di jajaran direksi Bank NTB Syari'ah,"tegas mantan Komisaris PT BPR ini. 

Anggota tim panitia seleksi calon Direksi PT. Bank NTB Syari'ah Ptof. Dr. H Asikin membenarkan bahwa tahapan seleksi sedang berproses. "Iya saat ini kami sedang melaksanakan deb interview di Jakarta untuk 25 calon," ujarnya. 

Sebelumnya, terdapat 97 pendaftar mengikuti seleksi administrasi dan tersaring menjadi 28 nama. Setelah seleksi lebih lanjut, jumlah itu mengerucut menjadi 25 kandidat finalis. Tahapan berikutnya adalah wawancara mendalam terhadap 25 kandidat tersebut. 

Penilaian dilakukan berdasarkan tiga kategori, yakni Disarankan (nilai di atas 80), Dipertimbangkan (nilai 70–79,9), dan Tidak Disarankan (nilai di bawah 70).

Tim Pansel menargetkan proses wawancara rampung pada akhir Mei 2025. Nama-nama yang direkomendasikan akan diserahkan ke Gubernur NTB pada 1 Juni 2025. 

Terdapat lima posisi direksi yang akan diisi, yakni Direktur Utama, Direktur Dana dan Jasa, Direktur Pembiayaan, Direktur Keuangan dan Operasional, serta Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko.(AM)

]]>
Wed, 28 May 2025 06:42:01 +0800 amr
Mimbar Bebas 100 Hari Iqbal&Dinda, Pojok NTB dan Mi6 Hadirkan Panggung Tempat Masyarakat Bersuara tanpa Rasa Takut https://amarmedia.co.id/mimbar-bebas-100-hari-iqbal-dinda-pojok-ntb-dan-mi6-hadirkan-panggung-tempat-masyarakat-bersuara-tanpa-rasa-takut https://amarmedia.co.id/mimbar-bebas-100-hari-iqbal-dinda-pojok-ntb-dan-mi6-hadirkan-panggung-tempat-masyarakat-bersuara-tanpa-rasa-takut MATARAM-Pojok NTB bersama Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 akan menggelar Mimbar Bebas 100 Hari kepemimpinan Gubernur H Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj Indah Dhamayanti Putri. Mimbar Bebas ini bukan hendak menjatuhkan, tapi untuk mengingatkan agar kekuasaan tetap berpijak pada rakyat.

“Seratus hari telah berjalan. Saatnya masyarakat berbicara, apakah janji tinggal kata-kata, atau telah menjadi nyata,” kata Admin Pojok NTB M Fihiruddin, di Mataram, Senin (26/5/2025).

Pasangan Iqbal-Dinda, dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB pada 20 Februari 2025. Pasangan ini akan genap 100 hari memimpin Bumi Gora pada 31 Mei mendatang.

Fihiruddin mengungkapkan, 100 hari pertama merupakan masa evaluasi awal terhadap gaya kepemimpinan dan arah kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih. Direktur LOGIS NTB ini menegaskan, dalam konteks demokrasi partisipatif, salah satu elemen penting adalah keterlibatan masyarakat dalam menyuarakan aspirasi, kritik, dan saran. Mimbar Bebas yang digelar Pojok NTB dan Mi6 ini akan menjadi panggung hal tersebut.

“Jika pemimpin tak mau mendengar suara masyarakat di hari ke-100, maka ia akan tunarungu di hari ke-1000,” ucap Fihir.

Rencananya, Mimbar Bebas 100 Hari Iqbal-Dinda akan digelar Pojok NTB dan Mi6 di Tuwa Kawa Coffee Roastery, 1 Juni 2025. Mimbar Bebas ini juga dapat disimak secara live oleh publik karena akan disiarkan secara langsung Talenta FM.

Fihir mengatakan, Pojok NTB dan Mi6 menyiapkan Mimbar Bebas ini sebagai panggung bagi siapa pun. Sebab, setiap suara memiliki hak yang sama untuk didengar. Karena itu, Mimbar Bebas ini akan terbuka untuk mereka yang ingin menyampaikan kritik. Akan terbuka pula bagi mereka yang ingin memberi apresiasi. Dan terbuka pula bagi mereka yang ingin menyuarakan hal yang netral sekalipun.

“Mimbar ini bukan hendak menjatuhkan. Tapi untuk mengingatkan agar Iqbal-Dinda tetap berpijak pada rakyat,” kata Fihir.

Karena itu, aktivis dari kalangan muda ini menginginkan agar semua pihak memosisikan Mimbar Bebas ini sebagai instrumen demokrasi. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan rakyat. Dan dalam momentum 100 hari kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Mimbar Bebas ini menjadi sangat strategis sebagai alat kontrol sosial dan pengingat komitmen kepada publik.

“Jangan pernah lupa. Seratus hari sering dijadikan barometer awal keseriusan dan arah kebijakan seorang pemimpin dalam menjalankan program prioritas,” tandas Fihir.

Seluruh dinamika yang terjadi sepanjang Mimbar Bebas ini, diharapkan menjadi penyeimbang informasi publik terhadap segala pernyataan resmi yang telah dikeluarkan pemerintah. Mimbar Bebas ini mungkin akan memunculkan narasi alternatif, sehingga publik bisa mendapatkan gambaran yang lebih objektif. Sehingga yang muncul tidak hanya berupa klaim semata.

Selain itu kata Fihir, respons pimpinan daerah terhadap suara di Mimbar Bebas ini akan menjadi indikator tentang seberapa adaptif dan terbuka Iqbal-Dinda terhadap masukan eksternal. Termasuk seberapa sigap pasangan ini melakukan koreksi dini atas kebijakan yang dinilai publik tidak tepat sasaran.

“Tidak ada perubahan tanpa keberanian bicara. Kami menyiapkan Mimbar Bebas sebagai ruangnya,” tandas Fihir.

Sementara itu, Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto menambahkan, Mimbar Bebas ini jangan pernah dianggap sebagai ancaman. Aktivis senior NTB yang karib disapa Didu ini menegaskan, Mimbar Bebas ini justru menjadi cermin sehat bagi Iqbal-Dinda untuk terus memperbaiki arah kebijakan demi kepentingan rakyat.

Didu menekankan, kehadiran Mimbar Bebas adalah wujud iklim demokrasi yang sehat. Harus dibuka ruang yang luas, dimana publik dapat bebas menyuarakan pendapat tanpa pernah dibebani rasa takut.

“Seratus hari pertama bukan masa bulan madu, tapi masa masyarakat membuka mata. Jika seorang pemimpin meminta waktu tanpa kritik di awal masa jabatannya, boleh jadi pemimpin itu ingin bekerja tanpa kontrol, bukan bekerja untuk rakyat,” tutup Didu. (AM)

]]>
Mon, 26 May 2025 19:52:12 +0800 amr
Belajar Cinta dan Kepercayaan dari Mangrove https://amarmedia.co.id/belajar-cinta-dan-kepercayaan-dari-mangrove https://amarmedia.co.id/belajar-cinta-dan-kepercayaan-dari-mangrove

Rosia Imbiri mendayung pelan perahu kecil yang kami naiki. Perempuan, yang ketika itu berusia 31 tahun, adalah penduduk Kampung Kainui di wilayah Distrik Angkaisera, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Rosia membawa saya melihat pesisir yang saat itu baru ditanaminya dengan bibit-bibit mangrove. Matahari di kala itu, 29 Oktober 2021, bersinar malu-malu. Cerah tapi tak menyengat. 

Pesisir yang sedang saya datangi ini ada di teluk kecil di dekat kampung Kainui. Rosa dan saya berkeliling menyusuri pesisir yang airnya sedang pasang. Di malam hari biasanya air surut dan di pagi hari air kembali meti atau naik. Mangrove di bagian dalam pesisir lebih rimbun dibanding bagian luar. 

Saat itu suasana pandemi COVID-19 masih berlangsung. Untuk menopang hidup, penduduk di kampung Kainui mendapatkan bantuan dana dari penanaman bibit mangrove melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Ketika itu, PEN Mangrove merupakan kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Kolaborasi program ini dilakukan di sembilan provinsi prioritas. Salah satunya di Provinsi Papua. Kegiatan di Kampung Kainui difasilitasi oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Memberamo, yang ada di bawah naungan KLHK.

Penanaman 66 ribu bibit mangrove jenis Rhizophora di Kainui dilakukan di area seluas 20 hektare. Masyarakat mengambil bibit dari pohon-pohon mangrove di sekitar kampung. Mereka memilih propagul yang baik sebagai bibit. Propagul adalah buah mangrove berbentuk panjang serupa lilin yang agak melengkung di ujung. Dalam waktu tak berapa lama, jika kuncup mangrove sudah merekah dan mengeluarkan pucuk-pucuk muda, masyarakat langsung menanamnya di pesisir. Jika kuncup belum terbuka, mereka meletakkannya di polybag hingga siap tanam.

Kehidupan Kainui memang lekat dengan mangrove dan pesisir. Umumnya warga Kainui tinggal di daratan, yang letaknya tak begitu jauh dari pantai. Mereka mendirikan kampung hunian sederhana. Di pesisir juga ada beberapa rumah singgah bertiang tinggi, yang dijadikan tempat beristirahat nelayan di sela-sela waktu mencari ikan dan merawat mangrove.

Budaya pesisir sendiri masih berlangsung kuat di Kampung Kainui. Secara turun-temurun masyarakat menjalankan hidup sebagai nelayan, dengan cara mencari berbagai biota laut yang berkembang biak di ekosistem mangrove. Di rimbunan bakau terlihat berbagai jenis ikan seperti bandeng, bolana (belanak), dan samandar (baronang). Ada juga bia (kerang bakau) dan kepiting bakau. Masyarakat Kainui juga sekaligus menjadi petani kebun. Mereka menanam terong, ketimun, kacang, dan cabai.

Rosia memperlihatkan mangrove yang baru seminggu dia tanam bersama kawan-kawannya. Pucuk-pucuk hijau sudah bermunculan. Tanaman muda itu berderet rapi di pesisir. Rosia menjelaskan bagaimana cara mencari, menanam, hingga merawat bahkan menyulam bibit mangrove yang mati atau hanyut terbawa arus air laut.

Di kelompoknya, Rosia adalah salah satu dari dua perempuan yang terdaftar untuk mendapat bantuan PEN mangrove. Yang lain laki-laki. Uniknya, penanaman dan pemeliharaan mangrove di Kainui tidak terbatas hanya pada mereka yang namanya terdaftar. Hampir semua penduduk ikut terlibat. Dengan demikian, meski penerima dana PEN harus berkelompok, secara nyata hampir seluruh penduduk kampung mendapatkan keuntungan. Masyarakat secara sadar memutuskan untuk berbagi kepada mereka yang terlibat, meski nama yang bersangkutan tidak tercatat.

Proses penanaman mangrove juga melibatkan unsur budaya. Pencarian dan penanaman bibit dimulai dengan upacara adat. Di dalamnya ada ritual pengucapan mantra sebagai bentuk pengharapan agar semua proses berjalan lancar.

Rosia lanjut mendayung mengajak saya ke beberapa bagian penanaman lainnya. Di beberapa bagian pesisir Kainui, Rosia menunjukkan mangrove yang sudah ditanam lebih lama. Di sini mangrove sudah bermekaran. Rosia kembali sumringah.

Dari beberapa staf BPDASHL Memberamo, saya mengetahui bahwa di beberapa lokasi di Papua ada beberapa kampung yang biasa menolak program bantuan karena ketidakpercayaan pada pemerintah bercampurnya unsur politik lainnya. Namun untuk PEN Mangrove, semua penduduk menerima dengan tangan terbuka, meski semula ada yang memerlukan pendekatan lebih lama. 

Di Kainui saya bertemu dengan seorang tokoh kampung, yang kebetulan tergabung di kelompok tertentu di Papua. Dia menyatakan apresiasinya dengan pendekatan yang digunakan dalam PEN Mangrove ini. “Ini baru betul-betul untuk masyarakat. Tidak ke mana-mana. Saya baru percaya ada pemerintah yang baik.’ Begitu kira-kira ucapannya. Kami pun bisa tergelak bersama. 

Pendekatan kekeluargaan dari staf BPDASHL Memberamo membuat sang tetua menjadi yakin. Dia dan penduduk kampung pun menerima program PEN Mangrove ini. Bahkan, dia mengerahkan seluruh penduduk untuk terlibat dalam program restorasi mangrove ini. Politik yang biasanya dinamis di beberapa tempat di Papua bisa dicairkan oleh mangrove.

Perjalanan bersama Rosia dan kawan-kawan kali ini adalah perjalanan komplet. Saya mendapat cerita, melihat mangrove yang tumbuh mekar – yang kelak menjaga pesisir kampung dan memberikan penghidupan – serta belajar kepercayaan dan cinta dari mangrove.

]]>
Sun, 18 May 2025 18:53:35 +0800 amr
Krisis Perlindungan Anak Dalam Sistem Hukum Pidana: Sebuah Renungan https://amarmedia.co.id/krisis-perlindungan-anak-dalam-sistem-hukum-pidana-sebuah-renungan https://amarmedia.co.id/krisis-perlindungan-anak-dalam-sistem-hukum-pidana-sebuah-renungan Derasnya Kasus, Krisis Integritas Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi ironi besar dalam perlindungan anak. Meskipun negara telah melahirkan berbagai regulasi progresif – mulai dari Konvensi Hak Anak (diratifikasi lewat Keppres No. 36 Tahun 1990), UU SPPA No. 11 Tahun 2012, UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014, hingga UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual No. 12 Tahun 2022 – angka kekerasan terhadap anak justru menunjukkan tren meningkat. 

Kasus-kasus yang mencuat ke permukaan, membuktikan: Pertama, Eks-Kapolres Ngada menjadi tersangka kekerasan seksual terhadap tiga anak, dengan modus mengunggah video asusila di situs daring [Tempo/Kompas, 2025]. Kedua, Kasus Tenaga Pendidik di Sebuah Pesantren yang mencabuli 13 Santriwaati [Komnas Perempuan, 2025]. Ketiga, Kasus Anak Disabilitas yang diperkosa di Jakarta Timur, sempat dikira hilang [Detik.com, 2025]. Ketiga, Kasus Seorang Polisi sebagai Terdakwa di Papua, divonis bebas oleh hakim [BBC Indonesia, 2022]. 

 Belum lagi, Kasus M. Azis Nasution di PN Pakam No. 344/Pid.B/2025 memperlihatkan ironi lain: seorang ayah dihukum karena merusak handphone milik anaknya, yang sebelumnya terpapar konten pornografi homoseksual. Alih-alih melihat konteks perlindungan anak, hakim hanya menggunakan pendekatan positivistik sempit — seperti memakai kacamata kuda — dengan fokus pada unsur tindak pidana pengrusakan barang, padahal itu merupakan bentuk kekecewaan ayahnya kepada anaknya yang terpapar konten pornografi, sehingga handphone tersebut dihancurkan guna memisahkan handphone dengan si anak. 

Hal ini tentunya, mengabaikan rasa keadilan masyarakat dan kemanfaatan hukum bagi perlindungan anak. Hakim sepatut dan selayaknya membebaskan si ayah dari anak tersebut, namun sayangnya hakim memutus pidana penjara selama 2 bulan kurungan terhadap si ayah sebagai terdakwa.  

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apa yang salah dengan sistem perlindungan hukum pidana anak kita?. 

Bagaimana mungkin aparat yang seharusnya menjadi pelindung justru berubah menjadi predator, dan hukum malah menjadi alat yang melukai keadilan substantif?.

  

Data Nasional: Lonceng Darurat 

Berdasarkan Data Perlindungan Anak KPAI 2024, tercatat 3.536 kasus kekerasan terhadap anak pada 2024. Kekerasan seksual menempati porsi terbesar, yaitu 41,2% dari keseluruhan kasus. Sementara itu, menurut Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2021, bahwa: 1 dari 17 anak mengalami kekerasan seksual; 1 dari 7 anak mengalami kekerasan emosional; dan 1 dari 10 anak mengalami kekerasan fisik. Ini bukan lagi sekadar masalah sosial — ini kegagalan sistemik dalam perlindungan hukum terhadap anak. 

  

Analisis Kebijakan Kriminal Anak dalam Krisis 

Dalam kerangka kebijakan kriminal, sebagaimana ditegaskan oleh Marc Ancel, kebijakan kriminal adalah “seni dan ilmu untuk melindungi masyarakat dari kejahatan melalui sarana yang rasional, baik penal maupun non-penal, dengan tetap berlandaskan pada penghormatan hak asasi manusia” (Ancel, Social Defense: A Modern Approach to Criminal Problems, 1965). 

Mengacu pada pemikiran ini, Indonesia secara yuridis memang telah membangun arsitektur perlindungan hukum anak melalui berbagai instrumen legislasi, seperti Konvensi Hak Anak (Keppres No. 36/1990), yang diundangkan untuk menjamin hak hidup, tumbuh kembang, dan perlindungan dari kekerasan. UU SPPA No. 11/2012, mengutamakan keadilan restoratif bagi anak sebagai pelaku, namun juga mempertegas perlindungan terhadap anak sebagai korban. UU Perlindungan Anak No. 35/2014, memperluas definisi kekerasan terhadap anak dan mempertegas sanksi pidananya. 

UU Penyandang Disabilitas No. 8/2016, menegaskan hak perlindungan khusus bagi anak penyandang disabilitas dan UU TPKS No. 12/2022, memperkuat instrumen hukum melawan kekerasan seksual. Namun, jika ditinjau dalam perspektif kebijakan kriminal menurut Ancel, implementasi sistem hukum tersebut belum sepenuhnya mengaktualisasikan prinsip perlindungan maksimal terhadap anak sebagai kelompok yang rentan. 

Anomali yang terjadi—lemahnya pengawasan terhadap aparat penegak hukum, terjadinya kejahatan oleh oknum aparat sendiri. Kasus Kapolres Ngada membuktikan bahwa bukan hanya masyarakat sipil, aparat sendiri dapat menjadi pelaku — merusak kepercayaan publik secara struktural. 

Fragmentasi koordinasi antar lembaga, Polri, Kejaksaan, LPSK, UPT PPA, masih minim. Sistem informasi perlindungan anak belum terpadu. Hingga krisis budaya hukum— menunjukkan bahwa kebijakan kriminal nasional masih dominan berorientasi formalistis, bukan substantif. Perlindungan anak seringkali dianggap sekadar formalitas, bukan panggilan moral dan konstitusional. 

Dalam kerangka kebijakan kriminal yang ideal, sebagaimana diajarkan Ancel, perlindungan anak tidak cukup diwujudkan dalam regulasi saja, tetapi harus diintegrasikan dalam sistem pengawasan efektif, seleksi ketat aparat, reformasi budaya hukum, dan penguatan koordinasi lintas sektoral. 

Perlindungan anak harus menjadi nilai luhur yang menjiwai seluruh kebijakan dan tindakan aparat negara, bukan sekadar slogan hukum belaka. 

  

Sudah Saatnya Menempatkan Anak sebagai Subyek Hukum yang Seutuhnya 

Kondisi ini menjadi alarm keras bagi Indonesia sebagai bangsa, bahwa anak-anak bukan hanya penerima perlindungan secara pasif, melainkan pemegang hak konstitusional yang harus diakui dan dihormati secara utuh dalam setiap aspek kehidupan. Sebagaimana ditegaskan dalam teori kebijakan kriminal oleh Marc Ancel, perlindungan terhadap masyarakat, termasuk anak-anak sebagai kelompok rentan, tidak cukup melalui perumusan hukum positif saja. 

Kebijakan kriminal yang efektif harus mencakup pendekatan rasional, berimbang antara sarana penal dan non-penal, dengan berlandaskan pada penghormatan mutlak terhadap Hak Asasi Manusia. Sehingga, prinsip kepentingan terbaik bagi anak (The Best Interest of the Child) tidak bisa hanya menjadi slogan normatif. Maka prinsip tersebut: Pertama, harus menjadi standar etis dalam setiap tindakan penyidikan, penuntutan, peradilan, dan perlindungan sosial. 

Kedua, harus menjadi pedoman absolut dalam pembentukan kebijakan dan pengawasan internal aparat penegak hukum. Negara, melalui seluruh instrumennya, harus menginternalisasi bahwa pelindung utama hak anak bukanlah sebatas teks undang-undang, melainkan integritas moral, profesionalisme hukum, pengawasan efektif, serta budaya penghormatan terhadap martabat anak manusia. Transformasi budaya hukum — yang berorientasi pada perlindungan anak secara holistik — merupakan langkah krusial untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan tindakan negara benar-benar berakar pada nilai keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap hak anak, sebagaimana prinsip fundamental dari kebijakan kriminal modern. 

  

Biography

Robinson Simatupang adalah seorang purnawirawan perwira menengah Polri dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Beliau memiliki pengalaman panjang di bidang penyidikan dan penegakan hukum, termasuk dalam menangani kasus-kasus sensitif yang berkaitan dengan perlindungan anak. Saat ini, beliau tengah menempuh Program Doktor Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU) dengan fokus penelitian pada reformasi sistem penyidikan pidana nasional. 

Melalui tulisan dan keterlibatannya dalam diskusi akademik, Robinson berkomitmen untuk mendorong perbaikan sistem hukum yang lebih responsif terhadap kepentingan terbaik anak (the best interest of the child) dan hak asasi manusia secara umum. (Tim)

]]>
Tue, 06 May 2025 14:12:41 +0800 amr
Kritik adalah Obat Pahit yang Memperbaiki Jiwa namun Paling Dibenci https://amarmedia.co.id/kritik-adalah-obat-pahit-yang-memperbaiki-jiwa-namun-paling-dibenci https://amarmedia.co.id/kritik-adalah-obat-pahit-yang-memperbaiki-jiwa-namun-paling-dibenci Dalam perjalanan hidup, kita lebih sering mencari hal-hal yang menyenangkan: pujian, penghargaan, validasi. Kita ingin diakui, diterima, bahkan dikagumi. Namun, jarang kita benarbenar siap menerima sesuatu yang lebih penting dari semua itu: kritik. Kritik ibarat obat pahit, tidak enak di rasa, tapi sangat dibutuhkan untuk menyembuhkan luka yang tak terlihat.

Seseorang pernah berkata bahwa kritik adalah cermin. Ia memantulkan bagian-bagian diri kita yang sering luput kita lihat. Sayangnya, tidak semua orang menyukai bayangan yang ditampilkan cermin itu. Kita lebih suka melihat versi ideal diri daripada menerima kenyataan bahwa kita punya banyak kekurangan. Padahal, dalam kekurangan itulah letak potensi perbaikan.

Socrates, filsuf Yunani kuno, menyatakan bahwa "an unexamined life is not worth living." Hidup yang tidak pernah ditinjau ulang, yang tidak pernah dikritisi, adalah hidup yang kehilangan arah. 

Kritik, dalam pandangan Socrates, bukan sekadar komentar, tapi jalan menuju kebenaran. Ia adalah upaya mendorong manusia mengenali dirinya secara jujur.

Di sisi lain, Immanuel Kant berbicara tentang keberanian berpikir sendiri. Baginya, pencerahan dimulai saat seseorang berani keluar dari “ketidakdewasaan” berpikir, yakni saat ia berhenti hanya mendengar apa yang ingin didengar, dan mulai membuka diri terhadap sudut pandang lain. Kritik memainkan peran vital dalam proses ini: ia mengguncang kenyamanan, agar lahir kesadaran.

Namun tentu saja, tidak semua kritik datang dengan niat baik. Ada kritik yang membangun, ada pula yang menjatuhkan. Maka, seperti halnya obat, kritik juga perlu dosis dan resep yang tepat. 

Tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah. Kita perlu kebijaksanaan untuk memilah mana kritik yang bernilai, dan mana yang sekadar pelampiasan.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, percaya bahwa manusia bertanggung jawab penuh atas pilihannya. Dalam konteks kritik, itu berarti: kita tidak bisa menyalahkan orang yang mengkritik, apalagi lari dari kritik. Yang bisa kita lakukan adalah menghadapi kritik itu dengan kesadaran akan tanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Di era digital seperti sekarang, kritik bisa datang dari mana saja. Media sosial membuat siapa pun bisa menjadi komentator. Masalahnya, tak semua komentar bernilai kritik. Banyak yang hanya menyindir, menyerang, bahkan membully. Di titik ini, kita perlu membedakan: kritik datang dari niat membangun, sementara cercaan datang dari niat merobohkan.

Tetapi bila kita sanggup menyaringnya, di balik nada keras atau kata-kata yang menusuk, kritik kadang membawa pesan penting. Friedrich Nietzsche berkata, “That which does not kill us makes us stronger.” Kritik yang tak membunuh harga diri kita, justru bisa menjadi pondasi kekuatan baru, asal kita tidak menolaknya secara emosional.

Saya pernah merasakan betapa pahitnya kritik. Bahkan dari orang-orang yang saya hormati. Tapi setelah waktu berjalan, saya menyadari: merekalah yang paling peduli. Mereka tidak ingin saya terjebak dalam zona nyaman yang menyesatkan. Kritik mereka adalah upaya menyadarkan saya dari kelengahan.

Terkadang, justru musuh kita yang memberi kritik paling jujur. Karena mereka tak punya kepentingan untuk menyenangkan kita. Kata George Bernard Shaw, “You have no enemies? It’s a sure sign you’ve done nothing important.” Kritik, terutama yang keras, bisa jadi pertanda bahwa apa yang kita lakukan berdampak.

Kritik juga adalah tanda bahwa kita diperhatikan. Orang tidak akan mengkritik sesuatu yang tidak penting. Maka, dalam setiap kritik, sebenarnya tersembunyi pengakuan: bahwa apa yang kita lakukan memiliki nilai, meski belum sempurna. Dan kesempurnaan memang lahir dari proses memperbaiki diri terus-menerus.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau dikritik. Pemerintahan yang kuat bukan yang alergi kritik, tapi yang menjadikan kritik sebagai sarana evaluasi. Dalam sejarah, revolusi lahir bukan karena pujian, tapi karena keberanian mengkritisi sistem yang salah. 

Maka, kritik juga adalah nafas perubahan.

Dalam dunia spiritual, kritik bahkan bisa dianggap sebagai bentuk kasih. Alkitab sebagai sumber ajaran Kristiani dengan tegas menyatakan "Teguran yang nyata lebih baik dari pada kasih yang tersembunyi." (Amsal 27:5). Di sini kritik bukan sekadar instrumen koreksi, tapi bentuk kasih. 

Tuhan sendiri berkata: "Barangsiapa Kukasihi, dia Kutegur dan Kuhajar." (Wahyu 3:19).

Kritik adalah ekspresi cinta ilahi.

Dalam Al-Qur’an, kritik disebut dengan cara halus melalui perintah saling menasihati. "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125). Ini mengajarkan bahwa kritik bukan tentang menghakimi, melainkan membimbing dengan kebijaksanaan dan cinta.

Bhagavad Gita juga menyentuh pentingnya tindakan yang benar tanpa memikirkan hasil. 

"Engkau hanya berhak atas tindakanmu, bukan atas hasilnya." (BG 2:47). Memberi kritik yang tulus adalah bentuk tindakan dharma, meskipun tidak selalu diterima. Kebenaran tetap harus disuarakan.

Ajaran Buddha secara eksplisit menyebut: "Jika engkau menemukan seorang bijak yang menunjukkan kesalahanmu dan memberimu teguran, ikutilah dia seperti seseorang mengikuti penunjuk jalan." (Dhammapada 76). Dalam pandangan Buddhisme, teguran adalah jalan menuju pencerahan. Kritik adalah cahaya dalam lorong gelap ketidaktahuan.

Bila kita ingin menjadi pribadi yang terus berkembang, belajarlah menelan kritik. Tidak semua akan manis, tapi semua bisa berguna. Dengarkan, renungkan, saring, dan ambil yang baik. Jadikan kritik sebagai cermin, sebagai cambuk, sebagai pelita dalam perjalanan.

Hari ini, ketika media sosial dijejali oleh pujian palsu, fanatisme, dan saling serang, kritik yang sehat dan logis justru makin langka. Kritik telah bergeser dari seni intelektual menjadi senjata kebencian. Maka penting bagi kita untuk mengembalikan makna luhur kritik sebagai alat pendidikan, bukan penghinaan.

Kritik adalah seni membongkar kesalahan tanpa menghancurkan martabat. Ia menampar tanpa mencaci, mempermalukan demi menyelamatkan. Kritik tidak membunuh karakter, tapi membangunkan nurani. Ia adalah energi moral yang menghidupkan kembali jiwa masyarakat yang letih oleh kepalsuan.

Setiap nabi, tokoh revolusi, dan ilmuwan besar, dari Galileo sampai Gandhi, pernah ditertawakan, dihina, bahkan dibungkam karena kritiknya. Tapi justru dari kritik itulah perubahan dimulai. Tidak ada reformasi tanpa kritik. Tidak ada revolusi tanpa keberanian mengganggu kenyamanan.

Akhirnya, mari kita sadari: kemajuan peradaban manusia dari zaman ke zaman dibangun di atas kritik, bukan pujian. Dari kritik terhadap mitos lahirlah sains. Dari kritik terhadap tirani lahirlah demokrasi. Dan dari kritik terhadap diri sendiri, lahirlah kebijaksanaan. Maka, terimalah kritik seperti menerima pahitnya jamu, karena di sanalah tersembunyi kesembuhan. Maka, mari kita terima kritik, pahit, ya. Tapi menyembuhkan.(AM)

]]>
Tue, 06 May 2025 08:38:31 +0800 amr
Religiusitas Digital : Antara Kesalehan Virtual dan Pencitraan Spiritual https://amarmedia.co.id/religiusitas-digital-antara-kesalehan-virtual-dan-pencitraan-spiritual https://amarmedia.co.id/religiusitas-digital-antara-kesalehan-virtual-dan-pencitraan-spiritual Religiusitas Digital : Antara Kesalehan Virtual dan Pencitraan Spiritual

Penulis  ; 

Sri Asmediati, S. Pd (Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Labuhan Badas)

Di era digital, segalanya menjadi konten, mulai dari makanan yang kita santap, perjalanan yang kita tempuh, hingga momen paling intim sekalipun. Tak terkecuali agama. Ibadah yang dahulu dijaga dalam ruang privat kini tampil dalam lanskap publik virtual: direkam, diedit, dibagikan, dan dikomentari. Ceramah disiarkan secara langsung, dzikir dijadikan audio latar TikTok, doa-doa personal menjadi caption harian. Fenomena ini melahirkan sebuah istilah baru yang semakin akrab di telinga kita: religiusitas digital, yakni ekspresi keagamaan yang hidup dan berkembang di ruang-ruang digital, mulai dari media sosial, aplikasi religi, hingga kanal-kanal video daring.

Apa yang dahulu menjadi pengalaman transenden antara individu dan Tuhan kini juga menjadi performa yang bisa dilihat, dinilai, bahkan dikomersialkan. Di satu sisi, ini bisa dimaknai sebagai perluasan ruang dakwah dan diseminasi nilai-nilai spiritual. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan kritis: apakah ini tanda kemajuan spiritual umat yang semakin kreatif memanfaatkan teknologi, atau justru indikasi superfisialitas baru yang mengancam esensi keimanan itu sendiri?

Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara hitam putih. Religiusitas digital adalah gejala sosial yang kompleks, melibatkan relasi antara teknologi, identitas, dan spiritualitas. Untuk memahaminya, kita perlu menelaahnya dari berbagai sudut pandang. Dari sosiologi, kita melihat bagaimana agama mengalami transformasi dalam struktur masyarakat digital yang ditandai oleh disrupsi nilai dan relasi sosial. Dari psikologi, kita menyelami motivasi individu di balik kebutuhan untuk menampilkan kesalehan secara publik, yang bisa mencerminkan pencarian jati diri atau validasi sosial. Dan dari filsafat sosial, kita diajak merefleksikan ulang makna autentisitas, eksistensi, dan relasi manusia dengan yang transenden dalam dunia yang terus terkoneksi.

Dengan demikian, religiusitas digital bukan sekadar fenomena media sosial, tetapi cerminan perubahan besar dalam cara manusia mengalami, membagikan, dan menafsirkan iman di abad ke-21.

Sisi Positif Religiusitas Digital Religiusitas digital tak selamanya dipandang negatif. Di satu sisi, ia justru membuka jalan baru bagi diseminasi ajaran agama secara luas, cepat, dan interaktif. Dalam istilah sosiologi agama, fenomena ini menandai bentuk baru dari religious public sphere, ruang publik keagamaan yang tidak lagi terbatas pada masjid, gereja, pura, atau vihara, tetapi meluas ke ruang digital yang lebih inklusif dan lintas batas.

Menurut Prof. Olivier Roy, seorang sosiolog Prancis yang banyak meneliti agama dalam konteks modernitas, media digital justru memfasilitasi terjadinya “individuasi dalam agama”, di mana seseorang bisa memilih, memilah, bahkan membentuk sendiri ekspresi keagamaannya di luar institusi formal. Hal ini memperluas akses dan mendorong keterlibatan individu, terutama dari generasi muda yang sebelumnya mungkin terasing dari dunia keagamaan konvensional.

Dari perspektif psikologi sosial, kehadiran konten keagamaan di media sosial juga memberikan reminder effect atau efek pengingat yang membantu seseorang tetap terhubung dengan nilainilai spiritual di tengah tekanan hidup modern. Aplikasi pengingat shalat, podcast kajian, atau video motivasi spiritual berfungsi sebagai bentuk micro-meditation harian yang terbukti secara psikologis dapat mengurangi stres dan meningkatkan ketenangan batin. Hal ini sesuai dengan temuan Dr. Harold Koenig, peneliti dari Duke University, yang menunjukkan bahwa praktik keagamaan yang rutin berkorelasi positif dengan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis.

Lebih jauh lagi, platform digital juga memungkinkan munculnya komunitas keagamaan virtual yang bersifat suportif dan terbuka. Orang-orang dari latar belakang berbeda bisa saling berdiskusi, belajar, dan menyemangati dalam proses spiritualnya, tanpa terhalang jarak geografis atau stigma sosial. Ini memperkuat konsep communitas digital transnasional yang dikemukakan oleh Manuel Castells, di mana agama menjadi kekuatan yang menyatukan identitas dan solidaritas global di era jaringan.

Tak dapat disangkal, religiusitas digital juga mendorong kemunculan dai dan ustaz milenial yang tampil dengan gaya kekinian. Mereka menjembatani jarak antara ajaran tradisional dan konteks kontemporer, menghadirkan narasi spiritual yang relevan dengan kehidupan modern. Para pendakwah digital seperti ini, meskipun sering dikritik karena gaya penampilannya, nyatanya berhasil menyentuh audiens yang sulit dijangkau oleh pendekatan lama.

Sisi Negatif Religiusitas Digital

Namun, tidak sedikit pula yang menyoroti sisi gelap dari fenomena religiusitas digital. Di balik kemudahan akses dan maraknya ekspresi spiritual daring, terselip bahaya komodifikasi agama, pencitraan kesalehan semu, dan hilangnya makna transendental dari pengalaman keagamaan itu sendiri.

Secara sosiologis, ekspresi religius yang dipublikasikan di media sosial sering kali bergeser dari bentuk ritus kolektif yang sakral menuju performa individual yang berorientasi pada likes, followers, dan validasi sosial. Jean Baudrillard, seorang filsuf posmodern, menyebut gejala ini sebagai bentuk simulakra, di mana simbol agama yang ditampilkan tidak lagi merepresentasikan makna spiritual sejati, melainkan hanya menjadi tampilan yang diproduksi ulang demi konsumsi publik. Shalat yang direkam, dzikir yang dilafalkan dengan latar musik, hingga doa yang dikemas sebagai konten viral bisa kehilangan ruh-nya dan berubah menjadi sekadar pertunjukan.

Salah satu faktor yang memperkuat kecenderungan ini adalah motivasi monetisasi konten religius. Banyak pembuat konten keagamaan kini menyadari bahwa video ceramah, kutipan hadist, atau konten bertema spiritual dapat mendatangkan penghasilan dari platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Iklan, endorsement, bahkan kerja sama produk berbasis religi kini menjadi ladang ekonomi yang menjanjikan. Di sinilah batas antara dakwah dan dagang menjadi kabur. Sebagaimana dikritik oleh Slavoj Žižek, ketika nilai spiritual dikemas dalam logika kapitalisme, maka agama tidak lagi membebaskan, tetapi bisa justru menjadi alat baru dari mekanisme pasar.

Dari sisi psikologi, religiusitas digital berpotensi mendorong spiritual narcissism, yakni kecenderungan menampilkan sisi paling suci dari diri demi pengakuan sosial, bukan karena dorongan batin yang otentik. Psikolog Erich Fromm dalam karyanya To Have or To Be menyebut bahwa bentuk keberagamaan yang ditampilkan secara berlebihan bisa menjadi wujud "memiliki Tuhan" alih-alih "menjadi dekat dengan Tuhan." Di sini, kesalehan tidak lagi menjadi proses internal, melainkan identitas yang dikonstruksi dan dipelihara secara eksternal.

Dalam perspektif sosiologi kritis, muncul pula gejala kapitalisasi agama. Fenomena ustaz selebritas, bisnis konten dakwah, dan algoritma media sosial yang mengejar klik tanpa mempertimbangkan kedalaman teologis, menunjukkan bahwa agama kini bisa dikomodifikasi layaknya produk pasar. Dalam pandangan Jurgen Habermas, ruang publik keagamaan semestinya menjadi tempat diskursus rasional dan pencarian makna kolektif, bukan arena bisnis atau hiburan.

Selain itu, penyebaran konten keagamaan tanpa kontrol akademik yang ketat juga meningkatkan risiko penyebaran ajaran ekstrem, dangkal, bahkan salah kaprah. Tanpa literasi digital dan keagamaan yang memadai, masyarakat bisa terjebak pada otoritas palsu, mengikuti tokoh-tokoh yang viral bukan karena keilmuannya, tetapi karena daya tarik visual atau gaya retorika yang memikat. Ini menjadi tantangan serius dalam menjaga kualitas dan otentisitas dakwah di era digital.

Refleksi Kritis dan Jalan Tengah

Fenomena religiusitas digital bukan sekadar tren teknologi, tetapi merupakan cerminan dari dinamika spiritual masyarakat kontemporer. Di satu sisi, ia membuka ruang baru bagi inklusivitas keagamaan dan perluasan dakwah. Namun di sisi lain, ia juga mengandung jebakan visualisasi dan komodifikasi spiritual yang dapat mengikis kedalaman makna.

Dalam menyikapinya, diperlukan refleksi kritis dari berbagai aktor sosial, termasuk tokoh agama, akademisi, serta pengguna media digital. Pertama-tama, penting untuk membedakan antara ekspresi iman yang otentik dan performa kesalehan yang dibentuk oleh tekanan algoritma dan ekspektasi pasar. Ekspresi iman yang sejati tidak selalu membutuhkan panggung, apalagi bayaran; ia lebih dekat dengan pengalaman batiniah yang tulus, tenang, dan seringkali tidak terlihat.

Dari perspektif sosiologi komunikasi, konsep audien terfragmentasi perlu dipahami. Masyarakat digital tidak lagi bersifat homogen. Pesan keagamaan yang disampaikan di ruang digital kini bisa ditangkap oleh berbagai lapisan, dari yang sangat religius hingga yang skeptis. Maka, pendekatan komunikatif yang inklusif, berorientasi pada dialog, dan menjauhi polarisasi menjadi sangat penting. Pesan agama tidak boleh jatuh pada sikap eksklusif yang memperkuat sekat sektarian, apalagi digunakan sebagai alat legitimasi politik identitas.

Secara psikologis, para pembuat konten religius perlu menyadari potensi fatigue spiritual di kalangan audiens. Ketika setiap bentuk kesalehan dikemas sebagai konten dan dikonsumsi terusmenerus, bisa muncul kejenuhan atau bahkan apatisme spiritual. Dalam hal ini, keseimbangan antara inspirasi dan kontemplasi, antara publikasi dan keheningan spiritual, menjadi sangat penting. Psikolog Carl Rogers pernah menekankan pentingnya kongruensi dalam kepribadian, yakni keselarasan antara dunia dalam dan luar. Hal ini sepatutnya menjadi refleksi bagi para aktor religius digital agar tidak terjebak dalam “kebisingan spiritual” yang justru menjauhkan dari kesadaran batin.

Dalam ranah etika digital, para pemuka agama dan influencer spiritual perlu mengembangkan kode etik atau digital ethics for faith-based communication. Prinsip-prinsip seperti kejujuran, keaslian, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap privasi menjadi sangat mendesak untuk dijunjung. Agama yang tampil di ruang digital seharusnya tidak kehilangan kualitas profetiknya, yakni menyerukan kebaikan dan keadilan, bukan sekadar mengejar viralitas.

Sebagai jalan tengah, penting pula untuk membangun literasi digital keagamaan di kalangan masyarakat. Literasi ini bukan hanya soal kemampuan mengakses dan mengonsumsi konten religius, tetapi juga kemampuan menilai validitas, kedalaman, dan tujuan dari konten tersebut. 

Dalam semangat ini, lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, bisa berperan aktif dengan menyisipkan kurikulum yang mengajarkan etika bermedia sosial secara religius.

Terakhir, agama di era digital mestinya tetap menjadi medan refleksi, bukan hanya ekspresi. Ruang digital bisa menjadi pelataran spiritual yang inklusif, mencerahkan, dan membebaskan, asal ia tidak dikendalikan sepenuhnya oleh logika pasar dan algoritma, tetapi oleh komitmen pada makna, nilai, dan kebenaran.

Penutup

Religiusitas digital adalah cermin. Ia bisa memantulkan wajah keberagamaan yang autentik atau justru menampilkan bayangan ilusi spiritual yang menyesatkan. Di sinilah peran kesadaran kritis menjadi penting. Bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk menjadikannya alat, bukan tujuan, dalam perjalanan iman kita (AM)

]]>
Tue, 29 Apr 2025 16:38:00 +0800 amr
KEBUDAYAAN ITU KESADARAN https://amarmedia.co.id/kebudayaan-itu-kesadaran-pikiran-mendasar-untuk-pembangunan-kebudayaan-ntb https://amarmedia.co.id/kebudayaan-itu-kesadaran-pikiran-mendasar-untuk-pembangunan-kebudayaan-ntb KEBUDAYAAN ITU KESADARAN

(Pikiran Mendasar untuk Pembangunan Kebudayaan NTB)

Oleh: Nuriadi Sayip *)

Seiring terpilihnya Dr. Lalu Muhammad Iqbal sebagai gubernur NTB, wacana, perhatian, dan geliat terhadap isu pembangunan atau pemajuan [ke]budaya[an] NTB semakin mencuat akhir-akhir ini. Hal ini dikarenakan fakta bahwa isu ini benar-benar diawali oleh Dr. Lalu Muhammad Iqbal sendiri pada saat acara Debat Cagub-Cawagub NTB yang ketiga yang diselenggarakan oleh KPU NTB tahun lalu.

Disebutkan bahwa gubernur terpilih bermaksud akan membentuk Dinas Kebudayaan NTB, yang terpisah dari Dinas Dikbud saat ini, dengan tujuan supaya lebih memperhatikan kebudayaan sebagai bagian penting dalam pembangunan di NTB sehingga, dengan itu, akan lebih terarah dan terfokus sebagai wahana untuk menjadikan NTB sebagai propinsi yang makmur dan mendunia.

 Gagasan ini juga tidaklah mengherankan karena di Pusat nomenklatur kebudayaan sudah dipisah sebagai satu kementerian tersendiri, yang sebelumnya menjadi bagian dalam Kementerian Pendidikan Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Dikti. Dengan kata lain, kebijakan ini bisa juga dikatakan sebagai derivasi atau lanjutan dari kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dengan adanya gagasan ini, Gubernur Dr. Lalu Muhammad Iqbal tampaknya sudah memahami bahwa kebudayaan menjadi bagian penting dalam pembangunan manusia NTB. Beliau tampaknya tidak memandang kebudayaan tidak hanya sekadar sebagai superstruktur pembangunan, yang hanya berfungsi sebagai penguat atau pendukung pembangunan ekonomi.

 namun beliau memandangnya lebih esensial daripada itu, yakni sebagai bagian dari infrastruktur pembangunan yang mana budaya atau kebudayaan tidak sekadar mewujud dalam bentuk kesenian, tradisi, adat istiadat, dan pakaian adat yang ditunjukkan secara seremonial saja; akan tetapi, budaya atau kebudayaan sebagai sebuah visi bersama, semangat hidup, pandangan hidup, cara kerja, dan ladang ekonomi dalam proses pembangunan. Pandangan ini sesungguhnya bisa diperoleh dikarenakan pengalaman dan referensi pengetahuan yang luas.

Berbicara budaya atau kebudayaan sebenarnya berbicara tentang kehidupan dan diri pribadi manusia. Budaya identik dengan manusia, pemiliknya. Budaya hadir karena manusia. Dengan demikian, segala aspek hidup manusia itu adalah budaya dan/atau kebudayaan itu sendiri.

Adalah karena budaya, manusia dikatakan sebagai makhluk yang beradab dan bermartabat. Adalah karena budaya manusia bisa hidup survival melampaui segala tantangan alam dan keduniaan. Adalah karena budaya manusia bisa mengenal Tuhannya yang terekspresikan melalui pembacaannya terhadap dunia alam semesta. Serta adalah karena budaya pula manusia mampu menjadikan dirinya beridentitas khas di tengah komunitas dunia.

Clyde Kluckhon (1965) menyebut ada tujuh unsur yang menyangkut aspek kehidupan manusia yang krusial. Sejalan dengan Kluckhon, Edward Taylor (1817) pun sebelumnya menyebut budaya atau kebudayaan itu ke dalam istilah "complex whole" (keseluruhan yang kompleks). Lalu Hedy Shri Ahimsa, antropolog UGM, membagi segala aspek kultural manusia ini ke dalam tiga wujud kebudayaan yaitu yang bersifat ideasional, behavioral, dan fisikal. Bahkan, UU No. 5 tahun 2017, regulasi pertama yang menjadi derivasi dari Pasal 32 UUD 1945, menyebutkan pentingnya pemajuan kebudayaan dengan difokuskan pada 11 Obyek Pemajuan Kebudayaan.

Kesemuanya ini secara lugas mengakui bahwa budaya atau kebudayaan itu sejatinya mengacu pada keseluruhan aspek kehidupan manusia yang, menurut Hirsch (1991) berbentuk material dan nonmaterial serta hadirnya pun bersifat fungsional. 

Dikarenakan budaya itu mencakup segala aspek kehidupan manusia, maka budaya pun bersifat kompleks dan pendekatannya pun harus holistik tidak bisa monolitik. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sebuah ekspresi atau peristiwa budaya pada satu tempat atau momen tertentu muncul dan berkembang tidak bisa dari 'ruang kosong' namun ia hadir sebagai respon atau akibat dari faktor sebelumnya serta didorong oleh kebutuhan tertentu pula. Dengan demikian, budaya harus dipahami dalam bingkai interdisipliner dengan model pemahaman yang menyeluruh. 

Meskipun demikian, budaya itu muncul atas dasar kesadaran manusia baik yang berbentuk kesadaran akal (awareness) maupun kesadaran naluriah (consciousness). Kedua bentuk kesadaran ini berkelindan dalam bekerja membentuk konstruksi pikiran dan alam mental setiap manusia.

Terkait dengan ini, eksistensi budaya itu tidaklah bisa serta merta mewujud sebagai sebuah kebiasaan, tradisi, adat istiadat, cara pandang, dan langgam khas kehidupan manusia. Ia muncul, sekali lagi, bersesuaian dengan kondisi ekologis, kebutuhan, dan tantangan hidup pada zamannya. Dan kemunculannya ini murni didorong oleh kesadaran penuh diri manusia. Maka itu, budaya atau kebudayaan itu adalah kesadaran itu sendiri, di mana setiap peristiwa budaya, ekspresi budaya, dan karya produk budaya dihadirkan dengan aspek etis, estetis, dan mistis atau religius manusia. Karena itulah, budaya selalu bernilai dan dipandang hadir membawa nilai fungsional dan etis filosofis.

Sehubungan dengan budaya sebagai kesadaran, T.S. Eliot (1948) mengatakan: "By culture, then, I mean first of all what anthropologists mean: the way of life of particular people living together in one place". Di sini T.S. Eliot memandang dan mengafirmasi bahwa sebagai sebuah kesadaran budaya atau kebudayaan itu berperan sebagai "cara hidup" (way of life) manusia.

Budaya menjadi pandangan, perilaku, dan praktik kehidupan itu sendiri. Maka dengan ini, tidaklah mengherankan apabila Peacock (1975) dan Mukerji (1991) pun memandang kebudayaan itu sebagai kesadaran yang mewujud hampir dalam segala hal. Secara khusus Peacock berkata: "Culture is almost everything. It is emotions and works of arts; it is behavior, beliefs, and institutions; it includes what people know, feel, think, make, and do". Bahwa budaya, dalam bingkai kesadaran itu, menyangkut perilaku, keyakinan, dan institusi serta yang meliputi apa yang diketahui, dirasa, dipikir, dibuat, dan dilakukannya. 

Dalam konteks pemikiran di atas, kebudayaan seyogyanya dipandang secara utuh laksana metafora sebuah pohon. Diketahui bahwa pada sebuah pohon ada akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Keberadaan semua bagian inilah yang menyebabkan ia dikatakan pohon. Sehubungan dengan hal ini, kebudayaan pun hendaknya dipandang kurang lebih demikian di dalam menjadikannya sebagai alat serta obyek pembangunan sehingga bisa memberi hasil yang baik.

Kemampuan memandang secara utuh seperti ini yang penulis maksud sebagai kebudayaan itu sebuah kesadaran. Bahwa orang yang sadar yang mampu memandang sebuah obyek secara menyeluruh. Dengan demikian, kebudayaan yang di-metafora-kan sebagai sebuah pohon ini, memposisikan bahwa kebudayaan mempunyai akar, batang, cabang, ranting-daun, bunga-buah.

Kesemuanya itu kemudian mempunyai peran yang penting dan tak terpisahkan satu dengan yang lain. Dalam konteks kebudayaan, akar kebudayaan adalah keyakinan, ideologi, dan filosofi hidup. Lalu batang kebudayaan adalah aturan, etos, serta norma adat. Sementara itu cabang kebudayaan adalah segala bentuk perilaku, kebiasaan, tradisi, adat istiadat.

Kemudian daun-ranting kebudayaan adalah segala bentuk ekspresi budaya berupa kesenian, peristiwa atau event kebudayaan, dan produk atau karya budaya termasuk folklor, tenun, dan kuliner. Serta, yang menjadi bunga-buah kebudayaan adalah peran, fungsi dan kemanfaatannya secara fungsional, sosial, dan ekonomis di masyarakat. Khusus dalam konteks bunga-buah kebudayaan ini, hendaknya dibarengi juga formula strategi kebudayaan yang jitu sehingga kebudayaan bisa lebih memberi nilai tambah dalam pembangunan sehingga nantinya kebudayaan berperan setara mewujudkan NTB yang makmur mendunia. 

Pembangunan kebudayaan secara utuh itu menjadi niscaya bagi NTB dewasa ini. Dan hal ini hendaknya diawali dengan kesadaran yang utuh, bukan parsial atau sekedar formalistik saja. Pembangunan yang meliputi keselutuhan bagian kebudayaan yang penulis paparkan di atas. Pembangunan yang mementingkan dan memperhatikan semua bagian.

Ketika ingin menjadikan sebuah obyek budaya, maka pemangku kebijakan hendaknya memperhatikan tidak hanya hasil manfaatnya saja, tetapi juga akar, cabang, batang dan rantingnya pula. Dengan cara ini, maka hasil manfaatnya tidak hanya dirasakan secara makro saja, berupa misalnya yang memiliki indeks popularitas dan perhatian masyarakat luar, tetapi juga pemilikm budaya atau masyarakat lokal juga mendapat manfaatnya untuk secara otomatis, dengan penuh kesadaran, menghidupi dan mengembangkannya sebagai nafas, darah, daging kehidupan mereka.

Sehubungan dengan hal ini, menurut pandangan penulis, orang yang mampu menjadi pemangku kebijakan dan penyelenggara program pemerintah di dalam memajukan kebudayaan itu adalah mereka yang dianggap ÿang sudah tersadarkan atau yang tercerahkan” (the Enlightened), yakni konkritnya orang yang sejak mula mempunyai visi dan perhatian yang kuat dan konsisten terhadapa kebudayaan NTB, selain juga mempunyai kompetensi dan kualifikasi untuk melakukan perubahan dan pembangunan kebudayaan di NTB.

Dengan kata lain, pemangku kebijakan kebudayaan bukanlah orang yang sekadar memenuhi kualifikasi administratif dan ketokohan semata. Untuk ini, pemerintah propinsi perlu menyelenggarakan “Bimtek pembangunan kebudayaan NTB” bagi calon-calon pemangku kebijakan. Hal ini penting demi mendukung program pemerintahan Gubernur Dr. Lalu Muhammad Iqbal yang bervisi kebudayaan selain yang sudah terformulasikan dalam tagline “NTB Makmur Mendunia”.

Pembangunan kebudayaan yang dilandaskan pada kesadaran ini dapatlah kemudian menghindarkan eksistensi kebudayaan sebagai nomenklatur yang sifatnya segmental dan sektoral seperti sejumlah pemerhati budaya khawatirkan. Tetapi, pembangunan kebudayaan yang mampu mensinergikan setiap sektor pembangunan di NTB sebagai sebuah gerakan yang utuh, yang simultan, dan yang kontinu di dalam mensejahterakan masyarakat NTB.

Selain itu, sesungguhnya pembangunan kebudayaan adalah pembangunan manusia yang meliputi semua aspek kehidupan. Di sisi inilah, urgensi atas hadirnya dinas kebudayaan menjadi sangat krusial. Dengan cara ini pulalah, pemerintahan Gubernur Dr. Lalu Muhammad Iqbal akan berperan yang dicatat sejarah di dalam membuat fondasi dan arsitektur kebudayaan NTB sebagai ikon serta identitas daerah yang membanggakan. (AM)

Mataram, 21 Maret 2025

*) Penulis adalah Guru Besar Sastra dan Budaya FKIP Universitas Mataram

]]>
Sat, 22 Mar 2025 09:52:39 +0800 Maruf
Bom Waktu Puasa & Lebaran, Soft Landing Republik https://amarmedia.co.id/bom-waktu-puasa-lebaran-soft-landing-republik https://amarmedia.co.id/bom-waktu-puasa-lebaran-soft-landing-republik Bom Waktu Puasa & Lebaran, Soft Landing Republik

Oleh Dr.Syahrul Salam

Dalam hitungan hari, bulan puasa akan menyapa republik dan warga dunia. Judulnya puasa, tapi taulah konsumsi republik meningkat, potensi inflasi tergerek naik, smua orang merasa butuh sembako dan fashion plus travelling dalam lipatan angka.

Catatan pertama, mementain daya beli adalah kawalan pertama. Perlu energi ekstra untuk menghantar penduduk republik punya daya tahan. Tantangannya adalah psikologi isu dan realisasi kebijakan pengetatan anggaran, telah menjadi gelombang, dan mulai menghantam sektor riil.

Spending pemerintah yang ditahan dalam wujud pemotongan anggaran akan dianggap badai yang menghantui Aceh hingga Papua. Teriakan para anggota dewan di kabupaten hingga Senayan sebagai representasi anak anak republik, mulai memonopoli opini publik. 

Catatan kedua, sebagai rentetan situasi republik, perlu exit strategy yang soft landing, langkah kongkrit dan menyelamatkan wajah pemerintah terpilih. Satu diantaranya adalah menunda secara berjenjang pemotongan anggaran, terlebih memasuki momentum bulan puasa dan lebaran. Keberpihakan terhadap siswa dalam wujud makan siang gratis tidak harus mengorbankan sumber - sumber pendapatan orang tua.

Catatan ketiga, perlu diantisipasi gelombang isu negatif pemotongan anggaran sebagai jurang penciptaan pengangguran skala masif. Eskalasi isu dan potensi gerakan protes bisa berujung kepada kerusuhan. Kerusahan karena lapar jauh lebih dahsyat ketimbang bom Hirosima dan Nagasaki.

]]>
Wed, 12 Feb 2025 09:37:05 +0800 amr
Politik "Santun" Pemotongan Anggaran Prabowo https://amarmedia.co.id/politik-santun-pemotongan-anggaran-prabowo https://amarmedia.co.id/politik-santun-pemotongan-anggaran-prabowo Politik "Santun" Pemotongan Anggaran Prabowo

Dahsyatttt. Super dahsyat. Ini situasi republik. Ada isu besar; pemotongan anggaran dan core tax policy.

Saat republik terkena situasi Corona, masih ada cahaya, enggak sampe anggaran dipotong 50 hingga 90 persen. Hari ini, Republik "ngegas", setidaknya tujuh item jenis belanjaan negara harus dipotong.

Agak lama melamun, ada apa ini? Apa betul negara krisis? Apa beban terbesar presiden prabowo hari ini?

Hari ini, industri konstruksi sedang bersiap tiarap, tukang, penyedia pasir, penyedia batu, industri besi baja, toko bangunan.

Industri pariwisata, apalagi. Seorang GM hotel di Bandung mulai bercerita, " kita sedang siapkan rencana PHK dan merumahkan karyawan" katanya lirih. Apalagi ini memasuki puasa, sempurna.

Belum selesai melamun, kawan ku berbisik, "bung, Pak Prabowo ini sopan, gak tegak aja ngomong, pemotongan anggaran sekrang untuk menutupi utang republik yang slama 10 tahun terakhir menggunung, setinggi Rinjani"

Oh walah, republik. Gumam ku. Belum selsai tentang pemotongan anggaran, dunia usaha, UKM tak kalah "kembung". Proyek 4 trilyun pemerintah di perpajakan dalam baju "core tax", menghajar smua. Ngeri-ngeri sedap. Interpretasi core tax dan penggunaan aplikasi, serasa mengkerangkeng nafas panjang untuk bangkit. 

Langit Jakarta masih berkabut, serasa mengirim tanda, republik sedang berjuang dan bangkit. Semoga ada asa dan cerah kembali.

Sumber ; FB Syahrul Salam 

]]>
Wed, 12 Feb 2025 09:13:38 +0800 amr
Sikap DPRD terhadap Perubahan Iklim dan Ketersediaan Air Bersih di Kabupaten Sumbawa https://amarmedia.co.id/sikap-dprd-terhadap-perubahan-iklim-dan-ketersediaan-air-bersih-di-kabupaten-sumbawa https://amarmedia.co.id/sikap-dprd-terhadap-perubahan-iklim-dan-ketersediaan-air-bersih-di-kabupaten-sumbawa Sikap DPRD terhadap Perubahan Iklim dan Ketersediaan Air Bersih di Kabupaten Sumbawa

Oleh : Suhaila

(Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Pendahuluan

Perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang semakin serius, dan Kabupaten Sumbawa sebagai Daerah kepulauan dengan keberagaman iklimnya, sangat merasakan dampaknya. Salah satu dampak paling nyata adalah perubahan pola curah hujan yang ekstrem,  yang berakibat pada fluktuasi ketersediaan air yang signifikan.

Beberapa dampak yang terjadi seperti peningkatan frekuensi dan intensitas kekeringan.  perubahan pola curah hujan yang tidak menentu menyebabkan periode kemarau yang lebih  panjang dan intens. Hal ini mengakibatkan berkurangnya ketersediaan air permukaan dan air tanah, serta mengancam sektor pertanian, perikanan, dan kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, perubahan iklim juga menyebabkan peningkatan frekuensi dan intensitas curah hujan ekstrem yang memicu terjadinya banjir. Banjir dapat merusak infrastruktur, lahan pertanian,dan permukiman, serta mencemari sumber air.

Perubahan suhu dan pola curah hujan dapat mempengaruhi kualitas air. Peningkatan suhu air dapat mengurangi kadar oksigen terlarut, sementara banjir dapat membawa polutan ke dalam sumber air. Perubahan Iklim juga memiliki dampak sosial dan ekonomi. Kekurangan air bersih dapat menyebabkan masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah yang rentan.

Pada sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan industri sangat bergantung pada ketersediaan air. Perubahan pola curah hujan dan kualitas air dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan kerugian ekonomi yang signifikan.

Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, diperlukan upaya adaptasi dan mitigasi yang komprehensif. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain : a) melakukan pengelolaan sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan, termasuk pembangunan infrastruktur air, konservasi air, dan efisiensi penggunaan air. b) memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menghemat air dan menjaga kualitas air.c) mengembangkan teknologi baru untuk pengelolaan air, seperti teknologi desalinasi air laut dan sistem irigasi yang efisien berbasis Bendungan.

Terhadap Kondisi Bendungan di Kabupaten Sumbawa

Menurut Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Nanang Nasiruddin SAP M.M.Inov, pembangunan bendungan di Kabupaten Sumbawa, seperti Bendungan Beringin Sila, Bendungan Batu Bulan, Bendungan Mamak merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Namun, seperti proyek infrastruktur besar lainnya, bendungan ini juga menghadapi sejumlah tantangan dan permasalahan.

Dikatakannya bahwa terkait kondisi bendungan di Kabupaten Sumbawa yang tersebar di Media Sosial ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian diantaranya sebagai berikut  : a. Permasalahan Teknis: Beberapa laporan menyebutkan adanya dugaan kerusakan konstruksi yang menyebabkan penyusutan air tampungan. Hal ini tentu menjadi perhatian serius karena dapat menghambat fungsi utama bendungan sebagai penyedia air untuk irigasi dan kebutuhan lainnya.

b. Pemeliharaan dan Perawatan: Pemeliharaan dan perawatan bendungan merupakan aspek krusial yang seringkali terabaikan. Kurangnya anggaran atau sumber daya manusia yang kompeten dapat mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur bendungan dan mengurangi umur pakainya.

c.Sedimentasi : Proses sedimentasi merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihindari.

Akumulasi sedimen di dasar bendungan dapat mengurangi kapasitas tampung air dan memengaruhi efisiensi irigasi.

d.Pengelolaan Air : Distribusi air dari bendungan ke area pertanian perlu dilakukan secara adil dan efisien. Sistem irigasi yang tidak optimal dapat menyebabkan konflik di antara pengguna air

e.Partisipasi Masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan bendungan sangat penting.

Masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian bendungan dan diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengawasan dan perawatan.Memperhatikan kondisi bendungan di Kabupaten Sumbawa perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh stakeholder terkait. Beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain:

1. Evaluasi menyeluruh. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi semua bendungan di Kabupaten Sumbawa untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada dan mencari solusi yang tepat.

2. Peningkatan kualitas konstruksi.Memastikan bahwa pembangunan bendungan dilakukan dengan kualitas yang tinggi sesuai dengan standar yang berlaku.

3. Perawatan rutin. Melakukan perawatan rutin secara berkala untuk menjaga kondisi bendunganbtetap baik.

4. Pengembangan sistem irigasi. Membenahi dan mengembangkan sistem irigasi agar distribusi air dapat dilakukan secara adil dan efisien.

5. Peningkatan kapasitas masyarakat. Melalui program pelatihan dan penyuluhan, masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian bendungan.

Upayamenjaga ekosistem Hutan di hulu bendungan juga butuh partisipasi masyarakat. Intervensi pemerintah dalam menyiapkan bibit pohon dan bersama sama masyarakatenanam dan menjaga dapat mengembaikan vegetasi hutan atau tutupan di hulu bendungan.

DPRD Kabupaten Sumbawa memberikan beberapa saran dan rekomendasi agar keberadaan bendungan di kabupaten Sumbawa dapat optimal dan semakin besar manfaatnya diantaranya adalah : 

a. Peningkatan koordinasi ; Perlu adanya koordinasi yang lebih baik antara pemerintah pusat,pemerintah daerah, dan masyarakat dalam pengelolaan bendungan.

b.Pemanfaatan teknologi: Penerapan teknologi modern dalam pengelolaan bendungan dapatmeningkatkan efisiensi dan efektivitas. 

c.Penelitian lebih lanjut: Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kondisi geologi dan hidrologi di sekitar bendungan untuk mengantisipasi potensi bencana alam. 

Pandangan dan Langkah yang Dilakukan DPRD Kabupaten Sumbawa terhadap Ketersediaan Air Bersih

Komisi III DPRD Kabupaten Sumbawa melaksanakan kunjungan kerja ke Kantor Balai Besar Wilayah Sungai NT I di Mataram Kamis 24 Oktober 2024 terkait dengan masalah air bersih di Sumbawa khususnya usulan pembangunan jaringan pipanisasi Brang Bosang Kecamatan Batu Lanteh. 

Dalam agenda tersebut Rombongan dipimpin oleh Ketua Komisi III Syaifullah,S.Pd.,M.M.Inov, hadir Wakil Ketua Sri Wahyuni, S.AP dan Sekretaris Hasanuddin, S.E bersama  anggota komisi III yaitu Alen Taryadi, S.H, Gahtan Hanu Cakita, Andi Rusni, S.E.,M.M, H. Rusdi,M. Taufik dan Saipul Arif. Turut mendampinginya Kabag Risalah dan Persidangan Lukmanuddin S.Sos, Kasubag Program Alwi SP.M.Si dan jajaran serta perwakilan Pemda dinas PUPR.

Rombongan diterima oleh Kepala BBWS NT I Dr. Eka Nugraha Abdi, ST., M.P.P.M., bersama jajaran.

Ketua Komisi III DPRD Syaifullah SPd M.M.Inov menjelaskan bahwa hasil pengamatan,fasiltasi aspirasi masyarakat dan kunjungan lapangan komisi III bahwa, permasalahan utama terkait air bersih di Sumbawa adalah Kerusakan Infrastruktur.20 dari 150 intake pada jaringan air  bersih tidak berfungsi, sehingga mengganggu pelayanan air bersih di dalam kota Sumbawa. 

Demikian pula ada ketidakmerataan distribusi. Seperti di Desa Kelungkung, yang merupakan daerah sumber air, justru mengalami kekurangan air bersih. Ini menunjukkan adanya  ketimpangan dalam distribusi air bersih. 

Atas permasalahan ini diakui oleh anggota Komisi III DPRD Andi Rusni SE MM bahwa terkesan BBWS NT I lambat merespon terhadap usulan -sulan dari masyaraka terkait pengembangan sumber air alternatif belum ditindaklanjuti secara cepat. Dirinya secara langsung pribadi berulang kali mengusulkan di dalam musrembang, namun responnya terkesan lambat. 

Atas hal tersebut kepala BBWS NT I yang baru dilantik memberikan menjelasakan berkaitan dengan tidak terlayaninya masyarakat Desa Kelungkung untuk kebutuhan Air bersih,  padahal Desa Kelungkung merupakan daerah sumber air bersih pihak BWS berencana akan turun.Survei terhadap Potensi Brang Bosang sebagai sumber Air Bersih alternatif yang cukup besar buat penambahan air bersih untuk kota Sumbawa Besar. Sehubungan dengan perbaikan intake pada jaringan air bersih maka terkadang terlewatkan dalam penganggaran di Bappeda.

Maka pengawalan anggaran di DPRD harus dilakukan sehingga link mach atau nyambung bagian  perencanaan di PUPR dan Bappeda dengan bagian penganggaran di BKAD. 

Didalam pertemuan tersebut juga berlangsung diskusi yang mengharapkan segera dilakukan perbaikan terhadap 20 intake yang tidak berfungsi untuk memastikan kelancaran distribusi air bersih. Demikian pula dengan pemeliharaan berkala. Anggota Komisi III meminta dilakukan pemeliharaan secara rutin terhadap seluruh jaringan pipa untuk mencegah kerusakan lebih lanjut termasuk usulan penggantian pipa tua. 

Anggota DPRD Sumbawa lainnya Edy Syarifuddin juga mendesak Pemda memprioritaskan Air Bersih. Dirinya meminta pemerataan pembangunan infrastruktur di desa - desa karena itu adalah hak warga masyarakat untuk kesejahteraan tau dan tana samawa Sabalong Samalewa. Maka kebutuhan utama yang wajib dipenuhi oleh pemerintah daerah adalah tersedianya air bersih. Lebih lanjut dirinya menjelaskan, dengan terpenuhinya dua hal pokok ini maka masyarakat dapat meraih kesejahteraannya secara mandiri. Oleh karenanya anggaran untuk hal ini semestinya benar - benar diperhatikan dan diperjuangkan oleh Pemerintah Daerah ke Pemerintah Provinsi maupun pemerintah pusat. Air bersih sangat penting untuk menjaga kesehatan  masyarakat. Air bersih digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti minum, memasak, dan  mandi. Kurangnya akses air bersih dapat menyebabkan berbagai penyakit, terutama penyakit menular melalui air. Demikian pula kebutuhan air untuk pertanian dan peternakan perlu disediakan.

Kesimpulan

Menghadapi Perubahan iklim telah memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Sumbawa. DPRD Kabupaten Sumbawa telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengatasi permasalahan ini melalui berbagai upaya, seperti melakukan pengawasan terhadap pengelolaan bendungan dan mendorong peningkatan akses masyarakat terhadap air bersih. Dengan demikian, Kabupaten Sumbawa dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan berkeadilan. (Vina)

]]>
Fri, 17 Jan 2025 12:58:08 +0800 amr
Kenaikan dan Kelangkaan Gas 3 Kg di Sumbawa: Antara Kuota Terbatas dan Pengawasan Lemah https://amarmedia.co.id/kenaikan-dan-kelangkaan-gas-3-kg-di-sumbawa-antara-kuota-terbatas-dan-pengawasan-lemah https://amarmedia.co.id/kenaikan-dan-kelangkaan-gas-3-kg-di-sumbawa-antara-kuota-terbatas-dan-pengawasan-lemah Kenaikan dan Kelangkaan Gas 3 Kg di Sumbawa: Antara Kuota Terbatas dan Pengawasan Lemah

 

Oleh:Vina oktadentari 

(Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Sumbawa. Amarmedia.co.id - Keberadaan Gas LPG 3 kg Bersubsi dipandang sebagai kebutuhan pokok masyarakat dalam pemenuhan pangan. Namun keberadaannya sekali waktu langka dan harganya melampaui HET yang ditetapkan Pemerintah. Menyikapi permasalahan tersebut Komisi II DPRD memanggil para pihak terkait Harga Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 Kg Selasa 7 Januari 2025 lalu.

Rapat tersebut dipimpin oleh Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sumbawa H. M Berlian Rayes, S.Ag., M.M.Inov didampingi oleh Zohran,SH selaku sekretaris Komisi bersama anggota H.Andi Mappelepui, Muhammad Zain,S.IP, Ridwan,SP.,M.Si, Ida Rahayu,S.AP, Juliansyah,SE, Kaharudin Z, Ahmad Nawawi. Turut hadir pula Saipul Arif Anggota Komisi III Bertempat di ruang rapat pimpinan DPRD Kabupaten Sumbawa. 

Dikatakan Zohran, terkait harga Eceran tidak ada perubahan harga dengan masing - masing ada tingkatan yang harga resminya hanya berlaku hingga ke Pangkalan terakhir. Yang menjadi persoalan diberikan kewenangan untuk membentuk sub penyalur (pengecer), Karena dalam kondisi tertentu ada wilayah yang geografisnya sulit sementara belum ada pangkalan. Sehingga dengan ketentuan presentase 10 persen dari jatah pangkalan menjual ke sub penyalur atau lengecer. "Inilah yang menjadi permasalahan harga bisa melampaui HET juga karena pengawasan terhadap hal ini terbatas" ungkap Orek akrab disapa.

Meskipun demikian Kabag PSDA Khairuddin SE mengakui bahwa harga gas Elpiji di lapangan dipengaruhi juga oleh bisnis dan harga pasar dan untuk Kuota yang tersedia ketercukupannya masih "abu-abu" karena berdasarkan data yang berhak menerima subsidi dibatasi dengan ketentuan tertentu seperti bagi rakyat miskin, walaupun di dalam regulasinya tidak ada disebutkan miskin, ada juga untuk UMKM. Pemda menterjemahkan bagian dari data orang miskin di Sumbawa adalah 12,80% tahun 2024 dengan jumlah 63.000 orang atau 13.000 KK. Jika Satu KK standarisasi pemakaian gas per bulan rata-rata dua tabung maka kuota sudah melampaui jumlah orang miskin. Akan tetapi ada juga kelompok data UMKM yang jauh lebih banyak lagi sekitar 8000 UMKM dan ada juga Pertanian dan Nelayan yang memakai Gas melon. "Kami melakukan komunikasi dengan distributor dan agen melalui WhatsApp Group agar distribusi berjalan baik dan apabila terjadi permasalahan segera di selesaikan"tutupnya.

Sekretaris Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Ir Zulkifli menjelaskan bahwa pengawasan LPG ini sering dilakukan secara rutin dan berkala di SPBE dan Pangkalan. " Untuk pengawasan di SPBE, Elpiji yang masuk ke tabung itu harus betul-betul 3 kilo gram, ini yang harus dipastikan. Itulah salah satu tugas dari kami bersama teman-teman meteorologi melakukan pengujian secara periodik dengan menggunakan sampel. Meskipun anggaran terbatas dan terseok-seok, biasanya setiap sekali turun kita menguji itu ada 80 tabung yang kita ambil untuk mengecek beratnya. Jika sesuai baru direkomendasikan. Demikian pula di Pangkalan kami mengawasi agar HET diterapkan dan penjualan memprioritaskan masyarakat yang ada di wilayahnya" jelas Zul akrab disapa.

Terhadap pengawasan, Perwakilan Satpol-PP M Sukarman menambahkan bahwa Pol-PP berfungsi untuk membackup OPD teknis."Kami siap membackup OPD teknis bila diminta" jelasnya.

Ketua Hiswana Migas kabupaten Sumbawa Fahri Bahanan menjelaskan pernah terjadi kelangkaan gas dan solusinya mendapat tambahan kuota fakultatif. Saat ini HET ditetapkan oleh Gubernur NTB. Sementara ada dua pulau dengan geografis yang berbeda. Dirinya menyarankan agar HET bisa ditetapkan oleh Bupati sehingga dapat menyesuaikan dengan kondisi masyarakat dan geografis Sumbawa. "Harga dipengaruhi oleh jangkauan mata rantai ini. HET kedepannya diharapkan ditentukan oleh Bupati" imbuhnya. 

Kemudian lanjutnya,saat ini penggunaan elpiji sudah hampir merata oleh masyarakat Sumbawa dan pembelian nya menggunakan KTP. Pada awalnya secara manual dan sekarang sudah berbasis online. Ketersediaan terbatas bisa juga disebabkan penggunaan diluar kebutuhan rumah tangga dan Usaha Mikro seperti al pertanian dan perikanan. Sementara di Sumbawa belum terkonfirmasi kebutuhan untuk petani dan nelayan. Hiswana Migas Sumbawa sudah konfirmasi hal ini, seharusnya ini di konversikan sehingga bertambah kuotanya untuk Sumbawa.

Rekomendasi yang patut diperhatikan sebagai berikut :

Pertama ; Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa meminta kepada para pihak untuk melakukan penguatan sistem pengawasan melalui inspeksi rutin terhadap SPBE (Stasiun Pengisian Bulk Elpiji) dan pangkalan LPG untuk memastikan kualitas, kuantitas dan Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG yang didistribusikan.

Kedua ; Meminta kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan perbaikan sistem pendataan dengan pendataan ulang terhadap rumah tangga miskin, Usaha Mikro, Petani dan Nelayan. Termasuk konversi penggunaan dalam kegiatan pertanian dan menjadikan data itu sebagai acuan penentuan kuota. 

Ketiga : Meminta kepada distributor/agen untuk mengoptimalkan pendistribusian ke pangkalan secara merata dan berkala berdasarkan pembagian agen kepada pangkalan.

Keempat; Ketentuan/regulasi mengenai peluang penjualan sebesar 10% dari kuota pangkalan ke Sub-Pangkalan/Pengecer ditinjau kembali karena itu sebagai pemicu kenaikan harga. (Vina)

]]>
Thu, 16 Jan 2025 12:23:03 +0800 amr
Memahami Peringatan Dini Cuaca yang Lebih Dalam Demi Keselamatan https://amarmedia.co.id/memahami-peringatan-dini-cuaca-yang-lebih-dalam-demi-keselamatan https://amarmedia.co.id/memahami-peringatan-dini-cuaca-yang-lebih-dalam-demi-keselamatan Memahami Peringatan Dini Cuaca yang Lebih Dalam Demi Keselamatan 

Oleh  ; Suhaila 

(Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Pendahuluan

Peringatan dini cuaca yang kita terima merupakan alat yang sangat penting untuk membantu kita bersiap menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Dalam kasus ini, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya untuk beberapa kabupaten dan kota.

Dalam berita yang dimuat media online www.pulausumbawanews.net edisi Dec 27, 2024 dengan judul BMKG : Dua Bibit Siklon Tropis Terpantau di Samudera Hindia, Waspada Gelombang Tinggi dapat memberikan informasi tentang cara memahami prediksi cuaca.

Pendalaman Peringatan Dini Cuaca

Berdasarkan prediksi, Bibit Siklon Tropis 98S ini memiliki potensi sedang untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-72 jam ke depan dan diperkirakan bergerak ke arah tenggara.

Meski demikian, BMKG memastikan bahwa Bibit Siklon Tropis 98S ini tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap cuaca dan gelombang di wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan.

Sementara, Bibit Siklon Tropis 99S berada di Samudera Hindia selatan Lampung, bibit siklon tropis 99S memiliki kecepatan angin maksimum 15 knot atau sekitar 28 km/jam. Potensi perkembangan bibit ini menjadi siklon tropis tergolong rendah dalam 24-72 jam ke depan, dengan pergerakan perlahan ke arah barat.

BMKG memprediksi Bibit Siklon Tropis 99S dapat memicu gelombang laut tinggi di beberapa wilayah, yakni 1,25-2,5 meter yakni di perairan barat Kepulauan Mentawai, Bengkulu, Lampung, dan Selat Sunda bagian barat. Kemudian, 2,5-4 meter yakni Samudera Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung. BMKG mengimbau masyarakat, terutama nelayan dan pengguna transportasi laut. Ini untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi di wilayah-wilayah yang disebutkan. 

Lebih lanjut BMKG memprediksi dan memberikan Update Peringatan Dini Cuaca Wilayah Nusa Tenggara Barat tanggal 27 Desember 2024 pukul 15:20 WITA berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada pukul 15:30 WITA di beberapa Kabupaten diantara Kabupaten Lombok Barat: Sekotong, Lembar, Kabupaten Lombok Tengah: Pujut, Praya Barat, Praya Barat Daya

Kabupaten Sumbawa: Alas, Utan, Moyo Hilir, Moyo Hulu, Lape, Plampang, Empang, Alas Barat, Labuhan Badas, Buer, Rhee, Unter Iwes, Moyo Utara, Maronge, Tarano, Lopok,

Kabupaten Dompu: Dompu, HuU, Kilo, Woja, Pajo, Kabupaten Bima: Monta, Bolo, Belo, Wawo, Sape, Donggo, Langgudu, Lambu, Madapangga, Soromandi, Parado

Kabupaten Sumbawa Barat: Taliwang, Brang Ene, Kabupaten Lombok Utara: Pemenang, Kota Bima: Rasanae Barat, Asakota Dan dapat meluas ke wilayah Kabupaten Lombok Barat: Gerung, Kediri, Narmada, Labuapi, Gunungsari, Lingsar, Batu Layar, Kuripan, Kabupaten Lombok Tengah: Praya, Jonggat, Batukliang, Praya Timur, Janapria, Pringgarata, Kopang, Praya Tengah, Batukliang Utara, 

Kabupaten Lombok Timur: Keruak, Sakra, Terara, Sikur, Masbagik, Sukamulia, Selong, Pringgabaya, Aikmel, Sambelia, Montong Gading, Pringgasela, Suralaga, Wanasaba, Sembalun, Suwela, Labuhan Haji, Sakra Timur, Sakra Barat, Jerowaru

Kabupaten Dompu: Kempo, Pekat, Manggalewa, Kabupaten Bima: Woha, Wera, Sanggar, Ambalawi, Tambora, Lambitu, Palibelo, Kabupaten Sumbawa Barat: Jereweh, Seteluk, Sekongkang, Brang Rea, Poto Tano, Maluk

Kabupaten Lombok Utara: Tanjung, Gangga, Kayangan, Bayan, Kota Mataram: Ampenan, Mataram, Cakranegara, Sekarbela, Selaparang, Sandubaya, Kota Bima: Rasanae Timur, Raba, Mpunda Kondisi ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga pkl 18:30 WITA 

Apa yang Terjadi Selama Peristiwa Cuaca Ekstrem?

1. Hujan Lebat: Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat menyebabkan banjir, terutama di daerah perkotaan yang memiliki sistem drainase yang kurang baik. Selain itu, hujan lebat juga bisa memicu longsor di daerah perbukitan.

 

2. Angin Kencang: Angin kencang dapat merusak bangunan, menumbangkan pohon, dan mengganggu jaringan listrik. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi mereka yang tinggal di rumah-rumah yang tidak kokoh.

3.Kilat/Petir: Petir dapat menyebabkan kebakaran, cedera, bahkan kematian. Sebaiknya menghindari tempat terbuka dan benda-benda yang dapat menghantarkan listrik saat terjadi petir.

Langkah-Langkah Keselamatan yang Perlu Dilakukan

 

1. Pantau Terus Informasi: Tetap perbarui informasi cuaca terkini melalui radio, televisi, atau media sosial resmi.

 

2. Siapkan Darurat: Persiapkan tas berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, radio, dan makanan non-awet.

3. Cari Tempat Aman: Jika berada di luar rumah saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang, segera cari tempat perlindungan yang aman, seperti bangunan kokoh atau dalam kendaraan.

4. Hindari Area Rawan Bencana: Jangan berada di dekat sungai, pantai, atau lereng bukit saat terjadi hujan lebat.

5.Matikan Alat Elektronik: Matikan semua peralatan elektronik untuk menghindari korsleting saat terjadi petir.

6 Beri Tahu Orang Lain: Informasikan kepada keluarga dan tetangga tentang kondisi cuaca ekstrem dan langkah-langkah yang perlu diambil.

Contoh Tindakan Preventif untuk Mitigasi Risiko

Bagi Pemda, Pemerintah daerah dapat melakukan berbagai upaya mitigasi, seperti membersihkan saluran drainase, melakukan evakuasi dini, dan memperkuat bangunan-bangunan publik.

  

Bagi Masyarakat, Masyarakat dapat berperan aktif dengan cara membersihkan lingkungan sekitar, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengikuti anjuran pemerintah.

Bagi Petani, Petani dapat melindungi tanaman mereka dengan menggunakan mulsa atau membangun saluran drainase di sekitar lahan pertanian.

Kesimpulan

Peringatan dini cuaca sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian akibat bencana alam. Dengan meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan, kita dapat menghadapi cuaca ekstrem dengan lebih baik. Mari kita selalu waspada dan saling membantu dalam menghadapi situasi darurat.

]]>
Sat, 28 Dec 2024 10:07:38 +0800 amr
Peningkatan Infrastruktur Kawasan Pesisir: Studi Kasus Alokasi Dana Rp28 Miliar di Sumbawa https://amarmedia.co.id/peningkatan-infrastruktur-kawasan-pesisir-studi-kasus-alokasi-dana-rp28-miliar-di-sumbawa https://amarmedia.co.id/peningkatan-infrastruktur-kawasan-pesisir-studi-kasus-alokasi-dana-rp28-miliar-di-sumbawa Peningkatan Infrastruktur Kawasan Pesisir: Studi Kasus Alokasi Dana Rp28 Miliar di Sumbawa

Oleh Najwa Bansang 

(Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Pembangunan kawasan pesisir memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Hal ini Relevan dengan pemberitaan di media onlen Viva.co.id edisi tayang Selasa, 24 Desember 2024 dengan judul Wamen PKP Fahri Hamzah: Dana Rp28 M untuk Tata Kawasan Pesisir Labuhan Sumbawa.

Studi ini mengkaji upaya Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (Wamen PKP) H. Fahri Hamzah dalam mendorong pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir Kabupaten Sumbawa melalui alokasi dana sebesar Rp28 miliar. Penelitian ini mengidentifikasi prioritas pembangunan, manfaat yang diharapkan, serta tantangan dalam implementasinya.

Pendahuluan

Pesisir Sumbawa dikenal sebagai kawasan strategis yang memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata, perikanan, dan kelautan. Namun, minimnya infrastruktur menjadi hambatan utama bagi pengembangan wilayah ini. Sebagai respons, pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman mengalokasikan dana Rp28 miliar untuk meningkatkan infrastruktur pesisir. Inisiatif ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengacu pada laporan resmi pemerintah, wawancara dengan pemangku kepentingan lokal, dan tinjauan literatur terkait pembangunan kawasan pesisir.

Dalam berita disebutkan bahwa Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mengalokasikan dana sebesar Rp28 miliar untuk penataan lanjutan kawasan pesisir di Kecamatan Badas, termasuk Pantai Jempol, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pengumuman ini disampaikan Wakil Menteri PKP, H. Fahri Hamzah, SE, saat mengunjungi pesisir pantai Sumbawa dengan berjalan kaki sepanjang dua kilometer dari Saliperate hingga Muara Sungai Brang Biji, Selasa (24/12/2024).  

Fahri Hamzah menekankan pentingnya keberlanjutan pembangunan yang didukung oleh pemerintah daerah (Pemda). pemerintah Pusat sudah siapkan anggaran, dan mendesak Pemda berpikir dan membuat inovasi kebijakan yang mendukung pembangunan 

Fahri menjelaskan bahwa program besar Presiden Prabowo melalui Kementerian PKP mencakup pembangunan tiga juta rumah. Program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan perumahan di wilayah perkotaan, pedesaan, dan pesisir.

Salah satu contoh sukses program ini adalah penataan kawasan Muara Karang, Jakarta, yang kini lebih bersih dan teratur, lengkap dengan fasilitas umum seperti taman bermain, jalan pedestrian, dan lapak UMKM untuk mendukung perekonomian lokal.  

Harapannya dana Rp28 miliar yang dialokasikan untuk Sumbawa ini dapat menghasilkan keberhasilan serupa dengan yang telah dicapai di Muara Karang.

Hasil dan Pembahasan

Dari berita tersebut diperoleh penjelasan Alokasi dana Rp28 miliar difokuskan pada pembangunan fasilitas dasar seperti jalan akses, dermaga, dan sistem pengelolaan limbah. Prioritas ini sesuai dengan kebutuhan utama masyarakat pesisir yang bergantung pada konektivitas untuk perdagangan hasil laut dan kegiatan ekonomi lainnya. Selain itu, peningkatan infrastruktur diharapkan dapat mendorong sektor pariwisata, khususnya di destinasi seperti Labuhan.

Namun, tantangan seperti birokrasi yang lambat, keterbatasan sumber daya manusia, dan potensi dampak lingkungan perlu diatasi untuk memastikan keberhasilan program ini. Pemerintah juga harus melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

Kesimpulan

Pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir Sumbawa adalah langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional. Meskipun terdapat berbagai tantangan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dapat memastikan program ini berjalan sesuai tujuan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari program ini terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir.

Referensi

Viva.co.id. (2024). "Wamen PKP Fahri Hamzah: Dana Rp28M untuk Tata Kawasan Pesisir Labuhan."

]]>
Sat, 28 Dec 2024 08:21:04 +0800 amr
Sumbawa Bersatu, Sumbawa Maju: Kolaborasi Antar Pemimpin Jadi Kunci https://amarmedia.co.id/sumbawa-bersatu-sumbawa-maju-kolaborasi-antar-pemimpin-jadi-kunci https://amarmedia.co.id/sumbawa-bersatu-sumbawa-maju-kolaborasi-antar-pemimpin-jadi-kunci Sumbawa Bersatu, Sumbawa Maju: Kolaborasi Antar Pemimpin Jadi Kunci.

Oleh Nura :

(Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Pendahuluan 

Pilkada Sumbawa telah berlalu, tensi politik harus diturunkan. Salah satunya melalui upaya silaturrahmi para pemimpin dan kontestan pilkada sehingga dapat mengurangi ketegangan politik dan mengakselerasi pembangunan di Kabupaten Sumbawa.

Berdasarkan berita media online www.amarmedia.co.id edisi 27 Desember 2024 dengan judul Inisiatif Strategis Pemerintah Kabupaten Sumbawa: Kolaborasi untuk Mempercepat Pembangunan sangat relevan dengan judul artikel ini.

Didalam berita diuraikan bahwa ada pertemuan silaturrahmi penuh keakraban di Pendopo Bupati Sumbawa yang berlangsung Kamis malam 26 Desember 2024

Bupati Sumbawa Drs. H. Mahmud Abdullah dan Bupati terpilih 2025-2030 Ir. H. Syarafuddin Jarot telah menyepakati komitmen untuk bersama-sama membangun Sumbawa. Haji mo menyampaikan pesan agar menghilangkan perbedaan, sekarang saatnya "Tu Barema Mo Jatu Samawa menuju Sumbawa yang Unggul, Maju, dan Sejahtera"

Makna Pertemuan Pimpinan Partai politik dan Wakil Menteri PKP RI.

Pertemuan tersebut menjadi tonggak awal bagi kolaborasi kepemimpinan yang diharapkan mampu membawa perubahan signifikan bagi masyarakat Sumbawa.

Salah satu hasil penting dari pertemuan tersebut adalah kesepakatan untuk membentuk tim transisi.Tim transisi akan fokus pada identifikasi proyek-proyek prioritas yang sejalan dengan visi pembangunan Sumbawa yang akan diajukan ke pemerintah pusat. 

Wakil Menteri PKP RI, H. Fahri Hamzah, sangat mendukung inisiatif ini dan meyakini bahwa proposal-proposal yang diajukan pada bulan Januari mendatang memiliki peluang besar untuk diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2025. 

Bagi kami penulis sepakat bahwa pertemuan tersebut adalah momentum yang sangat baik bagi Sumbawa. Sebagaimana dikatakan oleh Wamen, Dengan mengajukan proposal lebih awal, kita memiliki kesempatan untuk mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Inshaa Allah saya sendiri yang akan mengawal proposal-proposal tersebut kepada Kementerian dan Lembaga Negara terkait.

Pembentukan tim transisi ini menunjukkan komitmen kuat dari kedua pemimpin untuk memastikan kelanjutan pembangunan Sumbawa. Dengan melibatkan berbagai pihak, diharapkan dapat dihasilkan proposal-proposal yang komprehensif dan menjawab kebutuhan masyarakat.

H Fahri Hamzah sebagai bagian dari Pemerintah Pusat memberikan apresiasi dan semangat agar kembali merajut persatuan, demi membangun Tana Samawa. Kerjasama seluruh pihak serta dukungan seluruh elemen masyarakat merupakan kunci utama untuk mengukir masa depan yang cerah bagi Tana Samawa. Semoga ikhtiar pemimpin-pemimpin kita dalam membangun Sumbawa diridhai oleh Allah SWT.

Berdasarkan berita diatas penulis memberikan penekanan beberapa hal diantaranya ; 

1. Kolaborasi yang Kuat: Kesepakatan untuk membentuk tim transisi menunjukkan komitmen kuat dari kedua pemimpin untuk melanjutkan pembangunan Sumbawa secara berkelanjutan. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan kepemimpinan dan minimnya ego sektoral.

 

2. Fokus pada Proyek Prioritas: Dengan adanya tim transisi, diharapkan proyek-proyek pembangunan yang akan dijalankan benar-benar menjadi prioritas dan memiliki dampak yang signifikan bagi masyarakat.

3. Dukungan Pemerintah Pusat: Dukungan dari Wakil Menteri PKP RI semakin memperkuat peluang keberhasilan proposal-proposal yang diajukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap pembangunan daerah.

4. Potensi Perubahan Signifikan: Kolaborasi yang kuat dan dukungan dari pemerintah pusat berpotensi membawa perubahan signifikan bagi Kabupaten Sumbawa, baik dari segi infrastruktur, ekonomi, maupun kesejahteraan masyarakat.

Kesimpulan 

Kolaborasi yang terjalin antara Bupati petahana dan terpilih serta dukungan dari pemerintah pusat menjadi angin segar bagi masyarakat Sumbawa. Diharapkan sinergi ini dapat mempercepat laju pembangunan di berbagai sektor, seperti infrastruktur, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

]]>
Sat, 28 Dec 2024 06:29:07 +0800 amr
Strategi DPRD Kabupaten Sumbawa dalam Menghadapi Kelangkaan Pupuk Pada Musim Tanam Tahun 2024 https://amarmedia.co.id/strategi-dprd-kabupaten-sumbawa-dalam-menghadapi-kelangkaan-pupuk-pada-musim-tanam-tahun-2024 https://amarmedia.co.id/strategi-dprd-kabupaten-sumbawa-dalam-menghadapi-kelangkaan-pupuk-pada-musim-tanam-tahun-2024 Strategi DPRD Kabupaten Sumbawa dalam Menghadapi Kelangkaan Pupuk Pada Musim Tanam Tahun 2024 

Oleh : Laila Isabel

(Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Teknologi Sumbawa, Jln Olat Maras, Kabupaten Sumbawa, NTB, Indonesia)

Pendahuluan

Dalam pertanian, dikenal istilah musim tanam. Namun, masih banyak petani atau pelaku di sektor pertanian yang mengenyampingkan istilah ini. Padahal, pengertian ini memiliki peran yang memungkinkan pelaku di sektor pertanian mendapatkan arah budi daya tanaman khususnya tanaman pangan. Ini seusai dengan apa arti musim tanam itu sendiri. 

Musim tanam adalah waktu tertentu yang dijadikan sebagai tahap permulaan menanam (misalnya padi dan sebagainya). Di Indonesia, dikenal ada tiga musim tanam dalam satu tahunnya yakni musim tanam utama, musim tanam gadu, dan musim tanam kemarau. Musim tanam utama adalah musim tanam yang dilaksanakan pada saat musim penghujan baik di tanah basah (tanah yang pengalirannya bagus) dan tanah kering (tadah hujan). 

Musim tanam utama di mulai pada November sampai Maret. Musim tanam gadu adalah musim tanam yang tidak ada pengairannya dan mengandalkan air hujan atau tadah hujan. Musim tanam gadu ini dimulai pada April sampai Juli. Musim tanam kemarau dengan catatan sistem pengairan atau irigasinya harus bagus. Musim tanam kemarau ini terjadi Agustus, September, dan Oktober. 

Salah satu input utama dalam meningkatkan produksi pertanian khususnya padi adalah pupuk. Penggunaan pupuk yang berimbang sesuai dengan kebutuhan tanaman telah membuktikan mampu meningkatkan produktivitas 30-40 persen dan pendapatan yang lebih baik bagi petani (Direktorat Pupuk dan Pestisida, 2004). 

Kondisi inilah yang menjadikan pupuk sebagai sarana produksi yang sangat strategis bagi petani dan mendorong pemerintah melakukan kebijakan subsidi pupuk bagi pertanian rakyat.

Untuk menyediakan pupuk di tingkat petani diupayakan memenuhi azas 6 tepat, yaitu : tepat tempat, tepat jenis, tepat waktu, tepat jumlah, tepat harga dan tepat mutu. Permintaan pupuk secara alamiah dipengaruhi oleh luas areal komoditas pertanian, tingkat intensifikasi usahatani yang direpresentasikan oleh aplikasi dosis pemupukan, kesuburan lahan, serta kondisi agroklimat wilayah pengguna. Namun demikian permintaan pupuk tidak semata-mata hanya dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan pemerintah, seperti program pembangunan pertanian (swasembada pangan), kebijakan tata niaga yang mengatur distribusi pupuk, serta kebijakan fasilitas berupa pembangunan infrastruktur. 

Dari sisi produsen ketersediaan pupuk juga dipengaruhi oleh harga-harga input utama industri pupuk seperti gas serta bahan penolong lainnya. Disamping itu juga faktor makro ekonomi seperti perubahan nilai tukar, pergerakan suku bunga bank juga mempengaruhi penawaran pupuk. Sementara itu permintaan pupuk dipengaruhi oleh harga pupuk, luas areal tanam dan dosis pemakaian pupuk. 

Penulis membuat dua rumusan masalah yakni  pertama : Apa Faktor Penyebab terjadi nya Kelangkaan Pupuk

Kedua :   Bagaimana Stategi DPRD Kabupaten Sumbawa Dalam Menghadapi Musim Tanam (Kelangkaan Pupuk)

Dengan dua tujuan yakni  Pertama : Untuk mengetahui Faktor Penyebab terjadi nya Kelangkaan Pupuk. Kedua : Untuk mengetahui Stategi DPRD Kabupaten Sumbawa Dalam Menghadapi Musim Tanam (Kelangkaan Pupuk)

Pembahasan

Menurut sumber berita dari Amarmedia.com edisi 26 Oktober 2024 dengan judul Kelangkaan Pupuk dan Saprodi, Komisi II DPRD Sumbawa Kungker Ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB

Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa mengadakan kunjungan kerja ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB pada 24 Oktober 2024. Tujuan kunjungan ini adalah untuk mencari solusi atas kelangkaan pupuk dan sarana produksi pertanian di Kabupaten Sumbawa. 

Pimpinan rombongan, H.M. Berlian Rayes, menyatakan bahwa kelangkaan pupuk sangat mempengaruhi petani karena akan memasuki musim tanam. Ketersediaan pupuk sangat penting mengingat bulan November dan Desember merupakan waktu menanam padi dan jagung. Kebutuhan pupuk akan meningkat, dan Komisi II ingin memastikan ketersediaan pupuk bagi petani serta kuota yang disediakan untuk Kabupaten Sumbawa.

Kepala Bidang PSP Dinas Pertanian Provinsi NTB, H. Agus Hidayatullah, menjelaskan bahwa pemerintah menambah alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton pada tahun 2024. Penambahan ini memudahkan petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi dengan menggunakan KTP. Alokasi subsidi pupuk ditujukan kepada empat jenis: Urea, NPK, NPK Formula Khusus dan pupuk Organik. 

Alokasi untuk NTB sebesar 433.606 ton, meningkat 214.156 ton dari sebelumnya. Rincian alokasi untuk NTB adalah:-  Urea: 222.405 ton,  NPK: 190.653 ton, NPK Formula Khusus: 1.059 ton, dan  Pupuk Organik: 19.489 ton

Alokasi untuk Sumbawa adalah :Urea: 58.331 ton,  NPK: 48.574 ton, NPK Formula Khusus: 10.000 ton dan Pupuk Organik: 5.620 ton

Dijelaskan bahwa Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) dapat dievaluasi setiap empat bulan sekali. Petani yang belum mendapatkan alokasi dapat menginput pada proses pendaftaran.

Demikian pula dalam pemberitaan edisi 31 Oktober 2024 dengan judul Soal Ketersediaan Kuota Pupuk, Komisi II DPRD Sumbawa Raker Dengan Distan dan Distributor

Disebutkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumbawa melalui Komisi II mengadakan rapat dengan pihak terkait untuk membahas ketersediaan pupuk di daerah tersebut. Ketua Komisi II, I Nyoman Wisma, menyatakan bahwa ketersediaan pupuk di Sumbawa masih aman, dengan stok mencapai 62 ribu ton lebih pada tahun 2024.

Serapan pupuk sampai 1 Oktober 2024 mencapai 35 ribu ton. Dengan sisa waktu dua bulan, Komisi II menekan semua pihak untuk mengamankan sisa kuota pupuk dan meningkatkan serapan ke petani.

Anggota Komisi II, H Andi Mappelui, menegaskan bahwa penyalur pupuk bersubsidi harus diterima langsung oleh petani tanpa dialihkan ke pihak lain. Pemerintah daerah diminta untuk melakukan pengawasan ketat dalam penyaluran pupuk bersubsidi.

Rapat dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pertanian, Diskoperindag, Dinas Perijinan dan Penanaman Modal, serta distributor pupuk seperti PT Pupuk Indonesia, PT Alzaman, dan CV Layanan Tani.

Kesimpulan

Kelangkaan pupuk merupakan permasalahan yang kompleks dan multifaktor. Faktor-faktor seperti struktur pasar oligopolis, distribusi pupuk yang lemah, konspirasi antar kepentingan, ketergantungan pada impor dan keterbatasan produksi pupuk domestik menyebabkan kelangkaan pupuk. Oleh karena itu, diperlukan strategi efektif untuk mengatasi masalah ini.

DPRD Kabupaten Sumbawa telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi kelangkaan pupuk. Strategi tersebut meliputi pengawasan penggunaan pupuk bersubsidi, peningkatan kesadaran petani, pengembangan pupuk organik dan pembuatan kebijakan untuk mengatasi kelangkaan pupuk. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pupuk dan mendukung kemajuan pertanian.

Hasilnya, pemerintah menambah alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton pada tahun 2024. Alokasi subsidi pupuk untuk NTB sebesar 433.606 ton, dan stok pupuk di Sumbawa mencapai 62 ribu ton lebih. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dan pemantauan terhadap kebijakan pupuk untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitasnya. (AM)

]]>
Sat, 28 Dec 2024 06:13:00 +0800 amr
Peran DPRD Sumbawa dalam Pengawasan Penyaluran Bantuan Sosial https://amarmedia.co.id/peran-dprd-sumbawa-dalam-pengawasan-penyaluran-bantuan-sosial https://amarmedia.co.id/peran-dprd-sumbawa-dalam-pengawasan-penyaluran-bantuan-sosial Peran DPRD Sumbawa dalam Pengawasan Penyaluran Bantuan Sosial 

Oleh:Vina oktadentari 

(Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teknologi Sumbawa)

Pendahuluan 

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) memiliki peran yang sangat krusial dalam memastikan penyaluran bantuan sosial (bansos) berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran. Sebagai lembaga legislatif daerah, DPRD memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah, termasuk dalam hal penyaluran bansos.

Secara umum, peran DPRD dalam pengawasan penyaluran bansos meliputi:

A. Fungsi Legislasi: Membentuk peraturan daerah (perda) terkait dengan mekanisme penyaluran bansos, kriteria penerima, dan tata cara pengawasan. Merevisi perda yang sudah ada jika diperlukan untuk menyesuaikan dengan kondisi terkini atau kebijakan pusat.

B. Fungsi Anggaran: Mengesahkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang dialokasikan untuk program bansos, Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran bansos, memastikan bahwa anggaran tersebut digunakan sesuai dengan peruntukannya.

C.Fungsi Pengawasan: Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program bansos, baik secara langsung maupun tidak langsung, Melakukan evaluasi terhadap efektivitas program bansos, Menampung aspirasi masyarakat terkait dengan penyaluran bansos, Memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk perbaikan program bansos.

Studi Kasus Kabupaten Sumbawa

Berdasarkan pemberitaan media online www.amarmedia.co.id edisi 27 Oktober 2024 dengan judul berita Efektivitas Bantuan Sosial Bagi Masyarakat Miskin, Komisi IV DPRD Kungker ke Dinas Sosial Provinsi NTB

Didalam berita diuraikan bahwa Wakil ketua III dan Pimpinan bersama Anggota Komisi IV DPRD kabupaten Sumbawa melaksanakan kunjungan kerja ke Kantor Dinas Sosial Provinsi NTB terkait dengan bantuan sosial bagi masyarakat miskin Kamis 24 Oktober 2024 di Mataram.

Pimpinan DPRD Zulfikar Demitry menyampaikan beberapa regulasi terkait dengan bantuan sosial diantaranya bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial Secara Non Tunai, bantuan sosial didefinisikan sebagai bantuan berupa uang, barang, atau jasa kepada seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat miskin, tidak mampu atau rentan terhadap risiko sosial. 

Atas hal tersebut Perwakilan Dinas Sosial Provinsi NTB Armansyah menjelaskan di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah, menjelaskan bahwa belanja bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan berupa uang atau barang kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya risiko sosial, kecuali dalam keadaan tertentu dapat berkelanjutan.

Menurut data yang pernah dipublikasikan oleh Ombudsman Tahun 2021 yang lalu, setidaknya terdapat beberapa permasalahan dalam penyaluran bantuan sosial. Permasalahan tersebut antara lain: terkait keberadaan mitra penyaluran bantuan sosial (toko sembako untuk bantuan pangan non tunai) yang tidak merata di sejumlah desa. Hal tersebut menjadi kendala penyaluran bantuan sosial untuk masyarakat di wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal (3T)

Ketua Komisi IV DPRD Muhammad Takdir SE.M.M.Inov mempertanyakan alur pendaftaran sebagai calon penerima bantuan sosial, yang dirasakan rumit serta cenderung berlarut-larut. Hal tersebut umumnya terjadi karena keterbatasan anggaran serta kompetensi SDM. Selanjutnya, informasi terkait jenis serta mekanisme bantuan yang dapat diakses oleh masyarakat masih sangat minim, sehingga masih banyak masyarakat yang tidak tahu.

Permasalahan lainnya, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sebagai data utama penerima bantuan sosial belum sepenuhnya valid, Masih ditemukan data penerima bansos yang ternyata telah meninggal dunia, namun masih tercatat pada data. Fakta lainnya, tidak sedikit temuan di lapangan bahwa penerima bantuan sosial ternyata adalah orang yang seharusnya tidak berhak menerima, ada orang kaya, PNS, Kepala Desa, bahkan Pengusaha.

Dijawab oleh Pejabat Dinas Sosial Provinsi, Berbicara tentang bantuan sosial, tidak dapat terlepas dari DTKS, yakni data induk yang sangat krusial, yang berisi data penerima pelayanan kesejahteraan sosial, penerima bantuan dan pemberdayaan sosial. 

DTKS merupakan data penting yang menjadi dasar acuan dalam pelaksanaan penyelenggaraan kesejahteraan sosial. DTKS menggunakan basis data kependudukan, baik Nomor Induk Kependudukan (NIK) maupun Kartu Keluarga (KK) yang terhubung dengan berbagai database berbagai instansiatau lembaga terkait.

Untuk merubah data di DTKS merupakan kewenangan pemerintah pusat, meskipun ada usulan dari Desa, atau Dinas maka penentuannya ada di Pusat

Dijelaskannya beberapa jenis bantuan sosial (bansos) yang diberikan kepada masyarakat miskin yaitu :

a).Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) – Kartu Indonesia Sehat (KIS) ; Program yang diberikan pada Masyarakat miskin yang masuk dalam DTKS, menjadi peserta BPJS – PBI (Penerima Bantuan Iuran) 

b).Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), PIP : Program bantuan berupa uang dari pemerintah kepada peserta didik SD, SMP, SMA/SMK, dan sederajat baik formal maupun formal bagi keluarga miskin. 

c).KIP : Program bantuan berupa uang dari pemerintah kepada mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin.

d).Program Keluarga Harapan (PKH) Bantuan uang tunai yang diberikan kepada keluarga miskin yang memiliki anggota rentan, seperti ibu hamil, balita, anak sekolah, penyandang disabilitas, dan lansia.

e).Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) ; Bantuan berupa pangan senilai Rp.200.000 per bulan yang diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

f).Bantuan Sosial Beras (BSB) ; Bantuan yang diberikan pada Masyarakat miskin berupa beras sebanyak 10 kg.

g).Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) ; Bantuan untuk menjamin masyarakat desa bertahan.

Penerima bansos adalah individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat yang miskin, tidak mampu, dan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).

Demikian pula Kakuitas Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS): Proses perubahan data yang lambat membuat DTKS tidak selalu mencerminkan kondisi terkini masyarakat. Terhadap Kompleksitas jenis bantuan. Banyaknya jenis bantuan membuat masyarakat kesulitan mengakses informasi dan prosedur pengajuan.

Demikian pula kurangnya sosialisasi Informasi mengenai bantuan sosial tidak sampai secara efektif kepada masyarakat, terutama di daerah terpencil.

Dari berita tersebut diperoleh beberapa hal permasalahan terkait penyaluran bansos di Kabupaten Sumbawa antara lain:

1. Data DTKS yang belum valid: Adanya data penerima bansos yang sudah meninggal atau tidak memenuhi syarat.

2. Proses pendaftaran yang rumit: Masyarakat kesulitan dalam mendaftar sebagai penerima bansos.

3. Informasi yang minim: Masyarakat kurang mengetahui jenis dan mekanisme bantuan yang tersedia.

4. Keterbatasan anggaran dan SDM: Pemerintah daerah menghadapi kendala dalam mengelola program bansos secara optimal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, DPRD Kabupaten Sumbawa dapat melakukan beberapa langkah:

1.Meningkatkan kualitas pengawasan: Melakukan pengawasan secara berkala dan menyeluruh terhadap pelaksanaan program bansos, baik melalui kunjungan lapangan maupun melalui mekanisme lainnya.

2. Memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah: Membangun sinergi yang kuat dengan pemerintah daerah dalam rangka memperbaiki tata kelola bansos.

3.Melakukan sosialisasi kepada masyarakat: Memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami kepada masyarakat tentang program bansos.

4. Membentuk tim khusus: Membentuk tim khusus yang bertugas untuk melakukan kajian dan evaluasi terhadap program bansos.

5. Membuat laporan hasil pengawasan: Menyusun laporan hasil pengawasan secara berkala dan menyampaikannya kepada masyarakat dan pemerintah daerah.

Implikasi bagi Kebijakan Publik

Hasil pengawasan yang dilakukan oleh DPRD dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan kebijakan dalam penyaluran bansos. Beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diambil antara lain:

1.Memperbaiki sistem data: Melakukan pemutakhiran data DTKS secara berkala dan melibatkan masyarakat dalam proses pendataan.

2.Sederhanakan prosedur pendaftaran: Menyederhanakan prosedur pendaftaran bansos dan memberikan kemudahan bagi masyarakat.

3.Meningkatkan transparansi: Membuka akses informasi publik terkait dengan penyaluran bansos.

4. Meningkatkan kapasitas aparatur: Melakukan pelatihan bagi petugas yang terlibat dalam pengelolaan bansos.

5. Meningkatkan partisipasi masyarakat: Melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program bansos.

Kesimpulan

Peran DPRD Sumbawa dalam pengawasan penyaluran bansos sangat penting untuk memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan melakukan pengawasan yang efektif, DPRD dapat berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi angka kemiskinan.(AM)

]]>
Fri, 27 Dec 2024 21:02:24 +0800 amr
Strategi Komunikasi Anggota DPRD Dalam Membangun Hubungan dengan Konstituen https://amarmedia.co.id/strategi-komunikasi-anggota-dprd-dalam-membangun-hubungan-dengan-konstituen https://amarmedia.co.id/strategi-komunikasi-anggota-dprd-dalam-membangun-hubungan-dengan-konstituen Strategi Komunikasi Anggota DPRD Dalam Membangun Hubungan Dengan Konstituen

Oleh : Najwa Bansang 

(Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Sumbawa)

Komunikasi yang dilakukan melalui reses menjadi salah satu cara yang efektif bagi DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsi. Dengan melaksanakan Reses, Anggota DPRD bisa memahami kebutuhan dan masalah yang dihadapi masyarakat.

Disamping itu Komunikasi yang intens dapat membangun Kepercayaan antara wakil rakyat dan rakyat yang diwakilinya. Dalam reses Anggota DPRD bisa menyampaikan informasi terkait kebijakan dan program pemerintah dan juga mempertanggungjawabkan kinerja dan keputusan yang diambil bagi rakyat.

Strategi Komunikasi yang Efektif DPRD 

Berdasarkan hasil wawancara Penulis dengan salah satu Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Muhammad Takdir SE.M.Inov,  Senin (23 Desember 2024. Beberapa strategi yang digunakan DPRD adalah pertama Reses Berkala dengan melakukan kunjungan langsung ke daerah pemilihan untuk bertemu dan berdialog dengan masyarakat. Dewan dapat menjelaskan program-program pemerintah dan dampaknya bagi masyarakat secara sederhana dan mudah dipahami.

Kedua melalui Media Sosial. Dean dapat menggunakan platform media sosial untuk berinteraksi dengan konstituen secara lebih luas dan cepat.

Ketiga ; melalui Kegiatan Masyarakat

Dewan Aktif terlibat dalam kegiatan masyarakat seperti gotong royong, acara keagamaan, atau olahraga.

Keempat : Open House. Dewan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk bertemu dan berdiskusi secara langsung dengan anggota DPRD.

 

Hal yang menarik adalah responsif terhadap Keluhan. Memberikan respon yang cepat dan tepat terhadap keluhan dan masukan dari masyarakat.

Berdasarkan publikasi media Amarmedia.co.id dengan judul "Dewan Sampaikan Laporan Hasil Reses II Pada 5 Dapil" edisi tayang 3 September 2023 Anggota DPRD menjelaskan hasil komunikasi mereka dengan konstituen melalui reses II DPRD Kabupaten Sembawa Jumat (1/9)

Dikatakan Sri Wahyuni Dalam sidang Paripurna yang dipimpin oleh Ketua DPRD Abdul Rafiq SH. bahwa reses telah terlaksana pada 5 (lima) Daerah Pemilihan Kabupaten Sumbawa oleh masing-masing Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa pada tanggal 20 sampai dengan tanggal 25 Juli 2023. 

Disebut Sri, Kegiatan reses dilakukan dalam rangka menjaring aspirasi masyarakat. Aspirasi masyarakat merupakan harapan, tujuan dan kebutuhan masyarakat untuk mewujudkan keberhasilan pada masa yang akan datang sesuai dengan hajat hidup mereka, baik secara individu maupun secara kelompok. Dalam Pasal 2 ayat (4) huruf d Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mengamanatkan bahwa salah satu tujuan Sistem Perencanaan Pembangunan adalah mengoptimalkan partisipasi masyarakat, yang harus diikutsertakan dalam proses perencanaan pembangunan. Jaminan keikutsertaan masyarakat dalam penyusunan kebijakan atau perencanaan pembangunan daerah diatur juga dalam Tata Tertib DPRD, tepatnya di Peraturan DPRD Kabupaten Sumbawa Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Tertib DPRD Kabupaten Sumbawa.

Kemudian lanjutnya, partisipasi menjadi arus utama dalam merepresentasikan perubahan dalam proses pembangunan di daerah. Sebab hakekat otonomi daerah antara lain adalah semakin dekatnya proses pengambilan kebijakan dengan masyarakat dan semakin besar peluang partisipasi masyarakat di dalam perencanaan pembangunan, yang lebih penting lagi sebenarnya adalah sejauh mana masyarakat peduli dan mempunyai rasa memiliki atas kegiatan pembangunan di wilayahnya. Rasa memiliki akan terbangun ketika aspirasi yang mereka sampaikan diakomodir di dalam APBD. Dan lebih jauh lagi sebenarnya bukan hanya persoalan besaran persentase aspirasi masyarakat yang diakomodir, tetapi juga adalah besaran porsi anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan pembangunan atau pelayanan publik, yang berdampak langsung pada masyarakat serta kesesuaian arah pembangunan yang bermuara pada majunya suatu daerah.

Penyampaian Laporan Hasil Reses Anggota DPRD dalam Paripurna merupakan salah satu corong bagi Anggota DPRD dalam memperjuangkan aspirasi rakyat , sehingga forum ini menjadi sangat penting, sebab semua masukan, dan harapan yang disampaikan masyarakat akan dituangkan dalam penyusunan Pokok-Pokok Pikiran DPRD Kabupaten Sumbawa sebagai salah satu bahan dalam proses penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

Berdasarkan Hasil Reses II Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa di 5 (lima) Dapil, Dewan mengharapkan semua aspirasi masyarakat dijadikan sebagai salah satu bahan dalam penyusunan RKPD, agar dapat ditampung dan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah, baik pada tahun berkenaan maupun pada tahun rencana.

Kesimpulan

Komunikasi yang efektif merupakan kunci bagi anggota DPRD dalam membangun hubungan yang baik dengan konstituen. Dengan menerapkan strategi yang tepat, anggota DPRD dapat menjadi wakil rakyat yang benar-benar mewakili aspirasi masyarakat.

]]>
Mon, 23 Dec 2024 14:34:09 +0800 amr
Seni: Keindahan VS Kesejahteraan https://amarmedia.co.id/seni-keindahan-vs-kesejahteraan https://amarmedia.co.id/seni-keindahan-vs-kesejahteraan Seni: Keindahan VS Kesejahteraan

Mataram.Amarmedia.co.id -  Di tengah gemerlap pariwisata Lombok, ada sebuah kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Sektor seni dan kreatif di NTB, meski kaya akan bakat dan potensi, masih mencari ruangnya. Para pekerja seni belum sepenuhnya menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Ada ironi di sini—seni yang seharusnya menjadi jiwa dari sebuah tempat malah kerap terpinggirkan.

Namun, di balik kegelisahan itu, selalu ada peluang. Teknologi dan dunia digital telah membuka pintu lebar-lebar, membuat karya seni lebih mudah diakses dan diapresiasi. Ini adalah momen yang tak boleh dilewatkan.

Dari kegelisahan itulah AkuAir Art Creative Enterprise hadir di Teater Tertutup Taman Budaya Prov. NTB, Sabtu Malam, 21 November 2024. Menghadirkan pementasan teater Bengkel Aktor Mataram: Kisah Penguasa Kemaruk dan musik eksperimen Organic Mind: Suara Kembang Sasak.  

Dengan langkah kecil ini tapi penuh keyakinan, AkuAir ingin menjadi bagian dari perubahan. Menciptakan ruang bagi seni lokal, memberikan apresiasi pada para pekerja seni, dan memastikan karya mereka bisa dinikmati—bukan hanya oleh wisatawan, tapi oleh masyarakat NTB sendiri.

AkuAir percaya pada sebuah prinsip: sic parvis magna—hal besar dimulai dari langkah kecil. Bahkan ingin membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang keindahan, tapi juga tentang kesejahteraan. Bahwa seni yang dihargai bisa menjadi jalan hidup yang bermartabat bagi para pelakunya.

Ini bukan perjalanan yang mudah, tapi AkuAir percaya ini adalah perjalanan yang layak ditempuh. Karena seni adalah nafas dari budaya, dan budaya adalah jiwa dari kita semua.

"Mari bersama, kita bawa seni dan kreatif NTB ke panggung yang lebih besar—dimulai dari langkah kecil hari ini," sambut Ketua AkuAir Agus K Saputra membuka Mini Festival AkuAir 2024.(AM)

]]>
Sun, 22 Dec 2024 23:08:24 +0800 amr
Upaya Masyarakat Dalam Melestarikan Tenun Kere’ Alang pada Era Globalisasi di Dusun Samri Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir https://amarmedia.co.id/upaya-masyarakat-dalam-melestarikan-tenun-kere-alang-pada-era-globalisasi-di-dusun-samri-desa-poto-kecamatan-moyo-hilir https://amarmedia.co.id/upaya-masyarakat-dalam-melestarikan-tenun-kere-alang-pada-era-globalisasi-di-dusun-samri-desa-poto-kecamatan-moyo-hilir Upaya Masyarakat Dalam Melestarikan Tenun Kere’ Alang pada Era Globalisasi di Dusun Samri Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir

Oleh : Laila Isabel

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Teknologi Sumbawa.

Dusun Samri, sebuah wilayah di Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, terus mempertahankan warisan budaya lokalnya melalui pelestarian kain tenun Kere’ Alang. Produk khas ini dikenal karena motifnya yang unik, seperti Kemang Satange, Gili Liyuk, dan Kengkang Badayung, yang tidak hanya mencerminkan nilai estetika tetapi juga memiliki makna filosofis mendalam. Namun, globalisasi menjadi tantangan besar, dengan maraknya budaya asing yang memengaruhi preferensi masyarakat, terutama generasi muda.

Dalam penelitian yang dilakukan di Dusun Samri, metode kualitatif digunakan untuk mengungkap bagaimana masyarakat Dusun Samri melestarikan kain ini di tengah perubahan zaman. Salah satu temuan utama adalah peran komunitas lokal, seperti Komunitas Kemang Langit, yang aktif membimbing generasi muda untuk belajar menenun. Proses pembelajaran ini dimulai sejak usia dini, melibatkan siswa sekolah dasar hingga mahasiswa, dengan tujuan menanamkan rasa cinta terhadap warisan budaya lokal.

Tidak hanya masyarakat, pemerintah juga ikut berperan dalam pelestarian ini. Berbagai pameran budaya diadakan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Salah satu pameran dihadiri oleh 12 negara yang tertarik melihat langsung keindahan Kere’ Alang. Promosi ini berhasil meningkatkan popularitas kain tenun Sumbawa hingga ke mancanegara, dengan konsumen tidak hanya berasal dari daerah sekitar tetapi juga dari luar negeri, seperti Malaysia.

Namun, tantangan tetap ada. Promosi produk Kere’ Alang masih terbatas pada metode tradisional, seperti dari mulut ke mulut, sehingga potensi pasar digital belum sepenuhnya dimanfaatkan. Selain itu, harga produk yang tinggi, berkisar antara Rp1.500.000 hingga Rp3.000.000, menjadi kendala tersendiri dalam menjangkau pasar yang lebih luas.

Kain Kere’ Alang bukan hanya sekadar produk tekstil tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Sumbawa. Oleh karena itu, masyarakat bersama pemerintah berusaha untuk mempertahankan kualitas kain ini, memperluas jaringan pemasaran, dan terus meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya melestarikan budaya lokal.

Upaya ini tidak hanya berdampak pada keberlanjutan tradisi tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Melalui kerja sama yang erat antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah, Kere’ Alang diharapkan dapat terus menjadi kebanggaan Sumbawa dan dikenal di seluruh dunia sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai lokal.

Kere’ Alang merupakan kain tenun khas yang berasal dari Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kere’ Alang merupakan produk daerah Sumbawa yang memiliki ciri khas yang unik serta memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kere’ Alang memiliki berbagai macam motif di antaranya motif Kemang Satange, motif Gili Liyuk, dan motif kengkang Badayung. Upaya pelestarian kain tenun Kere’ Alang di Dusun Samri cukup mudah. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa yang memiliki kemauan untuk belajar menenun Kere’ Alang. Hingga saat ini komunitas Kemang Langit sudah memiliki sekitar 100 tenaga. Hal ini tentu saja memudahkan generasi muda yang ingin belajar menenun Kere’ Alang, karena ketersediaan tenaga pengajar yang jumlahnya memadai. Sehingga produksi kain tenun Kere’ Alang dapat terus dilestarikan oleh generasi muda. 

Berdasarkan penelitian di atas, peneliti merekomendasikan beberapa saran juga kepada beberapa pihak yang memiliki kaitan dalam pelestarian Kere’ Alang diantaranya sebagai berikut :

  1. Bagi pengrajin tetap pertahankan, perbaiki kualitas, ajarkan keterampilan menenun ini kepada generasi muda, dan bangun jaringan pemasaran yang lebih luas lagi.
  2. Masyarakat Tingkatkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap produk lokal warisan budaya dengan menggunakan produk tenun Kere’ Alang dan dukung upaya pelestarian dengan memperkenalkan kain tenun ini kepada generasi muda dan wisatawan.
  3. Pemerintah Adakan pameran budaya dan festival lokal secara rutin untuk mempromosikan tenun Kere’ Alang kepada masyarakat luas dan Rancang program kesejahteraan bagi pengrajin tenun melalui bantuan finasial atau akses pasar. (AM)
]]>
Fri, 20 Dec 2024 11:41:11 +0800 amr
Studi Kepemimpinan Tambunan di Kabupaten Deliserdang 2004 – 2024 https://amarmedia.co.id/studi-kepemimpinan-tambunan-di-kabupaten-deliserdang-2004-2024 https://amarmedia.co.id/studi-kepemimpinan-tambunan-di-kabupaten-deliserdang-2004-2024 Studi Kepemimpinan Tambunan di Kabupaten Deliserdang 2004 – 2024

Sumatera Utara,-PENELITIAN mengenai relasi kekuasaan dalam kepemimpinan daerah selalu menarik minat akademis karena mencakup perspektif yang luas serta memadukan kajian teoritis dan praktis.

Mengacu pada teori pemerintahan Rosenbloom dan Goldsmith, relasi kekuasaan yang efektif memiliki peran strategis dalam manajemen, pengawasan dan pengembangan daerah (Labolo, 2008).

Penulis tertarik dengan penelitian disertasi Dr. Musa Rajekshah S.Sos M.Hum di Program Doktor Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, mengeksplorasi model relasi kekuasaan Tambunan di Deliserdang.

Kajian penelitian ini menyoroti bagaimana relasi kekuasaan yang harmonis dan berkesinambungan berperan dalam menjaga stabilitas dan kesinambungan pembangunan di Kabupaten Deliserdang dari 2004 hingga 2024.

Penelitian ini berfokus pada model kekuasaan Tambunan di Deliserdang, khususnya bagaimana harmonisasi relasi kekuasaan berperan dalam keberlanjutan pembangunan daerah, sebagaimana diuraikan dalam disertasi Dr. Musa Rajekshah S.Sos M.Hum untuk meraih gelar Doktor Studi Pembangunan di Universitas Sumatera Utara.

Penulis memulai analisis dengan meninjau asal-usul nama Kabupaten Deliserdang yang terinspirasi dari Kesultanan Deli dan Serdang, yang keduanya merupakan bagian penting dari sejarah daerah ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Deliserdang 2023, populasi kabupaten ini tercatat mencapai 1.953.986 jiwa pada tahun 2022. Dengan motto “BHINNEKA PERKASA JAYA,” pemerintah menunjukkan komitmennya untuk mendorong kemajuan dengan mengedepankan keberagaman sosial budaya. Kabupaten ini memiliki masyarakat yang beragam etnis, termasuk Melayu Deli, Karo, Toba, Simalungun, Minangkabau, Jawa, dan Tionghoa.

Sejarah dan Transformasi Kepemimpinan

Sejak tahun 1946, Deliserdang telah dipimpin oleh sejumlah tokoh berpengaruh, mulai dari Bupati pertama, Moenar S. Hamidjojo hingga Ali Yusuf Siregar. Sepanjang masa tersebut, Deliserdang terus menghadirkan pemimpin-pemimpin yang mengembangkan kompetensi manajerial dalam tata kelola pemerintahan daerah. Hal ini menjadikan kabupaten ini sebagai wilayah yang bertumbuh secara adaptif dan akuntabel.

Kepemimpinan Tambunan

Keterlibatan keluarga Tambunan dalam kepemimpinan Deliserdang dimulai dengan Bapak Amri Tambunan, putra Mayor TNI H. Djamaluddin Tambunan, yang menjabat sebagai bupati pada periode 2004–2014.

Pada masa kepemimpinannya, Amri Tambunan berfokus pada sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, menghadirkan program-program strategis, seperti “Cerdas” di bidang pendidikan, “GDSM” untuk pengembangan infrastruktur, dan “Ceria” sektor kesehatan.

Berkat program-program ini, Deli Serdang memperoleh sejumlah penghargaan nasional, termasuk Piala Citra Presiden RI untuk pelayanan prima di RSU Deli Serdang (2006) dan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI (2009).

Kepemimpinan di Deliserdang kemudian dilanjutkan oleh H. Ashari Tambunan (2014–2024), yang berhasil menurunkan tingkat kemiskinan di daerah tersebut hingga mencapai 3,62 persen.

Di bawah kepemimpinannya, Deliserdang diakui sebagai lumbung pangan strategis nasional dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Sertifikat Eliminasi Malaria (2014), Penghargaan Pembina K3 Terbaik (2014) dan penghargaan dalam bidang lingkungan hidup dan tata kelola.

Pada tahun 2015, kabupaten ini memperoleh Kalpataru, Adiwiyata Mandiri, dan Piala Adipura, yang menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Kajian Ijeck

Dalam menyelesaikan studi doktoral di Program Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Dr. Musa Rajekshah S.Sos M.Hum (Ijeck) meneliti model kepemimpinan keluarga Tambunan di Deli Serdang, yang beliau identifikasi perpaduan gaya kepemimpinan populis, transformatif, dan professional. Beliau menamainya “MODEL IJECK” sebagai lima pilar yang membentuk inti kepemimpinan dinasti Tambunan.

Menyoroti dampak positif dari pendekatan kepemimpinan keluarga Tambunan yang harmonis dan kolaboratif. Ijeck juga mengamati bahwa tanggung jawab besar ini berpotensi diteruskan oleh dr. Asri Ludin Tambunan, putra dari Amri Tambunan, yang berencana mencalonkan diri sebagai Bupati Deli Serdang untuk periode 2024-2029. “Kepemimpinan keluarga Tambunan melampaui konsep dinasti politik, menghadirkan model yang harmonis dan efisien,” tulis Ijeck dalam disertasinya.

Gaya kepemimpinan keluarga Tambunan terdahulu ditandai dengan keterbukaan, responsivitas, dan transparansi, dengan fokus pada kesejahteraan sosial. Ijeck berpendapat bahwa pendekatan ini telah menciptakan fondasi kuat untuk membangun relasi harmonis antara pemimpin dan masyarakat. Dengan budaya kepemimpinan yang inklusif, dr. Asri Ludin Tambunan diyakini mampu melanjutkan tradisi ini, mengutamakan pelayanan publik dan kesejahteraan sosial.

Model Ijeck

Dalam disertasinya, Ijeck merumuskan “MODEL IJECK” sebagai lima pilar yang membentuk inti kepemimpinan dinasti Tambunan:

• Intensif

Kemampuan keluarga Tambunan untuk memaksimalkan program-program pembangunan yang berdampak nyata bagi masyarakat menjadi landasan keberhasilan mereka. Program seperti “Cerdas” di bidang pendidikan, “Ceria” untuk kesehatan, dan “GDSM” di infrastruktur membuktikan komitmen terhadap kebutuhan mendasar masyarakat.

Pendekatan intensif ini menekankan alokasi sumber daya yang optimal dan keberlanjutan program, sehingga dampaknya tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi juga memberikan manfaat sistemik dalam jangka panjang.

• Jejaring

Jejaring yang kuat menjadi pilar penting kepemimpinan keluarga Tambunan. Hubungan yang terbangun dengan berbagai pihak, baik di tingkat lokal, regional, hingga nasional, telah membuka peluang kolaborasi strategis yang mendukung pembangunan daerah.

Dalam masa kepemimpinan Amri Tambunan, misalnya, Deli Serdang berhasil mendapatkan berbagai penghargaan nasional berkat kemitraan dengan pemerintah pusat dan swasta dalam melaksanakan program-program unggulan.

• Ekosistem

Pembangunan ekosistem sosial, politik, dan ekonomi yang kondusif menjadi kunci menjaga stabilitas di Deli Serdang. Dinasti Tambunan berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung kerja sama lintas sektoral, memperkuat fondasi masyarakat yang inklusif, serta meningkatkan partisipasi aktif dalam pembangunan.

• Communication

Penguasaan komunikasi efektif yang inklusif menjadi elemen penting dalam kepemimpinan keluarga Tambunan. Pendekatan ini tercermin dalam gaya kepemimpinan yang terbuka terhadap dialog dengan masyarakat, baik melalui audiensi langsung maupun melalui program-program partisipatif.

• Kepemimpinan

Elemen kepemimpinan dalam MODEL IJECK menekankan gaya yang adaptif, transformasional, dan responsif. Keluarga Tambunan dikenal dengan kemampuan mereka untuk merespons kebutuhan masyarakat yang beragam secara cepat dan tepat, serta menginisiasi perubahan-perubahan yang relevan dengan dinamika lokal.

Masa Depan

“Deliserdang membutuhkan pemimpin yang memahami rakyatnya dan mampu membawa keharmonisan serta kemajuan di setiap sektor,” ungkap Ijeck, menunjukkan keyakinannya pada nilai-nilai yang dipegang keluarga Tambunan.

Dukungan keluarga besar terhadap dr. Asri Ludin Tambunan bukan hanya karena kesamaan visi dalam pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, tetapi juga didasari persahabatan dan kepercayaan yang telah terjalin lama.

Berdasarkan disertasi Ijeck, penulis menyimpulkan bahwa kepemimpinan keluarga Tambunan dibentuk melalui komunikasi efektif, kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat, dan komitmen kuat pada integritas. Dr. Asri Ludin Tambunan, dengan pengalaman dalam kegiatan sosial serta perannya sebagai dokter yang akrab dengan pendekatan humanis, dianggap sebagai figur potensial untuk menguatkan tradisi ini dan memberikan pelayanan yang lebih menyentuh hati masyarakat. (*/disadur dari waspada.id)

Penulis Dr. Rahman Tahir, S.E., M.I.P (Direktur Eksekutif Akhyar-Salman 2020 juga Sekretaris Ikatan Mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara) *(RI-1)*

]]>
Wed, 27 Nov 2024 06:52:37 +0800 amr
Gerakan Sosial Menyongsong Indonesia Emas 2045 https://amarmedia.co.id/gerakan-sosial-menyongsong-indonesia-emas-2045 https://amarmedia.co.id/gerakan-sosial-menyongsong-indonesia-emas-2045 Gerakan Sosial Menyongsong Indonesia Emas 2045

Oleh : Salamuddin Daeng

Mewujudkan Indonesia emas 2045 merupakan usaha bersama dalam kebersamaan bangsa Indonesia untuk mencapai suatu tingkat terbaik sebagaimana cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Cita-cita itu secara jelas tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945. Usaha mewujudkannya jelas melalui gerakan seluruh kekuatan bangsa. Sifat, bentuk dan susunan gerakannya adalah gerakan sosial Nasional seluruh bangsa Indonesia yang bertujuan kebangsaan dan berorientasi internasional. 

Koalisi Indonesia Maju secara progresif adalah koalisi dengan gerakan sosial secara nasional dan komunitas internasional atau bangsa-bangsa lain. Koalisi kecil dengan partai-partai politik se-visi maupun dengan negara lain niscaya terjadi sebagaimana yang telah dilakukan selama ini. Sudah saatnya di masa depan Indonesia ikut andil dalam mendukung gerakan sosial internasional baik dalam masalah - masalah fundamental maupun kontemporer seperti masalah lingkungan hidup, perubahan iklim, digitalisasi, transparansi keuangan, masyarakat yang inklusif dan lain sebagainya.

Mengingat pijakan dari Indonesia emas adalah kedaulatan secara politik, kemandirian secara ekonomi dan berkepribadian kebangsaan Indonesia, masing - masing memiliki makna bahwa bangsa Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri dalam segala bidang, lepas dari segala bentuk ketergantungan dalam bidang ekonomi, dan memiliki kepribadian kebangsaan sebagai manifestasi dari sejarah perkembangan masyarakat yang membentuk kebudayaan bangsa.

Seluruh usaha mencapai Indonesia emas tidak dapat dipisahkan dari gerakan sosial. Sebagaimana sejarah perjuangan kemerdekaan sejatinya adalah gerakan sosial yang didefinisikan sebagai usaha bersama dari seluruh elemen bangsa, suku, agama, etnis, dan berbagai golongan dalam masyarakat, untuk melepaskan diri dari penjajahan menjadi bangsa Indonesia yang merdeka. 

Menghadapi penjajahan dengan segala bentuk dan manifestasinya mendorong gerakan Indonesia merdeka sebagai gerakan internasional untuk bersama bangsa lain yang senasib untuk saling tolong menolong, saling membantu dan saling mendukung untuk pencapaian yang lebih baik dari waktu ke waktu. Hal ini sekaligus merupakan pelaksanaan dari alinea pertama UUD 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. 

Visi ini oleh para pemimpin Indonesia bersama pemimpin negara-negara lainnya dimanifestasikan dalam gerakan Asia Afrika, yakni suatu kerjasama antara bangsa-bangsa senasib untuk membebaskan dirinya dari penjajahan dan mencapai suatu tingkat kemerdekaan yang semakin baik. Ini bukan suatu gerakan bersama antara pemerintahan semua negara semata, namun lebih merupakan gerakan persatuan bangsa-bangsa yang juga berarti secara lebih mendalam adalah gerakan sosial berbagai bangsa tersebut.  

Selain bangsa - bangsa yang telah mendeka secara formal bergabung dalam Asia Afrika Movement, namun juga ada kelompok gerakan masyarakat dari negara yang belum berdiri atau belum merdeka ikut bergabung. Ini yang memberi ciri lebih kuat lagi bahwa Asia Afrika Movement bukan semata mata gerakan pemerintahan dari negara-negara, namun merupakan gerakan sosial rakyat sedunia. 

Dengan demikian maka usaha mencapai Indonesia emas 2045 harus melibatkan dukungan dan partisipasi internasional baik dari negara-negara yang memiliki visi yang sama dengan Indonesia maupun dari komunitas global yang memperjuangkan kepentingan komunitasnya di berbagai tempat di dunia. Pada sisi yang lain Indonesia juga dituntut berkontribusi terhadap komunitas global yang tengah memperjuangkan nasibnya dan nasib bangsanya dari tekanan penjajahan, domiansi dan ekploitasi imperialistik. 

Dewasa ini dunia tengah dilanda banyak sekali masalah akibat kapitalisme dan imperialisme. Mulai dari eksploitasi alam secara membabi buta, eksploitasi manusia yang bertentangan dengan nilai-nilai universal, serangan dan diskriminasi rasial, hingga agresi terhadap negara lain. Semua menuntut peran negara Indonesia melalui solidaritas internasional dengan seluruh gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Demikian juga gerakan sosial Indonesia juga dapat menjalankan tugas sejarahnya mengambil tempat dalam solidaritas internasional tersebut. 

Usaha mencapai Indonesia emas bukan hanya semata-mata mencapai suatu kondisi material tertentu, memperoleh hal hal kebendaan tertentu, atau mendirikan bangunan - bangunan mercusuar tertentu, akan tetapi tercapai cita-cita pembukaan UUD 1945 secara nyata dan menyeluruh baik secara politik, ekonomi, kebudayaan. Pencapaian tersebut adalah pencapaian yang bersifat nasional dan internasional. Pencapaian tersebut adalah pencapaian yang bersifat material dan spiritual. Itulah wujud emas yang berkilau yang memberi cahaya baru pada dunia. (AM)

]]>
Sun, 03 Nov 2024 09:25:45 +0800 amr
Abdul Rafiq: Sang Pelindung Rakyat ala Minotaur di Sumbawa https://amarmedia.co.id/abdul-rafiq-sang-pelindung-rakyat-ala-minotaur-di-sumbawa https://amarmedia.co.id/abdul-rafiq-sang-pelindung-rakyat-ala-minotaur-di-sumbawa

Foto Abdul Rafiq SH bersama rakyatnya di Sumbawa 

Abdul Rafiq: Kepemimpinan Tangguh Ala Minotaur di Sumbawa

By: Pejuang Rafiq Sahril

Dalam dunia politik, pemimpin seringkali digambarkan seperti sosok pahlawan, dan jika diibaratkan dalam game Mobile Legends, sosok Minotaur sebagai hero tank bisa menjadi inspirasi bagi pemimpin kuat dan tangguh. Minotaur, yang dikenal sebagai pelindung timnya, bisa kita sandingkan dengan figur Abdul Rafiq, calon bupati Sumbawa, yang memiliki peran besar dalam melindungi dan membawa perubahan bagi masyarakat. 

Pelindung Tim vs Pelindung Rakyat

Di dalam game, Minotaur adalah hero yang berdiri paling depan, menghadapi semua serangan musuh demi melindungi temannya. Tugasnya jelas, menerima semua damage agar rekan satu tim bisa bertarung dengan aman dan memberikan serangan balik. 

Seperti Minotaur, Abdul Rafiq berperan sebagai pelindung, bukan hanya untuk kelompok kecil, tapi untuk seluruh masyarakat Sumbawa. Program dan kebijakan yang ia canangkan bertujuan untuk memastikan rakyat terlindungi dari berbagai ancaman, baik dari ketidakadilan ekonomi, sosial, maupun dari permasalahan infrastruktur. Di bawah kepemimpinan Rafiq, rakyat akan memiliki perisai yang kuat menghadapi segala tantangan.

Bangkit dari Kegagalan

Minotaur dalam ceritanya pernah mengalami kekalahan, dan meski sempat merasa down, dia tak pernah menyerah. Sebaliknya, Minotaur memilih untuk berlatih lebih keras, memperkuat diri, dan kembali bangkit menjadi sosok tak terkalahkan di medan perang. 

Abdul Rafiq juga tidak asing dengan rintangan dan tantangan dalam perjalanan karir politiknya. Namun, seperti Minotaur, dia memilih untuk tidak menyerah. Setiap tantangan justru membuatnya semakin solid dan fokus untuk membawa perubahan positif bagi Sumbawa. Rafiq siap bangkit, menghadapi kesulitan, dan melakukan "fight back" demi kemajuan Sumbawa yang lebih baik.

Kekuatan di Saat yang Tepat

Salah satu kemampuan Minotaur yang sangat dihargai di game adalah kemampuannya untuk tidak sembarangan mengeluarkan kekuatan penuh. Ia menunggu momen yang tepat, mengisi Rage-nya, lalu melepaskan serangan maksimal yang bisa membalikkan keadaan dalam sekejap.

Begitu juga dengan Abdul Rafiq. Ia selalu mengambil langkah-langkah strategis, tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan penting. Setiap tindakan didasari oleh analisis yang matang, memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar membawa dampak positif bagi Sumbawa. Rafiq tahu kapan harus bergerak, kapan harus menunggu, dan kapan harus mengambil tindakan besar yang mengubah arah pembangunan di Sumbawa.

Kerjasama Tim = Kunci Sukses

Dalam game, Minotaur adalah hero yang sangat mengandalkan kerja sama tim. Meskipun kuat, ia tidak bisa memenangkan pertandingan sendirian. Dibutuhkan dukungan dan kolaborasi dari anggota tim lainnya untuk mencapai kemenangan.

Abdul Rafiq juga memahami betul pentingnya kolaborasi. Sebagai calon bupati, ia tak hanya mengandalkan dirinya sendiri, tetapi juga bekerja sama dengan masyarakat, tokoh adat, dan para pemangku kepentingan lainnya. Bersama-sama, Rafiq ingin mewujudkan visi besar untuk Sumbawa. Dalam politik, kemenangan sejati datang dari **teamwork**, bukan dari ambisi pribadi.

Simbol Kekuatan yang Terkendali

Meskipun terlihat kuat dan ganas, Minotaur tidak sembarangan bergerak. Ia mengatur waktu, menjaga strategi, dan tahu kapan harus menyerang atau bertahan. Kekuatan besar yang ia miliki selalu terkendali dan digunakan dengan bijak.

Hal ini juga mencerminkan kepemimpinan Abdul Rafiq. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik bukan hanya soal seberapa tegas seseorang, tetapi juga seberapa cerdas dan tepat dalam menggunakan kekuasaan. Rafiq tidak tergesa-gesa dalam mengambil tindakan, tetapi selalu mempertimbangkan dampaknya bagi rakyat Sumbawa. Kepemimpinannya tetap fokus, terarah, dan menjaga keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan.

Seperti Minotaur yang menjadi pelindung timnya di medan pertempuran, Abdul Rafiq adalah sosok yang akan melindungi dan memajukan masyarakat Sumbawa. Melalui strategi yang matang, kekuatan yang terkendali, serta kolaborasi yang solid, Rafiq siap membawa Sumbawa menuju masa depan yang lebih baik. Pemimpin sejati adalah mereka yang bisa menempatkan diri di garis depan untuk melindungi rakyatnya dari berbagai tantangan, dan Abdul Rafiq adalah sosok pemimpin seperti itu, pelindung yang siap menghadapi segala rintangan untuk kesejahteraan bersama.(*)

]]>
Sun, 13 Oct 2024 06:10:10 +0800 amr
TGB PILIH SAUDARA ATAU SAHABAT? (Masa Nggak Paham!) https://amarmedia.co.id/tgb-pilih-saudara-atau-sahabat-masa-nggak-paham https://amarmedia.co.id/tgb-pilih-saudara-atau-sahabat-masa-nggak-paham TGB PILIH SAUDARA ATAU SAHABAT?

(Masa Nggak Paham!)

Oleh: Muallif Majhul

Memang seni politik itu makin menarik, manakala ada sedikit "kebimbangan" sebab kualitas calon yang sama-sama hebat, atau karena "arah pilihan" guru/panutan yang "belum diterima" hati kecil kita sebagai pemilik hak suara.

Hemat saya, dalam suasana batin seperti ini (saya rasa) yang sedang dialami oleh teman-teman di NWDI (tidak semua sih, karena jauh lebih banyak yang sudah yakin pilih Jilbab Ijo), atau minimal saya pribadi yang merasa demikian karena disebabkan sangat memanuti kehendak guru, Syekh TGB.

Memang secara struktural ketiga Calon Gubernur NTB ini adalah tokoh hebat di NWDI. Umi Rohmi Ketum PP. Muslimat, Dr. Zul (akrab disapa DZ) Ketua Dewan Pakar, dan Mamiq Iqbal Ketua IV tingkat PB. Syekh TGB pada posisi ini sudah bijaksana untuk harus "bermain" (berposisi) cantik. Kita yang jamaah, masa nggak paham!

Oke, kalau begitu coba sejenak kita menimang dan menimbang kekuatan magnet calon, khususnya Cagub Umi Rohmi (sebagai saudara) dan Cagub DZ (selaku sahabat) Syekh TGB. Mengapa Umi diperhadapkan hanya sama DZ? Karena Mamiq Iqbal mampu mandiri, sementara yang satu ini tak sanggup berdiri sendiri. Hiii...

Karena itu, menarik kalau sejenak kita menimbang-nimbang sejauh mana kekuatan tarikan (simpati) Syekh TGB ke salah satu Cagub (Umi Rohmi dan Bang DZ) sebab persaudaraan dan sebab persahabatan.

Kuatnya Sisi Persaudaraan

1.Syekh TGB sebagai tokoh agama, ahli tafsir, dan kelas intelektualnya sudah mendunia. Ketokohannya di bidang agama di level nasional sudah biasa sepanggung bersama Prof. Quraish Shihab bahkan Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Thayyib. Apa dengan kealiman beliau ini sampai hati akan meninggalkan saudara? *Tidak mungkin!*

2. Syekh TGB, kata dan sikapnya di bidang politik sudah menjadi rujukan di tingkat nasional, dan pendapatnya memiliki hentakan hebat juga, sama seperti hentakan tokoh-tokoh nasional sekaliber KH. Said Aqil Siradj, Prof. KH. Haidar Nasir, dan Prof. Din Syamsuddin yang kebetulan "seringkali memberi sinyal pilihan politik".

Apakah ketokohan Syekh TGB sehebat ini masih diragukan akan tidak bisa bermain cantik berupa; *_"Boleh saja mensupport sahabat, tapi hati dan pilihan tetap saudara. Kalau bukan saudara siapa lagi?"

3. Dari tiga Cagub NTB ini, Syekh TGB punya satu calon yang beliau seayah-seibu, sesama saudara kandung, teman ia pernah merasakan pahit manis - sepiring, serumah dan seperjuangan. Apa _muungkiiin_ masih sampai hati beliau membiarkan saudara? Sementara realitanya pun, Zuriat Maulana di Pancor _alhamdulillah_ masih tetap bersatu selama ini.

"Masa nggak paham-paham!"Kata Syekh TGB di Mandalika.

Plus-Minus Sisi Persabahatan

1.Rupanya yang paling diandalkan Pak DZ dari Syekh TGB adalah "kedekatannya" sebagai sesama sahabat. Yang kebetulan ceritanya, diklaim sedari keduanya masih satu gedung di Senayan. Kedekatan semacam "politis".

Berarti TGB akan mengkhianati teman yang dibangun atas dasar politis? Tidak begitu juga sih, tapi saya yakin tidak akan digadai persaudaraannya atas persahabatan yang dibangun atas pondasi itu.

2. Kalau pun kita mengiyakan persahabatan Pak DZ dengan Syekh TGB yang dekat, tapi dari sisi manfaat, siapa yang diuntungkan selama ini? Bukankah Dr. Zul yang diamanahi sebagai Gubernur NTB satu periode, sejauh mana ia mengeksekusi kebijakan-kebijakan warisan TGB yang punya geliat hebat.

Di mana cerita Pariwisata Halal dan keberlanjutan pembangunan Islamic Center?

Di mana suara nyaring Program Bumi Sejuta Sapi (BSS) dan program lainnya?

Dalam konteks ini, saya yakin Syekh TGB akan berpikir ulang untuk menambatkan pilihannya ke Pak DZ, terlebih dari tiga kontestan masih ada saudaranya sendiri, saya yakin beliau pilih kakak kandungnya.

Demikian kira-kira timbang-menimbang arah pilihan Syekh TGB, yang boleh jadi dibilang subjektif, tapi inilah sedikit alasan yang saya rasa logis. Bukankah saudara nomor satu dan sahabat nomor dua?

"Masa nggak paham-paham!"  Kata Syekh TGB di Mandalika.

Simpulan. Dari Syekh TGB kita belajar seni politik. Junjung saudara tanpa menginjak kaki sahabat!

Wa Allah A'lam!

]]>
Tue, 01 Oct 2024 09:48:01 +0800 amr
Negara Harus Hadir: Monopoli BBL, Merugikan Keuangan Negara https://amarmedia.co.id/negara-harus-hadir-monopoli-bbl-merugikan-keuangan-negara https://amarmedia.co.id/negara-harus-hadir-monopoli-bbl-merugikan-keuangan-negara Negara Harus Hadir: Monopoli BBL, Merugikan Keuangan Negara

Penulis: Hasan Gauk, Ketua Umum Serikat Nelayan Independen

Lombok, NTB - Bicara soal masyarakat nelayan di negeri ini tidak akan pernah tuntas. Persoalannya karena terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak mafianya. 

Masyarakat nelayan sekarang diperbolehkan melakukan penangkapan benih bening lobster. Permen KP Nomor 7 tahun 2024, lalu informasi berseliweran di media bahwa, nelayan Pembudidaya menolak keran ekspor benih bening lobster kembali dibuka. Persoalan itu muncul karena ada rasa ketakutan yang akan terjadi yaitu kelangkaan bibit untuk teman-teman pembudidaya. Begitu infonya yang berseliweran.

Sementara transfer perkembangan informasi tentang proses budidaya dan ekspor BBL tidak pernah sampai ke masyarakat pembudidaya. Padahal ini persoalan serius. 

Sementara bunyi pasal 19 ayat 2 dari Permen 7 tahun 2024 bahwa "Setiap orang dilarang menangkap Lobster (Panulirus SPP) di atas ukuran BBL sampai dengan ukuran 150 gram untuk Lobster pasir sampai 200 gram untuk Lobster jenis lainnya". 

"Setiap orang yang dengan sengaja di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI) melakukan usaha perikanan yang tidak memiliki perizinan berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000 (satu miliar lima ratus juta rupiah)." 

Apakah persoalan ini diketahui oleh masyarakat nelayan pembudidaya?. Saya rasa 99% mereka tidak mengetahuinya. Karena yang terjadi di nelayan pembudidaya, mereka lebih banyak menebar bibit dari ukuran bibit Jarong, Jangkrik, JK, untuk memangkas waktu pemeliharaan, panen bisa 5/7 bulan. Sementara, kalau bibit dari ukuran bening, mereka akan pelihara sampai 10/12 bulan. Bicara soal pasal di atas, tentu mereka bisa kena pidana karena telah melanggar aturan hukum. 

Misalnya di Kabupaten Lombok Timur ada Keramba Jaring Apung dengan jumlah lubang sekitar 8. 672. Kalau dirata-rata kebutuhan bibitnya berkisar 876.200 ekor/tahun. Ini jumlah yang sangat sedikit. Teman-teman koperasi bisa memenuhi kebutuhan paling lama 1 Minggu, apalagi saat bibit lagi naik-naiknya. Jadi soal informasi kelangkaan bibit yang dikarenakan kembalinya ekspor benih bening lobster ini bisa dikatakan hoax. 

Persoalannya bukan pada kelangkaan benih bening lobster yang selama ini selalu disuarakan, ini lebih ke soal negara tidak hadir pada masyarakat pembudidaya. 

Seharusnya negara lewat BLU, BUMD, Balai Perikanan misalnya menyediakan bibit siap tebar untuk nelayan pembudidaya, dengan harga yang cukup terjangkau, syukur-syukur bisa gratis. 

Harapan saya, aturan ini harus segera dibenahi, jangan sedikit - sedikit rakyat mau dipenjara, juga soal pembenahan tata niaga benih bening lobster, jangan sampai orang - orang yang sudah taubat, yang dulu pernah di jalan sesat dengan melakukan pengiriman secara black market ini kembali pada jalur yang salah. Pasar bebas, informasi harga dari negara tujuan kita tahu.

"Janganlah menindas rakyat dengan harga yang begitu murah, dan cara penanganan BBL yang dikirim dari daerah ke BLU tidak baik. Beberapa kejadian, ada banyak kematian yang berakibat koperasi rugi."

Negara harus hadir, kalau mau memberikan kesejahteraan pada masyarakat nelayan, biarkan koperasi kirim langsung benih bening lobster ke negara tujuan, PNBP bisa negara dapatkan jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan hari ini. Bahkan koperasi siap memberikan Rp 10.000 untuk PNBP. 

Sementara hari ini, Negara hanya mendapatkan Rp 3000/4000 dari perusahaan perusahaan Joint Venture. Kurang loyal apa rakyat kepada negara kalau mau memberikan keuntungan yang jauh lebih besar.

Dalam surat terbuka Hasan Gauk sebagai Ketua Serikat Nelayan Independen (SNI) pada tanggal 03 September 2024, surat tersebut di tujukan kepada Presiden Jokowi dan Presiden terpilih Prabowo Subianto, bahwa melihat kejanggalan yang dilakukan perusahaan dalam melakukan kedok budidaya luar negeri yang ditunjuk oleh KKP RI terkait implementasi Permen 7 tahun 2024, maka kami mendesak melakukan audit kepada perusahaan dan kementerian yang ditujukan dalam melakukan budidaya, baik di dalam dan luar negeri. 

"Ada monopoli besar-besaran yang dilakukan Perusahaan dan tentu ini sangat merugikan masyarakat nelayan."

"Kami meminta agar KPK dan Kejaksaan Agung untuk melakukan pemeriksaan kepada seluruh Perusahaan yang ditunjuk, mengingat, ada kuota sekitar 493 juta benih bening Lobster, berapa persen yang sudah disetorkan ke Negara. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)."

"Permen KP 7 tahun 2024 ini mumpung masih hitungan bulan, tata kelola penanganan Benih Bening Lobster (BBL) harus segera diperbaiki, harus dilakukan pembenahan besar-besaran, baik di KKP, perusahaan, dan BLU. Tangkap dan adili oknum-oknum yang terlibat di dalamnya."

Masalah kebohongan budidaya. Banyak orang Vietnam berkeliaran di Indonesia dengan dalih melakukan budidaya, kami (SNI) sudah melakukan pemeriksaan di wilayah Rhee--Sumbawa, tidak ada alih teknologi yang sering digaungkan.

Kalau melihat mekanisme proses Budidaya yang dilakukan orang Vietnam di wilayah Rhee itu, tidak jauh berbeda dengan proses budidaya yang dilakukan orang Indonesia, bahkan, jauh lebih hebat. Lalu apa yang dibanggakan selama ini terkait keberhasilan budidaya di Vietnam?. Tak lain hanya jalur akses yang lebih dekat dengan negara penerima hasil budidaya. 

Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) akan maksimal jika perusahaan tidak di libatkan, biarlah Koperasi yang melakukan pengiriman secara langsung ke negara penerima, tinggal dihitung berapa Benih Bening Lobster atau Surat Keterangan Asal Barang (SKAB) yang dikeluarkan dinas kelautan - perikanan. Negara, lewat pengawasan yang ketat tentu akan mendapatkan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan yang diberikan Perusahaan selama proses Permen KP 7 tahun 2024 ini berlangsung. 

Kami Serikat Nelayan Independen (SNI) mendukung ekspor Benih Bening Lobster, selain untuk kesejahteraan masyarakat pesisir, juga untuk menambah pendapatan Negara.

Kerugian negara dalam 4 bulan terakhir ini sudah sangat besar, mengingat kenyataannya, PNBP yang dijanjikan tidak dapat mencapai target. Informasi yang kami dapatkan, ada 2,7 juta ekor Benih Bening Lobster. 

Pengiriman dari koperasi (daerah) ke BLU BPBAP Sitobondo dibawah Ditjen Perikanan Budidaya dan Ditjen Perikanan Tangkap KKP RI yang berkisar antara 50,000--300,000 ekor perhari. Dari data yang diperoleh, hanya 60% yang dikirim secara resmi oleh BLU BPBAP Sitobondo dibawah Ditjen Perikanan Budidaya dan Ditjen Perikanan Tangkap KKP RI, sisanya diselundupkan secara ilegal, tentu ini ada dugaan keterlibatan oknum perusahaan Joint Venture dan BLU. 

Ada beberapa kejanggalan yang kami temukan di daerah, misalnya, salah satu JV atau perusahaan langsung turun ke nelayan untuk melakukan pembelanjaan, sementara yang memiliki wewenang dalam peraturan Permen 7 tahun 2024 ini adalah BLU. 

Beberapa pengaduan terkait proses pengadaan benih bening lobster yang merujuk pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 7 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus Spp), Kepiting (Scylla spp) dan Rajungan (Portunus spp).

Dalam proses pengadaan Benih Bening Lobster Badan layanan Umum Situbondo harus memiliki Standart Operasional Prosedur (SOP) dan Petunjuk Teknis terkait Penanganan Barang Benih Bening lobster mulai dari penerimaan barang oleh koperasi sampai terbitnya berita acara penghitungan Benih Bening Lobster Oleh BLU.

Monopoli harga yang dilakukan JV pada saat pembelian BBL. Masalah harga yang tidak seragam dari berbagai wilayah. Ini salah satu bentuk monopoli harga. 

Kami akan laporkan dugaan Korupsi yang dilakukan, perusahaan dan BLU ke penegak hukum. Ganti Mentri Kelautan jika dia tidak becus mengelola laut. [AM]

]]>
Mon, 16 Sep 2024 18:54:04 +0800 Maruf
Dewan Guru Besar UI Menyikapi Kegentingan Situasi Negara https://amarmedia.co.id/dewan-guru-besar-ui-menyikapi-kegentingan-situasi-negara https://amarmedia.co.id/dewan-guru-besar-ui-menyikapi-kegentingan-situasi-negara Opini ; 

Dewan Guru Besar UI Menyikapi Kegentingan

Situasi Negara 

Jakarta.Amarmedia.co.id -  Telah sampai kepada meja redaksi sebuah Press Release Sivitas Akademika Universitas Indonesia tanggal 22 Agustus 2024. 

Diterangkan bahwa Menyikapi kegentingan situasi negara dalam dua hari terakhir ini, dengan penuh keprihatinan dan kesesakan yang mendalam, Dewan Guru Besar Universitas Indonesia (DGB UI) menilai bahwa tengah terjadi Krisis Konstitusi di Negara Kesatuan Republik Indonesia akibat dari pembangkangan Dewan Perwakilan Rakyat R.I. yang secara arogan dan vulgar telah mempertontonkan pengkhianatan mereka terhadap konstitusi. 

Akibatnya, Indonesia kini berada di dalam bahaya otoritarianisme yang seakan mengembalikan Indonesia ke era kolonialisme dan penindasan. Tingkah-polah tercela yang diperlihatkan para anggota DPR itu, tak lain dan tak bukan merupakan perwujudan kolusi dan nepotisme, yang pada 1998 telah dilawan dengan keras oleh aksi massa dan mahasiswa sehingga melahirkan Reformasi. Mari kita cermati bersama bahwa:

1. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat bagi semua, termasuk semua lembaga negara.

2. Pembahasan revisi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah dengan mengabaikan putusan MK No. 60/PUU-XXII/2024 dan No.70/PUU-XXII/2024 sehari setelah diputuskan, nyata-nyata DPR sangat menciderai sikap kenegarawanan yang dituntut dari para wakil rakyat.

3. Tidak ada dasar filosofis, yuridis, maupun sosiologis yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengubah persyaratan usia calon kepala daerah termasuk besaran kursi parpol melalui revisi UU Pemilihan Kepala Daerah.

4. Perubahan-perubahan tersebut berpotensi menimbulkan sengketa antar lembaga negara seperti Mahkamah Konstitusi versus DPR sehingga kelak hasil pilkada justru akan merugikan seluruh elemen masyarakat karena bersifat kontraproduktif dan akan menimbulkan kerusakan kehidupan bernegara.

5. Konsekuensi yang tak terelakkan adalah runtuhnya kewibawaan negara, lembaga-lembaga negara, dan hukum akan merosot ke titik nadir bersamaan dengan runtuhnya kepercayaan Masyarakat.

Kami tersentak dan geram karena sikap dan tindak laku para pejabat baik di tataran eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yang sangat arogan dan nyata-nyata mengingkari sumpah jabatan mereka. Kami sangat prihatin dan cemas akan masa depan demokrasi yang akan menghancurkan bangsa ini. Kini, para anggota Dewan yang semestinya mengawal dan menjamin keberlangsungan Reformasi justru telah berkhianat dengan menolak mematuhi putusan Mahkamah Konstitusi yang dikeluarkan untuk menjaga demokrasi di negeri ini.

Kondisi saat ini merupakan Kondisi Genting, sehingga kami perlu menyikapi kegentingan tersebut dengan menghimbau semua lembaga negara terkait untuk:

1. Menghentikan revisi UU Pilkada

2. Bertindak arif, adil, dan bijaksana dengan menjunjung nilai-nilai kenegarawanan 

3. Meminta KPU segera melaksanakan putusan MK No. 60 dan No. 70 tahun 2024 demi terwujudnya kedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila.

Negara harus didukung penuh agar tetap tegar dan kuat dalam menjalankan konstitusi sesuai dengan perundang- undangan, serta mengingatkan secara tegas bahwa kedaulatan rakyat adalah berdasarkan pancasila

Depok, 22 Agustus 2024

Menyetujui

1. Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., Ph.D.

2. Prof. Dr. drg. Indang Trihandini, M.Kes

3. Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD-Kger, M.Epid, FINASIM

4. Prof. Dr. Jenny Bashiruddin, Sp.THT-L(K)

5. Prof. dr. Budi Sampurna, Sp.F(K). S.H.

6. Prof. Dr. dr. Achmad Fauzi Kamal, Sp.OT(K)

7. Prof. Dr. dr. Ismail, Sp.OT(K)

8. Prof. Anton Rahardjo, drg, MS.c.(PH), PhD

9. Prof. Dr. Sarworini B. Budiardjo, drg. Sp.KGA(K)

10. Prof. Dr. Hanna Bachtiar, drg. Sp.RKG(K)

11. Prof. Dr. Decky Joesiana Indriani, drg., M.DSc.

12. Prof. Risqa Rina Darwita, drg. Ph.D.

13. Prof. Dr. Sumi Hudiyono PWS 

14. Prof. Dr. Titin Siswantining, DEA

15. Prof. Dr. Azwar Manaf, M.Met.

16. Prof. Dr. Ivandini Tribidasari Anggraningrum, S.Si., M.Si.

17. Prof. Dr. rer. nat. Terry Mart

18. Prof. Ir. Yulianto S. Nugroho, M.Sc., Ph.D. 

19. Prof. Ir. Isti Surjandari Prajitno, M.T., M.A., Ph.D.

20. Prof. Dr. -Ing. Nandy Setiadi Djaya Putra

21. Prof. Dr. Ing. Ir. Nasruddin, M.Eng

22. Prof. Dr. Dra. Sulistyowati Suwarno, M.A.

23. Prof. Ir. Ruslan Prijadi, M.B.A., Ph.D.

24. Prof. Dr. Lindawati Gani, S.E., Ak., M.B.A, M.M., CA., FCMA., CGMA., FCPA(Aust.)

25. Prof. Ratna Wardhani, S.E., M.Si., CA., CSRS., CSRA.

26. Prof. Dr. Sylvia Veronica Nalurita Purnama Siregar, S.E.

27. Prof. Dr. Multamia Retno Mayekti Tawangsih Lauder, S.S., Msc., DEA

28. Prof. Dr. Agus Aris Munandar, M.Hum.

29. Prof. Muhammad Luthfi, Ph.D. 

30. Prof. Dr. Maman Lesmana

31. Prof. Dr. Mirra Noor Milla, S.Sos., M.Si.

32. Prof. Dr. Frieda Maryam Mangunsong Siahaan, M.Ed., Psikolog

33. Prof. Farida Kurniawati, S.Psi., M.Sp.Ed., Ph.D., Psikolog

34. Prof. Dr. Ali Nina Liche Seniati, M.Si., Psikolog

35. Prof. Drs. Adrianus E Meliala, M.Si., M.Sc., Ph.D.

36. Prof. Dr. Donna Asteria, S.Sos., M.Hum.

37. Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc.

38. Prof. Dr. Valina Singka Subekti, M.Si.

39. Prof. drg. Nurhayati Adnan, M.P.H., M.Sc., Sc.D.

40. Prof. dra. Fatma Lestari, M.Si, Ph.D.

41. Prof. Dr. dra. Evi Martha, M.Kes.

42. Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc. 

43. Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, S.T., M.Kom.

44. Prof. Dr. Indra Budi, S.Kom., M.Kom.

45. Prof. Achir Yani S. Hamid, MN., DN., Sc.

46. Prof. Dra. Setyowati, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D.

47. Prof. Dr. Krisna Yetti, S.Kp., M.App.Sc.

48. Prof. Dr. Rr. Tutik Sri Hariyati, S.Kp, MARS 

49. Prof. Yeni Rustina, S.Kp. M.App.Sc., Ph.D.

50. Prof. Dr. Hayun, M.Si., Apt.

51. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S., Apt.

52. Prof. Dr. Retnosari Andrajati, M.S., Apt.

53. Prof. Dr. Berna Elya, M.Si., Apt.

54. Prof. Dr. Abdul Mun’im, M.Si., Apt.

55. Prof. Dr. Irfan Ridwan Maksum, M.Si. 

56. Prof. Dr. Martani Huseini

57. Prof. Dr. Manneke Budiman

58. Prof. Dr. Rosali Saleh

59. Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi 

60. Prof. Dr. dr. Zulkifli Amin

61. Prof. Dr. dr.Yoga

62. Prof. Dr. dr. Erlina Burhan

63. Prof. Dr. dr. Saleha Sunkar

64. Prof. Dr. dr. Yeva Rosana

65. Prof. Dr.dr. Dyah Purnamasari

66. Prof.Dr.dr. Akmal Taher

67. Prof. Dr. Hamdi Muluk

68. Prof. Dr. Francisia Seda 

69. Prof. Dr. Yunita. T. Winarto

70. Prof. Dr. Melani Budianta

71. Prof. Dr. Mayling-Oey Gardiner

72. Prof. Dr. Riris Sarumpaet

73. Prof. Dr. Fitra Arsil

74. Prof. Dr. Andri Gunawan

75. Prof.Dr. Evi Fitriani

76. Prof. Dr. Anhari

77. Prof.Dr. Ratu Ayu Dewi Sartika

78. Prof. Dr. Amy Yayuk Sri Rahayu

79. Prof. Dr. Yetty Komalasari Dewi

80. Prof.Dr. Sudigdo Sastroasmoro

81. Prof. Dr. Muchtaruddin Mansyur

82. Prof. Dr. Ine Minara

83. Prof. Dr. Susie. B. Hirawan

84. Prof. Dr, Bambang Budi Siswanto

85. Prof. Dr. Martina Wiwie

86. Prof. Dr. Anto Sulaksono

87. Prof Dr. Zuherman Rustam

88. Prof. Dr. Retno Wahyuningsih

89. Prof. Dr. Abdul Azis Rani

90. Prof. Dr. Ikhwan Rinaldi

91. Prof. Dr. Vivi Fauzia

92. Prof. Dr. Helmiyanti

93. Prof. Dr. Teguh Kurniawan

94. Prof. Dr. Noyorono

95. Prof. Dr. Imam Subekti

96. Prof. Dr. Evie Yunihastuti

97. Prof. Dr. Teguh Kurniawan

98. Prof. Dr.dr, Samsuridjal Dauzi

99. Prof. Dr. Toar Lalisang

100. Prof. Dr. Muhammad Anis

101. Prof. Dr. Budi Utomo

102. Prof. Dr. Amal C Syaaf

103. Prof. Dr. Sandra Fikawati

104. Prof. Dr. Meily Kurniawidjaya

105. Prof. Dr. Agus Sarjono

106. Prof.Dr. Ridla Bakri

107. Prof.Dr. Abinawanto

108. Prof. Dr. Bambang Soegijono

109. Prof. Dr. Wibowo Mangunwardoyo

110. Prof. Dr. Corina Riantoputra

111. Prof. Dr. Yuni Krisnandi

112. Prof. Dr. R.Tuti Nur Mutia

113. Prof.Dr. Ratna Sitompul

114. Prof. Dr. Ratna Dwirestuti

115. Prof. Dr. Diantha Soemantri

116. Prof. Dr. Septilia Wanandi

117. Prof. Dr. Ardhi Findiartini

118. Prof. Dr. Djoko Widodo

119. Prof. Dr. Idrus Alwi

120. Prof. Dr. Titik Pudjiastuti

]]>
Thu, 22 Aug 2024 13:44:10 +0800 Maruf
Dari Diskusi Kaukus Diaspora Sumbawa: Pilkada NTB Kering Ide & Gagasan. Rakyat Hanya Diajak Hore&hore https://amarmedia.co.id/dari-diskusi-kaukus-diaspora-sumbawa-pilkada-ntb-kering-ide-gagasan-rakyat-hanya-diajak-hore-hore https://amarmedia.co.id/dari-diskusi-kaukus-diaspora-sumbawa-pilkada-ntb-kering-ide-gagasan-rakyat-hanya-diajak-hore-hore Dari Diskusi Kaukus Diaspora Sumbawa:Pilkada NTB Kering Ide & Gagasan. Rakyat Hanya Diajak Hore-hore

Oleh :  Madha Gandi

Pilkada NTB kering ide dan gagasan. Hanya rutinitas politik lima tahunan. Tidak menyelesaikan masalah fundamental. Rakyat hanya diajak tepuk tangan dan hore2. Persoalan ketimpangan pembangunan antara P. Sumbawa dan P. Lombok kenyataan yang tak terbantahkan. Ironis PDRB NTB justru ditopang dari tambang dan pertanian di P. Sumbawa. 

Demikian benang merah dari diskusi Kaukus Diaspora Sumbawa pada akhir Minggu pertama Agustus 2024. Melihat kenyataan tersebut dapat dipahami keinginan masyarakat menjadi Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) akan terus menguat. Sejauh ini para bakal calon Gubernur (bacagub) hanya sekadar tebar pesona, tidak jelas sejauh mana pemahamannya terhadap provinsi ini dan mau “ngapain?”. 

Menurut Diaspora, keterwakilan itu tidak sekadar basa-basi dengan menggandeng calon dari masing2 pulau. Lalu rakyat diajak tepuk tangan. Itu bukan masalah fundamental. Bagaimana mereka memahami ketimpangan psikologis daerah di samping ketimpangan pembangunan, di mana lumbung suara ada di P Lombok sementara lumbung asset /SDA dari P. Sumbawa. Kalau cuma hebat motto maka pasangan bacagub terkesan orang iseng. 

NTB terlalu lama berada dalam wilayah nyaman. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) disuplai dari tambang. Padahal baru ada satu tambang. Tidak lama lagi bertambah lebih dari dua atau tiga dengan skala besar belum lagi ukuran sedang. Pariwisata yang digadang2 menjadi tulang punggung masih jauh antara langit dan bumi. Sebab hanya berkontribsi 1,73% dari total PDRB. 

Dari Rp 166,3 Triliun PDRB NTB tahun 2023 (berdasarkan harga berlaku menurut BPS), sektor pariwisata baru berkontribusi kurang dari 2%. Pertanian posisi teratas dan kedua tambang. Luas Pulau Sumbawa dan potesi pertanian masih sangat luas 3 kali Pulau Lombok. tapi kenyataannya justru infrastruktur P. Sumbawa tertinggal dibanding P lombok.

PDRB NTB di antara provinsi lain di Indonesia dalam catatan kelompok diskusi ini masih berada di deretan urutan bawah bersama beberapa daerah terbelakang lain di Indonesia. Untuk naik ke satu level saja itu musti ada langkah2 yang luar biasa. Kalau masih dalam komposisi dan ketergantungan seperti ini, serta sebaran penduduk yang 75% di P. Lombok, maka nyaris mustahil bisa naik level. 

Dari perspektif penerimaan daerah dari dana bagi hasil (DBH) sumberdaya tambang, pertambangan di P. Sumbawa mensubsidi Provinsi dan Kab/Kota se NTB. Begitupun dengan keuntungan bersih perusahaan P. Sumbawa harus juga berbagi Provinsi, Kab/Kota se NTB. 

P. Sumbawa jangan dijadikan tempat pengurasan sumberdaya alam sementara masyarakat dan infrastrukturnya tetap tertinggal dan terbelakang. 

Maka salah satu langkah yang strategis adalah mempercepat pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) sehingga P Sumbawa akan fokus mengurus dirinya sendiri dari sumber daya alam yang melimpah, sementara P Lombok juga akan terus fokus menaikkan kontibusi pada sektor pariwisata. 

Namun diaspora juga mengingatkan persoalan baru akan terjadi eksodus, migrasi penduduk besar2an dari pulau Lombok bahkan dari Pulau lain menuju P Sumbawa. Keniscayaan di mana ada pertumbuhan ekonomi baru, akan menjadi tujuan masyarakat mencari penghidupan dan peluang. 

Hal ini perlu diantisipasi dengan peningkatan kapasitas dan intelektualitas masyarakat P. Sumbawa agar pembentukan DOB baru jangan malah memindahkan problem. Bukan menyelesaikannya. (MG)

]]>
Sat, 03 Aug 2024 08:46:47 +0800 Maruf
Deretan Fenomena Politik Bakal Terjadi di Pilkada Serentak NTB Berdasarkan Prediksi Mi6 https://amarmedia.co.id/deretan-fenomena-politik-bakal-terjadi-di-pilkada-serentak-ntb-berdasarkan-prediksi-mi6 https://amarmedia.co.id/deretan-fenomena-politik-bakal-terjadi-di-pilkada-serentak-ntb-berdasarkan-prediksi-mi6 Deretan Fenomena Politik Bakal Terjadi di Pilkada Serentak NTB Berdasarkan Prediksi Mi6

Mataram.Amarmedia.co.id– Pilkada serentak di NTB akan digelar pada November 2024 mendatang, namun berbagai fenomena baru mulai muncul di tahun politik saat ini yang jauh berbeda dengan Pilkada sebelumnya.

Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 memprediksi ada 10 fenomena yang bakal terjadi di tahun politik saat ini. 

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto mengatakan fenomena pertama adalah munculnya calon perempuan yang mendominasi di Pilkada provinsi dan kabupaten/kota.

Di tingkat Provinsi NTB ada kakak kandung TGB Zainul Majdi yakni Sitti Rohmi Djalillah. Kemudian ada Bupati Bima, Indah Dhamayanti Putri (Dinda). 

Begitu juga di Pilkada Lombok Barat yang memunculkan empat tokoh perempuan seperti Nurhidayah, Sumiatun, Khairatun dan Nurul Ahda.

Fenomena kedua adalah munculnya Cakada dari calon yang gagal terpilih di Pileg 2024 lalu.

“Pilkada serentak NTB 2024 memunculkan fenomena Cakada dari calon yang gagal terpilih dalam Pileg 2024, seperti Ruslan Turmuzi, HM Syamsul Luthfi, Karman BM, SJP, BJS dan lainnya,” kata Didu sapaan akrab Direktur Mi6, Senin, 29 Juli 2024.

Fenomena ketiga adalah Pilkada serentak NTB 2024 ditengarai memunculkan ketidakpastian dalm dukungan Parpol kepada Paslon. Parpol terkesan memainkan ritme/tempo untuk tidak memberikan kepastian dukungan, khususnya de jure kepada Paslon.

Keempat, Pilkada serentak NTB 2024 ditengarai fenomena kurang maraknya relawan bergerak secara masif. 

“Kalaupun ada hanya sebatas peran artifisial yang tidak beresonansi pada masifnya gerakan penggalangan,” ujarnya.

Fenomena kelima adalah Pilkada serentak NTB akan berpotensi terjadi pendekatan kepada votters lebih pragmatis dan taktis. Hal ini untuk mengukur kepastian dukungan di kalangan pemilih. 

“Belanja politik dan elektoral paslon membengkak dan sulit dikalkulasi/ unlimited,” ujar Didu.

Keenam, Pilkada NTB 2024 diwarnai oleh pertarungan mesin partai. Itu karena Pileg 2024 memberikan pelajaran berharga, bahwa mesin dan organ partai efektif mendulang simpati dan dukungan pemilih.

Selanjutnya, Pilkada serentak NTB diprediksi akan diwarnai oleh vote getter bukan dari tokoh-tokoh besar, melainkan dari kalangan biasa saja namun memiliki kemampuan meraih support/dukungan dari entitas/komunitas yang lebih kecil, misal kelompok hobi dan lainnya. Hal itu menjadi fenomena ke tujuh dalam catatan Mi6.

Sedangan untuk fenomena ke delapan, Pilkada serentak NTB 2024 juga akan diwarnai pemakaian teknologi digital yang lebih maju untuk membrading citra Paslon dari sisi yang unik dan menarik. 

“Misalnya gambar Paslon dalam bentuk kartun, artificial intelligence (AI) dan teknologi lainnya,” kata Didu.

Sembilan, Pilkada serentak NTB 2024 ditandai atau ditengarai oleh fenomena minimnya donasi-donasi sosial politik untuk kepentingan kemasyarakatan. 

“Hal ini belajar dari Pileg 2024, di mana banyak petahana justru tumbang oleh pendatang baru, meskipun petahana tersebut banyak berbuat untuk kepentingan sosial kemasyarakatan,” ujarnya. 

Terakhir, Pilkada serentak NTB 2024 ditengarai akan diwarnai oleh *pembalikan dan migrasi suara loyalis votters kepada Paslon yang memiliki inner beauty yang kuat*, tidak palsu, tidak serakah, konsisten, tidak plin plan, tidak pelit atau petinju, dan lainnya.

Itulah 10 fenomena dalam Pilkada serentak di NTB dalam kacamata Mi6 yang bakal terjadi dalam gelanggang pertarungan politik di NTB ini.

]]>
Mon, 29 Jul 2024 22:03:00 +0800 Maruf
Perkuat Fondasi Demokrasi, Mi6 Akan Gelar Roadshow Petakan Aspirasi Kaum Perempuan, Ponpes dan Civil Society di Pulau Sumbawa https://amarmedia.co.id/perkuat-fondasi-demokrasi-mi6-akan-gelar-roadshow-petakan-aspirasi-kaum-perempuan-ponpes-dan-civil-society-di-pulau-sumbawa https://amarmedia.co.id/perkuat-fondasi-demokrasi-mi6-akan-gelar-roadshow-petakan-aspirasi-kaum-perempuan-ponpes-dan-civil-society-di-pulau-sumbawa Perkuat Fondasi Demokrasi, Mi6  Akan Gelar Roadshow Petakan Aspirasi Kaum Perempuan, Ponpes dan Civil Society  di Pulau Sumbawa

Mataram.Amarmedia.co.id-Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 kembali akan menggelar Roadshow di Pulau Sumbawa pada Sabtu, 20 Juli 2024. Ini menjadi Roadshow ketiga Mi6 di pulau terbesar di NTB tersebut setelah episode roadshow sebelumnya pada bulan Mei dan Juni.

Pada Roadshow ketiga ini, Mi6 akan memetakan isu strategis dengan melibatkan kaum perempuan, kalangan pondok pesantren dan Masyarakat / Civil Society Alas dalam rangka menyongsong Pemilihan Gubernur NTB 2024. Dalam kesempatan yang sama, akan diberikan pula santunan kepada anak yatim, janda kurang mampu, dan pembagian Jilbab Ijo kepada masyarakat.

"Roadshow untuk memetakan aspirasi kelompok masyarakat dari kaum perempuan dan pondok pesantren menjelang pemilihan Gubernur NTB 2024 ini bukan hanya kewajiban. Tapi ini juga bagian dari menyiapkan fondasi bagi demokrasi yang sehat,” kata Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto di Mataram, Jumat (19/7/2024).

Analis politik kawakan Bumi Gora yang karib disapa Didu ini menjelaskan, Roadshow akan dipusatkan di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Tim Mi6 akan bertolak ke Tana Samawa pada Sabtu pagi, dan malamnya, Roadshow akan langsung digelar.

Sebanyak 75 perwakilan kaum perempuan, pondok pesantren dan Civil Society Alas akan ikut terlibat dalam Roadshow ini. "Dalam proses Roadshow, akan dibagikan 250 Jilbab Ijo, dan juga pemberian santunan kepada anak yatim dan juga janda tidak mampu" .

Didu menjelaskan, tak ada batasan kepada mereka yang hadir untuk menyampaikan aspirasi. Bahkan, ketika masyarakat yang hadir ingin menyampaikan aspirasi hingga tengah malam sekali pun, akan dengan senang hati diatensi Mi6.

Nantinya, seluruh aspirasi selama Roadshow tersebut berlangsung, akan didokumentasikan oleh Tim Mi6 dan akan disampaikan secara langsung kepada Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah dan HW Musyafirin.

“Menyerap aspirasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat membantu calon kepala daerah memahami beragam kebutuhan dan masalah yang ada, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih komprehensif dan tepat sasaran,” ucap Didu.

Mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB dua periode ini mengungkapkan, aspirasi masyarakat adalah cerminan dari realitas sosial dan ekonomi yang ada. Dengan menyerap dan mengintegrasikannya dalam platform politik, calon pemimpin dapat menciptakan kebijakan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Ditegaskan Didu, dengan mendengarkan suara rakyat, calon Gubernur dan Wakil Gubernur seperti Rohmi-Firin, akan dapat memahami kebutuhan dan harapan warga. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan oleh pasangan ini manakala nanti benar-benar mendapat mandat dari masyarakat Bumi Gora untuk memimpin NTB, maka akan benar-benar mewakili kepentingan publik.

"Menyerap aspirasi masyarakat menjelang pemilihan gubernur ini adalah kunci untuk memastikan bahwa kebijakan dan program yang diusung oleh calon pemimpin benar-benar mencerminkan kebutuhan dan harapan rakyat," tandas Didu.

Dia melanjutkan, dengan mendengarkan aspirasi masyarakat, pemimpin seperti Rohmi-Firin akan dapat merumuskan visi dan misi yang lebih relevan dan berdaya guna. Sehingga mampu menghadirkan solusi yang tepat sasaran untuk berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.

Di lain sisi, partisipasi aktif masyarakat dalam proses pemetaan isu selama Roadshow ini, juga kata Didu, akan meningkatkan akuntabilitas pemerintah, membangun kepercayaan, dan mendorong terciptanya pemerintahan yang lebih responsif dan transparan.

"Partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi, termasuk menyampaikan aspirasi mereka, adalah fondasi bagi pemerintahan yang akuntabel dan transparan. Ini juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap calon pemimpin seperti Rohmi-Firin," kata Didu.

Mendengarkan aspirasi kaum perempuan secara langsung, menurut Didu, merupakan bagian penting dalam proses memberdayakan perempuan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.

Didu misalnya memberi contoh, bagaimana kaum perempuan acap menghadapi isu-isu spesifik seperti kesehatan reproduksi, kekerasan berbasis gender, dan diskriminasi di tempat kerja. Tatkala aspirasi mereka tersampaikan langsung kepada kandidat kepala daerah, maka hal itu akan membantu calon kepala daerah merancang kebijakan yang efektif untuk mengatasi isu-isu tersebut.

Pun halnya tidak kalah pentingnya dengan mendengarkan aspirasi dari kalangan pondok pesantren. Semua pihak kata Didu, tahu persis bagaimana pondok pesantren memiliki peran sentral dalam pendidikan di Bumi Gora. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai moral dan etika.

Pesantren juga berperan dalam membentuk karakter generasi muda. Dan di masa saat ini kata Didu, banyak pula pesantren yang terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Bahkan, pesantren sering kali memiliki program pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat dan juga memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan dan perdamaian.

Begitu pentingnya aspirasi dari mereka, maka kata Didu, menghargai dan menyerap aspirasi masyarakat dalam Roadshow Mi6 ini, bukan hanya tentang mendengar. Tetapi juga tentang memahami dan bertindak berdasarkan kebutuhan nyata warga sebagai langkah penting mewujudkan pemerintahan yang responsif.

“Ketika Calon Gubernur dan Wakil Gubernur seperti Rohmi-Firin mendengarkan dan mengakses suara masyarakat secara langsung, maka keduanya tidak hanya memperoleh informasi berharga, tetapi juga memperkuat legitimasi mereka sebagai pemimpin yang berkomitmen untuk melayani kepentingan masyarakat luas," tutup Didu.(AM)

]]>
Fri, 19 Jul 2024 13:50:06 +0800 Maruf
Cek Perasaan Untuk Mengetahui Stres Kronis https://amarmedia.co.id/cek-perasaan-untuk-mengetahui-stres-kronis https://amarmedia.co.id/cek-perasaan-untuk-mengetahui-stres-kronis Cek Perasaan Untuk Mengetahui Stres Kronis

Oleh: Syahril Syam 

Stres adalah respons tubuh terhadap tekanan fisik, emosional, atau mental. Ini adalah reaksi alami yang membantu kita menghadapi situasi yang menantang atau berbahaya. Dalam konteks ini, stres bernilai positif karena memberi sinyal kepada kita untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah dan tantangan kehidupan. Adrenalin merupakan salah satu hormon yang dilepaskan oleh tubuh sebagai respons terhadap situasi stres.

Adrenalin ini kemudian mempersiapkan tubuh untuk bereaksi terhadap ancaman atau tantangan dengan meningkatkan denyut jantung, mempercepat pernapasan, meningkatkan aliran darah ke otot, serta meningkatkan kewaspadaan dan fokus. Dalam konteks memecahkan masalah, adrenalin dapat memberikan dorongan energi dan fokus tambahan yang memungkinkan kita untuk menghadapi masalah dengan lebih efektif dan cepat.

Stres menjadi berbahaya ketika terjadi pelepasan adrenalin yang berlebihan, yang pada gilirannya dapat berdampak negatif pada kesehatan jangka panjang. Paparan terus-menerus terhadap tingkat adrenalin yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan tidur, masalah pencernaan, tekanan darah tinggi, kesulitan berkonsentrasi, kesulitan mengingat informasi, kesulitan membuat keputusan, melemahkan sistem kekebalan tubuh, kecemasan, hingga depresi.

Sayangnya, stres yang berbahaya atau stres kronis berkelanjutan cenderung tidak disadari oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang seringkali berkata bahwa ia tidak stres, namun ia menderita berbagai penyakit yang justru berkaitan dengan stres kronis (stres negatif). Penting untuk disadari bahwa stres terjadi karena adanya ancaman atau stresor, yaitu segala hal atau situasi yang dapat menyebabkan stres pada seseorang. Bisa berupa rangsangan eksternal atau internal. Apapun yang menggangu (menjadi ancaman) kesejahteraan hidup dan zona nyaman seseorang, maka itulah stres.

Seseorang bisa saja merasa terganggu oleh hal-hal sepele sehingga kemudian menjadi khawatir, panik, dan cemas. Terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang tidak sesuai harapan dari orang, benda, tempat, peristiwa, dan waktu, kemudian merasa jengkel, kecewa, marah, sedih, kesal, dan berbagai perasaan destruktif, maka sesungguhnya telah mengalami stres. Dan model stres seperti inilah yang berbahaya karena sering terjadi dan berkelanjutan. Artinya perasaan-perasaan destruktif tadi sering dialami sehari-hari, sehingga pada saat itu terjadi paparan stres negatif yang bersifat rutin. Makanya disebut dengan stres kronis berkelanjutan.

Itulah sebabnya, untuk mengetahui apakah rutin mengalami stres kronis atau stres negatif, maka cek perasaan sendiri. Jika setiap hari rutin merasa marah, jengkel, kecewa, khawatir, panik, atau sakit hati, maka itu berarti sedang mengalami stres kronis berkelanjutan, yaitu mengalami tingkat stres yang tinggi secara terus-menerus atau berulang dalam jangka waktu yang panjang. Inilah yang di kemudian hari akan menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Makanya jangan heran, biasanya seseorang mulai mengalami berbagai penyakit di saat usianya telah menginjak 30 tahun ke atas. Karena selama ini ia telah rutin mengalami stres negatif. Bahkan di zaman milenial ini, ada begitu banyak remaja yang juga sudah mengalami berbagai penyakit, yang cenderung disebabkan oleh stres negatif yang sangat tinggi, yang terjadi pada dirinya disetiap hari.(AM)

]]>
Mon, 15 Jul 2024 10:07:45 +0800 Maruf
Nelayan Tak Melaut, Pelampung Bocor, Lambung Kapal Bolong https://amarmedia.co.id/nelayan-tak-melaut-pelampung-bocor-lambung-kapal-bolong https://amarmedia.co.id/nelayan-tak-melaut-pelampung-bocor-lambung-kapal-bolong Nelayan Tak Melaut, Pelampung Bocor, Lambung Kapal Bolong

Oleh: Rusdianto Samawa, Pegiat Rakyat Pesisir

Dari 302 Paguyuban Badan Otonom Front Nelayan Indonesia (FNI) berada disetiap desa pesisir di seluruh Indonesia. Masing - masing memberi laporan secara berkala yang di dapatkan dari investasi, perdagangan, agro Maritim, dan aktivitas penjualan ikan lokal.

Kurun waktu, setahun lalu, kuartal belanja kebutuhan masih kuat. Sekarang, akibat dollar melambung mendekati 18ribu per satu Rupiah, nelayan kurangi aktivitas melaut. Pelampung yang disiapkan dalam bentuk tabungan seperti hasil perdagangan perikanan dan aktivitasnya, kini terkuras dan menyusut. Kebocoran pelampung keuangan nelayan bisa menyebabkan dampak kemiskinan ekstrem yang semakin naik. Padahal, pemerintah berusaha menurunkan kemiskinan ekstrem sejak 3 tahun lalu yang mencapai 12%.

Pemberian modal usaha oleh KKP juga tidak berdampak signifikan. Karena sasaran tidak tepat. Lebih menggemukkan oligarki dari pada diberikan kepada kelompok rakyat pesisir yang merupakan plasma inti dari denyut ekonomi pedesaan. Rasanya, sulit berenang ketepian atas situasi ketidakpastian ekonomi. Pelampung ekonomi rakyat bocor, tenggelam dampak aksi dollar yang menenggelamkan rupiah.

Fenomena kenaikan mata uang dolar, memukul mundur harapan hidup rakyat pesisir. Karena kebutuhan tak lagi bisa terpenuhi secara simultan. Nelayan sejenak menghela nafas pendek, mengerutkan kening dan urat saraf menegang atas desakan kebutuhan yang semakin tak terpenuhi.

Sementara, kebocoran lambung kapal sebagai cold storage ekonomi belum bisa ditambal. Lubang kebocoran lambung kapal ini, pertanda situasi bahaya. Hal ini terkait dengan hasil aktivitas melaut dan jalur perdagangan domestik maupun internasional mengalami degradasi atas persaingan dagang yang tak sehat.

Dolar telah meningkat sebesar 4% tahun 2024 ini. Tentu, jelas dampak buruk bagi para pelaku usaha kelautan dan perikanan. Harga pokok Ikan mulai naik, pasar - pasar tradisional Rendahnya nilai nelayan (NTN). Bersamaan kondisi sosial ekonomi masyarakat, dalam keadaan tidak baik. Sisi lainnya, kebijakan seputar kelautan dan perikanan sangat naif, akibatkan oleh regulasi – regulasi tidak pro pada masyarakat pesisir. Alih-alih tingkatkan ekonomi, malah menyulitkan putaran ekonomi perikanan.

Kalau dievaluasi dalam 5 tahun terakhir, sosial ekonomi perikanan mengalami kondisi stagnan yang berdampak buruk pada pendapatan masyarakat. Belum ada tanda – tanda aktivitas ekonomi perikanan menggeliat. Salah satu faktornya adalah terbitnya berbagai regulasi yang menyulitkan masyarakat pesisir: nelayan, pembudidaya dan petani garam.

Mesti sadar lebih awal, bahwa sektor kelautan perikanan sudah nampak berat dan serba sulit yang belum bisa dipulihkan. Malah memunculkan banyak masalah, seperti pemborosan anggaran pada pos - pos yang tidak mesti dibiayai. Pemerintah belum terlihat upaya genjot perdagangan kelautan dan perikanan. Sehingga ekonomi kelautan tal kunjung membaik dan kesejahteraan nelayan menurun.

Kebijakan kerapkali timbulkan polemik dan konflik antar masyarakat pesisir,.misalnya regulasi PNBP naik 300% setiap tahun. Menurunnya daya serap pasar terhadap produk hasil perikanan, lemahnya etos tenaga kerja sangat rendah dan minimnya hasil ekspor perikanan. Perhatian pemerintah masih minim, tidak melihat peluang pemulihan ekonomi pada sektor kelautan dan perikanan. Suram dalam melihat indikator kebijakan, karena semua pendekatan oligarkis.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak memiliki kepekaan, ditengah pemborosan anggaran yang dibelanjakan. Ditambah gagalnya semua program strategis seperti shrimp estate sehingga mangkrak. Program tersebut, tak bisa intervensi problem sosial ekonomi kelautan dan perikanan dari hulu ke hilir. Program - program yang dicanangkan itu tidak memiliki kejelasan investasi, sehingga tidak akan memberi manfaat kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.

Pemerintah perlu evaluasi seluruh program dan regulasi yang sudah diterbitkan sehingga bisa menjadi signifikan bagi upaya pemulihan sektor perikanan ditengah kenaikan. Dollar dan suku bunga. Perlu juga menyadari kondisi selama lima tahun terakhir, aktivitas masyarakat pesisir nyaris lumpuh, meski pemerintah telah gelontorkan ragam bantuan sosial dan afirmasi kebijakan program. Kenyataannya belum pulih. Bahkan melemah. Kinerja kelautan dan perikanan mengalami pasang surut: lemah dan stagnan.[AM]

]]>
Wed, 10 Jul 2024 07:17:12 +0800 Maruf
Dongkrak Partisipasi Pemilih dan Ekonomi Daerah, Mi6 Dorong Pilgub NTB Diikuti Banyak Kandidat https://amarmedia.co.id/dongkrak-partisipasi-pemilih-dan-ekonomi-daerah-mi6-dorong-pilgub-ntb-diikuti-banyak-kandidat https://amarmedia.co.id/dongkrak-partisipasi-pemilih-dan-ekonomi-daerah-mi6-dorong-pilgub-ntb-diikuti-banyak-kandidat Dongkrak Partisipasi Pemilih dan  Ekonomi Daerah, Mi6 Dorong Pilgub NTB Diikuti Banyak Kandidat

Mataram.Amarmedia.co.id - Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 mendorong pemilihan Gubernur NTB yang akan digelar bersamaan dengan Pilkada Serentak pada 27 November mendatang, diikuti banyak kandidat. Jika hanya diikuti dua pasang kandidat yang head to head, Pilgub NTB dinilai justru tidak menarik dan malah berpotensi miskin gagasan.

”Ketika Pilgub diikuti oleh banyak kandidat, maka setiap kita berkesempatan menemukan calon yang benar-benar mewakili suara dan aspirasi kita. Itu akan menjadikan setiap detik kampanye sebagai momen yang penuh antusiasme dan harapan,” kata Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Sabtu (6/7/2024).

Analis politik kawakan Bumi Gora yang akrab disapa Didu ini melontarkan hal tersebut, seiring munculnya pandangan sejumlah pihak agar Pilgub NTB diikuti dua pasang kandidat. Pandangan tersebut bahkan terang-terangan telah diungkapkan ke publik oleh pemimpin partai politik di NTB.

Didu menjelaskan, pemilihan kepala daerah dengan banyak calon adalah manifestasi dari demokrasi yang lebih hidup. Pada saat yang sama, hal tersebut bakal memperkaya pilihan pemilih, meningkatkan kualitas kepemimpinan, mendorong partisipasi serta keterlibatan yang lebih besar dari masyarakat, dan menjadikan pilkada menjadi penuh warna.

Menurut Didu, dengan banyaknya calon yang bersaing, setiap kandidat biasanya akan memiliki platform, visi, dan pendekatan kampanye yang unik. Hal ini memperkaya spektrum ide dan pesan politik yang disampaikan kepada masyarakat. Tatkala setiap calon membawa isu-isu spesifik dan strategi kampanye yang berbeda, maka sudah pasti akan membuat diskusi politik lebih beragam dan menarik.

Hasil kajian yang dilakukan Mi6, pemilihan kepala daerah dengan banyak calon juga sering kali memicu partisipasi yang lebih besar dari masyarakat. Pemilih merasa memiliki lebih banyak pilihan yang mungkin lebih sesuai dengan preferensi mereka. Dengan lebih banyak pilihan, pemilih kata Didu, merasa lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam proses pemilihan.

”Jangan lupa, setiap calon biasanya memiliki basis pendukung yang berbeda. Ini akan membawa energi dan semangat tersendiri dalam mendukung kandidat mereka,” ucap mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB dua periode ini.

Saat ini, Pilgub NTB berpotensi diikuti oleh empat pasang calon. Mereka adalah Hj Sitti Rohmi Djalilah-HW Musyafirin, H Zulkieflimansyah-H Suhaili FT, Lalu Muhammad Iqbal-Hj Indah Damayanti Putri, dan pasangan HL Gita Ariadi-HM Sukiman Azmy.

Masalahnya, hingga saat ini, hanya dua pasang pertama yakni Rohmi-Firin dan Zul-Suhaili yang sudah mengantongi dukungan partai politik secara defenitif. Sementara dua pasangan lainnya yakni Iqbal-Dinda dan Gita-Sukiman, masih belum terang-terangan terungkap ke publik terkait dukungan partai poltik tersebut.

Belakangan, malah muncul pandangan agar Pilgub NTB cukup dua pasangan calon saja, yakni Rohmi-Firin dan Zul-Suhaili. Karenanya, partai yang belum juga melabuhkan dukungan, diminta menambatkan hati pada dua pasangan tersebut. Hal yang akan menjadikan Pilgub NTB menjadi ajang pertarungan head to head Rohmi-Firin dan Zul-Suhaili. Seperti khayak Bumi Gora tahu, Zulkieflimansyah dan Rohmi adalah pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023.

Didu menjelaskan, jika Pilgub NTB hanya diikuti dua pasang calon saja, maka hal tersebut akan menjadikan ajang lima tahunan ini bukanlah pesta demokrasi yang sesungguhnya. Padahal, harusnya, pilkada menjadi pesta demokrasi di mana semangat kompetisi dan keterlibatan masyarakat berpadu untuk menciptakan atmosfer yang meriah dan penuh gairah.

Ketika lebih banyak calon terlibat, persaingan menjadi lebih ketat dan dinamis. Ini menciptakan suasana kompetitif yang bisa sangat menarik untuk diikuti oleh publik. Dalam hal ini, kandidat perlu bersaing dalam menyampaikan argumen dan kebijakan mereka, yang sering kali menghasilkan debat-debat publik yang intens dan menarik.

Jangan pula dilupakan, Pilgub yang ramai dengan kandidat juga dapat memberikan dorongan ekonomi daerah menjadi lebih menggeliat terutama melalui berbagai aktivitas kampanye. Kajian Mi6 kata Didu, menunjukkan bagaimana kampanye yang melibatkan banyak calon sering kali mengakibatkan peningkatan pengeluaran untuk iklan, acara, dan merchandise, yang pada gilirannya mendukung bisnis di tingkat masyarakat turut bergairah.

Karena itu, Didu mendorong agar partai politik tidak memberikan dukungan yang menumpuk pada satu pasangan calon saja. Dengan begitu, akan memberi ruang bagi Pilgub NTB tidak diikuti dua kandidat saja.

Ditegaskan Didu, pasangan Iqbal-Dinda dan juga Gita-Sukiman, adalah figur-figur yang lebih dari pantas mendapat dukungan dari partai politik untuk maju dalam Pilgub NTB. Iqbal, putra NTB yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia di Turki. Iqbal memiliki karir birokrasi yang panjang sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri. Sementara Dinda, adalah Bupati Bima dua periode, dan merupakan salah satu politisi Partai Golkar yang moncer.

Gita Ariadi, adalah mantan Penjabat Gubernur NTB selama sembilan bulan, yang kini masih memangku jabatan sebagai Sekretaris Daerah NTB. Pengalaman birokrasinya juga sangat komplit dan panjang. Sementara wakilnya HM Sukiman Azmy, adalah Bupati Lombok Timur dua periode dengan prestasi yang diakui publik.

Hanya saja memang, Didu mengakui bahwa setiap perhelatan demokrasi pasti memiliki dinamikanya sendiri-sendiri. Politik juga memiliki panggung depan dan panggung belakang dengan realitasnya masing-masing. Publik kemudian hanya diperlihatkan panggung depan saja. Sementara panggung belakang acap ditutup rapat-rapat.

Adanya panggung depan dan panggung belakang itu pula, yang kata Didu, bisa menjelaskan mengapa saat ini sejumlah partai masih belum juga melabuhkan dukungannya kepada kandidat yang akan diusung di Pilgub NTB. Bahkan, di antara partai-partai besar tersebut, ada partai pemenang Pemilu di NTB seperti Partai Golkar dan Partai Gerindra.

Saat partai politik lain memberi pernyataan ke publik, Partai Gerindra misalnya malah adem ayem. Memang tersebar sejumlah spekulasi. Namun, tak ada yang pasti hingga saat ini kemana partai besutan presiden terpilih, Prabowo Subianto ini akan melabuhkan dukungan di Pilgub NTB. Pun Partai Golkar. Tak juga memberikan tanda-tanda kemana dukungan akan diberikan. Yang sudah pasti, Partai Beringin, menyebut, akan menunggu hasil survei ketiga, baru akan terungkap dukungan akan diberikan ke kandidat yang mana.

Minimnya partai politik yang sudah memberikan dukungan tiket Pilgub, menjadikan pasangan Iqbal-Dinda dan pasangan Gita-Sukiman, terlihat inferior di hadapan dua kandidat lainnya. Hal tersebut kata Didu, menempatkan dua pasang kandidat ini dalam framing sebagai pasangan yang sama-sama lemah.

Didu misalnya memberi contoh, bagaimana belum lama ini, pada saat peresmian posko pemenangan pasangan Iqbal-Dinda di Kabupaten Bima, justru Dinda tidak hadir dalam peresmian tersebut. Hal yang membuat publik bertanya-tanya. Ada apa? Pun begitu, tetiba menyeruak ke publik isu bahwa pasangan Gita-Sukiman bakal kandas di tengah jalan.

Semua itu kata Didu, bisa jadi semacam strategi untuk membuat pasangan ini tetap menjadi perbincangan di tengah-tengah publik. Sebuah strategi yang acap bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak elektabilitas dan popularitas. Sehingga, Didu meyakini, justru dua pasang kandidat tersebut, Iqbal-Dinda dan Gita-Sukiman bisa jadi juga sedang menyiapkan kejutan-kejutan.

Analis politik dari kalangan aktivis ini menilai, Iqbal-Dinda maupun Gita-Sukiman, memiliki modal lebih dari cukup untuk meraih dukungan signifikan dari para pemilih di Bumi Gora. Hal yang tentu patut disyukuri publik Bumi Gora, bahwa Pilgub NTB yang diikuti banyak kandidat masih mungkin untuk terjadi.

“Bagaimanapun, kandidat yang banyak dalam Pilgub akan membuka ruang untuk lebih banyak dialog, lebih banyak ide, dan lebih banyak kesempatan untuk perbaikan. Hal yang akan membuat proses Pilgub menjadi lebih menarik dan substansial,” tutup Didu.(AM)

]]>
Sat, 06 Jul 2024 12:33:39 +0800 Maruf
Analisis Pengamat Politik Jelang Pilgub NTB https://amarmedia.co.id/analisis-pengamat-politik-jelang-pilgub-ntb https://amarmedia.co.id/analisis-pengamat-politik-jelang-pilgub-ntb Analisis Pengamat Politik Jelang Pilgub NTB

 

Sumbawa. Amarmedia.co.id - Para pakar dan pengamat politik telah menganalisis peta politik pemilihan Gubernur di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan menyoroti beberapa poin penting seperti dinamika partai politik, loyalitas tradisional, ketokohan,pemilih yang belum menentukan pilihan, kepuasan yang beragam, dan permasalahan yang belum terselesaikan.

 

Kepada awak media Selasa 3 Juli 2024 peneliti Lanskap  dan Dosen Ilmu Politik Universitas Samawa Dr. Ardiansyah SIP.MSi membuat catatan ringan peta politik menjelang Pilgub NTB yang menarik untuk disimak. Menurutnya Ada tiga figur kuat yakni Zulkiflimansyah (BZ), Siti Rohmi Djalillah dan Lalu Iqbal, masing-masing dari mereka tentu memiliki basis, jaringan kuat dan mesin pemenangan yang relatif solid. "Kalau kita lihat BZ memiliki jaringan luas serta simpul-simpul pemenangan yang relatif sudah terkonsolidasi dengan baik" ujarnya. 

 

Dosen Ilmu Politik Universitas Samawa Dr Ardiansyah SIP.MSi

Kemudian Hajjah Rohmi, representasi dari organisasi besar di pulau Lombok, tidak kalah mentereng dari segi popularitas dan elektabilitas, disamping memiliki jejaring dan simpul-simpul pemenangan yang kuat di basis akar rumput, namun juga diuntungkan karena memiliki jaringan NWDI yang secara sosiologis memiliki basis kuat dan masa loyal di pulau Lombok. 

 

Sementara Lalu Iqbal, tipikal pemimpin muda, fresh, latar belakang birokrat sukses, diplomat ulung, kemungkinan didukung oleh koalisi Indonesia Maju (KIM), kalau benar akan didukung KIM, "tentu akan menarik dan harus diperhitungkan betul, secara figur mungkin belum sepopuler BZ maupun Rohmi, tapi kalau partai pengusung lalu Iqbal bisa solid menjadi intrumen pemenangan, mampu mengkonsolidasikan basis-basis suara mereka di akar rumput, serta ditunjang oleh logistik mumpuni. maka tiga poros ini, akan seimbang, bersaing ketat dan sengit" tandasnya 

 

"siapa dari ketiganya yang akan menjadi pemenang, sebuah misteri yang sulit untuk kita jawab, tentu waktulah yang akan menjawab segala-galanya" pungkasnya.

 

Dilansir dari Detik Bali.com, Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Dr.Ihsan Hamid memprediksi sebanyak empat poros akan bertarung dalam Pilgub NTB 2024.

"Kalau melihat dari komposisi emosional yang terbangun saat ini, baik paslon dengan partai, kemudian didasari pada raihan kursi di DPRD NTB, memang idealnya akan terbentuk empat paslon," kata Ihsan Hamid, Rabu (29/5/2024).

Dr. Ihsan Hamid Dosen UIN Mataram

Pertama, Ihsan berujar, paslon yang sudah hampir pasti maju Pilgub NTB adalah duet Sitti Rohmi Djalillah dengan Musyafirin atau Rohmi-Firin. Paket ini hampir pasti mendapatkan dukungan PDIP dan Perindo.

Sebagai informasi, syarat mengusung paslon dalam Pilgub NTB 2024 adalah mendapat dukungan minimal dari parpol atau koalisi parpol yang memiliki 13 dari 65 kursi di DPRD NTB. Berdasarkan hasil Pileg 2024, PDIP mengamankan empat kursi dan Perindo tiga kursi di DPRD NTB.

Informasi yang dihimpun awak media duet Rohmi-Firin juga hampir pasti akan diusung oleh PPP yang mengamankan tujuh kursi DPRD NTB. Teranyar, PKB dengan enam kursi di DPRD NTB juga dikabarkan akan merapat mendukung Rohmi-Firin.

"Poros kedua tentu cagub petahana Zulkieflimansyah. Sekarang kan muncul duet Zul-Suhaili (Zul-Uhel). Atau Zul dengan siapapun juga masih bisa terwujud. Zul sudah pasti dapat rekomendasi PKS dan yang sudah keluar juga Hanura," terang Ihsan.

Zul sudah mengantongi rekomendasi dari PKS dengan delapan kursi DPRD NTB dan Hanura satu kursi. Zul diprediksi akan didukung oleh NasDem yang memiliki empat kursi di DPRD NTB.

Jika duet Zul-Uhel terwujud, Ihsan melanjutkan, sangat potensial juga akan mendapat dukungan dari Partai Golkar yang mempunyai 10 kursi di DPRD NTB. Untuk diketahui, Suhaili merupakan mantan Bupati Lombok Tengah 2010-2018 sekaligus mantan ketua DPD Partai Golkar NTB. Suhaili telah mendapat surat tugas dari Partai Golkar untuk maju di Pilgub NTB 2024.

Poros ketiga, kata Ihsan, adalah pasangan Penjabat Gubernur (Pj) Gubernur NTB Lalu Gita Ariadi dengan bekas Bupati Lombok Timur Sukiman Azmy. Duet Gita-Sukiman juga masih berpotensi mendapatkan dukungan dari Partai Golkar.

Sebelumnya, Lalu Gita telah mendapat surat tugas dari Partai Golkar untuk maju di Pilgub NTB. Gita juga cukup serius mengikuti mekanisme penjaringan bakal calon melalui Partai Demokrat yang mengoleksi enam kursi di DPRD NTB. Selain Rohmi-Firin, tiket PKB juga berpotensi digunakan Gita-Sukiman.

Poros terakhir yang bisa terbentuk menurut Ihsan adalah poros yang digawangi mantan Dubes RI untuk Turki 2018-2023 Lalu Muhamad Iqbal. Kendati belum mengerucut nama bakal calon wakil gubernur yang akan mendampinginya, Iqbal diketahui telah menuntaskan dukungan parpol untuk maju di Pilgub NTB 2024.

Parpol pertama yang dikunci Iqbal adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dengan empat kursi DPRD NTB. Iqbal juga santer dikabarkan telah mendapatkan dukungan Partai Gerindra dengan 10 kursi DPRD NTB.

Kendati demikian, Ketua DPD Gerindra NTB yang juga Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri masih menjaga asa untuk tampil dalam Pilgub NTB 2024. Sejumlah informasi menyebutkan Pathul Bahri makin bersemangat untuk maju di Pilgub NTB setelah duet Zul-Rohmi pecah kongsi. Bahkan, Pathul dikabarkan berangkat ke Jakarta untuk memburu rekomendasi partai.

Di luar empat poros utama tersebut, Ihsan juga masih melihat ada potensi duet Suhaili-Asrul Sani dapat terwujud. Ihsan memperkirakan poros koalisi permanen untuk Pilgub NTB akan terlihat pada Juli mendatang.

"Melihat timeline dan sisa waktu yang ada, kalau parpol menetapkan dukungan di akhir Agustus, sepertinya sangat telat. Keyakinan saya satu bulan ke depan akan terlihat komposisi yang hampir permanen. Ada parpol utama sebagai pengusung, terutama yang kadernya maju akan sulit beralih dukungan. Sisanya kluster partai pengikut akan masukdan menyesuaikan," ungkap Ihsan.(AM)

]]>
Wed, 03 Jul 2024 20:45:58 +0800 Maruf
Bawa Variasi Perspektif Kepemimpinan, Mi6 Beri Apresiasi Tinggi Kandidat Perempuan Muncul di Pilkada NTB https://amarmedia.co.id/bawa-variasi-perspektif-kepemimpinan-mi6-beri-apresiasi-tinggi-kandidat-perempuan-muncul-di-pilkada-ntb https://amarmedia.co.id/bawa-variasi-perspektif-kepemimpinan-mi6-beri-apresiasi-tinggi-kandidat-perempuan-muncul-di-pilkada-ntb Bawa Variasi Perspektif Kepemimpinan, Mi6 Beri Apresiasi Tinggi Kandidat Perempuan Muncul di Pilkada NTB

Mataram.Amarmedia.co.id - Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 memberi apresiasi tinggi terhadap figur dan tokoh perempuan yang maju bertarung dalam kontestasi Pilkada serentak 2024. Selain memperkaya demokrasi, hadirnya kandidat perempuan tersebut adalah cermin kemajuan dan komitmen masyarakat Bumi Gora terhadap kesetaraan.

“Kehadiran perempuan dalam kontestasi kepala daerah itu bukan hanya memecah stereotip gender. Tapi juga membuktikan kalau kepemimpinan efektif itu tidak mengenal jenis kelamin,” kata Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto di Mataram, Rabu (12/06/2024).

Kandidat calon kepala daerah perempuan muncul di pemilihan gubernur dan pemilihan bupati dan wali kota di NTB. Di level provinsi, ada Hj Sitti Rohmi Djalilah yang maju sebagai calon gubernur. Rohmi sebelumnya adalah Wakil Gubernur NTB.

Di Lombok Barat, ada empat kandidat perempuan yang bakal bertarung. Ada Bupati petahana Hj Sumiatun dan Ketua DPRD Lombok Barat Hj Nurhidayah , dimana keduanya akan maju sebagai calon bupati. Dua kandidat lainnya yakni Hj Khaeratun Fauzan Khalid dan Hj Nurul Ahda, bakal maju sebagai calon wakil bupati.

Di Sumbawa, ada wakil bupati petahana Dewi Noviani yang akan maju sebagai calon bupati. Sementara di Kota Mataram, ada nama Hj Putu Selly Andayani yang disebut-sebut kini sedang ditimang kandidat petahana untuk kursi calon wakil wali kota.

Menurut Bambang Mei Finarwanto, kandidat kepala daerah perempuan tidak hanya membawa variasi perspektif dan pendekatan dalam kepemimpinan. Tetapi juga berpotensi untuk memengaruhi secara positif pembangunan sosial dan ekonomi daerah.

Apalagi, kata analis politik kawakan Bumi Gora yang karib disapa Didu ini, kandidat perempuan yang akan bertarung dalam Pilkada serentak tersebut bukanlah figur kaleng-kaleng. Itu mengapa apresiasi tinggi layak disematkan.

Didu mengungkapkan, dalam konteks demokrasi dan pemerintahan modern seperti saat ini, representasi gender yang seimbang sangat penting untuk menciptakan kebijakan yang inklusif dan adil. Dalam hal ini, kandidat kepala daerah perempuan memainkan peran vital.

”Mereka bukan hanya simbol kemajuan, tetapi juga aktor kunci dalam mendorong inovasi dan transformasi sosial. Itu mengapa, mengapresiasi kandidat perempuan dalam posisi kepemimpinan daerah adalah langkah penting menuju pemerintahan yang lebih adil dan efektif,” tandas Didu.

Di sisi lain, mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB dua periode ini menjelaskan, kehadiran perempuan dalam kepemimpinan politik memberikan perspektif yang berbeda dalam pembuatan kebijakan. Perempuan cenderung membawa perhatian lebih besar pada isu-isu sosial seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan anak serta keluarga.

Perempuan kata Didu, sering kali menghadapi hambatan lebih besar dalam mencapai posisi kepemimpinan dibandingkan laki-laki. Hal tersebut menjadikan mereka harus menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk berhasil.

Didu menyebut banyak studi yang menunjukkan bahwa perempuan dalam posisi manajerial atau kepemimpinan sering memiliki gaya kepemimpinan yang lebih kolaboratif dan transformasional. Mereka cenderung mendorong partisipasi dan memberdayakan tim mereka, yang menghasilkan kinerja organisasi yang lebih baik.

”Ketika perempuan memegang posisi kepemimpinan, mereka menjadi teladan dan pendorong perubahan bagi perempuan lainnya. Mereka membuktikan bahwa perempuan bisa mencapai puncak karier politik dan administratif,” tandas Didu.

Banyak Contoh Nyata

Aktivis Bumi Gora yang dikenal humble ini menegaskan, ada banyak contoh yang menunjukkan hal tersebut. Dalam kancah politik nasional misalnya, ada Tri Rismaharini yang kini Menteri Sosial dan sebelumnya merupakan Wali Kota Surabaya. Sebagai wali kota, Risma berhasil meraih banyak penghargaan internasional untuk tata kelola kota, lingkungan hidup, dan inovasi pelayanan publik. Dia melahirkan kebijakan inovatif seperti implementasi program e-Government dan sistem kesehatan yang terintegrasi.

Ada pula nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Sebagai Gubernur, Khofifah berfokus pada pemberdayaan perempuan dan ekonomi inklusif. Kebijakan inovatifnya antara lain program "Jatim Berdaya" yang mendukung UMKM dan program pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan ekonomi.

Di Bumi Gora, nama Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023 Hj Sitti Rohmi Djalilah layak dikedepankan. Selama kepemimpinannya bersama Gubernur NTB H Zulkieflimansyah, kepuasan masyarakat NTB atas kinerja kepemimpinan Rohmi sangat tinggi. Bahkan di atas 85 persen. Saat pilkada, pasangan Zul-Rohmi meraih 811.945 suara, unggul jauh dari pesaing terdekatnya kala itu, pasangan Suhaili-Amin, yang meraih 674.602 suara.

Di lebel kabupaten, ada juga nama Bupati Bima Hj Indah Damayanti Putri, kepala daerah perempuan pertama di NTB yang terpilih dalam Pilkada langsung dan sudah menjabat dua periode. Pada periode keduanya, Indah Damayanti bersama pasangannya, menang telak di pilkada.

Sementara di kancah internasional, ada nama Kanselir Jerman, Angela Merkel, pemimpin perempuan yang telah berhasil memandu negaranya melalui krisis dengan mengadopsi pendekatan yang inovatif dan adaptif. Selama kepemimpinan Merkel, Jerman menunjukkan peningkatan signifikan dalam pelayanan publik dan pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan akuntabel.

Didu menegaskan, terlalu banyak bukti sahih, bagaimana keterlibatan perempuan dalam politik memperkuat demokrasi dengan memastikan bahwa semua segmen masyarakat terwakili secara adil. Mereka memiliki pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh komunitas mereka, terutama dalam isu-isu yang langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga.

Kandidat perempuan juga kata Didu, mungkin lebih responsif terhadap masalah yang sering diabaikan. Seperti layanan kesehatan ibu dan anak, pendidikan, dan kebijakan kesejahteraan sosial. Itu sebabnya, kepemimpinan mereka dapat membawa perubahan nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Banyak contoh bagaimana pemimpin perempuan lebih cenderung mendorong partisipasi warga dalam pengambilan keputusan yang pada gilirannya memperkuat legitimasi dan akuntabilitas pemerintahan.

”Karena itu, bicara tentang kepemimpinan perempuan, kita bukan hanya memajukan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan, tetapi juga memajukan kualitas pemerintahan dan pembangunan masyarakat secara keseluruhan,” tutup Didu.(AM)

]]>
Fri, 14 Jun 2024 21:16:35 +0800 Maruf
Mendorong Sahril Mengisi "Ruang Kosong" PDI&P di Pilbup Sumbawa https://amarmedia.co.id/mendorong-sahril-mengisi-ruang-kosong-pdi-p-di-pilbup-sumbawa https://amarmedia.co.id/mendorong-sahril-mengisi-ruang-kosong-pdi-p-di-pilbup-sumbawa Mendorong Sahril Mengisi "Ruang Kosong" PDI-P di Pilbup Sumbawa

Oleh : Didin Maninggara

 

 

Dinamika politik internal di PDI-P memunculkan fenomena menarik, seiring kabar menguatnya nama Sahril digadang-gadang maju pada Pilbup Sumbawa. Saat bersamaan PDI-P tidak merestui Abdul Rafiq karena alasan peraturan partai. Dengan bahasa lain, proses pencalonan Rafiq harus menempuh jalan panjang melalui survei dan mekanisme lainnya secara internal partai. Hal itu dibenarkan Rafiq melalui pesan WA kepada saya, dua hari lalu.

 

"Masih panjang kanda karena harus melalui survei," jawaban Rafiq ketika saya tanya tentang perkembangan maju di Pilbup sebagai bakal calon Wabup mendampingi petahana Mahmud Abdullah.

 

Di tengah dinamika itu, nongol prediksi bahwa pencalonan Rafiq yang Ketua PDI-P Sumbawa sedang berada di simpang jalan. Muncul pula penilaian dari sisi komunikasi politik, bahwa fenomena ini menunjukkan betapa Sahril yang ASN memiliki pendukung yang cukup baik. Bahkan solid. Ada dorongan kekuatan yang bisa jadi, datang dari elit pusat PDI-P memberi motivasi untuk ikut kontestasi ini. Sebuah hal yang lumrah dalam demokrasi, sekaligus amanat konstitusi. Bahwa setiap warga negara memiliki hak dipilih dan memilih. Ada ruang berkontestasi di dalamnya. Dan, ruang itu tersedia di PDI-P, meski Sahril bukan kader.

 

Saya yang sudah terbiasa mengelola dinamika politik dalam tulisan lantaran cukup lama bergelut dengan liputan-liputan politik sejak awal menjadi jurnalis Koran PELITA di ibu kota pada Juli 1979, mengamati dari jarak dekat bahwa Sahril memiliki kemampuan siap tarung dalam kontestasi politik.

 

Dalam politik, tidak ada yang mustahil ketika ruang tersedia. Dan ruang untuknya bertarung dalam Pilbup Sumbawa semakin mendapat apresiasi.

 

Sahril pun tak menampik jika ada sejumlah kalangan yang mendorongnya. Tentu dengan konsekuensi, ia harus tunjukkan sikap berani untuk mundur dari ASN. Sebab sesungguhnya, hal tersebut menunjukkan sikap politik yang sehat.

 

Jika pada kenyataannya nanti Sahril resmi mengantongi restu dari DPP PDI-P, dan siap bertarung di Pilbup, maka bisa jadi dirinya adalah contoh nyata dari resiliensi. Yakni, kemampuan bangkit dari hal yang mustahil lantaran dirinya bukan politisi, apalagi kader partai itu. Ia hanya seorang birokrat karir di Pemkab Sumbawa, dengan jabatan saat ini Kepala Dinas Arsipda. 

 

Bahwa kehadiran Sahril meramaikan bursa Pilbup di Kabupaten Sumbawa, bisa jadi pula menunjukkan ketangguhan mental dan komitmennya terhadap tujuan politik, yang di antaranya mempersiapkan pemimpin.

 

Dan pada saat yang sama, juga menunjukkan betapa Sahril memiliki motivasi berprestasi yang kuat, yang mendorong untuk terus berusaha mencapai posisi tertinggi untuk berkhidmat melayani rakyat.

 

Cukup banyak contoh diperlihatkan PDI-P dan parpol lain memilih non kader maju di kontestasi Pilkada di banyak daerah, dan menang.

]]>
Fri, 07 Jun 2024 16:28:16 +0800 Maruf
Mantan Caleg Ramai Bertarung di Pilkada Serentak, Mi6: Contoh Nyata Pemimpin&Pemimpin Sejati https://amarmedia.co.id/mantan-caleg-ramai-bertarung-di-pilkada-serentak-mi6-contoh-nyata-pemimpin-pemimpin-sejati https://amarmedia.co.id/mantan-caleg-ramai-bertarung-di-pilkada-serentak-mi6-contoh-nyata-pemimpin-pemimpin-sejati Mantan Caleg Ramai Bertarung di Pilkada Serentak, Mi6: Contoh Nyata Pemimpin-Pemimpin Sejati

 

Mataram-Dinamika politik Bumi Gora memunculkan fenomena unik dan menarik, seiring dengan langkah sejumlah figur dan tokoh yang belum berhasil dalam Pemilu Legislatif 2024, namun kembali bertarung dalam Pilkada Serentak November mendatang.

Lembaga Kajian Sosial Politik dan Politik Mi6 menilai, dari sisi psikologi politik, fenomena ini menunjukkan betapa politisi Bumi Gora memiliki resiliensi yang tinggi, motivasi berprestasi, dan ketangguhan mental yang luar biasa. Sebuah hal yang sangat dibutuhkan agar demokrasi terus berkembang.

“Resiliensi itu kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan atau kesulitan. Dalam politik, tidak ada yang lebih mengagumkan daripada menemukan seseorang yang bangkit dari kegagalan untuk mencoba lagi,” kata Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Rabu (22/5/2024).

Analis politik kawakan Bumi Gora yang karib disapa Didu ini mengemukakan, langkah sejumlah figur yang sebelumnya tidak terpilih dalam Pileg 2024 dan kembali bertarung dalam Pilkada serentak akhir tahun ini, layak mendapat apresiasi. Didu tak menampik jika ada sejumlah kalangan yang menilai hal tersebut sebagai ambisi politik. Namun, sesungguhnya, hal tersebut adalah ambisi politik yang sangat sehat.

”Keberanian mereka yang tidak terpilih di pemilu legislatif dan kembali bertarung di Pilkada adalah contoh nyata dari kepemimpinan sejati," ucap Didu.

Di Kabupaten Sumbawa, muncul figur Ahmadul Kusasi SH yang kini menjadi kandidat Bupati atau wakil Bupati, Achmad Fachri SH dan Burhanuddin Jafar Salam, yang juga menjadi kandidat Bupati atau wakil Bupati Sumbawa. Pada Pileg lalu, politisi Partai Gelora ini belum berhasil melenggang ke kursi DPRD NTB. Di Lombok Timur, ada politisi kawakan Syamsul Lutfi, yang kini juga digadang-gadang menjadi kandidat bupati. Anggota DPR RI dari Partai Nasdem ini sebelumnya tak berhasil melenggang kembali ke Senayan.

Ada juga nama Suryadi Jaya Purnama dari Partai Keadilan Sejahtera yang akan diusung oleh partainya sebagai calon Bupati Lombok Timur setelah tidak lolos ke DPR RI. Sementara di Lombok Tengah, ada Anggota DPRD NTB lima periode, H Ruslan Turmuzi, yang kini menjadi kandidat bupati setelah sebelumnya tak terpilih kembali sebagai legislator di DPRD NTB. Di kota Mataram ada Caleg DPR RI dapil Lombok dari PKS yang gagal yakni H. Karman BM juga maju dalam Pentas Pilwakot Mataram. 

Didu mengungkapkan, selain resiliensi, kehadiran figur dan tokoh tersebut meramaian bursa Pilkada Serentak di NTB, juga menunjukkan ketangguhan mental dan komitmen terhadap tujuan politik mereka. Dan pada saat yang sama, juga menunjukkan betapa mereka memiliki motivasi berprestasi yang kuat, yang mendorong untuk terus berusaha mencapai posisi tertinggi untuk berkhidmat melayani rakyat.

Bagi figur dan tokoh-tokoh tersebut, boleh jadi kata Didu, belum berhasil  dalam pemilihan legislatif dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi, alih-alih sebagai akhir dari karir politik. Hal ini dianggap sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, sehingga lebih siap untuk peran yang lebih besar.

”Hanya mereka yang memiliki identitas diri yang kuat sebagai pemimpin yang bisa melakukan hal begini,” ucap Didu.

Ada banyak contoh, bagaimana mereka yang belum berhasil  di pemilu legislatif, namun ketika memilih bertarung sebagai kepala daerah, mereka terpilih dan malah menjadi pemimpin daerah yang berprestasi dan mengundang decak kagum. Salah satunya adalah Dedy Mulyadi, yang sebelumnya gagal terpilih sebagai anggota DPRD di Purwakarta, namun terpilih sebagai bupati dua periode di salah satu daerah di Jawa Barat tersebut. Dedy kini adalah Anggota DPR RI peraih suara terbanyak dari daerah pemilihannya.

Dalam konteks pemimpin negara, nama Barack Obama mungkin layak dikedepankan. Sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat, Barack Obama sempat mengalami kegagalan dalam pemilihan sebagai Anggota DPR AS sebelum kemudian terpilih sebagai Senator dan menjadi pemimpin Negeri Adi Daya tersebut.

Menurut Didu, politisi yang memiliki karakter, tekad, dan mental yang kuat, lalu sempat sempat mengalami kegagalan dalam kontestasi, umumnya akan belajar dari hal tersebut. Mereka selanjutnya akan memperbaiki strategi politiknya dan akhirnya berhasil.

”Ini menunjukkan bagaimana sebuah kegagalan dapat menjadi batu loncatan menuju kesuksesan yang lebih besar,” kata Didu.

Didu menjelaskan, ada fenomena menarik dari sisi psikologi politik tatkala mereka yang pernah gagal dalam kontestasi di Pileg namun bisa menang ketika mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Fenomena tersebut adalah bagaimana pemilih memandang hal tersebut sebagai tanda dan wujud ketekunan dan komitmen. Dan jumlah pemilih yang seperti ini umumnya terbukti lebih banyak dibanding yang menganggapnya sebagai sebuah tanda ketidakmampuan.

Selain itu, mereka juga mampu mengartikulasikan  sebagai pelajaran dan menunjukkan bagaimana mereka telah berkembang, sehingga menarik simpati dan dukungan dari pemilih. Sebuah hal yang sangat efektif dalam membangun kembali kepercayaan publik.

Obat Demokrasi Sehat

Didu melihat, majunya sejumlah politisi yang belum berhasil di Pileg dalam Pesta Demokrasi Pilkada Serentak, adalah sebuah langkah yang sangat positif bagi demokrasi. Kehadiran mereka yang sempat gagal tersebut, dapat mendorong partisipasi politik yang lebih luas.

”Ini adalah modal yang sangat dibutuhkan untuk proses demokrasi yang sehat,” kata Didu.

Mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB dua periode ini mengemukakan, fenomena tersebut menunjukkan adanya ketahanan dalam sistem demokrasi di NTB. Di mana individu diberi kesempatan untuk belajar dari kegagalan dan berkontribusi kembali. Sebuah hal yang dapat memperkuat institusi demokrasi dengan menekankan pentingnya kontinuitas dan pembelajaran dalam proses politik.

Lagi pula kata Didu, lanscape Pileg dan Pilkada juga berbeda. Meski sama-sama pesta demokrasi, dinamika dan tantangan Pileg dan Pilkada sangat berbeda. Pemilihan legislatif biasanya lebih kompetitif karena melibatkan banyak calon dari berbagai partai politik, sementara pemilihan kepala daerah seringkali lebih terfokus pada individu calon.

Seseorang yang gagal di Pileg kata Didu, akan memiliki peluang lebih besar untuk menang dalam pemilihan kepala daerah, karena figur dalam Pilkada bisa lebih mudah menonjol sebagai individu dibandingkan dalam persaingan legislatif yang lebih ramai.

Selain itu, mereka juga umumnya maju bukan dengan tangan kosong. Turut serta dalam kontestasi Pileg menjadikan mereka telah memiliki basis dukungan yang signifikan dari kampanye Pileg sebelumnya. Basis dukungan ini bisa berupa jaringan partai, relawan, dan pemilih yang loyal.

Pada saat yang sama, model kampanye untuk pemilihan kepala daerah seringkali lebih personal dan terfokus pada isu-isu yang spesifik. Sehingga mereka yang telah memiliki pengalaman kampanye di pemilu legislatif, akan dapat lebih efektif berkomunikasi dengan pemilih ketika ikut Pilkada.

”Kuncinya sekarang tinggal bagaimana memulihkan dan mempertahankan kepercayaan masyarakat. Jika masyarakat melihat mereka sebagai individu yang gigih dan berkomitmen, hal ini dapat mendekatkan pada kemenangan,” tutup Didu.

]]>
Thu, 23 May 2024 00:39:56 +0800 Maruf
Monolog & Dirgahayu Bang Zul ke&52: Wujudkan Mimpi Bersama Idola Kita Semua https://amarmedia.co.id/monolog-dirgahayu-bang-zul-ke-52-wujudkan-mimpi-bersama-idola-kita-semua https://amarmedia.co.id/monolog-dirgahayu-bang-zul-ke-52-wujudkan-mimpi-bersama-idola-kita-semua Monolog & Dirgahayu Bang Zul ke-52: Wujudkan Mimpi Bersama Idola Kita Semua

Mataram - Doktor Zulkieflimansyah alias Bang Zul memang menjadi idola dan dirindukan banyak orang. Acara bertajuk "Monolog & Dirgahayu Bang Zul ke-52: Wujudkan Mimpi Bersama Idola Kita Semua" dihelat di Tuwa Kawa Cafe Mataram pada Sabtu (18/5/2024) malam.

Acara yang dikemas dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bang Zul ke-52 diinisiasi oleh para sabahat Bang Zul bersama Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6. Acara berlangsung santai, hangat, meriah serta merakyat. Pada momen bahagianya, Bang Zul tetap bersama rakyat.

Tak hanya dihadiri para sahabat dan kolega Bang Zul, turut hadir dalam kesempatan tersebut juga puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan anak-anak yatim piatu. Bang Zul datang bersama istri, Bunda Niken Zulkieflimansyah. 

Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua Dewan Pendiri Mi6 Hendra Kusuma. Dalam sambutannya, Hendra mengaku pihaknya turut bersyukur atas bertambahnya usia Bang Zul.

"Kami sebagai sahabat dan kolega Bang Zul, mengucapkan selamat ulang tahun. Ini tidak ada kaitan dengan Pilkada. Tapi kami ingin menjadikan acara semacam ini sebagai tradisi yang baik dan penghormatan, apresiasi terhadap beliau dalam konteks kemanusiaan. Beliau telah berjasa untuk segenap masyarakat NTB," katanya. 

Mi6, kata Hendra, berharap agar segala harapan dan cita-cita Bang Zul ke depan dapat terwujud. Mi6, menurutnya adalah kawan setia Bang Zul. Siap selalu dan bersama Bang Zul. 

"Kami tentu berharap, apapun jua yang menjadi harapan dan tujuan Bang Zul ke depan. Ini harapan kita semua. Sekali lagi, Bang Zul adalah tokoh panutan kita semua, idola kita semua. Masyarakat NTB bangga dan memanggil kembali Bang Zul untuk mengabdi kembali bagi masyarakat NTB," terangnya.

Monolog Bang Zul bersama Bunda Niken

Acara kemudian dilanjutkan dengan acara Monolog yang disampaikan Bang Zul. Lantaran hari ulang tahunnya hampir bersamaan dengan hari ulang tahun sang istri, Bang Zul mengajak Bunda Niken untuk setia mendampinginya. 

Dalam monolognya, Bang Zul yang dikenal humble dan rendah hati itu mengucap syukur. Dirinya juga berterima kasih kepada para kerabat dan koleganya yang telah menginisiasi digelarnya acara tersebut. 

"Saya bersama Ibu Niken tidak memiliki alasan untuk tidak mengucap syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kami banyak sekali nikmat dan banyak sekali kesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat. Mudah-mudahan apa yang kami rasakan juga dapat dirasakan oleh kita semua," ucap Bang Zul. 

Bang Zul sempat menyinggung soal kontestasi politik yang akan dirinya hadapi dalam waktu dekat. Bang Zul mengaku selalu berupaya melakukan yang terbaik dengan segala kerendahan hati. Bang Zul mengaku 'nothing to lose' menghadapi perhelatan politik berikutnya.

Lebih jauh, Bang Zul mengaku mengenal sahabat-sahabatnya di Mi6 sudah cukup lama. Salah satu hal yang paling dirinya ingat adalah Mi6 selalu riang gembira menghadapi situasi kehidupan apapun.

"Saya mengenal Mi6 cukup lama, satu hal yang membuat kami terpesona dengan teman-teman di Mi6 ini adalah orang-orangnya awet muda. Jadi hidupnya bahagia dan penuh keceriaan," jelas Bang Zul. 

Di tempat yang sama, Bunda Niken mengucapkan selamat dan menyematkan doa di momen bertambahnya usia Bang Zul. Bang Zul menurutnya adalah seseorang yang memiliki jiwa lapang.

"Selamat ulang tahun dulu kepada Bang Zul. Semoga senantiasa dianugerahi kesehatan, dijaga oleh Allah SWT dan menjadi orang yang berjiwa lapang sebagaimana yang selalu beliau sampaikan," bebernya. 

Bunda Niken mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya bagi para sahabat yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan acara HUT ke-52 Bang Zul. Ia berharap, suasana kebahagiaan dapat ditularkan kepada semua orang.

"Terima kasih banyak kepada teman-teman yanh telah menyelenggarakan acara ini. Semoga semuanya berada dalam suasana bahagia malam ini. Untuk semua masyarakat NTB," ujarnya.

Kepada para anak yatim piatu, Bunda Niken memberikan spirit untuk terus bersemangat mengejar cita-citanya. Ia menukil kalimat yang sering disampaikan Bang Zul yakni "where there is a will there is a way".

"Semoga adik-adik tetap semangat, bisa terinspirasi untuk selalu belajar dan mengejar cita-cita kalian. Bang Zul selalu mengatakan where there is a will there is a way. Di mana ada keinginan, Allah SWT pasti mudahkan jalan," pesan Bunda Niken.

Usai monolog, acara dilanjutkan dengan acara tiup lilin dan pemotongan tumpeng. Tak hanya itu, acara tersebut juga dirangkaikan dengan pemberian santunan kepada Puluhan anak Yatim PKL.(AM)

]]>
Sun, 19 May 2024 17:40:19 +0800 Maruf
Mi6: Putin – Zelensky Perlu Akhiri Perang, Lombok Bisa Jadi Solusi Damai https://amarmedia.co.id/mi6-putin-zelensky-perlu-akhiri-perang-lombok-bisa-jadi-solusi-damai https://amarmedia.co.id/mi6-putin-zelensky-perlu-akhiri-perang-lombok-bisa-jadi-solusi-damai Mi6: Putin – Zelensky Perlu Akhiri Perang, Lombok Bisa Jadi Solusi Damai

Mataram.Amarmedia.co.id– Sudah lebih dari dua tahun lamanya Rusia dan Ukraina terlibat perang pasca Presiden Rusia, Vladimir Putin melancarkan serangan ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Kremlin mengklaim pertempuran tersebut merupakan Operasi Militer Khusus ke negara tetangganya yang dipimpin Volodymyr Zelenskyy tersebut. Ini merupakan pertempuran paling berdarah Rusia dan Ukraina pasca aneksasi Krimea pada 2014 silam.

Tidak dapat diperkirakan secara akurat jumlah korban tewas selama lebih dari dua tahun bertempur. Terdapat banyak klaim berbeda soal korban jiwa. Ukraina menyebut sebanyak 31 ribu tentara mereka tewas dalam perang. Ini mematahkan tudingan Putin yang sebelumnya menyebut tentara Ukraina luka atau tewas berkisar 150 hingga 300 ribu jiwa dan belum termasuk warga sipil.

Di sisi yang berbeda, tentara Rusia tewas di Ukraina diklaim mencapai 45,123 orang. Meskipun demikian terdapat perbedaan klaim korban tewas.

Banyaknya korban jiwa yang berjatuhan membangkitkan rasa ngeri terhadap perang.  

Lembaga Kajian Sosial - Politik Mi6 menilai pertempuran tersebut sangat berisiko dengan eskalasi perang yang lebih meluas lagi menjadi Perang Dunia ketiga.

“Ini akan memicu eskalasi pada perang dunia ketiga. Tentu saja tidak hanya merugikan kedua belah pihak (Rusia – Ukraina), tetapi banyak negara termasuk Indonesia,” ujar Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, Selasa, 7 Mei 2024.

Pria yang akrab disapa Didu itu meminta kedua belah pihak menahan diri. Putin dan Zelensky disarankan untuk berkepala dingin dan berlapang hati untuk terus memperbanyak negosiasi damai.

“Kedua pimpinan negara tersebut harus berlapang dada untuk terus melakukan negosiasi damai. Tentunya negara-negara lain ikut aktif menjaga perdamaian dunia,” kata dia.

Perang Dapat Menimbulkan Malapetaka

Didu mengatakan perang Rusia ini bisa membawa malapetaka yang buruk untuk bumi. "Kiamat" bisa saja tiba jika perang terus menerus terjadi.

Meskipun Didu berharap "kiamat" tiba lebih cepat melihat dinamika dunia semakin buruk, namun dia berubah pikiran melihat banyaknya korban jiwa yang berjatuhan akibat perang.

“Tapi dipikir-pikir ternyata kiamat itu ngeri. Enggak enak, lebih baik berdamai saja, jangan sudah perang-perang itu, kok ruwet perang terus,” ujarnya.

“Coba Pak Putin dan Bro Zelensky itu ngopi di Tuwa Kawa (sebuah kafe di Mataram), kan enggak ruwet mikirin perang terus. Perang kan udah boros, enggak hemat, menyeramkan lagi. Adoh berhenti sudah perang-perang itu,” kata dia.

Lombok Jadi Solusi

Didu menawarkan agar negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina dapat dilakukan di Lombok. Meskipun terlihat unik, namun dia meyakini negosiasi damai di Lombok dapat membuat kedua pemimpin yang tengah bertikai tersebut dapat mengakhiri konflik.

“Negosiasi damai bisa dilakukan di Lombok. Indonesia bisa menawarkan diri untuk menjadi negosiator damai dan dilaksanakan di Lombok yang kini sudah mulai mendunia dengan berbagai kegiatan internasional yang hadir,” ujarnya.

Lombok bukan kali pertama menjadi lokasi untuk perjanjian internasional. Pada 13 November 2006, Lombok menjadi lokasi perjanjian antara Indonesia dan Australia soal kerjasama keamanan negara, atau yang dikenal dengan Lombok Treaty atau Kesepakatan Lombok.

Kesepakatan tersebut pada substansinya meliputi kerjasama bidang pertahanan, penegakan hukum, kontra terorisme, intelijen, keamanan maritim, keselamatan pembangunan dan keamanan pencegahan senjata pemusnah massal. Perjanjian tersebut juga berisi tidak saling campur tangan masalah internal negara, seperti masalah Papua yang saat ini masih dihadapi Indonesia.

“Dengan kesepakatan tersebut sampai sekarang hubungan Indonesia dan Australia langgeng. Ini bisa menjadi contoh dan bisa ditiru menjadi lokasi untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina,” kata Didu.

Dengan Lombok sebagai tempat perjanjian atau negosiasi damai, Mi6 meyakini perang Kremlin dan Kiev akan segera berakhir.

Siap Jadi Negosiator

Setali tiga uang dengan Didu, Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fathullah mengatakan Mi6 akan siap menjadi negosiator damai antara Rusia dan Ukraina jika pemerintah tidak siap.

Athar meminta agar Indonesia kembali melobi kedua negara untuk menjadi juru damai yang sebelumnya sempat buntu.

“Jika pemerintah tidak sanggup, Mi6 juga siap untuk menjadi juru damai,” ujarnya meyakinkan.

Dia mengatakan, dengan Lombok menjadi lokasi negosiasi atau perundingan damai maka akan berefek pada nama Lombok yang semakin besar lagi, dan meningkatkan sektor pariwisata Lombok.

“Mungkin nanti kalau Pak Putin dan Pak Zelensky di Lombok bisa negosiasi sambil berwisata. Pikiran mereka akan lebih fresh dan bisa berdamai dengan nyaman di sini (Lombok),” kata Athar.(AM)

]]>
Tue, 07 May 2024 08:44:16 +0800 Maruf
Pasangan yang Berpeluang Jadi Kuda Hitam Jarot & Madul Bisa Jadi Pilihan https://amarmedia.co.id/pasangan-yang-berpeluang-jadi-kuda-hitam-jarot-madul-bisa-jadi-pilihan https://amarmedia.co.id/pasangan-yang-berpeluang-jadi-kuda-hitam-jarot-madul-bisa-jadi-pilihan Pasangan yang Berpeluang Jadi Kuda Hitam Jarot - Madul Bisa Jadi Pilihan

(Bagian Pertama)

Sumbawa.Amarmedia.co.id -Perbincangan bakal calon kepala daerah dan wakil kepala Daerah semakin hangat, kini tinggal menunggu keputusan ditingkat pengambil keputusan karena wacana pasangan yang digulirkan mendapatkan antusiasme di tengah masyarakat.

Awak media dihubungi tokoh politik dan juga pengusaha menyampaikan bahwa untuk paket pasangan yang bisa menjadi alternatif adalah Pasangan Jarot -   Ahmadul. 

Jarot dikenal sebagai pengusaha yang sukses meniti karir di PT Newmont Nusa Tenggara yang kini berubah menjadi PT AMNT. Dan sudah mencoba maju pada pilkada tahun 2021 lalu selisih suaranya dengan pemenang juga sangat tipis. Sementara Ahmadul Kusasih SH adalah sosok yang sangat akrab dikalangan masyarakat jelata, Dirinya telah tiga  periode menjadi Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa dari Fraksi Golkar. Kini Ahmadul Kusasih SH masih menjabat sebagai ketua Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Sumbawa dan juga ketua Bapemperda atau badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kabupaten Sumbawa. Pada pemilu lalu dirinya maju menjadi calon legislatif DPRD Provinsi NTB meskipun belum menjadi peraih suara terbanyak dalam partai Golkar.

Selain itu Ahmadul juga dikenal sebagai seorang advokat atau pengacara yang handal. Telah banyak kasus yang ditanganinya dan berhasil dimenangkan

Menurut informasi yang dihimpun media telah ada dorongan dari keluarga besar Ahmadul Kusasi dan Jarot untuk dapat memasangkan kedua tokoh muda ini dalam pilkada mendatang.

Melihat track record keduanya, maka bisa menjadi pilihan paket ini bersanding karena dari segi popularitas keduanya memiliki kans untuk dipasangkan. Hanya saja dalam mengajukan calon melalui partai, Partai Golkar telah menetapkan H.Mo atau Drs. h.Mahmud Abdullah sebagai calon Bupati Sumbawa dan digadang gadang akan berpasangan dengan Abdul Rafiq SH yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa dan pada pemilu legislatif lalu meraih suara terbanyak se Pulau Sumbawa. 

Apakah Pasangan Ir Syarafuddin Jarot - Ahmadul Kusasi SH akan maju?

Kita Tunggu saja. (AM)

]]>
Thu, 07 Mar 2024 11:12:01 +0800 Maruf
Abdul Rafiq : "Dimanapun Saya Berada Jiwa Pengabdian itu Selalu Ada" https://amarmedia.co.id/abdul-rafiq-dimanapun-saya-berada-jiwa-pengabdian-itu-selalu-ada https://amarmedia.co.id/abdul-rafiq-dimanapun-saya-berada-jiwa-pengabdian-itu-selalu-ada Abdul Rafiq : "Dimanapun Saya Berada, Jiwa Pengabdian itu Selalu Ada"

Sumbawa.Amarmedia.co.id - Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Abdul Rafiq SH dikenal sebagai pribadi yang responsif atas pengaduan permasalaahan rakyat. Dirinya selama menjadi ketua DPRD secara cepat menindaklanjuti setiap surat masuk maupun permasalahan masyarakat. Karakter ini menjadi sangat disenangi masyarakat buktinya setiap diketahui ketua DPRD berkantor Puluhan bahkan ratusan orang berdatangan ingin bertemu dengan ketua DPRD.

Atas hal ini dikatakan Rafiq semangat dan energi itu hadir karena dilandasi jiwa pengabdian. "Insya Allah jiwa pengabdian itu selalu ada dimanapun saya berada. Politik itu bukan sekedar meraih kekuasaan tapi bagaimana ruang pengabdian dan kemanusiaan itu semakin luas " ucapnya kepada media disela perjalanan Mataram.- Sumbawa Sabtu (2/3)

Baginya selama tiga periode menjadi anggota DPRD inilah yang menjadi spirit. Rasa pengabdian ini tak mesti kita harus menjadi pemimpin atau ketua, semua orang bisa melakukannya asalkan ada rasa ikhlas dalam berbuat.

Kini daerah sedang berada dalam tahun politik,Pemilu legislatif yang telah lewat dan Pilkada yang akan berlangsung di 2024. Dirinya juga tetap memiliki semangat yang positif dan menjaga semangat pengabdian itu harus tetap ada. 

Beredar kabar bahwa dirinya digadang akan berpasangan dengan H.Mo yang merupakan Bupati Sumbawa saat ini pada pilkada 2024 mendatang.Sementara dirinya diharapkan oleh banyak kalangan dapat menjadi pemimpin daerah ini atau Bupati Sumbawa. 

Atas hal itu Rafiq kembali mengingatkan bahwa jiwa pengabdian itu selalu ada dimanapun berada dalam jabatan apapun.

Ketika dalam perjalanan politik dirinya berpasangan sebagai wakil Bupati Sumbawa maka itu juga merupakan hal yang baik. Demikian pula ketika dirinya didorong maju menjadi Bupati Sumbawa maka itu juga ruang pengabdian untuk Daerah. "Kedua duanya adalah Pemimpin Daerah, memiliki ruang pengabdian yang sama untuk mengabdi. Bupati dan wakil Bupati harmonis bersinergi saling menopang untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan pada awal Kampanye hingga menjadi ketetapan dalam program pembangunan di Daerah" Tandasnya.

"Setiap jaman ada orangnya dan setiap daerah ada pemimpinnya. Kita hanya berikhtiar saja, masalah suksesnya itu kita serahkan kepada Allah yang Maha Kuasa dan ada andil rakyat didalamnya" Pungkasnya. (Gam)

]]>
Sat, 02 Mar 2024 20:28:20 +0800 Maruf
Warna Emosi Pada Remaja https://amarmedia.co.id/warna-emosi-pada-remaja https://amarmedia.co.id/warna-emosi-pada-remaja Akhir-akhir ini kita banyak membaca pemberitaan media cetak dan elektronik tentang remaja dan permasalahannya. Masa remaja tidak akan terulang lagi. Ungkapan itu yang sering kita dengar dari beberapa remaja yang penulis temui. Tentu kehidupan remaja akan terus berlanjut hingga masa dewasa dan tua. Banyak remaja yang salah mengartikan untuk terus bisa mengisi masa-masa ini. Sebelumnya penulis ingin mengemukakan tentang definisi remaja menurut bebarapa ahli. 

Remaja menurut Santrock (2012) yang berarti individu yang tumbuh dan berkembang setelah masa anak dan sebelum menjadi dewasa. Sementara, definisi remaja menurut WHO adalah masa pertumbuhan dan perkembangan di mana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual. Pada masa ini, individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Pada masa ini juga terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang lebih mandiri (Sarlito, 1991: 9).

Menurut Stenberg (2022), remaja terbagi menjadi tiga kelompok yakni remaja awal (11-14 tahun), remaja madya (15-18 tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun). Remaja pada perkembangannnya memiliki emosi yang meluap-luap dan kadang kurang bisa dikendalikan. Hal ini terkait dengan adanya perubahan secara fisiologis dan psikologis yang ada dalam diri mereka yang kadang disadari dan di luar kesadarannya. Hal ini disebabkan adanya perubuhan hormon baik itu hormon progesteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan (https/hellosehat.com). 

Ilustrasi Emosi  Remaja 

Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak (Golerman, 2015: 409). Dalam buku psikologi yang ditulis Atkinson (1983), dijelaskan bahwa ada 2 jenis emosi yakni emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Martin (2003) menyatakan bahwa emosi baik atau buruknya itu hanya tergantung pada dampak yang akan ditimbulkan baik bagi diri maupun orang lain di sekitarnya. Ekspresi seseorang dalam mengungkapkan emosinya akan dapat mengurangi perasaan stress dan kegundahan di hatinya. Ada perasaan yang menenangkan ketika seseorang mau mengungkapkan masalah yang dihadapi.

Di era digitalisasi ini, remaja terkadang memiliki perubahan dari sudut perilakunya. Perubahan teknologi yang ada memberi kesan kalau remaja sudah menjadikan teknologi sebagai teman dalam hal belajar dan mempermudah segala urusan hidupnya. 

Di satu sisi, kemajuan teknologi membawa keegoisan remaja akan lingkungan sekitarnya. Seperti yang penulis rasakan saat mengajar di kelas, terkadang ada saja mahasiswa yang tidak peduli dengan teman lain yang sedang presentasi. Ada juga yang tidak paham dengan materi yang dibahas saat itu. Seperti sebuah iklan yang pernah penulis dengar di sebuah stasiun TV. Ada seorang anak yang bertanya kepada ibunya tentang cita-cita. Ibu: “Apa cita-citamu nak?” Anak: “Saya ingin jadi HP, Ibu.” Dengan muka penuh tanda tanya si ibupun bertanya lagi: “Mengapa kamu ingin jadi hp?” Anak: “Karena HP, selalu ada bisa menemani saya. Ada di saat saya sedang kesepian dan menjadi solusi di saat saya ada masalah.” 

Ini adalah sebuah gambaran minimnya kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anaknya. 

Semoga anak-anak kita bisa menyadari jika kasih sayang orang tuanya tulus. Sekalipun mereka bekerja, di hati mereka selalu terselip doa untuk kebahagiaan dan kesuksesan anak mereka kelak. Emosi juga ada yang bersifat positif dan negatif. Emosi negatif adalah perasaan tidak menyenangkan, menganggu dan biasanya diekspresikan sebagai bentuk ketidaksukaan seseorang terhadap sesuatu, misalnya cemas, marah, merasa bersalah dan sedih. 

Daniel Golamen (2009: 411) mengemukakan beberapa macam emosi negatif yaitu (1) Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel dan kesal hati, (2) Kesedihan: pedih, sedih, muram dan suram, melankolis, mengsihi diri dan putus asa, dan (3) Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri. 

Sedangkan, emosi positif adalah perasaan ketika kita mengalami sesuatu yang menyenangkan atau membawa dampak positif dalam diri kita. Misalnya, kita merasa bahagia saat mendapat hadiah yang kita mau, merasa lega ketika terhindar dari bahaya, dan merasa bersyukur dengan kondisi yang kita milki.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi emosi anak (Kumparan.com) ada 5 yakni 1) faktor keturunan 2) tingakat kedewasaan, 3) kondisi kesehatan 4) tingkat kecerdasan, 5) contoh dari orang tua. 

Dalam faktor keturunan, cara orang tua mengelola emosi dijadikan contoh oleh anak. Ada pepatah yang mengatakan bahwa air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga artinya bahwa apa yang dilakukan orang tua akan menurun pada anaknya. Akan ditemukan kesamaan yang terdapat pada anak dan orang tuanya dalam menunjukkan emosi. 

Penulis sudah kemukakan di bagian awal tulisan bahwa usia anak akan mempengaruhi tingkat perkembangan dalm hal ini sisi afektifnya. Selanjutnya, faktor kecerdasan yang dimiliki anak akan berkorelasi positif dengan kadar emosi yang dimiliki anak. Anak yang cerdas akan mampu mengelola emosi dengan baik dan sebaliknya.  

Ada beberapa cara mengatasi emosi pada anak menurut beberapa referensi. Menurut Adit (Kompas.com - 09/04/2023), emosi anak dapat dikelola dengan (1) menenangkan diri, dengan cara mengambil posisi duduk, tarik nafas, melalul diafragma, tahan selama 3 detik dan hembuskan secara berulang, (2) mempertimbangkan dampaknya, dengan berpikir terlebih dahulu dampak yang akan terjadi jika emosi sampai tidak bisa dikendalikan, (3) mengekspresikan secara tidak berlebihan, (4) melihat tempat dan waktu yang tepat, (5) berdoa atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara menahan nafsu amarah menurut Islam dilakukan dengan berwudhu, berzikir dan beristigfar, sholat sunat, mengambil posisi duduk, menjaga lisan dengan diam, dan memahami dan mempraktiikkan hadist menahan marah (https://kumparan.com/hijab-lifestyle). 

Semoga anak-anak kita melewati masa remaja mereka dengan bahagia dan dapat mengelola berbagai warna emosi mereka dengan tepat di bawah bimbingan orang tuadan guru yang bijak. 

]]>
Thu, 08 Feb 2024 18:52:33 +0800 Maruf
Kado HUT Sumbawa Ke&65 Dari MY Institute “Masyarakat Sumbawa menginginkan Pemerintah yang Inovatif dan Melaksanakan Pemerataan Pembangunan https://amarmedia.co.id/kado-hut-sumbawa-ke-65-dari-my-institute-masyarakat-sumbawa-menginginkan-pemerintah-yang-inovatif-dan-melaksanakan-pemerataan-pembangunan https://amarmedia.co.id/kado-hut-sumbawa-ke-65-dari-my-institute-masyarakat-sumbawa-menginginkan-pemerintah-yang-inovatif-dan-melaksanakan-pemerataan-pembangunan Sumbawa. Amarmedia.co.id - Dalam rangka hari ulang tahun (HUT) sumbawa ke-65, Lembaga Penelitian dan Konsultan MY Institute merilis hasil surveinya yang bertema, “Persepsi Masyarakat Sumbawa terhadap Pemerintahan Mo-Novi” yang dimoderatori oleh Tengku Mahathir Mas’ud via live facebook. Survei tersebut dilaksanakan pada tanggal 3-14 Januari 2024 dengan margin of error +/2,24%, dengan tingkat kepercayaan 95%, sehingga mendapatkan responden sejumlah 2000 orang. Menurut Yadi Satriadi selaku peneliti MY Institute, data persebaran tersebut sangat valid karena mencapai hingga ke tingkat kelurahan/desa yang disebarkan secara proporsional. Dari persebaran tersebut masyarakat diminta untuk menjawab terkait tingkat pengetahuan terhadap 10 Program unggulan Mo-Novi, menilai tingkat kepuasan tersebut, dan menilai beragam isu sosial di tengah masyarakat.

Menurut Miftahul Arzak selaku direktur MY Institute, ada masalah utama yang selalu mereka berikan masukan kepada pemerintah dari tahun ke tahun yaitu tingkat sosialisasi 10 program unggul dan program lainnya kepada masyarakat. Mifta menyayangkan di tengah perkembangan media saat ini, pemerintah belum mempunyai strategi agar informasi terkait 10 program unggulan tersebut dapat diterima oleh masyarakat hingga ke tingkat desa. Terbukti, dari 10 program unggulan Mo-Novi tidak ada yang mencapai 50% tingkat pengetahuannya. Dari 10 program tersebut hanya terkait peningkatan layanan Kesehatan dan ambulance desa mencapai tingkat pengetahuan 45,5% termasuk menjadi program yang dinilai berhasil oleh masyarakat karena tingkat kepuasaannya mencapai 60%. Berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan terkait program peningkatan layanan air bersih dan rehabilitasi distribusi air yang mencapai 40,5%, namun berbeda dengan pelayanan Kesehatan yang dinilai positif, terkait program yang berhubungan dengan PDAM ini menjadi salah satu yang disorot kurang berhasil, yaitu 49,3% dikatakan tidak puas, 27,5% kurang puas dan yang menyatakan puas hanya 23,3% saja. Sedangkan 8 program lainnya berada dalam tingkat pengetahuan sekitar 30% saja. 

Ditambah oleh Miftah, bahwa selain menilai 10 program unggulan, mereka juga menganalisa program di luar itu, yaitu berhubungan dengan isu di sekitar, seperti tingkat keamanan di sekitar, pemberantasan korupsi, pelayanan Kesehatan, penjagaan lingkungan seperti penghijauan, pelayanan birokrasi, dan penyelenggaraan event internasional. Dari peniliaan tersebut tim MY Institute memberikan nilai interval di setiap isu. Terkait keamanan di sekitar, masyarakat Sumbawa memberikan nilai 3,2 atau cukup baik masih ada masyarakat yang menilai kurang puas karena mereka menilai saat ini masih marak terkait pemanah, dan pencurian motor di sekitar. sedangkan terkait pemberantasan korupsi diberkan nilai 3,1 atau cukup baik. Terkait korupsi, masyarakat menyoroti terkait politik uang yang masih terjadi, dan ketidak transparan terhadap pengelolaan uang daerah. Selanjutnya, tim MY Institute juga menjelaskan terkait pelayanan Kesehatan yang sekaligus menjadi isu yang berhasil dilakukan karena mendapat nilai 3,5. Namun, masih ada kritik masyarakat terhadap program ini misalkan pelayanan bagi pengguna BPJS yang masih kurang dan banyak administrasi yang susah dan lama disiapkan setelah pasien masuk ke rumah sakit. Terkait penjagaan lingkungan masih dinilai kurang puas yaitu 3,1. Dalam isu ini masyarakat menilai bahwa pemerintah daerah tidak serius mengembangkan penghijauan di tingkat kecamatan atau desa, dan hanya berfokus ke kota saja. Selain itu, terkait persampahan dan banjir juga masih menjadi masalah setiap tahunnya. Terkait pelayanan birokrasi, pemerintahan Mo-Novi juga masih dianggap oleh sebagian masyarakat adanya timpang pilih dalam memberikan pelayanan karena memberikan kemudahan pelayanan hanya kepada orang-orang yang dianggap kenal saja sehinga nilai yang diberikan adalah 3,3 atau cukup baik. Terakhir terkait penyelenggaraan event internasional, masyarakat menilai positif dengan nilai mencapai 3,5, tetapi masyarakat berharap juga bahwa setiap event bisa memberikan dampak bagi masyarakat yang berada di desa.

Dari keseluruhan pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Mo-Novi, baik terhadap 10 program unggulan dan di luar program itu, masyarakat memberikan penilaian terhadap pemerintahan Mo-Novi, 22,2% tidak puas, 41,1% kurang puas, dan 36,7% menyatakan puas. Dari angkat tesebut mendapatkan nilai 3,1 atau cukup baik. 

Menurut Miftah, rilis survei ini menjadi positif jika pemerintah dapat menilainya sebagai alat evaluasi program yang telah mereka rencanakan dan selesaikan. Secara keseluruhan masyarakat berharap pembangunan dapat merata di seluruh desa se-kabupaten Sumbawa tidak hanya fokus pada pengembangan di kota saja, masyarakat juga berharap pemerintah lebih berinovasi dalam setiap pengembangan program, dan dapat merangkul masyarakat untuk hadir di setiap kebijakan, tambah Mifta.(AM)

]]>
Thu, 25 Jan 2024 17:21:33 +0800 Maruf
MUI Kabupaten Sumbawa Mengucapkan Dirgahayu Kabupaten Sumbawa ke 65 https://amarmedia.co.id/mui-kabupaten-sumbawa-mengucapkan-dirgahayu-kabupaten-sumbawa-ke-65 https://amarmedia.co.id/mui-kabupaten-sumbawa-mengucapkan-dirgahayu-kabupaten-sumbawa-ke-65 Sun, 21 Jan 2024 22:39:49 +0800 Maruf Syarat Mendapatkan Syafa'at https://amarmedia.co.id/syarat-mendapatkan-syafaat https://amarmedia.co.id/syarat-mendapatkan-syafaat Khutbah Jumat

Syarat Mendapatkan Syafa’at

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Khutbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Sesungguhnya diantara perkara yang kita butuhkan untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat adalah syafa’at. Syafa’at yang hakikatnya adalah rekomendasi. Rekomendasi dari seseorang terhadap Allah subhanahu wa ta’ala agar kita mendapatkan ampunanNya yang terbesar, yaitu surganya sebagai pahala yang paling besar yang Allah berikan kepada hambaNya. Ahlussunnah wal jamaah mempunyai keyakinan bahwa syafa’at hanyalah milik Allah saja. Para Nabi tidak bisa memberikan syafa’at tanpa izin dari Allah. Para wali tidak bisa memberikan syafa’at tanpa izin dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman:

قُل لِّلَّـهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا…

Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya…” (QS. Az-Zumar[39]: 44)

Maka syafa’at hanyalah milik Allah. Tidak akan Allah berikan kepada seseorang kecuali setelah memenuhi dua syarat. Yang pertama adalah izin dari Allah dan yang kedua ridha Allah kepada yang memberikan syafa’at dan yang diberikan syafa’at. Allah berfirman:

وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّـهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦﴾

Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An-Najm[53]: 26)

Maka saudara-saudaraku sekalian, meminta syafa’at hanyalah hak Allah dan untuk Allah saja. Tidak diperkenankan meminta syafa’at kepada selain Allah. Karena syafa’at hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun mengharapkan syafa’at para Nabi dengan perkara yang disyariatkan oleh Allah, maka yang seperti itu pun diperbolehkan dalam syariat Islam.

Saudara-saudaraku sekalian, Rasulullah diberikan oleh Allah hak memberikan syafa’at. Bahkan diberikan oleh Allah syafa’atul udzma (syafa’at yang paling besar) nanti pada hari kiamat. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَخَيَّرَنِى بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِى الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِىَ لِمَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Aku disuruhh memilih antara memasukkan separuh dari umatku ke dalam surga atau memilih syafa’at. Aku pun memilih syafa’at dan ini akan diperoleh oleh orang yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini tegas bahwa syafa’at itu hanya untuk orang-orang yang mentauhidkan Allah, menjauhkan kesyirikan. Adapun apabila ia tidak mentauhidkan Allah, ia mempersekutukan Allah, mensyirikan Allah dengan sesuatu yang lain, maka ia tidak akan mendapatkan syafa’at sama sekali.

Ummatal Islam,

Syafa’at hanyalah milik Allah. Kita berusaha untuk mendapatkan syafa’at Rasulullah dengan cara menjalankan syariat Allah jalla wa ala, dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dengan cara itulah kita akan mendapatkan syafa’at Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syafa’at diberikan juga oleh Allah kepada kaum mukminin yang selamat ketika melewati jembatan shirat yang terbentang di atas api neraka. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari, ketika kaum mukminin telah melewati jembatan shirat yang terbentang di atas api neraka, maka mereka kembali kepada Allah mereka berkata:

رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ

Wahai Rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan berhaji bersama kami.” (HR. Muslim)

Mereka terus minta kepada Allah agar teman-temannya, saudara-saudaranya tersebut dikeluarkan dari api neraka. Lalu Allah berfirman:

اذْهَبْ إِلَى النَّارِ

Silahkan kalian pergi ke neraka” Dan keluarkan orang-orang yang kalian kenal yang mengucapkan أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, yang mentauhidkan Allah, keluarkan mereka dari api neraka. Maka mereka pun mengeluarkan teman-temannya, saudara-saudaranya dari api neraka dengan izin dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Saudara-saudaraku sekalian, siapapun diantara kita yang ingin mendapatkan syafa’at Rasulullah dengan izin dari Allah, maka penuhilah syaratnya. Yaitu kita tidak mempersekutukan Allah sedikitpun juga, menjauhkan berbagai macam kesyirikan-kesyirikan yang itu merupakan dosa yang terbesar, yang tak akan pernah Allah ampuni. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا ﴿٤٨﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa'[4]: 48)

Adapun syirik, Allah tak akan pernah mengampuni pelakunya apabila ia wafat di atasnya. Dan selama-lamanya ia tidak akan pernah masuk ke dalam surga. Allah mengatakan:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّـهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,” (QS. Al-Maidah[5]: 72)

Allah juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ …

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. …” (QS. Al-A’raf[7]: 40)

Saudara-saudaraku sekalian, tapi kemudian kita mengharapkan syafa’at itu kepada orang yang shalih. Kita meminta syafa’at kepada orang yang shalih yang kita anggap itu wali. Ini justru adalah kesyirikan saudaraku sekalian.

Ketika ada orang yang datang ke kuburan para wali, lalu kemudian dia mengharapkan syafa’at wali tersebut dimana dia meminta syafa’at kepada wali tersebut. Sungguh ini adalah kesyirikan saudara-saudaraku sekalian. Orang-orang musyrikin Quraisy menyembah empat patung yang terkenal, yaitu Latta, ‘Uzza, Manat, dan Hubal. Latta adalah seorang yang shalih. Latta dari kata “Latta ya luttu” artinya memberikan makan dan minum untuk para jamaah haji. Saat dia masih hidup, ia adalah orang yang shalih. Diantara amalan besarnya adalah ia memberikan makan dan minum untuk para jamaah haji. Ketika Latta telah meninggal dunia, lalu dibangunlah monumen di atas kuburannya.

Orang-orang musyrikin Quraisy menjadikan monumen itu sebagai tandingan selain Allah. Dan Subhanallah, ketika orang-orang musyrikin Quraisy ditanya, “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?” Mereka menjawab, “Allah”. “Siapa yang memberikan rezeki?” Mereka menjawab, “Allah”. Siapa yang menurunkan hujan dari langit? Mereka menjawab, “Allah”. Allah berfirman dalam surat Luqman Ayat 25:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّـهُ ۚ …

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”...” (QS. Luqman[31]: 25)

Bukan Latta, bukan ‘Uzza, mereka tidak mempunyai keyakinan bahwa Latta dan ‘Uzza yang telah menciptakan langit dan bumi. Tidak pula mereka meyakini bahwa Latta dan ‘Uzza yang memberikan rezeki, memberikan hujan dan yang lainnya. Tapi mereka yakin Allah.

Lantas ketika mereka ditanya, “Kenapa kalian menyembah Latta dan ‘Uzza?” Apa jawab mereka? Allah menyebutkan dalam surat Az-Zumar ayat 3:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّـهِ زُلْفَىٰ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Rupanya inilah kesyirikan kaum musyrikin Quraisy. Mereka meminta syafa’at kepada mayat yang sudah meninggal dunia yang mereka anggap itu sebagai orang yang shalih. Maka Allah mengingkari perbuatan mereka tersebut. Maka apabila ada orang yang datang ke kuburan wali lalu dia berharap syafa’at wali tersebut dan meminta syafa’at kepada wali tersebut, sungguh ia telah berbuat syirik saudaraku sekalian.

Sebagian orang ada yang datang ke kuburan dan berkata, “Saya orang banyak berbuat dosa, sementara wali yang ada di kuburan ini orang shalih yang tinggi kedudukannya disisi Allah, saya berharap supaya wali ini menyampaikan do’a saya kepada Allah.” Hakikatnya ini orang minta syafa’at kepada wali saudaraku sekalian.

Mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun wasilah yang dimaksud didalam ayat Al-Maidah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٣٥﴾

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah[5]: 35)

Seluruh ulama tafsir sepakat, semuanya tidak ada perbedaan bahwa yang dimaksud dengan wasilah disini itu amalan shalih berupa shalat, zakat, puasa, dzikir dan yang lainnya kita jadikan wasilah menuju Allah, menuju surgaNya, menuju keridhaannya. Bukan sama sekali yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah wasilah adalah orang-orang yang sudah meninggal dunia. Karena orang yang sudah meninggal dunia tidak lagi bisa memberikan apapun juga, tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf:

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّـهُ ۚ…

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah…” (QS. Al-A’raf[7]: 188)

Rasulullah tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat hidupnya kecuali dengan izin Allah. Bagaimana apabila telah meninggal dunia?

Ummatal Islam, maka inilah agama Islam. Agama kita menyeru kepada tauhid. Meminta syafa’at hanyalah kepada Allah. Kita senantiasa berusaha mendapatkan syafa’at dengan cara menjalankan syariat-syariat Allah dan mengikuti Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

Khutbah Kedua

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Disana ada amal-amal yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan. Bahwa siapa yang mengamalkannya, biidznillah kita mendapatkan syafa’at Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu setelah terpenuhi syaratnya . Yaitu kita mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan. Diantaranya:

Pertama, meninggal di kota Madinah. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

Siapa yang bisa memilih mati di Madinah, silahkan dia lakukan. Karena saya akan memberi syafaat bagi mereka yang mati di Madinah.” (HR. Ahmad).

Kedua menjawab adzan. Kita mengucapkan:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Kata Rasulullah, “Siapa yang mengucapkan ini ketika ia mendengar adzan”,

حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Maka halal untuknya syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Diantara juga yaitu dengan cara mengikuti sunnah Rasul dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah. Berusaha untuk berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah dan meninggalkan perbuatan bid’ah dalam agama. Karena sesungguhnya inilah tujuan daripada dikirimnya Rasulullah kepada kita. Tujuan Allah mengutus Rasulullah kepada kita untuk menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam hidup kita.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٥٦﴾

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

إنك سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعوَات، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات

اللهُمَّ تَقَبَّل اَعْمَالُنَا يَارَبَّ العَالَمِين

اللهُمَّ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوابُ الرَّحِيم

اللهُمَّ اِنَّا نَسْاَلُكَ الجَنَّه وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّار

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٩٠﴾

فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

Sumber : https://www.radiorodja.com/45627-syarat-mendapatkan-syafaat/

]]>
Fri, 12 Jan 2024 07:25:22 +0800 Maruf
Menyikapi Fenomena Kabut Asap di Lingkungan Masyarakat https://amarmedia.co.id/menyikapi-fenomena-kabut-asap-di-lingkungan-masyarakat https://amarmedia.co.id/menyikapi-fenomena-kabut-asap-di-lingkungan-masyarakat Menyikapi Fenomena Kabut Asap di Lingkungan Masyarakat

Fenomena kabut asap adalah suatu bencana yang sering terjadi di lingkungan masyarakat terutama di Indonesia. Kabut secara sederhana bisa di definisikan sebagai kumpulan uap air yang mengambang di udara seperti ketika di pagi hari. Kabut asap sering ditemukan pada pembakaran hutan dan lahan. 

Bagaimana dengan kasus kabut asap di Indonesia? 

Hingga saat ini belum ditemukan hasil yang jelas penyebabnya. Hanya saja yang sering menonjol adalah dampak dari kebakaran hutan yang menimbulkan asap yang cukup tebal. Baik di lakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, petani dan gejala alam di musim kemarau. 

Sebagai contoh di salah satu desa di Kabupaten Sumbawa yaitu mereka membuka lahan atau peladangan baru dengan membabat hutan lalu membakarnya dan menanam tanaman di bekas lahan yang sudah di bakar. Hal ini tentumya dapat menimbulkan persoalan secara lokal maupun global.

Permasalahan yang dihadapi dari kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan, yang mengandung material yang bisa berdampak negatif bagi kesehatan, antara lain berupa iritasi mata, iritasi kulit, iritasi dan peradangan saluran pernapasan atau dikenal dengan sebutan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Semua orang berisiko terkena dampak kabut asap tersebut terutama individu yang memiliki kerentanan seperti bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, orang dengan penyakit paru kronik, jantung, dan penderita asma. Mereka masuk dalam kelompok yang lebih besar terkena dampaknya. 

Guna mengurangi besarnya ancaman dampak negatif kabut asap terhadap kesehatan, perlu dilakukan upaya pencegahan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari ISPA, diantaranya: 

1. Hindari Aktivitas Luar Ruangan:

Hindari aktivitas di luar ruangan selama periode kabut asap yang parah, terutama jika Anda termasuk dalam kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

2. Gunakan Masker Respirator:

Jika Anda harus keluar, gunakan masker respirator N95 atau yang setara untuk melindungi saluran pernapasan Anda dari partikel-partikel halus di udara.

3. Jaga Kualitas Udara Dalam Ruangan:

Pastikan udara di dalam ruangan tetap bersih dengan pengaturan ventilasi yang baik dan penggunaan purifier udara jika perlu.

4. Perhatikan Kesehatan Anda:

Jika Anda mengalami gejala pernapasan seperti batuk, pilek, atau sesak napas, segera konsultasikan dengan profesional kesehatan dan hindari aktivitas berat.

5. Dukung Upaya Pelestarian Lingkungan:

Berpartisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan dan mendorong kebijakan yang mengurangi kebakaran hutan ilegal serta mengurangi polusi udara.

 6) Segera ke Fasilitas pelayanan kesehatan bila ada keluhan sakit.

Kesimpulan yang dapat diambil dari dampak kabut asap pada masyarakat adalah pentingnya menjaga kesehatan masyarakat saat terjadinya kabut asap terutama pada kelompok yang paling terdampak.

Bagi masyarakat yang terkena alergi, batuk, dan terkena penyakit ISPA perlu segera ke fasilitas kesehatan terdekat. 

]]>
Mon, 08 Jan 2024 13:33:55 +0800 Maruf
Dinamika Pemilu di Indonesia https://amarmedia.co.id/dinamika-pemilu-di-indonesia https://amarmedia.co.id/dinamika-pemilu-di-indonesia Dinamika Pemilu di Indonesia 

Oleh Abdul Aziz

Mahasiswa Prodi Ilmu sejarah Fakultas Psikologi dan Humaniora Universitas Teknologi Sumbawa

Pemilihan umum (Pemilu) adalah pesta demokrasi di Indonesia yang di adakan oleh negara lewat KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan di lakukan lima tahun sekali. Banyak masyarakat yang menantikan momen ini untuk memilih calon wakilnya agar dapat menyuarakan aspirasinya kepada negara lewat wakil yang ia pilih, tetapi kenyataannya banyak wakil rakyat yang sudah dipilih oleh rakyat justru tidak menyuarakan aspirasi masyarakat seolah-olah ia sudah lupa bahwa waktu kampanye banyak janji ditawarkan mulai dari memberantas kemiskinan, menyediakan lapangan kerja yang memadai, menyediakan pendidikan gratis bagi masyarakat kurang mampu, menyediakan fasilitas kesehatan yang murah, menstabilkan harga komoditas pertanian dan menjamin persediaan pupuk bagi para petani.

Ia datang kepada masyarakat meminta suara atau mengemis suara kepada masyarakat bahwa kalau ia terpilih akan menyuarakan aspirasi masyarakat di depan pemerintah tetapi ia malah menyuarakan kepentingan partainya, Ia lupa kepada masyarakat, seakan ia lupa janji kampanyenya yang di janjikan kepada masyarakat bahwasanya kalau bapak-bapak, ibu-ibu atau saudara memilih saya berjanji akan membatu bapak-bapak, ibu-ibu atau saudara yang mengalami kesulitan dalam mengakses fasilitas publik. 

Seharusnya para calon anggota legislatif atau eksekutif memberikan bukti nyata bukan janji palsu kepada masyarakat, pemilu saat ini banyak diikuti oleh orang yang punya uang dan minis gagasan seperti kata-kata saat ini yang cukup familiar di tengah- tengah masyarakat yaitu ‘’ LU PUNYA UANG LU PUNYA KUASA’’. Seharusnya masyarakat yang cerdas bisa memilih siapa orang yang bisa kerja dengan otak bukan dengan gagasan atau banyak aksi tatapi tidak ada eksekusi atau sebutannya ‘’TONG KOSONG NYARING BUNYI NYA’’. 

Pemilu saat ini banyak di dominasi oleh kalangan millenial dimana banyak data menunjukkan Jika diakumulasikan, total pemilih dari kelompok generasi milenial dan generasi Z berjumlah lebih dari 113 juta pemilih. Kedua generasi ini mendominasi pemilih Pemilu 2024, yakni sebanyak 56,45% dari total keseluruhan pemilih. Dari Data tersebut membuktikan bahwa saat ini pemilu di dominasi oleh anak muda, tetapi banyak anak muda yang saat waktu pencoblosan justru ikut-ikutan teman atau orang tua sudah menerima amplop dari calon paslon yang ia akan coblos atau sebutan yang di kenal oleh masyarakat umumnya serangan fajar. 

Seharusnya para anak muda bisa lebih selektif dalam memilih calon anggota legislatif dan eksekutif tidak hanya ikut-ikutan teman atau pun orang tua tetapi bisa memilih dengan hati bukan uang yang sudah di tawarkan oleh para timses dari para calon anggota legislatif maupun eksekutif.  

Pemilu saat di lakukan secara serentak mulai dari pemilihan presiden, wakil presiden, para anggota DPR, DPD Pusat, DPD provinsi bahkan pemilihan dilakukan hingga DPRD kabupaten. Beberapa kasus yang sering muncul jelang pemilu serentak yaitu terlibatnya para PNS, ASN dan yang paling menghebohkan yaitu dengan majunya anak presiden yang telah di sahkan dengan keputusan MK nomor 90/PUU-XXI/2023. Dalam putusan tersebut, Mahkamah konstitusi mengabulkan sebagian permohonan yang menguji Pasal 169 huruf q Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu).

Hal ini diawali dengan adanya dua pendapat di masyarakat yaitu pro dan kontra dimana kubu kontra berpendapat bahwa anak presiden belum cukup umur yang kita ketahui bersama bahwa anak Presiden berumur 36 tahun dimana hal tersebut bertentangan dengan konstitusi karena syarat menjadi presiden harus berumur minimal 40 tahun baru bisa mencalonkan dirinya menjadi calon presiden sedangkan kubu pro berpendapat bahwa saatnya anak muda memimpin negeri ini karena sudah banyak contoh para anak muda yang memimpin negara di usia muda seperti Daniel Noboa, Gabriel Boric, Nayib Bukele, Emmanuel Macron, Sanna Marin dan lain-lainnya. Ini membuktikan bahwa anak muda bisa menjadi pemimpin negara bukan hanya bisa menjadi penonton atau menjadi petugas partai. 

]]>
Thu, 04 Jan 2024 10:52:55 +0800 Maruf
Posisi Sejarah Di Kehidupan Masyarakat https://amarmedia.co.id/posisi-sejarah-di-kehidupan-masyarakat https://amarmedia.co.id/posisi-sejarah-di-kehidupan-masyarakat Posisi sejarah dalam kehidupan masyarakat begitu penting karena kita berada di masa sekarang adalah hasil dari revisi masa lalu atau sejarah. Tapi banyak diantara kita yang menggap sejarah itu sebuah ilmu yang biasa- biasa saja dalam kata lain tidak penting sehingga banyak orang yang mendengar atau bertanya kenapa seorang mahasiswa mengambil ilmu sejarah.

Kurang lebih bunyi pertanyaannya ambil jurusan apa dek? Saya jawab ilmu sejarah dan Respon mereka kaget bukan karena mereka menganggap jurusan itu bagus tapi mereka kembali bertanya enggak capek apa belajar sejarah dari SD sampai – SMA palingan yang di pelajari itu- itu aja sejarah Indonesia. 

Mereka beranggapan bahwa sahnya sejarah sudah cukup di pelajari di bangku sekolah padahal yang selama ini kita pelajari di sekolah hanya lah sebagian teorinya saja sedangkan di bangku kuliah kita belajar banyak teori dan meneliti atau membuktikan kebenaran dari teori yang kita pelajari selama ini.

Sejarah menjadi sangat penting karena selalu hadir di sekitar kita contohnya sejarah suatu daerah seperti kebudayaan, adat istiadat, kepercayaan dan lain sebagainya yang di mana kita sebagai warga yang dinggal di daerah tersebut harus tau sejarah yang ada di daerah itu. Jika itu belum cukup meyakinkan bahwa sejarah selalu hadir di kehidupan kita maka lihatlah sejarah kelahiranmu, sejarah keluargamu yang di mana setiap hal yang kita jalani itu akan menjadi sebuah sejarah seperti hal nya kemarin itu karena telah berlalu akan menjadi sejarah dan hari ini akan menjadi sejarah.

Mungkin kita mengganggap sejarah tidak penting karena sedikit peminatnya dan peluang pekerjaannya cuman jadi guru maka kita salah besar karena hanya melihat dari "cover" saja tampa melihat isi yang ada di dalamnya atau yang dikandungnya.

Baiklah saya akan membahas mengapa peminat sejarah itu sedikit karena anak – anak mudah sudah termakan atau terpengaruh oleh anggapan- anggapan yang mengatakan bahwa sejarah sudah cukup dipelajari di bangku sekolah, dan bukan berarti peminatnya sangat minim berarti peluang pekerjaannya juga minim itu tidak minjamin karena buktinya banyak jurusan – jurusan lain yang memiliki banyak peminat tetapi peluang pekerjaannya yang dibutuhkan itu sangat minim jadi banyak tidaknya peminatnya sebuah jurusan itu tidak menjamin peluang pekerjaan karena semakin banyak peminat di suatu jurusan maka peluang pekerjaan yang dibutuhkan akan menjadi kecil.

Jurusan sejarah tidak hanya bisa menjadi guru itu tergantung dirinya mau berfokus ke mana jika dia mau jadi guru maka dia harus berfokus ke Pendidikan Sejarah tapi jika iya ingin menjadi sejarawan,jurnalis, politisi, penjaga museum dan lain sebagainya maka dia harus berfokus ke Ilmu sejarah. 

Kita tidak boleh beranggapan bahwa jumlah yang banyak itu sudah pasti selalu menang contohnya saja perang Nabi Daud melawan pasukan Jalut yang jumlahnya 500.000 di banding 3.000 mungkin secara logika kita berpikir pasti yang jumlah pasukan yang lebih banyak pasti akan menang tapi tahukah siapa pemenang dari peperangan ini. Pemenangnya adalah pasukan Nabi Daud AS, mungkin ini mustahil secara logika tapi ketika kita berfikir dengan iman ini tidak akan menjadi mustahil.

Seperti halnya jurusan sejarah peminatnya sedikit namun peluang pekerjaannya di cari karena tidak semua universitas atau institut memiliki jurusan sejarah jika ada pun peminatnya sangat minim peluang pekerjaan nya di cari 10 peminat sejarah hanya 9 jadi dia membutuhkan 1 orang lagi untuk melengkapi posisi yang kosong. Hal ini berbanding terbalik dengan jurusan yang memiliki banyak peminat banyak universitas dan insitut yang memiliki jurusan yang sama dan peminatnya pun sangat melonjak sedangkan peluang pekerjaannya dibutuhkan sedikit di ibaratkan peluang pekerjaannya di butuhkan 1 orang sedangkan yang melamar itu 10 orang berarti itu tergantung keberuntungan kamu.

Mungkin saya terpaksa mengambil jurun sejarah jujur ini pilihan ketiga saya, saya juga sempat beranggapan seperti orang – orang yang ada di luar sana yang beranggapan sudah capek belajar teori melulu, Tanpa peraktik selama 9 tahun tapi sejak saya mengenal sejarah saya coba belajar dan menelisik lebih dalam dan lebih jauh benar saja saya mulai tertarik dan penasaran karena di bangku kuliah kita tidak sekedar belajar teori tapi kita membuktikan kebenaran dari teori yang kita pelajari. 

Jadi kita tidak hanya mendengar dari mulut ke mulut tapi kita bisa melihat dengan mata kita sendiri walaupun ini tidak mudah saya jalani bukan karena susah tapi banyak orang yang bertanya kepada saya ambil jurusan apa dek? Saya menjawab ilmu sejarah kak. Kakak nya memberi anggapan kenapa mengambil jurusan ilmu sejarah kenapa tidak ambil jurusan biotek tapi karena saya sudah mulai tertarik dengan sejarah saya berani menjawab, saya sudah capek belajar rumus yang panjang namun jawabannya begitu singkat dan saya mau mempelajari bagaimana bisa mengembangkan satu kalimat bisa menjadi satu halaman.

Pesan dari saya jangan pernah minder jika jurusan mu peminatnya sangat minim justru kau harus bersyukur karena peluang pekerjaannya itu luas.

 

]]>
Thu, 04 Jan 2024 10:26:30 +0800 Maruf
Melihat Situs Ai Renung Di Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu https://amarmedia.co.id/melihat-situs-ai-renung-di-desa-batu-tering-kecamatan-moyo-hulu https://amarmedia.co.id/melihat-situs-ai-renung-di-desa-batu-tering-kecamatan-moyo-hulu

Sumbawa memiliki peninggalan pada masa Megalitikum berupa Sarkofagus (kuburan batu besar) yang berada di Ai Renung,di Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa.Terdapat 8 buah Sarkofagus yang tersebar di 5 titik,bahannya batu monolit.Situs ini harus dilestarikan di tanah Samawa.

Foto Salah satu Situs Sarkafagus Ai Renung di titik lokasi ke II

Namun jalan menuju ke lokasi tersebut sangat rusak,Pemerintah seharusnya memperbaiki jalan menuju Situs Ai Renung agar banyak wisatawan mengunjungi situs purba kala tersebut.Jangankan turis, masyarakat Sumbawa sendiri masih banyak yang belum tahu Situs Ai Renung tersebut karena kesusahan mengakses jalan menuju ke lokasi. Jeleknya Jalan menuju lokasi membuat susah menuju ke lokasi. 

Berharap Pemerintah dapat memperbaiki jalan dan memberi sarana dan prasarana yang baik. Ada Transportasi umum yang menampung para wisatawan bahkan warga setempat untuk memudahkan mereka ke Situs Ai Renung dan dapat memudahkan mereka melihat 8 buah Sarkofagus di 5 titik berbeda dengan berbagai macam relief,ada relief topeng atau muka manusia yang yang dipercaya berarti pencegahan dari marabahaya,relief manusia berdiri dengan mengangkat kedua telapak tangan serta manusia kangkang dengan penonjolan pada alat kelamin perempuan yang diduga berarti kesuburan,serta relief hewan yaitu buaya yang dipersepsikan melambangkan penjaga alam ruh atau penghubung dengan alam ruh.

Berharap juga ada Prasarana berupa Museum serta berbagai macam fasilitas yang baik agar Kuburan batu besar (Sarkofagus) tersebut terawat dan terjaga dengan aman, takutnya ada kelompok orang anarkis yang ingin merusak kuburan tersebut padahal itu salah satu bukti kebudayaan masyarakat Sumbawa pada zaman megalitikum tersebut. Dengan adanya 8 buah Sarkofagus ini menjadi bukti keberadaan nenek moyang masyarakat Sumbawa di zaman batu besar/Megakitikum. Masyarakat Sumbawa harus bangga dengan adanya 8 buah Sarkofagus ini,situs ini wajib kita jaga dan kita lestarikan.

Semoga Pemerintah dan Masyarakat setempat dapat bekerja sama untuk melestarikan kebudayaan Sumbawa pada masa megalitikum tersebut dan harapan kedepannya situs Ai Renung yang terdapat 8 buah Sarkofagus dapat dengan mudah di akses oleh turis-turis mancanegara bahkan masyarakat Sumbawa dapat mengetahui sejarah kebudayaan nenek moyang mereka pada masa Megalitikum.

   

     

]]>
Wed, 03 Jan 2024 19:40:40 +0800 Maruf
ANCAMAN KEBUTAAN https://amarmedia.co.id/ancaman-kebutaan https://amarmedia.co.id/ancaman-kebutaan Masalah kebutaan masih menjadi salah satu fokus perhatian Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.Angka kebutaan di NTB masuk dalam urutan kedua tertinggi nasional setelah Jawa Timur. Berdasarkan data Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014, prevalensi kebutaan di Provinsi NTB mencapai 4%. Penyebab kebutaan paling tinggi adalah Katarak yaitu 78,1%. 

Selain Katarak, di tahun 2020 terdapat 15,9% kasus kelainan refraksi pada anak. Diperkirakan saat ini, total angka kebutaan di NTB mencapai 37.533 kasus. Sebanyak 29.314 disebabkan oleh katarak.

Menurut laporan dr. Sriana Wulansari SpM dan dr. Cahya Dessy Rahmawati SpM - Direktur RS Mata NTB beberapa waktu lalu, kasus kebutaan menyebar di seluruh Kabupaten di NTB. Terbesar di Kabupaten Lombok Timur 8.433 kasus. Terendah di Kab Sumbawa Barat. Angka kebutaannya mencapai 926 kasus. 723 diantaranya adalah buta katarak.

Tahun 2022, Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Kesehatan Provinsi NTB dan Rumah Sakit Mata NTB, melalukan operasi katarak sebanyak 11.416 mata dari total 29.314 kasus katarak. Artinya tersisa 17.898 kasus yang belum mendapatkan penanganan.

Khusus di Kabupaten Sumbawa Barat, tahun 2023 telah dioperasi sebanyak 232 mata dan tersisa 491 mata yang belum dioperasi. Angka kebutaan ini terus bertambah sebanyak 1% setiap tahunnya. Masalah kebutaan tidak hanya menjadi masalah kesehatan. Namun juga masalah sosial. Hal ini terjadi karena banyak faktor. Diantaranya faktor Pelayanan Kesehatan yang sulit dijangkau khususnya di daerah terpencil. Keterbatasan finansial dan informasi, serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan mata.

Secara medik, Katarak (kekeruhan pada lensa mata), antara lain disebabkan Kongenital (bawaan lahir),Trauma pada mata,DM ( Diabetes Melitus), faktor usia dan paparan sinar UV ( karena paparan UV dapat merusak protein di lensa mata).

Berdasarkan fakta kunjungan pasien yang datang ke RS Mata NTB dan dari kegiatan bakti sosial, untuk kasus di NTB sebagian besar disebabkan karen faktor usia dan paparan sinar UV.

Setelah menerima laporan 2 orang dokter mata RS Mata NTB, saya lalu terpikir, saya mungkin termasuk salah seorang kontributor kasus kebutaan di NTB.

Sejak 1981 saya sudah berkaca mata. Saya paling takut dokter mata. Setiap konsul, angka minus terus bertambah. Tarakhir, tanggal 20 Desember 2023 disela-sela kesibukan tugas dinas di Jakarta saya beranikan diri konsul ke dokter mata. Rasanya ada gangguan mata karena penglihatan agak kabur meski sudah berkaca mata. Dan benar, setelah diperiksa ukuran minus bertambah. Mata kiri minus 12. Mata kanan minus 13.

Sesungguhnya sudah lama saya membaca berbagai referensi pengobatan mata dengan metode Lasik ( di laser ). Tapi nyali ini tak cukup kuat. Takut berani, khawatir, cemas, maju mundur. Dr. Jack - Dirut RSUP NTB memberi semangat. Lasik nike aman dan tidak sakit. Tyang niki pembalap. Pandangan harus tajam. Kabur sedikit, tyang pergi lasik dan tidak sakit. Katanya berulang-ulang. Saya pun jadi agak wanen untuk di lasik.

Dan, ketika saya sudah berani untuk dilasik, Dr.dr.Tri Rahayu,SpM(K),FIACLE ( Jakarta Eye Centre - Menteng ) tidak merekomendasikan untuk dilasik karena ada kataraknya.Selama ini saya di diagnosa High myopia dan katarak.Penyebab katarak karena faktor usia.Resikonya bila tidak dioperasi, katarak semakin tebal. Penglihatan semakin kabur. Minus terus bertambah. Katarak tidak ada obatnya. Penanganannya hanya dilakukan tindakan operasi.

Sebagai pengganti lasik, saya harus terima vonis operasi FLACS (Femtosecond Laser Assisted Cataract Surgery).

Kelebihan operasi ini akurasi tinggi. Proses tindakan dan pemulihan cepat. Saat ini di Indonesia, operasi FLACS hanya ada di JEC Menteng dan JEC Kedoya.

Saya pasrah. Keluarga tidak ada pilihan lain. Harus setuju. Tanggal 28 Desember saya serahkan mata kiri saya di operasi. Jangan tanya bagaimana rasanya. Tapi syukur alhamdulillah, saya bahagia, beberapa jam kemudian mata kiri mulai berfungsi normal. Penglihatan jadi bening dan terang. Sayang masih ada gangguan mata kanan yang masih kabur karena belum dioperasi.

Termotivasi mata kiri sudah berfungsi normal, saya serahkan kembali mata kanan dioperasi. Jumat sore 29 Desember 2023, kembali saya terbaring di ruang operasi. Saya kembali pasrah dan selembor angen. Operasi nya tentu akan berjalan lancar dan akan lebih santai. Saya pura-pura tidak takut. Toh sudah ada pengalaman sehari sebelumnya. 

Ternyata situasi justru sebaliknya. Operasi mata kanan berlangsung lebih lama. Saya jejah. Tapi tetap semangat. Karena toh nanti kedua mata akan berfungsi normal. Dr. dr Tri bekerja sungguh sangat profesional dan menyenangkan. Paham betul secara psikologis saya tersiksa tapi dengan tenang dan telaten terus memberi semangat. Dalam kondisi mata di bius lokal, selama proses operasi kami bisa koordinasi. Ikuti petunjuk dokter. Pusatkan perhatian dan pandangan fokus ke sumber sinar utama. 

Sekali lagi jangan tanya bagaimana rasanya. Dan, Alhamdulillah proses operasi FLACS akhirnya tuntas. Di ruang recovery hingga hari ini dan beberapa hari kedepan saya harus ikuti perintah dokter untuk rajin berobat dengan obat tetes yang sudah diberikan. Ada yang rasanya sangat perih, ada yang soft, ada yang seakan jadi pelumas, ada yang obati dan tutupi sayatan dll.

Saya terobsesi dengan kinerja dan fasilitas yang ada di JEC Menteng ini. Semoga RS Mata NTB terus meningkat kualitas layanannya. Semoga segera bisa naik kelas menjadi RS Mata kelas B. SDM nya tentu harus ditingkatkan. Fasilitas layanannya juga harus disempurnakan. Ini home work yang harus diselesaikan agar para penderita ancaman kebutaan dapat tersenyum kembali menikmati indahnya dunia.

Setelah 42 tahun bertahan sebagai pria berkaca mata, alhamdulillah resolusi 2024, putus hubungan dengan kaca mata. Kecuali untuk kebutuhan baca. Selebihnya, pandangan jadi kian bening dan jadi kian "NTB" alias Nampak Terang Benderang. Alhamdulillah.....yaa Allah.

]]>
Wed, 03 Jan 2024 12:42:21 +0800 Maruf
Refleksi Akhir Tahun: Unila Terakreditasi “UNGGUL”, untuk Lampung yang lebih BAIK https://amarmedia.co.id/refleksi-akhir-tahun-unila-terakreditasi-unggul-untuk-lampung-yang-lebih-baik https://amarmedia.co.id/refleksi-akhir-tahun-unila-terakreditasi-unggul-untuk-lampung-yang-lebih-baik Refleksi Akhir Tahun: Unila Terakreditasi “UNGGUL”, untuk Lampung yang lebih BAIK

Oleh: Prof. Admi Syarif, PhD

(Guru Besar Unila dan Tukang tulis)

Tidak terasa, kita mulai menapaki akhir tahun dan menyambut tahun baru 2024. Akhir tahun selalu saja menjadi batu loncatan untuk tahun berikutnya. Kita harus berfikir akan langkah baru yang membawa kita sedikit lebih dekat ke setiap mimpi baru. Sepanjang tahun ini, kita telah memperoleh kebaikan, kepercayaan diri dan kebijasanaan untuk menginspirasi hari esok yang baru. Daripada kita merenungkan penyesalan yang belum kita lakukan saat tahun ini ditutup, mari refleksikan tahun lalu untuk membantu mencapai impian baru tahun ini.

Salah satu pencapaian terbaik Unila tahun 2023 adalah diraihnya akreditsi UNGGUL dari BAN-PT. Kini, setelah “be strong” menghadapi berbagai dinamika dan perjalanannya, kembali BAN-PT memberikan predikat “UNGGUL” kepada Universitas Lampung. Pencapaian ini paling tidak menunjukan bahwa tim asesor BAN-PT melihat Unila, sebagai lembaga/institusi, tetap dengan karakter yang semestinya ditunjukkan oleh setiap organisasi “Unggul”. Mereka telah mencatat Unila memiliki karekter mendasar sebagai sebuah organissi unggul. Salah satu karakter penting bagi suatu organisasi unggul adalah adanya orientasi pada mutu (quality assurance) dan konsisten memperjuangkan indikator kunci (key performance indikator) dan orientasi pada pelayanan yang memuaskan (customer sastisfaction). 

Tentu saja tulisan ini bukan lagi bertujuan membahas apakah Unila “sudah" pantas dengan predikat "Unggul". Sebagai sebuah refleksi akhir tahun, tulisan ini lebih menghadirkan catatan dan masukan kepada pimpinan/pengambil keputusan agar Universitas yang hebat ini dapat terus mempertahankan dan menjadi lebih baik (continuous improvement). Unila haruslah lebih bermanfaat seluas-luasnya, terutama untuk "Lampung" yang lebih baik seperti namanya "Universitas Lampung".  

Kini, dengan sertifikat akreditasi “UNGGUL” sudah ditangan, di tahun mendatang, salah satu spirit dasar yang harus dipertahankan dan dikembangkan adalah semangat keberpihakan kepada lokalitas. Luar biasa, tahun ini Unila sudah membuka program studi di luar Kampus Utama (DKU) di Way Kanan dan Lampung Tengah. Hadirnya PS DKU Unila ini pastinya telah menjadikan harapan baru masyarakat lokal untuk mendapatkan akses pendidikan. Tentu saja hal ini pantas dicontoh oleh Kabupaten/kota lainnya.

Ke depan, Unila bisa menginisiasi program penerimaan mahasiswa asal “Kampung tua” Lampung. Upaya ini bekerja sama dengan pemerintah Provinsi Lampung untuk memberikan akses khusus untuk putra-putri asli daerah untuk mendapatkan pendidikan di Unila. Beberapa tahun terakhir, saya sudah mengkomunikasikan hal yang sama untuk putra-putri asal Jabung untuk kuliah dan menjadi bintara polisi. Alhamdulillah, saya mendengar sendiri dari tokoh masyarakat, bahwa Jabung kini telah jauh berubah ke arah yang lebih baik. Harus diyakini memang, cara paling baik untuk merubah suatu bangsa dan masyarakat adalah dengan pendidikan. 

Semangat di tahun baru ini, mari terus kita tunjukkan bahwa Unila memang memiliki kepantasan berkarakter Unggul ! Paling tidak hari ini kita harus mengapresiasi pencapaian ini. Selamat, selamat, selamat !Semoga kita dapat terus berbuat baik untuk LAMPUNG yang lebih baik. “Lampung”, memang juga, diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum.(AM)

]]>
Wed, 27 Dec 2023 10:58:29 +0800 Maruf
Menjaga Kesehatan mental Terhadap Anak&anak dan Remaja di Era Digital https://amarmedia.co.id/menjaga-kesehatan-mental-terhadap-anak-anak-dan-remaja-di-era-digital https://amarmedia.co.id/menjaga-kesehatan-mental-terhadap-anak-anak-dan-remaja-di-era-digital Kesehatan mental menjadi perhatian yang semakin penting ditengah perkembangan teknologi digital yang pesat. Era dimana hampir semua aspek kehidupan kita terhubung dengan internet dan sosial media telah membawa perubahan besar dengan cara kita berinteraksi, berkomunikasi dan memperoleh informasi. Namun, dibalik segala manfaatnya, ada juga dampak negatif yang perlu kita waspadai.

Kehadiran media sosial, misalnya telah memberikan kita akses tak terbatas ke informasi dan koneksi dengan orang lain di seluruh dunia. Namun dengan populeritas media sosial juga telah menciptakan tekanan sosial baru yang dapat mempengaruhi kesehatan mental kita, terutama terhadap mental anak-anak dan remaja. Perbandingan diri yang tidak sehat dilihat oleh Anak-anak dan Remaja, pembulyyan bahkan kekerasan yang dilihat di media sosial.

Selain itu penggunaan yang berlebihan terhadap penggunaan digital juga dapat berdampak negatif bagi anak-anak dan remaja. Kesulitan untuk memisahkan Anak-anak dan remaja dari teknologi, sosial media atau sering disebut dengan dunia maya dapat menyebabkan setres, ketergantungan, kecemasan dan gangguan tidur. Pikiran yang terus menerus terganggu dengan rasa penasaran yang ada di game atau dari notifikasi dan informasi yang datang terus menerus juga dapat mengganggu konsentrasi belajar atau produktifitas anak-anak dan remaja.

Menghadapi tantangan di Era Digital tidaklah mudah. Apalagi terhadap anak-anak dan remaja, orang tua jaman sekarang sering memberikan HP/Gadget ke anak-anak mereka dengan tujuan bisa menenagkan dikala rewel, sehingga orang tua bisa menyelesaikan pekerjaan rumah. Tanpa disadari efek kedepannya seperti apa. Dengan kebiasaan orang tua yang seperti itu dapat membuat Anak-anak ketergantungan dengan dadget.

Seiring dengan zaman, Sekolah juga memberikan Pelajaran melalui Gadget sehingga anak Remaja jaman sekarang tidak sedikit yang ketergantungan dengan gadget yang dimana selalu bertujuan ke media sosial.

Akan tetapi dengan kesadaran dan Tindakan yang tepat, orang tua dapat menjaga Kesehatan mental Anak-anak mereka dengan memberi pemahaman dan mengawasi Anak-anak dengan Teknologi.

Untuk menjaga kesehatan mental anak anak, dan remaja ada beberapa tips yang bisa dilakukan diantaranya adalah mengenali dan mengelola stress anak dan remaja. Hal ini bisa dilakukan dengan mengidentifikasi sumber stress dalam hidup anak - anak dan remaja serta menemukan cara untuk mengelolanya seperti meditasi pernapasan dalam atau aktivitas fisik.

Hal kedua bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental anak dan remaja adalah berinteraksi dengan teman sebaya hal ini sangat penting dengan mempertahankan hubungan sosial yang sehat berbicara dengan teman sebaya, keluarga atau seorang profesional jika kita merasa perlu.

Hal yang ketiga untuk menjaga kesehatan mental adalah melakukan istirahat yang cukup hal ini penting untuk dipastikan anak anak dan remaja memiliki waktu yang cukup untuk tidur. tidak sekedar tidur tapi tidur yang berkualitas tinggi memainkan peran penting dalam kesehatan mental 

Hal keempat yang dilakukan adalah makan dengan seimbang pada anak anak dan remaja, karena pola makan yang sehat dapat mendukung kesehatan mental konsumsi makanan seimbang dan dari alkohol serta makanan berlebihan.

Hal kelima yang bisa dilakukan adalah melaksanakan aktivitas fisik yang teratur melalui olahraga meningkatkan mod dan menghindari stres anak - anak dan remaja 

Hal yang keenam adalah fleksibel dan senantiasa berpikir positif. Ini bisa terus kita lakukan dengan mengasah pikiran kita agar peristiwa yang terjadi kita tanggapi dengan pikiran yang positif dan terbuka terhadap perubahan. Kita senantiasa mengambil ibrah dari setiap peristiwa yang terjadi dan kita tetap fokus pada apa yang kita inginkan.(AM)

]]>
Sun, 10 Dec 2023 10:09:47 +0800 Maruf
Perbedaan Hukum dan Hukuman : Mencermati Kasus Siswa Tak Mau Disuruh Sholat, Guru Dituntut https://amarmedia.co.id/perbedaan-hukum-dan-hukuman-mencermati-kasus-siswa-tak-mau-disuruh-sholat-guru-dituntut https://amarmedia.co.id/perbedaan-hukum-dan-hukuman-mencermati-kasus-siswa-tak-mau-disuruh-sholat-guru-dituntut Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hukum diartikan sebagai (1) peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah; (2) undang-undang, peraturan, dan sebagainya untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat; (3) patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam dan sebagainya) yang tertentu; (4) keputusan (pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (dalam pengadilan); vonis. 

Para ahli juga memberikan definisi terkait hukum, seperti Hugo de Groot (Grotius) yang memaknai hukum sebagai peraturan tentang perbuatan moral yang menjamin nilai-nilai keadilan. Menurut Dr. Taufiq, hukum ialah sekumpulan peraturan yang mana terdiri dari norma dan sanksi yang tujuannya menciptakan ketertiban dalam pergaulan antar manusia, sehingga dapat menjamin keamanan dan ketertiban. 

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum adalah seperangkat aturan tentang perbuatan moral yang bertujuan untuk menciptakan ketertiban dan keamanan dalam masyarakat. Kalau tidak membawa kebaikan ia tidak disebut hukum. 

Hukum sejatinya bertujuan untuk mengatur masyarakat agar menjadi tertib dan lebih baik. Meskipun memiliki sanksi yang tegas dan bersifat memaksa, hukum itu tidak boleh menimbulkan rasa takut agar ditaati. Masyarakat harus patuh hukum atau taat hukum karena kesadaran dirinya sendiri bukan karena takut dengan sanksi yang ada. Jika itu menimbulkan ketakutan, maka tidak bisa disebut sebagai hukum melainkan hukuman. Kondisi inilah yang terjadi di Indonesia saat ini. Jadi sekarang ini yang kita jalankan bukan membuat hukum tapi menciptakan hukuman.

Seperti yang viral di media sosial beberapa hari ini, seorang Guru di SMKN 1 Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat yang diminta membayar uang damai sebesar 50 Juta. Akbar Sarosa, seorang guru Agama yang berstatus honorer dilaporkan ke polisi karena diduga menegur kemudian melakukan tindakan fisik kepada siswa tersebut karena tidak mau melaksanakan. 

Tindakan fisik yang dilakukan Akbar yaitu memukul sehingga menyebabkan bengkak di bagian leher siswa. Hal ini didasarkan hasil visum et repertum nomor 045.2/9854/rsud/xi/2022 tanggal 1 November 2022. Atas perilaku ini, orang tua siswa tersebut melaporkan Akbar ke polisi dan saat ini kasusnya dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Sumbawa. Pada 11 Oktober 2023 lalu, Akbar telah menjalani sidang pemeriksaan saksi yang dapat meringankan Terdakwa, Guru SMKN 1 Taliwang. Akbar Sarosa sempat pergi ke rumah orang Tua siswa untuk meminta maaf tapi tidak menemukan jalan keluar, karena orang tua korban meminta uang 50 juta untuk berdamai.

Terjadinya peristiwa tersebut sangat disayangkan bisa sampai tahap persidangan. Akbar sebagai seorang Guru tentu menginginkan siswanya tertib dan disiplin untuk menjalankan ibadah, salah satunya untuk mengikuti sholat berjamaah. 

Sebagaimana tugas seorang guru yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan siswanya agar memiliki moral dan etika yang baik.Di lain sisi, hukuman yang diduga dilakukan Akbar sebagai seorang guru juga tidak menimbulkan cidera berat atau kecacatan secara permanen pada siswa tersebut. Sebagai orang tua dari siswa yang ditegur seharusnya bisa memahami kondisi saat itu dan niat dari guru tersebut. Orang tua siswa seharusnya introspeksi atas perbuatan anak penyayang justru tidak mau ikut sholat berjamaah. Jika memang beragama Muslim, maka ajakan guru tersebut sudah tepat dan orang tua siswa seharusnya berterima kasih karena sudah mengingatkan anaknya untuk sholat berjamaah. Persoalan semacam ini sepatutnya tidak perlu dibawa hingga meja hijau.           

Sebagai orang tua harusnya bisa bijak dalam bersikap, persoalan ini dapat diselesaikan secara musyawarah atau kekeluargaan dan orang tua kobran tidak perlu meminta uang damai sebesar 50 Juta, terlebih Akbar sebagai guru sudah meminta maaf. Bahkan seharusnya polisi dan jaksa bisa menerapkan Restorative Justice (RJ) sebab polisi memiliki Peraturan Kepolisian Negara RI Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana berdasarkan Keadilan Restoratif. Sedangkan Kejaksaan memiliki Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, saya tidak tahu kenapa tidak digunakan?

Melihat persoalan ini, Dr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H., yang merupakan dosen FH UNISSULA Semarang berharap agar hakim bisa memutus kasus ini dengan pendekatan Restorative Justice artinya tidak perlu ada pemidanaan. Sebab hakim memiliki pedoman Surat Keputusan Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum Nomor 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 tentang Pedoman Penerapan Restorative Justice di Lingkungan Peradilan Umum. Andaikan Akbar Sarosa dihukum percobaan pun itu sudah dihukum karena perbuatannya terbukti. Bahkan siswa tersebut tidak mengalami cidera berat dan masih bisa beraktivitas seperti semula. Jadi terdapat alasan pemaaf yang meniadakan pemidanaan. Tidak hanya itu, sangat berbahaya juga jika mendidik anak untuk sholat tetapi justru dipidana. Hal tersebut tentu akan berimbas ke pendidikan lainnya.  

]]>
Tue, 05 Dec 2023 20:49:12 +0800 Maruf
Pencemaran Udara di Lingkungan Sekitar dan Cara Mengatasinya https://amarmedia.co.id/pencemaran-udara-di-lingkungan-sekitar-dan-cara-mengatasinya https://amarmedia.co.id/pencemaran-udara-di-lingkungan-sekitar-dan-cara-mengatasinya Udara adalah sumber kehidupan karena hampir semua makhluk hidup membutuhkan Oksigen untuk bernafas. Banyaknya contoh pencemaran udara yang terus terjadi membuat kita pelan-pelan “dibunuh” tanpa kita sadari.

Foto Ilustrasi pencemaran udara 

Apakah pengertian pencemaran udara itu sendiri? 

Pencemaran udara adalah sebuah kondisi di mana udara tercampur dengan zat lain atau unsur lain yang mengakibatkan kondisi buruk pada udara menjadi tidak layak, atau bahkan membahayakan untuk digunakan makhluk hidup.

Contoh pencemaran udara yang terjadi ini disebabkan oleh bercampurnya udara bersih dengan polutan udara. Polutan atau zat pencemar udara ini bisa menjadi indikasi terjadinya polusi udara. Berikut beberapa contoh polutan udara

  • Karbon Monoksida (CO)
  • Karbon Dioksida (CO2)
  • Sulfur Dioksida
  • Kloroflouroklorida (CFC)

Dari mana penyebab polusi udara ini muncul sehingga meracuni kualitas udara bersih? Simak contoh pencemaran udara yang terjadi pada lingkungan sekitar kita ini, ya!

10 Contoh Pencemaran Udara dan Penyebabnya

Pada artikel pencemaran udara ini, akan dijelaskan contoh pencemaran udara berdasarkan penyebabnya di lingkungan sekitar kita. Terdapat banyak penyebab pencemaran udara dan nyaris semuanya berasal dari aktivitas yang secara sadar maupun tidak sadar dilakukan manusia. 

Berikut penyebab pencemaran udara yang terjadi di lingkungan sekitar:

  • Polusi Udara Asap Kendaraan Bermotor

Penyebab polusi udara yang pertama adalah asap kendaraan bermotor. Contoh pencemaran lingkungan ini terjadi setiap hari dan tanpa disadari telah diam-diam membunuh makhluk hidup secara perlahan. Khususnya, di kota-kota besar yang penuh dengan kendaraan bermotor.

Dampak dari penggunaan kendaraan bermotor yang begitu banyak ini adalah kandungan gas CO atau Karbon Monoksida yang terlepas menjadi polutan udara. Tidak heran jika asap kendaraan bermotor menjadi penyumbang tersebar penyebab pencemaran udara.Bahkan, polusi udara Jakarta sempat jadi perhatian dunia belakangan ini karena tingkat pencemaran yang sudah sangat tinggi. Kualitas udara ibu kota dinyatakan tidak layak hirup dan menjadi kota nomor satu dengan polusi udara terburuk di dunia

  • Contoh Pencemaran Udara Dari Pembangkit Listrik

Contoh pencemaran udara tak hanya berasal dari asap kendaraan bermotor. Penyebab polusi udara lainnya adalah pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar seperti batu bara, gas, dan minyak. Efek pembakaran ini yang menjadi penyebab polusi udara dengan gas nya yang berbahaya.

Penyebab pencemaran udara berupa gas seperti Sulfur Dioksida ini juga merupakan salah satu penyebab terjadinya pemanasan global yang tengah dihadapi bumi saat ini.

  • Pencemaran Udara Dari Abu Polutan Letusan Gunung Berapi 

Polutan letusan gunung berapi merupakan contoh pencemaran udara yang disebabkan oleh alam. Indonesia sendiri memiliki wilayah gunung berapi yang masih aktif, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran udara jika sampai meletus seperti kasus Gunung Kelud yang belum lama ini kembali aktif. 

Meski demikian, contoh pencemaran udara dengan faktor alam ini porsinya sangat kecil jika dibandingkan dengan penyebab polusi udara oleh manusia.

  • Polusi Udara Dari Limbah Asap Industri atau Pabrik

Contoh pencemaran udara berikutnya datang dari limbah asap industri atau pabrik. Penyebab polusi udara ini juga salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan di dunia. 

Cerobong asap pabrik sering kali tidak memiliki filter sehingga membahayakan.Zat yang keluar dari proses industri ini berupa zat yang berbahaya seperti Karbon Monoksida, Hidrokarbon, dan senyawa lainnya yang dapat membahayakan kesehatan alam dan manusia. 

Tak hanya pencemaran udara, limbah industri juga dapat menyebabkan pencemaran air dan tanah.

  • Contoh Pencemaran Udara Karena Limbah Pertanian. 

Penggunaan pupuk dan zat kimia makin sering terjadi di industri pertanian untuk meningkatkan produktivitas. Fungsinya antara lain untuk membasmi hama dan menyuburkan tanaman. Namun, hal ini terkadang menjadi penyebab pencemaran udara

Contoh pencemaran udara ini terjadi karena pupuk mengeluarkan gas amonia dan NH3 yang berlebihan, sehingga mengakibatkan dampak yang signifikan kepada keadaan atmosfer bumi. 

Hujan asam juga merupakan contoh ekstrim dampak pencemaran udara ini. 

Kegiatan Pertambangan Penyebab Pencemaran Udara.Industri pertambangan merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia. Dalam proses 

pertambangan sendiri, penambangan mineral yang diambil dari perut bumi menghasilkan banyak polutan yang berbahaya. 

Misalnya seperti beberapa bahan kimia dan debu yang sangat banyak hingga bisa kemudian menjadikan penyebab pencemaran udara sendiri. Banyak pertambangan yang menimbulkan efek negatif dari hasil pengeboran maupun pembuangannya, baik itu mengganggu kesehatan atau kondisi alam sekitar.

  • Polusi Udara Karena Aktivitas Rumah Tangga

Contoh pencemaran udara ini sangat sepele dan tidak dianggap serius. Padahal, dampaknya akan langsung terasa oleh orang-orang sekitar. Polusi udara karena aktivitas rumah tangga antara lain adalah pembakaran sampah yang sembarangan.

  • Contoh Pencemaran Udara Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan bisa terjadi karena faktor alam ataupun ulah manusia. Keduanya bisa jadi penyebab pencemaran udara. Contoh pencemaran udara ini yang terjadi di Riau dan Australia beberapa waktu lalu. 

Dampak polusi udara karena terbakarnya hutan tak hanya dirasakan wilayahnya sendiri, namun juga wilayah di sekitarnya karena asap akan terus terbawa angin. Hal ini jelas tidak baik untuk kesehatan pernafasan makhluk hidup.

  • Polusi Udara Karena Timbunan Sampah

Polusi udara selanjutnya disebabkan oleh timbunan sampah. Penyebab pencemaran udara ini adalah bau yang dikeluarkan timbunan sampah tersebut. Contoh pencemaran udara ini sering terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena proses pengolahan sampah yang tidak benar atau lambat.

Tak hanya bau tidak sedap, polusi yang ditimbulkan timbunan sampah juga dapat membentuk gas metana yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Pencemaran Udara Karena Penebangan Hutan Liar

Masih karena ulah manusia, contoh pencemaran udara ini terjadi karena penebangan hutan liar. Karena hutan adalah paru-paru dunia, menebang hutan secara liar akan merusak kualitas udara yang ada. 

Penetralan udara akan terganggu dan tingkat polusi udara akan semakin signifikan.

Dampak Pencemaran Udara

Setelah mengetahui contoh pencemaran udara di atas, dapat disimpulkan bahwa polusi udara adalah masalah yang besar dengan segala macam dampak negatifnya. Mulai dari mengganggu kegiatan sehari-hari hingga mengancam kesehatan manusia, berikut beberapa dampak pencemaran udara:

  • Gangguan kesehatan makhluk hidup
  • Ekonomi menurun karena dampak pencemaran udara
  • Gagal panen dalam sektor pertanian
  • Hujan asam
  • Kerusakan lapisan ozon
  • Efek rumah kaca

Cara Mengatasi Pencemaran Udara

Nah, lalu bagaimana cara mengatasi pencemaran udara yang bisa dilakukan kita sebagai individu maupun kelompok? Terdapat beberapa cara mengatasi pencemaran udara yang bisa dilakukan meski pengaruhnya tidak instan alias membutuhkan waktu yang cukup lama agarbmembuahkan hasil.

Berikut beberapa cara mengatasi pencemaran udara yang bisa dilakukan:

  1. Pendidikan cinta alam dan lingkungan
  2. Penguatan hukum dan peraturan mengenai pencemaran lingkungan
  3. Pengawasan perusahaan industri Pengurangan bahan bakar penghasil polutan
  4. Penggunaan bahan ramah lingkungan
  5. Mengurangi penggunaan bahan kimia di industri pertanian Penghijauan lahan

]]>
Tue, 05 Dec 2023 17:34:35 +0800 Maruf
Menyikapi Fenomena Peralihan Cuaca di NTB https://amarmedia.co.id/menyikapi-fenomena-peralihan-cuaca-di-ntb https://amarmedia.co.id/menyikapi-fenomena-peralihan-cuaca-di-ntb Turunnya hujan pada musim kemarau di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Barat menjadi fenomena yang mengejutkan. Semestinya musim kemarau yang ditandai dengan cuaca kering dan panas, namun terjadi hujan lebat. Demikian pula di daerah lainnya ketika masuk musim hujan namun terjadi kemarau panjang.

Musim kemarau adalah periode dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan musim hujan, artinya hujan masih bisa terjadi selama musim ini.

Juga ada masa peralihan antara musim hujan dan musim kemarau, atau sebaliknya, yang terjadi di wilayah-wilayah tropis seperti Indonesia Khususnya Nusa Tenggara Barat. Fenomena ini ditandai dengan cuaca yang tidak menentu, angin kencang, dan perubahan yang cepat dalam curah hujan serta suhu udara. Periode ini seringkali diikuti oleh perubahan pola cuaca yang ekstrem, seperti hujan lebat yang diselingi dengan panas terik matahari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan masa peralihan adalah musim yang ditandai dengan adanya curah hujan tinggi yang diselingi dengan sinar matahari yang terik. Fenomena ini memainkan peran penting dalam transisi antara musim hujan yang basah dan musim kemarau yang kering.

Curah hujan selama musim kemarau bisa sangat bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Ada daerah yang mungkin mengalami musim kemarau yang lebih kering daripada daerah lain. Meskipun intensitas dan frekuensi hujan cenderung menurun selama musim kemarau, beberapa daerah masih dapat mengalami hujan. Ini bisa berupa hujan ringan atau lebat, tergantung pada lokasi geografis dan faktor-faktor cuaca setempat.

Oleh karena itu, penting untuk tetap waspada terhadap potensi hujan selama musim kemarau, terutama dalam hal kesiapan menghadapi bencana seperti kebakaran hutan atau kekurangan air. Pemantauan cuaca dan informasi dari BMKG dapat membantu masyarakat untuk tetap siap menghadapi perubahan cuaca selama musim kemarau.

Keuntungan musim kemarau dapat juga dimanfaatkan pada bidang pekerjaan umum.Pada aktivitas masyarakat sehari-hari juga memiliki sisi positif yang bisa dimanfaatkan saat musim kemarau yang tidak hanya menunggu pemerintah bergerak yaitu membersihkan selokan air. 

Genangan air pada selokan pada saat kemarau akan berkurang jadi lebih mudah untuk mengangkat endapan sampah dan lumpur, sehingga saat musim hujan tiba ini akan membantu mengurangi potensi genangan ataupun banjir. 

Hal penting untuk menyikapi masa peralihan atau pancaroba adalah menjaga kesehatan diantaranya dengan melakukan beberapa tips berikut ini :

Selain semua hal tadi, pada saat kemarau bagi anak anak memang menyenangkan untuk bermain layang-layang karena tidak akan terganggu oleh hujan. 

]]>
Tue, 05 Dec 2023 16:57:06 +0800 Maruf
Tips Atur Keuangan Untuk Anak Kos agar Tidak Galau di Akhir Bulan https://amarmedia.co.id/tips-atur-keuangan-untuk-anak-kos-agar-tidak-galau-di-akhir-bulan https://amarmedia.co.id/tips-atur-keuangan-untuk-anak-kos-agar-tidak-galau-di-akhir-bulan hal pertama yang kita semua pasti berfikir menjadi anak kost adalah hal yang menyenangkan  dan juga suatu kehidupan yang bebas, bebas dari aturan rumah seperti bangun harus pagi,membantu beberes rumah, mengepel, mencuci baju, mencuci piring, dan pekerjaan rumah lainnya. Dan pastinya saat kita masih tinggal bersama orang tua pasti akan ada jam malam atau jadwal keluar rumah yang dimana itu adalah hal yang cukup tidak menyenangkan apalagi kita sebagai kaum anak muda umumnya yang dimana pikiran dan keinginan dari diri kita sendiri adalah kumpul bersama teman nongkrong, holiday, dan healing bersama teman.

Namun, menjadi anak kost juga memiliki sisi yang positif seperti melatih kemandirian pada diri sendiri, serta belajar bertanggung jawab. Dan ketika kita sudah memutuskan untuk hidup sendiri serta jauh dari orang tua kita sudah sepenuhnya harus percaya dan yakin bahwa kita bisa bertanggung jawab akan suatu hal dalam diri kita sendiri.

Maka dari itu tak jarang label anak kos adalah menyedihkan, Karena dikenal selalu bermasalah pada keuangan, Apalagi seorang Mahasiswa yang menjadi anak kos yang semua keuangannya masih bergantung pada orang tua. Tidak berbeda jauh pula dengan anak kos yang sudah bekerja, mereka pun selalu cemas akan keadaan keuangannya apalagi jika mendekati Akhir bulan

Jadi, Disini saya akan memberikan Tips yang bisa di terapkan

  •  Susun Anggaran Kebutuhan

Tips pertama yang bisa digunakan sebagai cara mengatur keuangan anak kos adalah dengan menyusun anggaran kebutuhan.Kegiatan ini merupakan bagian penting dalam cara mengelola keuangan anak kos agar bisa memenuhi kebutuhan dan menghindari pembelian tidak terencana. Melalui penyusunan anggaran kebutuhan, kamu bisa mengetahui apa saja yang perlu dibeli setiap bulannya serta besaran nominalnya.

Dengan demikian, saat belanja bulanan, kamu tidak akan mengeluarkan uang lebih dari kebutuhan yang seharusnya.Untuk menyusun anggaran kebutuhan tersebut, kamu dapat menyesuaikan dengan kondisi keuangan, lalu merinci berdasarkan skala prioritas pribadi

  • Catat Pemasukan dan Pengeluaran

Tips kedua yang dapat digunakan dalam manajemen keuangan anak kos adalah mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran.Tips ini sangat cocok terutama bagi kamu yang mencari cara mengatur keuangan anak kos kerja karena sudah memiliki pendapatan pribadi. Mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan detail dapat membantu memantau kondisi keuangan.Kamu bisa melihat berapa uang yang berhasil masuk dan harus dikeluarkan untuk kebutuhan. Ada baiknya angka pemasukan lebih besar dari pengeluaran.Namun, jika hal tersebut sulit dicapai, setidaknya kamu dapat mencoba untuk menjaga kondisinya agar tetap seimbang.

  •  Batasi Nongkrong

Tips selanjutnya yang bisa digunakan dalam cara mengatur keuangan anak kos yaitu membatasi kegiatan nongkrong.Umumnya, nongkrong ini dilakukan di kafe-kafe atau mall dan dapat menghabiskan uang karena perlu digunakan untuk membeli minum maupun hal lainnya.Oleh karena itu, jika tidak terlalu mendesak, kamu dapat membatasi kegiatan nongkrong tersebut agar dana pengeluarannya bisa dialokasikan ke kebutuhan lain.Untuk alternatif berkumpul dengan teman yang lebih hemat uang, kamu bisa memanfaatkan area kampus maupun ruang hijau terbuka publik di lokasimu.

  • Kurangi Jajan yang Tidak Penting 

Hampir mirip seperti Tips nomor tiga, langkah berikutnya yang bisa digunakan sebagai cara mengatur keuangan anak kos adalah dengan mengurangi jajan tidak penting.Dalam hal ini, misalnya kamu sudah membawa bekal sendiri untuk makan siang, maka tidak perlu lagi membeli jajan tambahan, apalagi hanya sekedar ikutikutan.Saat belanja bulanan, ketika semua kebutuhan yang dicari sudah dibeli, maka tidak perlu menambahkan barang-barang kurang bermanfaat ke dalam keranjang.Selalu pastikan bahwa apa yang ingin dibelanjakan sudah sesuai dengan susunan anggaran. Dengan demikian, kamu tidak akan kekurangan bahkan kehabisan dana.

  • Rutin Menabung 

Tips berikutnya yang dapat digunakan dalam cara mengatur keuangan anak kos adalah dengan rutin menabung.Tentunya kamu sudah memahami bahwa banyak manfaat menabung bagi kehidupanmu di masa mendatang.Tabungan ini dapat digunakan untuk membeli hal yang kamu inginkan ataupun menjadi dana darurat jika memang ada keperluan mendesak.Ada baiknya, tabungan tersebut diambil dari uang yang dikirim orang tua begitu kamu mendapatkannya. Tujuannya agar tidak terpakai untuk hal lain yang kurang penting.Jika kamu kesulitan menggunakan dua tabungan rekening sekaligus, tidak masalah memulai kegiatan ini dengan celengan terlebih  dahulu.

  • Minimalisasi Biaya Kos

Tips dalam manajemen keuangan anak kos tentunya tidak boleh melewatkan strategi penekanan biaya tempat tinggal. Sebab, kamu mungkin merasakan bahwa biaya kos menghabiskan hampir setengah bagian dari uang kiriman orang tua.Oleh karena itu, tidak ada salahnya menyiasati hal tersebut, antara lain dengan tinggal bersama saudara, mencari kos yang biayanya murah, atau mengajak teman untuk berbagi kamar.

  •  Cari Pekerjaan Sampingan

Berikutnya, Tips yang dapat digunakan sebagai cara mengatur keuangan anak kos adalah dengan mencari pekerjaan sampingan.Ini perlu kamu pertimbangkan agar tidak terlalu bergantung pada kiriman uang dari orang tua. Apalagi jika kamu merasa butuh uang tambahan dari jumlah yang biasanya diterima.Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam mencari pekerjaan sampingan adalah waktu dan beban kerjanya.Pastikan bahwa kedua hal tersebut tidak sampai mengganggu fokus utamamu, yaitu berkuliah.Jika kamu suka berbisnis, tidak ada salahnya membangun usaha modal kecil sendiri yang ketentuan waktu dan beban kerjanya lebih fleksibel karena bisa diatur sesuai kemampuanmu.

  •  Upayakan Beasiswa

Tips terakhir yang bisa digunakan sebagai cara mengatur keuangan anak kos adalah mengupayakan beasiswa.Sebenarnya, setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk memperoleh beasiswa, asalkan mau mencarinya dan memenuhi kriteria.Oleh karena itu, cobalah mencari informasi sebanyak mungkin mengenai peluang beasiswa agar kamu bisa mendapatkannya.

Diatasi adalah beberapa Tips untuk kalian anak kos untuk bisa lebih hemat dalam mengatur keuangan, dan kalian bisa menerapkan hal tersebut dalam kehidupan sehari- hari.(AM)

]]>
Tue, 05 Dec 2023 12:40:38 +0800 Maruf
Persepsi Mahasiswa Tentang Kebersihan Lingkungan Kampus https://amarmedia.co.id/persepsi-mahasiswa-tentang-kebersihan-lingkungan-kampus https://amarmedia.co.id/persepsi-mahasiswa-tentang-kebersihan-lingkungan-kampus

Menjaga kesehatan lingkungan merupakan suatu kewajiban bagi setiap individu.  selain itu juga  merupakan anugerah yang diberikan sang pencipta kepada hamba-Nya.  Kesehatan lingkungan harus tetap dijaga agar keluarga kita terhindar penyakit, karena kesehatan tidak ternilai harganya. Terkadang pada saat  sehat, kita lupa akan nikmat tersebut dan ketika sakit baru sadar dan merasakan betapa kesehatan itu sungguh sangat berharga.

Agar lebih menjiwai urgennya hal tersebut maka penting memahami bahwa lingkungan sebagai tempat dimana manusia hidup, dan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Lingkungan dapat merubah segala aktifitas kehidupan manusia, mulai dari gaya hidup, cara berperilaku, pola pikir bahkan kepribadian seseorang.

Lingkungan yang sehat akan memberikan dampak positif terhadap warga kampus, termasuk didalamnya para mahasiswa. Terciptanya lingkungan yang sehat akan memberikan rasa aman dan nyaman dalam melakukan berbagai macam kegiatan perkuliahan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari peran berbagai pihak yang terlibat di dalam kampus termasuk mahasiwa.

Meskipun demikianz terkadang kebersihan lingkungan kampus sering sekali di remehkan oleh penghuni kampus, terutama oleh para mahasiswa. Contoh sederhana di kampus, ketika membuka laci meja yang berada tepat di depan PUSKOM akan didapati banyak sampah di situ. Laci di meja ruang tunggu tersebut, kini berubah menjadi tempat sampah.

Kita harus tahu tentang manfaat menjaga kebersihan lingkungan, karena menjaga kebersihan lingkungan sangatlah berguna untuk kita semua karena dapat menciptakan kehidupan yang aman, bersih, sejuk dan sehat.

Manfaat menjaga kebersihan lingkungan antara lain:

  1. Terhindar dari penyakit yang disebabkan lingkungan yang tidak sehat.
  2. Lingkungan menjadi lebih sejuk.
  3. Bebas dari polusi udara
  4. Air menjadi lebih bersih dan aman untuk di minum.
  5. Lebih tenang dalam menjalankan aktifitas sehari hari.

Selain hal yang disampaikan diatas kita juga harus saling mendukung agar tercapainya tujuan kita dalam menjaga kesehatan lingkungan bersama, agar tidak terjadi penyakit ataupun hal-hal yang tidak diinginkan dimasa mendatang, serta agar lingkungan kita tetap bisa dinikmati hingga anak cucu kita kelak.

Berikut Tips dan trik menjaga kebersihan lingkungan:

  1. Dimulai dari diri sendiri dengan cara memberi contoh kepada masyarakat bagaimana menjaga kebersihan lingkungan.
  2. Selalu Libatkan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk memberikan pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
  3. Sertakan para pemuda untuk ikut aktif menjaga kebersihan lingkungan.
  4. Perbanyak tempat sampah di sekitar lingkungan sekitar kampus 

Masih banyak lagi manfaat menjaga kebersihan lingkungan, maka dari itu kita harus menyadari akan pentingnya kebersihan lingkungan mulai dari rumah kita sendiri misalnya rajin menyapu halaman rumah, rajin membersihkan selokan rumah kita, membuang sampah pada tempatnya, dan perilaku yang menjaga kebersihan lainnya.

Lingkungan akan lebih baik jika semua orang sadar dan bertanggungjawab akan kebersihan lingkungan, karena hal itu harus ditanamkan sejak dini, di sekolah pun kita diajarkan untuk selalu hidup bersih.

Karena itu, mulailah membuat perubahan dari diri sendiri, kemudian lakukan pendekatan dengan orang sekitar secara perlahan agar semua orang disekitar kita mau untuk menjaga lingkungan.

Hal ini memang tidak mudah, namun kita bisa memberikan pemahaman-pemahaman kecil yang bisa merubah cara berpikir orang lain.

Tidak harus menjadi super hero untuk membuat sebuah perubahan yang baik untuk lingkungan di sekitar kita. Jadilah Mahasiswa dengan tingkat kepekaan terhadap lingkungan karena peninggalan terbaik kita kepada masa depan adalah lingkungan yang terjaga dan nyaman.(AM)

]]>
Tue, 05 Dec 2023 10:38:39 +0800 Maruf
Rindu Bau Hujan di Tengah Musim Kemarau https://amarmedia.co.id/rindu-bau-hujan-di-tengah-musim-kemarau https://amarmedia.co.id/rindu-bau-hujan-di-tengah-musim-kemarau Musim kemarau panjang menjadi saat yang sulit untuk dilewati bagi banyak orang. Musim kemarau panjang juga membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan.

Salah satu dampak yang paling terlihat adalah kekeringan yang melanda di banyak wilayah, berkurangnya sumber air, sungai dan danau menjadi kering, dan pasokan air untuk irigasi  pertanian dan kebutuhan sehari-hari menjadi sangat terbatas.

Bahkan kemarau yang berkepanjangan juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Hutan yang kering dan tanaman liar yang mati menjadi sumber potensial untuk kebakaran yang merusak. Asap dari kebakaran hutan dapat mencemari udara dan berdampak buruk pada kualitas udara serta kesehatan manusia.

Mengutip dari laman menpan.go.id, musim kemarau tahun 2023 menjadi musim kemarau  terpanas daripada tahun-tahun sebelumnya. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) via Republika.co.id, musim hujan di wilayah Indonesia diprediksi akan turun pada bulan Oktober 2023, namun tidak terjadi secara bersamaan.

Karena musim kemarau, cuaca yang panas dan kering membuat kita jadi merindukan hujan yang dapat menyegarkan dan memberikan kehidupan bagi alam sekitar. Di samping merindukan hawa yang segar setelah turunnya hujan, setiap orang pasti juga merindukan bau hujan yang khas.

Bau hujan menjadi salah satu aroma yang paling dirindukan ketika musim kemarau berkepanjangan melanda. Aroma yang khas dan segar ini seperti ‘obat penenang’ tersendiri bagi mereka-mereka yang menyukainya, seolah dapat mengembalikan kenangan indah tentang kebahagiaan yang terkait dengan hujan.

Dengan berakhirnya musim kemarau, bau hujan akan kembali mengisi udara. Tidak hanya itu,hujan juga akan membawa kebaikan bagi alam sekitar. Turunnya hujan juga dapat sedikit membantu mengurangi polusi udara yang saat ini juga dampaknya tidak kalah buruknya bagi kesehatan.

Semoga musim kemarau yang panjang ini segera berakhir, agar kita dapat menikmati kembali bau hujan yang segar yang sangat dinantikan.

]]>
Tue, 05 Dec 2023 10:22:12 +0800 Maruf
Urgensi Inovasi Dalam Membangun Ekonomi Kreatif https://amarmedia.co.id/urgensi-inovasi-dalam-membangun-ekonomi-kreatif https://amarmedia.co.id/urgensi-inovasi-dalam-membangun-ekonomi-kreatif

Di Indonesia pengembangan ekonomi kreatif sudah menjadi prioritas nasional, hal tersebut selaras dengan keberagaman budaya serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah sehingga memungkinkan Indonesia untuk memiliki banyak peluang dalam melakukan sebuah pengembangan ekonomi kreatif. Selain itu kemajuan teknologi juga membuka peluang bagi pengembangan ekonomi kreatif, sehingga individu ataupun kelompok usaha sudah dapat mengakses pasar global dengan lebih mudah.

Dalam era modern yang sudah mulai di kuasai oleh generasi baru ini, ekonomi kreatif menjadi jembatan penghubung yang baik bagi generasi baru untuk memaksimalkan bakat dan minat dalam berinovasi. Ide-ide baru bahkan bisa menjadi solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Ekonomi kreatif merupakan konsep ekonomi berbasis pengetahuan, karena yang menjadi pondasi utama pengembangan ekonomi kreatif ini adalah pengetahuan dan inovasi. Ekonomi kreatif menjadi peluang baik karena dapat mendorong perekonomian serta menciptakan lapangan pekerjaan, hal ini telah di identifikasi langsung oleh Pemerintah melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif republik Indonesia.

Ekonomi kreatif memiliki banyak keuntungan bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Keuntungan tersebut antara lain;

  1. Menciptakan lapangan pekerjaan, hal tersebut karena sangat banyak yang bisa berperan dalam ekonomi kreatif ini seperti desainer, photografer bahkan seniman.
  2. Meningkatkan pendapatan dan Ekspor, produk dan juga layanan dengan kualitas baik juga dapat di ekspor hingga mampu meningkatkan devisa.
  3. Meningkatkan daya saing wilayah, jika sebuah wilayah memiliki sektor ekonomi kreatif yang berkembang dengan baik maka hal ini dapat menarik para wisatawan. Sehingga mampu meningkatkan daya saing serta membantu pergerakan ekonomi wilayah tersebut.
  4. Mempromosikan Identitas Lokal, dengan menghasilkan produk yang unik serta menonjolkan ciri khas, wilayah tersebut dapat menjadi lebih di kenal dan di akui secara Internasional.

Dalam ekonomi kreatif peran inovasi tentunya dapat membantu menemukan cara baru untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya, dan meningkatkan kualitas produk atau layanan yang ditawarkan oleh ekonomi kreatif. Namun, inovasi juga dapat menimbulkan resiko yang kurang baik apabila tidak di kelola dengan baik. Inovasi merupakan langkah yang baik dalam proses mempertahankan suatu usaha atau bisnis agar terus dapat bersaing dengan kompetitor lainnya. Selain dapat meningkatkan keuntungan pemilik usaha juga mampu membantu pertumbuhan ekonomi daerah bahkan nasional.

Dengan demikian tentunya inovasi harus terus di lakukan dalam menjalankan usaha seperti menambah jangkauan pembeli dengan akses digital yang semakin cangih, desain kemasan produk, meningkatkan kualitas produk atau layanan dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian usaha yang di jalankan akan terus eksis dalam dunia bisnis. Hal tersebut tentunya tidak akan berjalan dengan lancar tanpa peran pemerintah dalam hal pemberdayaan Sumber Daya manusia. 

Salah satunya adalah Program Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) yang di gelar pada bulan Agustus lalu di Aula LLK Dinas Ketenaga Kerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Sumbawa. Di lansir dari Website resmi Kabupaten Sumbawa Bapak Drs. H. Mahmud Abdullah selaku Bupati Kabupaten Sumbawa menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan Pelatihan Berbasis Kompetensi ini merupakan upaya mewujudkan satu dari 10 program Unggulan Daerah yaitu membuka 1000 lapangan pekerjaan, pelatihan serta sertifikasi gratis. Tujuan kegiatan ini untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten, produktif, berdaya saing, dalam rangka memberi kontribusi lebih besar bagi pengembangan ekonomi yang berbasis pada kebutuhan pasar kerja yang semakin dinamis dan berkembang. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pembangunan sektor ekonomi suatu daerah merupakan suatu hal yang sangat penting untuk di perjuangkan. 

]]>
Fri, 01 Dec 2023 11:33:34 +0800 Maruf
Peran Aplikasi Discord sebagai Platform Komunikasi Untuk Semua Kalangan https://amarmedia.co.id/peran-aplikasi-discord-sebagai-platform-komunikasi-untuk-semua-kalangan https://amarmedia.co.id/peran-aplikasi-discord-sebagai-platform-komunikasi-untuk-semua-kalangan

Dalam kehidupan sehari-hari, internet bukan lagi suatu hal yang asing di telinga. Di era digital ini, internet berkembang sangat pesat dan berkaitan dengan masyarakat. Semua orang membutuhkan internet, baik itu dalam bermain sosial media, bekerja secara online, berjualan online, dan sebagainya. Hal tersebut tidak bisa kita pungkiri dan terjadi sampai hari ini.

Saat ini banyak aplikasi voice ataupun video meeting bermunculan, aplikasi-aplikasi penunjang keberlangsungan aktivitas masyarakat secara online. Salah satunya adalah aplikasi Discord.

Mungkin sebagian orang belum mengetahui aplikasi ini. Pada dasarnya, Discord merupakan aplikasi chatting. Namun aplikasi ini sedikit berbeda karena mempunyai room diskusi, voice chat, share data, dan lainnya.

Discord lebih dikenal sebagai aplikasi voice chat dan pada awalnya Discord berangkat dari kalangan gamers. Aplikasi ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi kalangan gamers sebab banyak dari mereka menggunakan Discord untuk bermain game sambil berkomunikasi bersama teman. Banyak komunitas - komunitas di Indonesia juga menggunakan discord untuk kebutuhan meeting, sharing ilmu dan diskusi lainnya.

Bukan hanya gamers yang menggunakan aplikasi discord, namun semua kalangan juga ikut menggunakan aplikasi discord dalam belajar mengajar, bersosialisasi, menciptakan pengalaman baru dan lain-lain.

Aplikasi Discord mempunyai banyak peran untuk semua kalangan masyarakat. Peran paling utama adalah untuk menciptakan dan memudahkan komunikasi yang baik ke sesama pengguna. Discord bukan hanya digunakan oleh kalangan gamers, discord juga bisa mengajak orang lain bergabung dengan cara menambah atau mengundang seseorang melalui link yang di bagikan. Dengan begitu, orang-orang dapat bergabung dan berinteraksi di dalam server atau ruangan virtual yang telah dibuat.

Peran lain dari Discord ialah, kita bisa membuat forum diskusi dengan berisikan anggota dari dari semua kalangan, entah itu gamers, akademisi, pegawai negeri, dan lainnya. Dengan demikian, diskusi yang luas dan wawasan yang luas semakin tercipta.

Menurut saya, dengan hadirnya platform Discord, dapat membantu semua kalangan dalam mengenal suatu hal baru yang belum pernah didapat sebelumnya. Baik itu pengalaman, teman, culture dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, aplikasi discord lebih baik dari pada aplikasi aplikasi video meeting pada umumnya, karena mempunyai fitur yang menarik. Ada voice chat, video call, share screen, watching together, dan lainnya.

source kanal komunitas

Bukan hanya berperan sebagai platform voice chat dalam bermain game, namun juga bisa digunakan untuk berdiskusi, bertukar pikiran, belajar budaya negara lain dan masih banyak lagi. Saya berharap, semakin banyak orang-orang yang mengenal dan menggunakan aplikasi discord dengan baik, bijak dan positif. Intinya tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

]]>
Fri, 01 Dec 2023 10:13:44 +0800 Maruf
Bumi langit Jantung Puisi https://amarmedia.co.id/bumi-langit-jantung-puisi https://amarmedia.co.id/bumi-langit-jantung-puisi BUMI LANGIT JANTUNG PUISI.

Pernah kau diam dalam renungan waktu

dia berlari dalam malam gelap gemerlap

menggebu di siang gersang

tak berhenti tiada berbalik ke belakang.

Seperti udara itu hidupnya tak pernah redup

kembara dari utara ke selatan dan sebaliknya

dari barat ke timur dan sebaliknya

mata angin menating dingin

mengantar gerah ke badan insan

yang mengipas badan di beranda 

rumah hunian

Bumi yang terbentang 

menghidang rerumputan 

warna-warni bebungan dan pepohonan

bergelantungan buah-buahan yang muda dan yang matang

plaura-fauna nikmati hidup 

lebih dari cukup 

tersaji gratis di alam semesta.

Mengembang payung langit kebiruan

rembulan mengombak cahaya

kelap kelip lampion gemintang

pameran keanggunan napasi kegaibannya.

Sejak pangkal siang hari

hingga upuk senja mentari menabur sinar benderang

lewat otak dan ujung jari

para insan membuka jendela dunia

menjinak iptek dan imtak 

bagi hidup mesra di buana fana

mendekap bahagia di negeri misteri abadi.

para insan lain cucur peluh tak mengeluh

membangun dunia dimulai

dari diri sendiri.

Tiada yang mampu menghentikan langkah 

kasih dan sayangnya

begitu agung pesona kuasanya

tethadap makhluk dan insan ciptaan--NYA.

Inilah senarai puisi putih

hiasi sayap dan napas kita 

di sini dan negeri sang Kekasih.

Kaki bumi Sumbawa

NTB Indonesia

30 Nopember 2023.

]]>
Thu, 30 Nov 2023 07:28:00 +0800 Maruf
Tenaga Kependidikan : "Pahlawan" Yang Terlupakan https://amarmedia.co.id/tenaga-kependidikan-pahlawan-yang-terlupakan https://amarmedia.co.id/tenaga-kependidikan-pahlawan-yang-terlupakan Tenaga Kependidikan : "Pahlawan" Yang Terlupakan

Oleh : Nurul Badriyah

(Mahasiswa Magister Manajemen Inovasi Sekolah Pascasarjana Universitas Teknologi Sumbawa)

Dalam forum diskusi tentang Pendidikan, perhatian cederung fokus pada peran guru dan kurikulum saja, sementara peran tenaga kependidikan yang lain sering terlupakan. Padahal, tenaga kependidikan memiliki peran yang penting dalam kelancaran dan kesuksesan operasional lembaga pendidikan. Mereka berkontribusi secara langsung pada lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran, kebersihan dan keamanan, administrasi, dan banyak aspek penting lainnya.

Negara Tidak memberikan tunjangan untuk tenaga kependidikan, seperti guru yang mendapatkan tunjangan sertifikasi, bisa menjadi permasalahan serius dalam sistem pendidikan. Tunjangan sertifikasi adalah salah satu bentuk penghargaan yang diberikan kepada guru yang telah meningkatkan kualitas mengajar melalui pendidikan dan pelatihan tambahan. Meskipun tunjangan ini penting untuk memotivasi guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran, penting juga untuk mengakui bahwa tenaga pendidikan lainnya juga berperan penting dalam keberhasilan lembaga pendidikan. 

Meskipun tidak mendapatkan tunjangan formal, banyak tenaga kependidikan yang terus meningkatkan dedikasinya dalam memberikan pelayanan mereka untuk pendidikan. Mereka menghadapi tantangan dalam menjalankan tugas mereka dengan penuh komitmen tanpa mendapatkan insentif tambahan. Bahwa pemerintah harus berkomitmen untuk memberikan pengakuan dan apresiasi yang setara bagi semua tenaga pendidikan. Ini bisa berarti memberikan tunjangan atau insentif tambahan untuk peran dan posisi yang berbeda, seperti petugas administrasi, petugas kebersihan, dan petugas keamanan. Setiap anggota tim pendidikan berkontribusi pada keberhasilan keseluruhan, dan setiap kontribusi pantas dihargai.

Penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengakui peran penting tenaga kependidikan dalam mendukung sistem pendidikan. Meskipun tidak melalui tunjangan finansial, penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka bisa berdampak positif dalam memotivasi dan meningkatkan semangat mereka. Dukungan finansial tidak hanya akan meningkatkan motivasi dan semangat tenaga pendidikan, tetapi juga akan membantu meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada siswa. Jika tenaga pendidikan merasa diakui dan dihargai, mereka kemungkinan akan lebih bersemangat dan berdedikasi dalam melaksanakan tugas mereka. Selain tunjangan finansial, pemerintah juga harus memberikan kesempatan pengembangan profesional kepada semua tenaga pendidikan. Pelatihan dan pengembangan yang berkelanjutan akan membantu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada pengalaman belajar siswa.

Dalam melihat isu ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk mempertimbangkan bagaimana meningkatkan kondisi tenaga kependidikan dan memberikan pengakuan yang pantas atas peran mereka dalam memajukan pendidikan. Dalam jangka panjang, investasi dalam tenaga kependidikan dapat memberikan dampak positif bagi keseluruhan sistem pendidikan dan kualitas belajar siswa.

Terutama pemerintah perlu menyadari pentingnya peran semua tenaga kependidikan dan memberikan insentif yang layak untuk memastikan kesejahteraan mereka. Ini termasuk memberikan tunjangan atau pengakuan lainnya yang sesuai dengan kontribusi mereka dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran. Dengan memberikan dukungan yang tepat, kita bisa meningkatkan kualitas keseluruhan pendidikan dan memberikan apresiasi yang layak untuk semua pihak yang berkontribusi pada proses pendidikan.

]]>
Wed, 29 Nov 2023 15:16:51 +0800 Maruf
Blue Economy : Konsep Pembangunan Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan https://amarmedia.co.id/blue-economy-konsep-pembangunan-kelautan-dan-perikanan-berkelanjutan https://amarmedia.co.id/blue-economy-konsep-pembangunan-kelautan-dan-perikanan-berkelanjutan Oleh : Fabian Ardianta

(Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Magister Manajemen Inovasi Universitas Teknologi Sumbawa)

Salah satu konsep yang digawangi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menjadi filosofi dalam inovasi pembangunan sektor kelautan dan perikanan adalah melalui konsep Blue economy. Pada dasarnya blue economy adalah pemanfaatan laut maupun sumber daya di dalamnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Blue Economy (ekonomi biru sesuai dengan warna lautan) di Indonesia menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi yang tengah digeber pemerintah beberapa tahun terakhir. Mengutip laman Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), blue economy adalah upaya optimalisasi pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari pemanfaatan sumber daya laut secara inklusif dan berkelanjutan sehingga tetap mengedepankan pelestarian laut beserta ekosistem pendukungnya. Konsep blue economy adalah pendekatan berkelanjutan yang bertujuan untuk menjaga sumber daya laut agar tetap lestari. 

Dikutip dari laman Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), konsep blue economy yang digariskan oleh Bank Dunia, yakni menggabungkan pemanfaatan sumber daya laut dengan pendekatan berkelanjutan. Tujuan dari penerapan blue economy adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelestarian ekosistem laut, serta membuka sebanyak-banyaknya lapangan kerja. Blue economy di Indonesia mencakup berbagai sektor, seperti perikanan, energi terbarukan, pariwisata, transportasi air, pengelolaan limbah, dan mitigasi perubahan iklim. Jika dikelola dengan visi berkelanjutan, sektor-sektor ini dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan Indonesia yang sejahtera. 

Blue economy juga merupakan pendorong Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Potensi kelautan Indonesia sangat besar, menjadikannya negara kedua terbesar dalam produksi ikan dunia setelah China. Indonesia juga mengekspor sekitar 10 % dari komoditas perikanan dunia, dengan nilai sektor perikanan mencapai 29,6 miliar dollar AS atau setara dengan 2,6 persen dari PDB Indonesia. Laut Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang luar biasa, termasuk sebagai bagian terbesar dari segitiga terumbu karang yang menjadi habitat bagi 76 % dari seluruh spesies terumbu karang dan 37 % dari seluruh spesies ikan terumbu karang di dunia. Blue economy di Indonesia juga berdampak positif pada masyarakat. Lebih dari 2,8 juta rumah tangga terlibat langsung dalam industri maritim Indonesia. Selain sektor perikanan dan kelautan yang berkontribusi pada peningkatan devisa negara, mereka juga berperan penting dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Dalam konteks Indonesia, yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia dan sejumlah besar pulau, potensi untuk mengembangkan blue economy sangat besar. Beberapa aspek blue economy di Indonesia melibatkan sektor-sektor berikut:

1.Perikanan dan kelautan 

Indonesia memiliki sumber daya perikanan laut yang melimpah. Pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan dapat mendukung pertumbuhan sektor perikanan. Lalu ada pengembangan budidaya ikan, tiram, dan kerang dapat menjadi bagian penting dari blue economy, meningkatkan produksi perikanan secara berkelanjutan.

2. Pariwisata Bahari 

Keindahan ekosistem laut, terumbu karang, dan aktivitas kelautan menyediakan peluang besar untuk pengembangan pariwisata kelautan yang berkelanjutan.

3.Energi terbarukan 

Potensi untuk menghasilkan energi terbarukan dari angin dan gelombang laut dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional. 

4.Transportasi Maritim 

Investasi dalam infrastruktur pelabuhan dan transportasi laut untuk meningkatkan konektivitas dan efisiensi logistik. 

5. Industri Kelautan dan Perikanan 

Mendorong pertumbuhan industri pengolahan hasil laut seperti pemrosesan ikan, pembuatan produk olahan laut, dan industri terkait lainnya. 

6.Konservasi laut dan pengelolaan lingkungan laut adalah salah satu konsep blue economy, termasuk pelestarian terumbu karang, kawasan konservasi laut, dan upaya pengurangan sampah plastik. 

Penting untuk dicatat bahwa pengembangan blue economy di Indonesia harus diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan melibatkan partisipasi masyarakat lokal. Selain itu, aspek keberlanjutan dan keseimbangan ekologi perlu menjadi fokus utama agar ekonomi biru dapat memberikan manfaat jangka panjang tanpa merusak lingkungan laut.

]]>
Mon, 27 Nov 2023 13:11:53 +0800 Maruf
Gubernur Bang Zul Hadiri Peluncuran Buku "Pengabdian Cinta Bunda Niken https://amarmedia.co.id/gubernur-bang-zul-hadiri-peluncuran-buku-pengabdian-cinta-bunda-niken https://amarmedia.co.id/gubernur-bang-zul-hadiri-peluncuran-buku-pengabdian-cinta-bunda-niken Mataram.Amarmedia.co.id |Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc menghadiri dengan antusias acara peluncuran buku "Pengabdian Cinta Bunda Niken Menenun Impian Meraih Kegemilangan” yang berlangsung meriah di aula tengah pendopo Gubernur Jumat, 15/09/2023.

Dalam sambutannya, Gubernur Bang Zul memberikan apresiasi yang tinggi terhadap karya buku yang ditulis Kepala Dinas Sosial NTB Ahsanul Khalik, S.Sos. M.H buku yang menceritakan perjalanan dan pengabdian Bunda Niken sosok istri Gubernur NTB selama lima tahun mendampingi Gubernur mengambil peran membantu wujudkan visi dan misi Gubernur Bang Zul dan Wagub Umi Rohmi dengan perannya sebagai ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ketua Dekranasda NTB, Bunda PAUD NTB, Bunda Literasi NTB, dan Founder Limoff. 

“Senang sekali bisa hadir pada launcing buku ini membersamai agenda bunda Niken sekaligus istri tercinta dan terima kasih kepada pak AK” Tutur Bang Zul.

Masih dalam waktu yang sama dikatakan bang Zul, betapa beruntungnya bang Zul bisa mendapatkan istri seperti sosok bunda Niken, yang sangat pintar, apa adanya, dan meneduhkan hati. Diceritakan bang Zul selain pintar Bunda Niken juga merupakan sosok yang sangat gigih dalam mewujudkan impiannya, bahkan selalu menjadi tempat ternyaman bagi anak-anak beliau berdua dalam bertukar cerita. 

“Saya sangat beruntung sekali mendapatkan pendamping seperti Bunda Niken, dari dulu sampai sekarang tetap sama tidak ada yang berubah, Pintar, Cerdas, dia juga sangat menenangkan, bahkan selalu menjadi tempat ternyaman bagi anak-anak kami untuk bertukar pikiran tentang dunia pendidikan mereka”. 

Di akhir sambutan sembari membuka acara Bang Zul sampaikan semoga kisah inspiratif Bunda Niken dapat terus menginspirasi dan memotivasi warga NTB, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda NTB untuk mengejar impian mereka dan meraih kegemilangan. dengan membuka acara ini semoga berkah untuk kita semua”. tutup Bang Zul.

“Semoga dengan melauncing buku ini dapat membawa keberkahan dan kebermanfaatan bagi generasi muda NTB” tutup Bang Zul.

Acara yang di selenggarakan oleh institut Perempuan itu berlangsung meriah terlihat dari tamu undangan yang hadir dari berbagai kalangan mulai dari tokoh masyarakat, tokoh perempuan, budayawan, pejabat pemerintah, dan mahasiswa/I dari beberapa kampus di NTB. (Panda/Diskominfotik)

]]>
Sat, 16 Sep 2023 10:25:43 +0800 Maruf
Sepakati Rasionalisasi, Langkah Nyata Penyehatan APBD https://amarmedia.co.id/sepakati-rasionalisasi-langkah-nyata-penyehatan-apbd https://amarmedia.co.id/sepakati-rasionalisasi-langkah-nyata-penyehatan-apbd Sepakati Rasionalisasi, Langkah Nyata Penyehatan APBD

Ikhtiar Eksekutif bersama DPRD untuk melaksanakan penyehatan APBD terus dilakukan melalui langkah nyata dan signifikan.

Salah satunya adalah dengan melakukan rasionalisasi belanja modal dan belanja barang yang diserahkan sesuai dengan apa yang direkomendasikan BPK. Hasil rasionalisasi nanti akan nampak dalam postur anggaran yang akan disepakati dalam Rancangan KUA PPAS Perubahan APBD 2023.

Asisten 3 Setda Provinsi NTB, H. Wirawan, S.Si, MT menjelaskan bahwa TAPD dan Banggar DPRD sudah menyepakati besaran angka rasionalisasi senilai lebih kurang 100 Milyar. Kesepakatan ini nantinya akan tertuang dalam KUA PPAS Perubahan APBD 2023. 

Ini angka yang cukup besar, sehingga apresiasi patut kita berikan kepada DPRD atas pemahamannya.

Upaya ini ditempuh untuk menyesuaikan target belanja 2023 dengan potensi realisasi pendapatan, sehingga tidak menimbulkan gap yang besar di akhir tahun.

Dengan rasionalisasi sebesar ini, kita harus optimis bahwa langkah penyehatan APBD akan segera nampak hasilnya.

Kuncinya pada realisasi pendapatan yang sudah kita targetkan dengan memperhatikan dua kerangka yakni kerangka regulasi dan kerangka anggaran. Dari sisi regulasi, rujukan aturannya ada dan jelas. Dari sisi anggaran, jumlah targetnya didasarkan pada perhitungan teknokratik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Target pada objek pendapatan yang dipastikan tidak akan terealisasi seperti pendapatan dari sewa lahan Gili Trawangan telah dirasionalisasi disesuaikan dengan potensi realisasinya.

Sekali lagi jika seluruh target pendapatan termasuk pendapatan dari bagi hasil laba bersih PT. AMNT masuk sesuai target, maka bisa dikatakan langkah penyehatan APBD 2023 akan terlaksana secara optimal. 

Oleh karena itu menjadi tanggung jawab bersama Pemprov NTB dan DPRD untuk melakukan koordinasi dengan para pihak seperti PT.AMNT, Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan untuk merealisasikan setoran bagi hasil laba bersih ini.

Namun demikian, TAPD bersama Banggar DPRD juga sudah melakukan simulasi, jika target pendapatan ini tidak sepenuhnya terealisasi. Jika pun terjadi hal seperti itu, kewajiban kepada pihak ketiga yang diluncurkan ke tahun 2024, nilainya jauh lebih kecil dibandingkan kewajiban yang harus ditanggung APBD 2023. Dan sumber pembayaran pun nantinya jelas, yakni sumber pendapatan yang tidak tertagih tahun ini akan ditetapkan kembali sebagai target APBD 2024.

Ketika ditanya, apakah langkah rasionalisasi ini tidak menggangu kewajiban pembayaran hutang kontraktual 2022 yang sampai saat ini masih tersisa. Asisten 3 menyatakan bahwa, langkah ini sedikitpun tidak mengganggu. Pembayaran hutang 2022 terus berproses dan akan tuntas tahun ini. Yang dirasionalisasi adalah belanja APBD Tahun 2023.

Demikian Haji Wirawan mengakhiri pembicaraan.

]]>
Sun, 03 Sep 2023 13:36:24 +0800 Maruf
Ketua IMI Sumbawa Muhammad Taufik Tutup Usia https://amarmedia.co.id/ketua-imi-sumbawa-muhammad-taufik-tutup-usia https://amarmedia.co.id/ketua-imi-sumbawa-muhammad-taufik-tutup-usia Ketua IMI Sumbawa Muhammad Taufik Tutup Usia

Sumbawa. Amarmedia.co.id: Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Sumbawa Muhammad Taufik Tutup Usia pada hari Minggu malam (27/8/2023) di Sumbawa Besar. 

Kepergian Ketua IMI dan Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional Kabupaten Sumbawa ini meninggalkan kesedihan bagi koleganya. Salah satunya Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Abdul Rafiq SH sempat meragukan kabar ketika pertama kali menerima pesan singkat lewat WhatsApp sebab belum lama sempat berkomunikasi dan tidak ada tada tanda sakit. Dan awak media ini segera mengkonfirmasi kebenaran berita duka tersebut dan mendapat konfirmasi kebenaran dari istrinya Ibu Maya pada tengah malam Senin. "Benar mas, sekarang jenazah masih di UGD Rumah Sakit Umum Daerah Sumbawa Besar" Ujarnya haru.

Atas hal tersebut, berita kepulangan Almarhum Muhammad Taufik menyebar luas di media sosial dan WhatsApp Group dan ucapan Duka pun berdatangan. 

"Innalilllahi wainna ilaihirojiun, Semoga Allah SWT mengampuni dosa dan khilafnya, dan Keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan dan kesabaran"Ucap Rafiq 

Rencana pemakaman Muhammad Taufik akan dilaksanakan hari ini Senin siang  (28/8/2023) selepas sholat Zuhur di TPU Kebayan.

Pagi ini ribuan masyarakat berdatangan melayat ke rumah duka. Tampak hadir Ketua DPRD, Bupati Sumbawa, Wakil Bupati Sumbawa, Pimpinan dan Anggota DPRD dan insan Pers.

Kiprah Muhammad Taufik didunia olahraga otomotif sudah dikenal luas. Dirinya memimpin organisasi motor belum lama, sejak dilantik pada oleh Ketua IMI Provinsi NTB tanggal 4 November 2022 di Hotel Santika Mataram.

Taufik sangat fokus ingin membangun dan mengharumkan nama Sumbawa melalui Cabang Motor, segala macam upaya untuk mempersiapkan atlit mulai pra PORKAB, PORKAB, Porprov NTB hingga ikut terlibat aktif dalam mensukseskan MXGP Somota di Sumbawa Besar.

Demikian pula kiprahnya di Dunia Pariwisata. Dengan memimpin organisasi ASPARNAS, Almarhum terbilang cukup berkontribusi dalam menggerakkan dunia pariwisata di Kabupaten Sumbawa. Beberapa kali awak media ikut diajak dalam pertemuan regional yang membahas pariwisata. Cita citanya Sport center yang didalamnya ada sirkuit motor dapat terealisasi dan terhubung dengan sport tourism.

Selamat Jalan Orang tua kami, sekaligus kolega dan teman seperjuangan dalam mengisi pembangunan di Kabupaten Sumbawa.

]]>
Mon, 28 Aug 2023 10:20:09 +0800 Maruf
Direktur PT Amar Media Inovasi mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke 49 kepada Ketua DPRD Sumbawa Abdul Rafiq SH https://amarmedia.co.id/direktur-pt-amar-media-inovasi-mengucapkan-selamat-ulang-tahun-ke-49-kepada-ketua-dprd-sumbawa-abdul-rafiq-sh https://amarmedia.co.id/direktur-pt-amar-media-inovasi-mengucapkan-selamat-ulang-tahun-ke-49-kepada-ketua-dprd-sumbawa-abdul-rafiq-sh Direktur  PT Amar Media Inovasi dan jajaran Redaksi www.Amar media.co.id mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke 49 kepada Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa Bapak Abdul Rafiq SH. 

Direktur 

Abdul Ma'ruf Rahmat SP.

]]>
Sun, 27 Aug 2023 16:11:00 +0800 Maruf
Keteladanan Nabiullah Ibrahim Memimpin Umat https://amarmedia.co.id/keteladanan-nabiullah-ibrahim-memimpin-umat https://amarmedia.co.id/keteladanan-nabiullah-ibrahim-memimpin-umat Oleh: Marni Mulyana, LC, MHI

Nabiullah Ibrahim Alaihissalam dipilih Allah Swt, untuk menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim adalah pemimpin mulia yang layak dicontoh manusia. Pemimpin yang menjadi tauladan, berlaku bijak dan adil terhadap rakyat yang dipimpinnya, berbeda dengan orang dzalim. 

Sahabat Muslimin Rahimakumullah

Marilah peringatan Idul Adha lalu kita jadikan momentum untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita kepada Allah SWT, dalam arti yang sebenar-benarnya.

Yaitu menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-laranganNya. Baik dalam keadaan susah ataupun gembira. Baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Baik dalam keadaan ramai ataupun sepi.

Sebab takwa adalah sebuah kewajiban bagi setiap umat Islam yang tidak boleh ditunda-tunda melainkan harus dilaksanakan seketika dan seterusnya

Dan salah satu cara kita bertakwa adalah dengan cara bersyukur kepada Allah atas semua nikmat-nikmat-Nya. Bersyukur kita diberi umur yg panjang, diberi kesehatan, diberi kelapangan rizki, diberi taufiq dan hidayah untuk beriman dan beramal dan lain sebagainya.

Allahu Akbar …..3x Walillahi al-Hamd

Sungguh tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dengan orang yang beriman kepada Allah. Sungguh tidak ada orang yang lebih tenang dibandingkan dengan orang yang telah membersihkan hatinya dari segala sifat kotor.

Sungguh tidak ada yang lebih senang dibandingkan dengan orang yang istiqamah dalam amal kebaikan. Allah menyatakan hal ini dalam banyak firman-Nya, dan nabi Ibrahim besama Rasulullah menjadi contoh teladan yang telah menjadi bukti bagi seluruh alam.

Sungguh tidak ada kemusyrikan, kemunafikan dan kekafiran, yang mengantarkan pada kebahagiaan hakiki. Sungguh tidak ada maksiat dan pengingkaran yang akan mengantarkan pada ketenangan hidup.

Sungguh tidak ada kejahatan dan perbuatan menyakiti orang lain yang mengantarkan pada hidup senang dan tenang. Allah telah menyatakan dalam banyak ayatnya, dan musuh-musuh Allah telah menjadi bukti sejarah yang tidak mungkin dipungkiri dan terlupakan.

Di manakah Fir’aun yang katanya dulu gagah perkasa, mulia dan mengaku menjadi Tuhan? Di manakah sekarang Raja Namrud yang dengan bengisnya telah membakar kekasih Allah Ibrahim As?

Di manakah sekarang Abrahah Sang Gubernur Yaman yang gagah berani mau merobohkan Ka’bah? Di manakah sekarang kaum ‘Ad yang arogan, yang menganggap dirinya paling hebat sehingga melupakan Allah?

Di manakah pula Qarun yang katanya kaya raya tapi bakhil itu? Di manakah sekarang Abu Jahal yang mata hatinya tertutup rapat oleh ambisi dan kesombongannya sehingga tidak mau mengakui kenabian ponakannya sendiri, Nabi Muhammad ﷺ. Adakah yang masih mulia? Jawabannya tidak ada.

Allahu Akbar …..3x Walillahi al-Hamd

 Pada Idul Adha lalu , Allah SWT pada dasarnya mengajarkan banyak hal kepada kita semua melalui teladan suci dari nabiyullah Ibrahim dan keluarganya. Sebagaimana penegasan Allah dalam firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.”

Banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya. Salah satu yang urgen untuk kita jadikan suri tauladan dalam kehidupan kita saat ini adalah aspek kepemimpinan Ibrahim.

Maka, bagi setiap kita, mengambil pelajaran dari kepemimpinan Ibrahim menjadi penting. Allah menegaskan sosok Ibrahim dan karakter dasar yang dimiliki dalam firman-Nya:

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ,شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ. وَءَاتَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (An-Nahl: 120-122)

Pertama: Keteladanan Ibrahim Memimpin Keluarga

Nabi Ibrahim adalah sosok pribadi yang sukses dalam memimpin keluarganya. Sehingga keluarganya menjadi keluarga yang memiliki visi-misi yang benar dan mampu berlayar mengarungi bahtera kehidupan diatas visi-misi mulia itu.

Keluarga Ibrahim adalah keluarga muwahhid. Visi akherat, ketaatan dan keikhlasan yang dibangun Ibrahim menjadikan istrinya, Sarah, Hajar dan putra-putranya selalu tunduk dan taat dalam melaksanakan perintah Allah, walaupun perintah itu berat sekalipun.

Sikap sabar dan tawakkal yang kokoh selalu menjadi solusi instan dari semua kisah tugas berat kepada mereka. Komunikasi yang baik antar merekam juga menjadikan semua tugas berat itu dapat dilalui dengan penuh kesabaran dengan ending yang penuh kebahagiaan.

Di saat mendapatkan perintah dari Allah untuk berjalan dari Palestina menuju Makkah bersama Siti Hajar dan anaknya, mereka tunduk dan patuh. Padahal itu perjalanan yang jauh dan tidak pernah terbayang seperti apa tempat yang dituju.

Dan ternyata, tempat itu penuh gunung batu, pasir yang tandus, kering tanpa ada penghuni dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Perintah berikutnya, lebih mengagetkan lagi. Ketika sudah tiba di lembah Bakkah, datang perintah Allah kepada Ibrahim, “Tinggalkan istri dan anakmu di lembah ini wahai Ibrahim.”

Jangan tanya betapa beratnya perasaan Ibrahim saat itu, harus meninggalkan istri yang dicintainya dan anak semata wayang yang sudah puluhan tahun dirindukan kelahirannya. Jangan tanya betapa bergolaknya hati Hajar ibu muda yang baru melahirkan, ditinggal di tempat asing, hanya bersama bayi yang baru lahir. Sendiri, sepi, panas menyengat di siang hari dan dingin mencekam di malam hari, tak ada tempat berteduh dan berbaring.

Ketika Ibrahim melangkah pergi, wajar jika Hajar mengejar Ibrahim dan bertanya-tanya. “Wahai Ibrahim, apakah engkau tega meninggalkan istri dan anakmu di sini sendirian?”

Ibrahim diam dan tetap melangkah pergi tanpa menjawabnya. Berkali-kali Hajar bertanya dan Nabi Ibrahim tetap diam tidak menjawabnya.

Hingga akhirnya Hajar mengubah pertanyaannya “Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Allah?”. Ibrahim berhenti sejenak dan menjawab, “Iya, betul”.

Hajar berhenti mengejar, tidak bertanya lagi dan berkata, “Jika ini perintah Allah, pergilah wahai Ibrahim karena pasti Allah tidak akan mensia-siakan kami di sini.”

Itulah momentum akal berhenti di hadapan perintah wahyu. Keraguan menjadi keyakinan dan kepasrahan tanpa pertanyaan. Inilah watak dari kerja iman. Keyakinan selalu melampui batas kemampuan akal. Hingga akhirnya Allah memberi solusi instan atas ketundukan, ketaatan dan kepasrahan itu dengan munculnya mata air kehidupan yang tidak pernah berhenti mengalir hingga kini yaitu air zam-zam.

Sejak itulah Makkah menjadi simbol arah kehidupan baru umat manusia karena ada Ka’bah yang menjadi pusat peribadatan dengan jutaan orang datang setiap tahunnya.

Ketika Ismai tumbuh menjadi remaja yang menggemaskan, tiba-tiba datang perintah dari Allah untuk menyembelihnya. Dengan tangannya sendiri. Jangan ditanya betapa beratnya perintah Allah ini.

Tapi, kembali tinta emas sejarah mencatat, Ibrahim dan keluarganya mampu melaksanakan perintah ini. Keteladanan dalam ketundukan, ketaatan, kesabaran dan sikap tawakkal dalam menjalani perintah Allah kembali ditunjukkan oleh Ibrahim dan keluarganya.

Bahkan Ismail kecil, dengan suara tegas dan tanpa gentar, berucap dihadapan Bapaknya;

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ, سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

“Duhai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau insyaAllah akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Itu semua karena suksesnya Ibrahim dalam memimpin keluarganya dan mendidik mereka dengan pendidikan tauhid.

Pertanyaannya, sebagai instropeksi bagi kita , seperti apa kita memimpin keluarga kita, membangun visi-misi kehidupan meraka? Apakah ketundukan, ketaatan, dan kesabaran dalam menjalani perintah Allah sudah seperti Ibrahim dan keluarganya? Sudahkah sepirit keluarga kita adalah “sami’na wa atha’na” aku dengar aku taat” atas semua perintah Allah? Atau masih banyak tawaran-tawaran dengan beribu alasan; mulai dari kemalasan sampai pembangkangan?

Mari kita teladani Ibrahim dalam memimpin keluarga kita masing-masing. Apapun posisi kita, apakah sebagai suami, apakah sebagai istri, apakah sebagai anak.

Karena kita adalah pemimpin dalam posisi masing-masing, bertanggung jawab pada posisi itu, dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

“Setiap kalian adalah pemimpin dan semuanya akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya”.

Allahu Akbar …..3x Walillahi al-Hamd

Kedua: Keteladanan Ibrahim Memimpin Umat

Allah telah memilih Nabi Ibrahim sebagai pemimpin bagi umat manusia, atas berbagai prestasinya yang gemilang dalam banyak ujian yang telah dilaluinya. Dalam hal ini Allah menyebutkan dalam Al Qur’an:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ, قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا, قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي, قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

” Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya secara sempurna. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: ” Janjiku ini tidak mencakup orang-orang yang dzalim.”(QS: Al-Baqarah: 124)

Ujian Allah terhadap Nabi Ibrahim AS. cukup banyak, di antaranya; perintah untuk berdakwah memurnikan ketauhidan ummat manusia yang telah terkontaminasi oleh perbuatan syirik (menyekutukan Allah), perintah membawa istrinya ke Makkah, lalu diperintah untuk meninggalkannya, perintah menyembelih puteranya Ismail, membangun Ka’bah dan membersihkan Ka’bah dari kemusyrikan, menghadapi Raja Namrudz dan lain-lain.

Selanjutnya Allah mengangkat Ibrahim sebagai pemimpin bagi manusia. Pemimpin yang menjadi tauladan yang baik, karena berlaku bijak dan adil terhadap rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin manusia di bidang misi risalah yang diembannya dari Allah SWT, di bidang kehidupan beragama, politik, hukum, ekonomi dan lain-lain.

Pemimpin yang berjuang untuk mengangkat martabat rakyatnya agar menjadi bangsa yang punya ‘izzah, berwibawa di mata Allah dan di dalam percaturan dunia. Sebagaimana tergambar dalam doa Ibrahim kepada Allah:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS: Al-Baqarah: 126).

Nabi Ibrahim juga berharap agar kepemimpinannya itu kelak akan diwariskan kepada anak cucunya, tetapi Allah memberikan ketentuan bahwa Imamah atau kepemimpinan ini tidak akan diberikan-Nya kepada orang-orang yang berbuat dzalim; dzalim terhadap dirinya dengan berbuat syirik kepada Allah, atau berbuat dzalim kepada umat manusia dengan cara mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Di dalam sejarah, kita mengenal banyak nabi dan rasul yang diutus oleh Allah untuk menjadi pemimpin manusia dari anak keturunan Nabi Ibrahim AS, dan yang terakhir adalah Nabi kita Muhammad ﷺ.

Tapi tidak jarang dari anak keturunan Ibrahim yang berlaku dzalim seperti orang-orang Yahudi dan bangsa Arab Jahiliyah yang tidak mampu mewarisi misi dakwah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, yang akhirnya Allah menghinakan mereka.

Belajar dari kisah Ibrahim dalam memimpin umat, umat Islam harus ambil peran maju ke gelanggang untuk menjadi pemimpin-pemimpin umat, yang menghantarkan mereka kepada visi-misi hidup yang benar. Karena kalau tidak, maka orang-orang dzolim-lah yang akan mengambilnya.

Allah telah mengingatkan dalam firmanya:

فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ

 “..maka Tuhan mewahyukan kepada para rasul: Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang dzalim.” (QS: Ibrahim:13).

Dan di akhirat, para pemimpin yang dzalim dan pengikutnya akan sama-sama disiksa di neraka dengan azab yang sangat pedih. Mari kita simak firman Allah berikut ini:

 ) 66) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولاَ

67) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلاَ

68) رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

 “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan (atau disate) di neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya seandainya kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul”. Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan kebenaran. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS: Al-Ahzab: 66-68)

Kepemimpinan di dunia ini memang terkadang jatuh ke tangan orang-orang yang dzalim akibat lengah & lemahnya orang-orang yang shaleh, padahal orang-orang shalehlah yang paling berhak menjadi pemimpin di muka bumi ini. Allah berfirman:

أَنَّ الأَرضَ يَرِثُهَا عِبَاديَ الصَّالِحُونَ

“..Sesungguhnya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh“. (Al-Ambiya’: 105)

Berbagai prilaku arogan yang dipertontonkan oleh orang-orang dzalim di dunia kini adalah akibat dari kelemahan orang-orang shaleh, praktek-praktek buruk seperti korupsi, kolusi, nepotisme dan berbagai ketidak-adilan dalam pemerintahan yang dilakukan orang-orang yang dzalim adalah akibat dari lemahnya orang-orang yang shaleh.

Karena itu orang-orang yang beriman haruslah memilih orang yang shaleh yang memiliki visi dan misi kepemimpinan sebagaimana misi kepemimpinan nabi Ibrahim, yakni misi dakwah dan reformasi di semua sektor kehidupan.

Barangsiapa yang memilih orang dzalim sebagai pemimpinnya, maka ia ikut bertanggung jawab atas semua kedzalimannya di hadapan mahkamah Allah SWT dan bertanggung jawab juga kepada rakyat.

Untuk memilih pemimpin yang shaleh, kita dapat melihat track record kepribadiannya di masa lalunya, secara vertikal ia harus baik hubungan ibadahnya kepada Allah SWT, dan secara horisontal ia selalu berbuat adil dan bijaksana serta penuh kasih sayang dan berakhlak baik kepada sesama manusia. Kondisi akhlak dan pendidikan keluarga dan anak-anaknya.

Karena atas dasar inilah Nabi Ibrahim dipilih oleh Allah SWT. sebagai imam (pemimpin) bagi semua manusia. Hanya dengan kejelian dan penuh rasa tanggung jawab kita dalam memilih pemimpin yang shalih, beriman dan bertakwa serta memiliki dedikasi yang tinggi kepada Sang Khalik, di samping berakhlak mulia dan penuh kepedulian kepada sesamanya, negeri ini diharapkan dapat keluar dari krisis multidimensi, dan menjadi negeri yang penuh berkah dan maghfirah dari Allah SWT. “Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur”.

Allahu Akbar …..3x Walillahi al-Hamd

Dengan penuh khusyu’ dan tadharru’, mari kita berdo’a kepada Allah SWT semoga kita semua bisa menjadi pemimpn-pemimpin yang amanah dalam menjalani amanah hidup dan kehidupan ini sebagaimana Ibrahim, Hajar dan Ismail telah mencontohkan kepada kita. Semoga, bangsa kita dikaruniai oleh Allah pemimpin-pemimpin yang beriman, bertakwa, adil dan amanah sebagaimana dicontohkan oleh Ibrahim AS. Amin Ya Robbal ‘Alamain

]]>
Tue, 11 Jul 2023 09:26:39 +0800 Maruf
Jika Ingin Panen Kayu Maka Menanamlah https://amarmedia.co.id/jika-ingin-panen-kayu-maka-menanamlah https://amarmedia.co.id/jika-ingin-panen-kayu-maka-menanamlah Jika Ingin Panen Kayu, Maka Menanamlah

Oleh : Julmansyah S.Hut.MAP

Minggu kemarin di sela-sela  MXGP Samota Sumbawa, saya sempatkan ke kampung di Empang Sumbawa sambil jenguk orang tua sekalian panen Jati. Kebetulan pohon Jati ada sekitar 200an pohon di lahan bersertifikat dekat kampung orang tua, tentu ini bukan kawasan hutan.

Kebun Jati ini merupakan hasil dari GERHAN 2005/2006 saat saya masih menjadi staf perencanaan di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumbawa. Kebetulan di sekitar lokasi ini kami alokasikan sekitar 50 Ha kegiatan Hutan Rakyat. Dimana pemerintah menyiapkan bibit dan ongkos tanam untuk membangun hutan rakyat di lahan milik masyarakat.

Tidak mudah mengajak masyarakat untuk maju dan mau menanam, jika saja para pemilik tanah lokasi Gerhan tersebut serius menanam dan memelihara (agar tidak dimakan ternak) maka kawasan ini akan menjadi hutan Jati. Dan punya investasi masa depannya.

Alhamdulillah orang tua kami tekun menanam dan memelihara. Kadang-kadang  saya datang untuk melakukan pemangkasan dahan (prunning), termasuk memangkas dahan dari anaka agar menghasilkan jati berkualitas.

Kemarin saya minta KPH KPH Ampang Plampang lewat teman-teman  petugas Ismet Tarunata M. Ali untuk mengurus verifikasinya. Meskipun lahannya bersertifikat. Akan tetapi verifikasi oleh petugas KPH dengan Berita Acara Hasil Verifikasi dan peta lokasi sebagai bukti bukan berasal dari Kawasan Hutan, harus saya penuhi. 

Sebagai rimbawan dan sedang mengemban amanat sebagai Kepala Dinas LHK Provinsi NTB, tentu kami harus menjadi contoh. Contoh bahwa kamipun telah membangun hutan yang kelak akan kita manfaatkan sendiri. Serta memanfaatkan kayu legal yang bersumber dari lokasi yang jelas dan bisa diverifikasi.

Lokasi ini telah dilakukan pemanenan sekali beberap tahun yang lalu, kini panen ke dua kali. Bahkan melihat potensi (standing stock), bisa panen sampai 3 atau 4 kali kedepanya. Sebagai investasi dan cadangan kayu masa depan.

]]>
Wed, 28 Jun 2023 10:05:36 +0800 Maruf
Meraih Limpahan Pahala Diawal Bulan Zulhijjah https://amarmedia.co.id/meraih-limpahan-pahala-diawal-bulan-zulhijjah https://amarmedia.co.id/meraih-limpahan-pahala-diawal-bulan-zulhijjah Meraih Limpahan Pahala di Awal Dzulhijah

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelaskan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijah

Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

"Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“[1]_

Di antaranya lagi yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2).

 Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]

Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“[6]_

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.”[7]

Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad.[8]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.”[9] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[10]

Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.[11]

Amalan yang Dianjurkan di Sepuluh Hari Pertama Awal Dzulhijah

Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[12] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[13], …”[14]_

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [15]

Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ

Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali._”[16] Mengenai riwayat ini, para ulama memiliki beberapa penjelasan.

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan puasa ketika itu –padahal beliau suka melakukannya- karena khawatir umatnya menganggap puasa tersebut wajib.[17]

Imam Ahmad bin Hambal menjelaskan bahwa ada riwayat yang menyebutkan hal yang berbeda dengan riwayat ‘Aisyah di atas. Lantas beliau menyebutkan riwayat Hafshoh yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan puasa pada sembilan hari awal Dzulhijah. Sebagian ulama menjelaskan bahwa jika ada pertentangan antara perkataan ‘Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sembilan hari Dzulhijah dan perkataan Hafshoh yang menyatakan bahwa beliau malah tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari Dzulhijah, maka yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah.

Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya.[18]

Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.

Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied.[19]

Keutamaan Hari Arofah

Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”[20]_

Itulah keutamaan orang yang berhaji. Saudara-saudara kita yang sedang wukuf di Arofah saat ini telah rela meninggalkan sanak keluarga, negeri, telah pula menghabiskan hartanya, dan badan-badan mereka pun dalam keadaan letih. Yang mereka inginkan hanyalah ampunan, ridho, kedekatan dan perjumpaan dengan Rabbnya. Cita-cita mereka yang berada di Arofah inilah yang akan mereka peroleh. Derajat mereka pun akan tergantung dari niat mereka masing-masing.[21]

Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah._”[22] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan.[23] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a pada hari Arofah adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.

Jangan Tinggalkan Puasa Arofah

Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”_[24] Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[25] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.[26]

Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.”[27]_

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan,

حَجَجْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ أَبِى بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ. وَأَنَا لاَ أَصُومُهُ وَلاَ آمُرُ بِهِ وَلاَ أَنْهَى عَنْهُ

Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.”[28]_

Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama.[29]

Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)

Ada riwayat yang menyebutkan,

صَوْمُ يَوْمَ التَّرْوِيَّةِ كَفَارَةُ سَنَة

Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.[30] Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta.[31] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).[32]

Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.

Demikian pembahasan kami mengenai amalan di awal Dzulhijah. Ada sedikit pembahasan puasa Arofah yang mesti kami bahas pada posting selanjutnya. Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya.

 

Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 27 Dzulqo’dah 1430 H

Reference: 

 

[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.

[2] Lihat Taisir Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 923, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H.

[3] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/153, Mawqi’ At Tafasir.

[4] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 159, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan tahun 1424 H.

[5] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 469, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H.

[6] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.

[7] Latho-if Al Ma’arif, hal. 456.

[8] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 457 dan 461.

[9] Idem

[10] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458.

[11] Idem

[12] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad.

[13] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.

[14] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[15] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.

[16] HR. Muslim no. 1176, dari ‘Aisyah

[17] Fathul Bari, 3/390, Mawqi’ Al Islam

[18] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460.

[19] Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Ma’arif, hal. 460.

[20] HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah.

[21] Lihat Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, Al Mala ‘Alal Qori, 9/65,Mawqi’ Al Misykah Al Islamiyah.

[22] HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[23] Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 8/482, Mawqi’ Al Islam.

[24] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah.

[25] Lihat Fathul Bari, 6/286.

[26] Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam.

[27] HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

[28] HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

[29] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 2/137, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[30] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565, dinukil dari http://dorar.net

[31] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96, dinukil dari http://dorar.net

[32] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956.

Sumber : https://rumaysho.com/645-meraih-limpahan-pahala-di-awal-dzulhijah.html

]]>
Tue, 20 Jun 2023 06:56:07 +0800 Maruf
Peran Komunitas Bagi Daerah https://amarmedia.co.id/peran-komunitas-bagi-daerah https://amarmedia.co.id/peran-komunitas-bagi-daerah

Peran Komunitas Bagi Daerah

Oleh: 

I Made Widiarta, S.Komp, M. M. Inov

Ketua Relawan TIK Kab. Sumbawa

Era digital ini, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memainkan peran yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat dan daerah. Komunitas TIK menjadi salah satu faktor kunci yang dapat mendorong kemajuan dan transformasi positif dalam berbagai aspek kehidupan di suatu daerah. Beberapa alasan pentingnya membangun komunitas TIK yang kuat dan aktif untuk mendukung pembangunan daerah.

Sebagai wadah berbagi pengetahuan dan keterampilan; Komunitas TIK memberikan platform yang ideal untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan di antara anggotanya. Melalui diskusi, lokakarya, dan kegiatan kolaboratif lainnya, anggota komunitas dapat saling belajar dan mengembangkan pemahaman mereka tentang TIK. Dalam konteks pembangunan daerah, pengetahuan ini dapat digunakan untuk mengatasi tantangan yang ada dan memanfaatkan peluang yang muncul. Dengan memperkuat kompetensi TIK di kalangan warga, komunitas TIK membantu membangun kapasitas lokal yang kuat untuk menerapkan teknologi secara efektif.

Mendorong inovasi dan kreativitas; Komunitas TIK adalah tempat yang subur bagi inovasi dan kreativitas. Dengan berinteraksi satu sama lain, anggota komunitas dapat berbagi ide, menemukan solusi baru, dan merancang proyek-proyek yang inovatif. Dalam konteks pembangunan daerah, inovasi TIK dapat membantu meningkatkan efisiensi sektor publik, mengatasi masalah sosial, dan memperkenalkan model bisnis baru. Komunitas TIK yang aktif mendorong terciptanya lingkungan yang menginspirasi, di mana ide-ide revolusioner dapat dikembangkan dan diimplementasikan.

Pemberdayaan ekonomi; Mengembangkan komunitas TIK dapat memberikan dampak yang signifikan pada pemberdayaan ekonomi daerah. Dengan memperkenalkan peluang bisnis TIK dan memberikan pelatihan yang relevan, komunitas dapat membantu mengembangkan keterampilan wirausaha di kalangan warga setempat. Ini dapat menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi tingkat pengangguran, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, komunitas TIK juga dapat berperan sebagai inkubator startup lokal, mendukung perkembangan usaha kecil dan menengah yang berbasis TIK, dan memperluas jaringan bisnis di daerah tersebut.

Peningkatan akses dan konektivitas; Komunitas TIK memainkan peran penting dalam meningkatkan akses dan konektivitas di daerah yang sedang berkembang. Dengan mempromosikan penggunaan TIK dan mengajarkan keterampilan digital kepada masyarakat, komunitas dapat membantu mengurangi kesenjangan digital antara perkotaan dan pedesaan. Dalam pembangunan daerah, akses dan konektivitas yang ditingkatkan melalui komunitas TIK dapat memberikan akses ke informasi, layanan kesehatan, pendidikan, dan peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau. Komunitas TIK juga dapat bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk memperluas jaringan internet dan membangun infrastruktur yang diperlukan untuk menghubungkan daerah terpencil.

Kolaborasi dan partisipasi masyarakat; Komunitas TIK mendorong kolaborasi dan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan daerah. Melalui forum diskusi, pertemuan, dan proyek kolaboratif, anggota komunitas dapat berbagi ide, memberikan masukan, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pemanfaatan TIK dalam pembangunan. Partisipasi masyarakat ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan dan program yang diimplementasikan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat.

Peningkatan Pelayanan Publik; Komunitas TIK juga berperan dalam meningkatkan pelayanan publik di daerah. Dengan mengadopsi solusi TIK seperti aplikasi pemerintah digital, sistem manajemen data, dan layanan e-Government, komunitas TIK dapat membantu mempercepat proses administrasi, meningkatkan transparansi, dan memberikan layanan yang lebih efisien kepada masyarakat. Dalam jangka panjang, ini akan membantu meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik dan memperkuat hubungan antara pemerintah dan warganya.

Membangun komunitas TIK yang kuat dan aktif sangat penting untuk mendukung pembangunan daerah. Komunitas TIK mampu berbagi pengetahuan dan keterampilan, mendorong inovasi dan kreativitas, memperkuat pemberdayaan ekonomi, meningkatkan akses dan konektivitas, serta memfasilitasi kolaborasi dan partisipasi masyarakat. Selain itu, komunitas TIK juga berperan dalam meningkatkan pelayanan publik dan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam berbagai sektor pembangunan. Dengan membangun komunitas TIK yang inklusif dan berkelanjutan, daerah dapat meraih manfaat besar dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang dihadapi dalam era digital ini.(AM)

]]>
Thu, 15 Jun 2023 11:56:24 +0800 Maruf
Pemprov NTB Tanggapi Issue Penting Sepekan. Ada Apa Kewajiban Pihak ke 3 https://amarmedia.co.id/pemprov-ntb-tanggapi-issue-penting-sepekan-ada-apa-kewajiban-pihak-ke-3 https://amarmedia.co.id/pemprov-ntb-tanggapi-issue-penting-sepekan-ada-apa-kewajiban-pihak-ke-3 Pemprov NTB Tanggapi Issue Penting Sepekan. Ada Apa Kewajiban Pihak ke 3 

Oleh : Mada Ghandi

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menanggapi issue penting yang mencuat pada minggu pertama Mei 2023 seputar kewajiban pemda provinsi kepada rekanan kontraktor terhadap sejumlah pekerjaan yang belum dibayar mencapai Rp 223 M dari sebelumnya Rp 343 M, yang terus dibayar bertahap sesuai kemampuan kas pemda.

Pentingnya isue ini sejumlah pejabat daerah mulai dari Gubenur Zulkieflimansyah, Asisten 3 Setda NTB Wirawan Ahmad, dan  Bandan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BAKD) Samsul Rizal memberikan penjelasan di sejumlah kanal media, namun kesannya masih terus “digoreng” di sejumlah media online, medsos dan grup WA. 

Gubernur Zul menyayangkan issue ini digulirkan kesannya sangat politis dan tendensius. Ia memaklumi karena memang ini tahun politik. Agar tidak di goreng ke sana kemari menurutnya bahwa seluruh kewajiban kepada kontraktor yang belum terbayar akan diselesaikan Juni/Juli atau sebelum berakhirnya masa kepemimpinannya pada September 2023.

Menurut Gubernur, pemerintah pusat dan daerah merubah fokus kepada upaya mengatasi wabah covid 19. Sehingga yang paling penting adalah menyelamatkan nyawa manusia terlebih dahulu, dan hal ini bukan hanya terjadi di NTB tetapi di sejumlah daerah lain menghadapi hal yang sama.   

Asisten 3 Setda NTB Wirawan Ahmad mengungkapkan bahwa masalah ini terjadi karena 2 hal. Pertama jumlah kewajiban pada pihak ketiga (kontraktor) tahun 2023 lebih besar 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. Kedua karena pola transfer daerah mengalami perubahan. 

Seperti diketahui bahwa akumulasi hutang pemrov NTB terjadi sejak 2019 sejak wabah covid-19, yang dibawa ke tahun berikutnya (2020) dan seterusnya, terakhir pekerjaan 2022 yang jumlah mencapai sekitar Rp 223 M menjadi hampir Rp 400 M dan harus dibayar tahun 2023 ini. Pola itulah yang memang berlaku selama ini, kewajiban tahun sebelumnya dibayar pada tahun berjalan.  

Penyebab Kedua, pada tahun 2023 pemerintah pusat merubah pola transfer Dana Alokasi Umum (DAU). Pemda sebelumnya masih cukup leluasa karena masih ada sisa DAU yang ditransfer tiap bulannya oleh pemerintah pusat sehingga dapat membayar sejumlah kewajiban. 

Sekarang pola itu tidak berlaku lagi. Ada pun yang ditransfer tiap bulan itu hanya cukup untuk membayar gaji.  Sisanya ditranfer secara bertahap seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) langsung ada peruntukannya; infrastruktur, pendidikan dan kesehatan.

Saat ini kewajiban kepada pihak ketiga hanya bersandar kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masuknya tidak sekaligus tetapi per hari sekitar Rp 2-3 M. Sehingga pembayarannya juga sesuai dengan kondisi kas. Dalam PAD ini juga dipisahkan terlebih dulu untuk membayar gaji Bupati, DPRD, bagi hasil dengan kabupaten kota, insentif pajak, dst. 

Lalu bagaimana kondisi PAD Provinsi NTB ? Realisasinya hingga April baru Rp 751 M atau 25 % dari target. Semestinya memasuki bulan keempat realisasi mencapai Rp 900 an Milyar. Ada selisih kekurangan sekitar Rp 200 M inilah salah satu penyebab terhambatnya pembayaran pada pihak ketiga.  

Namun demikian menurut Wirawan kontraktor tidak perlu kuatir, karena kewajiban itu sudah masuk dalam APBD 2023.  Menjadi kewajiban pemda untuk menyelesaikannya sebelum berakhirnya masa kepemimpinan Zul-Rohmi September tahun ini. 

Kepala BPKAD Samsul Rizal mengatakan bahwa pihaknya meng-update terus kas daerah tiap hari agar semua kewajiban terus dibayar secara bertahap. Bahwa utang tersebut katanya tersebar di 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Pariwisata, Pertanian, Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), Pekerjaan Umum, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Perdagangan, Kelautan dan Perikanan, Perindustrian, dan Dinas Perdagangan, serta utang Perda jalan di Dinas PUPR. (AM/Ruf)

]]>
Mon, 08 May 2023 21:24:59 +0800 Maruf
45 Kata Motivasi Kerja untuk Melecut Semangat Bekerja Keras https://amarmedia.co.id/45-kata-motivasi-kerja-untuk-melecut-semangat-bekerja-keras https://amarmedia.co.id/45-kata-motivasi-kerja-untuk-melecut-semangat-bekerja-keras 45 Kata Motivasi Kerja untuk Melecut Semangat Bekerja Keras

Berikut ini kumpulan kata-kata motivasi yang mampu membuat semangat bekerja meningkat berlipat-lipat.

Pimpred Amarmedia.co.id ketika berpose di Foto para Wakil Presiden RI 

Sukses tidak diperoleh hanya dalam semalam. Kamu sepakat kan dengan pernyataan ini, Sahabat? Sebab, setiap kebahagiaan, kemakmuran, dan karier yang cemerlang merupakan buah kerja keras dalam jangka panjang.

Untuk meraih kesuksesan, kamu harus mamaknai setiap hari sebagai peluang untuk menanam bibit kesuksesan. Dengan cara ini, sedikit demi sedikit kamu bisa terus mendekati kesuksesan.

Namun, bekerja keras setiap hari dapat membuat kita lelah, stress, bahkan kehilangan motivasi. Padahal, motivasi kerja sangat diperlukan agar kita bisa memberikan yang terbaik saat bekerja.

Nah, Sahabat Amar, jika saat ini kamu sedang lelah, jenuh bahkan kehilangan motivasi, berikut ini kata-kata motivasi kerja yang dapat mengembalikan gairah berkarya.

Kata-Kata Motivasi Kerja Terbaik dari Tokoh Terkenal

kata kata motivasi kerja karyawan semangat

1. “Ia yang mengerjakan lebih dari apa yang dibayar pada suatu saat akan dibayar lebih dari apa yang ia kerjakan.” - Napoleon Hill.

2. “Saya selalu mencoba untuk mengubah kemalangan menjadi kesempatan.” - John D. Rockefeller

3. “Pilihan kitalah yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, jauh melebihi kemampuan kita.” — JK Rowling

4. “Kebahagiaan datang ketika pekerjaan dan kata-katamu menjadi manfaat bagi dirimu dan orang lain.” - Buddha

5. “Sudah lama menjadi perhatian saya bahwa orang-orang berprestasi jarang duduk dan membiarkan sesuatu terjadi pada mereka. Mereka keluar dan mengalami banyak hal.” – Leonardo Da Vinci

6. "Sukses bukanlah final; kegagalan tidak fatal: Ini adalah keberanian untuk melanjutkan yang penting." -Winston S. Churchill

7. "Usaha akan membuahkan hasil setelah seseorang tidak menyerah." - Napoleon Hill

8. "Ubah hidupmu hari ini. Jangan bertaruh pada masa depan, bertindaklah sekarang tanpa menunda." - Simone de Beauvoir

9. "Yang membuatku terus berkembang adalah tujuan-tujuan hidupku." - Muhammad Ali

10. "Sukses adalah saat persiapan dan kesempatan bertemu." - Bobby Unser

11. "Usaha akan membuahkan hasil setelah seseorang tidak menyerah." - Napoleon Hill

Foto Pengunjung the legenda park dihadapan foto Barack Obama

12. "Perubahan tidak akan terjadi jika kita menunggu orang lain atau waktu yang lain. Kitalah yang ditunggu-tunggu, kita adalah perubahan yang dicari." - Barack Obama

13. "Lakukanlah sesuatu dengan berani, maka kamu tak akan menyesalinya." - Elon Musk

14. "Jika kamu tidak bisa terbang, maka berlarilah. Jika kamu tidak bisa berlari, maka berjalanlah. Jika kamu tidak bisa berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apa pun yang kamu lakukan, kamu harus terus bergerak maju." - Martin Luther King Jr

15. “ 20 tahun dari sekarang, kau mungkin lebih kecewa dengan hal-hal yang tidak sempat kau lakukan alih-alih yang sudah." - Mark Twain

16. " Kegagalan dibuat hanya oleh mereka yang gagal untuk berani, bukan oleh mereka yang berani gagal." —Lester B. Pearson

17. “Jangan pernah menyerah dan mengasihani diri sendiri.” – Ciputra

18. “Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu.”- Bob Sadino

19. “Hidup ini terjadi di alam tindakan, bukan di alam rencana. Lebih bertindaklah. Untuk apa malam bersemangat menggebu-gebu tentang rencanamu, lalu menunda semuanya di pagi hari? Lebih bertindaklah!” – Mario Teguh

20. “Bekerja bukan hanya untuk mencari materi. Bekerja adalah bermanfaat bagi orang banyak.” – Merry Riana

21. “Bekerjalah lebih banyak dari orang lain, karena usaha tidak pernah membohongi hasil.” – Chairul Tanjung

22. “Gagal itu makanan sehari-hari. Itu biasa, yang penting bagimana (kamu) menyikapinya. Evaluasi. Bangkit. Gagal lagi? Bangkit lagi!” – Chairul Tanjung

23. “Wujudkanlah mimpi mimpimu sendiri, atau orang lain akan mempekerjakanmu untuk mewujudkan mimpi mereka.” – Farrah Gray

24. “Melangkahlah sejauh mungkin ke tempat yang dapat kamu lihat; ketika kamu tiba di sana, kamu akan dapat melihat lebih jauh lagi.” – Thomas Carlyle

25. “Jika kamu yakin mampu mewujudkan sebuah mimpi, sebenarnya kamu sudah separuh jalan untuk mewujudkannya.” – Theodore Roosevelt

26. “Semakin keras kamu berusaha, semakin nikmat rasanya ketika kamu berhasil.” – Anonim

Kata-Kata Motivasi Kerja Bahasa Inggris

kata bijak motivasi kerja

Di bawah ini adalah kumpulan kata-kata motivasi kerja dalam bahasa Inggris lengkap dengan penjelasannya.

27. “Light tomorrow with today” – Elizabeth Barrett Browning

Pahamilah bahwa masa depan ditentukan oleh apa yang kamu lakukan hari ini. Tetap semangat dan percaya bahwa kerja kerasmu akan menghasilkan buahnya di kemudian hari.

Foto Pimred Amarmedia dengan  visual  Mahatma ghandi 

28. “A year from now you may wish you had started today” – Karen Lamb

Jangan sampai kamu menyesal di masa depan karena tak melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan hari ini. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan selagi kamu masih memiliki waktu dan kesempatan.

29. “Make each day your masterpiece” – John Wooden

Ketika kamu mulai kehilangan motivasi, ingatlah bahwa kamu punya potensi untuk melakukan sesuatu yang luar biasa setiap harinya.

30. “Sometimes later become never” – Anonim

Kutipan ini sangat sederhana namun memiliki makna yang dalam. Berhentilah menunda-nunda pekerjaan sebelum semua terlambat. Saatnya bangkit dan kerjakan apa yang bisa kamu lakukan sekarang, detik ini juga!

31. “Great things never come from comfort zones” – Anonim

Tekanan dan tuntutan kerja memang menguras tenaga dan pikiran kita. Namun, kondisi seperti itu yang akan membuatmu semakin dewasa. Sebab, tidak ada pelaut hebat yang datang dari laut yang tenang.

32. “Dream bigger, do bigger” – Anonim

Mimpi-mu besar yang dicapai dengan bermalas-malasan. Mimpi besar hanya akan dicapai jika kita bekerja keras dan cerdas.

Foto pimpinan redaksi Amarmedia dengannya leonel  messi dan Trophy piala Dunia

33. “Don’t stop when you are tired, stop when you’re done” – Anonim

Jangan berhenti ketika kamu merasa lelah, tapi berhentilah ketika kamu berhasil. Kata-kata motivasi kerja ini sangat pas bagi kamu yang sedang frustasi dan memutuskan berhenti bekerja.

kata kata motivasi kerja keras

34. “Little things make big days” – Anonim

Hal yang kamu pikir kecil saat ini bisa menjadi sesuatu yang besar pada akhirnya. Tetap semangat dan fokus pada pekerjaan yang menjadi tanggungjawabmu.

35. “The key to success is to focus on goals, not obstacles” – Anonim

Masalah dan hambatan pekerjaan adalah hal lumrah. Tidak selamanya apa yang kita kerjakan akan berjalan mulus. Namun, jangan sampai fokus pada tujuan jadi teralihkan sehingga kamu hanya sibuk membahas masalah.

36. “If everything seems under control, you’re not going fast enough” – Mario Andretti

Saat semua terlihat baik-baik saja, berarti kamu tidak bekerja dengan cepat. Sebaliknya, ketika kamu merasa bahwa pekerjaanmu benar-benar kompleks dan rumit, artinya kamu sedang bekerja dalam kecepatan tinggi dan dapat memacu produktivitas.

Namun, jangan lupakan ketelitian, ketepatan, dan kecermatan sehingga kamu bisa menghindari kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak terjadi.

37. “It takes courage to grow up and become who you really are” – Anonim

Berkembang menjadi pribadi yang lebih baik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kamu perlu dedikasi, konsistensi, serta keinginan yang kuat untuk berubah menjadi pribadi yang kamu inginkan.

Berdedikasi dan serius lah terhadap apa yang sedang kamu kerjakan karena hasil dari apa yang kamu lakukan akan kembali untuk dirimu sendiri.

38. “Fall 7 times, stand up 8 times” – Pepatah Jepang

Inti dari kata-kata bijak ini adalah jangan mudah menyerah. Ketika kamu gagal sebanyak tujuh kali, bangkitlah sebanyak delapan kali.

Lampaui batasmu dan jadilah pribadi yang kuat serta pantang menyerah. Melakukan kesalahan saat bekerja bukanlah akhir dari segalanya, itu adalah tanda awal bagimu untuk bangkit dan berbenah.

39. “I would rather die of passion than of boredom” – Emile Zola

Ketika kamu mencintai pekerjaanmu, teruskanlah bekerja meski kamu menemui banyak tantangan dan kendala.

Bekerja dengan penghasilan kecil namun hasrat tinggi lebih menyenangkan daripada bekerja dengan penghasilan besar tapi membosankan.

40. “Wake up with determination. Go to bed with satisfaction” – Anonim

Bangunlah dengan semangat, dan tidur dengan rasa puas. Jika ingin selalu semangat bekerja, setiap hari kamu harus hidup dengan filosofi ini, Sahabat Amar.

41. “It’s going to be hard, but hard does not mean impossible”

Segala sesuatu mungkin terlihat sulit, tapi bukan berarti mustahil ya, Sahabat. Saat ini, tantangan pekerjaan mungkin terasa berat. Namun, jangan pernah menyerah untuk berusaha. Niscaya, jalan keluar pasti akan datang .

42. “Success doesn’t find you. You have to go out and get it.”

Sukses tidak akan menghampirimu, kamu yang harus keluar untuk menjemput kesuksesan itu.

43. “The question isn’t who is going to let me, it’s who is going to stop me.” – Ayn Rand

Patrikan dalam dirimu bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanmu kecuali dirimu sendiri. Makanya, kamu harus sadar bahwa orang yang paling bisa menghambatmu adalah kamu bukan orang lain. Buatlah dirimu nyaman dan terus termotivasi.

Perbanyak jaringan dan seandainya perlu untuk beristirahat sejenak berliburlah daripada memacu dirimu secara berlebihan.

44. “Success only comes to those who dare to attempt.” – Mallika Tripathi

Kesuksesan hanyalah milik mereka yang berani mencoba. Ketika kamu mencoba dan gagal, jangan berhenti. Sebab, kamu sebenarnya sudah jauh lebih dekat dengan kesuksesan daripada mereka yang masih takut mencoba.

45. “The more you want to get something done, the less you can call it as work.” – Richard Bach

Kalau kamu benar-benar menginginkan suatu hal diselesaikan, kamu tidak akan merasa jika hal tersebut adalah sebuah pekerjaan. Sebab, yang menjadi fokusmu adalah tujuan akan selesainya pekerjaan dan bukan beban saat sedang bekerja.

Itu dia Sahabat Amar, kata bijak motivasi kerja yang bisa membuatmu semangat dan kembali produktif. Jika kamu punya anak buah atau rekan kerja yang kehilangan motivasi kerja, kamu bisa mengirimkan kata-kata bijak motivasi kerja ini.

Sumber :https://www.tokopedia.com

]]>
Thu, 27 Apr 2023 08:03:51 +0800 Maruf